Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idul Fitri. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Agustus 2014

Pantesan Berat ^_*

Lupa kapan terakhir menimbang berat badan, tapi kalau sebulan lalu itu BB (Berat Badan) saat pemeriksaan kehamilan di RSIA Hermina Ciputat, berada di angka 49,65 Kg. Kemudian kalau tidak salah saat pertengahan bulan puasa sempat turun sedikit dan akhirnya lupa sampai hari ini baru menimbang BB lagi.

Wow, sudah bergeser ke angka 53 lebih sekian (hampir 54 Kg) berat badan saya sekarang. Dapat dikatakan sejak awal kehamilan sampai saat ini sekitar 7 - 8 Kg sudah BB saya mengalami kenaikan (usia kandungan tepat enam bulan). Mungkin pasca lebaran selain pola makan berubah dari saat puasa, mau tidak mau saya mengonsumsi banyak asupan gula dari berbagai jenis makanan dan minuman yang disuguhkan saat bertamu ke rumah sanak saudara.

Meski banyak yang menyediakan air putih, tapi masih juga disuguhi minuman manis seperti sirup, sari buah kemasan, atau teh manis (beberapa di antaranya bahkan super manis menurut saya). Tidak sopan bukan rasanya, kalau tidak menghabiskan satu gelas minuman yang sudah susah payah dibuat atau dibeli oleh tuan rumah? Maka mengakalinya sesampainya di rumah harus segera dilunturkan dengan minum banyak air putih.

Selain dari makanan dan minuman, mungkin juga aktivitas fisik saya pasca lebaran ini memang cukup signifikan berkurang. Maklum saja sejak H+ 3 Idul Fitri tahun ini, saya ikut suami mudik ke rumah orang tuanya (sebelumnya tinggal di kediaman orang tua saya). Kami memang masih berlama-lama karena mungkin lebaran Idul Adha nanti kami belum tentu bisa mudik, mengingat usia kehamilan saya nanti akan mendekati waktu persalinan.

Sebenarnya, baik di rumah orang tua saya atau rumah orang tua suami sama saja, kami mendapat kamar di lantai 2, yang tetap saja masih beraktivitas fisik minimal naik turun tangga. Tetapi karena orang tua suami juga mengelola pondok pesantren, jadi untuk memasak makanan, mencuci peralatan makan, dan membersihkan keseluruhan isi rumah, masih dapat dibantu oleh para santri yang mondok. Jadi aktivitas fisik selama ini selain pergi silaturahim ke sanak saudara, ya hanya sesekali mencuci + menyetrika pakaian (yang berat-berat pun masih lebih banyak dikerjakan suami), dan sekedar membersihkan kamar tidur sendiri.

Berbeda dengan di rumah orang tua saya, yang sejak lama sudah tidak memiliki lagi asisten rumah tangga (belakangan ada yang membantu mencuci, menyetrrika, dan menyapu plus mengepel rumah yang datang dua hari sekali). Urusan memasak dan mencuci peralatan makan dan segala isi dapur kami lakukan sendiri, tapi lebih dominan Mama saya yang lebih sering memasak. Tapi setidaknya setiap selesai makan piring atau gelas akan dicuci sendiri oleh siapa pun yang memakainya. Tanpa disuruh lagi, karena memang sudah lama terbiasa demikian, bahkan saat masih ada asisten rumah tangga yang menginap di rumah sekalipun, Mama selalu mengajarkan pada kami anak-anaknya kalau masih bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri maka lakukan tanpa teriakan "Mbaaaaak..." sebelumnya.

Salah satu pesan beliau adalah, sekaya apa pun kita nanti, meski bisa membayar banyak jasa asisten untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga, tetap saja kita juga tidak boleh kaku dan bisa melakukannya sendiri. Minimal supaya bisa mengajari dan membetulkan pekerjaan para asisten yang tidak semuanya sesuai keinginan kita. Dan kalau dipikir-pikir, zaman sekarang sulit mencari asisten yang cocok dan tidak membuat emosi, serta awet tahan lama mau menjadi bagian dari keluarga (pengalaman sebelum-sebelumnya). Daripada capek batin lebih baik capek sedikit fisiknya kan? Malah sekalian beraktivitas fisik, dan kerjaan rumah tangga juga puas beresnya karena kita sendiri yang melakukan.

Kalau bisa... Saya ingin kelak, jika suatu saat tinggal di rumah sendiri (dengan suami dan anak-anak kami kelak tentunya) bisa meng-handle pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga atau baby sitter. Memang tidak mudah tapi banyak juga sepertinya para ibu (bahkan yang masih muda) mampu melakukan hal tersebut. Alasan utamanya adalah supaya anak di rumah benar-benar merasakan kasih sayang Bundanya dari segala hal yang ditemuinya sehari-hari. Mulai dari bangun tidur, urusan makanan, perhatian dan kasih sayang, serta anak akan menjadi lebih dekat (terbuka) pada orang tuanya dibandingkan orang lain. Aamiiin...

Hampir lupa sama judulnya, yaitu tentang BB saya yang lumayan bertambah banyak. Pantas saja saya semakin merasa cepat gerah dan gerakan tubuh saya melambat. Pertambahan BB ini juga mungkin karena 'Nanda' (calon bayi yang belum kami tentukan namanya) juga berkembang. Menurut salah satu sumber, di masa ini berat janin sudah mencapai sekitar setengah Kilogram. Perut saya memang sudah tampak membesar, bahkan semalam baru saya sadari satu hal. Melarnya perut membuat pusarnya hampir tidak memiliki lubang lagi alias bodong hehe...

Semalam juga saya sangat serba salah mengenai posisi tidur, karena 'Nanda' yang semakin besar juga semakin aktif bergerak. Saat saya memiringkan badan ke arah kiri terutama, entah tangan, kaki, atau kepalanya seolah menggelitik perut saya sampai saya tidak tahan akan rasa gelinya dan tersenyum sendirian sembari secepat mungkin ganti posisi tidur. Baru sebentar miring ke kanan 'Nanda' menggelitiki perut saya kembali seolah ingin mengajak berkomunikasi Bundanya. Waktu terasa cepat berlalu ya Nak, sekitar tiga bulan lagi kita bisa benar-benar bertatap muka. Aamiiin Yaa Rabbal 'Aalamiiin...
read more »

Senin, 20 Agustus 2012

SEE YOU RAMADHAN 1434 H, INSYA ALLAH

     Bulan Syawal telah tiba, menggantikan kepergian Ramadhan di tahun 1433 H. Sebelumnya mau minta maaf kepada semuanya, mohon maaf lahir batin atas semua kesalahan, tulisan yang menyinggung pihak tertentu dan curhatan tidak penting yang diposting di blog ini. Semoga tahun depan kita semua masih diberikan kesempatan hidup dan sehat sehingga dapat kembali merasakan kenikmatan beribadah di bulan penuh berkah, Ramadhan. Namun, bukan berarti di bulan lainnya jadi malas-malasan ibadah. Justru kebiasaan rajin ibadah saat Ramadhan hendaknya dilanjutkan, karena ajal tidak dapat ditebak kedatangannya. Seenggaknya kalau kita tetap menjalankan ibadah dengan rajin (Aamiin), maka kemungkinan meninggal dalam keadaan su'ul khotimah lebih kecil dibandingkan kalau bersantai-santai dengan motto "Nanti saja taubatnya kalau sudah menikah, kalau sudah punya anak, atau kalau sudah tua." Kalau tiba-tiba dijemput Izrail waktu lagi asyik bermaksiat gimana?
     Kata-kata di atas bukan menunjukkan kalau penulis sudah merasa siap di"jemput" kapan saja, sebaliknya juga pengingat diri kalau masih amat sangat jauuuuh dari level memiliki "bekal" cukup untuk menemani di kamar coklat ukuran 2 X 1 meter nanti. Bismillah, yuk bareng-bareng menjaga amalan ibadah yang saat Ramadhan lalu merasa rugi untuk ditinggalkan. Kalau bulan Ramadhan minimal bisa 1 kali khatam baca Al-qur'an, kalau memang sibuk setidaknya untuk setiap bulan dapat mencapai setengahnya atau paling minimal seperempatnya, dengan memahami maknanya secara perlahan. Pokoknya berusaha jangan sampai 11 bulan selain Ramadhan sama sekali tidak khatam, tiba-tiba dikebut di Ramadhan berikutnya. Itupun kalau masih dikasih umur :(.
      Akhir paragraf, penulis mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H, semoga ibadah kita semua diterima Allah swt, selalu terjaga menjadi hamba-Nya yang taat menjalankan perintah-Nya. Aamiin.

Sebuah catatan di malam menuju tanggal 3 Syawal 1433 H.
read more »