Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Mereka Yang Tetap Ceria Kala Banjir

Tuhan, pagi ini kumohon semoga banjir yang sedang melanda sebagian besar wilayah Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, agar Kausurutkan airnya. Berikan kekuatan fisik dan rohani bagi para korban, dan jangan padamkan semangat hidup mereka. Aamiin.

Satu hal yang menjadi perhatianku dari tayangan berita TV tentang banjir, adalah anak-anak di lingkungan yang terkena banjir. Apalagi jika banjirnya masih di bawah 1 meter. Lihatlah wajah anak-anak, khususnya yang masih belajar di SD. Tampak rona wajah ceria, meski tempat tinggal mereka terendam banjir. Tetap ceria berenang di kolam air berwarna cokelat, tanpa memikirkan kebersihan airnya. Tanpa rasa takut nantinya gatal-gatal di sekujur badan, dan tidak khawatir terserang batuk pilek. Begitu juga tidak sempat memikirkan apakah masih ada pakaian kering dan bersih untuk dipakai nanti malam.

Jangan salahkan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya, yang tidak melarang mereka main air di kolam "dadakan" itu. Mereka hanya anak-anak, yang sejatinya memang masih anak-anak. Jika belajar dalam keadaan seperti itu sangat tidak memungkinkan, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain bermain? Air dan anak-anak merupakan perpaduan menarik untuk disebut sebagai sebuah permainan a.k.a bermain air. Mereka hanya berusaha tetap ceria di tengah keadaan yang mungkin bisa dikatakan musibah atau cobaan. Apalagi bagi mereka yang belum pernah merasakan berenang di kolam renang umum yang membutuhkan biaya yang tidak terjangkau bagi keluarga mereka. Maka banjir seolah menjadi hiburan tersendiri, wahana rekreasi gratis tanpa perlu menguras kantong orang tua mereka.

Bersyukur tidak pernah mengalami banjir, hanya bagian dalam rumah yang sempat banjir karena tetesan air hujan dari atap rumah, alias kebocoran. Tapi, waktu itu karena masih kecil, rasanya tidak pernah mengeluh walau saat hujan deras harus bergotong royong menyiapkan ember dan panci di lokasi kebocoran, yang memang tersebar di banyak tempat. Ketika masih anak-anak, kurasakan hal itu seperti sebuah permainan. Kesenangan dan semangat luar biasa saat menemukan lokasi bocor, dan dengan sigap meletakkan ember, baskom, bahkan panci. Kemudian genangan air di lantai yang belum sempat di lap, membuatku membayangkan berada di sebuah kolam renang super dangkal (karena kurang dari 1 cm ketinggian airnya). Sesekali saat hujan turun, dan Mama tidak berada di rumah (Aku dan adik ditinggal bersama si Mbak asisten rumah tangga) dengan gembira bermain hujan-hujanan di depan rumah. Kadang sedikit nakal berharap banjir supaya bisa seperti teman-teman (anak seusia kami yang terlihat di TV) yang bermain di tengah-tengah banjir. Memang begitulah anak-anak, dengan kepolosan dan keceriaannya selalu berbahagia dalam keadaan apa pun.

Saat duduk di bangku SD, Aku berpikir ingin cepat menjadi orang dewasa yang tidak perlu mengerjakan PR setiap hari. Tetapi saat ini, jika waktu bisa kembali ke masa itu, sungguh akan kuubah pernyataanku. "Jika bisa terjadi, sungguh kuingin hanya masa anak-anak yang kualami dalam hidup. Karena menjadi dewasa itu rumit, walaupun anak-anak selalu mengira orang dewasa itu hebat bisa melakukan banyak hal. Tetap saja masa anak-anak adalah masa terindah dalam hidup, meski tidak selalu bergelimang dengan materi." Dalam situasi apa pun, anak-anak selalu bisa menemukan keceriaan dengan caranya yang unik. Adik-adikku yang sedang berada di kawasan banjir, baik-baiklah kalian di sana, semoga tetap sehat dan bertubuh kuat, supaya berbagai jenis penyakit tidak menjangkiti kalian. Maaf kuhanya bisa membantu dengan seuntai doa dari tempatku yang agak jauh dari kalian. Surut, surut, surut ya air please :).
read more »

Jumat, 19 Oktober 2012

INSOMNIA

Saat mata sulit terpejam, tidak selalu karena si empunya mata habis minum kopi. Bisa juga bukan karena banyak hal yang dipikirkannya. Namun, tanpa sebab yang jelas pun seseorang bisa merasakan bahwa tidur di waktu malam, yang bagi orang lain adalah kebiasaan, sesuatu yang wajar bahkan telah menjadi kewajiban rutin setiap hari. Tapi bagi yang merasakan sulit tidur, ini sangat sungguh menyiksa. Insomnia, begitulah kurang lebih apa nama untuk kondisi tersebut. Selamat malam, sekian info kecil untuk malam  ini.
read more »

Selasa, 09 Oktober 2012

Batik, Kini Bukan Sekedar untuk Kondangan dan Orang Tua Style.

 Salam sejahtera untuk semua... Mumpung masih bulan Oktober dan kebetulan dikasih tema untuk memposting tentang "Hari Batik Nasional", maka mari kita sedikit berbincang tentang batik (Asli Indonesia loh). Selamat Hari Batik Nasional, meski baru tiga tahun ditetapkan mudah-mudahan tetap akan selalu diingat oleh anak bangsa selamanya sebagai salah satu warisan budaya kita. Jangan hanya heboh digembor-gemborkan atau beramai-ramai berbatik ria di Bulan Oktober, tapi selamanya kita harus bangga pada batik.

Masih teringat dalam benakku (deuh,, bahasanya lebay nian) beberapa tahun lalu saat sebelum batik heboh diklaim sebagai budaya milik negara tetangga. Saat di mana batik masih identik dengan orang tua, bapak-bapak, ibu-ibu, dan hanya dipakai saat acara formal atau hajatan alias kondang bo'. Waktu itu masih sangat sulit menemukan manusia Indonesia, terutama di perkotaan yang dengan bangga berbatik ria. Kecuali anak sekolah, guru atau pegawai negeri yang biasanya diwajibkan dalam seminggu ada hari khusus untuk memakai pakaian batik.

Saya yang memiliki Mama yang berteman dengan para pengusaha kain/baju batik pun sesekali dibelikan baju atau rok bermotif batik. Lagi-lagi di saat batik belum menjadi tren fashion untuk segala usia seperti sekarang. Waktu itu dengan cueknya PeDe berbatik ke kampus (emang aslinya cuek bebek sama penampilan, dandan aja males apalagi masalah baju *_*). Walaupun tidak semua orang berani secara langsung mengkritisi gaya pakaian Saya, tetapi dari tatapan atau bahkan ledekan yang maksudnya bercanda pun Saya tahu bahwa saat itu ada mahasiswi kurang gaul nan bergaya lain daripada yang lain. Salah satu candaan mereka adalah "Mau kondangan ya bu?" Padahal atasan batik yang saat itu kukenakan, masih dipadukan sama bawahan rok jeans, untuk menimbulkan kesan sedikit santai ala anak muda. Apalagi kalau pake rok kain batik juga, bisa-bisa dibilang mau jadi penerima tamu di acara nikahan. 

Dengan senyum yang lebar dan tawa yang jauh lebih pelan dari ketawanya mbak Kuntilanak, kujawab ringan "Hehe, iya nih abis kuliah mau langsung ke Wisma Sy*hida." Sambil menunjuk suatu gedung di komplek kampus yang biasa disewakan untuk masyarakat umum. Dan kebetulan hari itu Sabtu pagi, jadi beneran ada yang pasang janur kuning di depan gerbang kampus. Dalam hati sih ada sekelebat pikiran, lihat aja nanti kalo batik udah jadi tren, kalian juga jadi salah satu orang yang bakal petantang-petenteng gaya berbatik meski cuma hangout di kantin (nyumpahin nih ceritanya? peace ya).

Setelah hari itu pun Saya memang tidak kecil hati untuk sesekali berbatik ke kampus. Tidak lama kemudian hebohlah berita yang menyebar dengan begitu cepat ke se-antero dunia. Berita kalau negara tetangga telah meng-klaim batik sebagai budaya negara mereka. Seketika muncul berbagai reaksi masyarakat Indonesia yang mayoritas tidak suka dan cenderung marah. Wajar sih, budaya yang jelas-jelas udah dari zaman baheula berasal dari Indonesia, tiba-tiba diakuin negara lain. Tapi seharusnya saat itu kita enggak cuma marah karena negara jiran itu ngaku-ngaku batik punya mereka, tapi lebih kepada penyadaran diri. Sudahkah kita sebagai anak bangsa benar-benar bangga dan melestarikan budaya negeri sendiri? Apa saat itu mungkin kita masih merasa risih dengan budaya sendiri, dan berbangga-bangga mengikuti tren luar negeri? Makanya kecolongan deh, negara gedung kembar itu mengakui batik sebagai punya mereka.

Sejak itu mulai menjadi tren memakai pakaian atau aksesoris bermotif batik. Para perancang busana asal Indonesia beramai-ramai mengenalkan batik sebagai fashion yang tetap bisa tampil lebih muda, moderen, dan cocok untuk segala usia. Bahkan tidak sedikit yang menyelenggarakan pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Media massa mulai memberitakan batik yang semakin go international. Bahkan kalau diingat-ingat saat ada pertangdingan sepakbola antar timnas Indonesia dan timnas negara jiran tersebut, sempat ada anjuran yang tidak jelas dari siapa, untuk menonton pertandingan dengan berbatik ria. Bahkan di kantor atau kampus yang sebelumnya tidak diwajibkan berpakaian batik, jadi ada kesepakatan tidak tertulis yang menetapkan satu hari khusus berbatik ramai-ramai (Kebanyakan dipilih hari Jum'at).

Ya sudah, yang lalu biar berlalu. Saya juga belum benar-benar jadi anak bangsa yang sempurna memahami dan melestarikan budaya bangsa kita. Tapi setidaknya kita harus mencoba untuk tetap menyuburkan rasa bangga akan budaya sendiri. Maka ada sisi positif dari pengakuan negara jiran bahwa batik itu berasal dari negara mereka, yaitu pada akhirnya UNESCO menetapkan bahwa batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia ^_^. Dan pemerintah pun akhirnya menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional.

Dan sekarang, sudah tidak ada lagi yang bilang pakai batik itu kuno, cuma untuk orang tua, cuma buat pergi kondangan, dan tidak bisa terlihat moderen. Sekarang semua rakyat Indonesia bangga saat memakai batik. Batik bisa diaplikasikan di pakaian formal, pakaian santai, pakaian tidur, sepatu, tas, dan bahkan para penggila gadget pun bisa bergaya dengan batik di aksesoris gadget-nya. O iya, satu lagi seorang musisi Indonesia juga ada yang punya mobil dengan motif batik :).

Selamat Hari Batik Nasional, semoga kami anak bangsa bisa terus melestarikan kebudayaan Indonesia meski era globalisasi telah menggempur dengan kekuatan dahsayatnya. Semoga budaya dan kesenian lain khas Indonesia juga semakin berkembang dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Aamiin.



read more »