Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hujan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Januari 2013

What Do You Think When The Rain Fall?

Hujan seolah memberikan sejuta inspirasi untuk sebagian orang, terutama mereka yang aktif di media sosial internet. Banyak kicauan galau, status yang tiba-tiba romantis, atau curhatan puitis di blog pribadi (hehe ngaku, pernah juga sih). Mengapa dengan hujan yang sama bisa menimbulkan berbagai ekspresi? Buat mereka yang religius, mungkin akan lebih menilai hujan sebagai berkah dari Tuhan, dan konon sebagai salah satu waktu terbaik untuk berdoa.

Jauh sebelum kudengar kata-kata, "Aku selalu menyukai aroma tanah yang tersiram hujan" (entah di film atau sinetron), sejak kecil rasanya memang merasakan kesenangan tersendiri saat tiba-tiba hujan turun mengguyur tanah yang kering. Dan mungkin itu pula yang dirasakan milyaran manusia lainnya di dunia. Jadi hujan bagi diriku seolah mengingat kenangan masa kecil, di mana bisa menikmati hujan-hujanan tanpa rasa malu. Saat dewasa, mayoritas orang akan melihat aneh jika kita masih dengan gembira berlari-larian  di tengah derasnya hujan. Saat dewasa juga kita lebih berhati-hati dan memikirkan dampak buruknya dari bermain hujan, terutama saat kondisi tubuh tidak fit. Tapi anak-anak belum memikirkan hal-hal seperti itu, apa yang ingin dilakukannya akan dilakukan tanpa rasa ragu.

Lalu, kenapa juga orang bisa menjadi lebih mendramatisir keadaan saat hujan turun? Mungkin karena hujan bersifat cocok di segala suasana hati masing-masing manusia. Contoh, saat sedang gembira dan kemudian hujan turun, orang itu akan merasa hujan turun turut merayakan kebahagiaannya. Di saat sedih atau patah hati, orang akan merasa langit merasakan kesedihannya dan ikut menangis bersimpati padanya. Benar atau tidaknya, kuserahkan pada kalian :).

Media juga menurutku sedikit banyak berperan dalam fenomena ini (kusebut fenomena karena saat musim hujan seperti ini, seolah ramai orang-orang menuliskan isi hatinya di dunia maya). Lihat saja adegan film atau sinetron! Saat tokoh protagonis sedang merasa tersakiti, teraniaya, atau dikhianati cintanya, maka sering kan kemudian adegan menangis di bawah guyuran hujan? Begitu juga saat ada pasangan yang sedang jatuh cinta alias sedang berada di puncak kegembiraan. Di film India misalnya, lari-larian sambil menyanyi dan menari saat hujan deras (normalnya kan takut disambar petir hehe). Atau saat kedua sejoli ini berada di tempat terpisah, maka adegan akan bergantian memperlihatkan masing-masing dari mereka menatap hujan sambil mengingat orang yang dicintainya (ketahuan deh jadi pengamat sinetron). Hal-hal seperti inilah yang sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir kita saat mengkaitkannya dengan hujan.

Kira-kira seperti itulah ulasan singkatku mengenai fenomena hujan dengan fenomena galau, melankolis, nostalgia masa lalu, dilematis, yang mungkin membuat kita terheran-heran atau tanpa sadar menjadi salah satu korbannya (peace ya ^_*). Kalau salah ya mohon dimaafkan, namanya juga pendapat abal-abal. Kalau benar, itu hanya kebetulan semata, beneran deh enggak bermaksud menyinggung siapa-siapa. Happy friday!!!
read more »

Kamis, 17 Januari 2013

Mereka Yang Tetap Ceria Kala Banjir

Tuhan, pagi ini kumohon semoga banjir yang sedang melanda sebagian besar wilayah Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, agar Kausurutkan airnya. Berikan kekuatan fisik dan rohani bagi para korban, dan jangan padamkan semangat hidup mereka. Aamiin.

Satu hal yang menjadi perhatianku dari tayangan berita TV tentang banjir, adalah anak-anak di lingkungan yang terkena banjir. Apalagi jika banjirnya masih di bawah 1 meter. Lihatlah wajah anak-anak, khususnya yang masih belajar di SD. Tampak rona wajah ceria, meski tempat tinggal mereka terendam banjir. Tetap ceria berenang di kolam air berwarna cokelat, tanpa memikirkan kebersihan airnya. Tanpa rasa takut nantinya gatal-gatal di sekujur badan, dan tidak khawatir terserang batuk pilek. Begitu juga tidak sempat memikirkan apakah masih ada pakaian kering dan bersih untuk dipakai nanti malam.

Jangan salahkan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya, yang tidak melarang mereka main air di kolam "dadakan" itu. Mereka hanya anak-anak, yang sejatinya memang masih anak-anak. Jika belajar dalam keadaan seperti itu sangat tidak memungkinkan, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain bermain? Air dan anak-anak merupakan perpaduan menarik untuk disebut sebagai sebuah permainan a.k.a bermain air. Mereka hanya berusaha tetap ceria di tengah keadaan yang mungkin bisa dikatakan musibah atau cobaan. Apalagi bagi mereka yang belum pernah merasakan berenang di kolam renang umum yang membutuhkan biaya yang tidak terjangkau bagi keluarga mereka. Maka banjir seolah menjadi hiburan tersendiri, wahana rekreasi gratis tanpa perlu menguras kantong orang tua mereka.

Bersyukur tidak pernah mengalami banjir, hanya bagian dalam rumah yang sempat banjir karena tetesan air hujan dari atap rumah, alias kebocoran. Tapi, waktu itu karena masih kecil, rasanya tidak pernah mengeluh walau saat hujan deras harus bergotong royong menyiapkan ember dan panci di lokasi kebocoran, yang memang tersebar di banyak tempat. Ketika masih anak-anak, kurasakan hal itu seperti sebuah permainan. Kesenangan dan semangat luar biasa saat menemukan lokasi bocor, dan dengan sigap meletakkan ember, baskom, bahkan panci. Kemudian genangan air di lantai yang belum sempat di lap, membuatku membayangkan berada di sebuah kolam renang super dangkal (karena kurang dari 1 cm ketinggian airnya). Sesekali saat hujan turun, dan Mama tidak berada di rumah (Aku dan adik ditinggal bersama si Mbak asisten rumah tangga) dengan gembira bermain hujan-hujanan di depan rumah. Kadang sedikit nakal berharap banjir supaya bisa seperti teman-teman (anak seusia kami yang terlihat di TV) yang bermain di tengah-tengah banjir. Memang begitulah anak-anak, dengan kepolosan dan keceriaannya selalu berbahagia dalam keadaan apa pun.

Saat duduk di bangku SD, Aku berpikir ingin cepat menjadi orang dewasa yang tidak perlu mengerjakan PR setiap hari. Tetapi saat ini, jika waktu bisa kembali ke masa itu, sungguh akan kuubah pernyataanku. "Jika bisa terjadi, sungguh kuingin hanya masa anak-anak yang kualami dalam hidup. Karena menjadi dewasa itu rumit, walaupun anak-anak selalu mengira orang dewasa itu hebat bisa melakukan banyak hal. Tetap saja masa anak-anak adalah masa terindah dalam hidup, meski tidak selalu bergelimang dengan materi." Dalam situasi apa pun, anak-anak selalu bisa menemukan keceriaan dengan caranya yang unik. Adik-adikku yang sedang berada di kawasan banjir, baik-baiklah kalian di sana, semoga tetap sehat dan bertubuh kuat, supaya berbagai jenis penyakit tidak menjangkiti kalian. Maaf kuhanya bisa membantu dengan seuntai doa dari tempatku yang agak jauh dari kalian. Surut, surut, surut ya air please :).
read more »

Selasa, 15 Januari 2013

Puisi: Hujani Malamku dan Malamnya

Selamat datang hujan, selamat malam kuucapkan padamu.
Di saat mereka sudah berlayar di lautan mimpi, Aku masih terjaga menyambutmu membasahi malam.
Mungkin di suatu tempat yang tidak kuketahui, dia pun sendiri tenggelam...
Dalam perenungan yang dalam.

Sungguh...
Aku, dia, dan kamu (hujan), tak pernah bisa menolak pertemuan ini.
Sungguh...
Tidak pernah pula kita bisa sekedar memajukan atau memundurkan waktu perpisahan nanti.

Kalau ada kesempatan, mungkin kan kukatakan sendiri padanya.
Tapi tidak ada yang tahu pasti tentang masa depan.
Jika suatu saat kesempatanku telah habis dengannya...
Tolong sampaikan isi hatiku  padanya, hujan.

Terima kasih hujan.
Bersama dengan selesainya tugasmu membasahi malam.
Kuucapkan... Sampai jumpa.

Tang-Sel, 15 Januari 2013
1458 at 00.04 AM
read more »