Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juni 2020

Kusadari Setelah Menjadi Bakul Online.

Ada dua tipe calon konsumen menurut saya.

Pertama ini sih gue banget. Kadang kalau ada yang iklan suatu produk dan minat dalam hati, tapi juga minimalisir dikira PHP, maka saya cari info sendiri dulu. Baik profil produk, harga pasaran dan lokasi terdekat. Kalau udah pasti mau beli baru hubungi ownernya, tanya-tanya sebentar lalu deal order.

Yang kedua juga bagus kok sebenarnya kagak usah capek cari info sendiri. To the point sama ownernya bilang mau kepo dulu boleh ya. Tapi bisa saja abis tahu harga bilangnya kelak hubungi lagi mau pikir-pikir dulu. Dan kemudian sambil cari seller lain mungkin yang lebih murah harga produknya. Kalau tidak ada yang lebih murah baru deh order sama owner yang tadi.

Sah-sah saja bukan? Yang penting pas transaksi jual beli sama-sama ridho di hati, sepakat sama harga dan estimasi waktu pengiriman misalnya. Makanya saya selalu usahakan kabari kondisi sebenarnya tentang stok produk. Misal yang dipesan lagi kosong maka saya informasikan mungkin kalau mau menunggu sekian hari atau seminggu, bagaimana?

Jadi ini bikin sama2 enak di hati. Bukan asal iyakan orderan lalu saat konsumen mengira esoknya sudah dikirim tapi kita belum kabari kalau belum bisa dikirim dalam waktu cepat.

Ini soal kepuasan konsumen dari pelayanan kita. Jadi jualan tidak sekedar asal laris. Jika puas dari pelayanan maka akan meningkatkan peluang repeat order. Sekian opini saya hari ini.

read more »

Jumat, 10 Januari 2014

Kumat Lagi (Childish-nya)

Makan, mengunyah, mengulum, atau ngemut permen sudah menjadi hal yang jarang saya lakukan. Terutama karena usia sudah dewasa dan kekuatan gigi mungkin sudah sensitif terhadap gempuran aneka pangan yang mengandung banyak kadar gula. Kalaupun sesekali mengonsumsi permen, maka seringkali pilihan jatuh pada aneka rasa permen yang jarang disukai oleh anak-anak. Misalnya rasa mint, kopi, buah asam, dan jahe.

Kali ini rasanya ingin sekali bernostalgia dengan permen lolipop atau bahasa kerennya lebih dikenal sebagai permen kojek. Permen jenis ini (dengan merek dagang tertentu) yang dijual bebas di pasaran, termasuk jarang ditemukan, terkecuali jika mencarinya di toko atau pasar yang menjual dalam kelas grosiran. Setahu saya permen lolipop yang sedang tren sekarang adalah yang warna-warni seperti pelangi, dari ukuran kecil sampai super besar. Tapi dulu pernah mencoba permen sejenis, kok rasanya aneh. Cenderung terlalu manis dan gimanaa gitu?@#$%*.

Sebenarnya permen kojek yang saat masih SD, sering saya beli saat jajan di kantin sekolah, adalah permen merah berbentuk kaki, dengan rasa seperti buah Mangga Kweni. Hayooo yang mengalami era 90-an pasti tahu kan? Tapi, kalau sudah makan permen itu kadang kok jadi sariawan ya? Entah beneran atau cuma sugesti, karena bentuk permennya yang seperti jari kaki menusuk bagian dalam mulut. Selain itu permennya juga jarang deh ditemuin di minimarket-minimarket yang menjamur di hampir setiap kelurahan itu.

Maka untuk mengobati rindu akan masa kecil, dan sedikit menambah asupan kalsium (mungkin lebih sedikit daripada kandungan gulanya), saya pilih permen lolipop Milkita. Seingat saya waktu masih SD, dan permen tersebut baru muncul di pasaran, belum ada versi lolipop-nya. Bentuk permennya lunak dan lengket kalau dikunyah. Terus karena kata iklannya, mengunyah beberapa buah permen sama dengan minum segelas susu, maka seorang Nila kecil jadi bereksperimen memasukkan 3 - 5 buah permen Milkita, ke dalam segelas air hangat. Diaduk-aduk dan ditunggu sampai permennya larut dengan air, jadilah segelas susu. *kalau dipikir-pikir sekarang, aneh banget yak???

Bagi sebagian orang, apalagi yang memiliki masalah dengan gigi berlubang, permen kunyah adalah salah satu yang menjadi pantangan. Dan asal tebak, mungkin tidak banyak peminatnya. Maka untuk tetap menarik konsumen, Milkita memproduksi permen lolipop susu, yang sepertinya hampir belum ada pesaingnya. Apalagi dengan jargon iklannya yang mengatakan bahwa satu permen lolipop sama dengan minum segelas susu, bukan tidak mungkin para orang tua yang awalnya sangat anti memberikan permen pada anak, akhirnya luluh juga. *apaaaa sihhhh????

Ya sudah intinya sisi kekanak-kanak-an saya mungkin sedang kambuh alias kumat alias sedang ingin mendominasi diri saya selama beberapa hari ini. Next time, kalau sisi childish-nya muncul lagi dalam kisah yang berbeda, akan saya ceritakan lagi di sini. Memang sih, kok kayaknya enggak ada manfaatnya ya cerita beginian? Ya, anggap saja di luar sana, ada yang sedang galau dan malu karena sudah dewasa atau tua tapi merasa ingin sekali melakukan hal-hal yang sering dilakukan semasa kecil. Jangan malu, karena konon katanya setua apapun umur seseorang, atau sedewasa apapun cara pandang seseorang, masih akan selalu ada jiwa kanak-kanak dalam diri setiap individu. So, enjoy it and be relax ^_^.
read more »

Kamis, 26 Desember 2013

Love You, Mom ^_^

Tidak ada sekolah atau perguruan tinggi untuk menghasilkan seseorang bergelar ibu. Tetapi ketika Tuhan telah menetapkan seseorang menjadi seorang ibu, maka secara alami, maka semuanya berjalan mengalir begitu saja. Seorang ibu yang saat ini kita lihat sangat lihai memasak, mengurus anak dan semua urusan rumah tangga, tidaklah langsung mahir. Semuanya melalui proses belajar, mengalami masa belum bisa, masa terpaksa belajar, dan kemudian setelah menjadi kebiasaan akan mahir dengan sendirinya, dalam kadar yang tidak bisa disamaratakan atau dibandingkan antar ibu satu dengan yang lainnya. Toh, kondisi hidup dan keadaan anaknya juga berbeda-beda bukan? Jadi, tidak ada standar khusus kualitas seorang ibu. Yang terpenting dan kita tahu adalah, ibu selalu berusaha melakukan hal terbaik bagi orang-orang tercinta di sekitarnya.

Satu lagi keahlian spesial dari para ibu. Jutaan kilometer terpisah dari buah hatinya pun, tak akan menghilangkan 'telepati' yang ibu miliki untuk mendeteksi 'ketidakberesan' yang sedang dialami sang anak. Dengan cara unik dan berbeda-beda, ibu dapat merasakan saat anaknya sakit atau dalam keadaan kurang baik secara fisik atau psikis. Tidak dapat dijelaskan secara logika mungkin, tapi itulah kontak batin yang meski tidak secara sengaja dikirimkan oleh sang anak, ibu selalu tahu akan hal itu. Aneh tapi nyata bukan?

Seharusnya menyayangi dan berterima kasih kepada ibu, tidak hanya dalam satu hari. Tetapi saya tidak juga menyalahkan adanya momentum peringatan Hari Ibu. Karena, minimal jika suatu saat kita lupa atau khilaf telah menyakiti hati ibu, maka Hari Ibu dapat menyadarkan dan segera membuat kita segera minta maaf kepada ibu, selama masih sempat. Sebelum kita dan ibu terpisahkan di dunia yang berbeda, saat yang dapat kita lakukan hanyalah berdoa untuk kelapangan kuburnya. Semoga kita semua dapat membuat ibu bahagia sebelum ajal (entah kita atau ibu yang mendahului) memisahkan. Aamiin Yaa Rabb.
read more »

Selasa, 24 Desember 2013

Beda Pendapat Boleh Bukan?

Kemarin saya menghadiri suatu resepsi pernikahan di salah satu daerah yang termasuk dalam propinsi Jawa Tengah. Ada satu hal yang tidak saya setujui dari sesepuh yang saat itu menyampaikan khutbah atau ceramah berisi nasehat pernikahan.

Apa?

Sebut saja mungkin saya tidak memahami secara keseluruhan isi ceramah tersebut, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa bercampur sedikit bahasa Indonesia. Tapi yang saya tidak setujui ini yakin saya pahami dengan baik, hanya mungkin susunan kalimat yang berbeda, jelas karena saya tidak merekam bagian kalimat tersebut saat diucapkan.

Kira-kira intinya adalah anjuran agar sang istri tidak melakukan hal macam-macam, seperti selingkuh layaknya yang banyak dilakukan para wanita di kota, yang berselingkuh saat suami berada di tempat yang jauh atau sedang bepergian/kerja.

Whaattttt???

Maaf ya bapak sesepuh (yang tidak saya kenal) yang terhormat. Pelaku selingkuh bukan hanya ada di kota (maksudnya kota besar), di desa terpencil sekalipun bisa terjadi selama ada kesempatan dan orangnya merpergunakan kesempatan tersebut. Lagipula kebetulan saja anda seorang pria, jadi pesan jangan selingkuh-nya ditujukan pada istri. Kan yang tidak boleh selingkuh itu anjuran rata untuk sang suami dan juga istri. Maaf, menurut saya, justru kenapa sekarang banyak perempuan yang nekat selingkuh, itu karena mereka pernah tersakiti. Merasa dikhianati oleh para pria, yang dengan alasan halal-nya poligami, maka sebagian dari para pria itu tidak merasa bersalah saat memiliki WIL, yang apabila nantinya ada indikasi sang istri mencium hal mencurigakan, maka buru-buru mengambil jalan untuk berpoligami dengan alasan agama. Padahal berapa banyak yang benar-benar menerapkan motif dan landasan poligami murni karena anjuran agama, jika memang mampu?

Ya sudah, intinya saya hanya ingin menyuarakan bahwa kita tidak boleh menggenelarisir suatu tempat atau instansi, atau juga suku, hanya karena mengetahui oknumnya pernah melakukan hal buruk. Bukan berarti daerah yang dikenal sebagai desa/kota santri, semua penduduknya 100% aman dari perbuatan jijik (maaf saya cukup sesntitif sama perselingkuhan) yang sedang kita bahas ini. Di kota metropolitan macam Jakarta pun masih banyak para istri yang sangat setia mendampingi suaminya, bahkan meski sudah berkali-kali disakiti secara fisik atau mental oleh pasangannya. Enggak percaya? Baca saja New Catatan Hati Seorang Istri, kumpulan kisah nyata para istri tegar, yang disusun oleh Asma Nadia, dkk. #PromosiUdahMendapatkanSiramanRohaniPascaMembacanya. 

Nb: Maaf jika ada pihak yang tersinggung, hanya ingin menyuarakan opini pribadi saya sebagai penulis blog.
read more »

Selasa, 17 Desember 2013

Buruk Menurut Manusia, Bisa Jadi yang Terbaik Menurut-Nya.

Mungkin kita (atau paling tidak, saya pribadi) sering bertanya-tanya, mengapa ini dan itu terjadi dalam hidup kita? Mengapa harus seperti ini, mengapa bukan sebaliknya? Dan justru seringkali semakin kita memikirkannya, semakin rumit karena jawabannya tidak dapat diketahui sesegera mungkin.

Padahal ternyata di balik setiap kejadian yang kita alami, suka atau duka, menurut kita anugerah atau musibah, itu semua sudah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa. Memang kadang ketika hal yang menurut kita buruk terjadi, bukan tidak mungkin sempat kesal, marah, atau kecewa. Tapi yakinlah sesuangguhnya Tuhan tidak akan memberi ujian atau cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Memang kita mungkin berpikir tidak sanggup dan tidak siap menerima ketentuan-Nya. Tapi tidak ada satu pun manusia yang benar-benar mengetahui kemampuan diri dalam menghadapi cobaan, sebelum benar-benar 'terjun' menghadapi suatu masalah. Yakin saja, bahwa Tuhan sedang memberi kasih sayang lebih-Nya kepada kita, sehingga kita diberi kesempatan untuk belajar ikhlas, syukur, dan sabar, serta tetap tegar dan berusaha bangkit kembali dari keterpurukan.

Mengenai pertanyaan kita yang belum terjawab, jangan terlalu dipikirkan! Karena akan membuat semua yang sudah rumit menjadi semakin runyam. Jalani saja apa adanya, menjadi diri sendiri, dan usaha disertai berdoa memohon petunjuk kepada-Nya. Perlahan, jika memang diizinkan, suatu saat kita akan menemukan jawabannya, dalam berbagai bentuk. Yang jelas setiap kejadian memiliki hikmah di baliknya. Akan ada hal baik yang kita belum tahu akan muncul, setelah kita mengalami hal yang menurut kita buruk. Padahal segala sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik pula menurut Sang Maha Kuasa, begitu pun sebaliknya. Kadang hal buruk nan menyedihkan yang kita alami, justru adalah suatu hal yang baik untuk kita ke depannya. Be positive thinking guys! Everything happens for a reason.

Mengutip lagu yang dipopulerkan oleh Sherina semasa kecil,
    ".....Mengapa bintang bersinar, mengapa air mengalir... Mengapa dunia berputar... Lihat segalanya lebih dekat... Dan kau akan mengerti..."


read more »

Kamis, 05 Desember 2013

Mewarnai Itu Asyik :)

Selalu ada sisi kekanak-kanakan dalam diri setiap individu, sekalipun pada mereka yang sudah memasuki usia dewasa. Kadang sisi kekanak-kanakan ini bisa muncul sesekali, dalam berbagai situasi, suka atau duka.

Dan tampaknya sisi kekanak-kanakan saya sedang muncul saat ini. Beberapa hari lalu membereskan tumpukan koleksi buku dibantu oleh suami, dan menemukan krayon lama milik adik sewaktu masih SD. Tiba-tiba rindu mewarnai sebuah gambar, seperti yang sangat saya sukai ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Malah satu kali saat kelas 1 atau 2 SD, saya beruntung meraih juara 2 untuk lomba mewarnai, di lingkungan dalam sekolah. Namun, sayang setelah keberuntungan pertama itu, saya tidak pernah mengasah keterampilan ini dengan berlanjut aktif di berbagai lomba mewarnai lainnya.

Perburuan gambar saya lakukan lewat Google, dan berhasil download beberapa gambar. Belum semua selesai saya beri warna, sejak kemarin sampai siang ini baru dua gambar yang berhasil saya selesaikan. Hehe, sesekali nostalgia masa kecil boleh kan? Menghibur hati dan mengontrol pikiran atau emosi negatif yang sempat hampir keluar. Hitung-hitung self therapy :). Mau coba? Silahkan....

Ini dia gambar yang sudah diberi sentuhan warna-warni alaNila ^_* (maaf lupa menyertakan link sumber gambarnya):






read more »

Senin, 18 November 2013

Yang Tak Dapat Terucap

Dari kecil mungkin kita sering mendengar kalimat berikut ini keluar dari mulut orang tua ke anaknya, yang menurut mereka tidak patuh pada peringatan atau kemauan orang tua. 

"Tuh kan, kamu sih enggak nurut sama Bunda, begini deh akhirnya."

Memang tidak secara sengaja atau bermaksud menyalahkan anak, tapi memang kalimat itu sering saya dengar, baik pengalaman pribadi atau orang lain. Saya pun mungkin, jika Tuhan kelak menghendaki saya jadi seorang ibu, belum tentu bisa selamanya tidak mengeluarkan kalimat 'memojokkan' seperti itu.

Apa iya kalau anak selalu menuruti perkataan orang tua, akan menjamin hidupnya berjalan mulus tanpa masalah? Tidak juga bukan? Karena sejatinya selama umur masih ada, selama kita masih hidup, masalah akan selalu ada membuntuti ke mana pun kita pergi. Di mana pun dan kapan pun itu, kita tidak akan lepas dari masalah. Mau lepas dari masalah dunia, ya mati. Tapi masalah atau hukuman di akhirat pun menanti, tergantung dosa apa saja yang kita perbuat saat masih hidup.

Tapi kalau anak sudah taat dan patuh pada kemauan orang tua, kemudian masalah muncul, anak akan berada dalam situasi dilema luar biasa. Di satu sisi ingin marah pada orang tua, tapi itu kurang ajar bukan? Masalah bukan selesai, tapi bisa jadi semakin bertambah runyam. Terutama karena hidup kita semakin jauh dari keridhoan orang tua. Artinya apa? Kalau orang tua sudah tidak ridho, maka Tuhan juga enggan memberikan kasih sayangnya untuk anak yang tidak menghormati orang tuanya.

Kalau anak dapat masalah dalam hal yang menjadi pilihannya sendiri, maka dengan sendirinya tidak akan terpikir menyalahkan orang lain, karena apa yang dijalani sepenuhnya adalah kemauan diri sendiri. Mereka yang terlanjur mematuhi perkataan orang tua, lalu mendapat masalah berat, sontak bingung, marah, dan kecewa. Ingin mengeluarkan di depan orang tua takut membuat khawatir, tapi di sisi lain ingin marah pada orang tua juga, karena mereka lah alasan utama si anak memilih suatu pilihan hidup. Anak tidak akan mampu bicara seperti ini, "Tuh kan, gara-gara menuruti perkataan kalian, aku jadi begini."
read more »

Jumat, 08 November 2013

Poligami Masa Kini? Nyaris Nihil Tanpa Perselingkuhan

Beberapa waktu belakangan ini sempat ada satu kasus menghebohkan terkait pembunuhan berencana. Motifnya adalah karena percecokkan atau lebih tepatnya korban (yang merupakan istri siri dari dalang pembunuhan) konon sempat menuntut haknya sekaligus meminta sang Suami untuk menceraikan istri pertamanya.

Fokus saya bukan pada kasus tersebut, tapi terkait tentang poligami yang saat ini sepertinya semakin marak diberitakan media, yang mayoritas ada saja permasalahan rumitnya. Memang agama (Islam salah satunya) tidak melarang para pria untuk memiliki istri lebih dari satu (namun tetap batasnya 4 saja). Namun, sebagian besar kaum wanita (termasuk saya) kurang simpati terhadap permasalahan ataupun kepada pelakunya. Bukan apa-apa poligami yang marak terjadi di zaman sekarang tidak benar-benar murni poligami setelah ada niat dan cara yang baik pula. Misal menikahi janda beranak banyak supaya anak-anaknya ada yang menanggung beban hidupnya, atau dilakukan setelah meminta izin baik-baik kepada istri pertamanya.

Seringnya malah pelaku poligami baru terungkap setelah ada kasus A, B, C, dll, yang mengungkap fakta bahwa suami berselingkuh (dengan atau tanpa ikatan pernikahan). Begitu ketahuan baru meminta izin pada istrinya untuk menikah lagi. Gubrakkk!!! Please deh siapa sih yang enggak sakit jika diperlakukan demikian. Meski tidak sedikit yang merasa emosi dan berujung di sidang perceraian, tapi banyak pula para istri yang dengan ketegaran luar biasa mau memaafkan suami mereka dan memberi kesempatan kedua. Ada yang akhirnya kembali menjadi keluarga utuh sebagai pasangan monogami, atau sebagian lainnya mau mengikhlaskan dirinya diduakan, ditigakan, atau bahkan diempatkan demi keutuhan keluarga dan anak-anak. Memang sih konon akan ada balasan surga juga bagi istri yang rela berbagi suami, tapi kalau ada jalan lain untuk masuk surga, enggak harus menjadi bagian dari mereka yang menjalani kehidupan di-poligami kan? #ButuhMentalYangSuperKuatTuh

Perselingkuhan selalu akan menimbulkan dampak yang buruk. Tidak hanya bagi hubungan antar pasangan tapi juga untuk perkembangan psikologis anak. Orang bilang bahwa cinta pertama anak laki-laki adalah ibu, sebaliknya cinta pertama dari anak perempuan yaitu ayah. Saya setuju, terutama bila kita hubungkan dengan fenomena perselingkuhan (dulu identik pria yang melakukan, sekarang peluangnya sama saja).

Jika pelakunya si ayah yang selingkuh, maka kemungkinan yang paling tersakiti adalah perasaan si anak perempuan. Bahkan bukan tidak mungkin si anak akan trauma dan memilih untuk menghindari berhubungan dengan pria, lebih parahnya anti pada pernikahan. Begitu pula sebaliknya saat si ibu berselingkuh dan anak laki-laki menjadi saksi perselingkuhan ibunya, saya melihat beberapa kasus yang terjadi pada selebritis di infotainment, sang anak lelaki akan menolak tinggal dengan ibunya meski mereka masih di bawah umur. Padahal konon katanya hak asuh anak yang masih di bawah umur, ada di tangan ibunya.

Karena satu dan lain hal tulisan kali ini sempat mengendap hampir seminggu di draft, sebelum akhirnya saya selesaikan. Dan meski malam ini sudah selesai (atau mungkin ngambang ya akhirnya?) saya sedang malas mengedit atau memikirkan nyambung tidaknya tulisan ini. Mungkin pikiran saya sedang agak sedikit kusut, tapi tetap memaksakan diri menulis supaya otak tetap dipaksa memikirkan hal positif dalam keadaan apapun. Happy week end all....
read more »

Selasa, 22 Oktober 2013

Almost 2 Months

Melihat Daisypath dan tersadar akan suatu hal yang setahun atau bahkan setengah tahun lalu belum jadi pemikiranku sama sekali. Hampir genap dua bulan statusku berubah. Oh, mungkin bukan berubah tapi bertambah. Tidak hanya menjadi anak dari orang tuaku, tapi juga menjadi seorang istri serta menantu dari sosok yang kupanggil 'Ibuk.'

Mayoritas yang 'KEPO' sejak masa pra sampai pasca akad, adalah pertanyaan bagaimana kami bisa bertemu. Mayoritas pula melontarkan tebakan awal "Teman sekolah/kuliah ya?" Atau salah satu sesepuh yang sudah menduga kemungkinan terbesar alasan kami bisa menikah karena dijodohkan (baca: memerlukan perantara), dengan lugas bertanya siapa sosok Mak Comblangnya. Saat itu aku hanya menjawab dengan kalimat "Wallahu a'lam." Maksudnya memang karena diri sendiri pun tidak tahu pasti siapa yang paling tepat disebut sebagai comblangnya. Tapi jawabanku itu malah dianggap sebagai jawaban untuk menyembunyikan sebuah fakta. Padahal apa yang mau ditutup-tutupi, kami sendiri kadang masih tidak menyangka akhirnya sampai di tahap yang seserius ini.

Hari gini dijodohin? Mungkin kalimat itu yang akan muncul di benak sebagian besar manusia yang merasakan hidup di zaman moderen ini. Tapi pada kenyataannya memang demikian adanya, bahkan mungkin ada semacam fenomena gunung es. Dimana jumlah pasangan yang menikah melalui perjodohan (masa kini) hanya sedikit yang tampak, padahal jumlahnya masih sangat banyak yang tidak terdeteksi.

Kok mau-maunya sih dijodohin? Enggak takut kalau tiba-tiba enggak cocok karena sebelumnya belum pernah kenal sama yang bersangkutan?

Enggak bohong, kalau (mungkin) awalnya mereka yang dijodohkan akan mengalami masa kegalauan luar biasa. Apalagi mereka yang sebelumnya tidak ingin buru-buru melepas status lajang, atau masih merasa belum siap untuk memiliki keluarga sendiri. Saya sendiri sama sekali tidak pernah berpikir akan menikah di usia 25 tahun. Bukan berprasangka buruk, tapi mengingat ke-kuper-an ditambah masa remaja yang tidak pernah dilalui dengan kenangan pacaran satu kali pun, membuat saya merasa wajar jika kelak tidak bisa melepas masa lajang tepat di usia 1/4 abad (Menurut kebanyakan orang Indonesia, wanita memang sebisa mungkin pada usia 25 tahun itu minimal sudah menemukan calon pendampingnya).

Maka jangan ditanya bagaimana kondisi psikisku saat itu. Memang dari luar tidak terlalu nampak aneh, karena ada satu sisi dalam diri yang membuat itu semua tidak lepas kontrol keluar sebagai perwujudan emosi menolak. Yaitu sisi lain hati nurani yang berusaha memahami bahwa apa yang dilakukan orang tua tidak lain tidak bukan yaitu demi kebaikan buah hatinya. Satu hal yang tidak bisa dipahami seseorang yang belum merasakan menjadi orang tua. Meski pergolakan batin sempat terjadi, toh pada akhirnya diri ini mengambil kesimpulan akan suatu hal.

Sesuatu yang ingin kita hindari sejauh mungkin dan dengan berbagai cara apa pun, tetap akan kita jalani jika itu sudah menjadi ketentuan Tuhan. Sebaliknya sebesar apa pun keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu (misal mengejar cinta seseorang), akan ada saja halangan untuk bisa bersatu. Maka di saat emosi mulai melunak, masa saat itulah diri ini mulai mencoba memasrahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Tuhan jika ini memang jalannya, kuatkan kami, jadikan kami ikhlas, dan jadikan orang tua kami bahagia, dengan demikian seiring berjalannya waktu kami pun bisa merasa bahagia seolah pernikahan ini tidak melalui tahapan 'rasa terpaksa' di awalnya. Mengingat petuah seorang kakak kami, bahagia enggak bisa didefinisikan dan dicari, tapi bahagia itu kita yang ciptakan. Bagaimana pun caranya, jika memang sudah ketentuan Tuhan, maka insya Allah itulah yang terbaik. Sebab Tuhan memberi yang kita butuhkan, meski tidak selalu yang kita butuhkan itu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Keep happy gals ^_*.
read more »

Sabtu, 21 September 2013

Bahasa Emak

Long time no see... Eh maksudnya long time no write about my absurd story. Setelah hampir sebulan lebih vakum dari dunia blog ini, kini saya hadir kembali dengan kisah baru di status yang kini baru juga.

Now I am a wife (Whaaaaaattttt???). Dunia kaget? Yang mengalami saja masih tidak menyangka bisa sampai di tahap ini. Tapi sekarang bukan waktunya menceritakan detail bagaimana si cewek aneh binti eror ini bisa bertemu dengan orang yang mau menerima doi secara lahir dan batin. Sekarang temanya adalah tentang bahasa ibu.

Tahu kan maksudnya? Yaitu tentang bahasa daerah asal seorang wanita yang bertitel ibu, emak, mama, mami, ummi, dll, yang sepatutnya diwariskan kepada anak-anaknya meski si anak tidak lahir atau tumbuh besar di kampung halaman orang tuanya. *Omong-omong kampung halaman eike apa ya? Secara meski keturunan Jawa tulen, ogut kan lahir di dan besar melewati masa bayi, balita, dan kanak-kanak di Jakarta.

Sebut saja kasus yang saya alami, sebagai salah satu anak kelahiran Jakarta, besar di Jakarta, Bogor, dan kemudian pindah ke Tangerang Selatan, tapi punya darah keturunan suku Jawa tulen dari kedua orang tua yang sama-sama asal Jawa Tengah. Kalau istilah di novel Harry Potter, saya ini "berdarah murni" bukan "berdarah campuran." *Eh, apa coba kok ngomongin novelnya J.K. Rowling?

Balik lagi ke soal bahasa ibu. Meski lahir dan besar di Jakarta, saya cukup beruntung punya ibu yang sejak dulu selalu mengenalkan dan membiasakan untuk berbicara bahasa Jawa kepada anak-anaknya. Ya, memang kami, selaku anak-anak beliau hampir tidak pernah menimpalinya lagi dengan bahasa Jawa. Tapi minimal sedikit-sedikit lumayan paham kan? Daripada sama sekali tidak mengerti bahasa daerah asal orang tua?

Namun tetap saja kemampuan berbahasa Jawa itu hanya sekedar kemampuan pasif, hanya bisa paham tanpa mampu menuturkannya dengan baik dan benar, serta tepat sasaran (ada perbedaan untuk berbicara kepada yang sebaya dan kepada yang lebih tua). Apalagi kalau suatu saat harus kembali berbaur di lingkungan yang masih dominan menggunakan bahasa Jawa dibandingkan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Dulu sih cuek-cuek saja. Toh bertemu saudara yang tinggal di kampung halaman hanya sesekali, bahkan bisa dikatakan sekali setahun saat hari raya. Tapi kini ketidakmampuan saya dalam melafalkan bahasa Jawa (terutama yang halus dan penuturan kepada yang lebih tua), benar-benar sangat terasa. Bahkan sering membuat diri ini menjadi salah tingkah, enggak nyaman, malu, dan hampir selalu memilih diam jika tidak benar-benar mendesak untuk bicara.

Terutama di masa awal-awal berstatus baru ketika menjalani masa-masa ngunduh mantu beberapa waktu lalu. Kebetulan (eh, takdir maksudnya) Tuhan memilih saya untuk kembali bertemu dengan orang yang sesuku, bahkan bukan sekedar Jawa "keturunan doang" seperti saya, tapi memang orang yang lahir dan besar di Jawa Tengah. Tidak terlampau jauh dari kampung halaman kedua orang tua saya.

Tapi keadaan terdesak memang bisa mengubah segalanya. Termasuk saya yang sebelumnya tidak pernah mau bertutur dalam bahasa Jawa. Saat ini minimal sepatah dua patah kata harus ada yang diganti dengan bahasa Jawa. Sulit bukan berarti tidak bisa kan? Toh ini termasuk hal positif. Minimal belajar jadi wanita halus, bukan cewek tomboy nan kasar binti cuek bebek sama lingkungan sekitarnya.

Maka saya bersyukur menjadi anak dari seorang Ibu yang tidak menyepelekan masalah bahasa ibu ini. Hal ini sangat membantu saya dalam beberapa waktu lalu, yang tinggal sementara di PMI (Pondok Mertua Indah) alias daerah kelahiran suami (masih rada rikuh menuliskannya, karena belum terbiasa dengan kata tersebut, tapi harus dibiasakan). Sambung lagi kapan-kapan yaaa ^_^.
read more »

Minggu, 21 Juli 2013

Qulil Haqqa Walau Kaana Murran

Jika anak-anak zaman sekarang dikenal sebagai generasi kritis sejak usia dini, entah zaman dulu yang berbeda atau saya saja yang menjadi segelintir orang yang menjalani masa kecil minim level kritis ya?

Meski bulan Ramadhan disebut sebagai waktunya menahan lapar dan dahaga serta emosi, tapi justru bulan ini juga identik dengan kuliner, apalagi untuk melengkapi waktu berbuka puasa (sabar... masih lama euy Magrib-nya). Namun, kali ini tiba-tiba saya teringat pengalaman masa kecil saat bersantap sahur di rumah Mbah (Nenek dari Ibu) yang memang sangat berdekatan dengan rumah Bude (kakak dari Ibu) dan juga tempat tinggal Om (adik dari Ibu).

Jadi, karena saat itu kami yang tinggal di luar kota ini baru datang untuk merayakan hari raya Idul Fitri di kampung halaman, maka saat sahur semuanya berkumpul di rumah Mbah yang letaknya di antara rumah Bude dan kediaman keluarga Om. Seperti biasa, yang menyiapkan lauk pauk hidangan untuk kami semua ya Bude, mungkin dibantu juga oleh Ibu dan orang dewasa lainnya. Dulu saya masih dianggap terlalu kecil untuk bisa bantuin, jadi tinggal terima beres.

Sebenarnya lauk pauk yang ada cukup bervariasi, tapi karena didominasi ikan-ikanan (masih jadi super picky eater ceritanya) akhirnya saya hanya mengambil nasi putih dengan lauk telur mata sapi yang memang sengaja disiapkan Bude untuk jaga-jaga jika para anak-anak tidak mau makan ikan.

Satu suapan pertama, cukup mengejutkan saya. Tapi tidak berani lapor pada Ibu karena kebetulan kami duduk dengan posisi yang agak berjauhan. Otomatis kalau mau laporan, tidak bisa dengan berbisik, dan nanti terdengar oleh semua orang. Menurut saya, telur itu terlalu banyak dibubuhkan garam (alias keasinan). Tapi demi menjaga perasaan Bude yang sudah susah payah menyiapkan semuanya, akhirnya kuputuskan diam dan segera menuangkan kecap (sebanyak mungkin) di atas nasi dan telur ceplok, dengan harapan rasa asinnya bisa terselamatkan oleh rasa manis kecap.

Ternyata harapan itu tidak sesuai kenyataan. Rasa asin yang bagi saya saat itu teramat sangat, tidak cocok dicampur dengan rasa manis dari kecap yang super banyak di piring saya. Satu suap saya paksa kunyah dengan waktu sangat lama dan mungkin ditambah ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sampai akhirnya mungkin Ibu saya sepertinya mengetahui ada keanehan dengan diri saya. Memang sudah biasa kalau saya makan dalam waktu lama karena sejak kecil memang termasuk anak yang susah dibujuk makan. Tapi kali ini bukan hanya sekedar malas makan karena ngantuk, ada yang tidak beres.

Waktu santap sahur itu, memang hanya saya seorang yang mengambil telur mata sapi sebagai lauk. Jelas tidak ada yang tahu bagaimana rasa lauk itu, selain saya. Maka setelah Ibu menegur saya untuk segera menghabiskan makanan karena waktu imsak hampir tiba, akhirnya beliau tahu apa yang membuat saya begitu lama menghabiskan hidangan sahur kali itu. Jelas setelah beliau juga mencicipi telur yang ada di piring saya. Setelahnya saya tidak ingat lagi apa akhirnya makanan itu saya habiskan atau terbuang? Apakah Ibu menyampaikan hal itu pada Bude atau tidak? Yang jelas sensasi menahan rasa asin bercampur manis kecap, sambil menahan supaya tidak memuntahkan makanan dari mulut itu, masih saya ingat. *Mungkin ini sebabnya kalau coba-coba masak hidangan gurih, hasilnya lebih sering dibilang kurang berasa. Lidah saya mungkin terlalu sensitif dengan rasa asin, sehingga bagi saya suatu makanan sudah cukup berasa, tapi tidak bagi orang lain. Daripada kebanyakan garam? Entar hipertensi kan? #NgelesDeh

Ckckckck, memang ya budaya Jawa kadang membuat kita menahan tawa miris. Ingin bersikap sopan malah membiarkan diri sendiri menderita hanya karena sebuah kata, sungkan (jangan tersinggung buat yang tidak merasa, tapi kebanyakan begitu sih). Kaki diinjak orang lain di angkot, malah diam saja atau minimal menegur dengan minta maaf duluan (harusnya yang minta maaf kan yang menginjak). Merasa lapar atau haus sangat saat bertamu, malah bilang "enggak usah repot-repot, tadi baru makan" (ya, kalau empunya rumah memang tahu si tamu cuma basa-basi, kalau empunya rumah super cuek, bisa jadi beneran kagak diambilin makanan/minuman tuh ^_*).

Hari gini jangan kan anak SD, anak TK pun sudah bisa dengan kritisnya mengomentari rasa makanan (tidak peduli siapa yang masak sekalipun ibunya sendiri), gaya berpakaian, sampai cerita sinetron. Jadi ingat salah satu pepatah yang pernah diajarkan guru saya di pesantren, "Qulil haqqa walau kaana murran". Katakanlah suatu kebenaran meskipun pahit (tidak nyaman didengar), kira-kira demikian arti pepatah arab tersebut.

read more »

Senin, 15 Juli 2013

Thanks for Your Story Gals!

"Kebanyakan cerita cinta orang, jadi lupa sama kisah cinta sendiri" (Lolly Love, Trans TV 2013).

Kira-kira demikian kutipan kata-kata pemeran Lolly, yang selalu menceritakan asam manisnya kisah cinta berbagai jenis karakter manusia. Memang hanya sebuah film televisi yang juga mungkin kisah fiksi (walaupun sedikit banyak pasti terinspirasi dari sekelumit kenyataan hidup).

Fokus kita kali ini adalah kutipan yang saya dapatkan dari Lolly semalam, tepatnya saat di rumah sendirian menonton TV ketika semuanya sedang shalat tarawih. Ternyata dapat libur shalat saat bulan Ramadhan, enggak enak. Bisa makan dan minum siang-siang, tapi malah enggak selera karena terbawa suasana rumah yang semuanya berpuasa. Memang sih bisa ngumpet-ngumpet makan di kamar, tetap saja bawaannya kenyang terus. Makan pagi saja sudah merasa cukup dan tidak kelaparan meski baru makan lagi saat waktu Magrib tiba. Malah kemarin waktu ke mal sendirian pun, meski mayoritas restoran memasang gorden di kaca depannya, tidak satu pun yang berhasil menarik kaki saya masuk ke dalamnya. Padahal aroma masakannya jangan dtanya, sudah pasti sangat menggoda.

Sama seperti tokoh Lolly yang sering menyaksikan atau mendengarkan curhatan orang lain tentang kisah cinta mereka, menonton Lolly Love semalam seperti mengingatkan saya akan masa lalu. Ketika saya yang bahkan tidak berpengalaman dalam urusan asmara (sebut saja cinta ala ABG), tiba-tiba mendapatkan pelajaran berharga dari kisah orang lain. Baik yang sekedar melihat atau mendengar kisah dari para biang gosip (bukan pelakunya) atau langsung mendapatkan curhatan dari yang bersangkutan. Kisah cinta pun tidak sebatas pada mereka yang konon sudah jadian/pacaran, karena setiap orang terutama sejak mulai memasuki masa pubertas pasti merasakan setitik dua titik rasa suka pada lawan jenis, dan tergantung pribadi masing-masing menyikapi dan mengontrol perasaan mereka.

Memang mereka yang curhat bukan bertujuan untuk mencari solusi. Jika solusi yang dicari, jelas teman-teman atau sahabat saya datang pada orang yang tidak tepat. Tapi, sejatinya manusia akan bertemu pada kondisi di mana mereka butuh untuk didengar tanpa dihakimi. Bahkan seringkali mereka yang tiba-tiba curhat pada saya, bermula dari ketidaksengajaan dan tanpa terduga sesi curhat mengalir begitu saja. Jangan kira saya memiliki banyak sahabat (teman yang sangat akrab). Justru kadang mereka yang berbagi kisah tanpa paksaan itu, adalah teman-teman yang dalam keseharian tampak tidak terlalu akrab dengan saya, bahasa anak gaulnya "beda geng/kelompok." Dan setelah sesi curhat berakhir entah saya atau mereka, mulai menyadari dan menyampaikan kenapa bisa curhat masalah yang cukup privasi (menurut saya kisah cinta adalah hal yang tidak sembarangan bisa diceritakan pada siapa pun) kepada saya yang sebelumnya tidak terlalu akrab.

Saya kemudian hanya tersenyum, dan berusaha menyampaikan bahwa meski saya tidak tahu jelas alasannya, tapi saya cukup senang ketika mereka merasa nyaman bercerita pada saya. Bukan hanya mereka yang bisa merasa lega karena ada sedikit beban yang berkurang di hati. Saya juga mendapatkan banyak pelajaran berharga dari pengalaman mereka. Entah mengapa saya selalu menyukai momen ketika ada orang yang mau berbagi kisahnya pada saya. Namun, sebaliknya saya bukan orang yang mudah berbagi kisah dengan orang lain. Apalagi urusan hati. Kalaupun ada sahabat yang berhasil membuat saya nyaman bercerita pada mereka, tentu tidak semua bagian kisahnya bisa saya ungkap secara detail. Karena saya pun masih belum mengerti dan paham betul urusan hati ini.

Berbeda dengan Lolly yang menceritakan kisah orang lain, saya tentu tidak bisa menceritakan kisah-kisah cinta yang dicurhati teman-teman sejak masa remaja sampai beberapa waktu belakangan ini. Karena tanpa mereka sebut itu rahasia pun, saya tidak berhak mengumbar apa yang saya ketahui tentang mereka. Mereka dan bahkan juga saya, kadang memerlukan tempat untuk bercerita, sosok pendengar tanpa menghakimi kita benar atau salah, dan tidak memerlukan solusi untuk sementara waktu. Sedangkan saya, mungkin hanya buku harian yang benar-benar bisa menjadi penampung segala rasa di hati, selain pada-NYA tentu saja.
read more »

Kamis, 04 Juli 2013

Mendadak Cerewet

Kalau ada kontes atau penghargaan rekor dunia untuk perempuan di atas usia 20 tahun yang paling jarang menjejakkan kaki di salon, maka saya dengan Pe-De akan mendaftarkan diri sebagai nominator. Seumur hidup baru merasakan facial kurang dari 7 kali (enggak dihitung tapi kayaknya jumlahnya di bawah angka tersebut), creambath satu kali, dan selebihnya cuma gunting rambut yang seringnya terpaksa karena larangan berambut panjang sejak kecil.

Nah, kemarin (tepatnya setelah sebelumnya beberapa kali diingatkan Mama buat facial tapi selalu berkilah nanti dan nanti) akhirnya pergi juga buat facial dan gunting rambut. Di dua tempat berbeda, memang awalnya hanya izin untuk facial (pertama kalinya tidak ditungguin ^_^) di sebuah klinik khusus kecantikan yang berlokasi di Karang Tengah, tapi setelah dipikir-pikir jerawat ini bisa juga disebabkan oleh minyak dari rambut, membuat saya memutuskan segera meluncur ke salon khusus muslimah di kawasan Ciputat, untuk mengurangi jumlah dan panjang rambut kepala saya.

Dari dua tempat tersebut saya menarik kesimpulan dan pelajaran baru mengenai tempat-tempat yang sering dikunjugi perempuan seusia saya pada umumnya. Yaitu, walaupun belum kenal sebelumnya, meski baru pertama kali bertemu dengan pegawai salon yang mem-permak salah satu atau beberapa bagian tubuh kita, mau tidak mau kita seolah menjadi teman akrab. Minimal sok akrab atau SKSD.

Bukan apa-apa, di sela-sela melakukan tugasnya, 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut" saya selalu bertanya duluan tentang hal-hal yang berhubungan dengan facial/gunting rambut, sampai melebar ke berbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan yang kami lakukan saat itu. Otomatis, demi menjaga perasaan mereka dan demi tidak kacaunya pelayanan mereka kepada kita, sebagai klien juga harus bisa mencoba menanggapinya dengan baik. Itu pun berlaku untuk manusia yang susah beradaptasi dengan orang asing, seperti saya.

Maka siang dan sore kemarin, saya merasa menjelma menjadi seorang Nila yang cerewet. Menanggapi setiap pertanyaan 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut", serta mencoba bertanya balik. Sekedar mencairkan suasana biar tidak terkesan wawancara, hanya karena obrolan yang bersifat satu arah. Tidak ada yang aneh, hanya saja mulai menyadari bahwa kadang di satu tempat dan tempat lainnya, kita bisa menjadi pribadi dengan karakteristik luar (tampak di mata orang lain) yang berbeda-beda.

Jujur saja, kalau saya pergi ke salon dengan Mama, saya tidak bisa seterbuka itu kepada orang-orang di salon. Terutama biasanya mereka fokus pada klien yang bayar hasil kerjanya kan? Maka saat bersama Mama, saya hanya dianggap sebagai anak kecil, bocah perempuan yang ngekor ibunya ke mana-mana. Dan kemarin terbukti, saat saya benar-benar melakukan proses facial dan gunting rambut tanpa ditemani siapa pun, mereka dengan ringannya mengajak saya ngobrol ngalor-ngidul, yang saya tanggapi juga dengan (pura-pura) cerewet.

Begitu juga saat saya beberapa kali berkenalan dengan teman baru di berbagai lingkungan. Sekilas dan mayoritas menyetujui saya adalah orang yang pendiam, tampak jutek, enggak asik diajak ngobrol, dan dingin (beuh, emangnya es). Tapi beberapa teman yang telah (setidaknya) akrab dan sedikit banyak sering berbagi cerita, mereka menemukan sisi lain yang belum diketahui sebelumnya. Rada banyak omong dan kadang eror juga, enggak se-serius apa yang mereka duga.

Ya, beginilah saya. Saya sendiri kadang tidak tahu termasuk orang pendiam atau kah cerewet, introvert atau ekstrovert, dan ramah atau kah jutek? Yang saya sadari adalah, saya memang memiliki kekurangan berupa rasa canggung luar biasa untuk menyapa duluan orang yang baru ditemui atau mereka yang tidak akrab. Tapi ketika orang lain sudah menyapa dan mengajak bicara meski sekedar basa-basi, maka saya pun akan menyesuaikan diri dengan mereka. 

Intinya tergantung lawan bicara saya, jika mereka tipe orang yang cerewet, bukan tidak mungkin saya terbawa banyak bercerita pada mereka. Sebaliknya jika yang saya temui cenderung pasif dan seolah tidak nyaman bicara dengan saya, maka saya pun segan untuk memulai pembicaraan. Bahkan kadang jika di lain kesempatan tanpa sengaja bertemu lagi dengannya (walau sudah lama tidak berjumpa), saya memilih tidak menyapanya duluan karena khawatir salah orang atau sepertinya dia tidak akan ingat lagi siapa saya.

Dan kemarin di dua tempat berbeda, saya sukses merasa jadi pribadi yang berbeda, meski tidak bisa dipungkiri saya merasakan hal positif dari kejadian tersebut. Sampai jumpa :).
read more »

Jumat, 28 Juni 2013

Kopi Kuganti dengan Permen

Mereka bilang hidup itu seperti roda. Selalu bergantian, bergiliran tukar posisi. Maka ada manis juga ada pahit, ada suka dan duka, ada berhasil setelah gagal, serta ada penerimaan setelah penolakan.

Seperti template blog ini yang belum lama sengaja saya ganti. Selain ingin berganti suasana, ada makna tersendiri yang saya pikirkan sembari memilih dari sekian banyak template yang tersedia, gratis tentu saja.

Sebelumnya, bagi anda yang pernah berkunjung kemari pasti sudah tahu bahwa latar belakang blog ini adalah kumpulan biji kopi. Saya memang bukan seorang maniak kopi, hanya saja saat memilih template tersebut tidak tahu mengapa tiba-tiba menyukai gambar tersebut. Kalem tapi tidak terlalu pucat, dan cocok dengan kulit saya yang memang cenderung gelap.

Setelah hampir satu tahun blog ini dibuat, saya berinisiatif untuk mengganti beberapa hal yang menjadi bagian penyusunnya. Salah satunya tentu saja template blog. Banyak pilihan dan banyak pula yang menurut saya mewakili kepribadian diri ini. Tapi saat melihat template yang akhirnya terpilih saat ini, saya menemukan satu hal penting yang sebelumnya saya abaikan dalam hidup. Yaitu tentang cara kita memandang segala hal yang terjadi dalam kehidupan.

Latar belakang blog yang saat ini kita lihat, berupa kumpulan permen beraneka warna. Tidak seperti latar belakang sebelumnya yang berbentuk biji kopi dengan warna dan bentuk yang nyaris tidak berbeda antar satu biji dengan biji yang lain. Menurut saya ini menunjukkan bahwa hidup ini tidak monoton, tidak terdiri dari manusia berkarakter sama, yang otomatis akan mempengaruhi kisah hidup kita menjadi lebih berwarna. Kadang sedih tapi bukan tidak mungkin suatu saat bisa berbahagia. Hari ini bertemu orang yang baik, besok bisa saja bertemu penjahat kelas kakap. Pagi bersemangat dan rajin bekerja, tiba-tiba siang menjadi galau tidak bersemangat karena masalah duniawi pun bukan hal mustahil.

Begitu pula dengan perbedaan rasa antara kopi dan permen. Memang kopi bisa menjadi manis jika diberi tambahan gula, tapi rasa sesungguhnya dari kopi tetaplah pahit. Bukankah saat kopi sudah melewati kerongkongan akan meninggalkan rasa pahit di lidah? Permen juga demikian, walaupun ada permen yang diberi sensasi pedas, asam, atau pahit dari kopi, tetap saja permen adalah produk pangan yang dibuat dengan bahan utama gula, yang tentu saja rasanya manis. Saya pernah mencoba permen yang diklaim sebagai permen dengan rasa paling asam. Tetap saja ada rasa manis yang saya rasakan setelah beberapa saat mengulum permen tersebut.

Maksudnya apa?

Jadi perbedaan rasa asli antara kopi dan permen, menurut saya menunjukkan bagaimana cara kita menanggapi segala hal, baik disebut anugerah atau musibah. Sebut saja segala hal yang katanya merupakan musibah, diidentikkan dengan rasa pahit. Sedangkan setiap hal membahagiakan diidentikkan dengan rasa manis.

Padahal pahit atau manisnya sebuah peristiwa yang kita alami bukan dinilai dari kejadiannya. Tetapi bagaimana dan dari sudut pandang mana kita melihat peristiwa tersebut. Misalkan kita menggunakan filosofi kopi, maka sebaik apa pun hal yang kita terima, akan menyisakan rasa pahit karena kita memandang selalu ada hal buruk di setiap kejadian. Jadi kita lebih fokus pada apa risikonya, bukan apa manfaat dari peristiwa yang dialami.

Sebaliknya ketika kita memandang suatu masalah atau musibah dengan filosofi permen, maka kita akan berusaha untuk mencari hikmah dan kebaikan yang tersembunyi di baliknya. Kita akan selalu mencari hal positif yang datang bersama musibah tersebut.

Bingung ya? 

Wajar kalau bingung, karena ini hanya sekedar pikiran asal saya, yang juga tidak dapat dipaparkan dengan bahasa tulisan yang baik dan benar. Saya hanya ingin minimal mencoba membuat diri sendiri untuk mengubah pandangan akan setiap peristiwa yang silih berganti menyapa. Tidak seperti dulu saat masih menggunakan template biji kopi, dan seringkali mengkhawatirkan setiap keburukan yang ada bahkan saat anugerah Tuhan mendekat. 

Saya berharap, jika tulisan ini belum bisa bermanfaat bagi orang banyak, setidaknya mampu menjadi pengingat diri sendiri. Ya, mengingatkan untuk selalu berpikir positif, selalu ada rasa manis di setiap kejadian dalam hidup. Sekalipun musibah, bukankah itu juga bisa memberikan banyak hal positif bagi diri kita? Setidaknya melatih diri menjadi pribadi yang lebih kuat, dan jika enggan menyerah bukan tidak mungkin ada hal mengejutkan serta membahagiakan setelahnya. Intinya seperti makan permen asam tadi, asam di awalnya tapi selama mengulum dan setelah menelan permennya akan meninggalkan rasa manis di lidah.
read more »

Senin, 10 Juni 2013

Ada Kupu-kupu, Bakal Ada Tamu?

Mitos bagaimanapun ya tetaplah sebuah mitos. Sama sekali tidak sepatutnya menjadi acuan kita dalam segala hal yang terjadi di kehidupan. Tetapi ada satu mitos, yang entah mengapa nyaris selalu tepat dan mungkin sudah lebih dari lima kali saya alami. Yaitu mitos tentang melihat Kupu-kupu masuk ke dalam rumah. Konon katanya tidak lama kemudian (di hari yang sama atau beberapa hari setelahnya) akan ada tamu yang datang ke rumah. Tulisan lain tentang mitos dapat dibaca di sini.

Dua kali terakhir melihat Kupu-kupu masuk ke dalam rumah, saya membuktikan kebenaran mitos tersebut. Dua minggu lalu, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 1 Juni 2013 sekitar pukul tujuh pagi saya melihat seekor Kupu-kupu cokelat hinggap di gorden. Mungkin sekitar beberapa menit dia diam di gorden, sampai saya tidak menyadari kapan Kupu-kupu itu akhirnya menghilang. Keesokannya hari Minggu tanggal 2 Juni 2013, menjelang waktu shalat Dzuhur kami kedatangan tamu. Kisah saya dan para tamu kecil itu saya tuliskan di sini. Tamunya memang saudara dekat, dan baru pulang malam harinya (ingat kan tadi Kupu-kupunya lumayan lama hinggap di gorden?).

Kemudian hari Sabtu tanggal 8 Juni 2013 lalu, pagi hari juga saya melihat seekor kupu-kupu lagi sedang terbang dekat pintu ruang tengah. Namun kali ini Kupu-kupu tersebut hanya terbang mengitari pintu, dalam waktu sangat singkat lalu terbang kembali menjauhi rumah. Kupu-kupunya berukuran kecil dengan warna putih bersih. Dalam hati saya iseng membatin, "Kali ini siapa lagi yang akan bertamu?". Sore harinya keisengan kata hati saya terjawabkan. Seorang sahabat Mama berkunjung dan menginap di rumah kami. Mitos atau fakta nih, kalau ternyata si Kupu-kupu itu sebagai penyampai pesan kepada empunya rumah supaya bersiap-siap menjamu tamu?

Tidak itu saja, besok sorenya tanggal 9 Juni 2013 ada tamu lagi. Ternyata kawan sejak TK saya yang datang bersama adik perempuannya. Padahal kami sudah lama sekali tidak bertemu, ternyata dia bermaksud menyampaikan undangan pernikahannya yang akan diselenggarakan pada tanggal 23 Juni 2013. Dia membawa dua undangan, satu untuk saya dan satu lagi untuk Mama (Maklum namanya juga sudah kenal sejak TK, otomatis para Mama lebih akrab dibanding para putri.) Barakallah ya teman masa kecilku, semoga acaramu lancar dan kelak menjadi keluarga SAMARA. Aamiin. Jangan-jangan waktu itu Kupu-kupunya berwarna putih karena tamunya si calon pengantin? #SotoyBangetBinEnggakNyambung

Ya sudah cukup sekian cerita kali ini, intinya sih tidak sepatutnya kita percaya seratus persen dengan mitos. Tapi saya hanya ingin memaparkan kalau ternyata ada mitos-mitos yang sering terbukti, dan akhirnya membuat mitos tersebut dianggap fakta. Atau mungkinkah ada radar khusus di tubuh Kupu-kupu yang bisa mendeteksi saat seseorang berniat berkunjung ke suatu rumah, maka Kupu-kupu akan segera terbang ke rumah yang dituju? Hanya Tuhan yang tahu jawabnya.
read more »

Selasa, 04 Juni 2013

Pelajaran Berharga Dari Mereka. Makasih Ya!

Dunia anak-anak memang tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Saya sendiri sebelumnya pernah menulis beberapa artikel (sekalian curcol), yang berhubungan dengan anak-anak, tidak terkecuali mereka yang masih disebut Balita. Baik fenomena yang terjadi di masyarakat, pengalaman saat saya kecil, atau ketika saya berinteraksi dengan sepupu dan keponakan yang imut, lucu, cerdas, dan kadang cukup menguji kesabaran saat menghadapi mereka. Di bawah ini beberapa tulisan yang saya maksud:


Dua belas tulisan? Belum mencapai puluhan sih, tetapi saya sendiri baru sadar bahwa ada lebih dari 10 tulisan (non fiksi) yang berhubungan dengan anak-anak. Dulu, atau bahkan mungkin sampai saat ini, ada saja suatu masa ketika anak-anak berceloteh ingin segera menjadi orang dewasa. Saya sendiri pernah berpikir demikian, hanya karena alasan sepele. Tidak ingin lagi mengerjakan PR yang setiap hari diberikan oleh para guru. Padahal orang dewasa itu lebih rumit, lebih banyak tanggung jawabnya, dan ada titik jenuh di mana orang dewasa kembali merindukan masa kecil. Saat sudah mencapai usia dewasa, tiba-tiba ingin menjadi anak kecil lagi, yang tidak punya beban pikiran ini dan itu, serta tanpa malu menangis lalu lima menit kemudian tertawa bahagia.

Tapi bukan keinginan menjadi anak kecil lagi, yang akan saya bahas. Kain ajaib yang bisa membuat kita jadi bayi kembali, cuma ada di komik karangan Fujiko F. Fujio (Bukti bahwa penulis mati memang meninggalkan karya. Komik dan kartun Doraemon masih tetap dikenal anak-anak masa kini). Mustahil kan balik lagi ke dalam perut ibu, atau tiba-tiba terbangun dengan pakaian sudah kedodoran akibat badan yang menyusut seperti Shinichi Kudo? #KenapaJadiBahasKomik?

Inti dari artikel kali ini adalah, siapa pun orangnya, anak kecil sekali pun yang kita temui, mereka akan memberikan pelajaran penting untuk kita. Terinspirasi dari kisah nyata (kayak opening di film ceritanya) yang terjadi hari Minggu lalu. Saat rumah kami kedatangan tamu-tamu kecil berjumlah 4 orang. Yang paling besar perempuan kelas 4 SD, kemudian murid TK B yang centilnya hampir sepadan sama cerdasnya, dan 2 balita cewek dan cowok.

Apa sih pelajaran dari hari itu? Saya lebih menekankan kepada yang TK dan balita ya, soalnya yang kelas 4 SD kan sudah bisa diberi tahu cukup dengan kata-kata. Beda sama para Balita, yang kadang lebih dari sekedar kata-kata, tapi bagaimana cara kita menyampaikannya.

Jika ada banyak jenis mainan di hadapan mereka, tetap yang diperebutkan hanya satu. Misalnya saat yang satu bermain Lego, maka yang lain akan ikut memperebutkannya, padahal masih ada boneka dan buku mewarnai+krayon yang nganggur. Begitu juga sebaliknya saat yang satunya bosan, dan meninggalkan Lego, yang lain ikut-ikutan lagi. Memperebutkan objek yang berbeda, dan terulang lagi berantem khas mereka.

Begitu juga masalah perhatian orang dewasa di sekitarnya, sama-sama tidak mau kalah merengek minta ditemani bermain. Hehe senang sih, lumayan jadi berasa bocah lagi main bareng mereka, tapi harus hati-hati bersikap dan sebisa mungkin adil, supaya mereka enggak berantem atau ada yang merasa kurang diperhatikan. Walaupun mereka sebenarnya keponakan, tapi memanggil saya dengan sebutan Kakak/Mbak. Jadi sebentar-sebentar terdengarlah rengekan "Kak, kak, kak."

Saya dulu juga pernah membaca artikel tentang mengatasi anak yang tidak mau makan. Artikel tersebut menyebutkan tidak perlu adanya pemaksaan, karena bisa berakibat trauma dan membuat anak membenci aktivitas makan. Caranya adalah biarkan saja anak bermain atau melakukan hal yang disukainya, hentikan membujuk anak untuk makan. Maka siang itu saya makan duluan dengan keponakan yang kelas 4 SD. Serta membiarkan balita yang perempuan dan yang masih TK B, tetap bermain dan mewarnai tanpa ditemani.

Setelah saya selesai makan, saya iseng bertanya ke ponakan yang sudah TK B, dengan tersenyum dan bicara dengan nada sok imut. "Yakin nih enggak mau makan?" Mungkin karena sudah merasa lapar, dia pun mengangguk dan malu-malu berkata mau makan asalkan disuapin sama Bunda. Setelah yang satu mau makan, balita perempuan yang satunya lagi, juga ikut-ikutan mau makan. Memang sih sempat ditakut-takutin kalau tidak mau makan, nanti enggak diajak berenang. Tapi menurut saya yang membuat mereka mau makan, bukan ancaman itu. Soalnya dari awal sudah diancam (secara halus lah) seperti itu, enggak ada pengaruhnya. Tetap keukeuh menolak makanan yang sudah berada di depan mulut. Hal tersebut terjadi karena saat pertama ditawari makan, mereka belum merasa lapar. Setelah puas bermain, barulah mereka merasa lapar dan butuh makanan. Jadi lebih mudah membujuknya. 

Terbukti artikel yang pernah saya baca itu benar. Jadi pemaksaan yang kadang dilakukan dengan alasan kebaikan anak (takut kebutuhan gizi tak terpenuhi), tidak dapat dibenarkan. Memang sih orang tua kadang saking lelahnya dan pusing menghadapi anak, maka terkadang lupa untuk bersikap lembut pada anak. Wajar karena itu semua demi kebaikan anaknya. Saya sama sekali tidak berhak membahas ini secara panjang lebar karena belum berpengalaman. #TakutKualat

Satu hal lagi, yaitu saat anak-anak hampir marah atau menangis, baik saat berantem atau kejadian kekerasan tidak sengaja yang mereka alami, bisa dicegah dengan cara mengalihkan perhatian mereka. Tetapi saya sendiri tidak tahu apakah ini bagus untuk perkembangan mentalnya, karena ada emosi yang semestinya dikeluarkan tiba-tiba ditahan/dialihkan ke hal lain. 

Di kolam renang yang dangkal, saya bertiga dengan keponakan yang masih TK B dan balita perempuan. Menemani mereka sekaligus mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi begini ceritanya, mereka sempat bertabrakan antara tangan dan muka. Sekilas tampak wajah mereka tegang, dan saya pikir sebentar lagi akan ada perang disusul tangisan ala bocah. Maka jurus jayus dapat dikeluarkan jika kita berada di situasi serupa. 

Jayus? Maksud L? Iya, melakukan hal apa pun yang menurut kita sangat tidak lucu tapi seenggaknya bisa buat anak kecil tertawa atau minimal senyum lah. Maka, saat itu refleks saya pun segera membentuk huruf "V" dengan jari tangan, sambil berkata "Peace ^_^....." Dan wajah tegang mereka pun sirna menjadi tawa lepas. Fiuhhh.... Lega, enggak kebayang gimana nanti bikin berhenti nangis kalau mereka benar-benar emosi? Secara, seakrab apa pun saya dengan mereka, tetap saja itu pertemuan pertama kami yang benar-benar saling kenal. Dulu mereka masih pada belajar jalan, pasti sudah lupa dengan wajah apalagi nama saya. Makasih adik-adik, eh keponakan-keponakanku atas hari Minggu kemarin. #MasihLupaSamaUmur
read more »

Minggu, 02 Juni 2013

Ramadhan Sebentar Lagi

Ramadhan sebentar lagi akan segera menyapa. Semua umat Islam pasti sudah tahu akan hal ini. Tapi kemarin karena melihat iklan sirup, iklan obat sakit kepala yang tidak harus diminum setelah makan, dan iklan pasta gigi yang berhubungan dengan puasa, jadi makin terasa bahwa Ramadhan semakin dekat.

Terutama iklan sirup, yang biasanya punya jadwal khusus mulai gencar ditayangkan dalam waktu kurang lebih sebulan sebelum Ramadhan. Adegannya pun unik, dengan tema umum adalah tentang keluarga dan persahabatan. Setelah melakukan aktivitas bersama seharian, datanglah seseorang membawakan nampan dengan beberapa gelas berisi minuman dingin yang tampak sangat segar. Kemudian dengan ekspresi begitu menikmati, meneguk minuman tersebut sambil tersenyum bahagia. Iklan bersambung deh (emang begitu kan? lanjutannya pas lebaran).

Efek menyaksikan iklan tersebut belum begitu kuat sekarang. Tapi nanti saat sedang berpuasa, apalagi menjelang waktu berbuka, pasti deh semakin sering iklan sirup yang kita lihat di sela-sela acara kultum dari para ustad terkenal (kalau ada istilah celebrity chef, bolehlah saya sebut beliau-beliau itu sebagai celebrity ustadz). Otomatis, semangat banget memikirkan (mikir aja kok semangat sih) mau berbuka dengan makanan dan minuman apa hari ini. Eh, maaf ya enggak bermaksud menyinggung siapa-siapa kok. Buat pengingat diri sendiri aja dan siapa pun yang merasa demikian.

"Ala bisa karena biasa."

Begitu juga dengan puasa, yang tidak hanya menahan makan dan minum (termasuk merokok sodara-sodara), tapi juga mengendalikan emosi dan hawa nafsu lainnya. Saya tidak akan membahas tentang jenis-jenis atau keutamaan dari puasa sunnah yang dianjurkan, termasuk puasa Rajab. Karena khawatir salah menyampaikan, dengan pengetahuan saya yang sangat minim ini. Tetapi saya berusaha menyimpulkan bahwa seseorang yang terbiasa melakukan puasa sunnah selain puasa wajib saat Ramadhan, kemungkinan besar telah terbiasa untuk mengendalikan hawa nafsu dan emosinya.

Jadi saat Ramadhan nanti, tidak akan kaget atau merasa berat menjalankan aktivitas dalam keadaan berpuasa. Selain itu, kebiasaan berpuasa akan memberikan dampak positif pada kesehatan tubuh. Minimal saat berpuasa, kita jadi punya pola makan teratur yaitu: waktu sahur yang diakhirkan, dan waktu berbuka yang disegerakan alias tidak ditunda. Sedangkan saat sedang tidak berpuasa, karena bisa kapan pun makan dan minum, belum tentu kita bisa disiplin dan kadang karena padatnya aktivitas, malah sering menunda makan walaupun tubuh sudah memerlukan tambahan energi.

Jadi, apa lagi ya? Sudah bingung mau menulis apa lagi. Semoga semua kita yang muslim selalu sehat, berumur panjang, dan kesempatan untuk kembali menikmati indahnya Ramadhan, bulan yang penuh berkah, penuh ampunan, dan penuh hikmah. Kemudian bisa mencapai fitrah kembali setelah Ramadhan usai (kecepetan ya ngomonginya, Rajab aja belum selesai). May Allah bless us.



read more »

Selasa, 21 Mei 2013

Silver 'Jomblo'. So, What's The Problem?

Beberapa tahun silam ada seorang kawan yang terkejut (padahal tidak ada niat untuk membuatnya kaget loh) karena satu fakta dari diri saya, yang menurutnya agak aneh. Kira-kira seperti ini kutipan pembicaraan kami di suatu pagi menjelang siang, di halaman sebuah instansi pendidikan milik pemerintah. Sudah lupa pembicaraan apa yang akhirnya mengarahkan kami ke masalah tersebut. Kalau tidak salah sih saat dia bicara cowoknya, yang waktu itu mengantarnya atau kalau tidak salah ingat, akan menjemput dia setelah urusan kami selesai.


"Masa sih? Beneran? Enggak mungkin ah, masa enggak pernah pacaran?"

"Kok enggak mungkin? Beneran lah, emang harus ya pacaran?"

"Oh, kamu dulu sekolah di pesantren sih ya. Kan memang enggak boleh pacaran."

"Ya, bukan karena itu juga alasan utamanya. Banyak kok yang pada punya status pacaran walau sekolah di pesantren. Cuma bedanya sama yang non pesantren, ya enggak bisa bebas ketemu. Sekedar status pun mesti hati-hati diumpetin, kalau ketahuan pasti dapet hukuman."

"Terus kenapa enggak ikutan yang lain? Enggak mungkin kan kalau enggak ada yang naksir atau ditaksir?"

"Kalau yang pernah disuka sih pasti ada, walaupun diam-diam aja. Tapi kalau yang suka sama saya sih enggak tahu ya, mungkin enggak ada soalnya dulu saya super duper kuper." (kalau kuper kayaknya masih deh sampai sekarang). "Lagian, dulu takut banget ngelanggar peraturan, takut dihukum apalagi kalau sampai orang tua dipanggil, kan dobel tuh hukuman dari pesantren plus dari ortu. Alhasil ketakutan itu bikin enggak akrab sama anak putra dan enggak memungkinkan pacaran."


Teman saya terdiam sesaat mungkin merasa sungkan dan enggak enak udah menyinggung hal ini. Padahal sih buat saya pribadi enggak masalah, tapi memang tren anak muda zaman sekarang ditambah gencarnya media massa memprovokasi budaya pacaran, membuat saya maklum saat teman takut membuat saya tersinggung. Mungkin juga beberapa anak muda yang konon mengaku gahool geelaa (eh ini sih alay), akan berkata seperti ini jika saat itu mendengar kisah saya. 'Hari gini umur udah hampir kepala dua masih jomblo? Hati-hati loh jadi jomblo perak.' *Perak diidentikkan dengan usia 25 tahun, semacam perumpamaan emas untuk usia setengah abad atau 50 tahun. Dan akhirnya teman saya pun berkata, entah bermaksud menghibur atau memang benar-benar tanpa ada maksud apa pun.


"Wah, berarti beruntung dong yang nanti jadi pacar kamu, soalnya dia jadi yang pertama."  

Saya cuma tersenyum menanggapinya (sambil membatin 'Wallahu'alam' bisa jadi juga enggak akan pernah pacaran sebelum melepas masa lajang, ups!).


*****Time has gone*****

Dan memang segala sesuatu sungguh adalah sebuah misteri ilahi, seperti itulah juga kisah seorang cewek yang sebentar lagi menyandang status jomblo perak. Yess!!! Kok senang sih, jangan-jangan cuma akting sekedar menghibur diri? Asli, ini bukan akting, tapi bersyukur karena masih dilindungi sama Allah swt, untuk terhindar dari status pacaran. Karena konon katanya, tidak ada istilah pacaran dalam Islam. Kalau pun ada yang bisa menyakinkan bahwa tidak selamanya pacaran itu negatif, saya sendiri tidak yakin bisa terlindungi dari hal-hal yang tidak diperbolehkan agama. Jadi kalau merasa benteng diri ini tidak kuat, bukankah terhindar dari hal seperti itu, adalah suatu hal yang patut disyukuri?

Enggak pernah pacaran aja kadang bisa drop atau stres karena masalah lainnya. Apalagi kalau ditambah hal seperti itu, entah apa jadinya dengan diri ini kalau sewaktu-waktu muncul hal buruk. Jadi kenapa harus risih dengan ledekan atau gurauan tentang status jomblo? Toh, tanpa ditambah dengan pacaran pun dosa saya sudah menggunung tinggi, masa iya harus ditambah lagi? So, menjelang beberapa bulan lagi (kalau masih ada umur) saat usiaku mencapai dua puluh lima, dengan itu pula aku berhasil mencapai status sebagai jomblo perak. And I'll say "Thanks God, because You never give me a chance to make an illegal relationship before marry." Alhamdulillahirabbil'aalamiin.

read more »

Rabu, 08 Mei 2013

Ga Jelas Bo...

Salam. Kangen ingin berbagi lagi di blog. Tapi sampai detik ini masih bingung dengan apa yang ingin ditulis. Tapi, teringat satu hal bahwa saat belum menemukan ide, kita tetap harus menulis, maka saya putuskan (lagi) untuk menulis tanpa paragraf pembuka yang jelas. Bahkan mungkin sampai paragraf penutup juga tidak menemukan inti yang jelas. Tidak mengapa bukan? Toh, saya admin tunggal dari blog ini, maka suka-suka saya dong (apa sih???).

Kadang ada hal yang membuat kita tercengang, terkejut, kaget, dan tidak mengerti mengapa semua bisa terjadi. Tapi kadang sesuatu hal pun tidak selalu harus memiliki alasan yang kita ketahui di awalnya. Bisa nanti, atau bahkan sampai mati pun kita tidak akan pernah tahu alasan di balik segala hal yang terjadi dalam hidup. Namun satu yang pasti adalah, Tuhan telah menetapkan yang terbaik dan tepat dalam segala masalah, nikmat, atau musibah yang menimpa.

Ya, memang Tuhan Maha Tahu segalanya. Bahkan sesuatu yang mungkin tidak kita sukai bisa jadi yang terbaik. Sebaliknya satu hal yang amat sangat dicintai, menyimpan sejuta kerugian untuk diri kita suatu saat nanti.

Semestinya memang kita harus menerima segala ketentuan-Nya. Terutama jika segala upaya dan doa telah dipanjatkan, tapi ternyata hasil akhirnya tidak seusai harapan. Seharusnya kita dapat berpikir positif, tapi kadang emosi dan ego menghalangi kelapangan hati menjadi sebuah pemberontakan hati atas ketentuan-Nya. Padahal jika Dia sudah berkehendak, maka tidak ada gunanya lagi marah-marah atau meratapi nasib dengan tangis yang lebay (ups, jadi malu kalau ingat masa lalu).

Padahal cepat atau lambat, setelah kita mengalami masa transisi dari fase penolakan itu, akan ada masanya diri ini mengerti bahwa ada rahasia di balik rahasia (eh, ngutip sinetron). Saya bukan siapa-siapa, hanya salah satu di antara kita yang beruntung diciptakan Tuhan, menjadi manusia. Lagi-lagi hanya sekedar manusia biasa, bukan wali atau nabi yang konon punya ketaatan luar biasa pada Sang Maha Kuasa. Bukan seorang yang bisa dengan mudah menjaga hati dari segala jenis virus penyakit hati, yang tidak mengenal kata melemah atau mati.

Tapi saya hanya ingin menuliskan sesuatu hal yang semoga bisa bermanfaat, minimal untuk diri sendiri dan mudah-mudahan juga bisa bermanfaat untuk orang lain. Semoga kita bisa terus belajar sabar, ikhlas, dan menerima segala ketentuan-Nya, yang sudah tentu baik menurut-Nya, bukan sekedar baik menurut diri kita sendiri. Wassalam.
read more »

Rabu, 13 Februari 2013

Daftar Tulisan Terkait "Korean Trend"

Demam Korea (Selatan) memang sedang mendunia.

Bukan sekedar asal menyimpulkan atau sekedar sugesti penulis, yang sedikit banyak mulai menyukai hal-hal berunsur Korea. Tapi pernyataan tersebut berdasarkan tulisan-tulisan di blog ini, yang ternyata menunjukkan sebuah fakta mencenangkan (lebay deh).

Kenyataan bahwa tulisan yang bertema Korea, nyaris tidak pernah kehilangan pengunjung walau sudah lebih dari seminggu diterbitkan. Padahal bisa dikatakan blog ini bukan blog khusus yang hanya membahas tentang sinopsis drama Korea, fashion ala Korea, K-Pop, atau pelajaran bahasa Korea. Pastinya jika ada yang ingin mencari informasi terkait Korean Trend, pasti banyak blog lain yang menyajikan informasinya secara lebih lengkap. Berbeda dengan hasil tulisan Saya, yang tingkat mengidolakan all about Korea-nya masih di tahap newbie dan tidak terlalu fanatik.

Di blog ini, penulis sebenarnya hanya ingin mengapresiasi karya-karya mereka, terutama yang berhasil menarik perhatian penulis. Di sisi lain juga menjadikannya sebuah subjek tulisan, sekaligus mengeluarkan apa yang ada di pikiran, supaya tidak mengendap sia-sia di "taman akal." Berikut ini beberapa tulisan yang pernah Saya buat, terkait Korean Trend (terhitung sampai 13 Februari 2013, kalau suatu saat bertambah akan di-update lagi di sini): 
  1. Review Ost. 49 Days (Even if I Live Just One Day - Jo Hyun Jae)  
  2. New Heart, New Eyes, New Kidney, and New Life for Other People 
  3. Saranghaeyo... 
  4. When K-Drama Affect Me 
  5. Learning From "God of Study" 
  6. Loving At The First Listen To "S.E.O.U.L." - Super Junior & SNSD 
  7. Review Makna Lagu "Goose's Dream"

 




read more »