Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hobi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juni 2020

Jadikan Bisnis sebagai Hobi Yuk...

Apakah pura-pura kuat itu wujud munafik? Tentu tidak. Karena dunia kadang memaksa kita menampakkan diri yang tegar, kuat dan sabar serta syukur di segala kondisi.

Sekedar menceritakan kesulitan kita, bagi kebanyakan orang, dianggap sebagai wujud kurang syukur, kurang iman dan tukang mengeluh. Pun demikian buat yang di lubuk hatinya terbesit ketidaksukaan sama kita, meski kita tidak tahu, malah bisa jadi wujud syukur mereka tahu kita susah.

Jadi jangan terlalu merasa bersalah sama diri jika kita pura-pura kuat, kelak pun beneran kuat dan lupa lagi pura-pura. Salah curhat sama yang gampang menghakimi ini itu malah kita risiko down lagi semangatnya. Mending tunjukkan kita kuat, sabar, syukur dan bahagia selalu ya. Malah bisa jadi nularin semangat buat orang lain🙂

Cari hobi atau kegiatan yang bikin kita semangat lagi meski kadang ada saja yang bikin down. Misal ada peluang bisnis atau jualan jangan ragu ambil ya. Apalagi kalau kita sreg sama produknya. Makin semangat deh promosinya.

Masih bingung jualan atau bisnis apa? Yuk japri saya 08994544109 atau tengok FB Nila Amalia Husna. Insyaa Allah ada solusinya bukan?
read more »

Senin, 25 Februari 2013

Donat Ubi Ungu alaNila

Rasanya sudah lama sekali tidak bereksperimen di dapur. Siang tadi, tanpa direncanakan sebelumnya, saya kembali melakukan hobi lama itu. Ceritanya begini, saat perut sudah keroncongan di jam makan siang, saya segera menuju dapur. Di sana lah saya menemukan ubi kuning dan ubi ungu kukus, yang disajikan oleh Mama sebagai kudapan hari ini.

Awalnya sama sekali tidak kepikiran untuk "main" masak-masakan. Tapi tiba-tiba ingat pada sisa ragi instan, yang saya pakai minggu lalu untuk membuat martabak manis. Ya, pertama kalinya membuat martabak manis, sekalian mencoba si Happy Call Jumbo Double Pan punya Mama. Hehe soalnya menu lain yang ada di buku resep masakannnya, kebanyakan rumit-banyak memakai rempah-rempah. Jadi hanya martabak manis yang membuat saya penasaran untuk mencobanya. Hasilnya? Terlalu padat untuk disebut sebagai martabak manis, tapi masih bisa diterima lidah dan perut kok *_^.

Kembali lagi ke sisa ragi instan, yang akhirnya menuntun saya untuk kembali membuat donat goreng (entah sudah berapa kali, tapi memang sudah lama sekali tidak membuatnya lagi). Kali ini mumpung ada ubi ungu, maka saya berinovasi membuat donat ubi ungu. Biasanya untuk membuat donat goreng, bahan campuran yang digunakan adalah kentang atau ubi kuning, yang akan menghasilkan warna cenderung kuning kecokelatan setelah matang. Sekarang warna donatnya jadi cenderung cokelat di luar, tetapi ungu di bagian dalam. Lain dari yang sebelumnya kan? Ini dia penampakannya, baru matang dan masih panas jadi sengaja di letakkan di baskom berlubang supaya cepat dingin, sekaligus mengurangi kandungan minyak yang terserap saat proses menggoreng.

Sengaja, buat ukuran mini biar kelihatan banyak *_^.

Walaupun sudah beberapa kali membuat donat goreng, tetapi terakhir kali membuatnya kira-kira pertengahan tahun 2012. Jadi agak ragu juga dengan takaran resepnya, hanya mengandalkan feeling. Alhamdulillah, tidak gagal. Jadilah 20 buah donat ukuran mini berwarna ungu kecokelatan. Kira-kira berikut ini resep dan tahapan pembuatan Donat Ubi Ungu alaNila.

Bahan-bahan:
100 gr ubi ungu kukus (haluskan)
150 gr tepung terigu protein tinggi (Cakra Kembar)
1 sdt ragi instan
100 gr gula pasir (sesuai selera, sepertinya akan lebih baik pakai gula halus)
garam (sedikit saja)
1 butir telur ayam
1 sdm mentega
minyak untuk menggoreng

Cara membuat:
  1. Campur tepung terigu, gula, ragi, dan garam, aduk rata. Masukkan telur, aduk rata langsung menggunakan tangan. Campur dengan ubi yang sudah dihaluskan, uleni sampai tercampur rata. Kemudian tambahkan mentega, selanjutnya terus uleni sampai kalis (tidak lengket). Tutupi adonan dengan lap atau plastik kedap udara, diamkan selama 50 - 60 menit.
  2. Setelah adonan mengembang, kempiskan adonan dengan tangan terkepal. Tambahkan sedikit tepung terigu jika masih agak lengket. Ambil sedikit demi sedikit adonan, bentuk menjadi bulatan-bulatan sebesar bola pingpong (besar ukurannya bebas). Diamkan kira-kira 10 - 15 menit.
  3. Bentuk adonan dengan membuat lubang di tengahnya, sampai menyerupai donat, diamkan kembali 5 - 10 menit. Cara yang saya gunakan ini manual, kalau punya cetakan donat tentu akan lebih memudahkan proses pengerjaannya.
  4. Panaskan minyak untuk menggoreng, apinya sedang cenderung kecil supaya adonan tidak menjadi hangus di bagian luar tapi kurang matang dalamnya. Masukkan perlahan adonan, ke dalam penggorengan, dengan sesekali memutar adonan dengan sumpit, supaya lubangnya tidak menjadi rapat. Bolak-balik supaya matangnya merata. Saat warnanya mulai kecokelatan, dan lapisan luarnya mulai menjadi garing, angkat dan tiriskan.
  5. Sajikan dengan topping gula, cokelat, krim, meises, dll. Buat yang tidak terlalu suka manis, dimakan tanpa topping juga sudah enak ^_^.

Berdasarkan pengalaman pribadi, resep memang penting. Tapi lebih penting lagi adalah feeling. Jadi saat kita mengikuti suatu resep masakan tertentu, tidak selalu hasilnya seperti yang diharapkan, meskipun sudah 100% mengikuti resep yang ada. Jadi resep yang saya paparkan di atas, jangan dipercaya sepenuhnya ya. Soalnya bisa jadi saya agak sedikit keliru mengira-ngira takaran bahannya, atau memang ada teknik lain yang lebih T.O.P untuk membuat donat super empuk dan lezat. Jadi, cukup jadikan resep saya ini sebagai gambaran kasar resep, yang bisa Anda kombinasikan dengan resep donat dari sumber lainnya. Semoga tulisan kali ini bisa bermanfaat. Terima kasih sudah mampir :).
read more »

Rabu, 23 Januari 2013

When K-Drama Affect Me

Entah tahun berapa pastinya ketika drama Korea mulai masuk ke Indonesia, dan mendadak secara perlahan meraih banyak penggemarnya sampai saat ini. Sekilas dapat dikatakan tahun 2012 merupakan tahun puncaknya demam Korea, khususnya untuk penyanyi K-Pop yang nyaris setiap bulan selalu mengadakan konser di Jakarta. Sebut saja 2PM, Super Junior, SNSD, 2EN1 (baru nyadar kalau cara bacanya To Anyone), Big Bang, Tim Hwang, Lee Seung Gi, dan masih banyak lagi (bilang aja kalau udah enggak tahu lagi *_*). Memang tidak terlalu mengikuti perkembangan K-Pop, cuma sekedar tahu lagu-lagu yang dipakai sebagai lagu tema dramanya.

Pertama kali mendengar tentang drama Korea itu malah masih mondok di pesantren. Waktu itu sedang heboh-hebohnya kisah Han Ji Eun dan Lee Young Jae di Full House. Sebenarnya saat itu penulis belum menontonnya, hanya sekedar mendengar cerita dari teman yang menonton. Loh kok bisa? Katanya serba dibatasi kalau di pesantren? Sabar, jelas saja bukan menonton di dalam area pesantren, tapi di rumah salah seorang teman, yang berada di belakan pesantren. Mereka bisa menonton karena memang setiap sore (waktu itu jadwal pemutaran drama Korea masih sore hari) ada kegiatan di aula pesantren yang letaknya tidak jauh dari rumah teman kami itu. Dan sesekali pasti bisa mampir ke sana untuk menonton. Meski sempat diajak, tetapi rasanya aneh jika Saya yang tidak ada kegiatan di aula tiba-tiba ikut, kalau ketahuan kan enggak bisa ngeles :) *bukan anak patuh, tapi penakut sama hukuman*. Alhasil hanya jadi pendengar cerita mereka yang menonton, dan memahami cerita berdasarkan imajinasi sendiri (belum ngeh wajahnya Song Hye Kyo dan Rain).

Ada salah seorang teman (dia juga yang menginspirasiku untuk menulis setelah Mbak Asma Nadia) yang sangat menyukai tokoh Han Ji Eun, sampai rajin membuat cerita bersambung (cerbung) yang boleh dibaca oleh teman-teman (gratis ^_^). Saya salah satu pembaca setia cerbungnya setiap kali ada penambahan cerita. Memang tokoh Han Ji Eun diceritakan sebagai seorang penulis cerita untuk film (ga tahu pasti naskah atau sudah dalam bentuk skenario). Dan itu tidak hanya menjadikan temanku sebagai penonton drama, tapi juga menghasilkan karya karena pengaruh drama. Sayang, kami sudah lama sekali tidak bertemu. Semoga dia dan keluarganya baik-baik saja.

Saya sendiri baru beberapa tahun terakhir ini mulai menjadi penggemar drama Korea, yang menceritakan tentang perjuangan seseorang di bidang atau profesi masing-masing. Yang membedakan dari sinetron Indonesia adalah totalitas penggambaran karakter dengan profesinya. Misalnya saat berperan sebagai dokter bedah, maka sedetail mungkin segala informasi terkait kedokteran dimasukkan dalam dialog atau ada foot note-nya seperti drama Surgeon Bong Dal Hee dan New Heart. Lain lagi jika tokoh utama berperan sebagai koki masakan Italia (drama Pasta) dan koki pembuat roti yang konon diangkat dari kisah nyata perjuangan owner bakery ternama (drama Bread, Love, and Dreams). Sepatah dua patah kalimat yang ada dia adegannya malah Saya ingat-ingat sebagai referensi saat memasak. Berasa kursus masak lewat drama.

Tidak aneh kalau saat masih mengikuti alur drama Bread, Love, and Dreams (BLAD), saat itu juga mulai rajin mencoba membuat adonan donat atau roti goreng. Soalnya melihat Kim Tak Gu dan koki lainnya mengolah adonan roti, kelihatan sangat menyenangkan (ternyata berat juga ya adonan roti itu). Apalagi saat melihat hasilnya cukup bagus dan menggoda selera. Rasanya tiap menonton BLAD jadi ingin makan roti terus. Meski pemainnya bukan seorang koki beneran, tapi adegan demi adegan dilakukan secara totalitas, nyaris kita percaya kalau mereka benar-benar seorang koki bukan sekedar aktor dan aktris semata.

Walaupun tidak semua dari hasil eksperimen Saya berhasil (ada yang keras, kebanyakan ragi, kebanyakan mentega, dll) tetapi selalu ada hal-hal baru yang dipelajari. Cuma ya itu tadi, belum bisa konsisten. Sekali hasilnya bagus dan empuk, eh ketika mencoba buat lagi malah aneh. Kadang membuat dua kali lebih banyak dari takaran resep awal, malah kacau. Dari percobaan berkali-kali itu, hanya satu yang pernah diabadikan dengan kamera HP, karena yang satu itu dapat disebut sebagai inovasi terbaru (menurut Saya sendiri sih). Berikut penampakan dari ROJO Isi Cokelat. Asal sih menamakannya, ROJO itu singkatan dari Roti Ijo :).

 ROJO ISI COKELAT *_^

read more »

Senin, 24 Desember 2012

Hello Kitty Pancake With Chocolate Meises

Salam blogger, semoga liburannya menyenangkan ya. Pancake adalah salah satu jenis makanan yang di berbagai negara memiliki versinya sendiri. Bahkan di Indonesia, beberapa jenis kue, meski memiliki cita rasa, warna, tekstur, dan penyajian yang berbeda, pada dasarnya mirip yaitu masih berupa penjelmaan dari versi pancake asli (tapi saya sendiri belum tahu pasti, pancake asal muasalnya dari mana dan jenis yang mana, yang benar-benar dikatakan sebagai pancake original).

Pan dalam bahasa Inggris artinya wajan, sedangkan Cake artinya kue. Maksudnya (kurang lebih menurut pemahaman saya) sejenis kue yang dimasak dengan atau tanpa minyak di atas sebuah wajan. Nah, berdasarkan pengamatan dan uji coba rasa beberapa jenis kue yang termasuk saudara-saudaranya si pancake atau panekuk ini, di antaranya yaitu: serabi, dadar gulung, crepe (ini sih versi moderen), dan lain-lain.

Sebenarnya pertama kali membuat pancake sudah lama banget, tepatnya setelah beberapa kali melihat liputan kuliner di TV tentang pancake yang lembut, empuk, dan kelihatannya sangat enak. Namun berhubung harga yang lumayan mahal dan jauhnya lokasi cafe yang direkomendasikan, maka nekatlah saya melakukan beberapa kali eksperimen, dengan resep yang berhasil didapat dari internet. Hasilnya, waktu pertama kali buat aromanya lebih mirip apem, mungkin kebanyakan baking powder-nya, dan bantet. Berkali-kali mencoba, sempat berhasil empuk tapi tidak bertahan lama. Bantet lagi dan lagi. Sampai akhirnya sempat menyerah dan merasa tidak bakat memasak si "kue wajan" itu.

 Still The Bantet Pancake (dengan stroberi + es krim sebagai penawar kekecewaan).

Nyaris ada satu tahun sejak masa menyerah, tiba-tiba saya menemukan blog yang memaparkan resep pancake empuk, yang empunya blog ternyata juga sempat mengalami kegagalan-kegagalan saat membuat pancake sebelumnya. Cerita klasik, yaitu bantet. Namun di postingannya, beliau mengakui akhirnya bisa membuat pancake empuk. Tapi karena ketersediaan bahan atau pun memang pada dasarnya memasak itu tidak seperti hitungan pasti matematika, tetap saja saya perlu melakukan modifikasi dan improvisasi (Waduh, mulai ngaco bahasanya.) dari resep aslinya. Bagi yang ingin melihat resep aslinya silahkan mampir ke http://vidyaipied.blogspot.com. Thank you sista Vidya yang sudah berbagi resep.

Sejak pertama kali menemukan resepnya sista Vidya, sudah sekitar 4 atau 5 kali saya mencoba membuat pancake, dan hasilnya empuk. Malahan pernah suatu kali karena membuatnya banyak, sampai akhirnya seharian belum habis juga itu kue. Tapi teksturnya tetap empuk, dan untuk mengubah sedikit cita rasanya, saya membuat kinca (kuah gula dan santan/susu yang biasanya untuk serabi). Rasanya jadi lebih enak (hehe narsis bin promosi).

Untuk resep yang kali ini saya posting, spesial pancake-nya dimasak di wajan mini berbentuk Hello Kitty. Ya, memang tidak terlalu jelas sih wajah si "kucing terkenal sedunia" ini, mungkin karena ukiran di wajannya yang kurang tebal (maklum belinya yang murah hehe). Tapi tetap lebih spesial daripada yang sebelumnya, apalagi yang ini juga ditambahkan meises coklat di dalam adonannya. Terinspirasi dari kue cubit yang dijual abang-abang di sekitar SD. Ini dia Hello Kitty Pancake With Chocolate Meises.


Bahan kering:
1 cangkir (muncung) tepung terigu serbaguna
2 sdm gula pasir (sesuai selera)
1 1/2 sdt baking powder
seujung sdt garam
meises coklat atau bisa diganti kismis/kurma

Bahan basah (kocok dengan whisk atau pengocok telur):
3/4 cangkir susu cair
1 btr telur ayam
2 sdm minyak kelapa sawit/minyak goreng biasa

Cara membuat:
1. Aduk rata semua bahan kering (kecuali meises) di dalam mangkuk yang terpisah dari bahan basah.
2. Kocok telur, susu, dan minyak, sampai semuanya bercampur menjadi satu dan warnanya lebih pucat.
3. Masukkan bahan kering ke dalam mangkuk berisi adonan bahan basah, aduk sampai tercampur rata. Jangan terlalu lama diaduk, cukup sampai semuanya tercampur rata saja.
4. Masukkan meises cokelat atau buah kering sesuai selera, tidak digunakan juga tidak apa-apa.
5. Panaskan wajan datar dengan api kecil, dan dioles dengan sedikit minyak (cukup sekali saja mengoleskan minyak karena adonan pancake sudah mengandung minyak).
6. Tuang adonan di atas wajan, diamkan beberapa saat sampai permukaan adonan muncul lubang-lubang kecil nyaris merata di semua bagian. Setelah lubang-lubang kecil itu merata, segera balik dan biarkan hanya beberapa detik, kemudian angkat pancake. Lakukan sampai adonan habis. Resep ini bisa menghasilkan 7 - 8 buah pancake.
7. Sajikan dengan topping sesuai selera, seperti es krim, madu, sirup maple, saus cokelat, buah, dan lain-lain.


Note:
Sebelumnya selain membuat versi original pancake, saya juga pernah mengaplikasikan resep ini menjadi pancake pandan, cuma karena ada penambahan pewarna makanan jadi takaran gulanya harus ditambah.
Sekedar info, memasak memang kadang tidak semudah yang terlihat. Apalagi karena memasak bukan seperti hitungan pasti matematika. Saya pernah mencoba membuat pancake dua kali lipat dari resep asli, dengan mengkalikan dua setiap takaran bahan-bahannya. Tapi hasilnya kurang memuaskan, jadi harus lebih mengutamakan feeling.
*sdm = sendok makan
*sdt = sendok teh
read more »