Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2013

Pentingya Setetes Air Bersih



Air identik dengan masih adanya kehidupan yang berlangsung di suatu tempat. Manusia, binatang, dan tumbuhan, semua makhluk hidup memerlukan air walaupun dengan tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Terutama manusia sebagai makhluk yang paling mendominasi segala hal yang ada di muka bumi. Tentu saja karena manusia diberikan kelebihan berupa akal, sehingga dapat berusaha berpikir dan bertindak untuk tetap menjaga kelestarian alam dan ketersediaan air bersih untuk berbagai keperluan.

Akhir-akhir ini masalah yang menjadi sorotan utama di negara kita adalah banjir di Jakarta dan beberapa daerah di propinsi lainnya. Semakin berkembangnya kemajuan informasi, membuat masalah ini tidak hanya menjadi sorotan penduduk Indonesia, tapi juga dari negara lain. Apalagi status Jakarta sebagai ibu kota negara dan pusat pemerintahan, yang memunculkan isu untuk memindahkan ibu kota. Masalah isu tersebut sejenak kita kesampingkan terlebih dahulu. Karena ada hal yang lebih penting yaitu tentang ketersediaan air bersih, kesehatan dan produktivitas masyarakat.

Walaupun bumi ini sebagian besar terdiri dari air, tetapi yang banyak adalah air laut (air asin). Bukan air tawar, air permukaan, air tanah, mata air pegunungan yang layak untuk dikonsumsi dan berbagai keperluan terkait Mandi Cuci Kakus (MCK). Banjir yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan alam sudah mulai rusak, dan beberapa sebabnya juga karena ulah kita para manusia. Tidak bermaksud menyalahkan siapa pun, hanya ingin mengajak melihat fakta yang ada. Daerah pegunungan dan dataran tinggi yang normalnya banyak tumbuh pepohonan untuk menyerap air permukaan di akarnya, semakin berkurang lahannya. Banyak yang menjadikannya lahan bisnis di berbagai bidang, penebangan pohon secara besar-besaran, diubahnya tanah perkebunan menjadi villa atau tempat wisata yang dianggap penting untuk sektor pariwisata. Di daerah perkotaan juga demikian, nyaris tidak ada lagi daerah resapan air, setiap tahun selalu ada gedung tinggi yang baru dibangun. Daya tarik rezeki melimpah (katanya) di kota membuat banyak orang rela berbondong-bondong datang ke kota meski harus tinggal di lokasi ilegal, misal Daerah Aliran Sungai (DAS).

 Katanya banjir besar seperti ini pernah dialami beberapa tahun silam. Kalau begitu bukankah dampak yang ditimbulkan oleh banjir sudah pernah dirasakan sebelumnya. Tetapi mengapa masih saja ada pembangunan villa atau gedung di tanah rawan longsor masih diizinkan, beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta dengan cepatnya terus bertambah dengan alasan memenuhi kebutuhan pasar. Stop! Tolong hentikan itu semua, dan sebaiknya kita memfokuskan pada upaya untuk pencegahan banjir, melakukan penanaman pohon yang lebih banyak, dan menghentikan sejenak pembangunan gedung-gedung yang dapat mempengaruhi kerusakan alam. Setelah itu barulah menindak tegas terhadap kebiasaan membuang sampah sembarangan, yang sepertinya sudah mendarah daging di masyarakat.

Kekurangan air bersih dapat menimbulkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Tidak akan produktif dan bisa maju jika manusianya tidak memiliki kondisi kesehatan yang baik. Berbagai penyakit dapat muncul dari masalah ketersediaan air bersih. Meski saat bencana banyak yang memberikan sumbangan berupa air mineral kemasan, tetapi penulis tidak yakin kecukupan air putih mereka terpenuhi setiap harinya. Kalaupun mencukupi, kondisi lingkungan yang kurang bersih, tetap memungkinkan tercemarnya air yang akan dikonsumsi.

Orang dewasa dalam keadaan normal (tidak sakit, suhu lingkungan normal, bukan ibu hamil dan menyusui, serta melakukan aktivitas tidak terlalu berat) minimal membutuhkan sekitar 2 liter (8 gelas @ 250 ml) air putih untuk diminum setiap harinya. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi kondisi kekurangan cairan (dehidrasi). Untuk mengetahui apakah diri kita kekurangan cairan atau tidak, dapat dilihat dari warna/kejernihan urine. Ada tabel PURI (Periksa Urine Sendiri), dengan  delapan warna yang dapat dibandingkan dengan warna urine. Untuk kategori warna di kelompok 1, 2, dan 3, menunjukkan bahwa kita terhidrasi dengan baik (sudah cukup mengkonsumsi air putih). Di kategori dengan nomor 4, 5, dan 6, berarti bahwa kita kurang terhidrasi dengan baik (membutuhkan sedikit tambahan air putih lebih banyak dari kebiasaan). Sedangkan dengan nomor 7 dan 8, menunjukkan bahwa kita sudah mengalami kekurangan cairan, yang mengharuskan menambah sangat banyak jumlah air putih yang diminum dalam sehari.


Tabel PURI

Maka untuk yang sedang tidak mengalami kesusahan mendapatkan air bersih, manfaat kesempatan sebaik-baiknya tanpa harus memboroskannya penggunaan air bersih. Gunakan seperlunya tanpa mengesampingkan kebutuhan yang harus kita penuhi. Dimulai dari kebiasaan kecil tapi rutin, minum air putih sebelum benar-benar merasa haus. Terkadang kesibukan membuat kita malas beranjak untuk sekedar minum air putih. Yuk, rajin minum air putih supaya tidak mengalami dehidrasi, tubuh semakin sehat, dan produktivitas meningkat. Eh, lupa belum minum air putih sejak satu jam lalu. Mari minum air putih minimal 8 gelas sehari.


Nila Amalia Husna
23 Januari 2013

*Referensi: Kurniasih, dkk. 2010. Sehat & Bugar Berkat Gizi Seimbang. Kompas Gramedia: Jakarta.
read more »

Kamis, 17 Januari 2013

Mereka Yang Tetap Ceria Kala Banjir

Tuhan, pagi ini kumohon semoga banjir yang sedang melanda sebagian besar wilayah Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, agar Kausurutkan airnya. Berikan kekuatan fisik dan rohani bagi para korban, dan jangan padamkan semangat hidup mereka. Aamiin.

Satu hal yang menjadi perhatianku dari tayangan berita TV tentang banjir, adalah anak-anak di lingkungan yang terkena banjir. Apalagi jika banjirnya masih di bawah 1 meter. Lihatlah wajah anak-anak, khususnya yang masih belajar di SD. Tampak rona wajah ceria, meski tempat tinggal mereka terendam banjir. Tetap ceria berenang di kolam air berwarna cokelat, tanpa memikirkan kebersihan airnya. Tanpa rasa takut nantinya gatal-gatal di sekujur badan, dan tidak khawatir terserang batuk pilek. Begitu juga tidak sempat memikirkan apakah masih ada pakaian kering dan bersih untuk dipakai nanti malam.

Jangan salahkan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya, yang tidak melarang mereka main air di kolam "dadakan" itu. Mereka hanya anak-anak, yang sejatinya memang masih anak-anak. Jika belajar dalam keadaan seperti itu sangat tidak memungkinkan, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain bermain? Air dan anak-anak merupakan perpaduan menarik untuk disebut sebagai sebuah permainan a.k.a bermain air. Mereka hanya berusaha tetap ceria di tengah keadaan yang mungkin bisa dikatakan musibah atau cobaan. Apalagi bagi mereka yang belum pernah merasakan berenang di kolam renang umum yang membutuhkan biaya yang tidak terjangkau bagi keluarga mereka. Maka banjir seolah menjadi hiburan tersendiri, wahana rekreasi gratis tanpa perlu menguras kantong orang tua mereka.

Bersyukur tidak pernah mengalami banjir, hanya bagian dalam rumah yang sempat banjir karena tetesan air hujan dari atap rumah, alias kebocoran. Tapi, waktu itu karena masih kecil, rasanya tidak pernah mengeluh walau saat hujan deras harus bergotong royong menyiapkan ember dan panci di lokasi kebocoran, yang memang tersebar di banyak tempat. Ketika masih anak-anak, kurasakan hal itu seperti sebuah permainan. Kesenangan dan semangat luar biasa saat menemukan lokasi bocor, dan dengan sigap meletakkan ember, baskom, bahkan panci. Kemudian genangan air di lantai yang belum sempat di lap, membuatku membayangkan berada di sebuah kolam renang super dangkal (karena kurang dari 1 cm ketinggian airnya). Sesekali saat hujan turun, dan Mama tidak berada di rumah (Aku dan adik ditinggal bersama si Mbak asisten rumah tangga) dengan gembira bermain hujan-hujanan di depan rumah. Kadang sedikit nakal berharap banjir supaya bisa seperti teman-teman (anak seusia kami yang terlihat di TV) yang bermain di tengah-tengah banjir. Memang begitulah anak-anak, dengan kepolosan dan keceriaannya selalu berbahagia dalam keadaan apa pun.

Saat duduk di bangku SD, Aku berpikir ingin cepat menjadi orang dewasa yang tidak perlu mengerjakan PR setiap hari. Tetapi saat ini, jika waktu bisa kembali ke masa itu, sungguh akan kuubah pernyataanku. "Jika bisa terjadi, sungguh kuingin hanya masa anak-anak yang kualami dalam hidup. Karena menjadi dewasa itu rumit, walaupun anak-anak selalu mengira orang dewasa itu hebat bisa melakukan banyak hal. Tetap saja masa anak-anak adalah masa terindah dalam hidup, meski tidak selalu bergelimang dengan materi." Dalam situasi apa pun, anak-anak selalu bisa menemukan keceriaan dengan caranya yang unik. Adik-adikku yang sedang berada di kawasan banjir, baik-baiklah kalian di sana, semoga tetap sehat dan bertubuh kuat, supaya berbagai jenis penyakit tidak menjangkiti kalian. Maaf kuhanya bisa membantu dengan seuntai doa dari tempatku yang agak jauh dari kalian. Surut, surut, surut ya air please :).
read more »