Saya bukan sudah buktikan sendiri sekeluarga sejak pemakaian Face Mist di tahun 2018. Makanya kalau stok mau habis, buru-buru order lagi. Pun jika jualan Face Mist ini belum laris saya santai. Karena mikirnya kelak ya pasti kepakai sendiri kok😁
read more »
Tampilkan postingan dengan label jerawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jerawat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 Juni 2020
Rabu, 24 Juli 2013
Antara Senewen, atau Hanya Perlu Kacamata Baru?
Akhir-akhir ini merasa jadi orang yang super duper eror. Kadang jadi cepat lupa, sering kesandung, kepentok, keserimpet, atau merasa sempoyongan, yang akhirnya sukses menghasilkan memar di beberapa bagian tubuh.
Kalau berjalan jadi kurang seimbang atau sering nabrak pinggiran meja dan kaki kursi sih, bisa jadi karena sudah waktunya ganti kacamata. Bahkan kemarin pun sudah nge-bolang sendirian survei ke optik, tapi belum deal pesan, karena masih pikir-pikir siapa tahu ada tempat lain yang lebih terjangkau harganya dengan kualitas sama baiknya (sebagai cewek yang bukan ahli belanja, belajar nawar ceritanya). Sementara ini memang kacamata yang lama masih nyaman dipakai (minimal masih bisa dipakai melihat dengan jelas), walaupun sebenarnya ukuran minus serta silindernya sudah bertambah.
Bukan maksud menunda-nunda, tapi karena kali ini ada yang beda dalam hal proses pergantian kacamata dari yang sebelum-sebelumnya. Yaitu untuk suatu kepentingan, kelak saya memerlukan lensa kontak (sebenarnya diharuskan belum murni keinginan pribadi). Padahal dari dulu sama sekali tidak pernah memakainya, dengan alasan saya bukan cewek yang teliti untuk memakai dan merawat benda mungil untuk dipasang tepat di iris mata itu.
Malas ribet-ribet juga sih (padahal yang sudah biasa ber-lensa kontak-ria pasti tidak menganggap itu hal yang ribet), karena membayangkan saat pemakaian dan pelepasannya yang menurutku agak horor. Suatu benda asing tiba-tiba dimasukkan ke dalam mata, bagian tubuh yang terdiri dari jaringan lunak. Pakai kacamata saja masih suka dipakai saat ketiduran, apalagi lensa kontak? Makanya pesan kacamata nanti saja deh sekalian pesan lensa kontak (jarang nemuin lensa kontak yang ready stock di optik, untuk ukuran minus yang cukup tinggi) kalau hatinya sudah mantap nekat mencoba soft lens. *modus biar dapat harga diskon dengan alasan tidak sekedar pesan kacamata to'
Malas ribet-ribet juga sih (padahal yang sudah biasa ber-lensa kontak-ria pasti tidak menganggap itu hal yang ribet), karena membayangkan saat pemakaian dan pelepasannya yang menurutku agak horor. Suatu benda asing tiba-tiba dimasukkan ke dalam mata, bagian tubuh yang terdiri dari jaringan lunak. Pakai kacamata saja masih suka dipakai saat ketiduran, apalagi lensa kontak? Makanya pesan kacamata nanti saja deh sekalian pesan lensa kontak (jarang nemuin lensa kontak yang ready stock di optik, untuk ukuran minus yang cukup tinggi) kalau hatinya sudah mantap nekat mencoba soft lens. *modus biar dapat harga diskon dengan alasan tidak sekedar pesan kacamata to'
Tapi ke-senewen-an lainnya juga tidak berhenti di masalah memar-memar yang membuat kulit jadi lebih berwarna (masih aja nge-jayus). Masa' sih sering lupa, ada hubungannya sama penambahan tingkat keparahan rabun mata? Baru meletakkan kacamata di atas kasur, tiba-tiba semenit dua menit kemudian kelimpungan mencari kacamata, apalagi matanya sudah rabun, otomatis mencarinya sambil menunduk-nunduk, memicingkan mata dan tangan terjulur kalau-kalau si kacamata tak terlihat tapi bisa teraba.
Kalau lah tidak benar-benar melupakan suatu hal, sesekali ada saja keraguan setelah beraktivitas. Misal, setelah membantu Mama di dapur menjelang waktu berbuka puasa, di kamar baru kepikiran, tadi kompor sudah dimatikan belum ya? Hasil gorengannya sudah dipindah ke piring belum? Disuruh apa lagi sih tadi, kayak ada yang kelupaan? Padahal ketika di cek lagi, semua sudah rapi alias tidak ada masalah yang muncul karena kecerobohan saya.
Satu saja yang nyaris tidak terlewatkan, berubah jadi banci masker anti jerawat. Akhirnya menyerah juga untuk mau mencoba pakai 'topeng' malam-malam demi tidak membuat orang-orang fokus sama jerawat saya belakangan ini. Kalau tiap hari diingetin mulu tentang jerawat, bisa-bisa makin stres, dan si jerawat bukannya ngilang malah makin banyak nantinya. *bersyukur matanya rabun, jadi enggak perlu ketakutan melihat (dengan jelas) muka sendiri saat membubuhkan dan membilas si 'topeng' biar kata malam-malam sendiri di kamar mandi.
Dulu pernah ke dokter, dan terbukti kurang cocok sama paket krim dan sabun yang harganya cukup menguras kantong. Ganti dokter lain? Enggak berani ambil risiko dulu, karena masalah kulit wajah sangat sensitif. Cocok-cocok-an, pengobatan yang mahal tak selalu efektif mengatasi masalah, dan yang murah juga belum tentu dikatakan tidak berkhasiat. Untuk beberapa minggu lalu lumayan lah pakai masker irisan tomat jerawatnya lebih cepat kering (sekarang lebih pilih sesekali makan tomat rebus, biar sari buah dan vitaminnya diserap tubuh dari dalam) dan baru seminggu ini hampir tiap malam (kalau ingat) nyoba masker anti jerawat S*r* *Y*, tampaknya cukup membantu mengeringkan jerawat serta menyamarkan bekasnya. Ada yang lebih bagus dari itu? Yang lebih mahal banyak... #Ups,Ngiklan deh.
*Kalau puyeng bacanya karena kesalahan ketik di sana-sini, harap maklum. Penulisnya sedang senewen tingkat tinggi dan belum ganti kacamata.
Satu saja yang nyaris tidak terlewatkan, berubah jadi banci masker anti jerawat. Akhirnya menyerah juga untuk mau mencoba pakai 'topeng' malam-malam demi tidak membuat orang-orang fokus sama jerawat saya belakangan ini. Kalau tiap hari diingetin mulu tentang jerawat, bisa-bisa makin stres, dan si jerawat bukannya ngilang malah makin banyak nantinya. *bersyukur matanya rabun, jadi enggak perlu ketakutan melihat (dengan jelas) muka sendiri saat membubuhkan dan membilas si 'topeng' biar kata malam-malam sendiri di kamar mandi.
Dulu pernah ke dokter, dan terbukti kurang cocok sama paket krim dan sabun yang harganya cukup menguras kantong. Ganti dokter lain? Enggak berani ambil risiko dulu, karena masalah kulit wajah sangat sensitif. Cocok-cocok-an, pengobatan yang mahal tak selalu efektif mengatasi masalah, dan yang murah juga belum tentu dikatakan tidak berkhasiat. Untuk beberapa minggu lalu lumayan lah pakai masker irisan tomat jerawatnya lebih cepat kering (sekarang lebih pilih sesekali makan tomat rebus, biar sari buah dan vitaminnya diserap tubuh dari dalam) dan baru seminggu ini hampir tiap malam (kalau ingat) nyoba masker anti jerawat S*r* *Y*, tampaknya cukup membantu mengeringkan jerawat serta menyamarkan bekasnya. Ada yang lebih bagus dari itu? Yang lebih mahal banyak... #Ups,Ngiklan deh.
*Kalau puyeng bacanya karena kesalahan ketik di sana-sini, harap maklum. Penulisnya sedang senewen tingkat tinggi dan belum ganti kacamata.
Kamis, 04 Juli 2013
Mendadak Cerewet
Kalau ada kontes atau penghargaan rekor dunia untuk perempuan di atas usia 20 tahun yang paling jarang menjejakkan kaki di salon, maka saya dengan Pe-De akan mendaftarkan diri sebagai nominator. Seumur hidup baru merasakan facial kurang dari 7 kali (enggak dihitung tapi kayaknya jumlahnya di bawah angka tersebut), creambath satu kali, dan selebihnya cuma gunting rambut yang seringnya terpaksa karena larangan berambut panjang sejak kecil.
Nah, kemarin (tepatnya setelah sebelumnya beberapa kali diingatkan Mama buat facial tapi selalu berkilah nanti dan nanti) akhirnya pergi juga buat facial dan gunting rambut. Di dua tempat berbeda, memang awalnya hanya izin untuk facial (pertama kalinya tidak ditungguin ^_^) di sebuah klinik khusus kecantikan yang berlokasi di Karang Tengah, tapi setelah dipikir-pikir jerawat ini bisa juga disebabkan oleh minyak dari rambut, membuat saya memutuskan segera meluncur ke salon khusus muslimah di kawasan Ciputat, untuk mengurangi jumlah dan panjang rambut kepala saya.
Dari dua tempat tersebut saya menarik kesimpulan dan pelajaran baru mengenai tempat-tempat yang sering dikunjugi perempuan seusia saya pada umumnya. Yaitu, walaupun belum kenal sebelumnya, meski baru pertama kali bertemu dengan pegawai salon yang mem-permak salah satu atau beberapa bagian tubuh kita, mau tidak mau kita seolah menjadi teman akrab. Minimal sok akrab atau SKSD.
Bukan apa-apa, di sela-sela melakukan tugasnya, 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut" saya selalu bertanya duluan tentang hal-hal yang berhubungan dengan facial/gunting rambut, sampai melebar ke berbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan yang kami lakukan saat itu. Otomatis, demi menjaga perasaan mereka dan demi tidak kacaunya pelayanan mereka kepada kita, sebagai klien juga harus bisa mencoba menanggapinya dengan baik. Itu pun berlaku untuk manusia yang susah beradaptasi dengan orang asing, seperti saya.
Maka siang dan sore kemarin, saya merasa menjelma menjadi seorang Nila yang cerewet. Menanggapi setiap pertanyaan 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut", serta mencoba bertanya balik. Sekedar mencairkan suasana biar tidak terkesan wawancara, hanya karena obrolan yang bersifat satu arah. Tidak ada yang aneh, hanya saja mulai menyadari bahwa kadang di satu tempat dan tempat lainnya, kita bisa menjadi pribadi dengan karakteristik luar (tampak di mata orang lain) yang berbeda-beda.
Jujur saja, kalau saya pergi ke salon dengan Mama, saya tidak bisa seterbuka itu kepada orang-orang di salon. Terutama biasanya mereka fokus pada klien yang bayar hasil kerjanya kan? Maka saat bersama Mama, saya hanya dianggap sebagai anak kecil, bocah perempuan yang ngekor ibunya ke mana-mana. Dan kemarin terbukti, saat saya benar-benar melakukan proses facial dan gunting rambut tanpa ditemani siapa pun, mereka dengan ringannya mengajak saya ngobrol ngalor-ngidul, yang saya tanggapi juga dengan (pura-pura) cerewet.
Begitu juga saat saya beberapa kali berkenalan dengan teman baru di berbagai lingkungan. Sekilas dan mayoritas menyetujui saya adalah orang yang pendiam, tampak jutek, enggak asik diajak ngobrol, dan dingin (beuh, emangnya es). Tapi beberapa teman yang telah (setidaknya) akrab dan sedikit banyak sering berbagi cerita, mereka menemukan sisi lain yang belum diketahui sebelumnya. Rada banyak omong dan kadang eror juga, enggak se-serius apa yang mereka duga.
Ya, beginilah saya. Saya sendiri kadang tidak tahu termasuk orang pendiam atau kah cerewet, introvert atau ekstrovert, dan ramah atau kah jutek? Yang saya sadari adalah, saya memang memiliki kekurangan berupa rasa canggung luar biasa untuk menyapa duluan orang yang baru ditemui atau mereka yang tidak akrab. Tapi ketika orang lain sudah menyapa dan mengajak bicara meski sekedar basa-basi, maka saya pun akan menyesuaikan diri dengan mereka.
Intinya tergantung lawan bicara saya, jika mereka tipe orang yang cerewet, bukan tidak mungkin saya terbawa banyak bercerita pada mereka. Sebaliknya jika yang saya temui cenderung pasif dan seolah tidak nyaman bicara dengan saya, maka saya pun segan untuk memulai pembicaraan. Bahkan kadang jika di lain kesempatan tanpa sengaja bertemu lagi dengannya (walau sudah lama tidak berjumpa), saya memilih tidak menyapanya duluan karena khawatir salah orang atau sepertinya dia tidak akan ingat lagi siapa saya.
Dan kemarin di dua tempat berbeda, saya sukses merasa jadi pribadi yang berbeda, meski tidak bisa dipungkiri saya merasakan hal positif dari kejadian tersebut. Sampai jumpa :).
Langganan:
Postingan (Atom)
