Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Juni 2020

Jangan Dulu Bilang Harus Sabar!

Jangan langsung suruh sabar! Itu adalah kalimat yang selalu saya ingat, misal ada yang curhat ke saya tentang suatu masalah.

Sebenarnya semua masalah ya benar memang kita harus sabar, syukur dan sholat (ibadah). Mereka yang akhirnya terpaksa curhat juga bukan cari solusi. Tapi ingin melegakan isi hatinya, supaya setelah itu bisa lebih plong dan berani ambil keputusan selanjutnya.

Tahan kasih solusi meski apa yang dicurhatkan hampir mirip dengan pengalaman kita. Karena meski mirip atau kasus sama sekalipun, individu yang dia hadapi di sekitarnya tentu beda sama manusia sekitar kita pas mengalami hal tersebut.

Ingat lagi diri sendiri pas sedang drop, kalimat menyuruh sabar, menyuruh bersyukur dan melihat lebih banyak orang lebih susah dari kita, itu bikin kapok kan curhat lagi sama ybs.

Ya benar memang baiknya curhat hanya kepada Allah atau kepada ahlinya. Tapi konseling ke ahli butuh biaya banyak. Belum lagi enggak mesti cocok karena biarpun ahli, namanya orang asing bagi beberapa orang termasuk saya, tidak nyaman kan cerita apapun. Apalagi sama ahlinya kita ada tekanan harus cerita clear semuanya biar enggak eman2 biaya konselingnya.

Beda jika curhat sama orang yg kita sudah dekat, mereka tidak memaksa kita mau cerita semuanya. Mereka mau mendengarkan apa yang ingin kita sampaikan. Tanpa harus mengorek kisah yang sudah ingin kita keep sendiri saja.

Biarkan ybs melepaskan emosinya, uneg-unegnya. Tanpa kita hakimi dulu. Sampaikan bahwa memang pasti berat melaluinya. Apalagi jika terbentur 'opini' orang sekitarnya yang memandang jika dia curhat adalah bentuk tidak bersyukur. Karena kondisi mental seseorang beda2, jangan dihakimi baperan kalau kita tidak tahu pasti apa yang dialami.

Jangan sampai karena penghakiman kita, mereka jadi tertutup. Pura-pura kuat dan bahagia padahal rapuh. Mending jika pura-pura itu lambat laun jadi kebiasaan kuat bahagia beneran. Kalau jadi 'bom' yang siap meledak sewaktu-waktu gimana?

Kemarin-kemarin lihat berita lagi ibu bunuh anak. Entah apa sebabnya, tapi jelas bukan hanya karena kesalahan anak di saat itu saja, lantas langsung dibunuh. Tapi bisa jadi akumulasi emosi ibu akan semua masalah hidupnya, yang tak bisa dibagi. Yang mungkin sudah usaha cerita tapi dihakimi kurang syukur, kurang sabar, kurang iman dll. Padahal gangguan mental pun ada yang dialami mereka yang tampak selalu dekat dengan aktivitas keagamaan bukan?

Lebih empati dan tidak mudah menghakimi ya. Kita tidak tahu seberapa kuat usaha seseorang buat selalu berpikir positif dan semangat di segala kondisi hidupnya. Semoga pandemi tetap membuat kita bisa bertahan sehat jiwa raga, sampai semua ini berlalu🙏🥰

read more »

Rabu, 19 November 2014

Two Weeks to the Due Date

Dua hari terakhir sempat lebih cemas plus was-was di minggu ke-38 ini. Selain sesekali merasakan kontraksi yang ternyata masih kontraksi palsu, Mama juga menyatakan mungkin sekitar sehari atau dua hari kemarin itu bisa saja sudah waktunya melahirkan. Beliau menyatakan hal demikian berdasarkan penglihatannya mengenai penampakan perut saya.

Tapi, sekarang sedikit lebih tenang setelah tadi siang melakukan pemeriksaan ke dokter. Dokter menyatakan bahwa mungkin masih sekitar dua minggu lagi, sesuai Hari Perkiraan Lahir (HPL)-nya yaitu tanggal dua Desember. Namun, untuk pemeriksaan berikutnya sebaiknya dilakukan seminggu dari hari ini, untuk lebih memastikannya. Yang jelas kemungkinan besar belum waktunya persalinan dalam beberapa hari ini, karena menurut dokter posisi kepala si calon bayi yang belum benar-benar turun. Hehe ketahuan deh masih malas alias kurang gerak. Dokter menyarankan lebih sering jalan kaki setiap pagi dan sore, serta berlatih jongkok-berdiri. Selama ini sih (setidaknya dua minggu terakhir) rutin ikut kelas senam hamil, tapi malas mempraktekkannya sendirian di rumah. Kurang mood-nya kalau sendirian :) #Alesan

Alhamdulillah kondisi calon bayi sehat sejauh ini, dengan berat 2,604 gram kemudian posisi plasenta yang bagus, juga air ketuban yang cukup serta bening. Dokter juga menyarankan untuk tetap mengonsumsi banyak air putih, kalau ini sih enggak perlu disuruh memang bawaannya haus melulu, makanya minum terus. Meski efeknya lebih sering buang air kecil juga enggak apa-apa deh, daripada kondisinya nge-drop kan? Bukan apa-apa, sepertinya memang berasa pusing kalau kurang minum, sama efeknya seperti saat merasa pusing dan mual kalau menahan lapar. Sudah dulu ya, selamat malam dan selamat istirahat semuanya :).
read more »

Kamis, 13 November 2014

9 Bulan: Menghitung Hari

Memasuki bulan kesembilan (kalau hari ini sudah lebih, tepatnya sekitar 9 bulan lebih satu minggu atau 37 minggu). Masa dimana kata bidan yang mengajari senam hamil, adalah saat sebenarnya janin sudah siap untuk dilahirkan. Namun, maksimal 40 - 42 minggu pun masih ada janin yang 'masih betah' tinggal di tempat ternyaman, yaitu rahim bunda.

Beberapa waktu lalu juga kakak ipar saya yang usia kandungannya hampir sama, bahkan sudah melahirkan putra keempatnya. Semakin mengingatkan bahwa kurang dari satu bulan lagi saya juga mengalaminya. Kalau jadwal kunjungan ke dokter lagi (seandainya belum waktunya melahirkan) maka minggu depan dokter menyarankan saya untuk periksa dalam. Pemeriksaan dalam melalui vagina, menurut beliau bertujuan untuk mengetahui seberapa luas lebar panggul dan mungkin juga memeriksa apakah kepala janin sudah benar-benar di posisi yang seharusnya, jika ingin melalui persalinan normal.

Sejak usia kehamilan 32 minggu, saya memutuskan pindah dokter, meskipun sebenarnya dengan dokter yang pertama bisa dikatakan sudah cocok. Hal ini dikarenakan beberapa pertimbangan, maka saya memilih Rumah Sakit lain sebagai tempat melahirkan nanti, maka sebagai perkenalan dan memasukkan data rekam medis kehamilan, saya pun memilih salah seorang dokter, yang banyak direkomendasikan juga oleh para Bumil sesama peserta senam hamil. Alhamdulillah, sepertinya tipe-tipe dokter kandungan yang sebelum dan yang kali ini saya pilih, hampir sama. Yaitu ramah, sabar, santai, dan memotivasi untuk bisa melakukan persalinan normal, satu lagi tidak terlalu loyal memberi resep vitamin. Secukupnya saja, sesuai kondisi kesehatan pasiennya.

Minggu lalu saat di-USG, dokter mengatakan bahwa berat janinnya sudah mencapai 2,5 kg dengan jumlah air ketuban cukup serta bening, dan plasenta yang berada di tempat yang baik. Hanya saja meski posisi kepala janin sudah di bawah, kepalanya masih 'men-dangak' belum menunduk, sebagai posisi yang baik saat persalinan nanti. Jadi harus lebih banyak jalan kaki, senam hamil, dan aktivitas lainnya.

Entah dua minggu lagi, minggu depan, lusa, atau bahkan hari ini setelah saya menulis sebuah artikel di blog pribadi ini, si janin bisa kapan saja minta dilahirkan (kalau kontraksi palsunya memang sudah beberapa kali merasakan, tinggal tunggu kontraksi sebenarnya saja). Dan gelarnya pun berganti dari janin menjadi seorang bayi, dan dia akan menjadi anak dari seorang bunda bernama Nila Amalia Husna, juga junior dari seorang Ayah/Abah/Bapak/Abi atau apapun nanti sebutannya dari seorang Moh. Abdul Hakim.

Nak, kapan pun kamu lahir nanti, kita sama-sama berjuang ya. See you soon dear :).
read more »

Kamis, 09 Oktober 2014

Kala BUMIL Galau :(.

32 minggu alias delapan bulan sudah usia kandungan saya. Beberapa malam belakangan ini mimpi unik nan aneh. Diawali mimpi menyuapi dua anak laki-laki balita yang tidak tahu pasti atau  mengenal wajah mereka, kemudian di lain hari bermimpi menggendong seorang bayi perempuan tapi anehnya sudah bisa bicara meski dari postur tubuhnya seharusnya belum mampu bicara dengan lancar. Terakhir mimpi berbicara dengan orang tua yang menyarankan untuk melahirkan di RS 'U' dengan segala kelebihannya, tapi saya seperti ingin menyampaikan hal yang berlawanan dengan mengatakan di RS lain pun sama saja seperti itu.

Untuk mimpi yang terakhir mungkin memang diakibatkan kegalauan yang saya alami antara memilih RS 'U', RS 'H', atau memilih Bidan dekat rumah saat persalinan nanti. Rasa galau itu juga masih dibarengi juga dengan sedikit kekhawatiran dan dag dig dug, mengenai kapan saya akan benar-benar mengalami kontraksi (bukan kontraksi palsu) sebagai awal proses persalinan. Bukan kenapa-kenapa, tapi hanya takut ketika gejala itu muncul, saya tidak benar-benar menyadarinya, dan khawatir calon bayinya mengalami hal yang tidak diinginkan. Ya, wajar kan? Orang yang sudah hamil dan melahirkan lebih dari satu kali pun belum tentu prosesnya sama semua antara kehamilan pertama dan seterusnya. Apalagi ini untuk pertama kalinya saya mengalaminya? #Bunda-bunda yang lain begitu juga kan? :(.

Bismillah, mohon doanya semoga saya bisa mengendalikan perasaan dan segala pikiran negatif, serta bisa tetap santai dan menikmati bulan terakhir ini dengan baik. Semoga semuanya berjalan lancar sampai waktunya tiba. Selamat malam, salam sehat untuk semuanya :).

USG 30 Minggu, 1.515 gram.

read more »

Kamis, 04 September 2014

Late Post: Our First Anniversary

Hampir dua minggu terlambat dari tanggal 24 Agustus lalu. Tepat setahun sudah saya dan suami menjalani kehidupan rumah tangga, yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayangkan di benak kami masing-masing akan menjalani semua ini. Bukan hal mudah, tapi juga bukan sesuatu hal yang harus dihindari, karena Tuhan telah sangat baik memberikan segala nikmatnya, dalam masa-masa suka maupun duka.

Salah satu hal yang mungkin baru kami pelajari sedikit dari sebuah rumah tangga adalah, tidak ada bahagia dan duka yang abadi dalam biduk rumah tangga. Sama seperti hidup yang tidak mungkin luput dari masalah, rumah tangga juga tidak selalu mulus, selalu penuh canda tawa bahagia. Sesekali bingung, resah, cemas, atau bersedih saat menghadapi situasi sulit juga menjadi proses pembelajaran berharga untuk menjadi lebih dewasa. Mungkin pembelajaran menjadi dewasa dalam berbagai situasi, baru benar-benar terasa saat sudah berstatus istri/suami.

Jangankan pasangan yang menikah tanpa proses pacaran atau PeDeKaTe terikat dalam waktu lama, mereka yang mengalami pernikahan dengan status pacar atau tunangan bertahun-tahun pun bisa mengalami banyak hal mengejutkan di awal. Kami pun mengalami proses adaptasi yang agak rumit. Bukan hanya sekedar adaptasi antar kami berdua, tapi juga dengan keluarga besar kedua belah pihak (setidaknya hanya dalam pikiran dan ketakutan dalam hati kami masing-masing untuk berbaur dengan para anggota keluarga lainnya). Waktu itu mungkin karena masih canggung dan belum bisa saling terbuka, ketakutan seperti itu hanya dipendam. Alhasil seperti ada masalah mengganjal yang sempat membuat salah paham.

Namun, itu semua Alhamdulillah sudah terlewati dan kini kami sudah bisa saling berusaha terbuka atas segala hal, serta mencoba untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Bukan kesempurnaan yang dicari, atau kesuksesan instan dalam segala aspek kehidupan yang menjadi prioritas utama. Tetapi bagaimana sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta mau perlahan-lahan memulai semuanya dari nol.

Selain tentang masalah sebagai guru dalam sekolah kehidupan, satu hal yang kami sadari dari sebuah pernikahan, adalah Tuhan tidak pernah salah menentukan apa pun. Sosok yang tepat, waktu serta tempat yang tepat. Salah satunya mengenai calon keturunan kami, yang saat ini sudah hampir tujuh bulan ada di dalam kandungan saya. Banyak kerabat yang bahkan menikah beberapa bulan setelah kami, sudah melahirkan putra/putrinya saat ini. Sedangkan kami masih menunggu sekitar hampir tiga bulan lagi baru bertemu dengan sosok mungil itu. Mungkin ini waktu yang terbaik, saat kami sudah mulai bisa saling terbuka, dan menerima kehadiran pasangannya masing-masing (yang dulu mungkin kami anggap terlalu cepat). Mungkin Tuhan tidak ingin calon buah hati kami hadir saat orang tuanya masih menjalani hubungan seperti orang asing alias kurang akrab.

25 Minggu (19 Agt'14). Semakin aktif bergerak dan menendang dari dalam sana.
Intinya, terima kasih Tuhan atas semuanya. Juga atas anugerah calon anak kami, yang telah Engkau beri nyawa di rahimku pada satu tahun pernikahan kami. Semoga kelak kami menjadi orang tua yang baik, serta selalu menanamkan nilai-nilai dalam keluarga kecil kami. Semoga masalah apa pun kelak yang kami hadapi, bisa disikapi dengan kedewasaan, lapang dada, sabar dan syukur yang tidak pernah putus. Aamiin.
read more »

Jumat, 10 Januari 2014

Kumat Lagi (Childish-nya)

Makan, mengunyah, mengulum, atau ngemut permen sudah menjadi hal yang jarang saya lakukan. Terutama karena usia sudah dewasa dan kekuatan gigi mungkin sudah sensitif terhadap gempuran aneka pangan yang mengandung banyak kadar gula. Kalaupun sesekali mengonsumsi permen, maka seringkali pilihan jatuh pada aneka rasa permen yang jarang disukai oleh anak-anak. Misalnya rasa mint, kopi, buah asam, dan jahe.

Kali ini rasanya ingin sekali bernostalgia dengan permen lolipop atau bahasa kerennya lebih dikenal sebagai permen kojek. Permen jenis ini (dengan merek dagang tertentu) yang dijual bebas di pasaran, termasuk jarang ditemukan, terkecuali jika mencarinya di toko atau pasar yang menjual dalam kelas grosiran. Setahu saya permen lolipop yang sedang tren sekarang adalah yang warna-warni seperti pelangi, dari ukuran kecil sampai super besar. Tapi dulu pernah mencoba permen sejenis, kok rasanya aneh. Cenderung terlalu manis dan gimanaa gitu?@#$%*.

Sebenarnya permen kojek yang saat masih SD, sering saya beli saat jajan di kantin sekolah, adalah permen merah berbentuk kaki, dengan rasa seperti buah Mangga Kweni. Hayooo yang mengalami era 90-an pasti tahu kan? Tapi, kalau sudah makan permen itu kadang kok jadi sariawan ya? Entah beneran atau cuma sugesti, karena bentuk permennya yang seperti jari kaki menusuk bagian dalam mulut. Selain itu permennya juga jarang deh ditemuin di minimarket-minimarket yang menjamur di hampir setiap kelurahan itu.

Maka untuk mengobati rindu akan masa kecil, dan sedikit menambah asupan kalsium (mungkin lebih sedikit daripada kandungan gulanya), saya pilih permen lolipop Milkita. Seingat saya waktu masih SD, dan permen tersebut baru muncul di pasaran, belum ada versi lolipop-nya. Bentuk permennya lunak dan lengket kalau dikunyah. Terus karena kata iklannya, mengunyah beberapa buah permen sama dengan minum segelas susu, maka seorang Nila kecil jadi bereksperimen memasukkan 3 - 5 buah permen Milkita, ke dalam segelas air hangat. Diaduk-aduk dan ditunggu sampai permennya larut dengan air, jadilah segelas susu. *kalau dipikir-pikir sekarang, aneh banget yak???

Bagi sebagian orang, apalagi yang memiliki masalah dengan gigi berlubang, permen kunyah adalah salah satu yang menjadi pantangan. Dan asal tebak, mungkin tidak banyak peminatnya. Maka untuk tetap menarik konsumen, Milkita memproduksi permen lolipop susu, yang sepertinya hampir belum ada pesaingnya. Apalagi dengan jargon iklannya yang mengatakan bahwa satu permen lolipop sama dengan minum segelas susu, bukan tidak mungkin para orang tua yang awalnya sangat anti memberikan permen pada anak, akhirnya luluh juga. *apaaaa sihhhh????

Ya sudah intinya sisi kekanak-kanak-an saya mungkin sedang kambuh alias kumat alias sedang ingin mendominasi diri saya selama beberapa hari ini. Next time, kalau sisi childish-nya muncul lagi dalam kisah yang berbeda, akan saya ceritakan lagi di sini. Memang sih, kok kayaknya enggak ada manfaatnya ya cerita beginian? Ya, anggap saja di luar sana, ada yang sedang galau dan malu karena sudah dewasa atau tua tapi merasa ingin sekali melakukan hal-hal yang sering dilakukan semasa kecil. Jangan malu, karena konon katanya setua apapun umur seseorang, atau sedewasa apapun cara pandang seseorang, masih akan selalu ada jiwa kanak-kanak dalam diri setiap individu. So, enjoy it and be relax ^_^.
read more »

Selasa, 24 Desember 2013

Beda Pendapat Boleh Bukan?

Kemarin saya menghadiri suatu resepsi pernikahan di salah satu daerah yang termasuk dalam propinsi Jawa Tengah. Ada satu hal yang tidak saya setujui dari sesepuh yang saat itu menyampaikan khutbah atau ceramah berisi nasehat pernikahan.

Apa?

Sebut saja mungkin saya tidak memahami secara keseluruhan isi ceramah tersebut, karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa bercampur sedikit bahasa Indonesia. Tapi yang saya tidak setujui ini yakin saya pahami dengan baik, hanya mungkin susunan kalimat yang berbeda, jelas karena saya tidak merekam bagian kalimat tersebut saat diucapkan.

Kira-kira intinya adalah anjuran agar sang istri tidak melakukan hal macam-macam, seperti selingkuh layaknya yang banyak dilakukan para wanita di kota, yang berselingkuh saat suami berada di tempat yang jauh atau sedang bepergian/kerja.

Whaattttt???

Maaf ya bapak sesepuh (yang tidak saya kenal) yang terhormat. Pelaku selingkuh bukan hanya ada di kota (maksudnya kota besar), di desa terpencil sekalipun bisa terjadi selama ada kesempatan dan orangnya merpergunakan kesempatan tersebut. Lagipula kebetulan saja anda seorang pria, jadi pesan jangan selingkuh-nya ditujukan pada istri. Kan yang tidak boleh selingkuh itu anjuran rata untuk sang suami dan juga istri. Maaf, menurut saya, justru kenapa sekarang banyak perempuan yang nekat selingkuh, itu karena mereka pernah tersakiti. Merasa dikhianati oleh para pria, yang dengan alasan halal-nya poligami, maka sebagian dari para pria itu tidak merasa bersalah saat memiliki WIL, yang apabila nantinya ada indikasi sang istri mencium hal mencurigakan, maka buru-buru mengambil jalan untuk berpoligami dengan alasan agama. Padahal berapa banyak yang benar-benar menerapkan motif dan landasan poligami murni karena anjuran agama, jika memang mampu?

Ya sudah, intinya saya hanya ingin menyuarakan bahwa kita tidak boleh menggenelarisir suatu tempat atau instansi, atau juga suku, hanya karena mengetahui oknumnya pernah melakukan hal buruk. Bukan berarti daerah yang dikenal sebagai desa/kota santri, semua penduduknya 100% aman dari perbuatan jijik (maaf saya cukup sesntitif sama perselingkuhan) yang sedang kita bahas ini. Di kota metropolitan macam Jakarta pun masih banyak para istri yang sangat setia mendampingi suaminya, bahkan meski sudah berkali-kali disakiti secara fisik atau mental oleh pasangannya. Enggak percaya? Baca saja New Catatan Hati Seorang Istri, kumpulan kisah nyata para istri tegar, yang disusun oleh Asma Nadia, dkk. #PromosiUdahMendapatkanSiramanRohaniPascaMembacanya. 

Nb: Maaf jika ada pihak yang tersinggung, hanya ingin menyuarakan opini pribadi saya sebagai penulis blog.
read more »

Senin, 16 Desember 2013

How Much My Weight Today?

Dulu sih cuek bebek aje ye setiap kali dikomentari gemuk-an atau kurus-an. Tapi kali ini aneh banget dibilang begitu, pasalnya sebelum dibilang gemuk-an ditanya dulu "Udah ngidam belum?". Kebanyakan orang bertanya demikian adalah pemilihan kalimat semi halus untuk bertanya "Udah hamil belum?".

Meskipun seperti pernah saya singgung di artikel lama saya, kalau sebenernya yang ngidam bukan cuma wanita/ibu hamil. Kenapa saya bedakan menjadi kata wanita dan ibu? Soalnya bagi mereka yang belum pernah melahirkan anak, tapi sudah hamil kan belum benar-benar jadi ibu biologis, masih berstatus wanita hamil. *Penting ga sih dibahas? hehe...

Maksud dari ngidam adalah (Menurut definisi asal alaNila), meng-idam-idam-kan atau menginginkan sesuatu yang dirasakan amat sangat ingin, sampai terlalu dipikirkan sebelum keinginan itu tercapai. Meskipun memang kadang ngidam ala mereka yang sedang mengandung, lebih unik dan kadang amat sulit diwujudkan.

Kalau tempo hari yang bertanya bukan sesepuh, maka bisa dengan santai saya bercandai saja menimpalinya. Udah dong ngidam waktu beberapa bulan lalu pengen banget makan somay setelah sekian bulan tidak menyantap jajanan favorit itu sejak SD dulu. Alhamdulillah kesampaian, tapi bukan ngidam bawaan jabang bayi, tapi pelampiasan setelah sekian bulan mengurangi makanan/komponen bahan makanan yang dapat memicu timbulnya jerawat. Biasa... Pre wedding yang bikin senewen semua pihak, apalagi urusan wajah dan tubuh calon mempelainya.

Sekian curcol malam ini, dan entah kenapa saya merindukan berdiri di atas bathroom scale buat menimbang bobot tubuh ini. *Ck..ck..ck.. Penasaran deh.
read more »

Sabtu, 07 Desember 2013

Isi atau Kosong?

"Gemukan ya?", "Berat badannya berapa sekarang?", "Naik berapa kilo dari berat badan sebelum nikah?" 
Pertanyaan yang mulai sering ditujukan kepada para wanita yang baru menikah. Secara tidak langsung pertanyaan tersebut akan mengarah kepada kalimat-kalimat tanya berikut ini. 
"Udah isi belum?", "Udah telat haid kah?", atau "Kapan nih perutnya ada 'isi'nya?"

Pertanyaan tersebut makin gencar digaungkan oleh kerabat, yang melihat pipi wanita yang ditanya, tampak chubby. Padahal bisa jadi memang dari sono-nya tembem, atau saat itu sedang mengalami sakit yang membuat pipi membengkak. Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu.

Memang sih berat badan mengalami kenaikan beberapa kilogram dari berat badan sebelum melepas status lajang. Pipi pun tidak dapat dikatakan termasuk kategori tirus, apalagi bentuk wajah saya juga cenderung bulat. Namun, satu hal yang makin membuat saya terlihat menggemuk, adalah pipi yang bengkak karena ada bagian gusi yang bengkak.

Berawal dari pernyataan teman dari orang tua yang sedang bertamu ke rumah bersama seorang putrinya (dua tahun lebih dewasa dari saya, tetapi belum menikah), tentang saya yang terlihat gemukan. Lalu putri dari kerabat orang tua kami itu, secara gamblang asal nyeplos, "Udah isi ya?". @#$%^*Isi makanan kalee....

Dulu sewaktu belum menikah dan bertemu teman yang sudah menikah, merasa juga saya sering bertanya hal serupa. Tapi ternyata setelah menjadi sasaran yang ditanya, rasanya gimana gitu? Aneh dan agak risih juga. Padahal saya dan suami belum terlalu ngotot ingin cepat dapat momongan atau tidak juga menunda. Se-dikasih-nya dari Sang Maha Kuasa saja. Apalagi buat pasangan yang memang sudah lama mendambakan kehadiran bayi, pasti rasanya super BeTe ya ditanya demikian?

Curcol dikit boleh kan ya? ^_*


read more »

Kamis, 05 Desember 2013

Mewarnai Itu Asyik :)

Selalu ada sisi kekanak-kanakan dalam diri setiap individu, sekalipun pada mereka yang sudah memasuki usia dewasa. Kadang sisi kekanak-kanakan ini bisa muncul sesekali, dalam berbagai situasi, suka atau duka.

Dan tampaknya sisi kekanak-kanakan saya sedang muncul saat ini. Beberapa hari lalu membereskan tumpukan koleksi buku dibantu oleh suami, dan menemukan krayon lama milik adik sewaktu masih SD. Tiba-tiba rindu mewarnai sebuah gambar, seperti yang sangat saya sukai ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Malah satu kali saat kelas 1 atau 2 SD, saya beruntung meraih juara 2 untuk lomba mewarnai, di lingkungan dalam sekolah. Namun, sayang setelah keberuntungan pertama itu, saya tidak pernah mengasah keterampilan ini dengan berlanjut aktif di berbagai lomba mewarnai lainnya.

Perburuan gambar saya lakukan lewat Google, dan berhasil download beberapa gambar. Belum semua selesai saya beri warna, sejak kemarin sampai siang ini baru dua gambar yang berhasil saya selesaikan. Hehe, sesekali nostalgia masa kecil boleh kan? Menghibur hati dan mengontrol pikiran atau emosi negatif yang sempat hampir keluar. Hitung-hitung self therapy :). Mau coba? Silahkan....

Ini dia gambar yang sudah diberi sentuhan warna-warni alaNila ^_* (maaf lupa menyertakan link sumber gambarnya):






read more »

Minggu, 29 September 2013

Stupidity of A Bride: Sebuah Kisah Kedodolan Pengantin Wanita

Cuma satu kayaknya cewek dodol yang di hari pentingnya, lengkap dengan pakaian pengantin pula, salah masuk toilet. Parah banget, dengan santainya melangkah masuk tanpa lihat-lihat dulu tanda di pintu toilet yang bergambar manusia pakai celana, bukan rok. Untungnya (masih bilang untung) di dalam sedang tidak ada manusia seorang pun.

Ini semua dimulai dengan rentetan ke-senewen-an sejak pagi buta. Diawali dengan kurang tidur, bangun sedikit kesiangan, dilanjut dengan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memasang soft lens. Maklum baru beberapa hari sebelum hari H (24 Agustus 2013) kenalan sama benda mungil itu. Dari dulu anti banget buat pakai soft lens dengan alasan takut matanya iritasi, ribet, dll.

Sebelum tragedi salah masuk toilet itu, satu hal BeTe adalah saat adik perempuan saya memberitahukan bahwa ada noda lipstik di gigi bagian depan atas. Weeekkk!!! Udah aslinya punya trauma sama lipstik, malah hal seperti ini muncul di menit-menit terakhir sebelum acara resepsi di mulai. Waktu itu sudah siap berdiri karena mas-mas fotografernya udah mulai cerewet kasih tahu kalau bentar lagi kudu siap pose untuk foto keluarga. Tapi malah orang tua kami yang belum selesai didandani. Udah kepalang tanggung, ribet juga cari tempat duduk, maka kami pun berdiri di depan ruang rias, yang bersebelahan juga dengan toilet.

Panik, cari tisu enggak ada. Si adik pun menganjurkan untuk membersihkan noda tersebut dengan lidah. Tapi kalau tidak bercermin susah kan? Apalagi pikiran saya mulai sedikit mengingat ke-eneg-an saat di masa balita lalu muntah gara-gara 'dicekokin' lipstik. Tapi dengan mental baja, agar supaya (inget pejabat siapa ya dulu yang sering pakai kata 'agar supaya'?) tidak merepotkan banyak orang, sekuat mungkin ingatan itu saya singkirkan. Biar tidak muntah, padahal apa yang mau dimuntahin sih, sarapan juga hanya sedikit itupun waktunya masih sangat pagi. Tawaran sarapan lagi pasca akad nikah (antara pukul 9 sampai 10 pagi), saya tolak karena tidak nyaman rasanya makan dengan lapisan lipstik tebal di bibir.

Baiklah, cara satu-satunya untuk menghilangkan noda lipstik di gigi saat itu, adalah segera masuk ke toilet, berdiri di depan cermin dan masalah pun teratasi. Saking buru-buru dan fokus sama cara jalan supaya enggak keserimpet rok yang menyapu jalan, maka saya segera masuk ke toilet tanpa melihat dulu gambar yang terpasang di pintu toilet. Ketika baru melangkahkan satu kaki ke dalam toilet, adik laki-laki saya yang memang saat itu berdiri di samping toilet mengingatkan kalau itu untuk cowok. Dodooool!!! Untung enggak banyak yang melihat (tapi setelah saya tulis kisah ini, akan jadi banyak yang tahu *_^). Dengan segera kulangkahkan kaki menuju jalan yang benar, menuju toilet yang seharusnya kumasuki, toilet wanita.

Ya sudahlah ya, namanya juga sedang nervous kelas berat. Apalagi buat si cewek yang selalu enggak nyaman jadi pusat perhatian. Beberapa hari sebelum dan di hari pernikahan itu, siapa lagi yang paling sering ditanyain, yang paling ingin dilihat atau ditemui kerabat? Sudah tahu semua kan jawabannya? Makanya hari itu bukan panik karena apa-apa, tapi lebih panik membayangkan ratusan pasang mata tertuju ke arahku (huuu, GeeR pisan euy).

Udah dulu ya cerita dodolnya, selamat istirahat di hari Minggu ini yaaa.....
read more »

Sabtu, 21 September 2013

Bahasa Emak

Long time no see... Eh maksudnya long time no write about my absurd story. Setelah hampir sebulan lebih vakum dari dunia blog ini, kini saya hadir kembali dengan kisah baru di status yang kini baru juga.

Now I am a wife (Whaaaaaattttt???). Dunia kaget? Yang mengalami saja masih tidak menyangka bisa sampai di tahap ini. Tapi sekarang bukan waktunya menceritakan detail bagaimana si cewek aneh binti eror ini bisa bertemu dengan orang yang mau menerima doi secara lahir dan batin. Sekarang temanya adalah tentang bahasa ibu.

Tahu kan maksudnya? Yaitu tentang bahasa daerah asal seorang wanita yang bertitel ibu, emak, mama, mami, ummi, dll, yang sepatutnya diwariskan kepada anak-anaknya meski si anak tidak lahir atau tumbuh besar di kampung halaman orang tuanya. *Omong-omong kampung halaman eike apa ya? Secara meski keturunan Jawa tulen, ogut kan lahir di dan besar melewati masa bayi, balita, dan kanak-kanak di Jakarta.

Sebut saja kasus yang saya alami, sebagai salah satu anak kelahiran Jakarta, besar di Jakarta, Bogor, dan kemudian pindah ke Tangerang Selatan, tapi punya darah keturunan suku Jawa tulen dari kedua orang tua yang sama-sama asal Jawa Tengah. Kalau istilah di novel Harry Potter, saya ini "berdarah murni" bukan "berdarah campuran." *Eh, apa coba kok ngomongin novelnya J.K. Rowling?

Balik lagi ke soal bahasa ibu. Meski lahir dan besar di Jakarta, saya cukup beruntung punya ibu yang sejak dulu selalu mengenalkan dan membiasakan untuk berbicara bahasa Jawa kepada anak-anaknya. Ya, memang kami, selaku anak-anak beliau hampir tidak pernah menimpalinya lagi dengan bahasa Jawa. Tapi minimal sedikit-sedikit lumayan paham kan? Daripada sama sekali tidak mengerti bahasa daerah asal orang tua?

Namun tetap saja kemampuan berbahasa Jawa itu hanya sekedar kemampuan pasif, hanya bisa paham tanpa mampu menuturkannya dengan baik dan benar, serta tepat sasaran (ada perbedaan untuk berbicara kepada yang sebaya dan kepada yang lebih tua). Apalagi kalau suatu saat harus kembali berbaur di lingkungan yang masih dominan menggunakan bahasa Jawa dibandingkan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Dulu sih cuek-cuek saja. Toh bertemu saudara yang tinggal di kampung halaman hanya sesekali, bahkan bisa dikatakan sekali setahun saat hari raya. Tapi kini ketidakmampuan saya dalam melafalkan bahasa Jawa (terutama yang halus dan penuturan kepada yang lebih tua), benar-benar sangat terasa. Bahkan sering membuat diri ini menjadi salah tingkah, enggak nyaman, malu, dan hampir selalu memilih diam jika tidak benar-benar mendesak untuk bicara.

Terutama di masa awal-awal berstatus baru ketika menjalani masa-masa ngunduh mantu beberapa waktu lalu. Kebetulan (eh, takdir maksudnya) Tuhan memilih saya untuk kembali bertemu dengan orang yang sesuku, bahkan bukan sekedar Jawa "keturunan doang" seperti saya, tapi memang orang yang lahir dan besar di Jawa Tengah. Tidak terlampau jauh dari kampung halaman kedua orang tua saya.

Tapi keadaan terdesak memang bisa mengubah segalanya. Termasuk saya yang sebelumnya tidak pernah mau bertutur dalam bahasa Jawa. Saat ini minimal sepatah dua patah kata harus ada yang diganti dengan bahasa Jawa. Sulit bukan berarti tidak bisa kan? Toh ini termasuk hal positif. Minimal belajar jadi wanita halus, bukan cewek tomboy nan kasar binti cuek bebek sama lingkungan sekitarnya.

Maka saya bersyukur menjadi anak dari seorang Ibu yang tidak menyepelekan masalah bahasa ibu ini. Hal ini sangat membantu saya dalam beberapa waktu lalu, yang tinggal sementara di PMI (Pondok Mertua Indah) alias daerah kelahiran suami (masih rada rikuh menuliskannya, karena belum terbiasa dengan kata tersebut, tapi harus dibiasakan). Sambung lagi kapan-kapan yaaa ^_^.
read more »

Minggu, 21 Juli 2013

Qulil Haqqa Walau Kaana Murran

Jika anak-anak zaman sekarang dikenal sebagai generasi kritis sejak usia dini, entah zaman dulu yang berbeda atau saya saja yang menjadi segelintir orang yang menjalani masa kecil minim level kritis ya?

Meski bulan Ramadhan disebut sebagai waktunya menahan lapar dan dahaga serta emosi, tapi justru bulan ini juga identik dengan kuliner, apalagi untuk melengkapi waktu berbuka puasa (sabar... masih lama euy Magrib-nya). Namun, kali ini tiba-tiba saya teringat pengalaman masa kecil saat bersantap sahur di rumah Mbah (Nenek dari Ibu) yang memang sangat berdekatan dengan rumah Bude (kakak dari Ibu) dan juga tempat tinggal Om (adik dari Ibu).

Jadi, karena saat itu kami yang tinggal di luar kota ini baru datang untuk merayakan hari raya Idul Fitri di kampung halaman, maka saat sahur semuanya berkumpul di rumah Mbah yang letaknya di antara rumah Bude dan kediaman keluarga Om. Seperti biasa, yang menyiapkan lauk pauk hidangan untuk kami semua ya Bude, mungkin dibantu juga oleh Ibu dan orang dewasa lainnya. Dulu saya masih dianggap terlalu kecil untuk bisa bantuin, jadi tinggal terima beres.

Sebenarnya lauk pauk yang ada cukup bervariasi, tapi karena didominasi ikan-ikanan (masih jadi super picky eater ceritanya) akhirnya saya hanya mengambil nasi putih dengan lauk telur mata sapi yang memang sengaja disiapkan Bude untuk jaga-jaga jika para anak-anak tidak mau makan ikan.

Satu suapan pertama, cukup mengejutkan saya. Tapi tidak berani lapor pada Ibu karena kebetulan kami duduk dengan posisi yang agak berjauhan. Otomatis kalau mau laporan, tidak bisa dengan berbisik, dan nanti terdengar oleh semua orang. Menurut saya, telur itu terlalu banyak dibubuhkan garam (alias keasinan). Tapi demi menjaga perasaan Bude yang sudah susah payah menyiapkan semuanya, akhirnya kuputuskan diam dan segera menuangkan kecap (sebanyak mungkin) di atas nasi dan telur ceplok, dengan harapan rasa asinnya bisa terselamatkan oleh rasa manis kecap.

Ternyata harapan itu tidak sesuai kenyataan. Rasa asin yang bagi saya saat itu teramat sangat, tidak cocok dicampur dengan rasa manis dari kecap yang super banyak di piring saya. Satu suap saya paksa kunyah dengan waktu sangat lama dan mungkin ditambah ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sampai akhirnya mungkin Ibu saya sepertinya mengetahui ada keanehan dengan diri saya. Memang sudah biasa kalau saya makan dalam waktu lama karena sejak kecil memang termasuk anak yang susah dibujuk makan. Tapi kali ini bukan hanya sekedar malas makan karena ngantuk, ada yang tidak beres.

Waktu santap sahur itu, memang hanya saya seorang yang mengambil telur mata sapi sebagai lauk. Jelas tidak ada yang tahu bagaimana rasa lauk itu, selain saya. Maka setelah Ibu menegur saya untuk segera menghabiskan makanan karena waktu imsak hampir tiba, akhirnya beliau tahu apa yang membuat saya begitu lama menghabiskan hidangan sahur kali itu. Jelas setelah beliau juga mencicipi telur yang ada di piring saya. Setelahnya saya tidak ingat lagi apa akhirnya makanan itu saya habiskan atau terbuang? Apakah Ibu menyampaikan hal itu pada Bude atau tidak? Yang jelas sensasi menahan rasa asin bercampur manis kecap, sambil menahan supaya tidak memuntahkan makanan dari mulut itu, masih saya ingat. *Mungkin ini sebabnya kalau coba-coba masak hidangan gurih, hasilnya lebih sering dibilang kurang berasa. Lidah saya mungkin terlalu sensitif dengan rasa asin, sehingga bagi saya suatu makanan sudah cukup berasa, tapi tidak bagi orang lain. Daripada kebanyakan garam? Entar hipertensi kan? #NgelesDeh

Ckckckck, memang ya budaya Jawa kadang membuat kita menahan tawa miris. Ingin bersikap sopan malah membiarkan diri sendiri menderita hanya karena sebuah kata, sungkan (jangan tersinggung buat yang tidak merasa, tapi kebanyakan begitu sih). Kaki diinjak orang lain di angkot, malah diam saja atau minimal menegur dengan minta maaf duluan (harusnya yang minta maaf kan yang menginjak). Merasa lapar atau haus sangat saat bertamu, malah bilang "enggak usah repot-repot, tadi baru makan" (ya, kalau empunya rumah memang tahu si tamu cuma basa-basi, kalau empunya rumah super cuek, bisa jadi beneran kagak diambilin makanan/minuman tuh ^_*).

Hari gini jangan kan anak SD, anak TK pun sudah bisa dengan kritisnya mengomentari rasa makanan (tidak peduli siapa yang masak sekalipun ibunya sendiri), gaya berpakaian, sampai cerita sinetron. Jadi ingat salah satu pepatah yang pernah diajarkan guru saya di pesantren, "Qulil haqqa walau kaana murran". Katakanlah suatu kebenaran meskipun pahit (tidak nyaman didengar), kira-kira demikian arti pepatah arab tersebut.

read more »

Rabu, 17 Juli 2013

Lomba Membantu Penyusutan Angka Alexa Rank

Biar saja orang mau berkata apa. Selama ada lomba menarik minat, syarat-syaratnya masih bisa dipenuhi, tanpa dipungut biaya pendaftaran, dan penilaian tidak berdasarkan jumlah vote atau jempol dari para facebookers, maka dengan kenekatan level 10 (kok jadi mirip keripik pedes ya?) akan saya ikuti lomba itu.

Ya, boleh lah menyebut saya banci lomba, sekedar ikut-ikutan meski pengalaman minim, tapi setidaknya mengoleksi pengalaman kalah sebelum suatu saat menang kan? Kalau pun tidak menang atau mendapat penghargaan sebagai blogger ter-eksis di setiap lomba menulis, setidaknya makin banyak yang mampir di blog saya. Terbukti selama hampir satu tahun blog ini ada, jumlah pengunjung (semoga saja mereka juga tahan untuk membaca tulisan saya) selalu meningkat setiap kali ada event lomba yang diikuti. Jika bukan dari para juri, tentu saya tebak pengunjungnya adalah sesama blogger sekaligus peserta lomba itu juga. Sama seperti saya yang lebih sering mampir di blog peserta lain, setelah saya menyelesaikan tulisan saya sendiri. Hanya ingin melihat seberapa beragam tulisan para peserta lomba yang sedang berlangsung.

Keuntungan lainnya yaitu menyusutnya angka peringkat di Alexa, hehe walaupun sering setelah lomba usai  Alexa Rank blog ini kembali menggendut, dan bukan tidak mungkin segera menghilang alias tidak lagi terdeteksi sama si Alexa. Tapi angka paling mengejutkan yang pernah saya raih adalah sekarang alias beberapa hari ini setelah saya resmi berpartisipasi dalam sebuah lomba yang diadakan oleh Viva.co.id dan EnjoyJakarta. Pengunjung blog yang mampir di artikel bertema Keindahan Kepulauan Seribu, mencapai jumlah lebih dari seratus dalam sehari. Wajar, karena lomba ini masih memiliki batas waktu yang cukup panjang, dan mengingat Viva.co.id termasuk salah satu media online yang pasti banyak pembaca setianya. Jadi para peserta atau bahkan calon peserta lomba, yang sedang mencari inspirasi tulisan, mampir ke blog para peserta yang telah mempublikasikan artikelnya lebih dulu.

Padahal saya cukup tahu diri, isi artikel saya agak memaksa untuk diikutsertakan dalam lomba. Intinya sih hanya ingin mencoba, dan ingin menambah pengalaman (pengalaman kalah sebelum suatu saat menang) mengikuti berbagai tema menulis di blog. Untuk lomba kali ini memang hadiahnya amat sangat menggiurkan, bisa dapat kursus menyelam (gratissss) bersama presenter terkenal, Mbak Riyanni Djangkaru, pantas saja jika banyak yang berminat. Saya sendiri tidak berharap banyak untuk menang, toh kalaupun menang, jika sesuai rencana, saya tidak akan dapat menggunakan hak saya sebagai pemenang. Kenapa? Ada deeehhh... Intinya semoga Alexa Rank blog ini tidak menggendut lagi, terus saja menyusut hingga dibawah 10 jutaan (yakin? Masih 17 jutaan loh).
read more »

Senin, 15 Juli 2013

Thanks for Your Story Gals!

"Kebanyakan cerita cinta orang, jadi lupa sama kisah cinta sendiri" (Lolly Love, Trans TV 2013).

Kira-kira demikian kutipan kata-kata pemeran Lolly, yang selalu menceritakan asam manisnya kisah cinta berbagai jenis karakter manusia. Memang hanya sebuah film televisi yang juga mungkin kisah fiksi (walaupun sedikit banyak pasti terinspirasi dari sekelumit kenyataan hidup).

Fokus kita kali ini adalah kutipan yang saya dapatkan dari Lolly semalam, tepatnya saat di rumah sendirian menonton TV ketika semuanya sedang shalat tarawih. Ternyata dapat libur shalat saat bulan Ramadhan, enggak enak. Bisa makan dan minum siang-siang, tapi malah enggak selera karena terbawa suasana rumah yang semuanya berpuasa. Memang sih bisa ngumpet-ngumpet makan di kamar, tetap saja bawaannya kenyang terus. Makan pagi saja sudah merasa cukup dan tidak kelaparan meski baru makan lagi saat waktu Magrib tiba. Malah kemarin waktu ke mal sendirian pun, meski mayoritas restoran memasang gorden di kaca depannya, tidak satu pun yang berhasil menarik kaki saya masuk ke dalamnya. Padahal aroma masakannya jangan dtanya, sudah pasti sangat menggoda.

Sama seperti tokoh Lolly yang sering menyaksikan atau mendengarkan curhatan orang lain tentang kisah cinta mereka, menonton Lolly Love semalam seperti mengingatkan saya akan masa lalu. Ketika saya yang bahkan tidak berpengalaman dalam urusan asmara (sebut saja cinta ala ABG), tiba-tiba mendapatkan pelajaran berharga dari kisah orang lain. Baik yang sekedar melihat atau mendengar kisah dari para biang gosip (bukan pelakunya) atau langsung mendapatkan curhatan dari yang bersangkutan. Kisah cinta pun tidak sebatas pada mereka yang konon sudah jadian/pacaran, karena setiap orang terutama sejak mulai memasuki masa pubertas pasti merasakan setitik dua titik rasa suka pada lawan jenis, dan tergantung pribadi masing-masing menyikapi dan mengontrol perasaan mereka.

Memang mereka yang curhat bukan bertujuan untuk mencari solusi. Jika solusi yang dicari, jelas teman-teman atau sahabat saya datang pada orang yang tidak tepat. Tapi, sejatinya manusia akan bertemu pada kondisi di mana mereka butuh untuk didengar tanpa dihakimi. Bahkan seringkali mereka yang tiba-tiba curhat pada saya, bermula dari ketidaksengajaan dan tanpa terduga sesi curhat mengalir begitu saja. Jangan kira saya memiliki banyak sahabat (teman yang sangat akrab). Justru kadang mereka yang berbagi kisah tanpa paksaan itu, adalah teman-teman yang dalam keseharian tampak tidak terlalu akrab dengan saya, bahasa anak gaulnya "beda geng/kelompok." Dan setelah sesi curhat berakhir entah saya atau mereka, mulai menyadari dan menyampaikan kenapa bisa curhat masalah yang cukup privasi (menurut saya kisah cinta adalah hal yang tidak sembarangan bisa diceritakan pada siapa pun) kepada saya yang sebelumnya tidak terlalu akrab.

Saya kemudian hanya tersenyum, dan berusaha menyampaikan bahwa meski saya tidak tahu jelas alasannya, tapi saya cukup senang ketika mereka merasa nyaman bercerita pada saya. Bukan hanya mereka yang bisa merasa lega karena ada sedikit beban yang berkurang di hati. Saya juga mendapatkan banyak pelajaran berharga dari pengalaman mereka. Entah mengapa saya selalu menyukai momen ketika ada orang yang mau berbagi kisahnya pada saya. Namun, sebaliknya saya bukan orang yang mudah berbagi kisah dengan orang lain. Apalagi urusan hati. Kalaupun ada sahabat yang berhasil membuat saya nyaman bercerita pada mereka, tentu tidak semua bagian kisahnya bisa saya ungkap secara detail. Karena saya pun masih belum mengerti dan paham betul urusan hati ini.

Berbeda dengan Lolly yang menceritakan kisah orang lain, saya tentu tidak bisa menceritakan kisah-kisah cinta yang dicurhati teman-teman sejak masa remaja sampai beberapa waktu belakangan ini. Karena tanpa mereka sebut itu rahasia pun, saya tidak berhak mengumbar apa yang saya ketahui tentang mereka. Mereka dan bahkan juga saya, kadang memerlukan tempat untuk bercerita, sosok pendengar tanpa menghakimi kita benar atau salah, dan tidak memerlukan solusi untuk sementara waktu. Sedangkan saya, mungkin hanya buku harian yang benar-benar bisa menjadi penampung segala rasa di hati, selain pada-NYA tentu saja.
read more »

Jumat, 12 Juli 2013

Akhirnya Terpasang Juga

Assalamu'alaikum dunia... Spesial untuk para muslim dan muslimah sedunia, masih semangat kan menjalankan puasa hari ini? Saya sendiri masih semangat (nge-blog maksudnya) walau setelah sahur tadi, resmi disuruh libur dulu ibadah puasanya oleh Allah. 

Lumayan sakit menahan rasa nyeri yang selalu hadir setiap bulannya, biasa lah perempuan. Setelah sekian lama tidak menulis di sini, maka sembari terapi laptop (hangatnya bagian bawah laptop menggantikan kompres air hangat di atas perut), maka saya sempatkan mencurahkan isi hati dan pikiran, demi mengalihkan rasa nyeri.

Setelah sebelumnya pernah cerita tentang proses pencetakan gigi tiruan, maka kemarin tepatnya Kamis 11 Juli 2013 dua buah gigi tiruan tersebut sudah bisa dipasang, tentu pertama kalinya dibantu oleh dokter. Apa pun itu, segala hal yang baru kita temui, kenali, dan dapatkan, memerlukan waktu untuk beradaptasi. Rasanya aneh, seperti ada yang mengganjal di dalam mulut, sedikit ngilu karena tekanan dari kawat peyangganya, dan membuat saya malas bicara.

Semakin aneh rasanya ketika waktu berbuka puasa tiba. Awalnya sudah semangat akan menyantap tahu isi goreng dan makanan lainnya, malah berubah jadi hilang selera. Setiap mengunyah selalu merasa khawatir gigi tiruan itu lepas, padahal cuma perasaan lebay akibat belum terbiasa. Inginnya dilepas saja, tapi bukankah tujuan dipasangnya gigi tiruan, untuk membantu proses pengunyahan dan mencegah pergeseran rahang, makanya harus dibiasakan menggunakannya? Bukan menyerah begitu saja hanya karena rasa tidak nyaman sesaat. Lagipula sudah dipesan oleh dokter supaya hari pertama pemakaian sebaiknya jangan dilepas dulu sampai menjelang tidur, istilah saya sih biar kenalan dulu sama teman-teman barunya yaitu para gigi asli penghuni lama rongga mulut.

Kepanikan mulai terjadi saat pertama kalinya mencoba melepas gigi tiruan yang berfungsi mengganti dua buah geraham asli yang hilang. Aduh, hampir frustasi sendiri karena bingung dan juga takut kawatnya melukai gusi atau gigi asli. Entah berapa menit waktu yang saya habiskan, sampai akhirnya mampu melepas 'mereka' untuk dibersihkan dengan air mengalir dan sikat gigi. Berdasarkan info yang saya dapatkan dari internet, menyimpan gigi tiruan sebaiknya direndam dalam air putih (cari aman saya pakai air matang) dalam suhu ruang, supaya tidak mengalami penyusutan/perubahan ukuran.

Pagi ini setelah sikat gigi, saya pun mencoba memasang kembali gigi tiruan itu, lagi-lagi pertama kalinya mencoba memasang sendiri. Bagian sebelah kanan tidak terlalu sulit, karena letaknya di tengah. Sedangkan bagian kiri, lumayan lama dan sulit membuatnya pas, karena letak gigi tiruan di ujung bagian belakang. Mungkin yang orang sebut sebagai tempat gigi geraham bungsu. Alhamdulillah, akhirnya bisa terpasang dengan baik. Enggak tahu deh nanti malam, bakalan masih kebingungan atau tidak saat melepasnya lagi.
read more »

Kamis, 04 Juli 2013

Mendadak Cerewet

Kalau ada kontes atau penghargaan rekor dunia untuk perempuan di atas usia 20 tahun yang paling jarang menjejakkan kaki di salon, maka saya dengan Pe-De akan mendaftarkan diri sebagai nominator. Seumur hidup baru merasakan facial kurang dari 7 kali (enggak dihitung tapi kayaknya jumlahnya di bawah angka tersebut), creambath satu kali, dan selebihnya cuma gunting rambut yang seringnya terpaksa karena larangan berambut panjang sejak kecil.

Nah, kemarin (tepatnya setelah sebelumnya beberapa kali diingatkan Mama buat facial tapi selalu berkilah nanti dan nanti) akhirnya pergi juga buat facial dan gunting rambut. Di dua tempat berbeda, memang awalnya hanya izin untuk facial (pertama kalinya tidak ditungguin ^_^) di sebuah klinik khusus kecantikan yang berlokasi di Karang Tengah, tapi setelah dipikir-pikir jerawat ini bisa juga disebabkan oleh minyak dari rambut, membuat saya memutuskan segera meluncur ke salon khusus muslimah di kawasan Ciputat, untuk mengurangi jumlah dan panjang rambut kepala saya.

Dari dua tempat tersebut saya menarik kesimpulan dan pelajaran baru mengenai tempat-tempat yang sering dikunjugi perempuan seusia saya pada umumnya. Yaitu, walaupun belum kenal sebelumnya, meski baru pertama kali bertemu dengan pegawai salon yang mem-permak salah satu atau beberapa bagian tubuh kita, mau tidak mau kita seolah menjadi teman akrab. Minimal sok akrab atau SKSD.

Bukan apa-apa, di sela-sela melakukan tugasnya, 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut" saya selalu bertanya duluan tentang hal-hal yang berhubungan dengan facial/gunting rambut, sampai melebar ke berbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan yang kami lakukan saat itu. Otomatis, demi menjaga perasaan mereka dan demi tidak kacaunya pelayanan mereka kepada kita, sebagai klien juga harus bisa mencoba menanggapinya dengan baik. Itu pun berlaku untuk manusia yang susah beradaptasi dengan orang asing, seperti saya.

Maka siang dan sore kemarin, saya merasa menjelma menjadi seorang Nila yang cerewet. Menanggapi setiap pertanyaan 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut", serta mencoba bertanya balik. Sekedar mencairkan suasana biar tidak terkesan wawancara, hanya karena obrolan yang bersifat satu arah. Tidak ada yang aneh, hanya saja mulai menyadari bahwa kadang di satu tempat dan tempat lainnya, kita bisa menjadi pribadi dengan karakteristik luar (tampak di mata orang lain) yang berbeda-beda.

Jujur saja, kalau saya pergi ke salon dengan Mama, saya tidak bisa seterbuka itu kepada orang-orang di salon. Terutama biasanya mereka fokus pada klien yang bayar hasil kerjanya kan? Maka saat bersama Mama, saya hanya dianggap sebagai anak kecil, bocah perempuan yang ngekor ibunya ke mana-mana. Dan kemarin terbukti, saat saya benar-benar melakukan proses facial dan gunting rambut tanpa ditemani siapa pun, mereka dengan ringannya mengajak saya ngobrol ngalor-ngidul, yang saya tanggapi juga dengan (pura-pura) cerewet.

Begitu juga saat saya beberapa kali berkenalan dengan teman baru di berbagai lingkungan. Sekilas dan mayoritas menyetujui saya adalah orang yang pendiam, tampak jutek, enggak asik diajak ngobrol, dan dingin (beuh, emangnya es). Tapi beberapa teman yang telah (setidaknya) akrab dan sedikit banyak sering berbagi cerita, mereka menemukan sisi lain yang belum diketahui sebelumnya. Rada banyak omong dan kadang eror juga, enggak se-serius apa yang mereka duga.

Ya, beginilah saya. Saya sendiri kadang tidak tahu termasuk orang pendiam atau kah cerewet, introvert atau ekstrovert, dan ramah atau kah jutek? Yang saya sadari adalah, saya memang memiliki kekurangan berupa rasa canggung luar biasa untuk menyapa duluan orang yang baru ditemui atau mereka yang tidak akrab. Tapi ketika orang lain sudah menyapa dan mengajak bicara meski sekedar basa-basi, maka saya pun akan menyesuaikan diri dengan mereka. 

Intinya tergantung lawan bicara saya, jika mereka tipe orang yang cerewet, bukan tidak mungkin saya terbawa banyak bercerita pada mereka. Sebaliknya jika yang saya temui cenderung pasif dan seolah tidak nyaman bicara dengan saya, maka saya pun segan untuk memulai pembicaraan. Bahkan kadang jika di lain kesempatan tanpa sengaja bertemu lagi dengannya (walau sudah lama tidak berjumpa), saya memilih tidak menyapanya duluan karena khawatir salah orang atau sepertinya dia tidak akan ingat lagi siapa saya.

Dan kemarin di dua tempat berbeda, saya sukses merasa jadi pribadi yang berbeda, meski tidak bisa dipungkiri saya merasakan hal positif dari kejadian tersebut. Sampai jumpa :).
read more »

Selasa, 04 Juni 2013

Pelajaran Berharga Dari Mereka. Makasih Ya!

Dunia anak-anak memang tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Saya sendiri sebelumnya pernah menulis beberapa artikel (sekalian curcol), yang berhubungan dengan anak-anak, tidak terkecuali mereka yang masih disebut Balita. Baik fenomena yang terjadi di masyarakat, pengalaman saat saya kecil, atau ketika saya berinteraksi dengan sepupu dan keponakan yang imut, lucu, cerdas, dan kadang cukup menguji kesabaran saat menghadapi mereka. Di bawah ini beberapa tulisan yang saya maksud:


Dua belas tulisan? Belum mencapai puluhan sih, tetapi saya sendiri baru sadar bahwa ada lebih dari 10 tulisan (non fiksi) yang berhubungan dengan anak-anak. Dulu, atau bahkan mungkin sampai saat ini, ada saja suatu masa ketika anak-anak berceloteh ingin segera menjadi orang dewasa. Saya sendiri pernah berpikir demikian, hanya karena alasan sepele. Tidak ingin lagi mengerjakan PR yang setiap hari diberikan oleh para guru. Padahal orang dewasa itu lebih rumit, lebih banyak tanggung jawabnya, dan ada titik jenuh di mana orang dewasa kembali merindukan masa kecil. Saat sudah mencapai usia dewasa, tiba-tiba ingin menjadi anak kecil lagi, yang tidak punya beban pikiran ini dan itu, serta tanpa malu menangis lalu lima menit kemudian tertawa bahagia.

Tapi bukan keinginan menjadi anak kecil lagi, yang akan saya bahas. Kain ajaib yang bisa membuat kita jadi bayi kembali, cuma ada di komik karangan Fujiko F. Fujio (Bukti bahwa penulis mati memang meninggalkan karya. Komik dan kartun Doraemon masih tetap dikenal anak-anak masa kini). Mustahil kan balik lagi ke dalam perut ibu, atau tiba-tiba terbangun dengan pakaian sudah kedodoran akibat badan yang menyusut seperti Shinichi Kudo? #KenapaJadiBahasKomik?

Inti dari artikel kali ini adalah, siapa pun orangnya, anak kecil sekali pun yang kita temui, mereka akan memberikan pelajaran penting untuk kita. Terinspirasi dari kisah nyata (kayak opening di film ceritanya) yang terjadi hari Minggu lalu. Saat rumah kami kedatangan tamu-tamu kecil berjumlah 4 orang. Yang paling besar perempuan kelas 4 SD, kemudian murid TK B yang centilnya hampir sepadan sama cerdasnya, dan 2 balita cewek dan cowok.

Apa sih pelajaran dari hari itu? Saya lebih menekankan kepada yang TK dan balita ya, soalnya yang kelas 4 SD kan sudah bisa diberi tahu cukup dengan kata-kata. Beda sama para Balita, yang kadang lebih dari sekedar kata-kata, tapi bagaimana cara kita menyampaikannya.

Jika ada banyak jenis mainan di hadapan mereka, tetap yang diperebutkan hanya satu. Misalnya saat yang satu bermain Lego, maka yang lain akan ikut memperebutkannya, padahal masih ada boneka dan buku mewarnai+krayon yang nganggur. Begitu juga sebaliknya saat yang satunya bosan, dan meninggalkan Lego, yang lain ikut-ikutan lagi. Memperebutkan objek yang berbeda, dan terulang lagi berantem khas mereka.

Begitu juga masalah perhatian orang dewasa di sekitarnya, sama-sama tidak mau kalah merengek minta ditemani bermain. Hehe senang sih, lumayan jadi berasa bocah lagi main bareng mereka, tapi harus hati-hati bersikap dan sebisa mungkin adil, supaya mereka enggak berantem atau ada yang merasa kurang diperhatikan. Walaupun mereka sebenarnya keponakan, tapi memanggil saya dengan sebutan Kakak/Mbak. Jadi sebentar-sebentar terdengarlah rengekan "Kak, kak, kak."

Saya dulu juga pernah membaca artikel tentang mengatasi anak yang tidak mau makan. Artikel tersebut menyebutkan tidak perlu adanya pemaksaan, karena bisa berakibat trauma dan membuat anak membenci aktivitas makan. Caranya adalah biarkan saja anak bermain atau melakukan hal yang disukainya, hentikan membujuk anak untuk makan. Maka siang itu saya makan duluan dengan keponakan yang kelas 4 SD. Serta membiarkan balita yang perempuan dan yang masih TK B, tetap bermain dan mewarnai tanpa ditemani.

Setelah saya selesai makan, saya iseng bertanya ke ponakan yang sudah TK B, dengan tersenyum dan bicara dengan nada sok imut. "Yakin nih enggak mau makan?" Mungkin karena sudah merasa lapar, dia pun mengangguk dan malu-malu berkata mau makan asalkan disuapin sama Bunda. Setelah yang satu mau makan, balita perempuan yang satunya lagi, juga ikut-ikutan mau makan. Memang sih sempat ditakut-takutin kalau tidak mau makan, nanti enggak diajak berenang. Tapi menurut saya yang membuat mereka mau makan, bukan ancaman itu. Soalnya dari awal sudah diancam (secara halus lah) seperti itu, enggak ada pengaruhnya. Tetap keukeuh menolak makanan yang sudah berada di depan mulut. Hal tersebut terjadi karena saat pertama ditawari makan, mereka belum merasa lapar. Setelah puas bermain, barulah mereka merasa lapar dan butuh makanan. Jadi lebih mudah membujuknya. 

Terbukti artikel yang pernah saya baca itu benar. Jadi pemaksaan yang kadang dilakukan dengan alasan kebaikan anak (takut kebutuhan gizi tak terpenuhi), tidak dapat dibenarkan. Memang sih orang tua kadang saking lelahnya dan pusing menghadapi anak, maka terkadang lupa untuk bersikap lembut pada anak. Wajar karena itu semua demi kebaikan anaknya. Saya sama sekali tidak berhak membahas ini secara panjang lebar karena belum berpengalaman. #TakutKualat

Satu hal lagi, yaitu saat anak-anak hampir marah atau menangis, baik saat berantem atau kejadian kekerasan tidak sengaja yang mereka alami, bisa dicegah dengan cara mengalihkan perhatian mereka. Tetapi saya sendiri tidak tahu apakah ini bagus untuk perkembangan mentalnya, karena ada emosi yang semestinya dikeluarkan tiba-tiba ditahan/dialihkan ke hal lain. 

Di kolam renang yang dangkal, saya bertiga dengan keponakan yang masih TK B dan balita perempuan. Menemani mereka sekaligus mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi begini ceritanya, mereka sempat bertabrakan antara tangan dan muka. Sekilas tampak wajah mereka tegang, dan saya pikir sebentar lagi akan ada perang disusul tangisan ala bocah. Maka jurus jayus dapat dikeluarkan jika kita berada di situasi serupa. 

Jayus? Maksud L? Iya, melakukan hal apa pun yang menurut kita sangat tidak lucu tapi seenggaknya bisa buat anak kecil tertawa atau minimal senyum lah. Maka, saat itu refleks saya pun segera membentuk huruf "V" dengan jari tangan, sambil berkata "Peace ^_^....." Dan wajah tegang mereka pun sirna menjadi tawa lepas. Fiuhhh.... Lega, enggak kebayang gimana nanti bikin berhenti nangis kalau mereka benar-benar emosi? Secara, seakrab apa pun saya dengan mereka, tetap saja itu pertemuan pertama kami yang benar-benar saling kenal. Dulu mereka masih pada belajar jalan, pasti sudah lupa dengan wajah apalagi nama saya. Makasih adik-adik, eh keponakan-keponakanku atas hari Minggu kemarin. #MasihLupaSamaUmur
read more »

Senin, 03 Juni 2013

Panggil Saya Nila, Bukan Nil.

Entah karena lagi mengalami masa PMS dan terlalu sensitif, atau memang benar-benar tidak suka akan hal itu. Baru beberapa hari ini si Teteh yang bantu-bantu di rumah seolah punya panggilan baru ke saya. Biasanya sih normal saja, nama pertama saya dengan tambahan kata sapa mbak, yaitu Mbak Nila. Enggak ada anehnya bukan?

Nah, apa karena dia sudah merasa tinggal agak lama (jelas belum ada setahun), atau berusaha lebih akrab, tiba-tiba merubah panggilan itu menjadi Mbak Nil. Sekali, dua kali pertama tidak merasa terganggu, anggap saja dia lagi malas-malasan ngomong. Tapi selanjutnya, jadi merasa aneh dan agak risih. Malah ngerasa dia lagi ngomong sama orang lain. Apa susahnya sih, menyebut nama saya seperti biasanya, Nila ya bukan Nil. Bukan apa-apa, kalau sekedar Nil (misalkan memanggil dari jauh) tanpa kata sapa mbak, sih enggak masalah. Yang aneh itu saat disapa 'Mbak Nil', apalagi saat nada kata Nil-nya disebut dengan panjang dua harakat itu benar-benar aneh. Nil dengan tambahan satu kata di depannya itu, mengingatkan pada nama sungai atau hewan. Masih mending kan kalau sungai Nil, tapi kalau Kuda Nil?@#$%&*

Oke, anggap saja saya emang terlalu berlebihan akan hal ini. Mungkin emang si Teteh lagi ingin mengakrabkan diri dengan menyapa saya berbeda dari orang lain. Mungkin juga saya saja yang masih asing dengan panggilan ini. Kita lihat saja nanti apakah panggilan itu terus dipakainya, atau hanya bersifat sementara. Saya juga tidak berhak memprotesnya kan? Memang benar juga itu bagian dari nama saya, hanya saja satu huruf dihilangkan. Toh, saya tidak dapat memilih nama karena apa pun itu pasti orang tua telah menyelipkan suatu doa yang baik saat memilih nama untuk putra-putrinya.

Jadi gimana? Mau protes enggak sama si Teteh? Baiklah akan saya beri jeda waktu beberapa saat, siapa tahu ini hanya sementara, dan saya akan berusaha untuk tidak menampakkan tampak cemberut di depannya. Huffh, padahal kemarin sempat kesel dalam hati juga dan langsung ingin menyudahi percakapan kami supaya emosi ini enggak keluar didepannya. Bukan maksud mengkambinghitamkan si PMS, tapi memang rasanya sebulan sekali, ada saja hal kecil yang bikin BeTe kalau sudah masanya.

Jika suatu saat saya sudah merasa amat sangat tidak nyaman dengan panggilan itu, maka saya akan berkata jujur. Toh, dia juga sejak awal memanggil nama saya tanpa menghilangkan huruf 'a'-nya kan? Saya akan katakan, "Panggil saya Nila, bukan Nil...."
read more »

Kamis, 23 Mei 2013

Kurus-an Tanpa Disengaja

Sekurus itu kah diri ini? Perasaan tidak menyengajakan diri ber-diet untuk menyusutkan berat badan. Bahkan setiap kali ingin ngemil, tidak pernah menahannya. Apa mungkin karena konsumsi air putih meningkat? Perasaan juga masih normal-normal saja, belum melebihi jumlah 2,5 liter per hari (dulu memang malas sekali minum air putih).

Sampai semalam menyadari bahwa kenyataan itu benar adanya. Setelah melihat dan memastikan lagi bahwa cincin yang semestinya dipakai di jari tengah atau jari manis, yang sudah berpindah tempat di telunjuk selama beberapa bulan ini, ternyata muat di jempol. Bahkan tidak mengalami kesulitan saat memakainya alias longgar. Sekurus itu kah diri ini?

Pernah membaca artikel, yang menyebutkan bahwa wanita selalu merasa gemuk meski berat badannya termasuk kategori ideal. Ya, meski saya tidak merasa gemuk, tapi sekarang juga tidak terlalu merasa lebih kurus, seandainya saja tidak melakukan penimbangan berat badan, atau disadarkan oleh kasus cincin dan pakaian yang terasa melebar (padahal badan yang menyusut). Ditambah lagi sejak lahir diberi karunia oleh Tuhan, berupa sepasang pipi yang tembem. So, setiap kali bercermin (jarang banget sih) dan melihat foto saat tersenyum dengan tampilan tubuh bagian atas saja, maka akan tampak biasa saja.

Tapi mungkin orang sekitar yang melihat kita yang ngeh dengan perubahan diri ini. Termasuk sosok ibu, yang setiap detik, dan dalam setiap hela napasnya selalu mendoakan putra-putrinya. Mengingatkan saya untuk tidak perlu melakukan diet apalagi dengan membatasi jumlah konsumsi makanan. Padahal memang tidak diet apa pun kok, bahkan beberapa waktu terakhir kalau boleh jujur saya sedikit memaksakan diri mengkonsumsi buah-buahan, yang memang awalnya malas. Walaupun memang lebih suka dalam bentuk jus, biar tidak terasa makan dan makan lagi.

Memang tidak diniatkan, tapi kalau boleh menganalisa semua ini karena perubahan porsi dan frekuensi makan saya. Memang secara frekuensi bisa dibilang sering, tapi porsinya yang agak menurun dari kebiasaan sebelumnya. Bukan sengaja diet, tapi entah mengapa merasa cepat sekali kenyang, dan kalau dipaksakan akan merasa mual setelahnya. Padahal bisa dibilang, kalau tidak sedang puasa, rasa lapar itu cepat datang. Dan tidak menunda untuk mengisi perut walau hanya dengan sebuah atau dua potong biskuit/cemilan lainnya.

Kalau dibilang tidak nafsu makan, enggak juga deh. Karena seseorang yang kehilangan nafsu makan, maka malas dan enggan untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan, terutama makanan lengkap atau biasa kita kenal dengan sebutan makanan berat (nasi, lauk, pauk, dll.). Tapi saya sama sekali tidak kehilangan nafsu makan, setiap kali waktu makan datang, maka saya segera makan seperti biasanya. Bahkan ketika sedang merasa sangat lapar, semangat sekali ingin makan ini-itu. Tapi setelah beberapa suap, rasa kenyang tiba-tiba saja muncul. Ajaran orang tua sejak kecil, untuk tidak membuang makanan sia-sia, membuat saya memaksakan diri menghabiskannya. Pernah satu kali setelah makan, langsung merasa mual, tapi tidak dapat dikeluarkan.

Sejak kejadian itulah, saya sengaja membatasi saat mengambil nasi atau makanan lainnya. Lebih baik nambah daripada menyisakan makanan kemudian dibuang kan? Tapi memang jarang sekali menambah makanan lagi, karena rasa kenyang itu segera muncul. Sesaat kemudian lapar lagi, tapi makan sedikit kenyang lagi. Duh, kalau kayak gini apa iya harus ngemil-in mayonaise biar cepat gemuk? Eh, tapi kalau begitu sih, enggak sehat ya karena nantinya malah menumpuk lemak jahat.

Ya sudahlah, mungkin ini hanya sesaat. Nanti juga kalau sudah waktunya badan akan menggemuk lagi alias lebih berisi. Gemuk, gemuk, gemuk!
read more »