Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label kritis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kritis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

Qulil Haqqa Walau Kaana Murran

Jika anak-anak zaman sekarang dikenal sebagai generasi kritis sejak usia dini, entah zaman dulu yang berbeda atau saya saja yang menjadi segelintir orang yang menjalani masa kecil minim level kritis ya?

Meski bulan Ramadhan disebut sebagai waktunya menahan lapar dan dahaga serta emosi, tapi justru bulan ini juga identik dengan kuliner, apalagi untuk melengkapi waktu berbuka puasa (sabar... masih lama euy Magrib-nya). Namun, kali ini tiba-tiba saya teringat pengalaman masa kecil saat bersantap sahur di rumah Mbah (Nenek dari Ibu) yang memang sangat berdekatan dengan rumah Bude (kakak dari Ibu) dan juga tempat tinggal Om (adik dari Ibu).

Jadi, karena saat itu kami yang tinggal di luar kota ini baru datang untuk merayakan hari raya Idul Fitri di kampung halaman, maka saat sahur semuanya berkumpul di rumah Mbah yang letaknya di antara rumah Bude dan kediaman keluarga Om. Seperti biasa, yang menyiapkan lauk pauk hidangan untuk kami semua ya Bude, mungkin dibantu juga oleh Ibu dan orang dewasa lainnya. Dulu saya masih dianggap terlalu kecil untuk bisa bantuin, jadi tinggal terima beres.

Sebenarnya lauk pauk yang ada cukup bervariasi, tapi karena didominasi ikan-ikanan (masih jadi super picky eater ceritanya) akhirnya saya hanya mengambil nasi putih dengan lauk telur mata sapi yang memang sengaja disiapkan Bude untuk jaga-jaga jika para anak-anak tidak mau makan ikan.

Satu suapan pertama, cukup mengejutkan saya. Tapi tidak berani lapor pada Ibu karena kebetulan kami duduk dengan posisi yang agak berjauhan. Otomatis kalau mau laporan, tidak bisa dengan berbisik, dan nanti terdengar oleh semua orang. Menurut saya, telur itu terlalu banyak dibubuhkan garam (alias keasinan). Tapi demi menjaga perasaan Bude yang sudah susah payah menyiapkan semuanya, akhirnya kuputuskan diam dan segera menuangkan kecap (sebanyak mungkin) di atas nasi dan telur ceplok, dengan harapan rasa asinnya bisa terselamatkan oleh rasa manis kecap.

Ternyata harapan itu tidak sesuai kenyataan. Rasa asin yang bagi saya saat itu teramat sangat, tidak cocok dicampur dengan rasa manis dari kecap yang super banyak di piring saya. Satu suap saya paksa kunyah dengan waktu sangat lama dan mungkin ditambah ekspresi wajah yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sampai akhirnya mungkin Ibu saya sepertinya mengetahui ada keanehan dengan diri saya. Memang sudah biasa kalau saya makan dalam waktu lama karena sejak kecil memang termasuk anak yang susah dibujuk makan. Tapi kali ini bukan hanya sekedar malas makan karena ngantuk, ada yang tidak beres.

Waktu santap sahur itu, memang hanya saya seorang yang mengambil telur mata sapi sebagai lauk. Jelas tidak ada yang tahu bagaimana rasa lauk itu, selain saya. Maka setelah Ibu menegur saya untuk segera menghabiskan makanan karena waktu imsak hampir tiba, akhirnya beliau tahu apa yang membuat saya begitu lama menghabiskan hidangan sahur kali itu. Jelas setelah beliau juga mencicipi telur yang ada di piring saya. Setelahnya saya tidak ingat lagi apa akhirnya makanan itu saya habiskan atau terbuang? Apakah Ibu menyampaikan hal itu pada Bude atau tidak? Yang jelas sensasi menahan rasa asin bercampur manis kecap, sambil menahan supaya tidak memuntahkan makanan dari mulut itu, masih saya ingat. *Mungkin ini sebabnya kalau coba-coba masak hidangan gurih, hasilnya lebih sering dibilang kurang berasa. Lidah saya mungkin terlalu sensitif dengan rasa asin, sehingga bagi saya suatu makanan sudah cukup berasa, tapi tidak bagi orang lain. Daripada kebanyakan garam? Entar hipertensi kan? #NgelesDeh

Ckckckck, memang ya budaya Jawa kadang membuat kita menahan tawa miris. Ingin bersikap sopan malah membiarkan diri sendiri menderita hanya karena sebuah kata, sungkan (jangan tersinggung buat yang tidak merasa, tapi kebanyakan begitu sih). Kaki diinjak orang lain di angkot, malah diam saja atau minimal menegur dengan minta maaf duluan (harusnya yang minta maaf kan yang menginjak). Merasa lapar atau haus sangat saat bertamu, malah bilang "enggak usah repot-repot, tadi baru makan" (ya, kalau empunya rumah memang tahu si tamu cuma basa-basi, kalau empunya rumah super cuek, bisa jadi beneran kagak diambilin makanan/minuman tuh ^_*).

Hari gini jangan kan anak SD, anak TK pun sudah bisa dengan kritisnya mengomentari rasa makanan (tidak peduli siapa yang masak sekalipun ibunya sendiri), gaya berpakaian, sampai cerita sinetron. Jadi ingat salah satu pepatah yang pernah diajarkan guru saya di pesantren, "Qulil haqqa walau kaana murran". Katakanlah suatu kebenaran meskipun pahit (tidak nyaman didengar), kira-kira demikian arti pepatah arab tersebut.

read more »

Sabtu, 29 Desember 2012

Balita Sekarang: Ekspresif, Kritis, dan Demokratis.

Sedikit-sedikit bertanya apa, siapa, kenapa, kok bisa? Dan orang dewasa di sekitarnya akan memutar otak dengan keras supaya bisa menjelaskan dengan tepat (Sesuai usia anak) dan memuaskan rasa ingin tahunya. Begitulah kira-kira gambaran kondisi anak-anak (dimulai saat bisa bicara) zaman sekarang yang cenderung lebih kritis dan terbuka dalam menyampaikan pendapat. Jika ada yang bertanya mungkinkah ada anak-anak yang memiliki level rasa penasaran sangat rendah? Maka penulis akan mengakui menjadi salah satu anak tersebut di masa lalu.

Kisah aneh ini tentang penasaran seorang anak yang dipendam dalam waktu lama, dan mendapatkan jawaban dengan sendirinya setelah bertahun-tahun kemudian. Jadi begini, sejak mulai bisa membaca wajar kan kalau seorang anak paling tertarik dengan deretan huruf yang membentuk sepatah dua patah kata pendek? Salah satu benda yang sering kulihat di rumah adalah koleksi kaset milik orang tua. Jangan heran selain lagu anak-anak (zaman dulu masih banyak lagu anak-anak yang sedang hits), beberapa lagu orang dewasa yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade dan Nike Ardilla cukup akrab di telingaku saat itu. Nah, kebiasaan Ayah adalah menuliskan kaset koleksinya dengan tulisan Abu Nila. Masih belum menemukan keanehan? Mari kita lanjutkan cerita ini di paragraf berikutnya.

Jadi sejak SD itu dalam hati sedikit bingung kenapa di kaset yang bukan milikku malah tertulis namaku. Lagi-lagi karena si anak itu memiliki level rasa penasaran yang rendah, jadilah ia mengambil kesimpulan sendiri. Apa kesimpulannya? Tulisan Abu Nila itu merujuk pada penggabungan nama Ayah dan namaku. Maksudnya? Memang itu merupakan salah satu kata dari nama Ayahku. Padahal saudara-saudara ternyata kesimpulan bertahun-tahunku itu benar-benar salah alias sotoy banget.

Kira-kira enam tahun kemudian sekolah di pesantren, yang pelajaran utama dan paling awal diajarkan adalah bahasa Arab. Ternyata kata Abu itu berasal dari bahasa Arab, yang artinya bapak, ayah, papa, papi, atau sebutan lainnya untuk pasangan kata ibu. Oh, itu to maksudnya jadi kata Abu Nila di kaset koleksi Ayah dulu itu maksudnya milik bapaknya Nila. Kenapa hanya namaku yang dipakai bukan nama kedua adikku? Mungkin saat membelinya dulu memang baru diriku yang lahir ke dunia ini. Jawaban yang baru kudapatkan setelah bertahun-tahun ini, juga diperkuat dengan kebiasaan para ustad (sebutan guru di pesantren) yang baru memiliki anak dan mendapat panggilan Abu...... (Nama anaknya) dari beberapa rekan ustad lainnya. Sampai saat ini pun cerita ini tidak pernah kubagi dengan siapa pun ^_*.

Kisah lainnya yang juga tak kalah memalukan adalah ketika diri ini sejak SD menganggap bahwa setiap orang yang menikah maka sudah pasti tidak lama kemudian perutnya membesar dan segera memiliki adik bayi. Namun, keganjilannya adalah ketika diri berpikir itu semua terjadi tanpa adanya proses apapun dan tidak pernah sekalipun bertanya mengenai sebab musababnya ada adik bayi lahir (Anak-anak sekarang mungkin sudah bertanya tentang dari mana datangnya adik bayi, yang membuat orang tuanya mungkin kebingungan menjelaskannya). Hal tersebut masih tetap kuyakini sampai SMP (Seiring kemajuan zaman anak SMP saat ini mungkin sudah mendapatkan edukasi seks yang dulu dianggap sebagai hal tabu). Apalagi zaman dulu belum banyak kejadian pernikahan dini akibat kecelakaan, dan juga mayoritas kerabat yang baru menikah memang langsung memiliki anak, jadi menurutku secara otomatis Allah akan memberikan adik bayi hanya kepada orang yang sudah menikah.

Kenyataan menunjukkanku bahwa anggapanku tidak sepenuhnya benar. Ketika mulai melihat fenomena di masyarakat, ternyata ada orang yang bertahun-tahun menikah tidak punya anak, dan ada pula yang belum menikah (masih sangat muda) tapi perutnya bisa membesar dan kemudian punya bayi. Selain itu juga diperkuat dengan pelajaran Biologi yang menunjukkan perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Maka di penghujung SMP (khususnya setelah akil baligh) baru menyadari ternyata memang ada "sesuatu" baik berupa proses atau apa pun itu namanya (yang meski saat itu belum mengerti jelas) yang membuat adanya janin bisa tumbuh di rahim dan kemudian lahir menjadi seorang manusia baru bernama bayi.

Itulah kira-kira gambaran anak-anak masa lalu yang mungkin berbeda jauh dari kondisi saat ini. Misalnya sekarang anak TK pun nyaris sudah bisa dengan lugasnya menyatakan siapa artis idolanya, siapa teman yang disukainya (beberapa terang-terangan menyebut itu pacar), bahkan bisa menjadi komentator untuk orang yang umurnya lebih tua. Jika belum mempunyai anak, mungkin saudara sepupu atau keponakan kita lah yang memiliki tingkah unik seperti itu, yang menjadi hiburan tersendiri bagi kita sekaligus juga kadang sampai kehabisan kata-kata untuk menanggapi celetukan mereka.

Misalnya beberapa waktu lalu, saat di rumah ada seorang sepupu yang baru berusia sekitar 4,5 tahun dan kami saat itu menonton acara TV. Tahu kan salah satu boyband yang anggotanya terdiri dari 4 ABG cowok yang saat ini menjadi idola hampir semua anak-anak perempuan terutama yang masih SD. Ya, Coboy Junior. Dengan wajah sumringah si sepupu ini pun berkata, "Eh, ada itu... (diam sebentar karena agak lupa siapa nama salah satu personilnya), siapa itu yang ganteng tu namanya?" Glek, jelas kaget campur pengen ketawa mendengar balita bisa ngomong begitu. Kulihat TV dan asal saja menyebut nama Iqbal (berdasarkan fans-nya yang sepertinya lebih banyak yang mengidolakan cowok imut yang satu itu). "Iya, bener Iqbal." Sepupu kecilku pun membenarkan jawabanku. Bahkan menyebutnya sebagai pacar, hehe kalau ini baru kupahami maksudnya beberapa hari ini setelah terkahir kali dia main ke rumah. Ternyata yang dimaksud oleh balita ini, sebagai pacar adalah seseorang yang dianggap idola, disukai atau disenangi untuk menjadi teman/sahabat. Karena menyusul pernyataannya, kalau dia punya 3 pacar, yaitu: Iqbal Coboy Junior dan Sherina (maksudnya idolanya), dan nama salah satu teman di TK (teman perempuan) alasannya karena suka bermain bersama.

Di kesempatan lainnya sepupuku ini malah bisa mengomentari bahwa Aku lebih cantik jika tidak menggunakan kacamata. Aduh, seumur-umur saja diri ini tidak pernah memikirkan hal itu, wajar saja memakai kaca mata sejak kelas 1 SMP, dan saat itu belum puber dan mikirin penampilan, jadi sampai saat ini merasa kalau tidak pakai kaca mata justru tidak menjadi diri sendiri. Si kecil pun menyarankanku untuk memakai lensa kontak, yang menurutnya seperti saudara sepupunya yang lain. Wah, kepikiran beli lensa kontak saja enggak, apalagi memakainya di mataku. Daripada tidak bisa merawatnya lebih baik pakai kaca mata saja. Begitu pula jika melihatku memakai pakaian yang baru dia lihat, pasti dikomentari paling tidak kalau yang bagus pasti akan dipujinya.

Kekritisan dan keterbukaan yang dimiliki anak-anak zaman sekarang inilah, yang sebenarnya baik untuk masa depan mereka. Mungkin kelak 10 atau 20 tahun lagi kita tidak akan lagi mendengar kisah orang yang menjalani kehidupannya dengan keterpaksaan, mengalami kisah cinta terpendam yang bertahun-tahun tak terungkap dan hanya menyisakan sebuah penyesalan, dan tidak ada lagi orang-orang yang dianggap penjilat karena tidak berani mengungkap kebenaran meski itu pahit. Jadi kalau kelak ada yang bingung dengan berbagai perkataan atau tingkah laku anak-anak yang kritis namun membuat pusing, jangan dianggap negatif. Sejatinya mereka sedang belajar untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
read more »