Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Minggu, 07 Juni 2020

Salam Sukses Tanpa Batas Bersama MSI

Bismillah saya kembali blogging hari ini.

Banyak hal terlewati selama 2 tahun tidak muncul di sini. Kali ini mau kasih tahu bahwa sejak Desember 2017 saya resmi jadi member MSI. Sebuah perusahaan yang memproduksi skincare juga produk kesehatan yang saya sendiri sudah rasakan manfaatnya. Lokal punya ya gaess....

Juga sudah ikhtiar fokus menjalankan bisnisnya. Semoga kelak bisa konsisten posting mengenalkan produk-produknya sama kalian semua ya. Mau mampir ke IG atau FB saya Nila Amalia Husna juga silahkan. Sudah banyak saya posting tentang MSI.
read more »

Senin, 30 Oktober 2017

Just Writing

Trying to share just the happiness. Just keep the sadness, something dissappointing, or make me angry, in my heart. Just do the best, ignore who does not like my self. The haters always hate our positive things that we did, and who really loves us will always support us in every situations, without judging in everything we choice in our life.
read more »

Jumat, 20 Oktober 2017

Jumpa Lagi

Sudah terlalu lama hilang dari dunia blog. Terlalu banyak alasan dan penundaan untuk memulainya, yang seringkali berputar di dalam hal mengasuh anak. Ya, sudah hampir 3 tahun ini menjalani peran sebagai ibu baru untuk anak lelakiku yang diberi nama oleh sang Bapak, Ahmad Muhadjir Ilalloh.
Menjalani hari-hari yang tidak semanis tayangan iklan produk bayi dan anak, yang menggambarkan ibu selalu tersenyum. Kadang emosi juga tidak selalu baik terutama di usia anak yang sedang aktif-aktifnya mengeksplor lingkungan dan segala hal baru baginya.
Sekian dulu awal cerita saya sebagai salam pembuka untuk memulai blogging lagi (moga berlanjut sebagai wadah me time ibu baru satu anak ini). Hai blogger, Nila Ibunya Ahmad Aji datang lagi. Terima Kasih.
read more »

Rabu, 19 November 2014

Two Weeks to the Due Date

Dua hari terakhir sempat lebih cemas plus was-was di minggu ke-38 ini. Selain sesekali merasakan kontraksi yang ternyata masih kontraksi palsu, Mama juga menyatakan mungkin sekitar sehari atau dua hari kemarin itu bisa saja sudah waktunya melahirkan. Beliau menyatakan hal demikian berdasarkan penglihatannya mengenai penampakan perut saya.

Tapi, sekarang sedikit lebih tenang setelah tadi siang melakukan pemeriksaan ke dokter. Dokter menyatakan bahwa mungkin masih sekitar dua minggu lagi, sesuai Hari Perkiraan Lahir (HPL)-nya yaitu tanggal dua Desember. Namun, untuk pemeriksaan berikutnya sebaiknya dilakukan seminggu dari hari ini, untuk lebih memastikannya. Yang jelas kemungkinan besar belum waktunya persalinan dalam beberapa hari ini, karena menurut dokter posisi kepala si calon bayi yang belum benar-benar turun. Hehe ketahuan deh masih malas alias kurang gerak. Dokter menyarankan lebih sering jalan kaki setiap pagi dan sore, serta berlatih jongkok-berdiri. Selama ini sih (setidaknya dua minggu terakhir) rutin ikut kelas senam hamil, tapi malas mempraktekkannya sendirian di rumah. Kurang mood-nya kalau sendirian :) #Alesan

Alhamdulillah kondisi calon bayi sehat sejauh ini, dengan berat 2,604 gram kemudian posisi plasenta yang bagus, juga air ketuban yang cukup serta bening. Dokter juga menyarankan untuk tetap mengonsumsi banyak air putih, kalau ini sih enggak perlu disuruh memang bawaannya haus melulu, makanya minum terus. Meski efeknya lebih sering buang air kecil juga enggak apa-apa deh, daripada kondisinya nge-drop kan? Bukan apa-apa, sepertinya memang berasa pusing kalau kurang minum, sama efeknya seperti saat merasa pusing dan mual kalau menahan lapar. Sudah dulu ya, selamat malam dan selamat istirahat semuanya :).
read more »

Kamis, 13 November 2014

9 Bulan: Menghitung Hari

Memasuki bulan kesembilan (kalau hari ini sudah lebih, tepatnya sekitar 9 bulan lebih satu minggu atau 37 minggu). Masa dimana kata bidan yang mengajari senam hamil, adalah saat sebenarnya janin sudah siap untuk dilahirkan. Namun, maksimal 40 - 42 minggu pun masih ada janin yang 'masih betah' tinggal di tempat ternyaman, yaitu rahim bunda.

Beberapa waktu lalu juga kakak ipar saya yang usia kandungannya hampir sama, bahkan sudah melahirkan putra keempatnya. Semakin mengingatkan bahwa kurang dari satu bulan lagi saya juga mengalaminya. Kalau jadwal kunjungan ke dokter lagi (seandainya belum waktunya melahirkan) maka minggu depan dokter menyarankan saya untuk periksa dalam. Pemeriksaan dalam melalui vagina, menurut beliau bertujuan untuk mengetahui seberapa luas lebar panggul dan mungkin juga memeriksa apakah kepala janin sudah benar-benar di posisi yang seharusnya, jika ingin melalui persalinan normal.

Sejak usia kehamilan 32 minggu, saya memutuskan pindah dokter, meskipun sebenarnya dengan dokter yang pertama bisa dikatakan sudah cocok. Hal ini dikarenakan beberapa pertimbangan, maka saya memilih Rumah Sakit lain sebagai tempat melahirkan nanti, maka sebagai perkenalan dan memasukkan data rekam medis kehamilan, saya pun memilih salah seorang dokter, yang banyak direkomendasikan juga oleh para Bumil sesama peserta senam hamil. Alhamdulillah, sepertinya tipe-tipe dokter kandungan yang sebelum dan yang kali ini saya pilih, hampir sama. Yaitu ramah, sabar, santai, dan memotivasi untuk bisa melakukan persalinan normal, satu lagi tidak terlalu loyal memberi resep vitamin. Secukupnya saja, sesuai kondisi kesehatan pasiennya.

Minggu lalu saat di-USG, dokter mengatakan bahwa berat janinnya sudah mencapai 2,5 kg dengan jumlah air ketuban cukup serta bening, dan plasenta yang berada di tempat yang baik. Hanya saja meski posisi kepala janin sudah di bawah, kepalanya masih 'men-dangak' belum menunduk, sebagai posisi yang baik saat persalinan nanti. Jadi harus lebih banyak jalan kaki, senam hamil, dan aktivitas lainnya.

Entah dua minggu lagi, minggu depan, lusa, atau bahkan hari ini setelah saya menulis sebuah artikel di blog pribadi ini, si janin bisa kapan saja minta dilahirkan (kalau kontraksi palsunya memang sudah beberapa kali merasakan, tinggal tunggu kontraksi sebenarnya saja). Dan gelarnya pun berganti dari janin menjadi seorang bayi, dan dia akan menjadi anak dari seorang bunda bernama Nila Amalia Husna, juga junior dari seorang Ayah/Abah/Bapak/Abi atau apapun nanti sebutannya dari seorang Moh. Abdul Hakim.

Nak, kapan pun kamu lahir nanti, kita sama-sama berjuang ya. See you soon dear :).
read more »

Kamis, 09 Oktober 2014

Kala BUMIL Galau :(.

32 minggu alias delapan bulan sudah usia kandungan saya. Beberapa malam belakangan ini mimpi unik nan aneh. Diawali mimpi menyuapi dua anak laki-laki balita yang tidak tahu pasti atau  mengenal wajah mereka, kemudian di lain hari bermimpi menggendong seorang bayi perempuan tapi anehnya sudah bisa bicara meski dari postur tubuhnya seharusnya belum mampu bicara dengan lancar. Terakhir mimpi berbicara dengan orang tua yang menyarankan untuk melahirkan di RS 'U' dengan segala kelebihannya, tapi saya seperti ingin menyampaikan hal yang berlawanan dengan mengatakan di RS lain pun sama saja seperti itu.

Untuk mimpi yang terakhir mungkin memang diakibatkan kegalauan yang saya alami antara memilih RS 'U', RS 'H', atau memilih Bidan dekat rumah saat persalinan nanti. Rasa galau itu juga masih dibarengi juga dengan sedikit kekhawatiran dan dag dig dug, mengenai kapan saya akan benar-benar mengalami kontraksi (bukan kontraksi palsu) sebagai awal proses persalinan. Bukan kenapa-kenapa, tapi hanya takut ketika gejala itu muncul, saya tidak benar-benar menyadarinya, dan khawatir calon bayinya mengalami hal yang tidak diinginkan. Ya, wajar kan? Orang yang sudah hamil dan melahirkan lebih dari satu kali pun belum tentu prosesnya sama semua antara kehamilan pertama dan seterusnya. Apalagi ini untuk pertama kalinya saya mengalaminya? #Bunda-bunda yang lain begitu juga kan? :(.

Bismillah, mohon doanya semoga saya bisa mengendalikan perasaan dan segala pikiran negatif, serta bisa tetap santai dan menikmati bulan terakhir ini dengan baik. Semoga semuanya berjalan lancar sampai waktunya tiba. Selamat malam, salam sehat untuk semuanya :).

USG 30 Minggu, 1.515 gram.

read more »

Kamis, 04 September 2014

Late Post: Our First Anniversary

Hampir dua minggu terlambat dari tanggal 24 Agustus lalu. Tepat setahun sudah saya dan suami menjalani kehidupan rumah tangga, yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayangkan di benak kami masing-masing akan menjalani semua ini. Bukan hal mudah, tapi juga bukan sesuatu hal yang harus dihindari, karena Tuhan telah sangat baik memberikan segala nikmatnya, dalam masa-masa suka maupun duka.

Salah satu hal yang mungkin baru kami pelajari sedikit dari sebuah rumah tangga adalah, tidak ada bahagia dan duka yang abadi dalam biduk rumah tangga. Sama seperti hidup yang tidak mungkin luput dari masalah, rumah tangga juga tidak selalu mulus, selalu penuh canda tawa bahagia. Sesekali bingung, resah, cemas, atau bersedih saat menghadapi situasi sulit juga menjadi proses pembelajaran berharga untuk menjadi lebih dewasa. Mungkin pembelajaran menjadi dewasa dalam berbagai situasi, baru benar-benar terasa saat sudah berstatus istri/suami.

Jangankan pasangan yang menikah tanpa proses pacaran atau PeDeKaTe terikat dalam waktu lama, mereka yang mengalami pernikahan dengan status pacar atau tunangan bertahun-tahun pun bisa mengalami banyak hal mengejutkan di awal. Kami pun mengalami proses adaptasi yang agak rumit. Bukan hanya sekedar adaptasi antar kami berdua, tapi juga dengan keluarga besar kedua belah pihak (setidaknya hanya dalam pikiran dan ketakutan dalam hati kami masing-masing untuk berbaur dengan para anggota keluarga lainnya). Waktu itu mungkin karena masih canggung dan belum bisa saling terbuka, ketakutan seperti itu hanya dipendam. Alhasil seperti ada masalah mengganjal yang sempat membuat salah paham.

Namun, itu semua Alhamdulillah sudah terlewati dan kini kami sudah bisa saling berusaha terbuka atas segala hal, serta mencoba untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Bukan kesempurnaan yang dicari, atau kesuksesan instan dalam segala aspek kehidupan yang menjadi prioritas utama. Tetapi bagaimana sama-sama belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik serta mau perlahan-lahan memulai semuanya dari nol.

Selain tentang masalah sebagai guru dalam sekolah kehidupan, satu hal yang kami sadari dari sebuah pernikahan, adalah Tuhan tidak pernah salah menentukan apa pun. Sosok yang tepat, waktu serta tempat yang tepat. Salah satunya mengenai calon keturunan kami, yang saat ini sudah hampir tujuh bulan ada di dalam kandungan saya. Banyak kerabat yang bahkan menikah beberapa bulan setelah kami, sudah melahirkan putra/putrinya saat ini. Sedangkan kami masih menunggu sekitar hampir tiga bulan lagi baru bertemu dengan sosok mungil itu. Mungkin ini waktu yang terbaik, saat kami sudah mulai bisa saling terbuka, dan menerima kehadiran pasangannya masing-masing (yang dulu mungkin kami anggap terlalu cepat). Mungkin Tuhan tidak ingin calon buah hati kami hadir saat orang tuanya masih menjalani hubungan seperti orang asing alias kurang akrab.

25 Minggu (19 Agt'14). Semakin aktif bergerak dan menendang dari dalam sana.
Intinya, terima kasih Tuhan atas semuanya. Juga atas anugerah calon anak kami, yang telah Engkau beri nyawa di rahimku pada satu tahun pernikahan kami. Semoga kelak kami menjadi orang tua yang baik, serta selalu menanamkan nilai-nilai dalam keluarga kecil kami. Semoga masalah apa pun kelak yang kami hadapi, bisa disikapi dengan kedewasaan, lapang dada, sabar dan syukur yang tidak pernah putus. Aamiin.
read more »

Senin, 11 Agustus 2014

Pantesan Berat ^_*

Lupa kapan terakhir menimbang berat badan, tapi kalau sebulan lalu itu BB (Berat Badan) saat pemeriksaan kehamilan di RSIA Hermina Ciputat, berada di angka 49,65 Kg. Kemudian kalau tidak salah saat pertengahan bulan puasa sempat turun sedikit dan akhirnya lupa sampai hari ini baru menimbang BB lagi.

Wow, sudah bergeser ke angka 53 lebih sekian (hampir 54 Kg) berat badan saya sekarang. Dapat dikatakan sejak awal kehamilan sampai saat ini sekitar 7 - 8 Kg sudah BB saya mengalami kenaikan (usia kandungan tepat enam bulan). Mungkin pasca lebaran selain pola makan berubah dari saat puasa, mau tidak mau saya mengonsumsi banyak asupan gula dari berbagai jenis makanan dan minuman yang disuguhkan saat bertamu ke rumah sanak saudara.

Meski banyak yang menyediakan air putih, tapi masih juga disuguhi minuman manis seperti sirup, sari buah kemasan, atau teh manis (beberapa di antaranya bahkan super manis menurut saya). Tidak sopan bukan rasanya, kalau tidak menghabiskan satu gelas minuman yang sudah susah payah dibuat atau dibeli oleh tuan rumah? Maka mengakalinya sesampainya di rumah harus segera dilunturkan dengan minum banyak air putih.

Selain dari makanan dan minuman, mungkin juga aktivitas fisik saya pasca lebaran ini memang cukup signifikan berkurang. Maklum saja sejak H+ 3 Idul Fitri tahun ini, saya ikut suami mudik ke rumah orang tuanya (sebelumnya tinggal di kediaman orang tua saya). Kami memang masih berlama-lama karena mungkin lebaran Idul Adha nanti kami belum tentu bisa mudik, mengingat usia kehamilan saya nanti akan mendekati waktu persalinan.

Sebenarnya, baik di rumah orang tua saya atau rumah orang tua suami sama saja, kami mendapat kamar di lantai 2, yang tetap saja masih beraktivitas fisik minimal naik turun tangga. Tetapi karena orang tua suami juga mengelola pondok pesantren, jadi untuk memasak makanan, mencuci peralatan makan, dan membersihkan keseluruhan isi rumah, masih dapat dibantu oleh para santri yang mondok. Jadi aktivitas fisik selama ini selain pergi silaturahim ke sanak saudara, ya hanya sesekali mencuci + menyetrika pakaian (yang berat-berat pun masih lebih banyak dikerjakan suami), dan sekedar membersihkan kamar tidur sendiri.

Berbeda dengan di rumah orang tua saya, yang sejak lama sudah tidak memiliki lagi asisten rumah tangga (belakangan ada yang membantu mencuci, menyetrrika, dan menyapu plus mengepel rumah yang datang dua hari sekali). Urusan memasak dan mencuci peralatan makan dan segala isi dapur kami lakukan sendiri, tapi lebih dominan Mama saya yang lebih sering memasak. Tapi setidaknya setiap selesai makan piring atau gelas akan dicuci sendiri oleh siapa pun yang memakainya. Tanpa disuruh lagi, karena memang sudah lama terbiasa demikian, bahkan saat masih ada asisten rumah tangga yang menginap di rumah sekalipun, Mama selalu mengajarkan pada kami anak-anaknya kalau masih bisa melakukan pekerjaan rumah sendiri maka lakukan tanpa teriakan "Mbaaaaak..." sebelumnya.

Salah satu pesan beliau adalah, sekaya apa pun kita nanti, meski bisa membayar banyak jasa asisten untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga, tetap saja kita juga tidak boleh kaku dan bisa melakukannya sendiri. Minimal supaya bisa mengajari dan membetulkan pekerjaan para asisten yang tidak semuanya sesuai keinginan kita. Dan kalau dipikir-pikir, zaman sekarang sulit mencari asisten yang cocok dan tidak membuat emosi, serta awet tahan lama mau menjadi bagian dari keluarga (pengalaman sebelum-sebelumnya). Daripada capek batin lebih baik capek sedikit fisiknya kan? Malah sekalian beraktivitas fisik, dan kerjaan rumah tangga juga puas beresnya karena kita sendiri yang melakukan.

Kalau bisa... Saya ingin kelak, jika suatu saat tinggal di rumah sendiri (dengan suami dan anak-anak kami kelak tentunya) bisa meng-handle pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga atau baby sitter. Memang tidak mudah tapi banyak juga sepertinya para ibu (bahkan yang masih muda) mampu melakukan hal tersebut. Alasan utamanya adalah supaya anak di rumah benar-benar merasakan kasih sayang Bundanya dari segala hal yang ditemuinya sehari-hari. Mulai dari bangun tidur, urusan makanan, perhatian dan kasih sayang, serta anak akan menjadi lebih dekat (terbuka) pada orang tuanya dibandingkan orang lain. Aamiiin...

Hampir lupa sama judulnya, yaitu tentang BB saya yang lumayan bertambah banyak. Pantas saja saya semakin merasa cepat gerah dan gerakan tubuh saya melambat. Pertambahan BB ini juga mungkin karena 'Nanda' (calon bayi yang belum kami tentukan namanya) juga berkembang. Menurut salah satu sumber, di masa ini berat janin sudah mencapai sekitar setengah Kilogram. Perut saya memang sudah tampak membesar, bahkan semalam baru saya sadari satu hal. Melarnya perut membuat pusarnya hampir tidak memiliki lubang lagi alias bodong hehe...

Semalam juga saya sangat serba salah mengenai posisi tidur, karena 'Nanda' yang semakin besar juga semakin aktif bergerak. Saat saya memiringkan badan ke arah kiri terutama, entah tangan, kaki, atau kepalanya seolah menggelitik perut saya sampai saya tidak tahan akan rasa gelinya dan tersenyum sendirian sembari secepat mungkin ganti posisi tidur. Baru sebentar miring ke kanan 'Nanda' menggelitiki perut saya kembali seolah ingin mengajak berkomunikasi Bundanya. Waktu terasa cepat berlalu ya Nak, sekitar tiga bulan lagi kita bisa benar-benar bertatap muka. Aamiiin Yaa Rabbal 'Aalamiiin...
read more »