Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label jodoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jodoh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Oktober 2013

Almost 2 Months

Melihat Daisypath dan tersadar akan suatu hal yang setahun atau bahkan setengah tahun lalu belum jadi pemikiranku sama sekali. Hampir genap dua bulan statusku berubah. Oh, mungkin bukan berubah tapi bertambah. Tidak hanya menjadi anak dari orang tuaku, tapi juga menjadi seorang istri serta menantu dari sosok yang kupanggil 'Ibuk.'

Mayoritas yang 'KEPO' sejak masa pra sampai pasca akad, adalah pertanyaan bagaimana kami bisa bertemu. Mayoritas pula melontarkan tebakan awal "Teman sekolah/kuliah ya?" Atau salah satu sesepuh yang sudah menduga kemungkinan terbesar alasan kami bisa menikah karena dijodohkan (baca: memerlukan perantara), dengan lugas bertanya siapa sosok Mak Comblangnya. Saat itu aku hanya menjawab dengan kalimat "Wallahu a'lam." Maksudnya memang karena diri sendiri pun tidak tahu pasti siapa yang paling tepat disebut sebagai comblangnya. Tapi jawabanku itu malah dianggap sebagai jawaban untuk menyembunyikan sebuah fakta. Padahal apa yang mau ditutup-tutupi, kami sendiri kadang masih tidak menyangka akhirnya sampai di tahap yang seserius ini.

Hari gini dijodohin? Mungkin kalimat itu yang akan muncul di benak sebagian besar manusia yang merasakan hidup di zaman moderen ini. Tapi pada kenyataannya memang demikian adanya, bahkan mungkin ada semacam fenomena gunung es. Dimana jumlah pasangan yang menikah melalui perjodohan (masa kini) hanya sedikit yang tampak, padahal jumlahnya masih sangat banyak yang tidak terdeteksi.

Kok mau-maunya sih dijodohin? Enggak takut kalau tiba-tiba enggak cocok karena sebelumnya belum pernah kenal sama yang bersangkutan?

Enggak bohong, kalau (mungkin) awalnya mereka yang dijodohkan akan mengalami masa kegalauan luar biasa. Apalagi mereka yang sebelumnya tidak ingin buru-buru melepas status lajang, atau masih merasa belum siap untuk memiliki keluarga sendiri. Saya sendiri sama sekali tidak pernah berpikir akan menikah di usia 25 tahun. Bukan berprasangka buruk, tapi mengingat ke-kuper-an ditambah masa remaja yang tidak pernah dilalui dengan kenangan pacaran satu kali pun, membuat saya merasa wajar jika kelak tidak bisa melepas masa lajang tepat di usia 1/4 abad (Menurut kebanyakan orang Indonesia, wanita memang sebisa mungkin pada usia 25 tahun itu minimal sudah menemukan calon pendampingnya).

Maka jangan ditanya bagaimana kondisi psikisku saat itu. Memang dari luar tidak terlalu nampak aneh, karena ada satu sisi dalam diri yang membuat itu semua tidak lepas kontrol keluar sebagai perwujudan emosi menolak. Yaitu sisi lain hati nurani yang berusaha memahami bahwa apa yang dilakukan orang tua tidak lain tidak bukan yaitu demi kebaikan buah hatinya. Satu hal yang tidak bisa dipahami seseorang yang belum merasakan menjadi orang tua. Meski pergolakan batin sempat terjadi, toh pada akhirnya diri ini mengambil kesimpulan akan suatu hal.

Sesuatu yang ingin kita hindari sejauh mungkin dan dengan berbagai cara apa pun, tetap akan kita jalani jika itu sudah menjadi ketentuan Tuhan. Sebaliknya sebesar apa pun keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu (misal mengejar cinta seseorang), akan ada saja halangan untuk bisa bersatu. Maka di saat emosi mulai melunak, masa saat itulah diri ini mulai mencoba memasrahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Tuhan jika ini memang jalannya, kuatkan kami, jadikan kami ikhlas, dan jadikan orang tua kami bahagia, dengan demikian seiring berjalannya waktu kami pun bisa merasa bahagia seolah pernikahan ini tidak melalui tahapan 'rasa terpaksa' di awalnya. Mengingat petuah seorang kakak kami, bahagia enggak bisa didefinisikan dan dicari, tapi bahagia itu kita yang ciptakan. Bagaimana pun caranya, jika memang sudah ketentuan Tuhan, maka insya Allah itulah yang terbaik. Sebab Tuhan memberi yang kita butuhkan, meski tidak selalu yang kita butuhkan itu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Keep happy gals ^_*.
read more »

Rabu, 20 Maret 2013

One of Life's Mystery

"Afgan - Jodoh Pasti Bertemu"
 
Andai engkau tahu
Betapa kumencinta
Selalu menjadikanmu
Isi dalam doaku

Kutahu tak mudah
Menjadi yang kauminta
Kupasrahkan hatiku
Takdir kan menjawabnya

Jika aku bukan jalanmu
Kuberhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu

Jodoh pasti bertemu...

Andai engkau tahu
Betapa kumencinta
Kupasrahkan hatiku
Takdir kan menjawabnya

Jika aku bukan jalanmu
Kuberhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu

Jodoh pasti bertemu...*

*Kalau ada kata-kata yang salah, maaf ya... Maklum suara lagunya agak kalah sama gemuruh hujan.


Dengan sok tahu tingkat tinggi, saya tebak bahwa lirik lagu tersebut nyaris sesuai dengan pengalaman hidup mayoritas manusia di dunia ini. Baik yang berujung pada kebahagiaan atau 'memaksakan' bahagia dengan melepaskan seseorang apapun alasannya. Intinya adalah sebuah kata yang terdiri dari lima huruf. J-O-D-O-H.

Satu hal yang misteri dan sudah ada ketetapannya dari Sang Maha Kuasa, disamping maut dan rezeki. Sesuatu yang katanya tidak hanya sekedar ditunggu tapi juga harus dicari. Tapi ujung-ujungnya juga kembali pada Kuasa Ilahi. Yang tidak semua keputusan finalnya dapat diterima mentah-mentah dengan hati lapang. Beberapa sempat terpuruk, jika sosok yang diharapkan menjadi jodohnya, ternyata bukanlah jodoh yang ditentukan Tuhan. Tapi beberapa di antaranya juga bisa bangkit dan mulai menyadari bahwa Tuhan akan memberikan ganti jodoh yang sebenarnya sudah tercatat di "buku khusus" yang tersimpan di "langit."

Sekuat apa pun usaha, dan walaupun berjuta kali kita sebut nama seseorang dalam setiap doa, tidak akan tercapai apa yang diharapkan jika Tuhan berkehendak lain. Lalu jika keinginan itu tidak sesuai dengan keputusan Sang Maha Kuasa, bagaimana? Lepaskan harapan itu.

Saya tidak mengatakan hal itu mudah untuk dilakukan. Bahkan kadang kita memerlukan waktu lebih untuk menyembuhkan hati. Wajar jika sempat merasa sedih, namun berusaha tetap bangkit dari keterpurukan juga harus.

Kembali lagi tentang misteri jodoh. Misteri adalah sesuatu yang tidak bisa dengan cepat kita temukan jawabannya. Kadang hasil akhirnya tidak pernah bisa kita prediksikan. Relakan, lepaskan, dan perlahan kikis harapan yang mungkin saat ini seolah hanya angan semu. Pasrahkan segalanya pada Sang Maha Cinta. Jika memang suatu waktu yang entah kapan itu, kita masih berjodoh dengan sosok itu, Tuhan akan memberikan jalan untuk bertemu. Jika tidak, maka takdir itulah yang dihadiahkan Tuhan untuk kita. Semoga hati kita bisa lapang menerima segala ketentuan-Nya.

Berikut ini salah satu kisah nyata, yang membuktikan bahwa "jodoh tak akan lari kemana" itu benar. Walaupun awalnya tidak direstui keluarga, tapi mereka tidak bertindak konyol dengan memaksakan cinta dan melawan orang tua. Pada akhirnya mereka bertemu kembali dalam keadaan sudah sama-sama 'sendiri' dan memutuskan kembali melanjutkan kisah cinta pertama yang terputus, menjadi cinta yang terakhir. Langsung saja ke lokasi ya: Berpisah 60 Tahun, Pasangan Romantis Ini Akhirnya Menikah
read more »

Kamis, 04 Oktober 2012

Judulnya Apa Aja Boleh...

Perempuan, sulung, dan sudah berkepala dua (hiii serem), maksudnya berusia 20 tahun lebih apalagi nyaris 1/4 abad. Glek, serasa ada hujan es menimpa disusul dengan sebilah pedang besi menancap di jantung. Tatkala Sang Bunda menyampaikan kekhawatirannya, dengan sebuah pengharapan besar supaya Sang anak tidak menyesal di kemudian hari jika menikah di usia yang telat. Seperti halnya orang tua manapun di dunia yang mengharapkan kebahagiaan untuk anak-anaknya, setiap anak pun punya harapan ingin selalu membahagiakan orang tuanya. Apalagi dengan kenyataan bahwa sebesar apa pun kasih sayang atau sebanyak apa pun materi yang mampu diberikan anak pada orang tua, tak akan mampu membalas semua yang telah dikorbankan orang tua pada anaknya.

Namun, kadang kenyataan tidak sejalan sesuai harapan. Terkadang tidak semua yang orang tua harapkan akan sejalan dengan kenyataan atau pun sekedar harapan anak. Terutama salah satu hal yang kerap menjadi konflik, atau hanya sekedar uneg-uneg hati terpendam kalau ada yang menyinggung tentang jodoh. Huft, mungkin acara keluarga, nikahan, atau hari raya adalah moment dimana manusia-manusia dewasa muda mulai diteror oleh sebuah pertanyaan atau segerombolan pertanyaan (antara benar-benar bertanya atau sengaja menyindir meski sudah tahu kenyataannya), "Mana pacarnya?", "Mana calonnya?", "Kapan nikah?". Meski berusaha bisa menjawab dengan tersenyum, "Segera, doain aja ya, atau mau nyariin?". Gubrak. Asli deh meski kebanyakan mereka yang ditodong pertanyaan itu memasang wajah ramah (atau terpaksa ramah karena yang nanya lebih sepuh?), di lubuk hati terdalam pasti ada setitik rasa BT. Sambil berharap bisa secepat mungkin menghilang dari kerumunan itu, apalagi kalau di antara anggota keluarganya yang berani nikah muda, berusia di bawah orang yang ditanyain.

Emang sih katanya menikah itu ibadah, menjauhkan maksiat, dan terutama kata orang tua dulu, semakin muda usia perempuan saat menikah, maka ada lebih banyak keuntungan daripada menikah di atas 25 tahun. Tapi, bukankah semua itu ada yang mengatur, Tuhan. Memang manusia disuruh usaha, tapi usaha buat mereka yang juga sudah benar-benar siap secara mental khususnya untuk masa depan. Lah, kenyataan yang ada meski di zaman modern pun, orang tua semakin risau saat anak terutama perempuan berusia 20 tahunan masih cuek bebek dan belum mau memikirkan tentang pernikahan, dan mulailah nyomblang-nyomblangin alias menjodoh-jodohkan anaknya dengan kerabat dari kerabat temannya. Atau dengan teman dari teman dari kerabatnya (halah,, ngelantur).

Fenomena ini mengingatkan akan kisah Siti Nurbaya, yang diharuskan mau menerima perjodohan dengan pria tua namun berharta benda melimpah, dengan harapan orang tuanya yaitu anaknya bahagia karena memilih juragan kaya daripada pemuda sederhana yang sebetulnya telah berhasil mendapatkan hati seorang Siti Nurbaya. Tentu saja sekarang ini perjodohan tidak hanya berdasarkan alasan materi seperti kasus Siti Nurbaya, namun lebih dari itu. Karena agama, ilmu, latar belakang pendidikan, dan segala hal yang memang tidak berkutat di status sosial atau harta duniawi saja. Meski banyak yang tanpa perlawanan menerima perjodohan macam ini, ada pula yang berkeras ingin mencari sendiri terlebih dahulu. Atau ada sebagian lainnya yang tidak melawan namun dalam hati tetap berharap tidak jadi dengan seseorang yang dipilihkan orang tuanya, hanya demi satu alasan. Berusaha tidak mengecewakan orang tua, meski hati belum bisa menerima perjodohan.

Banyak mereka yang bahagia karena dijodohkan (kata orang-orang), tapi bukan tidak mungkin banyak juga yang hanya berpura-pura bahagia demi melihat orang tuanya bahagia. Melihat bagaimana orang tuanya bergitu antusias pada si cowok yang sama sekali belum dikenalnya, tentu tidak akan membuat sang anak tega secara tegas menolak hal itu. Apalagi jika kenyataannya sang anak memang tidak memiliki hubungan terikat dengan laki-laki yang biasanya disebut pacar, kekasih, atau apa lah itu namanya. Namun, ketika hati sudah terikat pada satu nama, meski hanya cinta diam-diam pada orang yang jauh dari harapan orangtua, seketika itu pula sulit berkata jujur. Dilema antara galau berkepanjangan atau harus membuat orang tua sedih karena sang anak yang hanya bisa memendam rasa selama bertahun-tahun.

Haruskah seseorang menikah? O iya katanya itu ibadah. Tapi kenapa banyak mereka yang mengkhianati sebuah janji yang mereka buat sendiri? Ada yang selingkuh, poligami tanpa sepengetahuan istri pertama, atau bahkan dengan mudahnya bercerai hanya karena alasan sudah tidak ada kecocokan lagi? (alasan simpel para artis kalau kabar perceraiannya muncul di infotainment) Mungkin begitulah daur hidup manusia. Menjadi janin di rahim, melewati masa bayi, anak-anak, remaja, menyelesaikan pendidikan, seolah stigma orang-orang yang benar-benar bekerja ya harus masuk 5 hari seminggu dari jam 8 sampai jam 5 sore, kemudian menikah, punya anak melanjutkan pewaris gen keluarga, lalu membesarkan anak dan kemudian baru tenanglah untuk meninggalkan dunia.

Padahal umur, ajal, itu misteri Tuhan. Maka, tidak harus ketika orang-orang seusia diri kita sudah pada punya anak, lantas diri ini menjadi minder karena belum bertemu soulmate. Ketika orang-orang seusia diri kita sudah punya mobil dan rumah pribadi, janganlah kita selalu memandang diri rendah dan mereka yang tinggi, paling sukses dan bahagia. Kita dapat melakukan hal-hal lain yang tidak bisa mereka lakukan. Karena sukses dan bahagia tidak diukur dari pandangan masyarakat. Kita yang tahu diri sendiri apa yang diinginkan, dicapai dan dikerjakan untuk mengisi hari-hari berkurangnya masa hidup. Passion, sebuah kata yang sering terdengar namun masih jarang menemukan mereka yang benar-benar hidup dengan passion-nya.

Karena hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti. Bagi diri sendiri dan mencoba berarti bagi mereka yang menyayangi kita. Mencoba jujur meski harus menyisakan sedikit luka, memang berat. But, keep trying to tell the truth of our heart. I'll try, you'll try, and we'll try to do the best.


read more »