Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wanita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2020

Jamu yang Bikin Nagih Rasanya.

Abis anak merem, jadi ingat punya PR blogging hari ini. Tengok galeri cari inspirasi, akhirnya mau review jamu terlezat sedunia menurut saya🤩
Manjavikan namanya. Jamu tapi rasanya mirip milkshake jeruk. Segar tanpa aroma khas jamu, juga tanpa ampas. Cara bikinnya juga gampang, tinggal seduh pakai air panas lalu terserah mau diminum hangat atau dingin tambah es. Kapan lagi minum jamu rasa P*p Ice?
read more »

Senin, 16 Desember 2013

How Much My Weight Today?

Dulu sih cuek bebek aje ye setiap kali dikomentari gemuk-an atau kurus-an. Tapi kali ini aneh banget dibilang begitu, pasalnya sebelum dibilang gemuk-an ditanya dulu "Udah ngidam belum?". Kebanyakan orang bertanya demikian adalah pemilihan kalimat semi halus untuk bertanya "Udah hamil belum?".

Meskipun seperti pernah saya singgung di artikel lama saya, kalau sebenernya yang ngidam bukan cuma wanita/ibu hamil. Kenapa saya bedakan menjadi kata wanita dan ibu? Soalnya bagi mereka yang belum pernah melahirkan anak, tapi sudah hamil kan belum benar-benar jadi ibu biologis, masih berstatus wanita hamil. *Penting ga sih dibahas? hehe...

Maksud dari ngidam adalah (Menurut definisi asal alaNila), meng-idam-idam-kan atau menginginkan sesuatu yang dirasakan amat sangat ingin, sampai terlalu dipikirkan sebelum keinginan itu tercapai. Meskipun memang kadang ngidam ala mereka yang sedang mengandung, lebih unik dan kadang amat sulit diwujudkan.

Kalau tempo hari yang bertanya bukan sesepuh, maka bisa dengan santai saya bercandai saja menimpalinya. Udah dong ngidam waktu beberapa bulan lalu pengen banget makan somay setelah sekian bulan tidak menyantap jajanan favorit itu sejak SD dulu. Alhamdulillah kesampaian, tapi bukan ngidam bawaan jabang bayi, tapi pelampiasan setelah sekian bulan mengurangi makanan/komponen bahan makanan yang dapat memicu timbulnya jerawat. Biasa... Pre wedding yang bikin senewen semua pihak, apalagi urusan wajah dan tubuh calon mempelainya.

Sekian curcol malam ini, dan entah kenapa saya merindukan berdiri di atas bathroom scale buat menimbang bobot tubuh ini. *Ck..ck..ck.. Penasaran deh.
read more »

Sabtu, 07 Desember 2013

Isi atau Kosong?

"Gemukan ya?", "Berat badannya berapa sekarang?", "Naik berapa kilo dari berat badan sebelum nikah?" 
Pertanyaan yang mulai sering ditujukan kepada para wanita yang baru menikah. Secara tidak langsung pertanyaan tersebut akan mengarah kepada kalimat-kalimat tanya berikut ini. 
"Udah isi belum?", "Udah telat haid kah?", atau "Kapan nih perutnya ada 'isi'nya?"

Pertanyaan tersebut makin gencar digaungkan oleh kerabat, yang melihat pipi wanita yang ditanya, tampak chubby. Padahal bisa jadi memang dari sono-nya tembem, atau saat itu sedang mengalami sakit yang membuat pipi membengkak. Seperti yang saya alami beberapa waktu lalu.

Memang sih berat badan mengalami kenaikan beberapa kilogram dari berat badan sebelum melepas status lajang. Pipi pun tidak dapat dikatakan termasuk kategori tirus, apalagi bentuk wajah saya juga cenderung bulat. Namun, satu hal yang makin membuat saya terlihat menggemuk, adalah pipi yang bengkak karena ada bagian gusi yang bengkak.

Berawal dari pernyataan teman dari orang tua yang sedang bertamu ke rumah bersama seorang putrinya (dua tahun lebih dewasa dari saya, tetapi belum menikah), tentang saya yang terlihat gemukan. Lalu putri dari kerabat orang tua kami itu, secara gamblang asal nyeplos, "Udah isi ya?". @#$%^*Isi makanan kalee....

Dulu sewaktu belum menikah dan bertemu teman yang sudah menikah, merasa juga saya sering bertanya hal serupa. Tapi ternyata setelah menjadi sasaran yang ditanya, rasanya gimana gitu? Aneh dan agak risih juga. Padahal saya dan suami belum terlalu ngotot ingin cepat dapat momongan atau tidak juga menunda. Se-dikasih-nya dari Sang Maha Kuasa saja. Apalagi buat pasangan yang memang sudah lama mendambakan kehadiran bayi, pasti rasanya super BeTe ya ditanya demikian?

Curcol dikit boleh kan ya? ^_*


read more »

Jumat, 08 November 2013

Poligami Masa Kini? Nyaris Nihil Tanpa Perselingkuhan

Beberapa waktu belakangan ini sempat ada satu kasus menghebohkan terkait pembunuhan berencana. Motifnya adalah karena percecokkan atau lebih tepatnya korban (yang merupakan istri siri dari dalang pembunuhan) konon sempat menuntut haknya sekaligus meminta sang Suami untuk menceraikan istri pertamanya.

Fokus saya bukan pada kasus tersebut, tapi terkait tentang poligami yang saat ini sepertinya semakin marak diberitakan media, yang mayoritas ada saja permasalahan rumitnya. Memang agama (Islam salah satunya) tidak melarang para pria untuk memiliki istri lebih dari satu (namun tetap batasnya 4 saja). Namun, sebagian besar kaum wanita (termasuk saya) kurang simpati terhadap permasalahan ataupun kepada pelakunya. Bukan apa-apa poligami yang marak terjadi di zaman sekarang tidak benar-benar murni poligami setelah ada niat dan cara yang baik pula. Misal menikahi janda beranak banyak supaya anak-anaknya ada yang menanggung beban hidupnya, atau dilakukan setelah meminta izin baik-baik kepada istri pertamanya.

Seringnya malah pelaku poligami baru terungkap setelah ada kasus A, B, C, dll, yang mengungkap fakta bahwa suami berselingkuh (dengan atau tanpa ikatan pernikahan). Begitu ketahuan baru meminta izin pada istrinya untuk menikah lagi. Gubrakkk!!! Please deh siapa sih yang enggak sakit jika diperlakukan demikian. Meski tidak sedikit yang merasa emosi dan berujung di sidang perceraian, tapi banyak pula para istri yang dengan ketegaran luar biasa mau memaafkan suami mereka dan memberi kesempatan kedua. Ada yang akhirnya kembali menjadi keluarga utuh sebagai pasangan monogami, atau sebagian lainnya mau mengikhlaskan dirinya diduakan, ditigakan, atau bahkan diempatkan demi keutuhan keluarga dan anak-anak. Memang sih konon akan ada balasan surga juga bagi istri yang rela berbagi suami, tapi kalau ada jalan lain untuk masuk surga, enggak harus menjadi bagian dari mereka yang menjalani kehidupan di-poligami kan? #ButuhMentalYangSuperKuatTuh

Perselingkuhan selalu akan menimbulkan dampak yang buruk. Tidak hanya bagi hubungan antar pasangan tapi juga untuk perkembangan psikologis anak. Orang bilang bahwa cinta pertama anak laki-laki adalah ibu, sebaliknya cinta pertama dari anak perempuan yaitu ayah. Saya setuju, terutama bila kita hubungkan dengan fenomena perselingkuhan (dulu identik pria yang melakukan, sekarang peluangnya sama saja).

Jika pelakunya si ayah yang selingkuh, maka kemungkinan yang paling tersakiti adalah perasaan si anak perempuan. Bahkan bukan tidak mungkin si anak akan trauma dan memilih untuk menghindari berhubungan dengan pria, lebih parahnya anti pada pernikahan. Begitu pula sebaliknya saat si ibu berselingkuh dan anak laki-laki menjadi saksi perselingkuhan ibunya, saya melihat beberapa kasus yang terjadi pada selebritis di infotainment, sang anak lelaki akan menolak tinggal dengan ibunya meski mereka masih di bawah umur. Padahal konon katanya hak asuh anak yang masih di bawah umur, ada di tangan ibunya.

Karena satu dan lain hal tulisan kali ini sempat mengendap hampir seminggu di draft, sebelum akhirnya saya selesaikan. Dan meski malam ini sudah selesai (atau mungkin ngambang ya akhirnya?) saya sedang malas mengedit atau memikirkan nyambung tidaknya tulisan ini. Mungkin pikiran saya sedang agak sedikit kusut, tapi tetap memaksakan diri menulis supaya otak tetap dipaksa memikirkan hal positif dalam keadaan apapun. Happy week end all....
read more »

Senin, 28 Oktober 2013

Ketika PMS Menyapa

PMS itu Pre Menstrual Syndrome
Identik juga dengan istilah untuk Perhatian! (sedang) Masa Sensitif
Beberapa di antaranya mengalami Pengen Makan Selalu yang bikin jarum timbangan geser ke arah kanan

Saat memasuki masa PMS kadang para perempuan dianggap berlebihan
Terutama oleh kaum Adam yang tidak mengalami PMS
Padahal tanpa disadari PMS memang akan menjadi salah satu alasan mengapa kami bisa uring-ringan tidak jelas selama (minimal) satu hari dalam satu bulan

Saat membuat tulisan enggak jelas ini, mungkin terkesan saya adalah perempuan paling lebay yang mengkambinghitamkan PMS atas segala kepenatan yang sedang dirasa.

Padahal bukan begitu maksudnya, hanya saja sedang merenungkan dan mengambil sekelumit kesimpulan dari pengalaman pribadi setelah puluhan kali mengalami PMS dan terbukti memang lebih sensitif dalam menanggapi berbagai masalah, meski hal sepele.

Maksud hati ingin mengontrol emosi atau sekedar mengabaikan pikiran-pikiran negatif yang muncul. Tapi setiap kali didatangi oleh PMS, ada saja saat ketika kontrol itu tidak bisa lagi dilakukan.

Untuk meminimalisir meledaknya sikap atau kata yang tidak sepatutnya disampaikan pada orang lain, maka saya putuskan untuk mengurangi intensitas tatap muka dan bicara dengan orang lain dalam hitungan 24 - 48 jam ini. Hanya bicara untuk hal yang amat sangat penting, dan sejenak meniadakan obrolan basa-basi yang mungkin saja memunculkan lagi pikiran negatif atau terjadinya peningkatan level sensitivitas perasaan.

Sssttt! Sedang tidak ingin diusik.
read more »

Selasa, 22 Oktober 2013

Almost 2 Months

Melihat Daisypath dan tersadar akan suatu hal yang setahun atau bahkan setengah tahun lalu belum jadi pemikiranku sama sekali. Hampir genap dua bulan statusku berubah. Oh, mungkin bukan berubah tapi bertambah. Tidak hanya menjadi anak dari orang tuaku, tapi juga menjadi seorang istri serta menantu dari sosok yang kupanggil 'Ibuk.'

Mayoritas yang 'KEPO' sejak masa pra sampai pasca akad, adalah pertanyaan bagaimana kami bisa bertemu. Mayoritas pula melontarkan tebakan awal "Teman sekolah/kuliah ya?" Atau salah satu sesepuh yang sudah menduga kemungkinan terbesar alasan kami bisa menikah karena dijodohkan (baca: memerlukan perantara), dengan lugas bertanya siapa sosok Mak Comblangnya. Saat itu aku hanya menjawab dengan kalimat "Wallahu a'lam." Maksudnya memang karena diri sendiri pun tidak tahu pasti siapa yang paling tepat disebut sebagai comblangnya. Tapi jawabanku itu malah dianggap sebagai jawaban untuk menyembunyikan sebuah fakta. Padahal apa yang mau ditutup-tutupi, kami sendiri kadang masih tidak menyangka akhirnya sampai di tahap yang seserius ini.

Hari gini dijodohin? Mungkin kalimat itu yang akan muncul di benak sebagian besar manusia yang merasakan hidup di zaman moderen ini. Tapi pada kenyataannya memang demikian adanya, bahkan mungkin ada semacam fenomena gunung es. Dimana jumlah pasangan yang menikah melalui perjodohan (masa kini) hanya sedikit yang tampak, padahal jumlahnya masih sangat banyak yang tidak terdeteksi.

Kok mau-maunya sih dijodohin? Enggak takut kalau tiba-tiba enggak cocok karena sebelumnya belum pernah kenal sama yang bersangkutan?

Enggak bohong, kalau (mungkin) awalnya mereka yang dijodohkan akan mengalami masa kegalauan luar biasa. Apalagi mereka yang sebelumnya tidak ingin buru-buru melepas status lajang, atau masih merasa belum siap untuk memiliki keluarga sendiri. Saya sendiri sama sekali tidak pernah berpikir akan menikah di usia 25 tahun. Bukan berprasangka buruk, tapi mengingat ke-kuper-an ditambah masa remaja yang tidak pernah dilalui dengan kenangan pacaran satu kali pun, membuat saya merasa wajar jika kelak tidak bisa melepas masa lajang tepat di usia 1/4 abad (Menurut kebanyakan orang Indonesia, wanita memang sebisa mungkin pada usia 25 tahun itu minimal sudah menemukan calon pendampingnya).

Maka jangan ditanya bagaimana kondisi psikisku saat itu. Memang dari luar tidak terlalu nampak aneh, karena ada satu sisi dalam diri yang membuat itu semua tidak lepas kontrol keluar sebagai perwujudan emosi menolak. Yaitu sisi lain hati nurani yang berusaha memahami bahwa apa yang dilakukan orang tua tidak lain tidak bukan yaitu demi kebaikan buah hatinya. Satu hal yang tidak bisa dipahami seseorang yang belum merasakan menjadi orang tua. Meski pergolakan batin sempat terjadi, toh pada akhirnya diri ini mengambil kesimpulan akan suatu hal.

Sesuatu yang ingin kita hindari sejauh mungkin dan dengan berbagai cara apa pun, tetap akan kita jalani jika itu sudah menjadi ketentuan Tuhan. Sebaliknya sebesar apa pun keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu (misal mengejar cinta seseorang), akan ada saja halangan untuk bisa bersatu. Maka di saat emosi mulai melunak, masa saat itulah diri ini mulai mencoba memasrahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Tuhan jika ini memang jalannya, kuatkan kami, jadikan kami ikhlas, dan jadikan orang tua kami bahagia, dengan demikian seiring berjalannya waktu kami pun bisa merasa bahagia seolah pernikahan ini tidak melalui tahapan 'rasa terpaksa' di awalnya. Mengingat petuah seorang kakak kami, bahagia enggak bisa didefinisikan dan dicari, tapi bahagia itu kita yang ciptakan. Bagaimana pun caranya, jika memang sudah ketentuan Tuhan, maka insya Allah itulah yang terbaik. Sebab Tuhan memberi yang kita butuhkan, meski tidak selalu yang kita butuhkan itu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Keep happy gals ^_*.
read more »

Kamis, 30 Mei 2013

Jari Tangan Jadi Kelingking Semua (JTJKS)

Katanya eh katanya, kalau punya mimpi menjadi penulis itu minimal harus menulis setiap pagi. Bahkan ada loh penulis kelas dunia yang mewajibkan dirinya menulis, seketika saat bangun tidur. Jadi di bawah bantalnya selalu tersedia buku tulis dan pulpen. Sesaat setelah bangun tidur, maka dia akan menuliskan mimpinya. Itu menjadi semacam latihan atau ritual penting untuk mengasah supaya dia tidak kehabisan ide tulisan. Kumpulan mimpinya itu juga bisa menjadi ide untuk menuliskan kisah fiksi fantasi, kan mimpi itu kadang aneh-aneh ya, jadi buku mimpi itu semacam ide mentah yang dapat dipakai kapan pun saat penulisnya kehabisan ide membuat tulisan terbaru.

Berhubung tidak setiap kali tidur saya bermimpi, maka saya akan menulis sembarangan sampai akhirnya menghasilkan dan menemukan inti dari sebuah tulisan. Lumayan, sebagai awal dari kebiasaan baru yang semoga bisa saya lakukan selamanya. Baik menulis dengan tulisan tangan, diketik, dan ada atau tidak adanya orang yang membaca tulisan saya.

Mungkin hari ini saya masih bisa menulis dengan alat bantu ketik, yang tersambung dengan internet dan bisa menerbitkannya di blog. Tapi esok, sebulan, setahun, atau satu dekade mendatang, belum tentu saya masih memiliki semua fasilitas itu. Atau paling tidak, ada saja hal-hal yang membuat saya terbatas mengakses internet. Tapi setidaknya saya bertekad akan tetap menulis setiap hari, minimal setiap pagi sebelum memulai aktivitas lainnya.

Kali ini ingin bercerita tentang jari tangan saya yang seolah berubah jadi kelingking semua. Maksud loe? Jangan bayangkan bentuknya yang dalam semalam tiba-tiba berubah seperti kelingking. Maksudnya adalah ukurannya atau diameter (eh bener ga sih diameter?), setidaknya dengan alat pengukur jari yang berfungsi utama sebagai perhiasan, yaitu cincin.

Cincin yang sebelumnya pas untuk si jari tengah, memang sudah lama berpindah tempat ke telunjuk. Dan setelah beberapa waktu terakhir ini merasa cincin itu sangat longgar (tapi tetap dipakai, karena telunjuk agak panjang jadi enggak khawatir jatuh), iseng saya coba pakai cincin itu di jempol. Ternyata muat, malahan menyadarkan saya bahwa ukuran ibu jari itu hampir sama dengan telunjuk.

Pantesan aja aye disuruh sama nyokap, untuk menambah porsi makan dan camilan. Ternyata memang berkurang banyak berat badan saya. Seenggaknya setengah tahun lalu masih di angka 45 - 47 kg. Tapi kemarin sudah ada di angka 41 - 42 kg. Gemuk, gemuk, gemuk! Tambah lagi deh berat badannya, biar Indeks Massa Tubuh (IMT)-nya normal lagi. Seenggaknya kalau mencapai IMT minimal 18,5 paling enggak memang berat badanku haruslah di angka 46 - 47 kg.

Buat yang ingin mengukur IMT-nya, apakah sudah normal atau belum, tidak usah bingung. Karena blog ini sudah memasang aplikasi penghitung IMT (ujung-ujungnya promosi ^_^). Silahkan dihitung, lumayan sebagai penentu apakah kita memerlukan perubahan pola makan atau tidak. Baru ingat kalau aplikasi yang dipasang di blog ini, menggunakan bahasa Inggris, jadi IMT nama lainnya yaitu Body Mass Index (BMI). Perhitungannya adalah dengan membagi berat badan dalam kg, dengan tinggi badan dalam satuan meter yang dikuadratkan.

Diet itu bukan hanya untuk usaha menurunkan berat badan, tapi artinya adalah pola makan, jadi kalau berat badannya kurang dari normal, tetap harus diet, tapi namanya diet untuk menggemukkan bukan diet untuk menguruskan badan. Jadi yang sudah termasuk kategori ideal, jangan deh nahan-nahan makan cuma karena merasa gemuk saat bercermin. Karena konon katanya sekurus apa pun seorang wanita, saat bercermin melihat pantulan diri sendiri, mereka selalu merasa gemuk. Maka tidak heran kalau banyak kasus anoreksia atau bulimia yang berujung jadi kurang gizi hanya karena obsesi ingin kurus yang berlebihan. Jadi yang pasti-pasti saja, tentukan lewat perhitungan IMT kita, baru putuskan diet atau olahraga apa yang cocok untuk menghasilkan tubuh ideal. Have a nice day :).
read more »

Selasa, 28 Mei 2013

Thank You So Much

Several months ago, my Mom gave me this book. She said that I must read it, because so many important informations in it. Especially about islamic laws (fiqh) and healthiness for women. 



Thank you Mom for this book, for your love, and everything you gave  since when you pregnant me until now. I love you Mom ;). I just try and try to do everything to make you happy. I am sorry when you sad, sick, and crying because of me.
read more »

Senin, 03 Desember 2012

Opini Pada Kisah Bupati dan Santriwati

Beberapa waktu ini ada salah satu berita yang cukup sering ditayangkan oleh berbagai liputan program "news" dan "infotainment". Sebenarnya bukan hak dan tidak perlu Saya ikut-ikutan mikirin masalah orang lain, masalah sendiri saja sudah cukup menguras pikiran dan berat badan (loh, sempet-sempetnya curcol??). Ini gara-gara tanpa sengaja menonton acara talkshow di TVON*, padahal biasanya malas juga nonton orang-orang berdebat di acara tersebut. Namun, kali ini ada yang menarik terutama karena permasalahan yang diangkat terkait wanita (khususnya yang katanya telah didzalimi atas nama pernikahan). Tambah unik bin ajaib lagi, karena tokoh utama yang diundang adalah seorang bupati yang katanya sedang memiliki permasalahan rumit akibat pernikahan siri yang hanya berlangsung selama kurang dari seminggu.

Nekat. Itulah kata yang menurut Saya tepat untuk beliau karena berani membawa diri ke acara televisi, dan duduk bersama para pakar yang jelas-jelas tidak akan membenarkan/membela perbuatan sang Bupati (bahasa kasarnya sih disidang kali ya??). Kebetulan dua orang pakar yang dihadirkan yaitu seorang bapak profesor yang dulu pernah menjadi rektor UIN jakarta, dan seorang psikolog wanita yang biasa diundang di TV ketika membicarakan masalah terkait wanita dan pernikahan. Biasanya Saya malas menonton suatu acara jika menonton di pertengahan acara, namun ekspresi gemes para "penyidang" inilah yang membuat Saya tidak mengganti channel TV.

Ketika bapak Profesor sedang menerangkan bahwa apa yang dilakukan bupati itu, tidak sesuai dengan hukum agama dan hukum negara, bupati itu masih saja berkelit mencoba membela diri. Dengan ekspresi Sang Psikolog yang mendengarkan dengan mimik wajah gemas atau kesal (setidaknya menurut Saya karena beberapa kali sempat melihat beliau diundang untuk kasus berbeda pun masih tampak ekspresi ramahnya). Ketika bergantian psikolog ditanya oleh pembawa acara pun, dia kembali menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang mungkin ganjil dalam permasalah bupati ini. Kembali lagi bupati itu berusaha membela diri, lagi dan lagi saat ada beberapa penelepon yang berkomentar. Tetap berusaha membela diri, dengan argumen yang menurut Saya berbelit-belit dan diulang-ulang sama seperti dari awal acara.

Memang siapapun pasti tersudut saat ada di posisi bupati itu. Sudah jelas ada hal yang salah (setidaknya di mata banyak pihak), tapi dengan kenekatan tingkat tinggi berani hadir TV. Kalau memang tidak merasa bersalah, cukuplah urus masalah tersebut di belakang layar terlebih dahulu, atau minimal hanya berkomentar di acara yang off air dan sekedar wawancara singkat. Sudah tahu bahwa media di negara ini masih menjunjung tinggi masalah rating, maka tidakkah dia memikirkan hadir tidaknya dia di TV tidak berpengaruh banyak pada penyelesaian masalahnya, malah yang ada bisa semakin terpojok dan terlihat makin bersalah. Ini Saya amati ketika sepertinya kameramen sengaja menyorot mimik wajah dan bahasa tubuh bupati itu. Dengan jari-jari tangan yang terlihat gelisah, mata lebih sering mengarah ke bawah atau tidak ke arah dua pembicara lain saat menanggapi kasusnya itu.

Satu hal aneh menurut Saya adalah ketika dia merasa kecewa pada seorang gadis muda yang direkomendasikan oleh salah satu Kyai. Dan ternyata memang baru 2 hari kenal/bertemu si gadis, dan kemudian mengakui kalau itu modal kepercayaan pada Kyai, dan menerima langsung untuk menikahi gadis yang belum genap 20 tahun itu. Lantas, setelah ada hal yang dirasa tidak sesuai prinsipnya dengan mudah dicerai, karena merasa tidak sesuai yang diharapkan. Aduh, kesel juga Saya mendengar jawaban ini. Bukannya dia orang yang sudah pernah menikah? Mestinya tahu dong, kalau mau mengenal calon istri/suami itu tetap harus ada pengenalan antar kedua belah pihak terkait apa pun itu (sama seperti yang dibilang Ibu Psikolog di acara tersebut). Lagian juga menurut Saya , dia tidak bisa begitu secara tidak langsung menyalahkan Kyai, kan memang benar gadis itu santriwati (sepengetahuan kyai comblangnya). Mengenai hal-hal pribadi lainnya, terutama masalah prinsip hidup, ya semestinya saat ta'aruf ya ditanya langsung lah sama si calon. Bukan serta merta mempercayakan pada orang lain, emangnya beli kucing dalam karung apa?

Maaf, kalau opini Saya di atas membuat ada pihak yang tersinggung. Cuma setahu Saya, memang benar pada kenyataannya ada para Kyai yang dipercaya sebagai "comblang" karena ilmu agamanya tidak diragukan lagi. Namun, proses seperti itu pun tetap melibatkan kedua calon pasangan untuk berusaha mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan berlanjut ke tahap khitbah atau tidak. Istilahnya ta'aruf, dan setahu Saya ada beberapa Kyai yang mempertemukan kedua belah pihak dalam satu waktu, serta bisa mengajukan pertanyaan langsung untuk saling mengenal. Tentunya di hadapan Kyai/Bu Nyai/orang tua/kerabat yang masih muhrimnya supaya tidak berdua saja. Kalau tidak salah juga malah boleh untuk melihat aurat wanita sang calon (misal rambut kepala), dengan istilahnya nazhar, yaitu untuk melihat apakah yakin sesuai keinginan atau tidak.

Ada pula yang lebih ketat, yaitu segala pertanyaan untuk saling mengenal bisa ditulis dan diberikan pada kyai yang bersangkutan, kemudian semacam surat itu akan jawab tanpa adanya pertemuan kedua belah pihak. Lah, kalau kasus ini katanya sempat bertemu, harusnya dia juga aktif bertanya jadi kalau ada yang tidak sesuai, ya langsung saja dihentikan. Malah di zaman moderen kayak sekarang pun, tanpa tatap muka atau telepon pun, bisa menjalani ta'aruf lewat sms, facebook, twitter, chatting, dll. Semakin canggih dan semakin mudah dibandingkan zaman dulu kan? Jadi jangan salahkan orang lain kalau memang ternyata proses mengenalnya cuma berdasarkan kepercayaan sama Sang Comblang.

Upss, berasa pengalaman banget dah berani nulis begini. Belum berpengalaman kok, nikah aja belum. Cuma sedikit banyak tahu fenomena ini karena kebetulan orang tua masih memiliki hubungan silaturrahim dengan para gurunya yang disebut Kyai dan Bu Nyai. Jadi sedikit-sedikit tahu mengenai info ini. Selain itu Saya punya beberapa kawan yang aktivis ROHIS atau LDK, yang malah proses comblang-menyomblang-nya itu sangat ketat, tanpa ada tatap muka sebelum benar-benar yakin pada level selanjutnya. Cuma lihat biodata dan foto kalau tidak salah, dan istilah buat bapak atau ibu comblangnya kalau tidak salah murabbi (hehe maaf ya kalau salah info, karena belum pernah gabung akibat minder sama diri sendiri yang merasa belum pantas sejajar dengan para akhwat itu).

Sang Profesor pun juga tampak gemas, sampai berbicara jujur bahwa beliau malas dan tidak tertarik ketika diundang untuk membicarakan masalah pribadi orang lain (hayoloh, secara ga langsung menyadarkan pihak stasiun TV yang agaknya kurang bijak menayangkan acara dengan tema tersebut). Tapi karena ini menyangkut seorang pemimpin/pejabat daerah, ya akhirnya beliau menyanggupi. Kira-kira seperti itulah ucapan jujur Pak Profesor beberapa saat sebelum closing.

Dan akhirnya sampailah pada akhir acara ketika pembawa acara menanyakan apa yang seharusnya dilakukan oleh bupati itu sekarang (ditujukan pada Pak Profesor dan Ibu Psikolog). Kurang lebih kutipan inti jawabannya.

Profesor: Ya, mau bagaimana lagi. Kan pernikahan yang dilakukan saat itu tidak sesuai dengan hukum agama dan hukum negara (terutama masalah izin istri pertama, dan status bupati yang seharusnya tidak boleh berpoligami, apalagi nikahnya siri). (Mungkin maksudnya, ya tidak bisa ngapain-ngapain untuk bela diri, yang ada ya mempertanggung jawabkan perbuatannya).

Psikolog: Saya tidak berhak ikut campur atau apa, tapi kalau boleh mennyarankan sebaiknya masalahnya dibicarakan lagi secara baik-baik dengan mantan istri, supaya bisa segera selesai, entah minta maaf atau apa pun itu. (secara tidak langsung ya, mengingatkan kalau memang pernah janji-janji dan belum ditepati, ya ditepati saja sembari minta maaf, siapa tahu akan bisa selesai dengan damai).

Terakhir ketika bupati itu diminta menyampaikan pernyataan terakhir di ujung acara (hehe lumayan panjang lebar karena teks berjalan yang menampilkan nama kru-nya udah sampai habis tapi belum selesai ngomongnya). Enggak nangkep ngomong apa aja karena udah malas ngikutinnya, pokoknya kalau tidak salah kembali menegaskan kalau sepertinya masalah itu adalah bentuk adanya politisasi oleh pihak-pihak "tertentu", karena ngakunya masalah sudah selesai lama tapi kenapa baru dimasalahkan lagi sekarang. Tekan tombol off dari remote TV. Sekian. Semoga tidak ada lagi kasus serupa yang akan menyakiti pihak manapun.
read more »