Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Senin, 28 Oktober 2013

Ketika PMS Menyapa

PMS itu Pre Menstrual Syndrome
Identik juga dengan istilah untuk Perhatian! (sedang) Masa Sensitif
Beberapa di antaranya mengalami Pengen Makan Selalu yang bikin jarum timbangan geser ke arah kanan

Saat memasuki masa PMS kadang para perempuan dianggap berlebihan
Terutama oleh kaum Adam yang tidak mengalami PMS
Padahal tanpa disadari PMS memang akan menjadi salah satu alasan mengapa kami bisa uring-ringan tidak jelas selama (minimal) satu hari dalam satu bulan

Saat membuat tulisan enggak jelas ini, mungkin terkesan saya adalah perempuan paling lebay yang mengkambinghitamkan PMS atas segala kepenatan yang sedang dirasa.

Padahal bukan begitu maksudnya, hanya saja sedang merenungkan dan mengambil sekelumit kesimpulan dari pengalaman pribadi setelah puluhan kali mengalami PMS dan terbukti memang lebih sensitif dalam menanggapi berbagai masalah, meski hal sepele.

Maksud hati ingin mengontrol emosi atau sekedar mengabaikan pikiran-pikiran negatif yang muncul. Tapi setiap kali didatangi oleh PMS, ada saja saat ketika kontrol itu tidak bisa lagi dilakukan.

Untuk meminimalisir meledaknya sikap atau kata yang tidak sepatutnya disampaikan pada orang lain, maka saya putuskan untuk mengurangi intensitas tatap muka dan bicara dengan orang lain dalam hitungan 24 - 48 jam ini. Hanya bicara untuk hal yang amat sangat penting, dan sejenak meniadakan obrolan basa-basi yang mungkin saja memunculkan lagi pikiran negatif atau terjadinya peningkatan level sensitivitas perasaan.

Sssttt! Sedang tidak ingin diusik.
read more »

Selasa, 22 Oktober 2013

Almost 2 Months

Melihat Daisypath dan tersadar akan suatu hal yang setahun atau bahkan setengah tahun lalu belum jadi pemikiranku sama sekali. Hampir genap dua bulan statusku berubah. Oh, mungkin bukan berubah tapi bertambah. Tidak hanya menjadi anak dari orang tuaku, tapi juga menjadi seorang istri serta menantu dari sosok yang kupanggil 'Ibuk.'

Mayoritas yang 'KEPO' sejak masa pra sampai pasca akad, adalah pertanyaan bagaimana kami bisa bertemu. Mayoritas pula melontarkan tebakan awal "Teman sekolah/kuliah ya?" Atau salah satu sesepuh yang sudah menduga kemungkinan terbesar alasan kami bisa menikah karena dijodohkan (baca: memerlukan perantara), dengan lugas bertanya siapa sosok Mak Comblangnya. Saat itu aku hanya menjawab dengan kalimat "Wallahu a'lam." Maksudnya memang karena diri sendiri pun tidak tahu pasti siapa yang paling tepat disebut sebagai comblangnya. Tapi jawabanku itu malah dianggap sebagai jawaban untuk menyembunyikan sebuah fakta. Padahal apa yang mau ditutup-tutupi, kami sendiri kadang masih tidak menyangka akhirnya sampai di tahap yang seserius ini.

Hari gini dijodohin? Mungkin kalimat itu yang akan muncul di benak sebagian besar manusia yang merasakan hidup di zaman moderen ini. Tapi pada kenyataannya memang demikian adanya, bahkan mungkin ada semacam fenomena gunung es. Dimana jumlah pasangan yang menikah melalui perjodohan (masa kini) hanya sedikit yang tampak, padahal jumlahnya masih sangat banyak yang tidak terdeteksi.

Kok mau-maunya sih dijodohin? Enggak takut kalau tiba-tiba enggak cocok karena sebelumnya belum pernah kenal sama yang bersangkutan?

Enggak bohong, kalau (mungkin) awalnya mereka yang dijodohkan akan mengalami masa kegalauan luar biasa. Apalagi mereka yang sebelumnya tidak ingin buru-buru melepas status lajang, atau masih merasa belum siap untuk memiliki keluarga sendiri. Saya sendiri sama sekali tidak pernah berpikir akan menikah di usia 25 tahun. Bukan berprasangka buruk, tapi mengingat ke-kuper-an ditambah masa remaja yang tidak pernah dilalui dengan kenangan pacaran satu kali pun, membuat saya merasa wajar jika kelak tidak bisa melepas masa lajang tepat di usia 1/4 abad (Menurut kebanyakan orang Indonesia, wanita memang sebisa mungkin pada usia 25 tahun itu minimal sudah menemukan calon pendampingnya).

Maka jangan ditanya bagaimana kondisi psikisku saat itu. Memang dari luar tidak terlalu nampak aneh, karena ada satu sisi dalam diri yang membuat itu semua tidak lepas kontrol keluar sebagai perwujudan emosi menolak. Yaitu sisi lain hati nurani yang berusaha memahami bahwa apa yang dilakukan orang tua tidak lain tidak bukan yaitu demi kebaikan buah hatinya. Satu hal yang tidak bisa dipahami seseorang yang belum merasakan menjadi orang tua. Meski pergolakan batin sempat terjadi, toh pada akhirnya diri ini mengambil kesimpulan akan suatu hal.

Sesuatu yang ingin kita hindari sejauh mungkin dan dengan berbagai cara apa pun, tetap akan kita jalani jika itu sudah menjadi ketentuan Tuhan. Sebaliknya sebesar apa pun keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu (misal mengejar cinta seseorang), akan ada saja halangan untuk bisa bersatu. Maka di saat emosi mulai melunak, masa saat itulah diri ini mulai mencoba memasrahkan segala sesuatunya pada Tuhan. Tuhan jika ini memang jalannya, kuatkan kami, jadikan kami ikhlas, dan jadikan orang tua kami bahagia, dengan demikian seiring berjalannya waktu kami pun bisa merasa bahagia seolah pernikahan ini tidak melalui tahapan 'rasa terpaksa' di awalnya. Mengingat petuah seorang kakak kami, bahagia enggak bisa didefinisikan dan dicari, tapi bahagia itu kita yang ciptakan. Bagaimana pun caranya, jika memang sudah ketentuan Tuhan, maka insya Allah itulah yang terbaik. Sebab Tuhan memberi yang kita butuhkan, meski tidak selalu yang kita butuhkan itu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Keep happy gals ^_*.
read more »

Minggu, 29 September 2013

Stupidity of A Bride: Sebuah Kisah Kedodolan Pengantin Wanita

Cuma satu kayaknya cewek dodol yang di hari pentingnya, lengkap dengan pakaian pengantin pula, salah masuk toilet. Parah banget, dengan santainya melangkah masuk tanpa lihat-lihat dulu tanda di pintu toilet yang bergambar manusia pakai celana, bukan rok. Untungnya (masih bilang untung) di dalam sedang tidak ada manusia seorang pun.

Ini semua dimulai dengan rentetan ke-senewen-an sejak pagi buta. Diawali dengan kurang tidur, bangun sedikit kesiangan, dilanjut dengan terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memasang soft lens. Maklum baru beberapa hari sebelum hari H (24 Agustus 2013) kenalan sama benda mungil itu. Dari dulu anti banget buat pakai soft lens dengan alasan takut matanya iritasi, ribet, dll.

Sebelum tragedi salah masuk toilet itu, satu hal BeTe adalah saat adik perempuan saya memberitahukan bahwa ada noda lipstik di gigi bagian depan atas. Weeekkk!!! Udah aslinya punya trauma sama lipstik, malah hal seperti ini muncul di menit-menit terakhir sebelum acara resepsi di mulai. Waktu itu sudah siap berdiri karena mas-mas fotografernya udah mulai cerewet kasih tahu kalau bentar lagi kudu siap pose untuk foto keluarga. Tapi malah orang tua kami yang belum selesai didandani. Udah kepalang tanggung, ribet juga cari tempat duduk, maka kami pun berdiri di depan ruang rias, yang bersebelahan juga dengan toilet.

Panik, cari tisu enggak ada. Si adik pun menganjurkan untuk membersihkan noda tersebut dengan lidah. Tapi kalau tidak bercermin susah kan? Apalagi pikiran saya mulai sedikit mengingat ke-eneg-an saat di masa balita lalu muntah gara-gara 'dicekokin' lipstik. Tapi dengan mental baja, agar supaya (inget pejabat siapa ya dulu yang sering pakai kata 'agar supaya'?) tidak merepotkan banyak orang, sekuat mungkin ingatan itu saya singkirkan. Biar tidak muntah, padahal apa yang mau dimuntahin sih, sarapan juga hanya sedikit itupun waktunya masih sangat pagi. Tawaran sarapan lagi pasca akad nikah (antara pukul 9 sampai 10 pagi), saya tolak karena tidak nyaman rasanya makan dengan lapisan lipstik tebal di bibir.

Baiklah, cara satu-satunya untuk menghilangkan noda lipstik di gigi saat itu, adalah segera masuk ke toilet, berdiri di depan cermin dan masalah pun teratasi. Saking buru-buru dan fokus sama cara jalan supaya enggak keserimpet rok yang menyapu jalan, maka saya segera masuk ke toilet tanpa melihat dulu gambar yang terpasang di pintu toilet. Ketika baru melangkahkan satu kaki ke dalam toilet, adik laki-laki saya yang memang saat itu berdiri di samping toilet mengingatkan kalau itu untuk cowok. Dodooool!!! Untung enggak banyak yang melihat (tapi setelah saya tulis kisah ini, akan jadi banyak yang tahu *_^). Dengan segera kulangkahkan kaki menuju jalan yang benar, menuju toilet yang seharusnya kumasuki, toilet wanita.

Ya sudahlah ya, namanya juga sedang nervous kelas berat. Apalagi buat si cewek yang selalu enggak nyaman jadi pusat perhatian. Beberapa hari sebelum dan di hari pernikahan itu, siapa lagi yang paling sering ditanyain, yang paling ingin dilihat atau ditemui kerabat? Sudah tahu semua kan jawabannya? Makanya hari itu bukan panik karena apa-apa, tapi lebih panik membayangkan ratusan pasang mata tertuju ke arahku (huuu, GeeR pisan euy).

Udah dulu ya cerita dodolnya, selamat istirahat di hari Minggu ini yaaa.....
read more »

Sabtu, 21 September 2013

Bahasa Emak

Long time no see... Eh maksudnya long time no write about my absurd story. Setelah hampir sebulan lebih vakum dari dunia blog ini, kini saya hadir kembali dengan kisah baru di status yang kini baru juga.

Now I am a wife (Whaaaaaattttt???). Dunia kaget? Yang mengalami saja masih tidak menyangka bisa sampai di tahap ini. Tapi sekarang bukan waktunya menceritakan detail bagaimana si cewek aneh binti eror ini bisa bertemu dengan orang yang mau menerima doi secara lahir dan batin. Sekarang temanya adalah tentang bahasa ibu.

Tahu kan maksudnya? Yaitu tentang bahasa daerah asal seorang wanita yang bertitel ibu, emak, mama, mami, ummi, dll, yang sepatutnya diwariskan kepada anak-anaknya meski si anak tidak lahir atau tumbuh besar di kampung halaman orang tuanya. *Omong-omong kampung halaman eike apa ya? Secara meski keturunan Jawa tulen, ogut kan lahir di dan besar melewati masa bayi, balita, dan kanak-kanak di Jakarta.

Sebut saja kasus yang saya alami, sebagai salah satu anak kelahiran Jakarta, besar di Jakarta, Bogor, dan kemudian pindah ke Tangerang Selatan, tapi punya darah keturunan suku Jawa tulen dari kedua orang tua yang sama-sama asal Jawa Tengah. Kalau istilah di novel Harry Potter, saya ini "berdarah murni" bukan "berdarah campuran." *Eh, apa coba kok ngomongin novelnya J.K. Rowling?

Balik lagi ke soal bahasa ibu. Meski lahir dan besar di Jakarta, saya cukup beruntung punya ibu yang sejak dulu selalu mengenalkan dan membiasakan untuk berbicara bahasa Jawa kepada anak-anaknya. Ya, memang kami, selaku anak-anak beliau hampir tidak pernah menimpalinya lagi dengan bahasa Jawa. Tapi minimal sedikit-sedikit lumayan paham kan? Daripada sama sekali tidak mengerti bahasa daerah asal orang tua?

Namun tetap saja kemampuan berbahasa Jawa itu hanya sekedar kemampuan pasif, hanya bisa paham tanpa mampu menuturkannya dengan baik dan benar, serta tepat sasaran (ada perbedaan untuk berbicara kepada yang sebaya dan kepada yang lebih tua). Apalagi kalau suatu saat harus kembali berbaur di lingkungan yang masih dominan menggunakan bahasa Jawa dibandingkan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Dulu sih cuek-cuek saja. Toh bertemu saudara yang tinggal di kampung halaman hanya sesekali, bahkan bisa dikatakan sekali setahun saat hari raya. Tapi kini ketidakmampuan saya dalam melafalkan bahasa Jawa (terutama yang halus dan penuturan kepada yang lebih tua), benar-benar sangat terasa. Bahkan sering membuat diri ini menjadi salah tingkah, enggak nyaman, malu, dan hampir selalu memilih diam jika tidak benar-benar mendesak untuk bicara.

Terutama di masa awal-awal berstatus baru ketika menjalani masa-masa ngunduh mantu beberapa waktu lalu. Kebetulan (eh, takdir maksudnya) Tuhan memilih saya untuk kembali bertemu dengan orang yang sesuku, bahkan bukan sekedar Jawa "keturunan doang" seperti saya, tapi memang orang yang lahir dan besar di Jawa Tengah. Tidak terlampau jauh dari kampung halaman kedua orang tua saya.

Tapi keadaan terdesak memang bisa mengubah segalanya. Termasuk saya yang sebelumnya tidak pernah mau bertutur dalam bahasa Jawa. Saat ini minimal sepatah dua patah kata harus ada yang diganti dengan bahasa Jawa. Sulit bukan berarti tidak bisa kan? Toh ini termasuk hal positif. Minimal belajar jadi wanita halus, bukan cewek tomboy nan kasar binti cuek bebek sama lingkungan sekitarnya.

Maka saya bersyukur menjadi anak dari seorang Ibu yang tidak menyepelekan masalah bahasa ibu ini. Hal ini sangat membantu saya dalam beberapa waktu lalu, yang tinggal sementara di PMI (Pondok Mertua Indah) alias daerah kelahiran suami (masih rada rikuh menuliskannya, karena belum terbiasa dengan kata tersebut, tapi harus dibiasakan). Sambung lagi kapan-kapan yaaa ^_^.
read more »

Selasa, 20 Agustus 2013

Hanya Tuhan Yang Maha Tahu Segalanya

Sekitar dua hari yang lalu menekatkan diri pergi sendiri untuk belanja (what??? Nila belanja?), tepatnya untuk membeli sepasang sandal berhak sekitar 5 cm (makin shock, mengingat sejak kecil sampai dewasa lebih condong boyish daripada feminim). Bahkan saat balita pernah menolak mentah-mentah, sebuah daster pink unyu (dulu menganggap tidak bagus) yang sengaja dijahit kembaran dengan daster milik Mama. Alhasil tidak pernah sekalipun daster mini itu terpakai, waktu SD baru sadar dan merasa bersalah dalam hati. Mungkin sejak itu juga nyaris tidak pernah menolak pakaian yang dibelikan beliau meski agak kurang sreg.

Kali ini tentang high heels, mau tidak mau memang harus mencobanya untuk membiasakan pakai benda itu. Padahal punya kaki yang lebar tapi pendek ini, lumayan susah menemukan ukuran yang cocok. Jadi enggak heran juga kan kalau lebih suka pakai sepatu atau sandal hak datar, karena biasanya ukuran lebarnya sama dari ujung ke ujung.

Kali ini inti ceritanya bukanlah tentang high hells atau soal minat seorang Nila yang minim tentang belanja segala hal terkait fashion. Tapi tentang kejadian unik yang mungkin juga dialami oleh setiap manusia. 

Jadi begini. Saya berangkat menuju target lokasi dengan angkot yang setiap harinya melintasi depan rumah ortu. Ada satu ibu-ibu penumpang yang tidak saya kenal sebelumnya. Akhirnya kami memang turun di tempat yang sama, meski beliau lebih dulu ada di dalam angkot daripada saya. Oke, kami pun berjalan ke arah yang berbeda, tanpa sempat menyapa atau berkenalan (kerajinan ya. turun angkot kenalan dulu sama penumpang lain?).

Kurang lebih satu setengah jam (bukan kelamaan nawar atau muter-muter, tapi kelamaan bingung sendiri saking enggak paham mana sandal yang bagus dari kualitas baik dengan harga terjangkau). Alhamdulillah, yang dicari dapat juga, udah malas pergi-pergi lagi. Kemudian setelah menyebrang ke arah pertokoan lain, mencoba cuci mata enggak jelas yang akhirnya bosan sendiri, maka diputuskan saat itu juga menuju pinggir jalan raya menunggu si angkot warna biru telor asin.

Setengah jam berlalu, memang harus ekstra sabar menunggu angkot itu, karena jumlahnya yang sedikit, terlebih di hari Minggu siang menjelang sore itu. Menengok ke belakang, ada seorang ibu yang mukanya enggak asing. Eh, ternyata beliau ibu yang tadi seangkot saat saya berangkat dari rumah. Ketemu lagi deh... Akhirnya bareng-bareng menanti kedatangan si angkot, sambil sesekali mengobrol. Iya, ngobrolin si angkot yang jangan-jangan sudah tidak ada lagi karena hari libur.

Is that called 'jodoh'?

Dalam hal apapun mungkin kita pernah mengalaminya. Sesuatu yang diinginkan dan diusahakan setengah mati didapatkan, malah hilang begitu saja. Sedangkan yang dihindari atau mengupayakan segala cara untuk menggagalkan, malah berjalan mulus-mulus saja. Ya, makanya itu semua disebut misteri Ilahi. Semuanya, tentang rezeki, jodoh, dan maut. Wallahu a'lam bishawab.
read more »

Rabu, 14 Agustus 2013

AlhamdulillaahiRabbil'aalamiin

Thanks Allah for 25th years You gave to my life. Thank for Mom, Dad, a brother, a sister, who I met to be my family. We are not a perfect family, but they are the best peoples that You sent to my life. Thanks for the teachers, all friends, and especially some of bestfriends who tell the truth to make me becoming a better person. Thanks also to all problems You gave to me, all of those make me stonger and find some new experiences. Sorry, if I have some bad habit in the past, like angry to all thing happened in my life, angry to other people that they love me so much, and did something hurt my self. I know it make You angry to my self, but You always give and give again some happiness thing in my life. When I felt lonely, You show me that I am not really lonely. There are always families, bestfriends, teachers, and some new peoples in my life, whom cares about my life and also my future, without thinking about my bad personal in the past. Now, I know, all things happened in my life, happiness or sadness, is all the best things You gave to me. Only You, just You, Allah. The best Creator and Director for human's life. I will do it, I will try it, and I will walk with Your guides.

Alhamdulillah wa Syukrulillah 'ala Kulli Ni'mah :)...
read more »

Kamis, 25 Juli 2013

CARA CERDAS PILIH JAJANAN SEHAT UNTUK ANANDA (6) + Daftar Pustaka

6.
UPAYA MENYEHATKAN GENERASI PENERUS BANGSA

Anak adalah titipan Tuhan, yang harus kita jaga, rawat, didik, dan menjadi salah satu amanah yang akan dipertanggungjawabkan pada Tuhan. Selain itu, anak juga merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya demi memajukan sebuah negara, dan dunia pada umumnya. Namun, itu semua sulit tercapai dan hampir mustahil jika generasi penerus bangsa ini tidak memiliki suatu harta berharga yaitu kesehatan.

Kesehatan merupakan salah satu hak yang seharusnya didapatkan oleh anak-anak Indonesia. Hal itu sesuai dengan Undang-Undang RI nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Bab IX Bagian Kedua Pasal 45 Ayat 1 – 3 yang berbunyi:

“(1) Orang tua dan keluarga bertanggung jawab menjaga kesehatan anak dan merawat anak sejak dalam kandungan.
(2) Dalam hal orang tua dan keluarga yang tidak mampu melaksanakan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), maka pemerintah wajib memenuhinya.
(3) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”

Jelas sudah bahwa negara pun mengatur kewajiban orang tua untuk merawat, mendidik, dan menjaga kesehatan anak. Salah satu caranya adalah mengarahkan anak untuk memiliki pola hidup yang sehat dan dibekali pengetahuan tentang kesehatan. Jadi kesibukan bukanlah alasan untuk mengesampingkan kesehatan anak.

Permasalahan kesehatan yang kerap terjadi pada anak-anak, adalah masalah gizi. Masalah gizi biasa disebut dengan malnutrisi. Malnutrisi adalah suatu keadaan di mana terjadi gangguan gizi, yang dapat disebabkan oleh kurangnya asupan zat gizi (kurang gizi) atau kelebihan asupan zat gizi (kelebihan gizi). Sampai saat ini Indonesia masih mengalami kedua jenis malnutrisi tersebut, sehingga sering disebut juga dengan masalah gizi ganda.

Gizi kurang (undernutrition) adalah keadaan rendahnya asupan zat gizi tertentu, dalam jangka waktu yang cukup lama. Kekurangan gizi biasanya disebabkan berbagai masalah kemiskinan, seperti: persediaan pangan yang kurang, kualitas lingkungan (kebersihan) kurang baik, pengetahuan gizi yang kurang, dan lokasi daerah yang termasuk wilayah miskin gizi (misalnya dataran tinggi yang miski akan iodium). Kekurangan gizi di antaranya: Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi/AGB (disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi), Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI), dan Kurang Vitamin A (KVA).

Sedangkan kelebihan gizi (overnutrition) pada umumnya disebabkan kondisi ekonomi yang mengalami kemajuan, serta pengetahuan tentang gizi dan kesehatan yang baik. Kemajuan status ekonomi masyarakat dapat menyebabkan perubahan pola makan, dari pola makan tinggi karbohidrat, tinggi serat, dan rendah lemak, menjadi pola makan yang rendah serat dan tinggi lemak. Pola makan ini terjadi sejalan dengan perkembangan restoran makanan cepat saji (fast food), yang dianggap modern. Meski terkesan modern, kebiasaan mengkonsumsi makanan yang kaya lemak dapat menimbulkan obesitas (kegemukan) dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit degeneratif (Penyakit Jantung Koroner (PJK), Diabetes Mellitus, Stroke, dan Kanker).

Dahulu kasus malnutrisi identik dengan status sosial tertentu. Overnutrition pada kalangan menengah ke atas, dan undernutrition pada kalangan menengah ke bawah. Namun, saat ini tidak ada perbedaan status sosial. Kelebihan gizi dan kekurangan gizi dapat dialami oleh semua kalangan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, di antaranya: gangguan metabolik, pengetahuan gizi, penentuan prioritas kebutuhan hidup, atau akibat gaya hidup dan aktivitas fisik.

Contohnya pada masyarakat berpendapatan rendah bisa saja memiliki anak berbobot tubuh jauh di atas normal, yang sering disebut sebagai obesitas. Keluarga dari kalangan menengah ke bawah biasanya menggunakan hampir seluruh uang yang didapatnya untuk mencukupi kebutuhan pangan. Biasanya sebagai orang tua akan mendahulukan asupan gizi anak, jadi apabila anak memiliki nafsu makan yang besar dan tidak dibatasi, akan menjadi obesitas. Namun ada pula penderita obesitas yang makan sedikit/jumlah normal, tetapi berat badan dan massa lemaknya terus bertambah tak bisa terkendali. Hal ini terjadi akibat gangguan metabolik yang menyebabkan tubuh terus menerus menimbun lemak, tanpa melakukan pemecahan lemak.

Pada masyarakat berpenghasilan tinggi, yang biasa disebut sebagai orang kaya, juga terdapat kasus kurang gizi pada bayi,balita, dan anak-anak. Sebabnya bisa karena orang tua yang tidak menggunakan sebagian besar pendapatannya untuk menyediakan pangan yang bergizi seimbang, pengetahuan gizi yang kurang, cara pemasakan dan pemberian makan yang salah, atau akibat pengaruh budaya atau mitos-mitos yang secara turun temurun diwariskan dalam keluarga.

Masyarakat berpenghasilan tinggi biasanya akan lebih tertarik membeli barang-barang yang termasuk kebutuhan sekunder atau tersier. Sedangkan untuk makanan cenderung mementingkan rasa, padahal rasa yang lezat belum tentu menjamin ketercukupan asupan gizi yang dibutuhkan.

Pernahkah kita melihat ada seorang Ibu berdandan dengan riasan wajah tebal dan memakai banyak perhiasan, namun anak tidak diberikan makanan bergizi seimbang? Atau sang Ayah yang menyisihkan uang untuk membeli rokok, tetapi merasa sayang untuk membeli susu untuk anak? Hal-hal seperti ini sepatutnya dihindari, karena selain anak dapat mengalami kekurangan gizi, juga dapat menghancurkan masa depan buah hati. Selain itu anak akan selalu meniru perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama orang tua. Apabila sejak kecil terbiasa melihat orang tua merokok, bukan tidak mungkin suatu saat anak akan menjadi seorang perokok. Sudah terbukti bahwa ada anak-anak yang usianya belum mencapai 3 tahun, tapi sudah merokok karena orang tuanya terbiasa merokok di depan anak.

Cara pemberian makan yang kurang tepat, misalnya saat seorang Ibu menyuapi anak balitanya. Karena makanan yang diberikan bertekstur agak keras, maka Ibu mengunyahkannya terlebih dahulu supaya lembut kemudian baru diberikan kepada anak. Cara ini selain kurang higienis, juga merugikan bagi anak karena zat gizi yang terdapat dalam makanan tersebut sudah berkurang saat dilumatkan di mulut Ibu. Lebih baik jika memilihkan makanan yang sudah lunak atau diproses menjadi makanan lunak atau cair.

Berkaitan dengan budaya, sebagian masyarakat di Indonesia beranggapan bahwa Ayah sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Maka untuk menghormatinya, semua anggota keluarga harus makan setelah Ayah makan. Untuk lauknya pun ada yang membagikan yang besar atau yang terenak untuk Ayah, dan sisanya untuk anak dan Ibu. Seharusnya yang menjadi prioritas adalah kebutuhan gizi setiap anggota keluarga. Anak sangat membutuhkan zat gizi yang cukup untuk melewati masa pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik.

Kita tidak ingin buah hati tersayang mengalami masalah gizi tersebut bukan? Maka terapkanlah pola hidup sehat, dengan membiasakan mengatur pola makan yang baik. Seperti apakah pola makan yang baik dan tepat? Pola makan yang tepat dengan berpedoman pada Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).

PUGS merupakan penjabaran dari pedoman 4 sehat 5 sempurna, yang berisi pesan-pesan terkait pencegahan masalah gizi (Almatsier, 2009). Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, mengeluarkan PUGS pada tahun 1995 sebagai alat dalam memberikan penyuluhan pangan dan gizi kepada masyarakat luas. PUGS terdiri dari 13 pesan dasar, yaitu:

1)   Makanlah aneka ragam makanan.
2)   Makanlah makanan untuk memenuhi kebutuhan energi.
3)   Makanlah makanan sumber karbohidrat, setengah  dari kebutuhan energi.
4)   Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai seperempat dari kebutuhan energi.
5)   Gunakan garam beriodium.
6)   Makanlah makanan sumber zat besi (sayuran hijau, kacang-kacangan, hati, telur dan daging).
7)   Berikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 6 bulan.
8)   Biasakan makan pagi.
9)   Minumlah air bersih, aman, dan cukup jumlahnya (minimal 2 liter atau sekitar 8 gelas perhari).
10)    Lakukan kegiatan fisik dan olahraga secara teratur.
11)    Hindari minum minuman beralkohol.
12)    Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
13)    Bacalah label pada makanan yang dikemas

Pada dasarnya PUGS menganjurkan setiap individu memiliki pola makan dengan terjaminnya keseimbangan zat gizi. Asupan zat gizi yang seimbang diperoleh dengan mengkonsumsi aneka ragam makanan. Makanan yang beraneka ragam dikelompokkan ke dalam 3 kategori: sumber tenaga (energi), sumber zat pembangun (protein), dan sumber zat pengatur (vitamin dan mineral). Tidak hanya asal berbeda, melainkan harus benar-benar seimbang. Jika tidak seimbang, akan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Seperti penyakit busung lapar yang disebabkan kurangnya asupan energi dan protein, sembelit (konstipasi) akibat kurang konsumsi bahan pangan mengandung serat, atau penyakit rabun senja karena kekurangan vitamin A.

Untuk memudahkan pembagian porsi antara masing-masing kelompok bahan pangan, digunakanlah piramida makanan seperti yang ditunjukkan gambar nomor 64.

Piramida makanan menunjukkan bahwa untuk menentukan konsumsi bahan pangan sehari-hari, tidaklah sembarangan. Terdapat perbandingan antar bahan pangan supaya menjadi suatu komposisi gizi yang seimbang. Jika kekurangan atau kelebihan konsumsi salah satu bahan pangan tersebut, biasanya akan mengalami gangguan kesehatan atau penyakit-penyakit tertentu.

Dalam satu hari, porsi terbesar asupan makanan didapat dari bahan pangan sumber karbohidrat. Bahan pangan sumber karbohidrat biasanya terdiri dari makanan pokok, berupa: nasi (beras), jagung, gandum, ubi, kentang, dan hasil olahan bahan-bahan tersebut, seperti roti, mie, pasta, dan lain-lain. Kekurangan karbohidrat akan menyebabkan kekurangan energi, sehingga produktivitas akan menurun. Sebaliknya kelebihan energi dapat menimbulkan timbunan lemak di tubuh, karena karbohidrat (glukosa) yang berlebihan dan tidak dibakar dalam bentuk aktivitas fisik akan diubah menjadi lemak. Kondisi ini disebut sebagai obesitas (kegemukan).

Buah dan sayuran mengandung vitamin dan mineral, serta serat yang sangat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan. Vitamin dan mineral seperti kita ketahui, merupakan zat yang akan meningkatkan fungsi organ tubuh tertentu sehingga dapat mengurangi risiko terkena penyakit. Pola makan yang baik akan sia-sia apabila saluran pencernaan kita bermasalah. Serat berfungsi untuk melancarkan pencernaan, dengan cara memudahkan pengeluaran sisa makanan yang tidak terserap tubuh. Apabila kekurangan serat makanan, akan timbul masalah sembelit/konstipasi (susah buang air besar).

Bahan pangan sumber protein dibagi menjadi 2 jenis: protein hewani (berasal dari hewan), dan protein nabati (berasal dari tumbuhan). Keduanya sangat penting untuk dikonsumsi, karena protein berfungsi sebagai zat yang berperan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Kekurangan protein yang disertai kekurangan energy, dapat menyebabkan suatu kondisi yang sering disebut busung lapar (Kurang Energi Protein/KEP).

Untuk lemak, minyak, garam, dan gula, harus dibatasi konsumsinya. Kelebihan konsumsi lemak akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah, yang akan memicu berbagai penyakit berbahaya. Sedangka garam yang berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah di atas normal, atau disebut gejala hipertensi (tekanan darah tinggi). Gula yang berlebihan juga tidak baik, terutama bagi mereka yang mengidap penyakit diabetes (kencing manis), atau memiliki anggota keluarga dengan penyakit diabetes.

Kekurangan energi, protein, dan zat-zat gizi lainnya didapat dengan mengonsumsi jenis-jenis camilan (snack). Biasanya camilan atau pangan jajanan diberikan pada pagi hari menjelang siang (antara pukul 09.00 – 10.00) atau sore hari (pukul 16.00 – 17.00). Beberapa di antara jenis jajanan tradisional khas Indonesia: lemper, arem-arem, klepon, getuk, berbagai jenis gorengan, dan jenis kolak atau makanan manis berkuah santan.

Memilih jajanan tradisional juga harus teliti dan jeli, karena sebagian produsen menggunakan bahan-bahan pengawet, penyedap rasa, atau pewarna yang tidak aman bagi kesehatan tubuh. Hindari membeli makanan, yang tidak tertutup, apalagi di lingkungan yang kurang bersih. Beberapa kasus kecacingan pada anak sering terjadi akibat sembarangan jajan dan malas cuci tangan dengan sabun.

Banyak pula jenis camilan atau makanan ringan kemasan, yang lebih modern dan diproduksi di pabrik. Biasanya makanan atau minuman ringan buatan pabrik dipromosikan melalui berbagai media massa. Anak lebih mudah menyerap informasi dari TV sebagai media elektronik, yang biasanya paling awal diperkenalkan oleh lingkungan keluarga. Jika terlalu lama menonton TV, kemungkinan anak menjadi korban iklan makin besar. Hal ini akan berisiko jika pangan jajanan yang disukai anak, membahayakan kesehatan jika terus dikonsumsi.

Kita harus sedini mungkin menanamkan pola hidup sehat, terutama diawali dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bersih, aman, dan tidak menimbulkan penyakit. Sepanjang akhir tahun 2010 dan awal tahun 2011 ini, terjadi keracunan makanan dan minuman pada anak sekolah di beberapa daerah, di Indonesia. Bahkan ada seorang anak yang sampai meninggal dunia (14 Februari 2011) setelah meminum minuman ringan yang dibeli di warung dekat rumahnya. Apalagi kalau bukan akibat pangan jajanan. Memang tidak semua jajanan berbahaya, tetapi melihat kasus-kasus yang ada masihkah kita dapat tenang-tenang saja saat kesehatan anak terancam dengan keamanan pangan jajanan?

Badan POM (2010) melakukan suatu penelitian mengenai jajanan anak sekolah. Hasilnya cukup mengkhawatirkan, sebab diketahui bahwa sebesar 45% dari 2.984 sampel jajanan anak sekolah, mengandung zat-zat berbahaya. Oleh sebab itu, kita harus mengetahui zat-zat berbahaya apa saja yang kemungkinan dikonsumsi anak melalui pangan jajanan. Akan lebih baik jika kita menyediakan camilan sehat sebagai pengganti pangan jajanan yang dibeli di luar rumah. Selain lebih sehat, hubungan antar anak dan orang tua dapat terjalin lebih baik. Hal ini dikarenakan membuat makanan atau memasak untuk anak merupakan penyaluran kasih sayang.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita sajikan makanan dan minuman sehat untuk anak. Dimulai dengan mengurangi jajan di luar rumah. Sediakan camilan bergizi seimbang, aman, dan bersih di rumah. Ajak anak untuk menentukan camilan sehat yang diinginkan. Kesehatan anak saat ini, menentukan masa depan bangsa di kemudian hari.




DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Almatsier, Sunita. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Hidajat, Noenoek dan Diana Damayanti. 30 Camilan Paling Diminati Anak. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Nuraini, Henny. 2007. Memilih & Membuat Jajanan Anak yang Sehat & Halal. Jakarta: QultumMedia.
Supariasa, I Dewa Nyoman dkk. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.
TimDapurDeMedia. 2008. Aneka Jajanan & Minuman Populer. Jakarta: DeMedia.

Internet dan lainnya:
Admin. Keamanan Pangan untuk Meningkatkan Kesehatan Petani SPFS. Diakses dari http://database.deptan.go.id pada 14 Maret 2011.
Admin. 2002. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Diakses dari http://www.kpi.go.id pada 24 Maret 2011.
Admin. 2003. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 942/MENKES/SK/VII/2003 Tentang Pedoman Persyaratan Hygiene Sanitasi Makanan Jajanan. Diakses dari http://dinkes-sulsel.go.id pada 28 Februari 2011.
Admin. 2010. Bahan Kimia Berbahaya dan Beracun dalam Pangan. Diakses dari http://pendidikantech.blogspot.com pada 14 Maret 2011.
Admin. 2010. 3 Bakteri Penyebab Keracunan Makanan. Diakses dari http://majalahkesehatan.com pada 16 Maret 2011.
Admin. 2011. Bocah Tewas Keracunan Jajanan. Diakses dari http://www.waspada.co.id pada 26 Februari 2011.
Admin. 2011. Kyaraben Workshop. Diakses dari http://sekolahtetum.org pada 28 Maret 2011.
Admin. 2011. Virus-virus yang Terdapat dalam Makanan. Diakses dari http://www.food-info.net pada 16 Maret 2011.
Admin. 2011. Waspadai Bahan Tambahan Makanan. Diakses dari http://www.lizaherbal.com pada 14 Maret 2011.
Anonim. Bahan Tambahan Pangan. Diakses dari http://www.diskes.jabarprov.go.id pada 14 Maret 2011.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. 2003. Bahan Tambahan Pangan. Jakarta: Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan, dan Bahan Berbahaya.
Badan POM RI. 2007. Food Watch, Sistem Keamanan Pangan Terpadu:Jajanan Anak Sekolah. Diakses dari http://www.pom.go.id pada 28 Februari 2011.
Devianti, dkk. Bahan Pewarna Makanan. Diakses dari http://catatankimia.com pada 14 Maret 2011.
Dewi, Shintya Sari. 2010. Kecukupan Energi dan Protein Serta Sumbangan Energi dan Protein dari Makanan Jajanan pada Anak SD Negeri No. 060822 Kecamatan Medan Area. Medan: Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Fermia P, Intan. 2008. Gambaran Konsumsi Makanan Ringan pada Anak Sekolah di SD Cakra Buana Depok. Depok: Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Hayati, Mawar. 2009. Pengaruh Peer Edukasi Tentang Jajanan Sehat Terhadap Perilaku Anak Usia Sekolah di Kota Lhokseumawe Nanggroe Aceh Darussalam. Depok: Tesis Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Handayani, Nila. Peran Orang Tua, Sekolah, dan Pedagang pada Makanan Jajanan Anak. Diakses dari http://jurnal.pdii.lipi.go.id pada 03 Maret 2011.
Judarwanto, Widodo. 2009. Perilaku Makan Anak Sekolah. Diakses dari http://www.pdpersi.co.id pada 08 Maret 2011.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 1985. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :239/Men.Kes/Per/V/85 tentang Zat Warna Tertentu yang Dinyatakan sebagai Bahan Berbahaya: Jakarta.
Noorastuti, Pipiet Tri & Mutia Nugraheni. 2011. Jarang Sarapan Picu Penyakit Jantung?. Diakses dari http://kosmo.vivanews.com pada 29 Maret 2011.
Priska, Siagian. Membuat Anak Makan Sehat dengan Sukarela. Diakses dari http://www.preventionindonesia.com pada 16 Maret 2011.
Purtiantini. 2010. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mengenai Pemilihan Makanan Jajanan dengan Perilaku Anak Memilih Makanan di SDIT Muhammadiyah Al Kautsar Gumpang Kartasura. Surakarta: Skripsi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah.
Purwantiningsih, Emma. 2006. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Jenis Makanan Jajanan di Sekolah Studi pada Siswa SDN Gemolong 2 Kecamatan Gemolong Kabupaten Sragen. Diakses dari http://eprints.undip.ac.id pada 02 Februari 2010.
Raharjo, Teguh Budi. 2008. Pengaruh Iklan Makanan Ringan Terhadap Sikap Konsumtif Anak-anak SD. Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, UNILA diakses dari http://galuhindrawati.site50.net pada 08 Maret 2011.
Suci, Eunike Sri Tyas. 2009. Gambaran Perilaku Jajan Murid Sekolah Dasar di Jakarta. Jakarta: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya.
Supriadi, Kuat. 2006. Hubungan Sikap Ibu Terhadap Iklan Makanan Jajanan di Televisi dengan Pemilihan Makanan Jajanan Untuk Anak Balita Di Desa Karangtengah Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap. Diakses dari http://digilib.unimus.ac.id pada 01 Februari 2010.
Susilo, Wiwik. Jangan Biarkan Anak Jajan Sembarangan. Diakses dari http://berita.liputan6.com pada 28 Februari 2011.
Tarsidi, Didi. Peranan Hubungan Teman Sebaya dalam Perkembangan Kompetensi Sosial Anak. Diakses dari http://file.upi.edu pada 08 Maret 2011.
Yulianingsih, Pratiwi. 2009. Hubungan Pengetahuan Gizi dengan Sikap Anak Sekolah Dasar dalam Memilih Makanan Jajanan di Madrasah Ibtidaiyah Tanjunganom, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri. Surakarta: Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah.
read more »

Resep Camilan Praktis (Sate Buah Bumbu Cokelat)

SATE BUAH BUMBU COKELAT
Dokumentasi pribadi

Bahan:
  •  4 buah Stroberi 
  • 1 buah Pisang Ambon 
  • Saus cokelat siap pakai (dapat diganti susu kental manis rasa cokelat atau cokelat batangan yang dilelehkan) 
  • 4 batang tusuk sate/lidi (ukuran 15 – 20 cm) yang telah dicuci bersih
*Untuk 4 batang.

Cara Membuat:
1.      Belah Stroberi menjadi 2 bagian (total terdapat 8 irisan Stroberi). Potong Pisang menjadi 4 bagian.

2.   Tusukkan irisan Stroberi dan pisang secara selang-seling (setiap tusuk terdiri dari 2 irisan stroberi dan 1 potongan pisang di bagian tengah). Lakukan sampai buah habis.

3.   Masukkan sate buah ke dalam freezer, tunggu sampai mengeras/membeku (± 8 – 10 jam). Setelah buah menjadi beku, celupkan ke dalam saus cokelat. Simpan dan bekukan kembali ke dalam lemari es selama minimal 10 jam atau sampai lapisan cokelat melekat pada buah.

4.      Sajikan ketika cuaca panas, atau saat santai di rumah.


Info Cerdas
Cokelat bukan penyebab sakit gigi, selama kita terbiasa menjaga kebersihan mulut dan gigi. Masalah gigi terjadi karena kebiasaan hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah malas menggosok gigi. Biasakan anak untuk menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur (minimal 2 kali sehari).
read more »