Selasa, 27 November 2012

Me vs Lipstik

Salam, kali ini ada satu hal (yang mungkin bisa dibilang salah satu rahasia dalam hidupku) yang ingin kubagi dengan dunia maya. Ya, itu pun kalau ada yang dengan sengaja membacanya, atau tanpa sengaja terjebak masuk ke "ruang berekspresiku" di dunia maya. Sebenarnya juga bukan rahasia besar, cuma sedikit sebab musabab kenapa aku rada risih dan merasa tekanan batin saat "terpaksa" bersentuhan dengan si lipstik. Padahal, normalnya para cewek, bahkan balita yang mulai meniru perilaku orang dewasa pun, dengan riangnya bermain lipstik dan tanpa ragu mewarnai wajahnya (hehe biasanya kan pakenya melewati garis bibir, jadi kusebut mewarnai wajah).

Sebelum kuceritakan inti sebabnya, marilah kita masuk terlebih dahulu pada sekelumit kisah dan pengalamanku bersama benda berwarna-warni mirip krayon, yang biasa kupakai saat mewarnai gambar di masa TK dan SD dulu. Omong-omong TK, jadi ingat ketika untuk pertama kalinya (dan mungkin akan menjadi terakhir kali dalam hidup) aku berpartisipasi tampil di depan umum untuk menari. Ya, tepatnya adalah saat hari perpisahan atau kelulusan anak TK.

Entah dulu menari apa namanya, tapi yang kuingat kostumnya berupa baju muslimah lengkap dengan kerudung bergo khas bocah. Sebut saja tarian anak muslim (maksa dikit dah ya). Sebagaimana umumnya kebiasaan orang Indonesia saat seseorang tampil di depan umum, apalagi untuk menari, anak TK pun didandani menor seperti orang dewasa. Menor di sini maksudku adalah, sapuan bedak padat yang lapisannya lumayan tebal, dan bibir yang diwarnai merah ngejreng nan mencolok. Aduh, malas juga mengingatnya, dan nyaris saat itu batal ikut menari karena tiba-tiba mual hampir muntah. Stop mikir yang aneh-aneh (ini masih cerita tentang anak usia 5 tahun).

Kejadiannya bermula saat ibu dari salah satu temanku, yang bertugas menjadi penata rias kami, mulai mewarnai bibirku. Ketika lipstik mulai menempel di bibir, seketika tercium aroma khas lipstik (yang menurutku aneh bin memuakkan). Oook, ook!! Kurang lebih begitu gambaran suara orang mual, dengan bibir membentuk huruf "O" aneh, mata mulai berair, dan nyaris akan terjadi banjir "isi perut". Sebut saja tante P (penata rias), mulai keheranan melihat ekspresiku, dan berusaha menyakinkanku kalau lipstik enggak bakal bisa bikin bocah kecil mati mendadak (lebay deh gue). Pokoknya tetap keukeuh buat mewarnai bibirku biar warnanya sama mencolok dengan bibir teman-temanku.

Terpaksa ditahan-tahan muntahnya, dengan rasa kaku di bibir karena berusaha supaya lidah tidak bersentuhan dengan "krayon" di bibir. Akhirnya selesai menari dan ganti baju pun, sesegera mungkin lipstik itu kuhapus dengan bagian atas dari kaos warna kuning yang kupakai saat itu. Berbeda dengan teman-temanku, yang dengan santainya ber-make-up ria sambil makan dan minum snack yang disediakan. Sejak pengalaman itu, entah sengaja atau tidak sengaja mulai SD, SMP, dan SMA, semua kegiatan berbau seni dan karnaval dengan kostum unik pun selalu kuhindari dengan satu sebab, ogah dipakein lipstik!! Kostum favorit saat Tujuh Belasan atau Kartini-an? Of course, seragam sekolah dong ^_*.

Selanjutnya antara kelas 3 atau 4 SD, saat di jemputan beberapa teman mengadakan pembicaraan tentang efek pemakaian lipstik pada warna alami bibir. Gubrak!! Bahasanya formal banget ya, padahal sih anak SD angkatan 90-an belum sampai pada kosakata tinggi begitu. Cuma intinya ngerumpi tentang lipstik gitu deh. Saat itu aku hanya jadi pendengar tanpa ikutan bicara, tapi pembicaraan kali itu cukup membuatku sedikit tertohok. Kurang lebih inilah kutipan kata-kata teman se-jemputan-ku yang kalau dipikir-pikir sekarang, itu orang masih kecil keren juga udah update masalah begituan.

"Tahu ga sih, katanya bibir orang bisa jadi kelihatan item kalo sering pakai lipstik. Soalnya warna asli bibir kan merah muda, terus kalau biasa pake lipstik, dan sekalinya enggak pake lipstik, warna alaminya hilang. Jadi malah kayak keliatan item atau abu-abu gitu."

Degh!! Merasa tersindir juga sih, soalnya waktu SD dan mulai bertemu banyak orang, sempat kepikiran juga, kenapa orang-orang punya bibir warnanya merah muda, tapi kok bibirku agak kehitaman. Dan seketika pun aku berpikir mungkin karena memang warna kulitku yang cenderung lebih gelap dari orang lain. Tapi mendengar pernyataan itu, semakin tertohok, dan hanya bisa bilang "ooh.." dalam hati. Tetap stay cool di depan teman-teman, pura-pura enggak menaruh minat dengan obrolan mereka. Kalau penjelasan ilmiahnya, yang saat dewasa baru kuketahui mengenai sebab bibir menghitam akibat lipstik, ya karena ada beberapa produsen nakal yang menggunakan bahan berbahaya di lipstik, misalnya sejenis logam yang akhirnya membuat bibir menghitam, bahkan konon katanya bisa memicu kanker juga.

Kejadian itu belum lengkap tanpa kenyataan yang belakangan kuketahui (masih SD juga) saat melihat album merah (sampulnya emang merah bukan biru kayak punya Teh Melly Goeslow) zaman dulu. Saat mataku mengarah pada sebuah foto bayi montok, memakai baju merah dengan topi putih, dan tampaknya sedang tidur. Tapi bukan itu yang jadi masalah, lihat bibirnya, merah menyala ngejreng bin menor. Huwaaaa!!! Ternyata sejak belum genap setahun pun bibirku sudah bersentuhan dengan benda yang di kemudian hari nyaris menjadi musuhku. Jangan-jangan gara-gara lipstik dengan bahan berbahaya pula yang menyebabkan warna bibirku mirip seperti seorang perokok aktif. Sampai sekarang bahkan aku tidak tahu dan tidak berusaha menanyakan siapa pelakunya, toh mungkin hanya sekedar bentuk kasih sayang atau gemes sama sesosok bayi yang masih lucu, jadi didandani dengan harapan menjadi semakin lucu (but I don't think she was funny, I can't believe it's me *_*).

Beberapa kali sekitar masa-masa SD sampai SMP, ditawari untuk menjadi "bocah kecil" yang didandani di acara pernikahan saudara. Dan dengan bibir merengut serta gelengan kepala kuat menjawab tawaran tersebut, hanya karena satu alasan yang bisa kusimpan sendiri. Lagi-lagi ogah dipakein lipstik, mual dan pengen muntah tiap menghirup aromanya. Bahkan bukan hanya aromanya, secara visual pun Aku lumayan anti jika alat makan atau minum milik Mama (yang sebenarnya sih biasa kami makan-minum dengan alat yang sama) ada noda lipstiknya. Memilih untuk menolak, atau diganti dengan yang baru alias masih bersih. Eneg, rasanya seperti disuruh makan krayon. Bahkan sejak kecil pun di lubuk hati terdalam, tercetus niat untuk tidak ingin seperti Mama, dalam hal berdandan (pakai lipstik). Ingin jadi orang dewasa yang tidak memulas bibirnya dengan warna-warni ngejreng.

Setelah sekian lama tidak bermasalah (karena tidak bertemu keadaan yang mengharuskan berlipstik selama sekolah di pesantren) dengan si "krayon bibir", kembali ketakutan itu muncul sesaat menjelang kelulusan dari pondok pesantren. Sekedar info, ternyata saat itu disepakati bahwa santriwati yang akan lulus, pada hari kelulusan akan didandani oleh seorang make up artist. Sejak itu baru tahu bahwa bahasa Inggris untuk penata rias wajah, ya make up artist. Ketakutan didandani dengan lipstik yang akan membuat mual pun semakin jadi menjelang hari H. Namun, tidak ada seorang pun teman yang kuberitahu masalahku ini, khawatir kalau mereka tahu akan membuatku semakin nervous.

Maka, untuk mengantisipasi mereka tahu masalahku (kalau ternyata mualnya muncul lagi), alhasil kupiilih untuk didandani dengan giliran terakhir. Alhamdulillah, ternyata kudapati bahwa tidak semua jenis lipstik membuatku mual. Terutama Sang make up artist menggunakan jenis lipstik cair yang tidak memiliki aroma "aneh" seperti yang kutemui saat TK atau milik Mamaku. Aman, bebas mual tapi keringat mengucur deras karena tidak terbiasa dengan bedak tebal di seluruh bagian kulit wajah. Lagi-lagi tidak seperti teman lainnya yang membiarkan make up bertahan di wajah, aku dengan segera menghapus riasan dari wajah dengan cara asal (maklum belum tahu bagaimana cara yang benar dalam membersihkan make up).

Kukira setelah kelulusan itu, traumaku pada aroma lipstik sudah lenyap. Sampai suatu ketika saat akan pergi bersama keluarga, Mama memintaku untuk memakai lipstik tipis-tipis. Sekedar membuang efek pucat, katanya. Melihat gerak-gerikku yang seperti siap menolak, maka permintaan itu pun diganti dengan "Ya udah pakai lip gloss punya Mama aja, biar enggak kering bibirnya." Karena lip gloss tidak berwarna, maka kuturuti perintah Mama. Hasilnya, karena memang Mama terbiasa memakai lip gloss setelah bibirnya di-lipstik-i, maka aroma lipstiknya otomatis ada di lip gloss tersebut. Terulang lah kejadian waktu TK, mual nyaris muntah, dan segera kuhapus sapuan lip gloss dari bibir. Mama pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menggerutu keheranan pada putrinya yang rada aneh ini.

Untuk sekedar menghindari dan berusaha menuruti perintah Mama, dengan cara lain dalam hal dandan seminimal mungkin, maka kuputuskan untuk membeli lipstik khusus punya sendiri. Pilihanku masih jatuh pada merek Lip Ic* Sheer Colour. Untuk jaga-jaga kalau kepergok Mama disuruh pakai lipstik, ya bilang udah pakai. Tetap pilih yang tidak mencolok warnanya. Mencoba yang tanpa aroma atau pun jenis dengan aroma buah, efeknya sama, masih mual pada awalnya. Apalagi kalau lidah menyentuh bagian bibir. Ternyata traumanya masih lumayan membekas. Dan sampai saat ini pun produk itu hanya kupakai saat benar-benar harus pergi keluar rumah (hanya saat ingat, sering lupanya sih), dan tentu saja dengan sapuan super duper tipis untuk meminimalisir mualnya muncul. Sampai kapan nih musuhan terus sama lipstik? Buat diri sendiri sih enggak masalah, toh memang aslinya tidak suka dandan. Tapi jika suatu saat ada di kondisi yang mengharuskan memakai lipstik dalam jangka waktu lama dan rutin?

Inti tulisan ini adalah (padahal sebelum inti, pendahuluannya banyak banget ya pemirsa ^_*) sebab kenapa aku sampai bertekad sebisa mungkin tidak berhubungan dengan lipstik. Suatu ketika (lupa umur berapa) yang jelas sebelum sekolah TK. Waktu itu di rumah cuma ditinggal sama Mbak (Asisten Rumah Tangga), sedangkan Mama entah lagi pergi kemana (lupa). Mungkin awalnya maksudnya baik ya, bercanda sambil melampiaskan kreativitas si Mbak padaku. Bocah yang mungkin menurut dia lucu saat itu, apalagi kalau dijadiin modelnya. Entah bagaimana tahu-tahu di tangan si Mbak ada seonggok benda mungil. Iya, itu lipstik, dan mungkin maksudnya mau praktek dandanin orang dengan diriku sebagai bocah percobaan. Kalau tidak salah ingat, aku saat itu agak berontak karena tidak mau, dan si Mbak yang niatnya bercanda tetap menyodorkan lipstik ke arah bibirku.

Di situlah tragedi (setidaknya menurutku) dimulai, dalam keadaan badan dan kepala bergerak berusaha menolak, tetap saja Balita tidak bisa menang melawan kekuatan satu tangan  milik orang dewasa. You know what?? Lipstik itu akhirnya tepat mendarat di depan bibir. Tidak, bahkan lebih tepatnya masuk ke dalam mulut. Hoeek!!

Menuliskannya pun masih terbayang betapa eneg-nya kala itu. Seperti dipaksa makan krayon atau lilin mainan yang bisa dibentuk jadi apa saja. Akhirnya, muntahlah bocah kecil itu, dengan seluruh isi perut yang baru saja masuk beberapa saat lalu saat makan siang, keluar bak air terjun. Sumpah, banyak banget muntahnya (tuh kan sampai ingat soalnya traumatik sekali). Setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya, pun aku tidak ingat apakah si Mbak kena omel Mama atau bahkan kejadian itu tidak pernah diketahui Mama karena si Mbak berhasil menutup rapat kejadian tersebut.

Sejak itu meski tanpa pernyataan resmi pun, telah terjadi suatu permusuhan antara Aku dan lipstik. Entah sampai kapan trauma itu hilang tanpa bekas? Kita lihat saja nanti sampai kapan "Me versus Lipstick" ini bertahan. Aku pun tidak tahu ketika menuliskan rahasia ini, apakah bisa menjadi sebuah terapi untuk menghapus trauma, atau malah akan membuatku semakin terus menumbuhkan ingatan akan trauma itu. Yang jelas, setidaknya sedikit membuatku lega, karena kisah aneh nan unik (atau mungkin biasa saja bagi orang lain) dapat kuceritakan pada dunia. Meski hanya di dunia maya.

Sampai jumpa di postingan berikutnya :).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar