Jumat, 09 November 2012

Ketika "Dia" Tidak Memandang Usia

 Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya kita semua adalah milik-Nya, dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Bicara mengenai kehidupan, tentu tidak lepas dari kata kematian. Lebih tepatnya adalah suatu proses dimana kita akan meninggalkan dunia, dan memasuki alam yang lebih kekal, memasuki alam kubur, dan suatu saat akan dibangkitkan kembali menuju akhirat dengan tujuan antara surga atau neraka.

Bicara mengenai usia, kadang kita lupa dan menganggap bahwa ajal hanya menjemput mereka yang telah berusia lanjut atau sekedar mencapai usia dewasa. Namun, pada kenyataannya, dan memang telah ditetapkan oleh Sang Maha Penentu Ajal, bahwa ajal adalah salah satu misteri yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Teringat belasan tahun lalu saat almarhumah adik sepupuku meninggalkan kami, beberapa waktu menjelang masuk Taman Kanak-kanak (TK). Dek, kamu pasti sudah bahagia ya disana, dan telah menyediakan tempat khusus di surga untuk kedua orang tuamu kelak.

Kemudian beberapa hari ini dikejutkan oleh kecelakaan maut, yang menewaskan dua orang mahasiswi semester 3 FK UNDIP. Kemudian Rabu kemarin dikejutkan lagi dengan kabar duka, bahwa teman adikku, yang juga merupakan adik almamaterku meninggal dunia di usia yang juga masih begitu muda, baru merasakan beberapa bulan menjadi mahasiswa. Ketiganya baru berusia 18 - 19 tahun, namun Allah lebih menyayangi mereka dengan memanggilnya lebih dulu daripada orang-orang di sekelilingnya. Semoga ketiganya mendapat tempat terindah di sisi-Nya, serta keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan diberikan ketabahan untuk tetap melanjutkan kehidupan. Aamiin.

Satu persamaan di antara ketiganya, yaitu sama-sama seorang blogger, yang menulis hal-hal positif serta menginspirasi pembacanya untuk melakukan hal positif juga. Tentu mereka juga memiliki impian dan target jangka panjang yang ingin dicapai dalam hidup. Namun, Allah tetap memiliki hak mutlak untuk berkehendak, dan membuat impian itu harus terhenti. Namun, bukan benar-benar terhenti, tapi hanya pelakunya saja yang berbeda. Jika saudara, kerabat, kawan, atau sahabat kita kembali pada Allah lebih dahulu, maka kita sebagai manusia yang masih diberi kesempatan lebih lama untuk hidup lah yang meneruskan impian mereka. Meski impian tidak sama, namun semangatnya mesti tetap kita hidupkan dalam diri kita. Jadikan mereka sebagai pengingat, dan tetap ikhlaskan kepergiannya. Meski ketiganya tidak kukenal secara personal, tapi impian dan harapan yang mereka torehkan dalam blog pribadi masing-masing, membuatku termotivasi untuk meneruskan semangat mereka dalam bidang tulis menulis. Terima kasih telah menyadarkanku akan semangat hidup meski usiaku tak lagi muda belia. Hanya untaian doa yang dapat kukirimkan, Allahummagfirlahum wa'afihim wa'fuanhum. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar