Sabtu, 20 Juli 2013

CARA CERDAS PILIH JAJANAN SEHAT UNTUK ANANDA (1)

1.
BUKAN SEMBARANG JAJAN

      “Bunda, minta uang jajan dong” atau “Kenapa sih aku nggak boleh jajan disana? Teman-temanku jajan di sana juga kok” Pernahkah kita mendengar pernyataan tersebut keluar dari bibir mungil sang buah hati? Hampir semua orang tua mendapatkan masalah yang muncul ketika anak-anak mulai mengenal berbagai jajanan yang belum dapat dipastikan keamanan dan kandungan gizinya.

      Anak-anak dan remaja merupakan kategori usia yang termasuk dalam masa pertumbuhan. Apabila pada masa pertumbuhan ini kondisi kesehatan dan asupan gizinya bermasalah, maka kemungkinan menderita penyakit di usia dewasa akan lebih besar dibandingkan anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan kesehatan yang optimal.

Banyak hal yang menyebabkan gangguan kesehatan pada masa pertumbuhan. Salah satunya adalah asupan makanan atau kuantitas dan kualitas gizi yang masuk ke dalam tubuh. Berkaitan dengan asupan makanan, berbagai jenis jajanan sudah dikenal dan digemari oleh anak sejak balita sampai usia sekolah. Bahkan kebiasaan jajan dapat berlanjut sampai usia remaja dan dewasa. Apabila jenis jajanan yang dikonsumsi mengandung zat gizi yang bermanfaat bagi tubuh, tentu tidak menjadi masalah yang berarti. Sebaliknya jika terlalu banyak mengkonsumsi aneka jajanan yang mengandung zat-zat berbahaya bagi tubuh, maka akan menjadi malapetaka bagi masa depan ananda tercinta.

Untuk anak-anak yang masih mendapat perhatian penuh dari orang tua (sekitar usia 1 – 5 tahun), tentu jajanan yang dikonsumsi anak masih bisa diawasi dan ditentukan oleh orang tua atau pengasuh. Namun, pada anak usia sekolah berisiko lebih besar untuk mengkonsumsi jajanan yang tidak sehat. Hal ini dikarenakan pengaruh lingkungan teman sebaya atau iklan di media massa yang mengiklankan berbagai jajanan dengan penampilan yang menarik. Walaupun orang tua dan guru sudah mengingatkan untuk tidak jajan sembarangan, rasa ingin tahu anak dapat mengalahkan nasihat tersebut.

       Jajanan adalah pangan (makanan dan minuman) yang termasuk dalam kategori siap saji, yaitu dijual untuk langsung dikonsumsi tanpa proses pengolahan lebih lanjut. Sedangkan jajan adalah kegiatan membeli makanan atau minuman yang bukan buatan sendiri. Pangan jajanan dapat bernilai positif jika jajanan yang dikonsumsi mengandung zat gizi dan terjamin kebersihannya. Berdasarkan suatu survei yang dilakukan di Bogor, sebesar 36% dari kebutuhan energi anak sekolah diperoleh dari pangan jajanan yang dikonsumsi. Survei tersebut menyimpulkan bahwa pangan jajanan memiliki peranan cukup penting dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi anak–anak usia sekolah (Guhardja S. dkk, 2004). Namun, pada kenyataannya justru memprihatinkan, dimana masih banyak jenis jajanan dengan kandungan zat-zat atau mikroorganisme yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Dari uji laboratorium yang dilakukan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan, terhadap 2.984 sampel jajanan anak sekolah, ditemukan 45 persennya mengandung zat berbahaya (Badan POM RI, 2010). Zat-zat berbahaya yang ditemukan dapat berasal dari zat pengawet, zat pewarna, atau berasal dari bakteri dan mikroorganisme lainnya akibat makanan atau minuman yang tercemar karena berada di lingkungan yang tidak higienis. Apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan jangka waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan pada organ-organ tubuh. Bayangkan jika generasi penerus bangsa ini selalu mengkonsumsi jajanan yang mengandung zat-zat tersebut! Bagaimana bangsa ini menjadi bangsa yang maju jika kaum penerusnya secara perlahan tumbang karena masalah kesehatan?

Untuk mengatasi masalah ini, Badan POM RI (2007) menjabarkan pihak-pihak yang semestinya berperan serta dalam pengawasan jajanan anak sekolah, di antaranya:

a.       Pemerintah
1)   Kerjasama program keamanan pangan terpadu Jajanan Anak Sekolah (JAS) yang melibatkan lintas sektor antara lain Depdiknas, Depkes, Depdag, Badan Ketahanan Pangan, Badan POM RI beserta jajarannya masing–masing, serta instansi terkait lainnya perlu ditingkatkan.
2)   Menyediakan perangkat pelaksanaan peraturan dan pengawasan penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP), higiene dan sanitasi serta pelarangan penggunaan bahan berbahaya pada pangan perlu lebih ditingkatkan dan disosialisasikan kepada masyarakat.
3)   Mengadakan program promosi keamanan pangan jajanan ke sekolah–sekolah.
4)   Kegiatan monitoring JAS secara terencana dan terus menerus perlu lebih ditingkatkan dengan mencakup daerah yang lebih luas di Indonesia.
5)   Melakukan pelatihan-pelatihan terhadap guru, orang tua, penjual pangan, dan siswa.
6)   Pemberian informasi terhadap kiat–kiat memilih jajanan yang aman (warna, tekstur, lokasi jajanan).

b.      Guru
1)   Mengawasi kantin sekolah melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dengan mengawasi pangan yang dijual, kebersihan kantin, serta memberikan pelatihan bagi petugas kantin.
2)   Memberikan pengertian dan pengetahuan kepada anak–anak mengenai dampak negatif yang timbul apabila jajan di sembarang tempat.

c.       Orang tua
1)   Memberikan pengetahuan dasar kepada anak–anak mengenai dampak negatif atau akibat yang timbul apabila jajan disembarang tempat.
2)   Orang tua sebaiknya membekali anak–anaknya dengan makanan rumah yang aman dan layak ketika akan berangkat sekolah, agar tidak jajan sembarangan.

d.      Penjual Pangan Jajanan
1)   Penjual hanya boleh menggunakan BTP yang diijinkan dan tidak melebihi batas maksimum yang dipersyaratkan, serta tidak boleh menggunakan pewarna ataupun bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya pada pangan.
2)   Penjual wajib memperhatikan kebersihan fasilitas dan tempat penjualan untuk mencegah kontaminasi silang terhadap produk, serta mempraktekkan cara pengolahan pangan yang baik terutama memperhatikan persyaratan higiene dan sanitasi.

      Sesuai peran serta orang tua terkait pengawasan Jajanan Anak Sekolah (JAS), kita berperan untuk memberikan pengetahuan dasar kepada anak mengenai jajan sembarangan yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan. Selain itu ada baiknya jika tidak membiasakan anak untuk jajan, tetapi membawakannya bekal makanan ke sekolah atau menyediakan camilan sehat di rumah sebagai pengganti pangan jajanan yang dibeli di luar rumah. Namun, terkadang status bekerja kedua orang tua, atau keterampilan yang kurang dalam memasak menjadi alasan sulitnya mempersiapkan bekal atau camilan yang aman dan sehat.

        Maka diperlukan cara yang cerdas dan tepat untuk mengawasi, memilihkan, dan memberi edukasi yang tepat kepada anak mengenai kebiasaan jajan. Meskipun anak dibiarkan jajan, dengan pengetahuan dan sikap anak yang dapat memilih jajanan sehat, maka dapat meminimalisir dampak negatif akibat mengkonsumsi pangan jajanan. Sebaliknya, zat gizi yang kurang dari asupan makanan sehari-hari dapat dilengkapi dari zat gizi yang dimiliki oleh pangan jajanan sehat. 

Buku ini adalah salah satu media, untuk saling berbagi dan menyebarkan informasi mengenai jajanan yang biasa dikonsumsi anak-anak kita. Disertai kiat-kiat yang cerdas dan tepat dalam mengawasi, memilihkan, serta mengedukasi anak untuk dapat mengkonsumsi pangan jajanan yang sehat, bersih, dan aman. Kalau bukan kita yang melakukan, siapa lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar