Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2013

Cerbung: The Absurd Story of Santriwati VS Pesantren (1)

Akhir Mei 2000

42,50 lumayan tidak terlalu jauh dari nilai sempurna sebesar 50,00. Itulah yang tertulis dalam lembar hasil NEM (Nilai Ebtanas Murni), disertai nama lengkapku. Indigo Putri Amalia. Senangnya bukan main saat Pak Mahmud wali kelasku, memberikan sebuah amplop besar berisi segala surat-surat penting yang menandakan lulus tidaknya seorang murid sekolah dasar. Setelah mengucapkan selamat padaku yang saat itu ditemani oleh Ibu, Pak Mahmud kemudian bertanya kemana aku akan melanjutkan sekolah. Saat itu memang aku masih belum tahu pasti, tapi yang jelas aku ingin melanjutkan ke sebuah SMP negeri yang banyak difavoritkan oleh teman-teman seangkatan. Sebelum sempat aku menjawab, Ibu sudah mewakilinya terlebih dahulu.

Rencananya Indi akan saya sekolahkan di sebuah pondok pesantren Pak, tapi masih dalam tahap survei ke beberapa tempat. Jadi setelah ini kami akan berangkat menuju salah satu pondok pesantren di Bogor. Buat melihat-lihat, karena kata beberapa kerabat kami, di sana lingkungannya bersih dan juga luas.”

Jelas saja aku terkejut, karena Ibu belum membicarakan masalah ini denganku. Wah, tampaknya Ibu ingin membuat kejutan, yang menurutku lebih tepat sebagai sebuah jebakan. Jebakan? Ya, karena beberapa hari lalu aku sudah membicarakan tentang keinginanku melanjutkan di SMP negeri atau yang swasta juga tidak apa-apa seandainya NEM-ku tidak mencukupi standar minimal. Aku juga tidak dapat membantah perkataan beliau, karena sekarang kami sedang berada di ruang guru.

Wah, sayang sekali ya Bu, padahal NEM Indi memungkinkan untuk diterima di SMP negeri. Tapi ya sudah, tidak apa-apa. Sekolah pada dasarnya di mana saja sama asalkan anaknya bisa mengikuti pelajaran dengan baik.

Setelah Ibu berpamitan, Pak Mahmud memberikan sebuah amplop Hijau berukuran sedang padaku. Sepertinya sebuah undangan, karena beberapa kali aku sempat melihat orang tuaku mendapatkannya saat diundang ke acara pernikahan atau khitanan saudara-saudara kami.

Indi ini undangan untuk kedua orang tuamu pada hari pelepasan siswa yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Nanti gladi resiknya dua hari sebelum hari-H, jadi jangan lupa datang ke sekolah ya. Semoga kamu bisa sukses di mana pun kamu menuntut ilmu.” 

Iya Pak, terima kasih juga selama ini sudah mengajarkan banyak hal pada kami semua, sampai akhirnya bisa lulus.

Kubalas ucapan wali kelasku itu, sembari bersalaman dan berpamitan pulang, sebenarnya bukan pulang tapi terpaksa ikut pergi melihat lokasi calon sekolah baruku nanti.

Di perjalanan menuju pesantren yang dimaksud Ibuku tadi, aku hanya diam tidak bersemangat. Awalnya memang agak kesal karena ternyata saat acara pelepasan siswa nanti, ternyata waktunya bersamaan dengan acara pernikahan salah satu kerabat Ibu di luar kota. Dan seluruh keluarga akan menghadiri acara tersebut, menurut Ibu lebih baik kita tidak usah hadir di pelepasan siswa itu, karena itu hanya sekedar acara formalitas tapi tidak akan mempengaruhi kelulusanku. Jadi tidak apa-apa tidak ikut.

Bayangkan! Itu adalah hari terakhir saat aku bisa bertemu teman-teman dan para guru secara lengkap, tapi aku sendiri tidak bisa berpartisipasi di acara itu. Namun, aku lebih tidak bersemangat saat tahu kemana arah taksi ini melaju. Sepuluh menit, dua puluh menit, empat puluh lima menit, dan kurang lebih satu jam sampailah kami di lapangan parkir sebuah komplek dengan beberapa gedung yang tersebar di berbagai sudut. kubaca dalam hati tulisan di sebuah papan besar berwarna hijau, “Pondok Pesantren Al-Muttaqin Bogor.”

Halamannya memang luas, ditambah lagi banyaknya jumlah pohon besar membuat suasana lebih sejuk dibandingkan cuaca khas Jakarta. Sekilas dari kejauhan, teras di gedung kelas dan asrama pun tidak tampak ada sampah, tapi suasananya sangat sepi. Menurut seorang guru piket yang memandu kami berkeliling wilayah santri putri ini, sekarang sedang jam pelajaran di kelas. Nanti sekitar setengah jam menjelang waktu shalat Dzuhur barulah mereka pulang ke asrama untuk bersiap-siap shalat berjama’ah di masjid, lalu makan siang, dan kembali ke kelas untuk menerima pelajaran lagi.

Penjelasan guru itu tidak terlalu kuperhatikan, sebab masih terbawa suasana hati yang kurang baik. Guru itu pun menawari Ibu, jika kami ingin melihat-lihat keadaan asrama tempat santriwati (sebutan untuk santri/murid perempuan), sebaiknya menunggu sekitar 15 menit lagi karena itu adalah jam mereka pulang sekolah. Akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah ruang makan, kamar mandi, tempat menjemur pakaian, juga sempat duduk sebentar di koperasi pesantren meski saat itu tutup, dikarenakan masih waktu belajar.

Ketika bel berbunyi, lebih tepat jika kusebut lonceng raksasa. Karena lonceng yang berada di tengah bagian pemisah antara asrama putra dan putri itu memang berukuran sangat besar. Mungkin sesuai dengan fungsinya, yaitu supaya seluruh warga pesantren dapat mendengar suaranya, saat berada di mana pun selama masih di dalam wilayah pesantren.

Dari jauh terlihat mungkin ratusan murid perempuan berseragam putih abu-abu dan juga putih biru, serta tidak ketinggalan sebuah kain penutup rambut di kepala mereka, berjalan ramai-ramai dari arah gedung kelas menuju gedung asrama, tepatnya menuju kamar tinggal masing-masing.

Seketika itu pula sebagai penutup tur singkat siang itu, guru pemandu kami segera mengantar aku dan Ibu ke salah satu kamar di sebuah lorong asrama yang terdekat dengan koperasi. Ternyata satu kamar ditempati oleh sekitar sepuluh sampai empat belas orang, dengan lemari berjumlah sama dengan jumlah orangnya, dan ranjang tingkat sekitar lima sampai tujuh ranjang. Ibu juga sempat menanyakan beberapa hal kepada beberapa orang dari santriwati, yang ternyata ada beberapa orang yang juga berasal dari daerah sekitar tempat tinggal kami di Jakarta. Ada pula yang berasal dari luar kota dan luar pulau.

Pernyataan mereka yang menyatakan bahwa sekolah itu sangat menyenangkan, membuat Ibu semakin yakin untuk menyekolahkanku di sana. Itu terbukti saat Ibu sedikit menjelaskan bahwa daripada lokasi pesantren lain yang pernah Ibu lihat saat aku tidak ikut karena masih ujian beberapa bulan lalu, jelas ini jauh lebih bersih dan sejuk. Ayah yang baru saja pulang dari kantor dan menjemput kami di pesantren ini, juga mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum padaku, membenarkan pernyataan Ibu.

Di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah, Ibu dan Ayah terus berusaha membujukku yang masih tampak cemberut, dengan membandingkan bahwa sekarang pesantren sudah lebih moderen, berbeda dengan zaman Ayah dan Ibu yang masih sangat memprihatinkan. Memang keduanya juga pernah menimba ilmu di pesantren. Kalau dipikir-pikir mau di pesantren mana pun tetap itu bukan kemauanku, jadi daripada capek-capek pergi ke pesantren lain yang tetap saja terpaksa, maka kuanggukkan kepalaku dengan lemah, menyetujui dengan berat hati.

Pertengahan Juni 2000

Kemeriahan suasana hajatan yang diadakan kerabat dari Ibu, tidak mampu membuatku ceria. Hal ini karena badan dan pikiranku tidak berada di tempat yang sama. Meski jelas-jelas tubuh ini ada di dalam sebuah gedung mewah, dengan berbagai jenis makanan yang bisa dinikmati sepuasnya, tapi pikiranku terbang ke aula di sekolah. Acara gladi resik pelepasan siswa SD Bintang Kecil angkatan 2000, yang acaranya akan diadakan besok.

Aku sengaja tidak memberitahukan ketidakhadiranku pada guru-guru atau Rahmi, sahabatku sejak kelas 3 SD, karena jika mengabarkan terlebih dahulu pasti aku akan dibujuk untuk tetap mengikuti acara yang hanya akan dirasakan sekali setelah enam tahun belajar. Aku akan semakin sedih jika mengingatnya, apalagi mengingat kenyataan bahwa aku akan segera sekolah dan tinggal di pesantren, yang jelas tidak sebebas anak-anak SMP lainnya. Memang sejak dulu aku iri saat melihat kakak-kakak kelas yang sudah duduk di bangku SMP bisa main ke toko buku di mal sepulang sekolah. Memang toko buku adalah tempat favoritku saat pergi ke mal.

Belum lagi saat kuingat bahwa tiga hari lagi harus mengikuti ujian masuk calon santri baru di pesantren Al-Muttaqin. Walaupun sudah diberitahu bahwa yang diujikan adalah materi pelajaran umum dan pengetahuan baca tulis Al-qur’an, tidak ada niat sedikit pun untuk belajar, dengan harapan supaya tidak lolos seleksi dan batal masuk pesantren.

Doa Orang Tua Memang Top

Aku merasa tidak begitu antusias saat mengerjakan soal ujian masuk pesantren, dan ketika diminta membaca Al-qur’an pun sangat jauh dari kategori lancar. Namun, ketika harapan orang tua begitu besar, bukan hal mustahil untuk dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa. Sekitar pukul empat sore, hasil ujian pun ditempel di papan pengumuman yang terletak di ruang tamu berukuran hampir sama dengan ruang kelasku saat SD. Kutelusuri deretan nama di selembar kertas itu, dan kutemukan namaku. Indigo Putri Amalia, tepat di atas nama seorang teman baru yang kukenal sebelum waktu ujian dimulai.

Ya, teman pertamaku di pesantren ini, Adinda Nur Utami. Berbeda denganku yang terpaksa masuk pesantren, dia memilki kemauan sendiri karena melihat saudara sepupunya yang mandiri dan pintar berpidato setelah belajar di Gontor, sebuah daerah di Jawa Timur yang terkenal dengan banyaknya jumlah pesantren.

Hari ini memang hanya sekitar sepuluh orang yang ikut tes, yang lainnya pun anak laki-laki jadi kami segan untuk berkenalan. Sebetulnya jumlah peminatnya lumayan banyak, sekitar 150 orang menurut informasi guru piket di sana, tetapi yang lain sudah terlebih dahulu ikut ujian di gelombang pertama. Gelombang kedua ini diadakan untuk memberi kesempatan mereka yang tidak dapat hadir di ujian gelombang pertama, namun masih ingin sekolah di pesantren ini. Karena jumlah peserta yang sedikit itulah pengumumannya juga sangat cepat, lain dengan gelombang pertama yang membutuhkan waktu seminggu untuk mengetahui hasilnya.

Tampak senyum bahagia di wajah kedua orang tuaku, tapi saat itu seolah ada monster yang siap memberontak di ruang rasaku. Tentu saja kutahan agar monster itu tidak benar-benar keluar dalam bentuk teriakan nyata. Tanganku mengepal semakin kencang untuk menahan emosi. Arrrrrrrgggggggggghhhhhh!!! (Bersambung ya…)


(Bagaimana kelanjutan hari-hari yang akan dilalui oleh Indi menjelang resmi disebut sebagai seorang santriwati? Nantikan kelanjutannya di blog yang sama, pada waktu yang belum dapat ditentukan. Hehe, maklum penulisnya baru mulai belajar menulis cerbung. Sampai jumpa ^_^.)
read more »

Senin, 14 Januari 2013

Lupa Di Pagi Buta

Perubahan selalu menuntut kita untuk beradaptasi, dan mulai membiasakan diri dengan segala hal baru. Begitu juga ketika seorang anak yang baru lulus dari sekolah dasar, tiba-tiba harus sekolah di lingkungan baru bernama pondok pesantren. Biasanya tinggal di rumah, ada yang nyiapin makanan enak, pakaian bersih tinggal ambil di lemari, pakaian kotor tinggal lempar ke ember atau mesin cuci, bahkan mungkin beberapa orang di antaranya masih tidur ditemani orang tua atau pengasuhnya. Kehidupan pun berubah nyaris 180 derajat, beberapa di antaranya mungkin juga sudah terbiasa dengan kedisiplinan ketat di rumahnya, tapi yakin tidak ada yang seketat di pesantren. Di rumah paling pagi bangun pukul lima, sedangkan di pesantren pukul 4 pagi sudah dikagetkan dengan suara lonceng yang ukurannya melebihi besar kepala orang dewasa.

Seperti juga diriku ketika pertama kali baru masuk pesantren. Masalah antri kamar mandi bisa jadi momok yang menakutkan untuk anak baru. Karena konon katanya kalau tidak cepat-cepat mendapat kamar mandi, bisa-bisa tidak sempat mandi karena keburu bel masuk sekolah, yang pasti hukuman menanti mereka yang telat berangkat ke kelas. Maka sebagian besar anak baru, punya suatu tekad untuk mandi ketika orang lain masih berusaha dengan susah payah membuka mata setelah lelapnya tidur. Ketika lonceng berbunyi pukul empat pagi, maka saat itulah siapapun bebas menggunakan kamar mandi mana pun, dan selama apa pun asal tidak telat saat lonceng berbunyi untuk memerintahkan segera ke masjid. Bayangkan saja jam segitu dijamin tidak akan ada yang kuat mandi lebih dari 15 menit saking dinginnya air dan rendahnya temperatur udara menjelang subuh.

Aku sendiri sebenarnya tidak terbiasa bangun sebelum pukul setengah enam. Tapi faktor tempat baru membuat tidurku tidak nyenyak. Memang sudah kebiasaan sejak kecil, meski menginap di rumah teman atau saudara, yang rumahnya lebih bagus dari rumah sendiri pun, tidak akan bisa tidur nyenyak karena merasa bukan tempat sendiri. Apalagi tidur di tempat baru, yang pada awalnya sangat terpaksa kutinggali untuk beberapa tahun ke depan ini. Sepanjang malam hanya bisa diam-diam menangis karena kangen rumah dan orang tua juga adik (kisah klasik cengengnya anak baru). Maka dengan sigap ketika subuh pertama di pesantren, pukul empat pagi sudah bersiap membawa gayung berisi alat mandi dan handuk disampirkan ke pundak.

Waktu itu masih segan membangunkan teman lain untuk menemani ke kamar mandi, jadi kuberanikan diri keluar kamar sendirian. Senangnya ketika melihat seorang kawan dari kamar sebelah juga terlihat membawa alat mandi dan handuk. Lumayan, ada kenalan baru sekaligus teman berjalan menuju kamar mandi yang letaknya berada di belakang asrama ini. Kami saling melempar senyum (namanya juga belum saling mengetahui nama), sampai dia mengeluarkan perkataan yang membuatku sedikit bingung.

"Itu, kok enggak dipake..." dengan agak sungkan ragu-ragu berkata sambil menunjuk ke arah kepalaku.

Aku terdiam dan kebingungan (terutama karena baru bangun tidur), dan cuma bisa bertanya "Apanya?"

"Kerudung, kamu enggak pake kerudung?"

"Eh, iya lupa banget. Makasih ya udah ngingetin."

Kuucapkan terima kasih dan segera masuk ke kamar untuk memakai kerudung yang biasa disebut bergo. Sampai saat keluar kamar lagi, dia masih mau menungguku untuk berjalan bersama menembus kegelapan menuju kamar mandi. Untung ada yang mengingatkan, dan suasana asrama masih sangat sepi, jadi semoga saja tidak ada yang melihat. Seketika rasa ngantukku pun menghilang. Dan perkenalan kami sebagai teman tetangga kamar, dimulai dari ulah yang kuperbuat di pagi-pagi buta. Syukurlah kejadian itu hanya kualami sekali dalam rentang hampir enam tahun tinggal di sana. Buat yang baru masuk pesantren, ingatlah untuk selalu menggunakan kerudung ketika berada di luar kamar tidur/kamar mandi! Kecuali kamu santriwan alias laki-laki ^_*.

read more »

Minggu, 13 Januari 2013

(Nyaris) Menjadi Mediator Penular Virus

DAAI TV menyiarkan suatu acara yang membahas tentang penyakit cacar, yang mengingatkanku bahwa dulu si virus yang lumayan terkenal ini pernah menginap di tubuhku. Tepatnya cacar air, yang nyaris saja membuatku sebagai manusia penyebar virus cacar di pesantren. Lagi-lagi di pesantren, maklum kurang sekitar 6 tahun masa sekolah dihabiskan di sana jadi banyak sekali kisah yang terjadi. Bahkan kupikir jika disusun menjadi sebuah novel, mungkin akan tetap ada kejadian yang harus dilewati supaya ketebalan naskahnya sesuai dengan permintaan penerbit (aduh, ngayal aja) Siapa tahu suatu saat kesampean bisa menuliskan kisah memoar atau fiksi tentang suka, duka, dan konyolnya kehidupan santriwati dari sudut pandang yang tidak biasa.

Waktu itu masih kelas 2 Aliyah/SMA, dan memang beberapa hari sebelumnya sedang merasa sangat bosan dan ingin pulang (mungkin bawaan kekebalan tubuh yang menurun). Akhirnya dengan kenekatan tingkat tinggi, mendatangi kantor pengasuhan (kantor guru yang bertanggung jawab atas segala hal yang berhubungan dengan asrama terutama masalah perizinan) dan mencoba meminta izin pulang meski tidak ada keperluan apa-apa. Entah karena memang tidak bakat berbohong, atau pengaruh kekebalan tubuh yang menurun, membuat ustadzah sepertinya tahu bahwa Aku tidak benar-benar punya keperluan mendesak yang mengharuskan pulang ke rumah. Maka setelah semenit dua menit berusaha memohon, dan mendapat respon yang kurang menyenangkan, maka kuputuskan kembali ke kamar dengan rasa kesal yang siap meledak kapan pun.

Tapi akhirnya cuma bisa meluapkan kekesalan di atas sebuah kertas. Kira-kira begini isi coretannya (beneran coretan seperti cakar ayam tak berbentuk). Sekali lagi ini sungguh isi hati saat emosi sudah hampir meledak, jadi jangan ditiru untuk diungkapkan di depan orang banyak, kecuali lagi akting buat pementasan teater. Sekali lagi ini hanya diungkapkan di atas sebuah kertas, tanpa ada siapa pun yang tersakiti karena mendengarnya. Tapi kemudian kusadari ada seekor kucing yang dari jauh seolah mengamatiku dengan tatapan laparnya.Glek!!!

Kenapa sih yang lain kayaknya gampang banget kalau minta izin? Giliran gue, udah jarang izin keluar, pulang juga jarang, susaaaah banget dapet izin. Padahal gue ga pernah kabur atau melanggar pelanggaran berat,.Apa iya semakin bandel santri bakal semakin gampang izin soalnya ustad/zah takut kalau ga dikasih izin itu anak tetap berani kabur, yang mau ga mau nambah satu masalah lagi yang bikin pusing kepala para ustad/zah. Buset dah, kalau gitu kenapa dari dulu gue ga jadi anak bandel aja ya? Kalau sekarang baru mulai bandel sih telat, udah jadi pengurus dan kurang 2 tahun lagi juga lulus. Sabar aja deh demi ortu. *dalam sekejap kertas berisi coretan kemarahan ini, berubah menjadi puluhan bagian kecil, dan segera meluncur ke tong sampah depan asrama.

Masih ingat tatapan lapar si kucing, atau mungkin tatapan ketakutan melihat manusia sedang ber-emosi tinggi duduk di depan pintu kamar asrama saat hujan sedang mengguyur Bogor sore hari? Ternyata setelah kuamati si kucing memang sedang kelaparan plus kedinginan. Sempat meringkuk sebentar, kemudian bangun menuju tong sampah, yang tadi sudah kutambahkan isinya dengan kertas luapan emosiku. Dengan susah payah seekor kucing kecil memasukkan kepalanya, di mulut tong sampah yang tingginya sekitar 1 meter. Berusaha mencari seonggok tulang ayam, atau makanan jenis apa pun itu yang bisa mengobati rasa laparnya. Sungguh kucing saja mau berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya, walaupun risikonya dia bisa terkena tampias air hujan yang turun dari genting. Dan saat itu pula si kucig telah memberikanku sebuah inspirasi untuk menulis semacam artikel. Memang tidak pernah sampai dipublikasikan, tapi masih tersimpan di salah satu buku harian lamaku. Setidaknya saat itu, selain kemarahanku mulai mereda Aku bisa latihan menuliskan isi pikiranku ke dalam bentuk tulisan. Jadi lupakan masalah ustadzah yang tidak memberi izin pulang, dan terima kasih pada si kucing telah menjadi sumber inspirasiku. Terima kasih Allah, waktu itu Kau tidak membiarkanku melakukan hal-hal nekat.

Kemudian beberapa hari kemudian, Aku merasa ada yang aneh dengan badanku. Agak sedikit demam, dan lebih lemas dari hari biasanya. Tambah terkejut lagi sewaktu menyadari ada dua gelembung putih berisi air, di bagian perut dan belakang telinga. Sempat bingung sendiri, sampai akhirnya gelembung yang ada di belakang telinga pecah sendiri. Jadi ingat kalau adik bungsuku dulu pernah terkena cacar air waktu masih balita, dan kurang lebih gelembungnya mirip seperti itu. Hanya saja mungkin karena masih terlalu kecil, jadi jumlah gelembungnya sangat banyak di sebagian besar anggota tubuhnya. Maka setelah menceritakan hal ini ke salah seorang teman, dia segera menemaniku pergi ke klinik pesantren untuk periksa ke dokter umum yang jaga sore itu.

Setelah kuceritakan dan kutunjukkan gelembung berisi cairan tadi, dokternya dengan cepat memberi kesimpulan bahwa bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Sama sekali tidak mengungkit ini adalah cacar, dan hanya memberikan beberapa butir vitamin. Sebenarnya merasa tidak puas, masalahnya sempat ada beberapa teman yang mengatakan tidak cocok berobat dengan dokter itu (tapi sekarang kabar yang Saya dengar tenaga medis di klinik pesantren kami sudah benar-benar kompeten). Bukan masalah isu seperti itu, tapi yang Saya rasakan ini aneh bukan sekedar kurang vitamin atau penyakit kulit biasa. Masih merasa gemetar dan badan mulai menghangat, wajah memerah dan gelap (kalau gelap memang sudah sejak dulu kulitnya gelap). Karena khawatir jika ini benar-benar penyakit cacar yang bisa dengan mudah menulari teman-teman di asrama, akhirnya Aku ditemani kedua orang teman segera pulang ke rumah hari itu juga. Kali ini jelas mendapat izin, dan kebetulan bukan jadwalnya ustadzah yang waktu itu menolak permohonan izinku. Setelah melewati perasaan yang campur aduk di dalam angkot, akhirnya kami sampai di rumah, dan kedua temanku segera kembali ke pesantren. Terima kasih teman-teman.

Malamnya, Mama segera membawaku periksa ke rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan, di mana dokter itu mengamati gelembung yang keduanya sudah pecah, serta mengeluarkan sensasi hangat itu, dengan bantuan cahaya lampu. Benar saja, dokter yang kali ini mengatakan bahwa gelembung air yang muncul di tubuhku adalah gejala awal dari cacar air. Akhirnya selain diberikan obat-obatan luar dan dalam, dokter juga memberikan surat keterangan dokter, supaya Aku bisa istirahat di rumah selama beberapa hari sebelum kembali ke pesantren.

Ternyata cacar air yang kualami ini tidak separah adikku dulu. Mungkin karena Aku mengalaminya saat kekebalan tubuh sudah mulai menguat, tidak seperti kekebalan tubuh anak balita. Jadi memang tidak terlalu banyak gelembung cacar air yang muncul selama beberapa hari istirahat di rumah. Selain itu juga dikarenakan pemberian obat sudah dilakukan di masa-masa awal perkembangan virus, jadi si virus juga mungkin belum begitu kuat menahan gempuran obat. Ada satu hal yang baru kuketahui tentang cacar air. kata orang-orang dulu, selama sakit cacar tidak boleh mandi. Tapi dokter yang memeriksaku mengatakan, malah harus mandi untuk menjaga kebersihan tubuh, cuma air yang dipakai mandi harus diberi sejenis obat khusus. Obat khusus itu berbentuk bubuk berwarna ungu agak berkilauan, sehingga kalau dicampur ke dalam air, warna air berubah menjadi ungu kebiruan. Jadi ingat blao yang kadang dipakai beberapa teman untuk mencuci pakaian. Ingat teman-teman, jadi ketakutan kalau-kalau saat ini atau nanti jika kukembali ke pesantren, menulari teman-teman menjadi penderita cacar. Semoga tidak terjadi, lagi pula sebagian besar mereka bilang kalau sudah terkena cacar saat masih kecil. Konon katanya cacar hanya bisa menjangkiti manusia sekali seumur hidup, benarkah demikian?

Beberapa hari sudah lewat, dan tubuh sudah merasa lebih fit. Hanya bekas-bekas gelembung cacarnya yang belum semuanya hilang dari tubuh. Saat kembali ke pesantren juga masih harus mandi dengan air berwarna ungu. Syukurlah tidak ada satu orang pun teman-teman yang tertular cacar dariku. Mereka sehat wal'afiat, hanya ada satu kejutan untukku. Kemarin ada pemeriksaan lemari dari pengasuhan. Lemariku yang memang sedang rusak kuncinya, otomatis juga menjadi sasaran pemeriksaan. Isinya jangan ditanya lagi, super berantakan. Awalnya santai karena tidak merasa menyembunyikan barang terlarang, tetapi setelah memeriksa lebih teliti ada yang disita. Ya, sebuah kaset nasyid. Please deh, bukankah setiap sore juga selalu diputar kaset nasyid dari pengeras suara? Berarti itu bukan sesuatu yang terlarang kan? Lagipula kaset itu baru kubeli saat ada bazar yang diadakan di dalam pesantren. Jelas-jelas dijual di dalam lingkungan pesantren, berarti siapa saja boleh membeli dan menyimpannya, termasuk seorang santri. Padahal belum pernah sekalipun di putar, niat membeli selain untuk koleksi pribadi juga bisa digunakan saat ada acara organisasi kelak. Masih ingat kalau itu kaset Justice Voice. Dan akhirnya suatu ketika Aku mendengar lagu nasyid dari kaset itu diputar di pengeras suara. Bukan sok ngakuin, tapi sebelumnya kaset itu belum ada di dalam kotak koleksi kaset milik bersama. Ya sudahlah, setidaknya Aku masih bisa mendengarkan lagunya. Loh, malah bahas kaset, piye to' nduk?

Akhirnya diriku berkenalan juga dengan yang namanya virus cacar air, bahkan si virus sempat menginap di tubuh selama berhari-hari. Akhirnya keinginan untuk pulang ke rumah, kesampean dan lebih dari satu hari malah. Akhirnya juga Aku senang karena tidak menjadi seorang mediator utama penyebar wabah cacar air di pesantren, karena lebih cepat diketahui sebelum terlambat. Dan akhirnya saat ada acara lomba nasyid antar santri, Aku bisa memegang kembali kasetku meski judulnya tetap meminjam kepada pihak pengasuhan, untuk dipakai selama lomba berlangsung ^_^. Akhirnya tulisanku ini selesai. Selamat petang menjelang malam pemirsa!!!


read more »