Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Juni 2013

Mengatasi Insomnia Secara Islami

Hampir semua orang tahu apa yang disebut dengan insomnia. Itu kan yang seluruh atau sebagian ingatannya hilang? Wooi, itu amnesia Neng. Insomnia merupakan keadaan di mana seseorang mengalami gangguan tidur. Sebelumnya admin blog ini pernah menulis tentang insomnia, ya walaupun hanya satu paragraf tidak jelas, karena saat itu mungkin juga sedang menjadi seorang penderita insomnia. Mau tahu tulisannya? Cap cus ke TKP gan...

Menurut kamuskesehatan.com,  Insomnia adalah gangguan di mana orang tidak mendapatkan tidur yang cukup, karena satu atau beberapa faktor. Pada siang hari, penderitanya cenderung memiliki gejala berupa: kantuk di siang hari, kelelahan, dan penurunan kewaspadaan mental. Bentuk insomnia bisa terlihat dalam hal-hal beriku: ketidakmampuan untuk tidur, ketidakmampuan tetap lelap saat tidur atau terbangun di waktu yang terlalu awal, dan belum sempat mendapat tidur yang cukup. 

Berdasarkan waktunya, dibagi menjadi dua kelompok: (1) Insomnia akut, yaitu terjadi dalam periode yang singkat; dan (2) Insomnia kronis, yang gejalanya dialami lebih lama/biasanya lebih dari satu bulan. Sedangkan menurut pemicunya, dibagi menjadi insomnia primer (tidak dapat dikaitkan dengan gangguan lain selain masalah tidur) dan insomnia sekunder (dapat ditelusuri ke sumber lain, seperti: kondisi medis, penggunaan obat-obatan, alkohol, dan gangguan mental seperti depresi berat). *Sumber: http://kamuskesehatan.com/arti/insomnia/


Jadi kurang lebih insomnia itu bisa berupa sulit memejamkan mata walau badan sudah berbaring di atas kasur, atau bisa juga tidur dalam kondisi yang jauh dari kata lelap dan mudah terbangun meski tubuh belum cukup beristirahat. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk mengatasi insomnia. Bagi yang sudah mengalami insomnia kronis, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan seorang ahli. Tapi jika kita merasa itu hanya karena ada hal yang menjadi beban pikiran, maka tidak ada cara lain selain berusaha menenangkan diri sendiri.

Bagaimana caranya? Agama apa pun pasti mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengingat Tuhan untuk mendapatkan ketenangan hati. Termasuk Islam, yang jumlah penganutnya terbanyak di Indonesia. Jadi salah satu cara yang patut dicoba adalah membaca wirid menjelang tidur, yang saya kutip dari sebuah buku berjudul "Fikih Wanita: Antara Tinjauan Agama & Medis" (Hj. Saidah Said dan Hj. Mufidah Umaroh Anshori, 2012). Semoga bermanfaat tidak hanya sekedar untuk mengatasi insomnia, tetapi juga menjaga kita supaya selalu dalam keadaan mengingat Allah swt, dalam bangun dan tidur, serta dalam hidup dan mati.

Bacaan wirid menjelang tidur (Berhubung tidak punya aplikasi tulisan Arab, jadi saya tulis latinnya saja.):

1. Bismillaahirrahmaanirrahiim, 21 kali

2. Surat Al-Ikhlas, 7 kali

3. Surat Al-Falaq, 7 kali

4. Surat An-Naas, 7 kali

5. Subhaanallah wal Hamdulillah wa Laa ilaahaillallahuwallahuakbar, 7 kali

6. Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammad wa 'alaa ali sayyidinaa Muhammad, 7 kali

7. Bismillaahilladzii laa yadhlurru syai'un fil ardhli wa laa fis-samaa'i wa huwas-samii'ul 'aliim, 7 kali.
read more »

Selasa, 21 Mei 2013

Silver 'Jomblo'. So, What's The Problem?

Beberapa tahun silam ada seorang kawan yang terkejut (padahal tidak ada niat untuk membuatnya kaget loh) karena satu fakta dari diri saya, yang menurutnya agak aneh. Kira-kira seperti ini kutipan pembicaraan kami di suatu pagi menjelang siang, di halaman sebuah instansi pendidikan milik pemerintah. Sudah lupa pembicaraan apa yang akhirnya mengarahkan kami ke masalah tersebut. Kalau tidak salah sih saat dia bicara cowoknya, yang waktu itu mengantarnya atau kalau tidak salah ingat, akan menjemput dia setelah urusan kami selesai.


"Masa sih? Beneran? Enggak mungkin ah, masa enggak pernah pacaran?"

"Kok enggak mungkin? Beneran lah, emang harus ya pacaran?"

"Oh, kamu dulu sekolah di pesantren sih ya. Kan memang enggak boleh pacaran."

"Ya, bukan karena itu juga alasan utamanya. Banyak kok yang pada punya status pacaran walau sekolah di pesantren. Cuma bedanya sama yang non pesantren, ya enggak bisa bebas ketemu. Sekedar status pun mesti hati-hati diumpetin, kalau ketahuan pasti dapet hukuman."

"Terus kenapa enggak ikutan yang lain? Enggak mungkin kan kalau enggak ada yang naksir atau ditaksir?"

"Kalau yang pernah disuka sih pasti ada, walaupun diam-diam aja. Tapi kalau yang suka sama saya sih enggak tahu ya, mungkin enggak ada soalnya dulu saya super duper kuper." (kalau kuper kayaknya masih deh sampai sekarang). "Lagian, dulu takut banget ngelanggar peraturan, takut dihukum apalagi kalau sampai orang tua dipanggil, kan dobel tuh hukuman dari pesantren plus dari ortu. Alhasil ketakutan itu bikin enggak akrab sama anak putra dan enggak memungkinkan pacaran."


Teman saya terdiam sesaat mungkin merasa sungkan dan enggak enak udah menyinggung hal ini. Padahal sih buat saya pribadi enggak masalah, tapi memang tren anak muda zaman sekarang ditambah gencarnya media massa memprovokasi budaya pacaran, membuat saya maklum saat teman takut membuat saya tersinggung. Mungkin juga beberapa anak muda yang konon mengaku gahool geelaa (eh ini sih alay), akan berkata seperti ini jika saat itu mendengar kisah saya. 'Hari gini umur udah hampir kepala dua masih jomblo? Hati-hati loh jadi jomblo perak.' *Perak diidentikkan dengan usia 25 tahun, semacam perumpamaan emas untuk usia setengah abad atau 50 tahun. Dan akhirnya teman saya pun berkata, entah bermaksud menghibur atau memang benar-benar tanpa ada maksud apa pun.


"Wah, berarti beruntung dong yang nanti jadi pacar kamu, soalnya dia jadi yang pertama."  

Saya cuma tersenyum menanggapinya (sambil membatin 'Wallahu'alam' bisa jadi juga enggak akan pernah pacaran sebelum melepas masa lajang, ups!).


*****Time has gone*****

Dan memang segala sesuatu sungguh adalah sebuah misteri ilahi, seperti itulah juga kisah seorang cewek yang sebentar lagi menyandang status jomblo perak. Yess!!! Kok senang sih, jangan-jangan cuma akting sekedar menghibur diri? Asli, ini bukan akting, tapi bersyukur karena masih dilindungi sama Allah swt, untuk terhindar dari status pacaran. Karena konon katanya, tidak ada istilah pacaran dalam Islam. Kalau pun ada yang bisa menyakinkan bahwa tidak selamanya pacaran itu negatif, saya sendiri tidak yakin bisa terlindungi dari hal-hal yang tidak diperbolehkan agama. Jadi kalau merasa benteng diri ini tidak kuat, bukankah terhindar dari hal seperti itu, adalah suatu hal yang patut disyukuri?

Enggak pernah pacaran aja kadang bisa drop atau stres karena masalah lainnya. Apalagi kalau ditambah hal seperti itu, entah apa jadinya dengan diri ini kalau sewaktu-waktu muncul hal buruk. Jadi kenapa harus risih dengan ledekan atau gurauan tentang status jomblo? Toh, tanpa ditambah dengan pacaran pun dosa saya sudah menggunung tinggi, masa iya harus ditambah lagi? So, menjelang beberapa bulan lagi (kalau masih ada umur) saat usiaku mencapai dua puluh lima, dengan itu pula aku berhasil mencapai status sebagai jomblo perak. And I'll say "Thanks God, because You never give me a chance to make an illegal relationship before marry." Alhamdulillahirabbil'aalamiin.

read more »

Senin, 25 Februari 2013

Artikel untuk Radar Banten

Selagi bingung mau menulis dengan tema apa lagi, akhirnya keingetan kalau dulu sempat dipercaya oleh teman-teman, untuk menulis artikel di sebuah media cetak lokal. Kebetulan isinya terkait ringkasan kegiatan kami, yang sekaligus menjadi salah satu mata kuliah di program studi Kesehatan Masyarakat. Sebenarnya, untuk memuat artikel tersebut, kami tidak mendapat honor, malah sebaliknya kami yang membayar (semacam pasang iklan), dan artikel ditulis oleh pihak kami sendiri. Tidak apa-apa, yang penting setidaknya kegiatan kami waktu itu, bisa dipublikasikan dan semakin banyak yang mengetahui bahwa di daerah Kelapa Dua, Tangerang, pernah ada sekelompok mahasiswa yang mengadakan berbagai kegiatan dalam bidang kesehatan. Khususnya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan lingkungan. Salah satu keuntungan buat saya pribadi, jelas dapat belajar bagaimana membuat liputan kegiatan, secara singkat namun sudah menjawab semua pertanyaan jurnalistik (5W + 1H). Berikut ini liputan yang dipublikasikan oleh Radar Banten.


KEGIATAN CEGAH DIARE DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN BERSAMA KALBE FARMA

Kegiatan cegah diare dan penyehatan lingkungan berlangsung pada tanggal 15-25 April 2009. Kegiatan ini diselenggarakan oleh mahasiswa program studi Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan disponsori oleh Kalbe Farma terutama produk Neo Entrostop sebagai obat diare.
Wilayah yang dipilih adalah Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten. Wilayah yang sudah ditetapkan untuk dintervensi oleh kelompok PBL Kelapa Dua yang beranggotakan dua belas mahasiswa/i.
Selama 10 hari, dilaksanakan sekitar tujuh kegiatan. Diantaranya penyuluhan kesehatan terkait diare serta pelatihan dan simulasi pengolahan sampah yang diadakan di aula kantor kelurahan Kelapa Dua. Untuk penyuluhan kesehatan terkait diare, pembicara berasal dari dinas kesehatan tangerang. Sedangkan pelatihan dan simulasi pengolahan sampah serta biopori disampaikan oleh perwakilan pihak Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Tangerang.

Outbound yang bertujuan memberikan materi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk murid SDN Kelapa Dua 01, perlombaan gotong royong, penyebaran stker, brosur, leaflet dan poster berisi pesan kesehatan. Kegiatan outbound dipilih untuk membuat anak-anak gembira sehingga penyampaian materi tidak membuat mereka bosan.

Kegiatan pembentukan FPL adalah kegiatan terakhir namun sekaligus awal dari pemberdayaan masyarakat untuk mandiri dalam mengelola lingkungannya sendiri. Pembentukan forum tersebut baru bisa dilaksanakan di RW 04 Kelurahan Kelapa Dua sebagai contoh. Diharapkan masyarakat disana mampu menjadikan lingkungannya bersih sehingga kesehatan pun dapat dengan mudah dicapai. Dari forum follow up kegiatan yang sudah dilaksanakan dapat dilihat tingkat keberhasilannya. 

Diharapkan kegiatan seperti ini dapat berlanjut untuk mewujudkan kesehatan dan mencegah dari berbagai penyakit.


read more »

Rabu, 16 Januari 2013

Artikel Pertama & Tanpa Judul

Kali ini Saya akan memposting artikel singkat, yang merupakan artikel yang pertama kali kutulis. Belum pernah dipublikasikan, dan sekedar tersimpan di salah satu buku tulis usang yang berperan sebagai catatan harian tahun 2003. Masih ingat posting sebelumnya ketika Saya dilanda emosi karena tidak mendapat izin pulang dari pengasuhan di sini? Nah, ada seekor kucing yang menginspirasi Saya untuk menulis sebuah artikel. Sekali lagi, untuk pertama kalinya menulis semacam artikel. Memang tahun 2005 adalah tahun ketika diri ini mulai bertekad tidak hanya sekedar menulis curhatan sehari-hari di buku harian, tetapi juga belajar menulis berbagai macam karya fiksi atau non fiksi. Setelah berhasil menulis 2 buah cerpen abal-abal sebelumnya, maka artikel inilah yang menjadi awal ketertarikanku pada genre non fiksi.

Saat ini akan Saya ketik artikel tersebut, meski agak sedikit pusing membacanya. Hal ini dikarenakan saat menulis suasana hati sedang tidak baik, dan memang pada dasarnya Saya bukanlah orang yang konsisten dalam menulis dengan tangan. Sepatah dua patah kata rapi, selanjutnya miring, belok, melenceng, dan banyak coretan. Memang tidak berjudul, karena waktu itu hanya menulis apa yang ada di pikiran, dan judulnya belum sempat terpikir. Masih ada keterangannya pula di bagian atas tulisannya seperti ini (maaf masih masa labil ya beginilah kenyataanya), "Sore hari saat hujan turun dengan deras. Kutulis saat hatiku sebel cause enggak boleh pulang."

Rain City, 17 Maret 2005.

Jika kita mau merenung, bahwa Allah swt mengingatkan manusia lewat perilaku binatang. Suatu ketika Saya memperhatikan seekor kucing. Apa sih yang istimewa? Keistimewaannya adalah seekor kucing saja mempunyai tekad dan usaha yang besar dalam mencukupi kebutuhannya.

Sore itu hujan turun dengan derasnya. Udara dingin menusuk deretan rapi tulang rusuk kucing yang lapar dan kedinginan, menyusuri koridor gedung Al-Azhar. Sang Kucing pun menuju tempat sampah di depan kamar Saya. Dia melongokkan kepalanya mencari tulang belulang sisa makanan manusia. Akhirnya sebuah tulang ayam pun dia dapatkan.

Lalu dia naik ke teras dan memakannya dengan lahap. Berkali-kali dia mencari makanan di tempat sampah lagi. Sampai dia yakin benar-benar tidak ada lagi yang bisa dimakannya. Kemudian dia pergi berjalan mencari tempat yang lebih hangat. Sempat Saya lihat kucing itu menggigil saat sedang berada di atas tempat sampah yang terkena tetesan air hujan. Tapi dia tepis rasa dingin itu dengan harapan mendapat seonggok makanan.

Pelajaran yang dapat kita ambil adalah: Bahwa untuk mencapai tujuan, kita harus rela berkorban, punya tekad dan usaha yang gigih. Seringkali baru satu kali gagal kita sudah menyerah, putus asa, bahkan menyalahkan diri sendiri. Umpatan-umpatan "Saya tidak bisa", adalah sesuatu hal yang menghambat cita-cita.

Nabi Muhammad saw berkali-kali dicaci maki, bahkan dilempar kotoran dan batu. Tapi beliau tidak menyerah, walaupun hanya mengeluh. Masih banyak orang-orang sukses dengan melakukan usaha yang sangat gigih.

Dan ingatlah selalu untuk menyeimbangkan usaha dan doa. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Jadi capailah cita-cita dengan tekad dan usaha yang kuat. Akhir kata, selamat berjuang!!!.
read more »

Jumat, 21 Desember 2012

DUKUNGAN UNTUK ODHA (Pernah Dikirim Untuk Sebuah Lomba Tahun 2009)

 Jangan ditanya menang atau tidak, kalau menang tentu tidak akan Saya posting sekarang. Namun karena temanya masih lumayan hangat untuk dibahas di Bulan Desember, maka penulis hanya ingin berbagi dengan siapa pun yang mau dibagi informasi ini. Penulis juga menggunakan beberapa sumber referensi (tercantum di dalam paragrafnya), jadi ini hanya rangkuman kecil yang penulis satukan dari berbagai data, fakta, atau pun pandangan para ahli. Semoga bermanfaat, maaf jika ada hal-hal kurang tepat dalam penyampaian informasi ini. Selamat membaca ^_^.

DUKUNGAN UNTUK ODHA
 

”Anda positif terinfeksi HIV.” Seakan disambar petir saat Toto (bukan nama sebenarnya) divonis terinfeksi HIV. Flu yang sering menjangkitinya selama ini ternyata akibat HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Walaupun ia masih tampak dan merasa sehat karena belum memasuki tahap AIDS, namun sudah terbayang rasa sakit yang tidak hanya dirasakan fisik, namun juga sakit secara sosial dan psikologi. Apa anggapan masyarakat dan keluarga? Karena di masyarakat penyakit ini identik dengan hal-hal negatif seperti seks bebas/seks menyimpang, penggunaan narkoba dan kematian. Terlebih bagi mereka yang tidak mendapat informasi yang benar tentang HIV/AIDS. 
Berbagai pencegahan dari penyakit HIV/AIDS mungkin sudah sering disosialisasikan walaupun mungkin sasarannya belum sesuai yang diharapkan. Namun, jika penyakit sudah terjangkit HIV/AIDS seberapa banyak yang tahu akan penanganannya? Masalah ini dapat berdampak negatif pada kehidupan penderitanya. Tidak hanya masalah kesehatan fisiknya, tapi secara psikis akan mempengaruhi kehidupan.
Masih ada masyarakat yang memperlakukan para ODHA dengan perlakuan yang tidak menyenangka. Mendiskriminasi, menjauhi seakan-akan HIV dapat menular hanya dengan bertemu dengan ODHA. Padahal masih banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang ODHA. Terlebih bila lingkungan sosial memberi dukungan suportif tanpa memandang mereka rendah.
Pengobatan dan perawatan dalam menangani masalah HIV AIDS diantaranya adalah konseling dan tes mandiri, dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.
Unsur-unsur perawatan lain dapat membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia. Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya. (http://pojokpenjas.blogspot.com/2008/08/perawatan-hiv-aids.html)
Pengobatan atau dengan kata lain mempertahankan kondisi seseorang yang telah terjangkit HIV AIDS selain dengan obat Antiretroviral (ARV) juga didukung kondisi psikologis penderitanya. Dengan kondisi psikologis yang terkendali maka setidaknya ODHA memiliki semangat hidup tinggi dan jauh dari depresi. Sebaliknya kondisi mental dan jiwa yang terganggu karena depresi dan putus asa akan memperburuk keadaan. Kondisi fisik akan semakin lemah, berbagai infeksi akan samakin mudah menyerang tubuh.
Selain obat ARV, asupan gizi ODHA harus mendapat perhatian khusus. Pada orang yang sehat dan normal pun jika memiliki gangguan gizi akan berkibat buruk. Terlebih bagi ODHA. Dalam keadaan yang terpuruk ataupun depresi karena menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, kemungkinan besar akan mengurangi asupan makanan. Nafsu makan menurun, ataupun jika seorang ODHA hidup seorang diri dan tidak mempunyai penghasilan yang menjadikan daya beli rendah sudah pasti mempengaruhi asupan gizi yang dikonsumsi.
Kebutuhan kalori ODHA berkisar sekitar 2000-3000 Kkcal/hari dan protein 1,5-2 gram/kgBB/hari. Untuk mencukupi kebutuhan kalori dan protein sehari diberikan dengan memberikan makanan lengkap 3 kali ditambah makanan selingan 3 kali sehari.Kebutuhan kalori yang berasal dari lemak dianjurkan sebesar 10-15% dari total kalori sehari. Kebutuhan zat gizi makro tersebut di atas harus dipenuhi untuk mencegah penurunan berat badan yang drastis. Pemantauan status gizi dan makanan bagi penderita ODHA sendiri juga mutlak diperlukan untuk mengetahui efek dari infeksi HIV dan kesehatan ODHA. (http://www.eurekaindonesia.org/gizi-yang-baik-untuk-orang-dengan-hivaids-odha/)  
  Terdapat Strategi Nasional 2007-2010 (STRANAS 2007-2010) menjabarkan paradigma baru dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dari upaya yang terfragmentasi menjadi upaya yang komprehensif dan terintegrasi diselenggarakan dengan harmonis oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder). Akserelasi upaya perawatan, pengobatan dan dukungan pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) dijalankan bersamaan dengan akselerasi upaya pencegahan baik dilingkungan sub-populasi berperilaku risiko tinggi maupu dilingkungan sub-populasi berperilaku risiko rendah dan masyarakat umum. (http://www.undp.or.id/programme/propoor/The%20National%20HIV%20&%20AIDS%20Strategy%202007-2010%20(Indonesia).pdf)
Berdasarkan strategi yang telah ada, pelaksanaannya tidak hanya dilakukan oleh satu bidang. Namun semua sektor (lintas sektor) harus dilibatkanuntuk tercapainya tujuan bersama. Tanpa adanya kerjasama yang baik, maka akan sangat sulit dan mendekati mustahil dalam pencapaian penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.
Saat ini mulai banyak LSM yang peduli terhadap permasalahan ini. Banyak yang kemudian menyediakan forum dan layanan konsultasi bagi para ODHA. Kemunculan lembaga non-pemerintah seperti ini sangat membantu. Terlebih dalam kondisi krisis ekonomi global, kondisi stres ODHA dan keluarganya dapat meningkat. Karena kondisi ekonomi juga dapat membuat seseorang berpikir ulang untuk tetap merawat sendiri keluarganya yang telah berstatus ODHA.
Seharusnya kehadiran lembaga seperti itu dapat merubah stigma masyarakat. Terutama keluarga ODHA untuk tetap menerima keadaan seorang ODHA. Sebab bagaimanapun juga dukungan keluarga adalah yang terpenting walaupun ODHA tersebut mengikuti komunitas yang dibimbing oleh suatu lembaga. Namun, memang tidak mudah menerima anggota keluarga yang ODHA jika stigma masyarakat masih tetap buruk. Masih banyak yang mementingkan ”apa kata orang nanti?” dibandingkan mengikuti kata hatinya.
Bagaimana jika yang terinfeksi HIV adalah seorang anak? Anak dibawah umur yang masih sangat membutuhkan kasih sayang. Anak yang tentunya masih ingin bermain dengan teman-temannya. Jika mereka sudah dikucilkan sejak kecil, tentunya sangat sulit mempertahankan kesehatan. Secara psikologis mereka merasa minder dan malu untuk bersosialisasi. Terlebih jika keluarga tidak mau merawat, tidak ada yang akan menjamin kebutuhan obat-obatan dan gizinya. Mungkin diantara sekian banyak anak jalanan adalah pengidap HIV/AIDS.
Bayangkan jika sejak bayi sudah terinfeksi HIV, maka secara medis kecil kemungkinan akan bertahan hingga usia remaja. Ini akan menyebabkan meningkatnya ”lost generation” di negara Indonesia. Beberapa kasus gizi buruk pada balita ternyata diakibatkan HIV yang ditularkan dari orang tua balita. Berawal dari status gizi yang buruk dan adanya infeksi HIV, balita akan semakin rentan dan dapat meningkatkan angka kematian anak.  
Jika seorang ibu positif terinfeksi HIV, sebenarnya masih terdapat cara pencegahan penularan ke janin/bayi. Diantaranya adalah melahirkan dengan proses operasi caesar. Hal ini disebabkan banyak kejadian penularan terjadi saat proses persalinan normal. Pencegahan kedua adalah pemeriksaan kehamilan secara rutin (Antenatal Care/ANC) untuk berkonsultasi kepada dokter. HIV tidak menular melalui ASI, namun selama proses menyusui, biasanya terjadi mastitis (peradangan pada payudara). Peradangan dan luka inilah yang dikhawatirkan menularkan HIV ke bayi. Maka sebaiknya tidak menyusui untuk mencegah penularan ke bayi.   
ODHA tidak sepatutnya mendapatkan diskriminasi. Masih banyak hal positif yang dapat mereka lakukan. Terutama jika masih pada tahap HIV dan aktif mengkonsumsi ARV. Pada tahap ini penderita masih tampak sehat karena gejalanya belum tampak. Sehingga mereka masih bisa mencari nafkah untuk keluarga. Namun, di banyak lapangan pekerjaan tidak memperkerjakan seorang ODHA. Ketakutan tertular adalah alasan yang kerap dilontarkan. Ini dikarenakan keterbatasan informasi yang tepat dan benar masyarakat. Masalah ini menjadi gambaran betapa tidak mudah mensosialisasikan informasi kesehatan.
 Harga ARV yang mahal, menyebabkan ODHA dari kalangan menengah ke bawah tidak mendapatkan ARV. Kondisi ekonomi yang buruk memperparah keadaan ODHA. Padahal jumlah ODHA terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini juga akan menurunkan angka harapan hidup orang Indonesia. Dengan kata lain kondisi kesehatan di Indonesia menjadi buruk. Dari aspek ekonomi akan butuh dana lebih untuk mengatasi semua permasalahan kesehatan.  
 Pepatah ”nasi sudah jadi bubur” bukankah sebaiknya ”bubur” itu dimakan daripada dibuang? Begitu pula jika sudah menjadi ODHA, maka terima mereka dan arahkan untuk dapat melakukan hal positif dibandingkan jika kita mendiskriminasi mereka yang akan menimbulkan masalah baru? Bukan tidak mungkin jika para ODHA yang merasa sakit hati karena diskriminasi yang mereka rasakan berperilaku yang menyebabkan peningkatan penularan HIV/AIDS. Seperti mencari teman ataupun kekasih dengan tujuan menjerumuskan agar menjadi sesama ODHA. Hal ini harus dicegah dengan cara memperlakukan mereka sebaik mungkin.
”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.” Salah satunya caranya adalah membantu para ODHA disekitar kita dengan minimal mendukung mereka. Jika dapat membantu mengarahkan untuk melakukan hal-hal positif akan lebih baik. Seperti menciptakan lapangan pekerjaan atau minimal membantu mengajak masyarakat untuk ikut memberi dukungan. Dengan begitu semangat hidup ODHA akan meningkat yang baik untuk kondisi kesehatan. Paling tidak meringankan rasa sakit dan mempertahankan hidup mereka.
Komunitas sesama ODHA akan sangat membantu. ODHA tidak merasa sendiri dan mudah berkonsultasi dengan konselor ataupun sesama ODHA yang mungkin memilki pengalaman lebih. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat membantu pembentukan komunitas serta membimbing kegiatan komunitas ini. Dari komunitas ODHA inilah berbagai informasi diberikan untuk memotivasi dan bersama bangkit dari keterpurukan dan putus asa yang mereka rasakan.
Tentu tidak bisa hanya mengandalkan komunitas ODHA. Dukungan keluarga sangat diperlukan. Maka akan lebih baik para ODHA tetap tinggal bersama keluarga, tidak seperti kebanyakan yang dimasukkan ke tempat rehabilitasi khusus ODHA. Ini semakin menguatkan adanya diskriminasi oleh keluarga sendiri. Tetapi tidak dapat dipungkiri, HIV/AIDS masih dianggap aib oleh keluarga ODHA. Pendekatan dan penyampaian informasi kepada keluarga/orang yang tinggal dengan ODHA harus lebih ditingkatkan.
Agama dapat menjadi media pengobatan, perawatan dan dukungan. Mendekatkan diri ODHA kepada tuhan adalah cara yang terbaik. Hanya kepada Tuhan-lah seseorang memohon kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi segala permasalahan. Siraman rohani dapat dimasukkan ke dalam agenda kegiatan komunitas ODHA. Dengan jiwa yang tenang, maka kondisi kesehatan akan dapat dipertahankan. Keluarga akan semakin sabar dan diharapkan mau dan mampu menerima anggota keluarganya yang ODHA.     
ODHA juga manusia yang punya hak yang patut kita hargai. Maka sayangi ODHA, dukung mereka dan mari berperan dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS!

31 Mei 2009
Nila Amalia Husna 
read more »

Kamis, 11 Oktober 2012

MEMETIK HIKMAH

 Dear my blog (begaya nostalgia zaman ABG yang sering menulis kata-kata "Dear my diary"). Sedang merapikan file-file di laptop yang hampir empat tahun menjadi sahabat setiaku, meski sempat beberapa kali di-"operasi" karena bermasalah sama LCD-nya. Laptop yang masih setia mau bertahan hidup atas bantuan "dokter" spesialis laptop dan komputer (kalo disingkat gelarnya Sp.LK, hehe ngaco dah). Terutama penyakit yang menyerang LCD-nya akibat kesalahanku mengajak si laptop naik turun angkot, diboncengin sepeda motor dengan guncangan kecil sampai guncangan hebat, tanpa pelindung tas khusus laptop. Karena dulu berpikir sepertinya cukup deh pakai tas ransel biasa, tapi itu dulu sekarang udah ada tas khususnya kok.

Lah, jadi ceritain si laptop. Oke, kembali ke aktivitas yang tadi kulakukan, ngeberesin file-file lama di laptop. Dan sampailah pada sebuah folder bernama "Kumpulan Tulisan." Jadi itu adalah folder tempat kumenyimpan beberapa tulisan yang sempat berhasil (ada yang selesai dan ada juga yang masih ngambang karena keburu merasa buntu tapi berharap suatu saat bisa dilanjutin) kubuat untuk latihan, atau diikutsertakan dalam lomba. Lagi-lagi pasti belum pernah menang, tapi tetap berusaha menulis dan menulis lagi. Ada yang berupa fiksi atau pun non fiksi. Mulai dari sekedar curhatan dodol cewek kurang pergaulan, sedikit berimajinasi dengan puisi atau cerpen abal-abal, sampai coretan sotoy yang berusaha mengingatkan diri sendiri dan orang lain melakukan hal-hal positif.

Salah satunya adalah sebuah tulisan, kalau tidak salah tulisan ini termasuk kategori artikel. Tulisan tersebut kubuat saat masih aktif mengikuti sebuah pelatihan menulis, dimana Aku memilih peminatan artikel yang mewajibkan kami pesertanya membuat sebuah artikel setiap minggunya untuk dibedah ramai-ramai barenga mentor dan teman sesama peserta. Jadi selain dibedah artikelnya, kami juga disarankan aktif mencoba mengirimkan artikel ke media massa (terutama media cetak). Waktu itu sepertinya Aku sempat mengirimkan artikelku ke redaksi koran ternama, yang memiliki kolom artikel bernuansa islami. Tapi, sudah diduga terutama karena baru pertama buat artikel, ya tidak diterima. Maka daripada membusuk di laptop (emang buah ya bisa busuk?) maka kuputuskan membaginya di sini. Lumayan menambah postingan kan? Memang tulisannya sudah lama banget dibuatnya, tapi yang penting tetap original karya sendiri ^_*.

Selamat membaca karya seseorang yang memaksa membuat artikel ini, kritik dan saran dengan senang hati diterima oleh penulisnya.

MEMETIK HIKMAH
Kehilangan, kegagalan, kekecewaan, dan hal yang tidak kita suka dalam hidup pasti pernah dialami. Namun, ketika itu dialami seseorang seringkali menjadikannya patah semangat. Padahal tanpa semangat bagaimana mungkin hidup kita akan menjadi bahagia? Bahkan kehilangan semangat dapat menghancurkan masa depan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-isra’ ayat 83:
“Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong; dan apabila ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa.”
Hikmah bagaikan buah yang kita petik lalu dimakan dan zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya dimanfaatkan untuk kesehatan jasmani. Hikmah segala peristiwa yang ada harus diambil, direnungi dan dijadikan pelajaran berharga sehingga kita menjadi manusia yang bijak dalam menjalani kehidupan. Hikmah dari suatu kejadian yang pernah kita alami pun dapat diceritakan kepada orang lain. Terutama untuk menghibur dan memotivasi supaya orang itu bangkit dari keterpurukan.
Kebahagiaan yang kita rasakan di dunia belum tentu adalah yang terbaik. Begitu pula kesedihan akan musibah dan penderitaan yang dirasakan belum tentu hal yang buruk untuk kita. Hanya Allah-lah yang benar-benar tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Oleh karena itu sebagai makhluk Allah SWT  sepatutnya kita menerima segala ketentuannya. Hal ini dijelaskan di dalam surat Albaqarah ayat 216:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Albaqarah: 216)
Selalu melihat hal positif di balik semua kejadian yang dialami, meyakini bahwa setelah kesedihan selalu ada kebahagiaan, dan yakin bahwa kejadian apapun yang menimpa, adalah yang terbaik untuk diri kita.
Mari kita jalani kehidupan dengan sabar, syukur, tawakal, ikhtiar serta selalu ber-husnudzan akan ketentuan Allah. Hal-hal tersebut dapat membuah kita lebih ikhlas menerima apa yang kita dapatkan. Melihat dan memanfaatkan buah hikmah yang dihasilkan oleh setiap peristiwa.
Pondok Cabe, 29 Maret 2009
read more »