Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Mei 2013

Thank You So Much

Several months ago, my Mom gave me this book. She said that I must read it, because so many important informations in it. Especially about islamic laws (fiqh) and healthiness for women. 



Thank you Mom for this book, for your love, and everything you gave  since when you pregnant me until now. I love you Mom ;). I just try and try to do everything to make you happy. I am sorry when you sad, sick, and crying because of me.
read more »

Minggu, 03 Februari 2013

Kenapa Harus Menulis?

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membuat ulasan tentang buku yang satu ini. Buku tutorial menulis pertama yang bisa kumiliki, sekaligus satu-satunya (dari beberapa buku tutorial menulis koleksiku) yang berhasil benar-benar membuat seorang Nila mempraktekkan berbagai macam jenis latihan yang dianjurkan oleh Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D. Sang penulis buku yang mengakui kedahsyatan menulis sebagai penyelamat hidupnya.

Saat usia empat belas tahun Caryn merasa hidupnya telah hancur, karena putusnya persahabatan dan peristiwa perceraian orang tuanya di waktu yang bersamaan. Saat itulah dia mulai menulis, dan benar-benar menyelamatkan hidupnya dari zona putus asa. Sama seperti yang dialami oleh Pak Habibie di salah satu tulisan terdahulu di sini.

Tetapi saking banyaknya hal bermanfaat yang ada di dalam buku ini, saya merasa bingung akan mulai membahas dari mana. Selain isi buku yang benar-benar pendapat/pengalaman penulisnya, juga disisipi oleh sekian banyak quotes dari para penulis terkenal di dunia. Tentu saja semakin membuat pikiran saya bercabang, karena setiap quote, ingin saya bahas makna sekaligus keterkaitannya dengan apa yang saya alami. It's real happened in my writing process.

Sekarang sepertinya saya tahu apa yang harus dilakukan untuk tetap dapat berbagi dengan orang lain, sekaligus kembali belajar memahami apa yang ada di dalam buku tersebut dengan menulis. Mungkin butuh puluhan tulisan (perkiraan kasarku ya), untuk benar-benar bisa menamatkan bahasan di dalam buku ini. Mungkin kali ini diawali dengan perkenalan singkat buku, dan pendapat dari penulis bukunya tentang alasan mengapa kita harus menulis.

Satu lagi informasi yang hampir terlupakan. Buku ini memang dari awal ditujukan kepada remaja (saya dibelikan oleh Ayah pada tahun 2004 bertepatan dengan liburan kenaikan kelas 2 Aliyah). Jadi kalau ada pembaca berusia dewasa yang kurang cocok dengan buku ini, wajar saja. Tetapi menurut saya pribadi, buku ini tidak akan pernah pensiun menemani proses menulis sampai kapan pun. Karena sudah terlanjur klop, dan masih banyak yang belum dipraktekkan secara serius (dulu memang masih moody), maka buku ini menjadi rekomendasi utama dari buat para writer wanna be, tapi masih merasa amat pemula sepertiku.

Karena terpikir untuk mengulas bukunya hari ini, akhirnya menemukan langsung website milik Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D. Di website tersebut beliau sudah berfoto dengan buku terjemahan bahasa Indonesianya dengan cetakan terbaru. Sedangkan buku yang Saya punya ini masih cetakan tahun 2004. Ini dia penampakan buku yang Saya miliki (masih diambil dari website Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D).



Judul buku (terjemahan): DARIPADA BETE, NULIS AJA!: Panduan Nulis Asyik di Mana Saja, Kapan Saja, Jadi Penulis Beken pun Bisa!
Judul buku (asli): Write Where You Are: How to Use Writing to Make Sense of Your Life
Penulis: Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D.
Penerjemah & penyunting: Lusy Widjaja & Pangestuningsih
Cetakan/Tahun: Kedua/2004
Penerbit: Kaifa (PT Mizan Pustaka)
Kota: Bandung


12 alasan menulis kata Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D. (2004), yang dibandingkan dengan opini atau kesesuaian yang Saya alami selama ini:


No.
Alasan Menulis (Caryn Mirriam-Goldberg)
Pengalamanku
1.
Menulis membantumu menemukan siapa dirimu.
Saat orang lain menanyakan apa impian saya, walau bisa menjawab, kadang dalam hati masih bingung sendiri. Apa sih sebenarnya yang ingin kulakukan? Seperti apa sebenarnya diriku ini? Dan cara apa yang tepat untuk dilalui supaya impian itu tercapai?
Menulis dan mendata segala hal terkait diri sendiri, bisa jadi acuan awal untuk mengenali diri sendiri. Semacam dialog dengan batin, tapi didokumentasikan dalam sebuah tulisan, yang dapat dibaca sewaktu-waktu untuk kembali meningkatkan semangat saat sedang down.
2.
Menulis membantumu percaya diri dan meningkatkan kebanggaan.
Ada suatu saat ketika merasa tidak berbakat/berprestasi di bidang apa pun. Bersosialisasi dengan orang lain juga hal yang sangat sulit untuk orang seperti saya.
Tetapi ketika berhasil membuat suatu karya (walaupun belum ada orang lain yang membacanya), perlahan rasa percaya diri itu meningkat. Dan mulai bisa menyukai diri sendiri, tidak seperti sebelumnya yang sering meremehkan bahkan membenci diri sendiri karena merasa tidak bisa apa-apa.
3.
Saat menulis, kamu mendengar pendapat unikmu sendiri.
Dengan menulis, kita lebih terbantu saat memikirkan suatu masalah, dibanding sekedar memikirkannya dalam diam. Jangan dipaksakan, menulis saja tentang apa pun yang dirasa dan dipikirkan, maka pendapat unik terhadap berbagai masalah kehidupan, akan muncul dengan sendirinya. Semacam pencerahan.
4.
Menulis menunjukkan apa yang dapat kamu berikan pada dunia.
 Tidak jauh berbeda dengan poin nomor 1, saat menulis mengetahui potensi yang ada dalam diri. Kemudian, kita dapat memantapkan langkah ingin berperan di bidang apa.
Jika itu dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin dunia (minimal orang di sekitar kita) akan mengakui bahwa kita telah menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama (eh...).
5.
Dengan menulis, kamu mencari jawaban terhadap pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan.
Kadang saya menulis tentang suatu topik, yang sebenarnya bukan karena menguasai materinya. Tapi karena penasaran akan jawaban setiap pertanyaan yang muncul di pikiranku. 
Maka, sembari menulis, tentu akan berusaha mencari jawabannya dengan cara apa pun (bertanya kepada orang lain, searching di internet, atau dari buku). Saat sudah mendapatkan jawaban, masih akan menemukan pertanyaan baru lagi.
Dengan demikian mau tidak mau otak ini akan terus diajak berpikir, bertanya, mencari jawaban, menemukan jawaban, dan mengetahui berbagai pengetahuan di segala bidang. Lumayan juga sebagai cara pencegah kepikunan :).
6.
Menulis meningkatkan kreativitas.
Buntu, merasa tidak ada ide, dan bingung apa yang harus dilakukan. Menulis bisa menjadi salah satu latihan untuk mengasah diri menjadi orang yang kreatif.
Jika benar-benar tidak tahu apa yang akan ditulis, mulai saja dari menulis/mengerjakan tugas sekolah, kuliah, atau tugas di kantor.
Anggap proses mengerjakan tugas tersebut bukanlah beban, tapi sesuatu yang akan bisa melejitkan potensi kreativitas kita. Tulis tanpa memikirkan benar atau salahnya (edit setelah selesai menulis), dan lihat bagaimana hasilnya.
7.
Kamu dapat berbagi dengan orang lain melalui kegiatan menulis.
Saat bicara langsung dengan orang lain, kadang ada saja yang terlewatkan. Karena lupa, gugup, atau takut. Dengan menulis, kita bisa menjadi lebih apa adanya mengungkapkan berbagai hal kepada orang lain. Bahkan bagi pribadi yang awalnya selalu menutup diri, tidak mudah curhat atau berbagi kebahagiaan kepada orang lain.
Tanpa disadari, cepat atau lambat, saat ada yang membaca tulisan kita, akan ada orang yang merasa bahagia saat kita mau berbagi suatu hal kepada mereka. Walau hanya sebuah cerita.
8.
Menulis memberimu tempat untuk melampiaskan amarah/ketakutan, kesedihan, dan perasaan menyakitkan lainnya.
Karena akan sangat menyakitkan memendam sendiri perasaan marah, sedih, takut, atau sakit hati. Tapi juga kadang ada keadaan yang membuat kita tidak mampu/pantas mengungkapkannya kepada orang lain.
Maka luapkan semua itu dalam tulisan. Terserah mau menulis apa saja, dan sesudahnya bisa kita baca kembali.
Kalau saya pribadi, akan membuang tulisan itu jika isinya tidak ada yang bermanfaat (hanya luapan emosi, cacian, atau umpatan). Tetapi akan saya simpan atau suatu saat diolah menjadi suatu karya tulis, jika ada hal positif yang bisa dibagi kepada orang lain, supaya tidak mengalami hal serupa.
9.
Kamu dapat membantu menyembuhkan diri dengan menulis
Saya akui, kebiasaan menulis buku harian pertama kali dilakukan untuk mengobati kerinduan akan keluarga dan rumah. Saat itu memang sedang bersekolah di asrama.
Setidaknya bisa membuatku sedikit lebih kuat, dan tidak menunjukkan kesedihan di depan orang lain. Beberapa kali dalam hidup, nyaris merasa putus asa dan nekat, bisa sedikit demi sedikit pulih setelah menulis.
10.
Menulis memberimu kesenangan dan cara mengungkapkannya.
Sebenarnya sampai menuliskan di kalimat ini pun, Saya belum tahu apa yang selanjutnya akan ditulis. Tapi setelah kata demi kata tersusun menjadi kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan akhirnya menjadi suatu karangan utuh, itu memunculkan sensasi rasa yang unik.
Senang, bahagia, terkejut karena panjang tulisan melebihi apa yang dibayangkan sebelumnya, dan merasakan kepuasan batin karena ada yang bisa kuungkapkan. Walau hanya dalam sebuah tulisan.
11.
Menulis membuatmu lebih hidup.
Hmm, apa ya? Pokoknya menulis itu membahagiakan dan membuat kita merasa lebih bahagia. Bukankah setiap individu mengharapkan kebahagiaan dalam hidup? Jadi lebih hidup, menurutku lebih bahagia dalam mengisi hari-hari di dunia ini.
12.
Kamu dapat menemukan impianmu melalui menulis.
Kadang apa yang kita cita-citakan itu bukan murni impian dari lubuk hati terdalam kita. Misalnya pada dasarnya seorang anak ingin membahagiakan orang tuanya kan?
Nah, kadang tanpa sadar si anak akan menjadikan impian orang tuanya sebagai cita-citanya. Dengan menulis, dan saat pendapat unik diri kita perlahan muncul itulah, impian yang awalnya tersembunyi akan lebih mudah kita temukan.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita menulis ^_^.


read more »

Kamis, 31 Januari 2013

Menulis Itu Wow!

Beberapa waktu lalu Saya sempat menyaksikan acara Just Alvin, yang menghadirkan bintang tamu Bapak B.J. Habibie, Bunga Citra Lestari, dan Reza Rahardian. Sudah jelas bahwa akan membahas sejarah kehidupan seorang Habibie & Ainun yang dijadikan sebuah film. Satu fakta yang tak bisa disangkal adalah, film tersebut ada karena sebelumnya Pak Habibie mau berbagi kisah hidupnya dalam sebuah buku. Ditulis langsung oleh beliau, beberapa saat setelah kepergian (Almh.) Ibu Ainun.

Sudah banyak yang membahas bagaimana perjalanan cinta dari keduanya, kali ini Saya lebih tertarik kepada sebuah proses yang dilalui Pak Habibie untuk tetap tegar menjalani hidup tanpa sosok Ibu Ainun. Di acara Just Alvin, Pak Habibie menuturkan bahwa ada empat kemungkinan/pilihan yang akan dijalani beliau di masa-masa yang sulit saat itu. Penulis pernah mendengar bahwa ada perbedaan ketika seorang suami ditinggal oleh istri, dengan seorang istri yang ditinggal oleh suaminya terlebih dahulu. Mayoritas wanita lebih tegar dan kuat (terutama saat memikirkan anak-anak yang menjadi tangggung jawabnya) ketika ditinggal pasangannya, ketimbang seorang pria yang ditinggal meninggal oleh istrinya terlebih dulu.

Kalau diingat beberapa tahun lalu Nenek dari pihak Ayah, meninggal dunia. Tidak lama kemudian, Kakek pun menyusul beliau. Memang masalah ajal kalau sudah waktunya, pasti akan datang tanpa memandang waktu dan keadaan. Tapi sedikit banyak kondisi psikologis yang lemah akan mempengaruhi fisik, apalagi jika terkait kehilangan sosok orang terdekat. Kembali lagi kepada kisah Pak Habibie, yang saat itu diberikan empat pilihan (mungkin dari tim medis/psikolog/psikiater): (1) tinggal dan dirawat di rumah sakit jiwa, (2) tinggal di rumah tetapi mendatangkan tim medis untuk merawat kesehatan mental & fisik beliau, (3) beliau harus curhat dengan tim khusus, dan (4) menulis. Beliau pun memilih opsi terakhir, yaitu menulis. Dan akhirnya pilihan tersebut menjadi pilihan yang sangat tepat, bahkan bisa menghasilkan sebuah buku. Begitu pula film yang membuat heboh semua kalangan ini, tidak akan ada tanpa adanya buku Habibie & Ainun, yang langsung ditulis oleh tokoh utamanya sendiri.

Di acara lain pun, Saya sempat mendengar Pak Habibie bercerita saat menulis tentang kisahnya bersama Ibu Ainun, sampai menangis (kayaknya ada di filmnya juga). Tapi beliau tetap terus mencoba menuliskannya (tidak berhenti karena kesedihan mengingat masa lalu), karena itu merupakan salah satu terapi untuk tetap membuatnya kuat sampai saat ini. Buktinya meski sempat merasa sangat kehilangan (yang luar biasa), beliau sampai detik ini masih tetap tegar, walau di saat menceritakan kisahnya berulang-ulang di berbagai media. Begitulah kekuatan menulis, mengeluarkan isi hati di atas sebuah kertas, bercerita kepada dunia, dan kelak akan memberikan inspirasi kepada orang lain.

Penulis juga pernah mengalami beberapa hal yang cukup menyesakkan hati, namun tidak mampu untuk mengeluarkannya di depan orang lain. Saat itu lah penulis memilih untuk menorehkan apa saja yang terlintas di pikiran, ke atas sebuah kertas. Menulis tanpa beraturan, menulis dengan seluruh emosi yang dirasakan, dan segera setelah selesai menulis,  dibaca lagi sambil direnungkan. Jika yang tertulis adalah hal positif, penulis akan menyimpannya untuk dijadikan pelajaran di kemudian hari. Tapi jika saat itu yang tertulis lebih cenderung pada hal negatif, umpatan, atau amarah dan pikiran nekat, penulis akan segera merobeknya sampai si kertas tidak bisa dirobek lagi. Berharap hal negatif di dalam diri segera ikut hancur bersama hancurnya kertas. Dan merasa lebih baik sesudahnya, siap menjalani hari baru.

Memang kita bukanlah orang terkenal, yang apa pun tulisannya bisa dianggap layak untuk dibaca masyarakat. Tapi setidaknya menuliskan isi hati kita bisa membantu diri menyembuhkan luka di hati. Mengobati kegelisahan dan kegalauan yang berkepanjangan karena sesuatu hal. Kalau punya keahlian melukis, bisa juga dialihkan ke dalam aktivitas melukis atau membuat komik.

Merasa sayang jika tulisan kita hanya jadi konsumsi pribadi tapi belum merasa layak diterbitkan oleh media massa? Publish saja di jejaring sosial atau blog pribadi. Tidak masalah jika belum ada yang membacanya, karena suatu saat pasti akan ada yang membutuhkan hasil pemikiranmu dalam kehidupannya. Siapa tahu nanti (belasan atau puluhan tahun ke depan) tulisan di blog kita dibaca oleh anak cucu kelak. 

Kebetulan beberapa hari lalu ke Gramedia, dan melihat buku barunya Asmirandah (congratulation...). Masih banyak lagi para selebriti yang menuliskan kisah hidupnya dalam sebuah buku, setelah mereka terkenal. Kalau kita belum jadi orang terkenal, dan ingin memiliki buku sendiri dengan nama kita tertulis di covernya, usahanya harus lebih keras lagi ya.

Masih ingin merasakan sensasi rasa itu, saat melihat buku karyaku ada di toko buku. Bagi yang punya mimpi sama dengan penulis, yuk sama-sama kita bilang ..... Aamiin ^_^.
read more »