Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juli 2013

Lomba Membantu Penyusutan Angka Alexa Rank

Biar saja orang mau berkata apa. Selama ada lomba menarik minat, syarat-syaratnya masih bisa dipenuhi, tanpa dipungut biaya pendaftaran, dan penilaian tidak berdasarkan jumlah vote atau jempol dari para facebookers, maka dengan kenekatan level 10 (kok jadi mirip keripik pedes ya?) akan saya ikuti lomba itu.

Ya, boleh lah menyebut saya banci lomba, sekedar ikut-ikutan meski pengalaman minim, tapi setidaknya mengoleksi pengalaman kalah sebelum suatu saat menang kan? Kalau pun tidak menang atau mendapat penghargaan sebagai blogger ter-eksis di setiap lomba menulis, setidaknya makin banyak yang mampir di blog saya. Terbukti selama hampir satu tahun blog ini ada, jumlah pengunjung (semoga saja mereka juga tahan untuk membaca tulisan saya) selalu meningkat setiap kali ada event lomba yang diikuti. Jika bukan dari para juri, tentu saya tebak pengunjungnya adalah sesama blogger sekaligus peserta lomba itu juga. Sama seperti saya yang lebih sering mampir di blog peserta lain, setelah saya menyelesaikan tulisan saya sendiri. Hanya ingin melihat seberapa beragam tulisan para peserta lomba yang sedang berlangsung.

Keuntungan lainnya yaitu menyusutnya angka peringkat di Alexa, hehe walaupun sering setelah lomba usai  Alexa Rank blog ini kembali menggendut, dan bukan tidak mungkin segera menghilang alias tidak lagi terdeteksi sama si Alexa. Tapi angka paling mengejutkan yang pernah saya raih adalah sekarang alias beberapa hari ini setelah saya resmi berpartisipasi dalam sebuah lomba yang diadakan oleh Viva.co.id dan EnjoyJakarta. Pengunjung blog yang mampir di artikel bertema Keindahan Kepulauan Seribu, mencapai jumlah lebih dari seratus dalam sehari. Wajar, karena lomba ini masih memiliki batas waktu yang cukup panjang, dan mengingat Viva.co.id termasuk salah satu media online yang pasti banyak pembaca setianya. Jadi para peserta atau bahkan calon peserta lomba, yang sedang mencari inspirasi tulisan, mampir ke blog para peserta yang telah mempublikasikan artikelnya lebih dulu.

Padahal saya cukup tahu diri, isi artikel saya agak memaksa untuk diikutsertakan dalam lomba. Intinya sih hanya ingin mencoba, dan ingin menambah pengalaman (pengalaman kalah sebelum suatu saat menang) mengikuti berbagai tema menulis di blog. Untuk lomba kali ini memang hadiahnya amat sangat menggiurkan, bisa dapat kursus menyelam (gratissss) bersama presenter terkenal, Mbak Riyanni Djangkaru, pantas saja jika banyak yang berminat. Saya sendiri tidak berharap banyak untuk menang, toh kalaupun menang, jika sesuai rencana, saya tidak akan dapat menggunakan hak saya sebagai pemenang. Kenapa? Ada deeehhh... Intinya semoga Alexa Rank blog ini tidak menggendut lagi, terus saja menyusut hingga dibawah 10 jutaan (yakin? Masih 17 jutaan loh).
read more »

Senin, 17 Juni 2013

Road To 10000 Pageviews & First Anniversary.

Setelah dicek, artikel pembuka yang hanya terdiri dari satu kalimat sapaan pertama saya di blog ini, tertanggal 31 Juli 2012. Ternyata usia blog ini hampir satu tahun. Sungguh saya sendiri tidak menyangka masih bertahan untuk merawat, menengok, dan sesekali memperbarui tulisan di sini. Bukan apa-apa, nilaamalia14888.blogspot.com ini adalah akun ketiga yang saya miliki dalam dunia blog. Blog pertama juga beralamat di blogspot, tapi karena lama tidak dibuka saya akhirnya sukses melupakan username dan password-nya. Jadi hanguslah akun tersebut, saya katakan demikian karena sama sekali tidak terdeteksi oleh Google.

Selang beberapa tahun kemudian, tanpa sengaja saya menemukan blogdetik.com yang memang memperbolehkan siapa pun bergabung di dalamnya. Iseng-iseng mendaftar, jadilah satu akun di blogdetik.com atas nama nila14888. Lumayan beberapa bulan sempat aktif diisi dengan tulisan baru, tapi lama-kelamaan menyerah juga. Tidak pernah ditengok sampai akhirnya password lagi-lagi terlupakan.

Sempat lama tidak terbesit niat menulis di blog lagi. Dan akhirnya tanggal 31 Juli 2012 mencoba membuat akun blogspot lagi, itu pun hanya aji mumpung saat baru memiliki akun surat elektronik di gmail. Awalnya hanya menargetkan minimal satu bulan satu tulisan, lalu meningkat menjadi satu minggu satu tulisan, tanpa ada niat mencoba peruntungan mengikuti berbagai lomba menulis di blog. Tapi karena blogwalking ke berbagai jenis blog milik para blogger senior, jadi iri dan ingin mencoba satu atau dua jenis lomba yang diselenggarakan secara online.

Salah satunya adalah kompetisi Liga Blogger Indonesia, yang setidaknya memacu para pesertanya untuk membuat minimal dua atau tiga artikel per minggunya. Meski kadang agak memaksakan diri untuk menulis dan isinya tidak nyambung, pokoknya menulis saja. Hasil menang atau kalah belakangan, yang terpenting adalah pengalaman. Ya iya dong, saya cukup sadar siapa saya di jagat per-blog-an ini. Anak baru, bau kencur, masih ingusan, dan dengan sotoy belajar segala hal terkait blog, secara otodidak mengandalkan tips-tips yang banyak dibagi oleh para blogger senior di blog mereka masing-masing.

Liga Blogger Indonesia membuat saya terpacu rutin menulis. Setelah event tersebut usai, dan saya memang tidak mampu memenangkan pertandingan, satu hal baru muncul di dalam pikiran. Yaitu ingin menulis dan mempublikasikan minimal satu tulisan per harinya. Tapi manusia punya rencana, dan berbagai kendala ada saja yang membuat niat itu tidak terealisasi. Namun, setidaknya saya berusaha tetap menulis dan saya kembali menurunkan target. Setidaknya kalau sebulan ada empat minggu, dan saya menargetkan satu minggu ada tiga tulisan, maka minimal dalam sebulan saya harus menghasilkan dua belas tulisan. Ya, 12 buah tulisan baru setiap bulan, di waktu yang tidak ditentukan. Terserah, mau dicicil tiga tulisan per minggu atau dituntaskan sekaligus selama dua minggu berturut-turut.

Akhirnya, sungguh tidak menyangka blog ini masih bertahan sampai detik ini, dengan total kunjungan sebanyak  9.689 pageviews. Kalau jumlah pengunjungnya stabil, maka saya harap di akhir pekan ini sudah mencapai angka ke 10.000. Memang tujuan utama dari memiliki blog bukan semata-mata ingin dikunjungi banyak orang. Tetapi setidaknya, jumlah pengunjung bisa terus memacu semangat untuk terus menulis. Memang kita tidak tahu siapa saja yang membaca tulisan kita, siapa yang suka atau justru muak dengan deretan kata yang kita susun. Tapi setidaknya saya akan tetap berusaha berbagi, dan terus menulis di blog ini sampai saya tidak mampu lagi menulis, sampai jatah usia saya telah habis. This is it, road to 10.000 pageviews ^_^.


read more »

Kamis, 30 Mei 2013

Jari Tangan Jadi Kelingking Semua (JTJKS)

Katanya eh katanya, kalau punya mimpi menjadi penulis itu minimal harus menulis setiap pagi. Bahkan ada loh penulis kelas dunia yang mewajibkan dirinya menulis, seketika saat bangun tidur. Jadi di bawah bantalnya selalu tersedia buku tulis dan pulpen. Sesaat setelah bangun tidur, maka dia akan menuliskan mimpinya. Itu menjadi semacam latihan atau ritual penting untuk mengasah supaya dia tidak kehabisan ide tulisan. Kumpulan mimpinya itu juga bisa menjadi ide untuk menuliskan kisah fiksi fantasi, kan mimpi itu kadang aneh-aneh ya, jadi buku mimpi itu semacam ide mentah yang dapat dipakai kapan pun saat penulisnya kehabisan ide membuat tulisan terbaru.

Berhubung tidak setiap kali tidur saya bermimpi, maka saya akan menulis sembarangan sampai akhirnya menghasilkan dan menemukan inti dari sebuah tulisan. Lumayan, sebagai awal dari kebiasaan baru yang semoga bisa saya lakukan selamanya. Baik menulis dengan tulisan tangan, diketik, dan ada atau tidak adanya orang yang membaca tulisan saya.

Mungkin hari ini saya masih bisa menulis dengan alat bantu ketik, yang tersambung dengan internet dan bisa menerbitkannya di blog. Tapi esok, sebulan, setahun, atau satu dekade mendatang, belum tentu saya masih memiliki semua fasilitas itu. Atau paling tidak, ada saja hal-hal yang membuat saya terbatas mengakses internet. Tapi setidaknya saya bertekad akan tetap menulis setiap hari, minimal setiap pagi sebelum memulai aktivitas lainnya.

Kali ini ingin bercerita tentang jari tangan saya yang seolah berubah jadi kelingking semua. Maksud loe? Jangan bayangkan bentuknya yang dalam semalam tiba-tiba berubah seperti kelingking. Maksudnya adalah ukurannya atau diameter (eh bener ga sih diameter?), setidaknya dengan alat pengukur jari yang berfungsi utama sebagai perhiasan, yaitu cincin.

Cincin yang sebelumnya pas untuk si jari tengah, memang sudah lama berpindah tempat ke telunjuk. Dan setelah beberapa waktu terakhir ini merasa cincin itu sangat longgar (tapi tetap dipakai, karena telunjuk agak panjang jadi enggak khawatir jatuh), iseng saya coba pakai cincin itu di jempol. Ternyata muat, malahan menyadarkan saya bahwa ukuran ibu jari itu hampir sama dengan telunjuk.

Pantesan aja aye disuruh sama nyokap, untuk menambah porsi makan dan camilan. Ternyata memang berkurang banyak berat badan saya. Seenggaknya setengah tahun lalu masih di angka 45 - 47 kg. Tapi kemarin sudah ada di angka 41 - 42 kg. Gemuk, gemuk, gemuk! Tambah lagi deh berat badannya, biar Indeks Massa Tubuh (IMT)-nya normal lagi. Seenggaknya kalau mencapai IMT minimal 18,5 paling enggak memang berat badanku haruslah di angka 46 - 47 kg.

Buat yang ingin mengukur IMT-nya, apakah sudah normal atau belum, tidak usah bingung. Karena blog ini sudah memasang aplikasi penghitung IMT (ujung-ujungnya promosi ^_^). Silahkan dihitung, lumayan sebagai penentu apakah kita memerlukan perubahan pola makan atau tidak. Baru ingat kalau aplikasi yang dipasang di blog ini, menggunakan bahasa Inggris, jadi IMT nama lainnya yaitu Body Mass Index (BMI). Perhitungannya adalah dengan membagi berat badan dalam kg, dengan tinggi badan dalam satuan meter yang dikuadratkan.

Diet itu bukan hanya untuk usaha menurunkan berat badan, tapi artinya adalah pola makan, jadi kalau berat badannya kurang dari normal, tetap harus diet, tapi namanya diet untuk menggemukkan bukan diet untuk menguruskan badan. Jadi yang sudah termasuk kategori ideal, jangan deh nahan-nahan makan cuma karena merasa gemuk saat bercermin. Karena konon katanya sekurus apa pun seorang wanita, saat bercermin melihat pantulan diri sendiri, mereka selalu merasa gemuk. Maka tidak heran kalau banyak kasus anoreksia atau bulimia yang berujung jadi kurang gizi hanya karena obsesi ingin kurus yang berlebihan. Jadi yang pasti-pasti saja, tentukan lewat perhitungan IMT kita, baru putuskan diet atau olahraga apa yang cocok untuk menghasilkan tubuh ideal. Have a nice day :).
read more »

Senin, 20 Mei 2013

Lebih Dari Sekedar Hadiah Pertama

Dari sekian banyak lomba menulis yang pernah saya ikuti, belum pernah sekalipun berhasil sekedar menjadi juara harapan atau lolos sebagai finalis, jika lombanya terdiri dari beberapa tahapan penyeleksian naskah. Sampai akhirnya, penantian panjang itu menunjukkan hasil walau nama saya berada di urutan terakhir di antara puluhan nama blogger yang tulisannya terpilih untuk mendapatkan kenang-kenangan dari pihak penyelenggara. Ya, sebuah thumbler berlogo dblogger (penyelenggara lomba blog dengan tema komunitas blogger), yang sedang berulang tahun di usia keempat. Sekelumit kisahnya dapat dibaca di sini.

Sebagai lomba pertama yang menghasilkan 'sesuatu', mungkin yang pernah mengalami hal tersebut tahu rasanya. Mungkin hampir sama dengan perasaan haru dan senang ketika pertama kalinya mendapatkan gaji atau honor hasil kerja keras sendiri, atau ketika pertama kalinya melihat bukunya mejeng di toko buku. Tidak melihat seberapa besar atau seberapa mahal nilai hadiahnya, tapi ada kepuasan batin tersendiri, walau tetap harus berusaha meningkatkan kualitas tulisan lagi dan lagi.

Lebih dari itu semua, hadiah yang saya dapatkan ini memiliki nilai plus untuk sedikit perubahan pola hidup saya terkait kesehatan. Khususnya perilaku minum air putih, yang sebelumnya bisa dikatakan di bawah batas minimal kebutuhan air per harinya. Ya, apalagi kalau bukan karena alasan malas. Jika belum benar-benar merasa sangat haus atau badannya lemas, rasanya enggan beranjak untuk mencari/membeli air putih (hehe sebenarnya air bening ya?) atau yang biasa dikenal dengan air mineral, yang harga minimumnya masih Rp 500,00.

Nah, semenjak mendapatkan thumbler dari dblogger inilah kebiasaan jelek tersebut mulai terkikis perlahan. Walau tidak bepergian keluar rumah, thumbler itu tidak pernah absen terisi air dan selalu berada di area yang mudah terjangkau. Sekarang malah rasanya selalu ingin minum air putih saat sadar isi thumbler-nya sudah kosong. Kadang merasa seperti anak kecil, yang baru semangat melakukan hal baik dengan peralatan makan atau alat tulisnya bergambar tokoh kartun favoritnya. Tapi, biarlah yang penting sekarang saya tidak malas lagi memperbanyak minum air putih.

Padahal sebelum mendapat hadiah itu pun, di rumah sudah ada beberapa wadah serupa yang harusnya tidak menjadikan saya malas minum air putih. Mungkin rasanya beda saja, saat memakai barang yang berhasil didapat dari usaha sendiri ya? Jadi semangatnya lain. 

Hal yang terpenting lagi adalah, setiap kali minum dengan thumber itu, menjadi pemicu semangat untuk terus menulis dan tidak berhenti mencoba setiap kali ada lomba kepenulisan.  Karena sebelum memutuskan ikut lomba blog dari dblogger, saya sempat mengalami keraguan dan menganggap tidak mungkin terpilih jadi blogger yang beruntung karena pasti pesertanya banyak sekali. Tapi dengan kenekatan tingkat tinggi ditambah usaha untuk menghasilkan tulisan jujur dari lubuk hati terdalam (eits, lebay-nya kumat), tidak disangka itulah kali pertamanya saya mendapat hadiah dari sebuah event lomba menulis. Again thanks for dblogger ^_^.

Kesimpulannya, hadiah yang saya dapat pertama kali dari suatu lomba kepenulisan tersebut, benar-benar bermanfaat. Lebih dari sekedar pemicu semangat menulis, tapi juga meningkatkan kesehatan (Aamiin).
read more »

Jumat, 15 Maret 2013

Some of My Facebook's Notes

Salam blogger :), tulisan kali ini terserah kalian mau sebut apa. Dikatakan promosi, ada benarnya walau bukan tujuan utama, dibilang kurang kerjaan, enggak juga sih. Dan alasan utamanya adalah, saya sedang mengalami kebuntuan untuk menulis dengan tema baru, atau mengutak-atik tema lawas dengan tampilan baru menjadi sebuah tulisan berbeda. 

Untuk mengatasi kebuntuan itu, ya tetap dengan menulis. Memaksakan diri menulis, walau hanya satu atau dua kalimat (minimal berkicau di Twitter atau memperbarui status Facebook). Dari beberapa kata itulah, biasanya ada saja ide baru bermunculan minta dijadikan bintang utama dalam tulisan kita.

Nah, sambil menunggu ide-ide itu bermunculan, sekarang saya memilih untuk menulis beberapa kalimat enggak jelas-sebagai pengantar ke inti dari tulisan kali ini. Yaitu, menampilkan beberapa link menuju ke tulisan-tulisan yang hanya dipublikasi lewat akun Facebook. Tuh kan? Promosi nih ye.... *_^ Sambil menyelam minum kopi. Sembari membaca lagi tulisan-tulisan jadul, sekaligus promosi. Siapa tahu ada yang berminat membaca.

Berikut ini beberapa link-nya, check these out:
  1. You May Try This At Home
  2. PULANG KAMPUNG NIH… 
  3. Pengakuan Seorang Pembunuh 
  4. SALAM KENAL DARI OKSI 
  5. Bekas Luka di Dahi itu... 
  6. LOMBA FLASH TRUE STORY (FTS): IMPIANKU MENJADI PENULIS "Penulis Seumur Hidup" 
  7. SEBUAH JAWABAN (Coretan Zaman Dulu) 
  8. Good Night 
  9. MYSTERY OF LIFE 
  10. Di Serambi Masjid Aku Menulis 
  11. Maaf... Kursi ini untuk Orang Dewasa  
  12. DI TERAS MASJID ITU. . . (cerpen yang ditulis sebelum divonis menderita cacar air) 
  13. 30 September 2009 
  14. Sedang iseng --> meng-upload beberapa coretanku 
  15. YANG UP TO DATE TEKNOLOGI, YANG PEDULI KESEHATAN 
  16. JUST IN MY DREAM (sebuah cerpen yg memang sangat pendek) 
  17. INSOMNIA 
  18. TANGGUL SITU GINTUNG JEBOL 
  19. [KKDH] PROKLAMASI KEMERDEKAAN HATI 
  20. THE STORY OF “ODONG-ODONG”

Thank you for visiting my blog. Have a nice day all ^_^.
read more »

Minggu, 17 Februari 2013

Salah, Sadar, dan Perbaiki!

Setelah sekian lama menulis di blog tercinta ini, ada satu hal yang baru saya sadari. Tepatnya setelah dua hari ini tidak sempat meng-update tulisan, karena dilanda dismenore. Selain jungkir balik, duduk salah, berbaring salah, hibernasi setelah hari sebelumnya hanya tidur 3 jam, dan kemarin malam begadang menonton Perahu Kertas 2, kegiatan lainnya adalah kembali membaca buku-buku yang lama tak tersentuh.

Akhirnya, saya pun menemukan sebuah kesalahan yang selama ini dilakukan dalam setiap tulisan terdahulu. Yaitu menggunakan huruf kapital untuk penggunakan kata "saya" atau "aku", di tengah kalimat. Dari sekian buku yang saya baca, ternyata tidak perlu menggunakan huruf kapital ketika menyebut "saya" atau "aku" jika terletak di tengah kalimat. Rasanya tidak sempat untuk kembali mengedit setiap tulisan yang sudah terlanjur salah itu. Tapi untuk kali ini dan seterusnya, kesalahan tersebut harus diperbaiki. Dan biarlah kesalahan di tulisan terdahulu, menjadi sebuah pengingat dan pembanding antara setiap tulisanku dari masa ke masa.

Benar ternyata, saat saya pernah mengikuti pelatihan menulis dari FLP Ciputat, beberapa tahun silam. Kami diberitahu oleh para senior, bahwa kegiatan menulis tidak terlepas dari kegiatan membaca. Saat bingung mencari ide tulisan, maka kita bisa membaca buku-buku favorit, dan sesaat kemudian maka ide tulisan pun bisa datang bertubi-tubi. Selain membaca, kita juga bisa memperhatikan kejadian, atau segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Dari sanalah kita bisa memikirkan suatu ide untuk dikembangkan menjadi sebuah artikel, opini dari sudut pandang pribadi, puisi, cerpen, atau bahkan novel.

Saya sendiri, masih sebatas mencoba aktif di blog sebagai tempat melatih diri untuk terus produktif menulis. Dan jika ada yang membaca atau berkenan memberikan komentar, saya akan sangat berterima kasih. Karena dari komentar itulah, saya bisa mengukur apa saja yang perlu ditingkatkan dari setiap tulisan. Apa yang harus dikurangi atau diperbaiki, supaya bisa menghasilkan tulisan yang tidak hanya memuaskan batin sendiri akan hasrat menulis. Tetapi juga bisa memberi manfaat kepada siapa pun yang membacanya.

Terkadang tidak selalu harus menguasai suatu bidang terlebih dahulu, baru berani menuliskan tentang hal tersebut. Tetapi, karena sudah ada keberanian menulis itulah, kita bisa mempelajari banyak hal. Dan bukan mustahil jika suatu saat bisa menguasainya, dari setiap proses menulis yang kita lewati.

Bertahun-tahun mempelajari Bahasa Indonesia di bangku sekolah, tidak akan cukup membuat kita paham dan mengaplikasikan EYD dengan baik, tanpa adanya sebuah praktik menulis. Jika saya boleh jujur, rasanya ingin kembali mengulang belajar Bahasa Indonesia dari nol. Tapi, setelah dipikir-pikir justru kebalikannya. Saya menulis, menulis, dan menulis, kemudian dari proses itulah saya bisa sekaligus mempelajari materi Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terutama bahasa tulisan, yang menjadi latihan awal untuk dapat berkomunikasi secara lisan dengan baik. Salam semangat untuk semua ^_^.
read more »

Senin, 11 Februari 2013

Antara Perasaan dan Tulisan Kita.

Jika ada yang bertanya tentang gaya penulisan, maka Saya masih berada di area kebingunan untuk menjawabnya. Soalnya selama ini cenderung berlatih menulis apa saja, walaupun seringnya nonfiksi. Seperti yang pembaca temukan di blog ini. Warna-warni dan nyaris tidak ada tema khusus yang diutamakan. Karena memang targetnya adalah "Yang Penting Menulis (YPM)." Tapi bukan tidak mungkin suatu saat, setelah kutemukan di genre apa yang paling membuatku nyaman, maka di situlah Aku akan terus berkarya.

Seringkali saat berhasil menyelesaikan sebuah tulisan, dan berusaha ingin menulis hal lain dengan gaya tulisan yang sama, Saya mengalami kesulitan. Karena sebenarnya setiap tulisan, dan proses pengerjaannya memiliki suatu sensasi rasa tersendiri, yang akan mempengaruhi hasil akhirnya. Setiap tulisan kita, sedikit banyak mencerminkan perasaan/emosi yang kita rasakan saat itu.

Mungkin saat sedang bahagia, tulisan yang dihasilkan cenderung berhasil menyampaikan pesan optimisme kepada pembaca. Lain lagi ketika kita sedang marah, kecewa, atau bersedih. Sekalipun tulisan yang sedang dikerjakan, memiliki unsur semangat/kebahagiaan, maka kata-kata yang dipilih cenderung dapat menyiratkan bahwa si penulis dalam keadaan sebaliknya.

Mungkin hal seperti itu tidak kita temukan dalam sebuah karya tulis yang dikerjakan dalam waktu lama (berminggu-minggu atau berbulan-bulan). Tapi jika sekedar tulisan singkat seperti tulisan yang dipublikasikan di blog pribadi, biasanya dapat terlihat akan emosi penulisnya saat itu. Terutama jika blog yang dikelola bersifat personal blog, yang cenderung mengisahkan sebagian besar pengalaman hidup empunya blog.

Kadang kita tidak menyadarinya saat proses pengerjaan tulisan sedang berlangsung. Tapi setelah membaca ulang sekaligus mengedit tulisan itu, saat itulah kita menyadarinya. Tersadar bahwa secara tidak langsung perasaan yang terpendam, ikut muncul di dalam tulisan. Meski awalnya kita tidak berniat menunjukkan pada para pembaca, atau berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kondisi hati yang sedang buruk saat menulis. Dan kadang tulisan itu menjadi pelampiasan sisi lain hati nurani, yang ingin menghibur bagian hati yang sedang terluka.

Kira-kira, tampak kah emosi apa yang sedang mendominasi diri Saya dalam tulisan ini? Atau ada yang mulai membaca ulang seluruh tulisannya, untuk memastikan kebenaran teori ngaco dari Saya? Hehe kalau memang benar, semoga bisa memberikan tambahan wawasan. Jika pendapat Saya ini salah, ya berarti hal ini hanya terjadi pada pengalaman menulis Saya pribadi. Have a nice Monday ^_^.


read more »

Senin, 04 Februari 2013

Ketik, Hapus, Ketik Lagi, Delete or Cancel?

"Saya tidak dapat menulis lima kata tanpa mengubah tujuh kata sebelumnya." (Dorothy Parker dalam Goldberg, 2004)

Tumben-tumbenan mengawali tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan tanpa alasan, karena setelah kemarin posting tulisan tentang buku Daripada Bete, Nulis Aja!, kutemukan (tepatnya kembali membaca) sebuah kutipan yang "Gue Banget", bahkan sesaat sebelum menulis artikel kali ini pun masih saja terjadi.

Sudah niat akan menceritakan kalau hari ini antri berdiri selama 2 jam di bank. Kalau diisi ngeblog atau blogwalking, lumayan banget kan? (Ealah, udah diceritain to ya?). Sudah dapat beberapa kalimat hampir satu paragraf, akhirnya dihapus lagi. Ganti akan bercerita tentang kuliner, akibat menonton Chef Billy, dan Chef Arnold berturut-turut di channel berbeda, enggak jadi lagi (nyesek ingat belum siap daftar audisi Master Chef akibat bingung belum punya signature dish -_-).

Sampai akhirnya berhenti sejenak menulis, dengan mengalihkan pandangan ke mentor pribadiku (buku tutorial menulis). Akhirnya, menemukan kutipan tersebut, yang sukses menusuk jantung (lebay *_*). Sekarang sih pakai laptop, jadi kalau edit, hapus, ketik lagi, hapus lagi, cuma berisiko bikin cape si laptop. Kalau dulu, zaman masih corat-coret di kertas, pasti banyak banget kertas tak berdosa, dibuang begitu saja akibat penulisnya terlalu sering mengedit (baca: mencoret) tulisannya. Makanya ada seorang penulis yang berkata seperti ini...

"Keranjang kertas buangan adalah teman baik penulis." (Isaac Bashevis Singer dalam Goldberg, 2004)

Hayoo, ngaku deh pasti sering kan mengalami hal seperti ini? Kadang diri ini juga sempat kesal padaku (maksudnya kesal sama diri sendiri), akibat dengan teganya menekan tombol delete pada tulisan yang sudah setengah jadi lebih dari 5 paragraf. Tapi, ya itu tadi kadang apa yang sudah di-delete itu suatu saat akan diketik lagi. Se-segera mungkin atau setelah jeda waktu sekian hari, minggu, bulan, atau tahunan.

Kesimpulannya memang benar apa kata para penulis yang sudah senior. Saat menulis, hindarilah mengedit tulisan sebelum tulisannya selesai. Memang godaan buat ngedit di tengah-tengah tulisan itu, sangatlah kuat. Dan parahnya kalau sampai tergoda, maka tulisan akan lebih lama selesai atau tidak akan menemui ending-nya. Alias akan menemui kebuntuan.

Sampai di sini dulu ya. Tampaknya "Malam Minggu Miko"-nya Bang Raditya Dika dkk. udah menggoda minta ditonton. Good night all :).



read more »

Minggu, 03 Februari 2013

Kenapa Harus Menulis?

Sebenarnya sudah lama sekali ingin membuat ulasan tentang buku yang satu ini. Buku tutorial menulis pertama yang bisa kumiliki, sekaligus satu-satunya (dari beberapa buku tutorial menulis koleksiku) yang berhasil benar-benar membuat seorang Nila mempraktekkan berbagai macam jenis latihan yang dianjurkan oleh Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D. Sang penulis buku yang mengakui kedahsyatan menulis sebagai penyelamat hidupnya.

Saat usia empat belas tahun Caryn merasa hidupnya telah hancur, karena putusnya persahabatan dan peristiwa perceraian orang tuanya di waktu yang bersamaan. Saat itulah dia mulai menulis, dan benar-benar menyelamatkan hidupnya dari zona putus asa. Sama seperti yang dialami oleh Pak Habibie di salah satu tulisan terdahulu di sini.

Tetapi saking banyaknya hal bermanfaat yang ada di dalam buku ini, saya merasa bingung akan mulai membahas dari mana. Selain isi buku yang benar-benar pendapat/pengalaman penulisnya, juga disisipi oleh sekian banyak quotes dari para penulis terkenal di dunia. Tentu saja semakin membuat pikiran saya bercabang, karena setiap quote, ingin saya bahas makna sekaligus keterkaitannya dengan apa yang saya alami. It's real happened in my writing process.

Sekarang sepertinya saya tahu apa yang harus dilakukan untuk tetap dapat berbagi dengan orang lain, sekaligus kembali belajar memahami apa yang ada di dalam buku tersebut dengan menulis. Mungkin butuh puluhan tulisan (perkiraan kasarku ya), untuk benar-benar bisa menamatkan bahasan di dalam buku ini. Mungkin kali ini diawali dengan perkenalan singkat buku, dan pendapat dari penulis bukunya tentang alasan mengapa kita harus menulis.

Satu lagi informasi yang hampir terlupakan. Buku ini memang dari awal ditujukan kepada remaja (saya dibelikan oleh Ayah pada tahun 2004 bertepatan dengan liburan kenaikan kelas 2 Aliyah). Jadi kalau ada pembaca berusia dewasa yang kurang cocok dengan buku ini, wajar saja. Tetapi menurut saya pribadi, buku ini tidak akan pernah pensiun menemani proses menulis sampai kapan pun. Karena sudah terlanjur klop, dan masih banyak yang belum dipraktekkan secara serius (dulu memang masih moody), maka buku ini menjadi rekomendasi utama dari buat para writer wanna be, tapi masih merasa amat pemula sepertiku.

Karena terpikir untuk mengulas bukunya hari ini, akhirnya menemukan langsung website milik Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D. Di website tersebut beliau sudah berfoto dengan buku terjemahan bahasa Indonesianya dengan cetakan terbaru. Sedangkan buku yang Saya punya ini masih cetakan tahun 2004. Ini dia penampakan buku yang Saya miliki (masih diambil dari website Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D).



Judul buku (terjemahan): DARIPADA BETE, NULIS AJA!: Panduan Nulis Asyik di Mana Saja, Kapan Saja, Jadi Penulis Beken pun Bisa!
Judul buku (asli): Write Where You Are: How to Use Writing to Make Sense of Your Life
Penulis: Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D.
Penerjemah & penyunting: Lusy Widjaja & Pangestuningsih
Cetakan/Tahun: Kedua/2004
Penerbit: Kaifa (PT Mizan Pustaka)
Kota: Bandung


12 alasan menulis kata Caryn Mirriam-Goldberg, Ph.D. (2004), yang dibandingkan dengan opini atau kesesuaian yang Saya alami selama ini:


No.
Alasan Menulis (Caryn Mirriam-Goldberg)
Pengalamanku
1.
Menulis membantumu menemukan siapa dirimu.
Saat orang lain menanyakan apa impian saya, walau bisa menjawab, kadang dalam hati masih bingung sendiri. Apa sih sebenarnya yang ingin kulakukan? Seperti apa sebenarnya diriku ini? Dan cara apa yang tepat untuk dilalui supaya impian itu tercapai?
Menulis dan mendata segala hal terkait diri sendiri, bisa jadi acuan awal untuk mengenali diri sendiri. Semacam dialog dengan batin, tapi didokumentasikan dalam sebuah tulisan, yang dapat dibaca sewaktu-waktu untuk kembali meningkatkan semangat saat sedang down.
2.
Menulis membantumu percaya diri dan meningkatkan kebanggaan.
Ada suatu saat ketika merasa tidak berbakat/berprestasi di bidang apa pun. Bersosialisasi dengan orang lain juga hal yang sangat sulit untuk orang seperti saya.
Tetapi ketika berhasil membuat suatu karya (walaupun belum ada orang lain yang membacanya), perlahan rasa percaya diri itu meningkat. Dan mulai bisa menyukai diri sendiri, tidak seperti sebelumnya yang sering meremehkan bahkan membenci diri sendiri karena merasa tidak bisa apa-apa.
3.
Saat menulis, kamu mendengar pendapat unikmu sendiri.
Dengan menulis, kita lebih terbantu saat memikirkan suatu masalah, dibanding sekedar memikirkannya dalam diam. Jangan dipaksakan, menulis saja tentang apa pun yang dirasa dan dipikirkan, maka pendapat unik terhadap berbagai masalah kehidupan, akan muncul dengan sendirinya. Semacam pencerahan.
4.
Menulis menunjukkan apa yang dapat kamu berikan pada dunia.
 Tidak jauh berbeda dengan poin nomor 1, saat menulis mengetahui potensi yang ada dalam diri. Kemudian, kita dapat memantapkan langkah ingin berperan di bidang apa.
Jika itu dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin dunia (minimal orang di sekitar kita) akan mengakui bahwa kita telah menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama (eh...).
5.
Dengan menulis, kamu mencari jawaban terhadap pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru untuk ditanyakan.
Kadang saya menulis tentang suatu topik, yang sebenarnya bukan karena menguasai materinya. Tapi karena penasaran akan jawaban setiap pertanyaan yang muncul di pikiranku. 
Maka, sembari menulis, tentu akan berusaha mencari jawabannya dengan cara apa pun (bertanya kepada orang lain, searching di internet, atau dari buku). Saat sudah mendapatkan jawaban, masih akan menemukan pertanyaan baru lagi.
Dengan demikian mau tidak mau otak ini akan terus diajak berpikir, bertanya, mencari jawaban, menemukan jawaban, dan mengetahui berbagai pengetahuan di segala bidang. Lumayan juga sebagai cara pencegah kepikunan :).
6.
Menulis meningkatkan kreativitas.
Buntu, merasa tidak ada ide, dan bingung apa yang harus dilakukan. Menulis bisa menjadi salah satu latihan untuk mengasah diri menjadi orang yang kreatif.
Jika benar-benar tidak tahu apa yang akan ditulis, mulai saja dari menulis/mengerjakan tugas sekolah, kuliah, atau tugas di kantor.
Anggap proses mengerjakan tugas tersebut bukanlah beban, tapi sesuatu yang akan bisa melejitkan potensi kreativitas kita. Tulis tanpa memikirkan benar atau salahnya (edit setelah selesai menulis), dan lihat bagaimana hasilnya.
7.
Kamu dapat berbagi dengan orang lain melalui kegiatan menulis.
Saat bicara langsung dengan orang lain, kadang ada saja yang terlewatkan. Karena lupa, gugup, atau takut. Dengan menulis, kita bisa menjadi lebih apa adanya mengungkapkan berbagai hal kepada orang lain. Bahkan bagi pribadi yang awalnya selalu menutup diri, tidak mudah curhat atau berbagi kebahagiaan kepada orang lain.
Tanpa disadari, cepat atau lambat, saat ada yang membaca tulisan kita, akan ada orang yang merasa bahagia saat kita mau berbagi suatu hal kepada mereka. Walau hanya sebuah cerita.
8.
Menulis memberimu tempat untuk melampiaskan amarah/ketakutan, kesedihan, dan perasaan menyakitkan lainnya.
Karena akan sangat menyakitkan memendam sendiri perasaan marah, sedih, takut, atau sakit hati. Tapi juga kadang ada keadaan yang membuat kita tidak mampu/pantas mengungkapkannya kepada orang lain.
Maka luapkan semua itu dalam tulisan. Terserah mau menulis apa saja, dan sesudahnya bisa kita baca kembali.
Kalau saya pribadi, akan membuang tulisan itu jika isinya tidak ada yang bermanfaat (hanya luapan emosi, cacian, atau umpatan). Tetapi akan saya simpan atau suatu saat diolah menjadi suatu karya tulis, jika ada hal positif yang bisa dibagi kepada orang lain, supaya tidak mengalami hal serupa.
9.
Kamu dapat membantu menyembuhkan diri dengan menulis
Saya akui, kebiasaan menulis buku harian pertama kali dilakukan untuk mengobati kerinduan akan keluarga dan rumah. Saat itu memang sedang bersekolah di asrama.
Setidaknya bisa membuatku sedikit lebih kuat, dan tidak menunjukkan kesedihan di depan orang lain. Beberapa kali dalam hidup, nyaris merasa putus asa dan nekat, bisa sedikit demi sedikit pulih setelah menulis.
10.
Menulis memberimu kesenangan dan cara mengungkapkannya.
Sebenarnya sampai menuliskan di kalimat ini pun, Saya belum tahu apa yang selanjutnya akan ditulis. Tapi setelah kata demi kata tersusun menjadi kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan akhirnya menjadi suatu karangan utuh, itu memunculkan sensasi rasa yang unik.
Senang, bahagia, terkejut karena panjang tulisan melebihi apa yang dibayangkan sebelumnya, dan merasakan kepuasan batin karena ada yang bisa kuungkapkan. Walau hanya dalam sebuah tulisan.
11.
Menulis membuatmu lebih hidup.
Hmm, apa ya? Pokoknya menulis itu membahagiakan dan membuat kita merasa lebih bahagia. Bukankah setiap individu mengharapkan kebahagiaan dalam hidup? Jadi lebih hidup, menurutku lebih bahagia dalam mengisi hari-hari di dunia ini.
12.
Kamu dapat menemukan impianmu melalui menulis.
Kadang apa yang kita cita-citakan itu bukan murni impian dari lubuk hati terdalam kita. Misalnya pada dasarnya seorang anak ingin membahagiakan orang tuanya kan?
Nah, kadang tanpa sadar si anak akan menjadikan impian orang tuanya sebagai cita-citanya. Dengan menulis, dan saat pendapat unik diri kita perlahan muncul itulah, impian yang awalnya tersembunyi akan lebih mudah kita temukan.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita menulis ^_^.


read more »

Kamis, 31 Januari 2013

Menulis Itu Wow!

Beberapa waktu lalu Saya sempat menyaksikan acara Just Alvin, yang menghadirkan bintang tamu Bapak B.J. Habibie, Bunga Citra Lestari, dan Reza Rahardian. Sudah jelas bahwa akan membahas sejarah kehidupan seorang Habibie & Ainun yang dijadikan sebuah film. Satu fakta yang tak bisa disangkal adalah, film tersebut ada karena sebelumnya Pak Habibie mau berbagi kisah hidupnya dalam sebuah buku. Ditulis langsung oleh beliau, beberapa saat setelah kepergian (Almh.) Ibu Ainun.

Sudah banyak yang membahas bagaimana perjalanan cinta dari keduanya, kali ini Saya lebih tertarik kepada sebuah proses yang dilalui Pak Habibie untuk tetap tegar menjalani hidup tanpa sosok Ibu Ainun. Di acara Just Alvin, Pak Habibie menuturkan bahwa ada empat kemungkinan/pilihan yang akan dijalani beliau di masa-masa yang sulit saat itu. Penulis pernah mendengar bahwa ada perbedaan ketika seorang suami ditinggal oleh istri, dengan seorang istri yang ditinggal oleh suaminya terlebih dahulu. Mayoritas wanita lebih tegar dan kuat (terutama saat memikirkan anak-anak yang menjadi tangggung jawabnya) ketika ditinggal pasangannya, ketimbang seorang pria yang ditinggal meninggal oleh istrinya terlebih dulu.

Kalau diingat beberapa tahun lalu Nenek dari pihak Ayah, meninggal dunia. Tidak lama kemudian, Kakek pun menyusul beliau. Memang masalah ajal kalau sudah waktunya, pasti akan datang tanpa memandang waktu dan keadaan. Tapi sedikit banyak kondisi psikologis yang lemah akan mempengaruhi fisik, apalagi jika terkait kehilangan sosok orang terdekat. Kembali lagi kepada kisah Pak Habibie, yang saat itu diberikan empat pilihan (mungkin dari tim medis/psikolog/psikiater): (1) tinggal dan dirawat di rumah sakit jiwa, (2) tinggal di rumah tetapi mendatangkan tim medis untuk merawat kesehatan mental & fisik beliau, (3) beliau harus curhat dengan tim khusus, dan (4) menulis. Beliau pun memilih opsi terakhir, yaitu menulis. Dan akhirnya pilihan tersebut menjadi pilihan yang sangat tepat, bahkan bisa menghasilkan sebuah buku. Begitu pula film yang membuat heboh semua kalangan ini, tidak akan ada tanpa adanya buku Habibie & Ainun, yang langsung ditulis oleh tokoh utamanya sendiri.

Di acara lain pun, Saya sempat mendengar Pak Habibie bercerita saat menulis tentang kisahnya bersama Ibu Ainun, sampai menangis (kayaknya ada di filmnya juga). Tapi beliau tetap terus mencoba menuliskannya (tidak berhenti karena kesedihan mengingat masa lalu), karena itu merupakan salah satu terapi untuk tetap membuatnya kuat sampai saat ini. Buktinya meski sempat merasa sangat kehilangan (yang luar biasa), beliau sampai detik ini masih tetap tegar, walau di saat menceritakan kisahnya berulang-ulang di berbagai media. Begitulah kekuatan menulis, mengeluarkan isi hati di atas sebuah kertas, bercerita kepada dunia, dan kelak akan memberikan inspirasi kepada orang lain.

Penulis juga pernah mengalami beberapa hal yang cukup menyesakkan hati, namun tidak mampu untuk mengeluarkannya di depan orang lain. Saat itu lah penulis memilih untuk menorehkan apa saja yang terlintas di pikiran, ke atas sebuah kertas. Menulis tanpa beraturan, menulis dengan seluruh emosi yang dirasakan, dan segera setelah selesai menulis,  dibaca lagi sambil direnungkan. Jika yang tertulis adalah hal positif, penulis akan menyimpannya untuk dijadikan pelajaran di kemudian hari. Tapi jika saat itu yang tertulis lebih cenderung pada hal negatif, umpatan, atau amarah dan pikiran nekat, penulis akan segera merobeknya sampai si kertas tidak bisa dirobek lagi. Berharap hal negatif di dalam diri segera ikut hancur bersama hancurnya kertas. Dan merasa lebih baik sesudahnya, siap menjalani hari baru.

Memang kita bukanlah orang terkenal, yang apa pun tulisannya bisa dianggap layak untuk dibaca masyarakat. Tapi setidaknya menuliskan isi hati kita bisa membantu diri menyembuhkan luka di hati. Mengobati kegelisahan dan kegalauan yang berkepanjangan karena sesuatu hal. Kalau punya keahlian melukis, bisa juga dialihkan ke dalam aktivitas melukis atau membuat komik.

Merasa sayang jika tulisan kita hanya jadi konsumsi pribadi tapi belum merasa layak diterbitkan oleh media massa? Publish saja di jejaring sosial atau blog pribadi. Tidak masalah jika belum ada yang membacanya, karena suatu saat pasti akan ada yang membutuhkan hasil pemikiranmu dalam kehidupannya. Siapa tahu nanti (belasan atau puluhan tahun ke depan) tulisan di blog kita dibaca oleh anak cucu kelak. 

Kebetulan beberapa hari lalu ke Gramedia, dan melihat buku barunya Asmirandah (congratulation...). Masih banyak lagi para selebriti yang menuliskan kisah hidupnya dalam sebuah buku, setelah mereka terkenal. Kalau kita belum jadi orang terkenal, dan ingin memiliki buku sendiri dengan nama kita tertulis di covernya, usahanya harus lebih keras lagi ya.

Masih ingin merasakan sensasi rasa itu, saat melihat buku karyaku ada di toko buku. Bagi yang punya mimpi sama dengan penulis, yuk sama-sama kita bilang ..... Aamiin ^_^.
read more »

Jumat, 18 Januari 2013

DBLOGGER, I Am Coming ^_^

Ketika sedang melakukan aktivitas blogwalking, tanpa sengaja Saya menemukan info tentang lomba menulis bertema "Aku dan dBlogger." Hmm, jadi penasaran syarat lombanya apa saja, tapi lebih penasaran lagi apa sih dBlogger itu? Ternyata dBlogger itu suatu komunitas para blogger, yang awalnya hanya blogger di blogdetik.com, tetapi kemudian berkembang dan anggota sudah banyak juga yang non anggota blogdetik.com. Wah, berarti respon para blogger terhadap komunitas ini, cukup baik. Salut buat dblogger.blogdetik.com.

Selama ini Saya pikir komunitas blogger hanya aktif di dunia maya, misalnya mengikuti kompetisi menulis di blog saja. Atau paling tidak mengadakan kopi darat secara periodik, tapi ya kegiatannya hanya sekedar berkumpul di suatu tempat alias hanya melakukan kegiatan dari blogger untuk blogger kembali. Ternyata pemikiran Saya salah, dBlogger punya beberapa kegiatan yang rutin dilakukan, bahkan bersifat sosial juga, seperti:

1. Mengadakan acara KOPDAR (Kopi Darat) secara rutin.
2. Mengadakan lomba nge-blog seperti yang saat ini sedang berlangsung.
3. Mengadakan gerakan berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
4.  Dbloggeran (Arisan dblogger).
5. Penggalangan dana untuk korban bencana.
6. Melakukan kunjungan ke Panti Asuhan dan Rumah Singgah.
7. Pemilihan anggota DBLOGGER favorit (King & Queen).

Bahkan selain kegiatan tersebut, ada juga warung DBLOGGER yang menjual berbagai hasil karya dari tim kreatif bBlogger, berupa merchandise komunitas dBlogger yang sedang berulang tahun keempat di tahun ini. Ada sticker, pin, mug, jaket, tas laptop, jam dinding, pulpen, gantungan kunci, dan lain-lain. Sip, sambil bersosialisasi sambil berbisnis.

Ini merupakan perkenalan pertama Saya dengan dBlogger, sekaligus bertepatan dengan peringatan ulang tahun keempatnya. Selamat ulang tahun dblogger.blogdetik.com, semoga semakin jaya dan dapat menjadi komunitas blogger yang selalu dicintai anggotanya. Hari ini juga Saya baru mendaftar menjadi anggota, semoga bisa berkontribusi dalam setiap kegiatan yang diadakan dBlogger. Sukses untuk dBlogger! ^_^

Buat yang ingin berpartisipasi dengan lomba menulis ini silahkan mampir ke sini.
read more »

Jumat, 05 Oktober 2012

Maka Aku Menulis

Karena tak semua kisah bisa dan mesti diceritakan.

Karena tak semua pendapat dan gagasan bisa langsung tersampaikan.

Karena ada hal yang cukup untuk disimpan sendiri, itulah rahasia.

Karena rahasia terkadang membuat sesak, bahkan sesekali ingin diungkap meski hanya di atas kertas.

Karena pesan tak harus diucapkan dalam bentuk lisan.

Karena kadang bibir terasa kaku untuk sekedar menyapa dan menyampaikan isi hati.

Karena tulisan kadang mampu meredakan emosi daripada sebuah nasehat panjang yang keluar dari mulut.

Karena kadang secarik kertas bersama sebuah pulpen bisa menjadi sahabat terbaik di setiap waktu.

Karena hidup ini harus tetap dijalani sampai kita mencapai batas waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Karena kita tidak tahu kisah siapa yang akan menjadi pelajaran berharga bagi manusia lain di masa depan.

Maka Aku Menulis....
read more »

Rabu, 03 Oktober 2012

Liga Blogger Indonesia, I am Coming :)

Li-ga Blog-ger In-do-ne-sia. Ku-eja tiga kata tersebut dalam hati saat tanpa sengaja membaca informasi mengenai sebuah lomba blog yang sepertinya ada hal yang membedakannya dari beberapa kompetisi blog yang sudah ada. Sembari mengira-ngira gerangan apakah acara yang dimaksud? Kata "Liga" bagiku identik dengan suatu pertandingan olahraga, khususnya sepak bola. Olahraga yang sampai saat ini tidak kumengerti istilah-istilahnya kecuali "gol" dan "penalti."

Sempat terpikir bahwa akan ada suatu pertandingan (entah berkaitan dengan menulis atau bukan) secara tatap muka antar blogger. Tapi ternyata ini adalah suatu kompetisi secara online, yang pesertanya cukup memposting tulisan di blog-nya. Walaupun ada tema khusus yang ditentukan setiap minggunya, tetapi jika menulis tema lainnya pun tetap mendapat poin, tentunya dengan jumlah poin yang lebih kecil. Kan intinya adalah memotivasi supaya para blogger lebih semangat untuk menulis secara rutin, syukur-syukur bisa menang untungnya berlipat hehe.

Wow!!! Kali ini Aku benar-benar bisa bilang "Wow" sembari mengetik pastinya (karena ga mungkin koprol sambil ngetik ^_*). Apalagi kalau bukan karena Liga Blogger Indonesia (LBI) ini akan sangat membantuku dalam mendisiplinkan diri memposting tulisan di blog setiap minggunya minimal 1 tulisan. Enggak perlu takut kehabisan ide seperti pengalaman yang sebelumnya, karena ada tema mingguan yang ditetapkan oleh panitia. Jadi kalau bingung mau menulis apa, ya diikuti saja tema tersebut. Kalau ada ide lainnya lumayan tulis lagi saja, bertambah deh postingannya. Ini dia lomba blog yang kunantikan. Benar-benar memacu semangat untuk menulis.

You know what? Sampai detik ini saat jari masih menari di atas keyboard laptop, Aku sama sekali tidak penasaran dengan hadiah apa sebetulnya yang akan diperebutkan oleh para blogger Indonesia. Bukan hanya karena sadar diri sebagai blogger yang masih "anak kemarin sore." Tapi juga karena tujuan ikut LBI adalah untuk kembali (lagi) berusaha konsisten menulis dan mempublikasikannya di blog secara rutin. Seperti harapan, impian, visi (atau apalah itu istilahnya) ketika pertama kali kenal sama "buku harian online" yang bernama "Blog." Waktu itu punya niat minimal dalam satu bulan akan ada tiga tulisan yang diposting di blog. Enggak mesti setiap minggu satu tulisan sih, saat ingin menulis ya menulis kalau lagi buntu akan ide, ya istirahat dulu. Asalkan sebulan 3 tulisan. Tapi cara itu kurang efektif, hehe kelamaan buntunya lalu tanpa terasa berbulan-bulan tanpa ada tulisan yang nangkring di blog.

Dan sekarang, saat yang tepat untuk memulainya kembali. Diawali dengan adanya LBI, dan bahkan ketika nanti LBI sudah selesai musimnya (harapanku sih LBI terus ada selamanya ya ^_^), Aku akan tetap berusaha rutin meng-update blog dengan berbagai tulisan. Entah dengan tulisan fiksi, non fiksi, sekedar informasi ringan dari sumber yang pasti harus dicantumkan, atau sekedar berbagi segala hal unik yang kutemui di sekitarku.

Welcome LBI!!! For all Indonesian Blogger, let's writing, posting, and sharing our story to the world. Good luck all ^_^ Semangat ya.... Hidup Liga Blogger Indonesia! Hidup blogger Indonesia!


read more »

Senin, 17 September 2012

Kata "Aku-Kamu" dan "Elu-Gue"

Salam sejahtera untuk seluruh pengunjung blog ini. Mungkin ada satu hal dari sekian banyak hal yang agak khas dari blog ini. Disadari atau tidak disadari, meski banyak tulisan Saya di sini lebih bersifat personal macam curhat atau menyampaikan pendapat pribadi secara  non formal, tapi kata sapa yang digunakan agak kaku. Atau mengarah ke kata membosankan kalau dibaca oleh seseorang yang mengharapkan gaya bahasa santai dan humoris macam tulisan Bang Raditya Dika, yang menjadi salah satu blogger yang menginspirasi banyak orang untuk nge-blog (tidak terkecuali Saya).

Tidak lain tidak bukan, karena penggunaan kata yang menunjukkan orang pertama-kedua yang Saya gunakan lebih nyaman pada kata "Saya/Aku-Kamu/Anda" dibandingkan sapaan gaul anak muda nyaris di se-antero Indonesia, yaitu "Elu-Gue."

Loh, bukankah ber-elu-gue adalah hal yang amat biasa terutama dalam bersosialisasi antar teman sebaya? Apalagi walaupun Saya full keturunan Jawa Tengah, tapi tetap saja lahir dan besar di Jakarta dan sekitarnya, akan sangat familiar dengan kata "elu-gue." Betul, tapi sejak kecil Saya dan adik-adik dibiasakan oleh Mama untuk tidak ber-elu-gue, karena menurutnya tidak sopan. Bahkan waktu masih SD, dan melakukan kebiasaan berantem sama adik laki-lakiku, dan sampai keluar teriakan "elu-gue", sesaat kemudian berantemnya di-pause. Bukan gara-gara dipencet tombol pause pada remot kontrolnya, tetapi akan langsung mendapat ceramah singkat dari Mama :).

Maka di lingkungan SD, dan sampai terbawa ke pesantren pun Saya tetap ber-aku-kamu di awal-awal kenalan dengan beberapa teman pondok. Sampai suatu ketika terlibat pembicaraan dengan beberapa orang (teman seangkatan dan kakak kelas yang sekamar). Intinya mereka sepakat bahwa mengatakan diri sendiri "Aku" dalam percakapan sehari-hari, akan mengesankan seseorang itu sombong (pandangan orang kok bisa segitunya ya hanya dari sebuah kata?). Aduh, wawasan baru yang agak bertentangan dengan opini pribadiku. Khususnya karena kebiasaan sejak kecil yang dilarang ber-elu-gue. Kutanya pada keduanya, lantas kata apa yang baik untuk menunjukkan diri sendiri selain "Saya/Kamu" tapi yang tidak terkesan kaku juga kalau digunakan antar teman sebaya. Mereka sepakat menjawab, nama kita sendiri.

Saya manggut-manggut setuju terutama karena dengan menyebut nama sendiri, enggak akan masuk mahkamah bahasa kalau lupa menggunakan bahasa Arab atau Inggris ^_*. Dan pada saat saya tulis kisah ini, ada satu hal yang baru disadari. Maaf sama sekali tidak menyinggung SARA, tetapi entah kebetulan atau memang benar adanya, hal ini saya yakini. Orang suku Sunda mayoritas membiasakan diri menyebut dirinya sendiri dengan nama masing-masing. Kakak kelas dan teman sekamar yang waktu itu berbincang denganku memang orang Sunda. Kemudian saat mengenal teman-teman yang bersuku Sunda sampai saat ini mereka juga nyaris semua menggunakan namanya sendiri untuk menggunakan kata sapa orang pertama. Sedangkan beberapa lainnya menggunakan kata "Saya", jarang yang ber-Aku (mungkin dengan alasan yang sama).

Sejak saat itu (masih sampai sekarang) Saya lebih nyaman menyebut diri saya dengan nama sendiri, terutama saat berbincang dengan orang-orang selain keluarga sendiri. Apalagi di media-media seolah menggunakan kata "Aku-Kamu" yang digunakan oleh dua orang (cowok dan cewek) itu digunakan untuk mereka yang pacaran. Otomatis akan agak aneh di forum non formal dan kalangan usia sebaya untuk ber-aku-kamu selain sesama perempuan. Untungnya latar belakang pernah mondok (karena gak ada mantan santri, tapi merasa diri jauh dari sebutan santriwati), menyelamatkanku kata sapaannya bisa diganti "Ane-Ente." Dan tetap menyebut diri ini dengan nama sendiri, tetap paling tepat menurutku dalam bahasa lisan.

Ini juga yang membuatku merasa menjadi orang lain saat harus menulis dengan ber-elu-gue, terkecuali jika menulis dalam keadaan emosi tingkat tinggi kali ye? Akan terlalu ribet kalau dalam bahasa tulisan Saya diganti dengan nama (Nila) disetiap tulisan. Maka terkadang penulis menggunakan kata "Saya", atau "Aku" dalam kebanyakan postingan di blog ini (berasa udah banyak aja tulisanya *_*). Namun, adakalanya berusaha jadi diri sendiri, tapi tetap berusaha belajar juga menyesuaikan dengan keadaan kan? Misalnya mau nulis cerpen tokohnya ABG keturunan ke-7 dari Si Pitung, yang masih tinggal di kampung aslinya Pitung, rasanya aneh kalau tokohnya ber-aku-kamu.

Itulah sedikit penjelasan mengapa diri ini berasa aneh banget kalau harus ber-elu-gue, baik untuk percakapan lisan maupun tulisan. Intinya, Saya masih dan harus terus belajar untuk menggunakan dan memilih penmpatan kata "Aku-Kamu" atau "Elu-Gue" yang tepat di setiap tulisan yang dibuat. Karena menulis tidak hanya sekedar memuaskan penulis dalam menuangkan idenya. Tapi juga bagaimana membuat pembaca tidak hanya sekedar membaca teks, tapi dapat merasakan emosi dalam sebuah tulisan, dan syukur Alhamdulillah jika ikut terinspirasi menulis.

Happy reading and then writing your own story!


read more »