Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Minggu, 23 Desember 2012

Jajanan Oh Jajanan

Hiii, ngeri, geli, takut, jijik, tapi sepintas tampak menggiurkan. Apa sih? Kabar menghebohkan (lagi) tentang bakso daging sapi yang dioplos dengan daging babi. Rumornya karena harga daging sapi yang sempat naik dengan cukup "wow", jadi ada pihak yang ingin memanfaatkan situasi supaya tidak merugi. Belum lagi tayangan liputan berita khusus yang memata-matai praktek curang pedagang makanan, demi meminimalisir modal serta memaksimalkan keuntungan yang diperoleh. Memang, sebagian pedagang itu ada yang mengaku tidak tahu bahaya dari bahan bahaya yang digunakan, atau tahu tapi pura-pura tidak tahu. Misalnya makanan atau minuman berwarna dibuat dengan campuran pewarna tekstil, penggunaan boraks atau formalin supaya makanan dan minuman yang dijual tidak cepat rusak, penambahan pemanis buatan yang melebihi dosis, atau lebih parahnya untuk membuat gorengan tetap garing dan renyah, botol plastik bekas minuman dimasukkan dalam minyak goreng panas.

Walaupun tidak semua produsen bahan pangan atau makanan dan minuman siap saji, melakukan kecurangan yang merugikan konsumen. Jadi tinggal kita sebagai konsumen yang harus jeli memilih, dengan banyaknya informasi yang disediakan oleh media. Orang dewasa mungkin sudah bisa memilih makanan dan minuman apa yang sekiranya baik untuk kesehatan. Apalagi jika memiliki kemauan, minat, atau bahkan ahli memasak. Setidaknya bahaya tersebut dapat diminimalisir karena pengolahannya dilakukan sendiri di rumah. Kenapa hanya bisa meminimalisir? karena kenyataannya bahan mentah pun banyak yang kurang aman dan kurang sehat jika produsennya curang.

Lain halnya dengan anak-anak balita dan anak sekolah, yang biasanya masih memilih makanan dan minuman dari segi fisik (warna, rasa, aroma, dan bentuknya). Jika warnanya menarik, bentuknya lucu, ditambah harganya yang murah dan rasanya disukai anak-anak, hampir bisa dipastikan jenis makanan atau minuman yang biasanya dikenal sebagai jajajan itu laris manis. Balita juga biasanya masih selalu berada dekat ibu atau pengasuhnya, jadi masih bisa mengontrol jajanannya. Sedangkan anak usia SD sampai SMP, hampir dipastikan terbiasa menerima uang saku, dan membelanjakannya sendiri saat waktu istirahat atau pulang sekolah. Padahal tidak semua jajanan yang mereka sukai itu, aman dan sehat.

Walaupun di dalam area sekolah, disediakan kantin yang biasanya sudah terkontrol dari kebersihan dan keamanan pangannya, tapi jika di luar sekolah ada pedagang jajanan bukan tidak mungkin anak sekolah lebih memilih jajan diluar. Kenapa? Karena jenis dan bentuk jajanan yang dijual di luar kantin sekolah, biasanya lebih beragam, lebih menarik, lebih berasa (jelas karena penambah rasa yang digunakan bisa dari MSG atau gula biang), dan bisa jadi lebih murah (kemungkinan memakai bahan-bahan tidak aman).

Setidaknya itu juga yang Saya alami saat dulu masih SD. Jika dibandingkan jumlah siswa yang jajan di dalam kantin sekolah, lebih banyak yang memilih jajan di luar. Walaupun pihak sekolah akhirnya memberi peraturan bahwa saat jam istirahat sekolah, tidak ada yang boleh jajan di luar, tetap saja banyak yang nekat jajan dengan cara membeli jajanan lewat sela-sela pagar pembatas. Sekali ditegur, tetap saja besok-besoknya dilakukan lagi. Saya sendiri sewaktu SD juga lebih tertarik dengan jajanan yang dijual di luar sekolah, tapi tidak berani membelinya saat waktu istirahat, karena yang berani nekat seperti itu mayoritas anak laki-laki. Jadi kadang istirahat makan bekal yang dibawa dari rumah, dan sepulang sekolah baru membeli jajanan yang kadang sudah dipikirkan beberapa saat sebelum bel pulang berbunyi. Cape deh!!!

Loh, tadi perasaan di awal membahas tentang makanan dan minuman dari sisi keamanan dan kesehatannya, kok sekarang malah nostalgia? Iya, maaf ya pembaca bukan maksud tidak konsisten, namanya juga sekedar mencoretkan isi pikiran sekalian curhat colongan ^_^. Selain itu wawasan penulis juga kurang banyak tentang isu tersebut, dan pasti sudah banyak yang membahas tentang hal itu, para ahlinya langsung malahan.

Jadi tidak usah berpanjang kata dengan masalah yang rumit itu. Sebagai masyarakat awam penulis hanya bisa berharap semoga masalah terkait makanan dan minuman yang berbahaya untuk kesehatan, bisa berkurang dan di kemudian hari bisa tuntas. Kalau memang ditemukan para pedagang yang belum tahu bahwa bahan yang digunakan tidak layak untuk makanan atau minuman, semoga pemerintah bisa mensosialisasikan dengan harapan pedagang juga memikirkan kesehatan konsumennya. Dan semoga anak-anak penerus masa depan tetap sehat dan berprestasi baik dalam bidang apa pun, sehingga bisa memajukan negeri ini. Happy holiday!!!
read more »

Jumat, 21 Desember 2012

DUKUNGAN UNTUK ODHA (Pernah Dikirim Untuk Sebuah Lomba Tahun 2009)

 Jangan ditanya menang atau tidak, kalau menang tentu tidak akan Saya posting sekarang. Namun karena temanya masih lumayan hangat untuk dibahas di Bulan Desember, maka penulis hanya ingin berbagi dengan siapa pun yang mau dibagi informasi ini. Penulis juga menggunakan beberapa sumber referensi (tercantum di dalam paragrafnya), jadi ini hanya rangkuman kecil yang penulis satukan dari berbagai data, fakta, atau pun pandangan para ahli. Semoga bermanfaat, maaf jika ada hal-hal kurang tepat dalam penyampaian informasi ini. Selamat membaca ^_^.

DUKUNGAN UNTUK ODHA
 

”Anda positif terinfeksi HIV.” Seakan disambar petir saat Toto (bukan nama sebenarnya) divonis terinfeksi HIV. Flu yang sering menjangkitinya selama ini ternyata akibat HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Walaupun ia masih tampak dan merasa sehat karena belum memasuki tahap AIDS, namun sudah terbayang rasa sakit yang tidak hanya dirasakan fisik, namun juga sakit secara sosial dan psikologi. Apa anggapan masyarakat dan keluarga? Karena di masyarakat penyakit ini identik dengan hal-hal negatif seperti seks bebas/seks menyimpang, penggunaan narkoba dan kematian. Terlebih bagi mereka yang tidak mendapat informasi yang benar tentang HIV/AIDS. 
Berbagai pencegahan dari penyakit HIV/AIDS mungkin sudah sering disosialisasikan walaupun mungkin sasarannya belum sesuai yang diharapkan. Namun, jika penyakit sudah terjangkit HIV/AIDS seberapa banyak yang tahu akan penanganannya? Masalah ini dapat berdampak negatif pada kehidupan penderitanya. Tidak hanya masalah kesehatan fisiknya, tapi secara psikis akan mempengaruhi kehidupan.
Masih ada masyarakat yang memperlakukan para ODHA dengan perlakuan yang tidak menyenangka. Mendiskriminasi, menjauhi seakan-akan HIV dapat menular hanya dengan bertemu dengan ODHA. Padahal masih banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang ODHA. Terlebih bila lingkungan sosial memberi dukungan suportif tanpa memandang mereka rendah.
Pengobatan dan perawatan dalam menangani masalah HIV AIDS diantaranya adalah konseling dan tes mandiri, dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.
Unsur-unsur perawatan lain dapat membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia. Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya. (http://pojokpenjas.blogspot.com/2008/08/perawatan-hiv-aids.html)
Pengobatan atau dengan kata lain mempertahankan kondisi seseorang yang telah terjangkit HIV AIDS selain dengan obat Antiretroviral (ARV) juga didukung kondisi psikologis penderitanya. Dengan kondisi psikologis yang terkendali maka setidaknya ODHA memiliki semangat hidup tinggi dan jauh dari depresi. Sebaliknya kondisi mental dan jiwa yang terganggu karena depresi dan putus asa akan memperburuk keadaan. Kondisi fisik akan semakin lemah, berbagai infeksi akan samakin mudah menyerang tubuh.
Selain obat ARV, asupan gizi ODHA harus mendapat perhatian khusus. Pada orang yang sehat dan normal pun jika memiliki gangguan gizi akan berkibat buruk. Terlebih bagi ODHA. Dalam keadaan yang terpuruk ataupun depresi karena menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan, kemungkinan besar akan mengurangi asupan makanan. Nafsu makan menurun, ataupun jika seorang ODHA hidup seorang diri dan tidak mempunyai penghasilan yang menjadikan daya beli rendah sudah pasti mempengaruhi asupan gizi yang dikonsumsi.
Kebutuhan kalori ODHA berkisar sekitar 2000-3000 Kkcal/hari dan protein 1,5-2 gram/kgBB/hari. Untuk mencukupi kebutuhan kalori dan protein sehari diberikan dengan memberikan makanan lengkap 3 kali ditambah makanan selingan 3 kali sehari.Kebutuhan kalori yang berasal dari lemak dianjurkan sebesar 10-15% dari total kalori sehari. Kebutuhan zat gizi makro tersebut di atas harus dipenuhi untuk mencegah penurunan berat badan yang drastis. Pemantauan status gizi dan makanan bagi penderita ODHA sendiri juga mutlak diperlukan untuk mengetahui efek dari infeksi HIV dan kesehatan ODHA. (http://www.eurekaindonesia.org/gizi-yang-baik-untuk-orang-dengan-hivaids-odha/)  
  Terdapat Strategi Nasional 2007-2010 (STRANAS 2007-2010) menjabarkan paradigma baru dalam upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia dari upaya yang terfragmentasi menjadi upaya yang komprehensif dan terintegrasi diselenggarakan dengan harmonis oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder). Akserelasi upaya perawatan, pengobatan dan dukungan pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) dijalankan bersamaan dengan akselerasi upaya pencegahan baik dilingkungan sub-populasi berperilaku risiko tinggi maupu dilingkungan sub-populasi berperilaku risiko rendah dan masyarakat umum. (http://www.undp.or.id/programme/propoor/The%20National%20HIV%20&%20AIDS%20Strategy%202007-2010%20(Indonesia).pdf)
Berdasarkan strategi yang telah ada, pelaksanaannya tidak hanya dilakukan oleh satu bidang. Namun semua sektor (lintas sektor) harus dilibatkanuntuk tercapainya tujuan bersama. Tanpa adanya kerjasama yang baik, maka akan sangat sulit dan mendekati mustahil dalam pencapaian penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia.
Saat ini mulai banyak LSM yang peduli terhadap permasalahan ini. Banyak yang kemudian menyediakan forum dan layanan konsultasi bagi para ODHA. Kemunculan lembaga non-pemerintah seperti ini sangat membantu. Terlebih dalam kondisi krisis ekonomi global, kondisi stres ODHA dan keluarganya dapat meningkat. Karena kondisi ekonomi juga dapat membuat seseorang berpikir ulang untuk tetap merawat sendiri keluarganya yang telah berstatus ODHA.
Seharusnya kehadiran lembaga seperti itu dapat merubah stigma masyarakat. Terutama keluarga ODHA untuk tetap menerima keadaan seorang ODHA. Sebab bagaimanapun juga dukungan keluarga adalah yang terpenting walaupun ODHA tersebut mengikuti komunitas yang dibimbing oleh suatu lembaga. Namun, memang tidak mudah menerima anggota keluarga yang ODHA jika stigma masyarakat masih tetap buruk. Masih banyak yang mementingkan ”apa kata orang nanti?” dibandingkan mengikuti kata hatinya.
Bagaimana jika yang terinfeksi HIV adalah seorang anak? Anak dibawah umur yang masih sangat membutuhkan kasih sayang. Anak yang tentunya masih ingin bermain dengan teman-temannya. Jika mereka sudah dikucilkan sejak kecil, tentunya sangat sulit mempertahankan kesehatan. Secara psikologis mereka merasa minder dan malu untuk bersosialisasi. Terlebih jika keluarga tidak mau merawat, tidak ada yang akan menjamin kebutuhan obat-obatan dan gizinya. Mungkin diantara sekian banyak anak jalanan adalah pengidap HIV/AIDS.
Bayangkan jika sejak bayi sudah terinfeksi HIV, maka secara medis kecil kemungkinan akan bertahan hingga usia remaja. Ini akan menyebabkan meningkatnya ”lost generation” di negara Indonesia. Beberapa kasus gizi buruk pada balita ternyata diakibatkan HIV yang ditularkan dari orang tua balita. Berawal dari status gizi yang buruk dan adanya infeksi HIV, balita akan semakin rentan dan dapat meningkatkan angka kematian anak.  
Jika seorang ibu positif terinfeksi HIV, sebenarnya masih terdapat cara pencegahan penularan ke janin/bayi. Diantaranya adalah melahirkan dengan proses operasi caesar. Hal ini disebabkan banyak kejadian penularan terjadi saat proses persalinan normal. Pencegahan kedua adalah pemeriksaan kehamilan secara rutin (Antenatal Care/ANC) untuk berkonsultasi kepada dokter. HIV tidak menular melalui ASI, namun selama proses menyusui, biasanya terjadi mastitis (peradangan pada payudara). Peradangan dan luka inilah yang dikhawatirkan menularkan HIV ke bayi. Maka sebaiknya tidak menyusui untuk mencegah penularan ke bayi.   
ODHA tidak sepatutnya mendapatkan diskriminasi. Masih banyak hal positif yang dapat mereka lakukan. Terutama jika masih pada tahap HIV dan aktif mengkonsumsi ARV. Pada tahap ini penderita masih tampak sehat karena gejalanya belum tampak. Sehingga mereka masih bisa mencari nafkah untuk keluarga. Namun, di banyak lapangan pekerjaan tidak memperkerjakan seorang ODHA. Ketakutan tertular adalah alasan yang kerap dilontarkan. Ini dikarenakan keterbatasan informasi yang tepat dan benar masyarakat. Masalah ini menjadi gambaran betapa tidak mudah mensosialisasikan informasi kesehatan.
 Harga ARV yang mahal, menyebabkan ODHA dari kalangan menengah ke bawah tidak mendapatkan ARV. Kondisi ekonomi yang buruk memperparah keadaan ODHA. Padahal jumlah ODHA terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini juga akan menurunkan angka harapan hidup orang Indonesia. Dengan kata lain kondisi kesehatan di Indonesia menjadi buruk. Dari aspek ekonomi akan butuh dana lebih untuk mengatasi semua permasalahan kesehatan.  
 Pepatah ”nasi sudah jadi bubur” bukankah sebaiknya ”bubur” itu dimakan daripada dibuang? Begitu pula jika sudah menjadi ODHA, maka terima mereka dan arahkan untuk dapat melakukan hal positif dibandingkan jika kita mendiskriminasi mereka yang akan menimbulkan masalah baru? Bukan tidak mungkin jika para ODHA yang merasa sakit hati karena diskriminasi yang mereka rasakan berperilaku yang menyebabkan peningkatan penularan HIV/AIDS. Seperti mencari teman ataupun kekasih dengan tujuan menjerumuskan agar menjadi sesama ODHA. Hal ini harus dicegah dengan cara memperlakukan mereka sebaik mungkin.
”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama.” Salah satunya caranya adalah membantu para ODHA disekitar kita dengan minimal mendukung mereka. Jika dapat membantu mengarahkan untuk melakukan hal-hal positif akan lebih baik. Seperti menciptakan lapangan pekerjaan atau minimal membantu mengajak masyarakat untuk ikut memberi dukungan. Dengan begitu semangat hidup ODHA akan meningkat yang baik untuk kondisi kesehatan. Paling tidak meringankan rasa sakit dan mempertahankan hidup mereka.
Komunitas sesama ODHA akan sangat membantu. ODHA tidak merasa sendiri dan mudah berkonsultasi dengan konselor ataupun sesama ODHA yang mungkin memilki pengalaman lebih. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat membantu pembentukan komunitas serta membimbing kegiatan komunitas ini. Dari komunitas ODHA inilah berbagai informasi diberikan untuk memotivasi dan bersama bangkit dari keterpurukan dan putus asa yang mereka rasakan.
Tentu tidak bisa hanya mengandalkan komunitas ODHA. Dukungan keluarga sangat diperlukan. Maka akan lebih baik para ODHA tetap tinggal bersama keluarga, tidak seperti kebanyakan yang dimasukkan ke tempat rehabilitasi khusus ODHA. Ini semakin menguatkan adanya diskriminasi oleh keluarga sendiri. Tetapi tidak dapat dipungkiri, HIV/AIDS masih dianggap aib oleh keluarga ODHA. Pendekatan dan penyampaian informasi kepada keluarga/orang yang tinggal dengan ODHA harus lebih ditingkatkan.
Agama dapat menjadi media pengobatan, perawatan dan dukungan. Mendekatkan diri ODHA kepada tuhan adalah cara yang terbaik. Hanya kepada Tuhan-lah seseorang memohon kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi segala permasalahan. Siraman rohani dapat dimasukkan ke dalam agenda kegiatan komunitas ODHA. Dengan jiwa yang tenang, maka kondisi kesehatan akan dapat dipertahankan. Keluarga akan semakin sabar dan diharapkan mau dan mampu menerima anggota keluarganya yang ODHA.     
ODHA juga manusia yang punya hak yang patut kita hargai. Maka sayangi ODHA, dukung mereka dan mari berperan dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS!

31 Mei 2009
Nila Amalia Husna 
read more »

Selasa, 18 Desember 2012

You Are Not Freak, But You Are Unique

"Kamu bisa melihat hal-hal yang "begitu" (makhluk halus/gaib yang tidak semua manusia bisa melihat atau merasakan keberadaannya) ya?" Pertanyaan seorang teman di suatu kesempatan, membuatku kaget nan terkejut. Terang saja kaget dan hanya bisa menggelengkan kepala sembari menjelaskan padanya bahwa seumur hidup sampai saat ini belum pernah mendengar suara, melihat wujud, apalagi berkomunikasi dengan makhluk "seperti itu." Meski dalam hati heran dan bingung kenapa ada yang bertanya seperti itu, tapi kuurungkan untuk bertanya sebab musababnya kenapa dia bertanya demikian. Kalau kutanyakan, khawatir dia akan berpikir bahwa jawabanku itu bohong hanya untuk menutupi kemampuan unik itu. Padahal sumpe deh enggak punya tuh kemampuan macam itu, malah tidak mau karena sadar diri imannya belum kuat. 

Meski punya nama yang kalau diartikan ke dalam bahasa inggris menjadi sebuah istilah untuk orang-orang yang biasanya memiliki kemampuan unik dari orang kebanyakan, tetap saja itu hanya kebetulan. Bukan benar-benar menggambarkan kondisi diriku. Apalagi dari beberapa sumber yang kubaca, anak-anak yang terpilih memiliki kemampuan unik itu, mulai lahir pada tahun setelah 1990. Sedangkan penulis lahir 2 tahun sebelum tahun 1990, berarti tidak termasuk kan (maksa ya)?

Bicara tentang makhluk gaib yang juga memiliki haknya untuk tinggal dunia ini, tidak ada pengalaman yang benar-benar dirasakan sendiri oleh penulis. Dulu sempat bingung kenapa ada beberapa orang yang bisa merasakan keberadaan "mereka" atau bahkan melihat serta berkomunikasi dengan "mereka." Namun, setelah mendengar cerita-cerita itu, penulis bersyukur karena tidak diberi kemampuan seperti itu oleh Allah. Karena jika imannya belum kuat atau minimal tidak memiliki mental yang baja maka bukan mustahil akan ketakutan dan konon katanya rentan kesurupan.

Meski tidak bisa dikategorikan pemberani, tapi penulis juga bukan orang yang super penakut, dan bisa mengekspresikan ketakutan yang dirasa di depan orang lain. Jadi lebih sering memberanikan diri atau bahkan kadang membuat diri seperti orang yang pemberani ketika sedang bersama teman atau kerabat yang level ketakutannya sedikit lebih tinggi dariku. Jangan-jangan karena hal ini juga, sampai seorang kawan itu bertanya pertanyaan aneh di paragraf pertama. Apa karena seringnya melihat diri ini cuek bebek melenggang ke toilet atau ke mushola yang kadang pencahayaannya kurang terang, tanpa mengajak seorang teman untuk menemani. Atau ketika masih sekolah dan aktif ngampus, saat ada perlu ke bank atau ke kantin sendirian tanpa meminta seseorang untuk menemani. Padahal itu lebih karena sifat diri yang "tidak enakan", khawatir mengganggu aktivitas orang lain, jadi kalau ada yang berkepentingan sama ya syukur ada teman, kalau tidak ada ya nekat saja sendiri. Dan Alhamdulillah belum pernah mengalami hal-hal aneh, jangan sampai deh ya.

Masih bicara mengenai kemampuan seseorang dalam mengekspresikan rasa takutnya, yang tidak sama pada setiap orang. Mungkin penulis salah satu manusia yang sulit untuk mengekspresikan segala bentuk rasa yang dialami, baik takut, senang, sedih, kecuali malu yang mungkin tampak jelas pada umumnya orang yang terlanjur di-cap sebagai manusia pemalu bin pendiam. Apalagi rasa takut akan hal-hal yang terlihat itu, sebenarnya ada rasa ciut juga ke kamar mandi sendirian saat malam hari, tapi biasanya kalau kita tampak ketakutan, maka orang di sekitar kita lah yang makin senang meledek (ternyata jaim bisa memotivasi diri untuk sedikit lebih berani).

Suatu ketika saat di asrama tempat penulis menuntut ilmu dulu, pernah terjadi suatu hal yang cukup menghebohkan asrama putri. Terutama asrama yang terletak dekat jemuran pakaian dan juga ruang makan. Mungkin saat itu masih tren rumor mengenai jalangkung yang sempat juga dibuat filmnya. Sebagai remaja yang masih labil, maka ada beberapa orang yang mungkin penasaran akan kebenaran urban legend tersebut. Detail kejadiannya tidak penulis ketahui, karena lokasi "permainannya" di kamar sebelahku. Entah karena ada makhluk "lain" yang merasa terganggu atau mungkin marah, maka terjadilah beberapa kejadian "kemasukan" secara bergantian. Selama beberapa hari sangat terasa hawa aneh, nyaris ketakutan kemana-mana sendiri (khususnya malam hari), ketakutan kalau menjadi target "kemasukan" selanjutnya, atau menjadi target gangguan atau sasaran kemarahan "mereka". Bahkan tidur pun yang biasanya 1 kasur setiap orang, saat itu satu kasur kami tidur berdua, yang kasurnya di ranjang atas, pindah ke bawah untuk sementara sampai keadaan aman.

Sungguh, saat itu rasanya ingin pulang ke rumah, tapi apa alasannya? Kalau takut, bukankah sudah jelas kita hanya boleh takut pada Allah. Kalau pun alasan rasa ketidaknyamanan, bukankah semuanya juga merasa tidak nyaman atas keadaan ini? Nyaris beberapa kali dalam satu hari ada beberapa orang yang menjadi sasaran gangguan "mereka". Kata guru kami, itu bisa terjadi terutama jika pikiran kita kosong, maka kami dianjurkan untuk lebih sering berdzikir (menyebut nama Allah), membaca ayat-ayat Alqur'an, dan jangan sampai melamun atau memiliki rasa ketakutan yang berlebihan. Karena kejadiannya sudah sangat lama, maka tidak lagi ingat entah bagaimana suasana asrama kembali seperti semula. Entah berapa hari sampai kami hampir benar-benar melupakan kejadian mencekam tersebut. Kembali seperti biasa tidur di kasur masing-masing, dan tidak ada satu pun yang membicarakan kejadian itu lagi. Kalau diingat-ingat kok seperti kisah Harry Potter, yang sempat asramanya mengalami kondisi tidak aman karena munculnya para dementor yang gentayangan di sekitar Hogwarts. Aduh, masih sempat pula ngejayus (supaya tidak terlalu tegang).

Meski sudah tidak ada lagi kejadian heboh seperti itu, namun sewajarnya dunia ini juga bukan hanya manusia yang menempati, maka sesekali "mereka" pun bisa meminjam tubuh seseorang untuk dikunjungi. Rasanya tegang ketika mendengar atau melihat langsung ada kawan, kakak kelas atau adik kelas, yang katanya sedang "kemasukan." Tapi sekuat hati juga berusaha menepis rasa takut, karena konon "mereka" tahu manusia-manusia mana yang pikirannya kosong atau bahkan sekedar terbesit rasa takut. Bukankah itu lebih memungkinkan kita untuk "mereka" senangi sebagai teman ataupun permainan bagi makhluk yang tidak semua orang bisa melihatnya itu.

Mungkin itu pula yang membuat beberapa orang sedikit melihatku sebagai pribadi aneh. Padahal hanya berbeda mengekspresikan rasa terutama ketakutan akan sesuatu hal. Kebetulan saja meski geli dan sedikit takut pada beberapa jenis binatang, tetapi tidak sampai ada fobia yang membuat lari tunggang langgang atau jejeritan dengan lantang saat berada di dekat hal yang membuat takut. Tanpa disengaja, meski tidak benar-benar berniat menjaga image (jaim), namun tidak menyalahkan pula mereka yang sempat men-cap diri ini super jaim. Mungkin karena pola asuh dan lingkungan keluarga masing-masing yang berbeda, atau pengalaman di masa kecil yang berbeda, dan mungkin juga efek menjadi seorang sulung sedikit banyak bisa mempengaruhi seseorang untuk bersikap tampat jaim, terutama di asrama sedikit memaksa jaim dengan angan-angan tidak membuat pusing orang tua. Padahal ketika seseorang merasa bahwa dirinya sedikit berbeda dari lingkungan sekitarnya, tanpa disebutkan pun dia menyadarinya, apalagi kalau masih dalam usia remaja. Masih labil dalam semua hal, terutama masalah pergaulan dengan teman yang nyaris menjadi prioritas utama.

Padahal jika boleh jujur, ada rasa juga bahwa mungkin betapa menyenangkannya mereka yang bersikap apa adanya di mana pun dan kapan pun. Terutama jika itu masih berada di usia remaja, karena saat itulah masa pencarian jati diri, dan semestinya tidak ada hal yang dimanupulasi supaya masa depannya tidak mengalami suatu penyesalan karena masih bingung dengan dirinya sendiri. Jika yang sudah melewati masa remaja, dan merasakan hal tersebut, maka belum terlambat untuk mencoba menjadi diri sendiri meski sudah memasuki usia dewasa. Karena sejatinya sebelum Izrail menjemput kita, diri ini masih akan terus belajar. Buat yang masih remaja, jangan ragu menunjukkan siapa sesungguhnya diri kita, apa yang kita ingin capai di masa depan. Jangan khawatir mengecewakan orang-orang yang kita sayan jika ternyata impian itu berbeda dengan harapan mereka. Selama masih dalam hal positif, maka jika dibicarakan secara baik-baik, bukan mustahil impian itu akan semakin cepat kita raih dengan dukungan dari orang-orang tersayang.

Intinya setiap individu adalah unik dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Jika ada yang men-cap kita aneh, jangan dianggap sebagai hal negatif. Ganti saja kata aneh dengan unik, kemudian kita introspeksi diri apakah yang dianggap orang lain aneh itu, hal positif atau negatif? Kalau positif dipertahankan, dan jika hal itu ternyata negatif sebaiknya berusaha diminimalisir dan berusaha menjadi diri yang lebih baik lagi. Jadi jangan sedih kalau secara tersurat atau tersirat, ada yang men-cap kita aneh. Katakan saja "I am not freak, but I am unique, and also you are unique too, because everybody is unique."





read more »

Rabu, 05 Desember 2012

Percaya Tidak Percaya

Kalau ada kupu-kupu masuk ke dalam rumah, tandanya akan ada tamu yang berkunjung. Kalau sering jatuh tandanya mau punya adik. Kalau bulu mata jatuh tandanya ada yang rindu. Kalau telinga berdenging berarti sedang dbicarakan oleh orang lain. Kalau mimpi ular berarti ada yang suka. Kalau mimpi gigi patah/ompong, akan ada yang meninggal dunia. Kalau mimpi meninggal tandanya umurnya panjang. Dan masih banyak lagi mitos (entah sekedar mitos atau benar adanya) yang berkembang di masyarakat, khususnya mereka yang masih mengingat betul apa kata orang tua dulu. Percaya tidak percaya juga, tergantung pengalaman masing-masing individu juga. Kalau Saya pribadi memilih yang baik dianggap motivasi untuk optimis, dan yang buruk tidak usah terlalu dipikirkan.

Sebenarnya kalau di keluarga Saya, sejak kecil sampai sekarang tidak pernah di-doktrin dengan pernyataan-pernyataan demikian. Namun, itu semua Saya dengar di lingkungan luar rumah, sekolah yang saat itu berasrama, atau sekedar membaca dari beberapa sumber di berbagai media massa. Anggaplah itu hanya sekedar mitos yang tidak dapat dibuktikan secara pasti tingkat keakuratan dan kepastiannya. Tetapi tidak akan ada rumor demikian jika pada zaman dahulu, tidak ada yang merasakan efek kebenaran dari mitos-mitos tersebut. Bahkan sampai sekarang pun masih ada beberapa orang yang kadang memang menemukan kebenarannya, meski mungkin hanya sesekali. Berikut ini beberapa pengalaman pribadi terkait dengan beberapa hal yang berhubungan dengan mitos yang cukup populer di masyarakat.

AKAN SEGERA PUNYA ADIK JIKA SERING JATUH.

Saya sendiri pernah mengalaminya beberapa kali. Meski baru disadari saat ini mungkin inilah salah satu hal yang membuat orang bilang, kalau sering jatuh berarti akan punya adik lagi. Kalau diingat-ingat, ada beberapa kali kejadian jatuh atau kecelakaan tunggal yang terjadi saat Saya masih kecil. Kalau kecelakaan pertama (kepala terbentur rak TV) bukan murni Saya ingat, tetapi karena diceritakan dan bantuan sebuah foto dengan perban masih menutupi dahi bagian kanan (Bekas jahitannya masih terlihat sampai sekarang). Itu terjadi sekitar usia 1 tahun lebih beberapa bulan, alias belum genap 2 tahun. Jarak usia Saya dengan adik pertama yaitu 3 tahun. Berarti ketika jatuh itu bisa lah dikatakan memang Saya akan segera memiliki seorang adik.

Berpose dengan perban kenangan :).
Kemudian saat melihat foto lainnya, yaitu gambar Saya berpose bersama adik pertama (kalau menebak fotonya sekitar umur 1 atau 2 tahun, enggak tahu pasti karena konon ceritanya adik yang satu ini memang sangat kurus saat masa balitanya), juga bersama kedua om (adik Ibu). Di foto itu terlihat jelas bahwa kedua lutut Saya ada luka, masih terlihat merah karena warna obat luka zaman dulu (sekarang enggak pernah lihat obat itu lagi). Setelah lihat foto itu, jadi ingat suatu kenangan masa kecil. Ternyata luka itu bukan terjadi karena satu kali jatuh, tetapi dua kali jatuh. Aneh ya, kok masih ingat? Mungkin karena waktu itu sudah sekolah TK, dan karena kejadian jatuh itu merupakan kejadian traumatis. Bukan lebay, tapi memang berkesan dalam. Begini cerita detailnya, luka pertama menimpa lutut bagian kanan. Waktu itu sedang asyik bermain di halaman rumah, entah main apa yang jelas ingatnya tiba-tiba jatuh dengan lutut tepat mendarat di tanah berbatu. Waktu itu kebetulan sedang pakai celana 3/4 warna putih motif polkadot hitam kecil, yang merupakan celana kesayangan saat itu (ini dia sebab utama kenapa masih ingat kejadiannya). Bukan hanya melukai lutut, tapi celana itu juga ikut sobek seukuran lukanya. Huwaaa!!! Bukan hanya kesakitan tapi sedih juga karena celananya rusak.

Sedangkan luka di lutut sebelah kiri, terjadi beberapa hari setelah kejadian suksesnya lutut kanan terluka. Entah waktu itu pulang dari sekolah TK atau memang sedang diajak Ibu ke pasar (kebetulan memang jika sepulang sekolah mampir dulu ke pasar itu, memang searah ke rumah). Kalau tidak salah ingat ketika mau pulang (tepatnya menuju angkot), Ibu berjalan dengan agak terburu-buru sambil menggandeng tanganku. Entah karena lelah, lapar, atau memang sudah takdirnya jatuh, Saya terjatuh di trotoar dekat jalan raya sekitar pasar Pondok Labu (tuh kan, traumatik banget dan malu juga sih banyak orang sampai ingat lokasinya). Ajaibnya, pas banget yang luka itu lutut bagian kiri, bukan yang kanan atau bagian tubuh lain. Jadilah saat itu lutut kanan dan kiri kompak berwarna merah, diwarnai sama obat luka yang dulu populer dengan nama "obat merah."

Setelah atau sebelum kejadian itu pun (lupa pastinya) Saya juga pernah terjatuh dari tangga, gara-gara sok ngebantuin si Mbak (Asisten Rumah Tangga) angkat jemuran. Terutama mengambil sendiri sebuah selendang imut yang biasa Saya pakai buat menggendong boneka. Keserimpet selendang, jatuhlah di tangga. Untungnya (masih bisa bilang untung ya??) tidak ada perdarahan, tapi sukses membuat dahi benjol di bagian kanan dan kiri (atas mata). Sampai sekarang masih agak merasakan sepasang benjolan di dahi, meski tidak pernah diperiksakan karena memang mungkin tidak sampai menimbulkan masalah serius pada bagian dalam kepala.

Apa hubungannya sama mitos punya adik? (sabar yee...) Jadi jarak usia adik pertama dengan adik kedua itu 3 tahun, otomatis jarak usia si Bungsu sama Saya (si Sulung) 6 tahun kan? Jadi kalau saat itu Saya udah TK B atau usia 5 tahun aja, berarti kejadian itu enggak lama sebelum Ibu mengandung si Bungsu kan? Nah, Alhamdulillah sejak semua adik lahir (Cuma dua, tapi kesan kata semua seolah menunjukkan jumlah yang banyak ya?), maka entah kenapa Saya jadi sangat amat jarang jatuh (Ya iya lah masa' hobi bener jatuh??) Kalau diingat-ingat sampai sekarang, Alhamdulillah kalau sesekali kepeleset, kesandung, atau lainnya ada mungkin jaraknya setelah bertahun-tahun, tidak seperti kejadian di waktu kecil dulu. Hehe tapi kalau mau dipikir secara logika, ya sama seperti orang lanjut usia yang bisa sering jatuh karena sudah ada beberapa bagian tubuh yang melemah/rusak. Anak kecil pun demikian, bisa sering jatuh karena kebalikannya, yaitu organ tubuh dan alat pergerakannya yang belum begitu kuat dalam hal menjaga keseimbangan tubuh. Who knows???

AKAN KEDATANGAN TAMU JIKA ADA KUPU-KUPU MASUK KE DALAM RUMAH/RUANGAN.

Nah, kalau ini sepertinya jadi salah satu mitos yang hampir mendapat predikat paling populer (setidaknya di lingkungan orang-orang yang kukenal). Ketika masa-masa sekolah di asrama, saat ada seekor kupu-kupu masuk ke dalam kamar, seketika itu pula ada yang nyeletuk "Wah ada yang mau ditengok nih, asyik ada kiriman uang/makanan." Kadang memang benar, salah satu di antara anggota kamar mendapat kunjungan dari orang tua atau keluarga lainnya.

Cerita lainnya terjadi di rumah orang tua Saya. Suatu waktu ada kupu-kupu yang menurutku terjebak masuk ke dalam rumah. Agak lama juga memutari ruangan, seolah mencari jalan keluar. Iseng-iseng dalam hati kepikiran, jangan-jangan bakal ada tamu nih. Ternyata memang ada tamu, dengan jumlah orang yang tidak bisa dibilang sedikit (maksudnya lebih dari 3 orang). Sudah lupa tamunya siapa dan waktunya kapan, karena tidak hanya memang dalam setahun nyaris lumayan sering ada tamu di rumah. Pokoknya lumayan cukup membuktikan kenapa dulu ada yang mencetuskan mitos ini.

AKAN ADA YANG MENINGGAL DUNIA JIKA BERMIMPI GIGI PATAH/OMPONG.

Ini adalah salah satu mitos yang cukup membuat orang-orang cemas, terutama kalau memang ada salah satu kerabat yang sedang sakit atau berada jauh dari rumah. Awalnya Saya bukanlah orang yang memikirkan mimpi apa semalam. Bahkan sesaat setelah mata terbuka ketika bangun tidur pun, lebih sering melupakan mimpi yang dialami, dan tidak jarang pula tidur tanpa mimpi alias gelap gulita. Namun, suatu ketika semuanya berubah, dan lumayan membuat diri ini merasa terganggu, meski tidak sampai memeriksakan diri ke psikiater.

Beberapa tahun lalu, entah kenapa tiba-tiba suatu malam memimpikan hal yang super duper aneh. Mimpi yang seolah terasa sangat nyata. Bukan hanya sekedar mimpi seolah menonton film, tapi benar-benar merasa terlibat karena dalam hati seolah hampir bisa mengendalikan apa yang dibicarakan dengan orang di sekitar. Meski sekarang sudah lupa detail pembicaraan dalam mimpi, dan siapa orang yang Saya ajak bicara. Tetapi satu hal yang masih teringat adalah, bahwa di detik-detik terakhir sebelum terbangun. Tiba-tiba berdiri di depan sebuah cermin, dan merasakan bahwa beberapa gigi di barisan depan atas copot semua alias ompong. Sensasi copotnya itu dapet banget (kalau tidak salah giginya masih sempat ditangkap oleh tangan), tapi anehnya tidak ada darah atau rasa sakit sedikit pun. Saat akan bercermin sembari menempelkan lidah ke bagian yang ompong, Saya sudah tersadar dan membuka mata.

Astagfirullah, ini pertama kalinya mimpi yang terasa sangat nyata. Bahkan ketika baru membuka mata (masih berbaring di tempat tidur) seketika refleks langsung menggerakkan lidah untuk menyentuh gigi di barisan depan atas. Untuk memastikan apakah benar gigi-gigi itu copot atau tidak. Bangun pun dengan perasaan aneh dan agak deg-deg-an. Tapi berusaha untuk tidak memikirkan mimpi itu terlalu dalam, khawatir jadi pesimis dan paranoid. Kemudian hari-hari pun berlalu seperti biasanya.

Entah tidak tahu pastinya kapan, mungkin beberapa bulan semenjak mimpi aneh itu, kami sekeluarga mendengar kabar bahwa salah satu kerabat dari Ayah, harus masuk ICU. Kami pun masih sempat menjenguk, meski waktu itu beliau dalam keadaan tidak sadar, dibantu dengan banyaknya selang yang jujur saja baru pertama kali kulihat secara langsung (biasanya cuma di TV). Kami pun hanya bisa memanjatkan doa supaya beliau segera membaik. Hanya selang beberapa hari kemudian kami mendengar kabar bahwa beliau sudah kembali kepada-NYA. Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun.

Seketika teringat pada mimpi aneh itu, dan ternyata kejadian. Memang sih katanya tidak baik menghubung-hubungkan sesuatu hal yang sudah menjadi takdir-NYA dengan segala hal yang dianggap tanda-tanda atau firasat tertentu. Namun, setidaknya inilah pengalaman pertamaku dengan sebuah hal yang konon dianggap mitos. Hal ini tidak berani kuceritakan pada orang tuaku, terutama saat kejadian belum lama terjadi. Selain khawatir membuat sedih, juga mungkin tidak akan memberikan tanggapan atau komentar (sebagai usaha supaya anaknya tidak mikir yang aneh-aneh).

Hal yang paling membuatku heran, adalah kenapa Aku harus menerima mimpi seperti itu, karena sebenarnya Aku tidak terlalu dekat juga dengan beliau. Meskipun memang di antara Aku dan adik-adik, karena Aku si Sulung otomatis mungkin lebih banyak memori tentang beliau. Keanehan lainnya adalah jauh sebelum memimpikan gigi ompong itu, Aku juga sempat bermimpi melihat beliau dengan beberapa orang anaknya yang seperti menangis, entah bertengkar atau apa. Tetapi waktu itu Aku hanya sebatas melihat mereka tanpa terlibat di dalamnya. Waktu itu tidak kuambil pusing, karena memang kalau tidak salah mimpi itu terjadi beberapa saat setelah silaturrahim (hari raya apa ya?), jadi kupikir mungkin alam bawah sadarnya merekam kejadian yang sudah terjadi. Apakah itu semua saling berhubungan? Wallahu'alam.
read more »

Selasa, 04 Desember 2012

Cerpen: TIBA SAATNYA


 “Ngedengerin ceramah??? Pasti BT banget. Tiap peringatan Isra Mi’raj pasti ada acara ceramah.” Aku hanya bisa bersungut-sungut dalam hati. Ya, hari ini peringatan Isra Mi’raj diisi dengan ceramah yang disampaikan oleh seorang wanita yang disebut ustadzah. BT banget, apalagi acaranya dipisah cowok dan cewek. Nggak bisa lihat doi deh. Dengan berat kulangkahkan kaki menuju aula. Anak-anak ROHIS sudah berdiri di samping pintu menyambut seluruh siswi SMU PUSPA BANGSA.
“Fir, dateng juga lo, gue kira seorang Fira enggak bakalan mau ikut acara kayak gini.” “Sebenernya gue ogah, tapie nggak enak sama anak ROHIS. Waktu kita punya acara minggu lalu anak ROHIS udah mau dateng plus ngasih sambutan sebagai support mereka buat kegiatan KIR.” Lala hanya mengangkat kedua bahunya sembari berjalan di sisiku menuju deretan kursi di bagian tengah. Acara demi acara pun berlangsung meski aku mengikutinya dengan perasaan terpaksa.
**********
Perkataan ustadzah di aula kemarin telah membuatku sering merenung. “Fir, kenapa sih? Kayaknya gue perhatiin akhir-akhir ini jadi enggak fokus di kelas. Punya masalah?” “Enggak, lagi males aja.” “Oh, ya udah. Asal pelajaran jangan sampai keteteran gitu dong.” “Sip, makasih ya, La.”
Lala sahabat yang selalu setia mendengarkan uneg-unegku. Selain itu, di KIR aku menjabat sebagai ketua dan Lala adalah sekretaris. Jadi makin kompak deh. “Teeetttt…”. Bel berbunyi, tanda waktu pulang telah tiba. Seperti biasanya Aku pulang bareng Lala. “Fir, lo mau nemenin gue ke toko buku nggak? Bokap nitip something sama gue.” “Oke, gue mau nemenin kok”. Kuiyakan permintaan Lala karena memang Aku sedang malas buru-buru pulang ke rumah yang sepi.

Di  Knowledge Book Store.
Pandanganku tertuju pada buku bercover hijau dengan judul “WANITA dan JILBAB.” Ingatanku kembali pada saat acara Isra Mi’raj di sekolah. Ustadzah Aisyah berkata bahwa islam mewajibkan umatnya khususnya muslimah untuk menutup aurat. Caranya, dengan berjilbab. Kuambil buku itu dan kubaca sinopsisnya di cover bagian belakang. “Sering tidak kita sadari bahwa rambut dapat mengundang maksiat. Maka di buku ini dijelaskan perintah Allah dan Rasul-NYA untuk menutup aurat dengan berjilbab bagi wanita.”
“Fir, ngapain lo? Pulang yuk.” Ucapan  Lala mengagetkanku. Refleks kukembalikan buku itu ke tempatnya. Sepanjang perjalanan, Lala menceritakan kisah buku yang ia beli, namun aku hanya menganggapinya dengan kata-kata “Ya, bagus banget” dan mengangguk-angguk seolah memperhatikan ucapannya.
**********
“Bunda, kapankah seorang muslimah diwajibkan berjilbab ?” Bunda termenung sesaat kemudian tersenyum, “Fira, sebetulnya ketika perempuan sudah baligh, maka ia wajib menutup auratnya. Tapi kalau sudah berjilbab harus konsisten. Jangan memakai jilbab dengan niat setengah-setengah.”
Aku terdiam dan berpikir apakah aku sudah siap dengan segala hal yang akan kuhadapi nanti. “Apa kamu berniat berjilbab ?” Bunda seperti tahu apa yang ada di benakku. “Mungkin, tapi kayaknya nggak sekarang, soalnya Fira ingin menguatkan tekad terlebih dahulu.” Bunda tersenyum penuh harap putrinya akan mengikuti jejaknya yang berjilbab sejak tiga tahun lalu.
**********
Kegaduhan terjadi di depan kantor TU. Nilai UAN sudah diumumkan. Ada yang melonjak senang karena lulus, ada pula yang menangis karena tidak lulus dan harus mengikuti remedial saat yang lulus sudah libur nantinya. Ada pula yang tak berekspresi karena tak tahu melanjutkan kemana.
Aku lulus dengan rata-rata 9,00. akhirnya aku berhasil meraih PMDK di FMIPA UI. Sedangkan Lala mendapat PMDK di FKM UI, jadi kami masih akan tetap dekat dan mudah untuk bertemu. Saat inilah aku berani terus terang padanya perihal keinginanku untuk berhijrah.
Lala memelukku penuh haru. “Alhamdulillah, akhirnya hidayah telah datang. Kok kebetulan, aku juga ingin mengatakan hal yang sama.” Ketika pelukan lepas, kami berjanji akan bersama-sama berhijrah. Bersama-sama konsisten, sampai akhir hayat. Aamiin.


Ditulis di Kota Hujan, sekitar bulan Oktober atau November 2004

read more »

Senin, 03 Desember 2012

Opini Pada Kisah Bupati dan Santriwati

Beberapa waktu ini ada salah satu berita yang cukup sering ditayangkan oleh berbagai liputan program "news" dan "infotainment". Sebenarnya bukan hak dan tidak perlu Saya ikut-ikutan mikirin masalah orang lain, masalah sendiri saja sudah cukup menguras pikiran dan berat badan (loh, sempet-sempetnya curcol??). Ini gara-gara tanpa sengaja menonton acara talkshow di TVON*, padahal biasanya malas juga nonton orang-orang berdebat di acara tersebut. Namun, kali ini ada yang menarik terutama karena permasalahan yang diangkat terkait wanita (khususnya yang katanya telah didzalimi atas nama pernikahan). Tambah unik bin ajaib lagi, karena tokoh utama yang diundang adalah seorang bupati yang katanya sedang memiliki permasalahan rumit akibat pernikahan siri yang hanya berlangsung selama kurang dari seminggu.

Nekat. Itulah kata yang menurut Saya tepat untuk beliau karena berani membawa diri ke acara televisi, dan duduk bersama para pakar yang jelas-jelas tidak akan membenarkan/membela perbuatan sang Bupati (bahasa kasarnya sih disidang kali ya??). Kebetulan dua orang pakar yang dihadirkan yaitu seorang bapak profesor yang dulu pernah menjadi rektor UIN jakarta, dan seorang psikolog wanita yang biasa diundang di TV ketika membicarakan masalah terkait wanita dan pernikahan. Biasanya Saya malas menonton suatu acara jika menonton di pertengahan acara, namun ekspresi gemes para "penyidang" inilah yang membuat Saya tidak mengganti channel TV.

Ketika bapak Profesor sedang menerangkan bahwa apa yang dilakukan bupati itu, tidak sesuai dengan hukum agama dan hukum negara, bupati itu masih saja berkelit mencoba membela diri. Dengan ekspresi Sang Psikolog yang mendengarkan dengan mimik wajah gemas atau kesal (setidaknya menurut Saya karena beberapa kali sempat melihat beliau diundang untuk kasus berbeda pun masih tampak ekspresi ramahnya). Ketika bergantian psikolog ditanya oleh pembawa acara pun, dia kembali menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang mungkin ganjil dalam permasalah bupati ini. Kembali lagi bupati itu berusaha membela diri, lagi dan lagi saat ada beberapa penelepon yang berkomentar. Tetap berusaha membela diri, dengan argumen yang menurut Saya berbelit-belit dan diulang-ulang sama seperti dari awal acara.

Memang siapapun pasti tersudut saat ada di posisi bupati itu. Sudah jelas ada hal yang salah (setidaknya di mata banyak pihak), tapi dengan kenekatan tingkat tinggi berani hadir TV. Kalau memang tidak merasa bersalah, cukuplah urus masalah tersebut di belakang layar terlebih dahulu, atau minimal hanya berkomentar di acara yang off air dan sekedar wawancara singkat. Sudah tahu bahwa media di negara ini masih menjunjung tinggi masalah rating, maka tidakkah dia memikirkan hadir tidaknya dia di TV tidak berpengaruh banyak pada penyelesaian masalahnya, malah yang ada bisa semakin terpojok dan terlihat makin bersalah. Ini Saya amati ketika sepertinya kameramen sengaja menyorot mimik wajah dan bahasa tubuh bupati itu. Dengan jari-jari tangan yang terlihat gelisah, mata lebih sering mengarah ke bawah atau tidak ke arah dua pembicara lain saat menanggapi kasusnya itu.

Satu hal aneh menurut Saya adalah ketika dia merasa kecewa pada seorang gadis muda yang direkomendasikan oleh salah satu Kyai. Dan ternyata memang baru 2 hari kenal/bertemu si gadis, dan kemudian mengakui kalau itu modal kepercayaan pada Kyai, dan menerima langsung untuk menikahi gadis yang belum genap 20 tahun itu. Lantas, setelah ada hal yang dirasa tidak sesuai prinsipnya dengan mudah dicerai, karena merasa tidak sesuai yang diharapkan. Aduh, kesel juga Saya mendengar jawaban ini. Bukannya dia orang yang sudah pernah menikah? Mestinya tahu dong, kalau mau mengenal calon istri/suami itu tetap harus ada pengenalan antar kedua belah pihak terkait apa pun itu (sama seperti yang dibilang Ibu Psikolog di acara tersebut). Lagian juga menurut Saya , dia tidak bisa begitu secara tidak langsung menyalahkan Kyai, kan memang benar gadis itu santriwati (sepengetahuan kyai comblangnya). Mengenai hal-hal pribadi lainnya, terutama masalah prinsip hidup, ya semestinya saat ta'aruf ya ditanya langsung lah sama si calon. Bukan serta merta mempercayakan pada orang lain, emangnya beli kucing dalam karung apa?

Maaf, kalau opini Saya di atas membuat ada pihak yang tersinggung. Cuma setahu Saya, memang benar pada kenyataannya ada para Kyai yang dipercaya sebagai "comblang" karena ilmu agamanya tidak diragukan lagi. Namun, proses seperti itu pun tetap melibatkan kedua calon pasangan untuk berusaha mengenal terlebih dahulu sebelum memutuskan berlanjut ke tahap khitbah atau tidak. Istilahnya ta'aruf, dan setahu Saya ada beberapa Kyai yang mempertemukan kedua belah pihak dalam satu waktu, serta bisa mengajukan pertanyaan langsung untuk saling mengenal. Tentunya di hadapan Kyai/Bu Nyai/orang tua/kerabat yang masih muhrimnya supaya tidak berdua saja. Kalau tidak salah juga malah boleh untuk melihat aurat wanita sang calon (misal rambut kepala), dengan istilahnya nazhar, yaitu untuk melihat apakah yakin sesuai keinginan atau tidak.

Ada pula yang lebih ketat, yaitu segala pertanyaan untuk saling mengenal bisa ditulis dan diberikan pada kyai yang bersangkutan, kemudian semacam surat itu akan jawab tanpa adanya pertemuan kedua belah pihak. Lah, kalau kasus ini katanya sempat bertemu, harusnya dia juga aktif bertanya jadi kalau ada yang tidak sesuai, ya langsung saja dihentikan. Malah di zaman moderen kayak sekarang pun, tanpa tatap muka atau telepon pun, bisa menjalani ta'aruf lewat sms, facebook, twitter, chatting, dll. Semakin canggih dan semakin mudah dibandingkan zaman dulu kan? Jadi jangan salahkan orang lain kalau memang ternyata proses mengenalnya cuma berdasarkan kepercayaan sama Sang Comblang.

Upss, berasa pengalaman banget dah berani nulis begini. Belum berpengalaman kok, nikah aja belum. Cuma sedikit banyak tahu fenomena ini karena kebetulan orang tua masih memiliki hubungan silaturrahim dengan para gurunya yang disebut Kyai dan Bu Nyai. Jadi sedikit-sedikit tahu mengenai info ini. Selain itu Saya punya beberapa kawan yang aktivis ROHIS atau LDK, yang malah proses comblang-menyomblang-nya itu sangat ketat, tanpa ada tatap muka sebelum benar-benar yakin pada level selanjutnya. Cuma lihat biodata dan foto kalau tidak salah, dan istilah buat bapak atau ibu comblangnya kalau tidak salah murabbi (hehe maaf ya kalau salah info, karena belum pernah gabung akibat minder sama diri sendiri yang merasa belum pantas sejajar dengan para akhwat itu).

Sang Profesor pun juga tampak gemas, sampai berbicara jujur bahwa beliau malas dan tidak tertarik ketika diundang untuk membicarakan masalah pribadi orang lain (hayoloh, secara ga langsung menyadarkan pihak stasiun TV yang agaknya kurang bijak menayangkan acara dengan tema tersebut). Tapi karena ini menyangkut seorang pemimpin/pejabat daerah, ya akhirnya beliau menyanggupi. Kira-kira seperti itulah ucapan jujur Pak Profesor beberapa saat sebelum closing.

Dan akhirnya sampailah pada akhir acara ketika pembawa acara menanyakan apa yang seharusnya dilakukan oleh bupati itu sekarang (ditujukan pada Pak Profesor dan Ibu Psikolog). Kurang lebih kutipan inti jawabannya.

Profesor: Ya, mau bagaimana lagi. Kan pernikahan yang dilakukan saat itu tidak sesuai dengan hukum agama dan hukum negara (terutama masalah izin istri pertama, dan status bupati yang seharusnya tidak boleh berpoligami, apalagi nikahnya siri). (Mungkin maksudnya, ya tidak bisa ngapain-ngapain untuk bela diri, yang ada ya mempertanggung jawabkan perbuatannya).

Psikolog: Saya tidak berhak ikut campur atau apa, tapi kalau boleh mennyarankan sebaiknya masalahnya dibicarakan lagi secara baik-baik dengan mantan istri, supaya bisa segera selesai, entah minta maaf atau apa pun itu. (secara tidak langsung ya, mengingatkan kalau memang pernah janji-janji dan belum ditepati, ya ditepati saja sembari minta maaf, siapa tahu akan bisa selesai dengan damai).

Terakhir ketika bupati itu diminta menyampaikan pernyataan terakhir di ujung acara (hehe lumayan panjang lebar karena teks berjalan yang menampilkan nama kru-nya udah sampai habis tapi belum selesai ngomongnya). Enggak nangkep ngomong apa aja karena udah malas ngikutinnya, pokoknya kalau tidak salah kembali menegaskan kalau sepertinya masalah itu adalah bentuk adanya politisasi oleh pihak-pihak "tertentu", karena ngakunya masalah sudah selesai lama tapi kenapa baru dimasalahkan lagi sekarang. Tekan tombol off dari remote TV. Sekian. Semoga tidak ada lagi kasus serupa yang akan menyakiti pihak manapun.
read more »

Sabtu, 01 Desember 2012

Karena AIDS Tidak Muncul di Tanggal 1 Desember Saja.

Selamat memperingati hari AIDS sedunia. Semoga angka kejadian penularan infeksi HIV menurun, adanya peningkatan pelayanan kesehatan bagi para ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS), serta tidak ada lagi diskriminasi atau pengucilan terhadap ODHA karena kurangnya sosialisasi mengenai berbagai hal terkait AIDS. Mengenai apa itu AIDS, HIV, serta bagaimana cara penularan dan perkiraan perkembangan penyakitnya tidak secara detail dibahas di sini. Namun jika berminat mencari tahu secara rinci mungkin bisa dicek dari referensi yang Saya gunakan untuk menulis postingan kali ini, ini dia linknya.

Jadi kurang lebih intinya adalah bahwa AIDS merupakan suatu sindrom (kumpulan gejala atau infeksi) yang terjadi karena sistem kekebalan tubuh (imun) kita melemah/rusak akibat infeksi dari suatu virus. Nah, nama virusnya ini yang terkenal sebagai HIV. Jadi jangan heran kalau ada orang yang divonis terinfeksi HIV tapi kondisi fisiknya masih segar bugar. Ini bisa terjadi karena si virus HIV baru masuk ke tubuh, tetapi belum sampai pada tahap munculnya berbagai gejala akibat kerusakan sistem imun, yang disebut AIDS. Sekitar 9 atau 10 tahun waktu yang diperlukan oleh HIV untuk berkembang dan memunculkan kondisi AIDS, tapi itu kalau belum diterapi oleh obat antiretrovirus. Jika lebih cepat diketahui kalau sudah terinfeksi HIV, maka bisa lebih cepat juga ditangani untuk menjaga supaya masa puncak keparahannya bisa ditunda. Meski belum bisa mengobati minimal membantu menjaga kondisi ODHA supaya tetap bisa produktif.

Awalnya belum terpikir untuk menulis tentang HIV AIDS ini. Tapi tayangan berita yang sempat kutonton siang tadi membuat pikiran ini bekerja, dan menggoda jemari untuk mengetikkan beberapa paragraf untuk berpartisipasi di hari AIDS sedunia tahun ini. Berita tadi siang menayangkan kisah seorang pria yang positif menjadi ODHA, dan diduga itu terjadi karena malpraktik. Miris bukan? Di saat luar sana banyak para ODHA yang mengalami diskriminasi karena ulah "kenakalannya" mendekati faktor risiko terinfeksi HIV, orang ini yang katanya menjalankan hidupnya baik-baik saja malah terinfeksi HIV. Mungkin berita itu ditayangkan untuk menyampaikan pada publik bahwa masih ada saja orang yang mengucilkan atau bersikap diskriminatif pada ODHA. 

Kenapa Saya katakan demikian? Karena berita itu menitikberatkan pada kondisi ODHA tersebut yang bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Siapa sih yang mau sakit, atau padahal sudah menjalani kehidupan secara baik, tapi takdir menentukan bahwa dia harus terinfeksi HIV, dan kemudian diceraikan oleh istrinya. Apalagi jika alasannya karena tidak mau menanggung malu dan aib. Aib? Masihkah adil jika itu dikatakan aib jika terjadi bukan karena kelalaian menjaga kesehatan dan gaya hidup? Itu terjadi karena menjadi korban praktik kesehatan (katanya). Mungkin ini juga bukan sepenuhnya salah istrinya, tapi kondisi masyarakat yang masih belum paham betul, dan seringkali memandang ODHA dengan pandangan negatif. Selalu mengidentikkan HIV-AIDS dengan perilaku "nakal" di masa lalu.

Ada banyak ODHA yang menerima nasib itu bukan karena kisah "nakal"nya sendiri, tapi hanya menjadi korban. Misalnya anak yang terinfeksi HIV sejak lahir, kasus terinfeksi HIV karena malpraktik, ulah orang-orang yang dengan sengaja menyebarkan HIV (mungkinkah mereka bertindak demikian karena diskriminasi yang diterima dari masyarakat?). Jadi ingat kalau beberapa tahun lalu Saya sempat mendengar adanya peringatan untuk hati-hati ketika berada di tempat-tempat umum. Karena bisa jadi di kursi bioskop, kursi transportasi umum, atau di tempat umum lainnya ada yang menyebarkan jarum yang telah terinfeksi HIV. Entah itu nyata atau sekedar isu yang bisa membuat ODHA semakin dikucilkan.

Sosialisasi. Sebenarnya tanpa terlalu banyak sosialisasi pun, di zaman serba internet ini, jika saja para keluarga atau masyarakat yang di lingkungannya terdapat ODHA, bisa mencari tahu apa-apa saja hal meningkatkan risiko penularan HIV-AIDS. Minimal perlakukan mereka sewajarnya seperti orang lainnya, berjabat tangan dan sekedar menyapa atau mengobrol, tidak akan membuat kita terinfeksi HIV. Mungkin jika boleh Saya menyarankan jam tayang sinetron (khusnya di waktu prime time) yang kurang mendidik, bisa diganti dengan tayangan bisa berupa drama atau sinetron yang menceritakan tentang ODHA yang tidak sepatutnya mendapat diskriminasi, sekaligus memberikan pendidikan bagaimana pencegahan dan penanganan jika terlanjur terinfeksi HIV. Khususnya apa-apa saja yang harus dilakukan keluarga ODHA untuk memotivasi anggota keluarga mereka yang (tidak pernah terbayangkan) harus berbagi tubuh dengan makhluk bernama HIV. Tentunya tanpa dibumbui oleh tokoh antagonis yang jahatnya di luar batas, atau konflik yang berlebihan. Intinya mendidik masyarakat dengan cara yang tanpa disadari  penonton bahwa mereka sedang belajar.

Hehe, mungkin Saya memang cuma bisa ber-opini di sini, dan sama sekali belum bisa menyumbangkan sesuatu hal yang nyata terkait ide di atas. Tapi setidaknya Saya harap suatu saat tayangan tersebut bisa ada, atau tayangan TV mendidik lainnya bisa banyak bermunculan kembali. Tidak hanya mensosialisasikan masalah HIV-AIDS saja, begitu pula masalah kesehatan lainnya, dan masalah lain non-kesehatan yang selama ini diperlukan masyarakat untuk membuat hidup menjadi lebih baik, aman, penuh toleransi, tanpa adanya diskriminasi atau kekerasan baik fisik maupun psikis. Semoga tidak hanya sekedar wacana di setiap tanggal 1 Desember. Karena AIDS bukanlah masalah yang muncul di tanggal 1 Desember saja. Sekian :).
read more »