Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Mei 2014

Review Minggu Ke - 10

Sedikit me-review apa yang paling mencolok terjadi di minggu ke sepuluh, sesaat sebelum berganti memasuki minggu ke sebelas. Mood paling terasa naik turunnya, terutama beberapa hari lalu saat kesal sendiri sampai air mata keluar. Meledak kali ya setelah beberapa minggu emosinya tertahan. Tidak tahu pasti sebabnya apa pokoknya ingin menangis saja. Ssssttt.... Diam-diam ya... No body knews that I cried a few days ago (my husband also didn't knew it).

Intensitas rasa lelah memang sedikit lebih meningkat, sekalipun cuma mengerjakan hal-hal ringan. Maka tidak heran kalau mengerjakan hal sepele seperti menyapu dan menyetrika pakaian pun jadi lebih lambat, karena saat sudah merasa kelelahan harus istirahat sejenak supaya napasnya tidak habis.

Soal makan tidak bisa dikatakan sulit, tapi jeleknya itu cenderung ingin makanan kurang sehat, entah nasi goreng, bubur ayam, somay, bakso, mie ayam, dan lainnya, dan parahnya selalu harus dengan tambahan sambal atau rasanya pedas. Hehe akhirnya kemarin sempat diare, untungnya tidak parah. Kapok? Lihat saja nanti, tapi harusnya sih kapok biar enggak makan makanan jajanan dulu buat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. 

Buah dan sayur masih mau makan, baik dimakan langsung atau dibuat jus. Tapi kalau harus mengikuti saran dokter, yang katanya minimal 5 warna untuk sayur dan buahnya, jelas belum mencukupi. Dan itu tandanya mungkin saya memang memerlukan susu khusus wanita hamil. Sip, nanti siang atau sore saya akan mencoba minum susu yang sudah lama dibeli tapi belum dibuka juga segelnya, karena khawatir masih mual. Kalau sekarang kan  mualnya sudah berkurang. Terima kasih sudah mampir di blog saya :).


read more »

Kamis, 23 Mei 2013

Kurus-an Tanpa Disengaja

Sekurus itu kah diri ini? Perasaan tidak menyengajakan diri ber-diet untuk menyusutkan berat badan. Bahkan setiap kali ingin ngemil, tidak pernah menahannya. Apa mungkin karena konsumsi air putih meningkat? Perasaan juga masih normal-normal saja, belum melebihi jumlah 2,5 liter per hari (dulu memang malas sekali minum air putih).

Sampai semalam menyadari bahwa kenyataan itu benar adanya. Setelah melihat dan memastikan lagi bahwa cincin yang semestinya dipakai di jari tengah atau jari manis, yang sudah berpindah tempat di telunjuk selama beberapa bulan ini, ternyata muat di jempol. Bahkan tidak mengalami kesulitan saat memakainya alias longgar. Sekurus itu kah diri ini?

Pernah membaca artikel, yang menyebutkan bahwa wanita selalu merasa gemuk meski berat badannya termasuk kategori ideal. Ya, meski saya tidak merasa gemuk, tapi sekarang juga tidak terlalu merasa lebih kurus, seandainya saja tidak melakukan penimbangan berat badan, atau disadarkan oleh kasus cincin dan pakaian yang terasa melebar (padahal badan yang menyusut). Ditambah lagi sejak lahir diberi karunia oleh Tuhan, berupa sepasang pipi yang tembem. So, setiap kali bercermin (jarang banget sih) dan melihat foto saat tersenyum dengan tampilan tubuh bagian atas saja, maka akan tampak biasa saja.

Tapi mungkin orang sekitar yang melihat kita yang ngeh dengan perubahan diri ini. Termasuk sosok ibu, yang setiap detik, dan dalam setiap hela napasnya selalu mendoakan putra-putrinya. Mengingatkan saya untuk tidak perlu melakukan diet apalagi dengan membatasi jumlah konsumsi makanan. Padahal memang tidak diet apa pun kok, bahkan beberapa waktu terakhir kalau boleh jujur saya sedikit memaksakan diri mengkonsumsi buah-buahan, yang memang awalnya malas. Walaupun memang lebih suka dalam bentuk jus, biar tidak terasa makan dan makan lagi.

Memang tidak diniatkan, tapi kalau boleh menganalisa semua ini karena perubahan porsi dan frekuensi makan saya. Memang secara frekuensi bisa dibilang sering, tapi porsinya yang agak menurun dari kebiasaan sebelumnya. Bukan sengaja diet, tapi entah mengapa merasa cepat sekali kenyang, dan kalau dipaksakan akan merasa mual setelahnya. Padahal bisa dibilang, kalau tidak sedang puasa, rasa lapar itu cepat datang. Dan tidak menunda untuk mengisi perut walau hanya dengan sebuah atau dua potong biskuit/cemilan lainnya.

Kalau dibilang tidak nafsu makan, enggak juga deh. Karena seseorang yang kehilangan nafsu makan, maka malas dan enggan untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan, terutama makanan lengkap atau biasa kita kenal dengan sebutan makanan berat (nasi, lauk, pauk, dll.). Tapi saya sama sekali tidak kehilangan nafsu makan, setiap kali waktu makan datang, maka saya segera makan seperti biasanya. Bahkan ketika sedang merasa sangat lapar, semangat sekali ingin makan ini-itu. Tapi setelah beberapa suap, rasa kenyang tiba-tiba saja muncul. Ajaran orang tua sejak kecil, untuk tidak membuang makanan sia-sia, membuat saya memaksakan diri menghabiskannya. Pernah satu kali setelah makan, langsung merasa mual, tapi tidak dapat dikeluarkan.

Sejak kejadian itulah, saya sengaja membatasi saat mengambil nasi atau makanan lainnya. Lebih baik nambah daripada menyisakan makanan kemudian dibuang kan? Tapi memang jarang sekali menambah makanan lagi, karena rasa kenyang itu segera muncul. Sesaat kemudian lapar lagi, tapi makan sedikit kenyang lagi. Duh, kalau kayak gini apa iya harus ngemil-in mayonaise biar cepat gemuk? Eh, tapi kalau begitu sih, enggak sehat ya karena nantinya malah menumpuk lemak jahat.

Ya sudahlah, mungkin ini hanya sesaat. Nanti juga kalau sudah waktunya badan akan menggemuk lagi alias lebih berisi. Gemuk, gemuk, gemuk!
read more »

Senin, 20 Mei 2013

Lebih Dari Sekedar Hadiah Pertama

Dari sekian banyak lomba menulis yang pernah saya ikuti, belum pernah sekalipun berhasil sekedar menjadi juara harapan atau lolos sebagai finalis, jika lombanya terdiri dari beberapa tahapan penyeleksian naskah. Sampai akhirnya, penantian panjang itu menunjukkan hasil walau nama saya berada di urutan terakhir di antara puluhan nama blogger yang tulisannya terpilih untuk mendapatkan kenang-kenangan dari pihak penyelenggara. Ya, sebuah thumbler berlogo dblogger (penyelenggara lomba blog dengan tema komunitas blogger), yang sedang berulang tahun di usia keempat. Sekelumit kisahnya dapat dibaca di sini.

Sebagai lomba pertama yang menghasilkan 'sesuatu', mungkin yang pernah mengalami hal tersebut tahu rasanya. Mungkin hampir sama dengan perasaan haru dan senang ketika pertama kalinya mendapatkan gaji atau honor hasil kerja keras sendiri, atau ketika pertama kalinya melihat bukunya mejeng di toko buku. Tidak melihat seberapa besar atau seberapa mahal nilai hadiahnya, tapi ada kepuasan batin tersendiri, walau tetap harus berusaha meningkatkan kualitas tulisan lagi dan lagi.

Lebih dari itu semua, hadiah yang saya dapatkan ini memiliki nilai plus untuk sedikit perubahan pola hidup saya terkait kesehatan. Khususnya perilaku minum air putih, yang sebelumnya bisa dikatakan di bawah batas minimal kebutuhan air per harinya. Ya, apalagi kalau bukan karena alasan malas. Jika belum benar-benar merasa sangat haus atau badannya lemas, rasanya enggan beranjak untuk mencari/membeli air putih (hehe sebenarnya air bening ya?) atau yang biasa dikenal dengan air mineral, yang harga minimumnya masih Rp 500,00.

Nah, semenjak mendapatkan thumbler dari dblogger inilah kebiasaan jelek tersebut mulai terkikis perlahan. Walau tidak bepergian keluar rumah, thumbler itu tidak pernah absen terisi air dan selalu berada di area yang mudah terjangkau. Sekarang malah rasanya selalu ingin minum air putih saat sadar isi thumbler-nya sudah kosong. Kadang merasa seperti anak kecil, yang baru semangat melakukan hal baik dengan peralatan makan atau alat tulisnya bergambar tokoh kartun favoritnya. Tapi, biarlah yang penting sekarang saya tidak malas lagi memperbanyak minum air putih.

Padahal sebelum mendapat hadiah itu pun, di rumah sudah ada beberapa wadah serupa yang harusnya tidak menjadikan saya malas minum air putih. Mungkin rasanya beda saja, saat memakai barang yang berhasil didapat dari usaha sendiri ya? Jadi semangatnya lain. 

Hal yang terpenting lagi adalah, setiap kali minum dengan thumber itu, menjadi pemicu semangat untuk terus menulis dan tidak berhenti mencoba setiap kali ada lomba kepenulisan.  Karena sebelum memutuskan ikut lomba blog dari dblogger, saya sempat mengalami keraguan dan menganggap tidak mungkin terpilih jadi blogger yang beruntung karena pasti pesertanya banyak sekali. Tapi dengan kenekatan tingkat tinggi ditambah usaha untuk menghasilkan tulisan jujur dari lubuk hati terdalam (eits, lebay-nya kumat), tidak disangka itulah kali pertamanya saya mendapat hadiah dari sebuah event lomba menulis. Again thanks for dblogger ^_^.

Kesimpulannya, hadiah yang saya dapat pertama kali dari suatu lomba kepenulisan tersebut, benar-benar bermanfaat. Lebih dari sekedar pemicu semangat menulis, tapi juga meningkatkan kesehatan (Aamiin).
read more »

Rabu, 23 Januari 2013

Pentingya Setetes Air Bersih



Air identik dengan masih adanya kehidupan yang berlangsung di suatu tempat. Manusia, binatang, dan tumbuhan, semua makhluk hidup memerlukan air walaupun dengan tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Terutama manusia sebagai makhluk yang paling mendominasi segala hal yang ada di muka bumi. Tentu saja karena manusia diberikan kelebihan berupa akal, sehingga dapat berusaha berpikir dan bertindak untuk tetap menjaga kelestarian alam dan ketersediaan air bersih untuk berbagai keperluan.

Akhir-akhir ini masalah yang menjadi sorotan utama di negara kita adalah banjir di Jakarta dan beberapa daerah di propinsi lainnya. Semakin berkembangnya kemajuan informasi, membuat masalah ini tidak hanya menjadi sorotan penduduk Indonesia, tapi juga dari negara lain. Apalagi status Jakarta sebagai ibu kota negara dan pusat pemerintahan, yang memunculkan isu untuk memindahkan ibu kota. Masalah isu tersebut sejenak kita kesampingkan terlebih dahulu. Karena ada hal yang lebih penting yaitu tentang ketersediaan air bersih, kesehatan dan produktivitas masyarakat.

Walaupun bumi ini sebagian besar terdiri dari air, tetapi yang banyak adalah air laut (air asin). Bukan air tawar, air permukaan, air tanah, mata air pegunungan yang layak untuk dikonsumsi dan berbagai keperluan terkait Mandi Cuci Kakus (MCK). Banjir yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan alam sudah mulai rusak, dan beberapa sebabnya juga karena ulah kita para manusia. Tidak bermaksud menyalahkan siapa pun, hanya ingin mengajak melihat fakta yang ada. Daerah pegunungan dan dataran tinggi yang normalnya banyak tumbuh pepohonan untuk menyerap air permukaan di akarnya, semakin berkurang lahannya. Banyak yang menjadikannya lahan bisnis di berbagai bidang, penebangan pohon secara besar-besaran, diubahnya tanah perkebunan menjadi villa atau tempat wisata yang dianggap penting untuk sektor pariwisata. Di daerah perkotaan juga demikian, nyaris tidak ada lagi daerah resapan air, setiap tahun selalu ada gedung tinggi yang baru dibangun. Daya tarik rezeki melimpah (katanya) di kota membuat banyak orang rela berbondong-bondong datang ke kota meski harus tinggal di lokasi ilegal, misal Daerah Aliran Sungai (DAS).

 Katanya banjir besar seperti ini pernah dialami beberapa tahun silam. Kalau begitu bukankah dampak yang ditimbulkan oleh banjir sudah pernah dirasakan sebelumnya. Tetapi mengapa masih saja ada pembangunan villa atau gedung di tanah rawan longsor masih diizinkan, beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta dengan cepatnya terus bertambah dengan alasan memenuhi kebutuhan pasar. Stop! Tolong hentikan itu semua, dan sebaiknya kita memfokuskan pada upaya untuk pencegahan banjir, melakukan penanaman pohon yang lebih banyak, dan menghentikan sejenak pembangunan gedung-gedung yang dapat mempengaruhi kerusakan alam. Setelah itu barulah menindak tegas terhadap kebiasaan membuang sampah sembarangan, yang sepertinya sudah mendarah daging di masyarakat.

Kekurangan air bersih dapat menimbulkan berbagai masalah, terutama kesehatan. Tidak akan produktif dan bisa maju jika manusianya tidak memiliki kondisi kesehatan yang baik. Berbagai penyakit dapat muncul dari masalah ketersediaan air bersih. Meski saat bencana banyak yang memberikan sumbangan berupa air mineral kemasan, tetapi penulis tidak yakin kecukupan air putih mereka terpenuhi setiap harinya. Kalaupun mencukupi, kondisi lingkungan yang kurang bersih, tetap memungkinkan tercemarnya air yang akan dikonsumsi.

Orang dewasa dalam keadaan normal (tidak sakit, suhu lingkungan normal, bukan ibu hamil dan menyusui, serta melakukan aktivitas tidak terlalu berat) minimal membutuhkan sekitar 2 liter (8 gelas @ 250 ml) air putih untuk diminum setiap harinya. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, maka akan terjadi kondisi kekurangan cairan (dehidrasi). Untuk mengetahui apakah diri kita kekurangan cairan atau tidak, dapat dilihat dari warna/kejernihan urine. Ada tabel PURI (Periksa Urine Sendiri), dengan  delapan warna yang dapat dibandingkan dengan warna urine. Untuk kategori warna di kelompok 1, 2, dan 3, menunjukkan bahwa kita terhidrasi dengan baik (sudah cukup mengkonsumsi air putih). Di kategori dengan nomor 4, 5, dan 6, berarti bahwa kita kurang terhidrasi dengan baik (membutuhkan sedikit tambahan air putih lebih banyak dari kebiasaan). Sedangkan dengan nomor 7 dan 8, menunjukkan bahwa kita sudah mengalami kekurangan cairan, yang mengharuskan menambah sangat banyak jumlah air putih yang diminum dalam sehari.


Tabel PURI

Maka untuk yang sedang tidak mengalami kesusahan mendapatkan air bersih, manfaat kesempatan sebaik-baiknya tanpa harus memboroskannya penggunaan air bersih. Gunakan seperlunya tanpa mengesampingkan kebutuhan yang harus kita penuhi. Dimulai dari kebiasaan kecil tapi rutin, minum air putih sebelum benar-benar merasa haus. Terkadang kesibukan membuat kita malas beranjak untuk sekedar minum air putih. Yuk, rajin minum air putih supaya tidak mengalami dehidrasi, tubuh semakin sehat, dan produktivitas meningkat. Eh, lupa belum minum air putih sejak satu jam lalu. Mari minum air putih minimal 8 gelas sehari.


Nila Amalia Husna
23 Januari 2013

*Referensi: Kurniasih, dkk. 2010. Sehat & Bugar Berkat Gizi Seimbang. Kompas Gramedia: Jakarta.
read more »

Minggu, 23 Desember 2012

Jajanan Oh Jajanan

Hiii, ngeri, geli, takut, jijik, tapi sepintas tampak menggiurkan. Apa sih? Kabar menghebohkan (lagi) tentang bakso daging sapi yang dioplos dengan daging babi. Rumornya karena harga daging sapi yang sempat naik dengan cukup "wow", jadi ada pihak yang ingin memanfaatkan situasi supaya tidak merugi. Belum lagi tayangan liputan berita khusus yang memata-matai praktek curang pedagang makanan, demi meminimalisir modal serta memaksimalkan keuntungan yang diperoleh. Memang, sebagian pedagang itu ada yang mengaku tidak tahu bahaya dari bahan bahaya yang digunakan, atau tahu tapi pura-pura tidak tahu. Misalnya makanan atau minuman berwarna dibuat dengan campuran pewarna tekstil, penggunaan boraks atau formalin supaya makanan dan minuman yang dijual tidak cepat rusak, penambahan pemanis buatan yang melebihi dosis, atau lebih parahnya untuk membuat gorengan tetap garing dan renyah, botol plastik bekas minuman dimasukkan dalam minyak goreng panas.

Walaupun tidak semua produsen bahan pangan atau makanan dan minuman siap saji, melakukan kecurangan yang merugikan konsumen. Jadi tinggal kita sebagai konsumen yang harus jeli memilih, dengan banyaknya informasi yang disediakan oleh media. Orang dewasa mungkin sudah bisa memilih makanan dan minuman apa yang sekiranya baik untuk kesehatan. Apalagi jika memiliki kemauan, minat, atau bahkan ahli memasak. Setidaknya bahaya tersebut dapat diminimalisir karena pengolahannya dilakukan sendiri di rumah. Kenapa hanya bisa meminimalisir? karena kenyataannya bahan mentah pun banyak yang kurang aman dan kurang sehat jika produsennya curang.

Lain halnya dengan anak-anak balita dan anak sekolah, yang biasanya masih memilih makanan dan minuman dari segi fisik (warna, rasa, aroma, dan bentuknya). Jika warnanya menarik, bentuknya lucu, ditambah harganya yang murah dan rasanya disukai anak-anak, hampir bisa dipastikan jenis makanan atau minuman yang biasanya dikenal sebagai jajajan itu laris manis. Balita juga biasanya masih selalu berada dekat ibu atau pengasuhnya, jadi masih bisa mengontrol jajanannya. Sedangkan anak usia SD sampai SMP, hampir dipastikan terbiasa menerima uang saku, dan membelanjakannya sendiri saat waktu istirahat atau pulang sekolah. Padahal tidak semua jajanan yang mereka sukai itu, aman dan sehat.

Walaupun di dalam area sekolah, disediakan kantin yang biasanya sudah terkontrol dari kebersihan dan keamanan pangannya, tapi jika di luar sekolah ada pedagang jajanan bukan tidak mungkin anak sekolah lebih memilih jajan diluar. Kenapa? Karena jenis dan bentuk jajanan yang dijual di luar kantin sekolah, biasanya lebih beragam, lebih menarik, lebih berasa (jelas karena penambah rasa yang digunakan bisa dari MSG atau gula biang), dan bisa jadi lebih murah (kemungkinan memakai bahan-bahan tidak aman).

Setidaknya itu juga yang Saya alami saat dulu masih SD. Jika dibandingkan jumlah siswa yang jajan di dalam kantin sekolah, lebih banyak yang memilih jajan di luar. Walaupun pihak sekolah akhirnya memberi peraturan bahwa saat jam istirahat sekolah, tidak ada yang boleh jajan di luar, tetap saja banyak yang nekat jajan dengan cara membeli jajanan lewat sela-sela pagar pembatas. Sekali ditegur, tetap saja besok-besoknya dilakukan lagi. Saya sendiri sewaktu SD juga lebih tertarik dengan jajanan yang dijual di luar sekolah, tapi tidak berani membelinya saat waktu istirahat, karena yang berani nekat seperti itu mayoritas anak laki-laki. Jadi kadang istirahat makan bekal yang dibawa dari rumah, dan sepulang sekolah baru membeli jajanan yang kadang sudah dipikirkan beberapa saat sebelum bel pulang berbunyi. Cape deh!!!

Loh, tadi perasaan di awal membahas tentang makanan dan minuman dari sisi keamanan dan kesehatannya, kok sekarang malah nostalgia? Iya, maaf ya pembaca bukan maksud tidak konsisten, namanya juga sekedar mencoretkan isi pikiran sekalian curhat colongan ^_^. Selain itu wawasan penulis juga kurang banyak tentang isu tersebut, dan pasti sudah banyak yang membahas tentang hal itu, para ahlinya langsung malahan.

Jadi tidak usah berpanjang kata dengan masalah yang rumit itu. Sebagai masyarakat awam penulis hanya bisa berharap semoga masalah terkait makanan dan minuman yang berbahaya untuk kesehatan, bisa berkurang dan di kemudian hari bisa tuntas. Kalau memang ditemukan para pedagang yang belum tahu bahwa bahan yang digunakan tidak layak untuk makanan atau minuman, semoga pemerintah bisa mensosialisasikan dengan harapan pedagang juga memikirkan kesehatan konsumennya. Dan semoga anak-anak penerus masa depan tetap sehat dan berprestasi baik dalam bidang apa pun, sehingga bisa memajukan negeri ini. Happy holiday!!!
read more »