Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Pesawat Terbang, Teh, Orang Asing, dan Kenangan Itu :(.

Kadang kita tidak bertanya bukan karena alasan malu. Tapi memang tidak tahu bahwa sebenarnya ada hal yang perlu kita tanyakan pada orang lain di sekitar kita. Jadi kisah ini terjadi saat Saya masih kelas 4 SD, yang harus buru-buru naik pesawat menuju sebuah daerah di Jawa Tengah karena dikabarkan bahwa Kakek (my Mom's father) sudah tiada. Padahal baru sore kemarin Ayah dan Saya berangkat ke Jakarta (naik bus) karena hari ini merupakan hari pertamaku sebagai murid kelas 4 SD. Memang waktu itu selain berlibur, memang kami sekeluarga berkumpul di sana karena kondisi kesehatan Kakek (Alm.) yang sedang sakit.
 
Dulu belum ada HP, jadi kabar itu baru kami ketahui saat baru masuk ke rumah. Tiba-tiba telepon berbunyi dan sampailah kabar duka tersebut. Maka dengan terburu-buru kami kembali meninggalkan rumah menuju bandara Soekarno-Hatta, dan untungnya masih mendapatkan tiket pesawat Merpati dengan waktu penerbangan yang sudah mepet. Sebetulnya sewaktu masih kecil, katanya Saya sudah pernah diajak naik pesawat terbang, tapi tidak ingat bagaimana rasanya. Dan kali itu sukses menjadi kali pertama Saya benar-benar merasakan terbang (walau hanya sekitar 1 jam), dan dalam kondisi tegang, sedih karena Kakek sudah tiada, dan tidak nyaman karena tidak bisa duduk bersebelahan dengan Ayah. Maklum, kami membeli tiket mendadak. Jadi anak kelas 4 SD yang cukup pendiam itu harus bersebelahan dengan seorang bapak-bapak tidak dikenal. Bahkan cenderung kelihatan orangnya cuek, tidak ramah. Kutebak sepertinya beliau seorang pegawai kantoran, yang sedang ditugaskan ke luar kota untuk urusan kantor.

Tidak ada masalah berarti walau sebangku dengan orang tidak dikenal, sampai ketika pramugari membagikan konsumsi kepada semua penumpang pesawat terbang. Karena hanya terbang satu jam, jadi konsumsinya berupa 2 atau 3 jenis roti, segelas teh, dan pelengkapnya (tisu, tusuk gigi, dan gula dalam kemasan). Waktu itu belum mengerti apa fungsi dari gula yang dikemas dalam bungkusan kecil (malah tidak tahu kalau itu isinya gula pasir). Berhubung sedang tidak nafsu makan, maka kuputuskan untuk minum tehnya saja.

Glek! Tegukan pertama membuatku terkejut. Bukan beracun, tapi karena rasanya sama sekali tidak enak. Pahit. Ingin lapor sama Ayah, jauh duduknya. Ingin tanya pramugari, masih takut juga. Tanya bapak tidak dikenal disampingku, lebih takut lagi. Malah sempat-sempatnya kutenangkan diriku dengan berpikir bahwa teh di pesawat memang seperti itu, pahit.
 
Mungkin karena anak kecil biasa didoktrin untuk tidak bicara dengan orang tidak dikenal, jadi begitu deh. Parno duluan. Akhirnya tidak jadi diteruskan minum tehnya, hanya memasukkan kotak berisi roti ke dalam tas, buat oleh-oleh Mama dan adik-adik (biar ga mubadzir walau tidak dimakan di pesawat kan?). Hehe, sekarang kalau ingat kejadian itu jadi geli sendiri. Sampai kapan pun teh yang waktu itu Saya minum, akan tetap pahit karena belum ditambahkan gula.
 
Sebelum turun dari pesawat kembali bertemu orang asing (baca: bule asli dari luar negeri). Bahkan seorang anak perempuan yang mungkin sebaya denganku sempat menyapaku. Mungkin ber-say hello atau menanyakan namaku alias ngajak kenalan. Tapi karena dulu pelajaran bahasa Inggris baru diajarkan kelas 4 SD, otomatis belum ada sepatah kata bahasa Inggris pun yang kuketahui maknanya. Bukannya membalas sapaan anak bule itu, meski sekedar senyuman, Saya malah kabur segera menuju pintu pesawat. Takut dan bingung karena tidak paham maksud si bule. 
 
Hmm, mungkin di hadapan anak itu dan keluarganya (kalau tidak salah dia bersama seorang adik dan ayah-ibunya), Saya seperti seorang makhluk aneh yang belum pernah tahu dunia luar rumah. Seandainya ketemu si bule setahun lagi saja, mungkin Saya sudah punya teman baru dari luar negeri. Minimal bisa bertanya kabar, nama, dan dari mana asalmu? Bahasa Inggris dasar gitu deh.
 
Sosok Kakek yang saat itu pergi mendahului kami, adalah sosok yang begitu dekat dengan cucu-cucunya. Walau diriku hanya sempat mengenalnya kurang dari 9 tahun. Masih kuingat saat beliau membuatkanku sebuah sapu dan pengki berukuran mini, mungkin mengajarkan bahwa anak perempuan seharusnya rajin dan senantiasa menjaga kebersihan. Mbah Roko, semoga sudah berbahagia di sisi Allah swt. Aamiin. Alfaatihah.
 
 
read more »

Jumat, 01 Februari 2013

Teror By The Cicak's Family :(

Akhir-akhir ini merasa ada yang menerorku. Bukan diteror oleh orang lain, tetapi oleh binatang bernama cicak -_-. Kira-kira dua minggu yang lalu setiap ba'da Isya (sekitar pukul 07.30 malam) ada seekor induk cicak yang sedang bunting selalu muncul tepat di dinding atas yang sejajar dengan kakus. Bayangkan selama beberapa hari ada cicak muncul di waktu yang nyaris sama, dan dalam keadaan berbadan dua pula (eh, mungkin lebih dari dua ya, secara itu cicak mengandung lebih dari satu ekor anak). Selama beberapa hari itu pula di waktu yang sama Aku memilih menggunakan kamar mandi lainnya atau menunggu sampai si cicak menghilang (ternyata cicaknya lebih lama bertahan daripada mataku yang sudah protes minta istirahat).

Malam kemarin dan malam ini, muncul lagi cicak yang hobinya melamun (soalnya enggak kedengeran suaranya lagi ngomong tuh *_*) di tempat dan waktu yang sama. Bedanya kali ini ukurannya lebih kecil. Kemungkinan besar si cicak mungil itu adalah bayi cicak dari induk cicak yang waktu itu masih berperut buncit. Please deh, enggak induk enggak juniornya masih saja menerorku. Tapi kali ini kuberanikan diri tetap menggunakan kamar mandi, meski rasanya aneh kayak dimata-matai oleh makhluk yang katanya makan nyamuk. Mana buktinya? Banyak cicak di rumah tapi masih saja banyak nyamuk yang bergerilya demi setetes darah manusia.

Walaupun masih merasa takut tapi tetap berusaha menunjukkan pada si cicak junior, kalau Aku tidak takut padanya (pura-pura cuek kayak bebek). Sambil sikat gigi sambil mikir, apa sih penyebabnya hobi banget para cicak memunculkan diri di hadapanku? Betah lama-lama melamun sok cool gitu pula, padahal udah disemprot air dan cairan pembunuh serangga (memang salah senjata sepertinya). Aha! I think I know the reason.

Mungkin penyebab utamanya adalah, diriku yang tidak punya keberanian berperang membasmi si cicak, seperti Mama. Aduh, kenapa bawa-bawa Mama ya? Jadi begini suatu saat ketika sedang duduk bersantai sejenak setelah lelah seharian, tiba-tiba saja Mama dengan sigap mengambil sapu lidi. Berusaha memukul seekor cicak yang sedang diam-diam merayap di dinding, yang tidak ada nyamuk melintas. Memang insting binatang lebih peka dengan suara gerakan manusia, sudah pasti cicaknya menang alias lolos dengan selamat. Sekali, dua kali cicaknya menang, sampai akhirnya cicak tersebut kehabisan tenaga (ngaco) dan menggelepar di lantai terkena sabetan sapu lidi. Yes, Mama menang :).

Lain waktu ada cicak lagi dan kejadian perang itu berulang lagi. Kupikir ada dendam apa beliau dengan cicak, ternyata menurut penjelasan Mama dikuatkan oleh ceramah pak ustad, bahwa membunuh cicak itu berpahala. Kenapa? Karena zaman dahulu orang kafir (yang berniat membunuh nabi) menemukan tempat persembunyian Rasulullah saw dan para sahabat, karena ulah cicak yang bersuara nyaring. Selain itu cicak juga menyebarkan najis di dalam rumah, melalui kotorannya. Jadi ada pahalanya saat kita membunuh cicak.

Tapi walau sudah tahu hukumnya, yang namanya rasa geli cenderung takut, masih mengalahkanku untuk mendapatkan pahala dari satu hal yang hukumnya sunnah tersebut. Pantas saja the cicak's family betah lalu lalang di kamar mandi dan kamarku, karena ancaman terbunuhnya lebih kecil dibandingkan di ruangan lainnya. Baiklah kalau begitu mulai detik ini tidak boleh takut melawan cicak (antara yakin tidak yakin), supaya teror mereka bisa berhenti menghantuiku. The cicak's family, go away from my zone!

read more »

Jumat, 25 Januari 2013

Dijahit (Lagi)

Kali ini akan membahas tentang jahit menjahit kulit manusia (lagi). Kenapa harus ada kata "lagi"? Karena proses dijahit ini adalah kali kedua dalam hidupku, setelah untuk pertama kalinya kulit di bagian dahiku dijahit  akibat insiden dancing with sleepy eyes (ga banget ya). Dan kejadian itu kualami saat masih Balita, untuk sekedar meyakinkan bahwa ini bukan hoax, silahkan klik di sini.

Selang belasan tahun kemudian (kelas 1 Aliyah/SMU), lagi-lagi berurusan dengan benang dan jarum jahit khusus milik seorang dokter spesialis kulit. Kejadian bermula dari sebuah anting yang selalu terpasang di telinga kananku. Suatu saat muncul rasa tidak nyaman di bagian cuping telingaku, sedikit gatal dan sakit. Lama kelamaan menjadi radang dan mungkin disebut infeksi. Parahnya hal ini kubiarkan saja, tanpa sedikit pun memberitahukan orang lain, termasuk memberitahu Mama (takut dimarahi juga sih). Tidak ingat berapa lama menahan rasa sakit sendirian, dan untungnya (masih bisa bilang untung, ck..ck..ck..) luka infeksinya bisa mengering sendiri tanpa kuobati. Mungkin karena masih berada dalam masa pertumbuhan dan belum (jangan sampai) punya diabetes jadi infeksinya tidak menyebar dan bisa sembuh dengan sendirinya.

Tapi masalah belum selesai. Ternyata cuping telinga kananku yang sudah berganti kulit baru itu, menjadi terbelah. Cius? (waduh kok jadi alay gini ya). Iya, ternyata infeksi itu mungkin terjadi karena antingnya menjepit kulit di luar lokasi tindikan, dalam jangka waktu cukup lama. Dan infeksi yang kukira tidak menyebar itu, ternyata menyebar hingga bagian bawah cuping (pantesan aja dikira ga nyebar, kan udah mentok), sehingga membuat cuping terbelah. Baru terlihat saat luka sudah sembuh sepenuhnya. Kebetulan saat lukanya sembuh, bertepatan dengan waktu libur Ramadhan. Jadi tidak mungkin lagi disembunyikan dari Mama (sebelumnya kalau dijenguk di pesantren memang di luar kamar, jadi telinga tertutup oleh kerudung).

Shock, kaget, dan super duper heran sama anaknya yang bisa banget menyimpan rasa sakit tanpa cerita sama siapa pun. Maka dengan segera Mama membawaku ke seorang dokter spesialis kulit untuk mengkonsultasikan masalah ini. Sudah pasti dokter memutuskan bahwa beberapa hari ke depan cuping telingaku harus dijahit. Dokternya saja keheranan melihat kondisi cupingku yang sampai terbelah begitu, tapi waktu luka dan infeksi malah dibiarkan saja.

Hari operasi jahit cuping.
Karena saat itu masih bulan puasa, jadi jadwal operasi dilakukan setelah waktu magrib (sekitar pukul setengah tujuh malam). Maka kami (Mama, Ayah, Aku, dan adik) memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit sebelum waktu berbuka puasa, supaya tidak terlambat. Aroma khas rumah sakit sudah membuatku tegang, dan sepertinya semua ikut tegang hanya mampu terdiam tanpa kata (mungkin berdoa supaya saat dijahit, Aku enggak teriak meraung-raung *_*). Ternyata Bu dokternya ngaret, dan waktu pelaksaan operasi penjahitan ini mundur nyaris satu jam.

Mama ikut masuk ke ruang dokter, untuk menemaniku karena ternyata acara menjahit cuping ini hanya menggunakan bius lokal. Jadi selama dijahit nanti mataku tetap terbuka, dan keteganganku dipastikan semakin meningkat. Dokter bertanya lagi pada Mama apakah yakin mau melihat pelaksanaan operasi ini (secara tidak langsung menyarankan untuk menunggu di luar saja, nanti akan tahu alasannya). Dan ibu memang orang terhebat sedunia di hidup kita, demi anak apa pun akan dilakukan walau harus mengesampingkan rasa takutnya. Mama akhirnya duduk di kursi tempat konsultasi pasien dengan dokter. Di hadapan beliau pula Aku berbaring miring ke kiri dengan bagian kepala ditutup kain hijau yang biasa digunakan untuk operasi. Bismillah.

Meski ditutup kain, tapi aku masih bisa melirik ke arah telinga saat jarum ditusukkan ke kulit (beserta daging) cuping yang terbelah. Dokter terus menggerakkan tangannya sambil mengajakku ngobrol untuk mengalihkan perhatianku. Tapi tetap saja Aku sadar bahwa ada jarum dan benang yang keluar masuk di telingaku. Tidak terasa sakit memang, tapi Aku masih bisa melihat jarumnya serta darah di sarung tangan Bu dokter. Sesaat lagi Aku akan segera merasa bersalah pada Mama.

Mungkin karena pemandangan mengerikan, ditambah hanya berbuka puasa dengan makanan ringan setelah seharian puasa, membuat kondisi Mama drop. Ditambah lagi merasakan ketegangan dan ketakutanku (Ge-eR ya diriku), tapi mungkin lebih tidak tega meninggalkanku sendiri di ruang dokter. Kaget saat suster berteriak bahwa mama tiba-tiba jatuh lemas nyaris pingsan di kursi. Maka Setelah memanggil Ayah dan adikku, Mama pun dibawa keluar ruangan. Deg! Rasanya bersalah sekali tidak mampu merawat kesehatanku sendiri sampai Mama harus pingsan karenaku, tapi apa daya Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa saat itu.

Dokter pun mengatakan padaku, mungkin Mamanya enggak kuat melihat darah. Makanya tadi Bu dokter sempat menegaskan apakah yakin mau ada di dalam ruangan. Kukatakan saja memang tadi buka puasa juga belum sempat makan nasi (padahal tadi Mama dan Aku memang enggak makan nasi dulu karena khawatir dokternya nungguin kita, malah dokternya yang telat -_-). Sekarang perhatian utamaku bukan pada jari dokter yang sibuk memperbaiki cuping telingaku, tapi dengan keadaan Mama di luar. Rasa takut dan bersalah itu semakin menjadi. Maaf Ma ;(.

Tidak ingat pasti berapa jahitan (antara 2 - 4) yang kudapat di cuping telinga kananku. Yang jelas setelah selesai operasi, kudapatkan kenang-kenangan benang warna hitam yang kata dokter lama kelamaan akan menyatu dengan kulit (baru tahu ada benang semacam itu). Waktu di rumah baru merasakan sedikit nyeri dan perih di bagian yang dijahit, untungnya masih diberi obat penahan rasa sakit. Di rambut pun ada noda darah yang mengering, sesaat membuatku merinding. Jadi ingat Mama, yang jelas-jelas mencoba bertahan menyaksikan proses penjahitan telinga manusia, melihat darah sekaligus melihat anaknya di tempat tidur pesakitan :(.

Setelah luka benar-benar kering, dan benang jahit sudah menyatu dengan kulit (lupa berapa lama waktu pemulihannya) maka terjadilah satu tahapan yang membuatku kembali merasa tegang. Ditindik. Dulu jelas tidak ingat rasanya ditindik karena masih bayi. Dan ini untuk pertama kalinya merasakan cuping telinga akan di"tembak" dengan alat khusus supaya menghasilkan lubang berukuran mini. Rasa sakitnya memang cuma sebentar, tapi kejadian ini berhasil membuatku bertekad tidak ingin mengulangnya lagi. Dengan cara memaksakan diri tetap memakai anting (walau tidak nyaman) untuk mencegah lubang tindikan ini mampet.

Satu lagi, sebaiknya kita rutin membersihkan anting dengan cara merendamnya di larutan air+deterjen (hasil pengamatan dari kebiasaan Mama). Terutama saat mulai muncul rasa tidak nyaman di telinga. Selain membersihkan dan merawat anting, juga memberikan waktu "bernapas" si kulit di sekitar tindikan yang lama tertutup anting. 

Kuingat bahwa dulu kejadian infeksi itu karena masih belum berani melepas anting sendiri (kebiasaan selalu dipasangin Mama). Kalau sekarang sudah bisa lepas pasang sendiri, jadi tidak akan terulang lagi kejadian cuping telinga terbelah karena infeksi. Sekarang cuping telingaku sudah normal kembali. Dan kini jumlah bekas jahitan pada tubuhku ada di dua lokasi, dahi dan cuping telinga kanan. Semoga tidak ada lagi bagian tubuh yang harus dijahit oleh dokter. Semoga.




read more »

Senin, 14 Januari 2013

Lupa Di Pagi Buta

Perubahan selalu menuntut kita untuk beradaptasi, dan mulai membiasakan diri dengan segala hal baru. Begitu juga ketika seorang anak yang baru lulus dari sekolah dasar, tiba-tiba harus sekolah di lingkungan baru bernama pondok pesantren. Biasanya tinggal di rumah, ada yang nyiapin makanan enak, pakaian bersih tinggal ambil di lemari, pakaian kotor tinggal lempar ke ember atau mesin cuci, bahkan mungkin beberapa orang di antaranya masih tidur ditemani orang tua atau pengasuhnya. Kehidupan pun berubah nyaris 180 derajat, beberapa di antaranya mungkin juga sudah terbiasa dengan kedisiplinan ketat di rumahnya, tapi yakin tidak ada yang seketat di pesantren. Di rumah paling pagi bangun pukul lima, sedangkan di pesantren pukul 4 pagi sudah dikagetkan dengan suara lonceng yang ukurannya melebihi besar kepala orang dewasa.

Seperti juga diriku ketika pertama kali baru masuk pesantren. Masalah antri kamar mandi bisa jadi momok yang menakutkan untuk anak baru. Karena konon katanya kalau tidak cepat-cepat mendapat kamar mandi, bisa-bisa tidak sempat mandi karena keburu bel masuk sekolah, yang pasti hukuman menanti mereka yang telat berangkat ke kelas. Maka sebagian besar anak baru, punya suatu tekad untuk mandi ketika orang lain masih berusaha dengan susah payah membuka mata setelah lelapnya tidur. Ketika lonceng berbunyi pukul empat pagi, maka saat itulah siapapun bebas menggunakan kamar mandi mana pun, dan selama apa pun asal tidak telat saat lonceng berbunyi untuk memerintahkan segera ke masjid. Bayangkan saja jam segitu dijamin tidak akan ada yang kuat mandi lebih dari 15 menit saking dinginnya air dan rendahnya temperatur udara menjelang subuh.

Aku sendiri sebenarnya tidak terbiasa bangun sebelum pukul setengah enam. Tapi faktor tempat baru membuat tidurku tidak nyenyak. Memang sudah kebiasaan sejak kecil, meski menginap di rumah teman atau saudara, yang rumahnya lebih bagus dari rumah sendiri pun, tidak akan bisa tidur nyenyak karena merasa bukan tempat sendiri. Apalagi tidur di tempat baru, yang pada awalnya sangat terpaksa kutinggali untuk beberapa tahun ke depan ini. Sepanjang malam hanya bisa diam-diam menangis karena kangen rumah dan orang tua juga adik (kisah klasik cengengnya anak baru). Maka dengan sigap ketika subuh pertama di pesantren, pukul empat pagi sudah bersiap membawa gayung berisi alat mandi dan handuk disampirkan ke pundak.

Waktu itu masih segan membangunkan teman lain untuk menemani ke kamar mandi, jadi kuberanikan diri keluar kamar sendirian. Senangnya ketika melihat seorang kawan dari kamar sebelah juga terlihat membawa alat mandi dan handuk. Lumayan, ada kenalan baru sekaligus teman berjalan menuju kamar mandi yang letaknya berada di belakang asrama ini. Kami saling melempar senyum (namanya juga belum saling mengetahui nama), sampai dia mengeluarkan perkataan yang membuatku sedikit bingung.

"Itu, kok enggak dipake..." dengan agak sungkan ragu-ragu berkata sambil menunjuk ke arah kepalaku.

Aku terdiam dan kebingungan (terutama karena baru bangun tidur), dan cuma bisa bertanya "Apanya?"

"Kerudung, kamu enggak pake kerudung?"

"Eh, iya lupa banget. Makasih ya udah ngingetin."

Kuucapkan terima kasih dan segera masuk ke kamar untuk memakai kerudung yang biasa disebut bergo. Sampai saat keluar kamar lagi, dia masih mau menungguku untuk berjalan bersama menembus kegelapan menuju kamar mandi. Untung ada yang mengingatkan, dan suasana asrama masih sangat sepi, jadi semoga saja tidak ada yang melihat. Seketika rasa ngantukku pun menghilang. Dan perkenalan kami sebagai teman tetangga kamar, dimulai dari ulah yang kuperbuat di pagi-pagi buta. Syukurlah kejadian itu hanya kualami sekali dalam rentang hampir enam tahun tinggal di sana. Buat yang baru masuk pesantren, ingatlah untuk selalu menggunakan kerudung ketika berada di luar kamar tidur/kamar mandi! Kecuali kamu santriwan alias laki-laki ^_*.

read more »

Sabtu, 12 Januari 2013

1...2...3...Say, Cheese!!!

Hari gini ga narsis? Mungkin akan ada yang menyatakan demikian jika sedikit disinggung mengenai kebiasaannya mengabadikan dirinya dalam sebuah foto (apalagi yang memotret dirinya sendiri alias foto selca/self camera). Memang sih sekali dua kali Saya juga pernah melakukannya, khususnya saat masih aktif di jejaring sosial. Tetapi setelah menyadari bahwa itu hanya dilakukan karena ikut-ikutan dan merasa tidak nyaman, maka sekarang tidak pernah melakukannya lagi. Mungkin suatu saat jika ada keperluan yang mengharuskan untuk foto gambar diri terbaru, baru akan Saya lakukan.

Baik foto selca atau memang difoto oleh orang lain, membuat Saya tidak nyaman. Tidak tahu sejak kapan, tetapi seolah refleks saja ketika ada kegiatan atau acara kumpul-kumpul seolah ikut berfoto bersama hanya jika benar-benar ditawari atau dipaksa. Sedangkan orang lain sangat sadar akan adanya kamera di sekitar mereka. Tidak jarang yang selalu dengan sigap menyusup di suatu barisan atau kelompok meski tanpa diberitahu/diajak, saat melihat ada seseorang yang bersiap mengambil gambar mereka. Tidak ada yang salah memang, toh memang pada dasarnya, setiap orang berhak mengabadikan setiap moment berharga dalam kehidupannya.Sebenarnya ada satu alasan yang entah memalukan atau wajar jika aku mengalaminya. Ya, sepertinya mataku tidak tahan terhadap blitz.Selalu ada bayangan aneh yang mengikuti pandanganku ke segala penjuru mata angin (lebay). Baru beberapa menit kemudian bayangan itu menghilang. Tapi sebenarnya alasan itu sudah tidak bisa digunakan lagi, soalnya nyaris tidak ada lagi orang yang menggunakan lampu blitz, kecuali memotret di tempat gelap. Kalau begitu selain tempat dan waktu yang mengharuskan berfoto tanpa blitz, harusnya bukan masalah kan?Lantas apa sih penyebabnya?

Mungkin bukan suatu kelainan khusus, tetapi mungkin ada yang berpikir bahwa Saya pribadi yang tidak menyenangkan jika terus menerus membiarkan sikap ini. Padahal bukan maksud memisahkan diri atau tidak ramah karena selalu memisahkan diri saat yang lain sibuk berfoto ria, hanya saja mungkin tingkat kenarsisan dan level ke-banci-kamera-an-ku sudah habis di masa kecil. Maksudnya?

Mungkin Anda yang sudah memiliki anak akan memahami hal ini, dimana orang tua selalu amat sangat antusias mengabadikan setiap perubahan atau aktivitas anak Anda. Khususnya jika mereka anak pertama atau masih berada di usia bayi sampai balita, alias masih 24 jam selalu ada di samping Anda. Apalagi zaman sekarang yang sangat memudahkan kita karena bisa mengambil foto dengan berbagai macam gadget. Bahkan tidak perlu menunggu dicetak untuk bisa melihatnya, seketika bisa dilihat hasilnya, kemudian diperlihatkan kepada keluarga yang ada di lain benua pun hanya perlu beberapa detik.

Begitu pula zaman dulu, ketika Saya masih kecil dan belum memiliki adik. Kebetulan Bapak memiliki sebuah kamera (dulu belum ada kamera digital), yang memang diperlukan juga untuk menunjang usaha yang baru dirintis bersama Ibu. Dengan demikian, selain dipergunakan untuk usaha, dipakai juga untuk selalu mengabadikan moment-moment penting di keluara. Termasuk mengambil gambarku dan adik-adik. Tetapi sewaktu Saya masih berstatus anak tunggal sementara, maka subjek utama yang merupakan anak mereka ya Saya ini. Maka tidak heran foto masa bayi sampai saat TK Saya lebih banyak dibandingkan adik-adik.

Nah, ternyata Saya baru sadar ekspresi wajah saat difoto beberapa tahun terakhir ini sungguh mencerminkan wajah orang yang tidak begitu nyaman difoto. Bahkan beberapa sangat menunjukkan ketidaksukaan akan aktivitas yang sebenarnya menyenangkan buat sebagian besar orang. Tetapi ketika melihat foto sejak bayi sampai menjelang usia TK, sangat berbeda jauh. Bukan narsis, hanya saja terlihat natural senyumnya atau seringkali bergaya aneh-aneh dengan mimik wajah sangat gembira. Sangat menikmati menjadi sebuah model album kenangan milik keluarga.

Saya akui memang masih sedikit ingat dulu begitu senang saat Bapak sudah mengeluarkan kameranya. Jika ada sisa film (zaman dulu kan masih pake roll film di kameranya), maka semangat sekali meminta beliau memotret Saya dengan beragam gaya. Malah ada dua foto lama yang Saya lihat, saat itu sangat tidak jelas. Dengan gaya yang sama (mengankat kedua tangan di depan muka/muka tertutupi tangan) tetapi minta difoto dari jarak sangat jauh, dan agak jauh. Pasti gambarnya buram kan? Apa coba nilai kenangan dan keindahannya? Tapi begitulah Saya dulu, kalau diingat-ingat malu hanya bisa tersenyum kecut dalam hati. Betapa banci kameranya diri ini di masa lalu. Padahal zaman dulu kan belum ngetren bernarsis ria di foto, apalagi dipamerkan ke orang-orang. Mungkin dulu hanya senang saja saat melihat Bapak menjeprat-jepretkan sebuah tombol di kotak berwarna hitam bermata satu.

Tapi itu hanya sebuah kisah lalu. Saat ini dalam hal yang sama Saya merasa menjadi pribadi yang 180 derajat berbeda. Entah mungkin karena segala energi kenarsisannya sudah habis di masa kecil, atau memang Saya saja yang kemudian tumbuh besar menjadi pribadi minder nan tidak percaya diri? Setidaknya melalui menulis Saya juga berusaha menghilangkan keminderan dan tidak PD dalam diri ini. Meski sulit, tapi yakin suatu saat kedua hal negatif itu akan hilang, dan semoga tidak membuat hati menjadi tinggi. Kalau pun tidak bisa mencapai 100% musnahnya ketidakpercayadirian ini, setidaknya akan kucoba melakukan hal terbaik semampuku. Have a nice dream!!!
read more »

Kamis, 10 Januari 2013

Makan (Menghirup) Kacang Goreng.

Pernahkah dalam kehidupan kita selama ini, melakukan atau tanpa sengaja berbuat hal yang konyol? Mungkin hanya 0,0001% kemungkinannya mereka yang merasa kehidupannya sempurna tanpa sekali pun terjebak dalam situasi konyol nan absurd. Begitu pula penulis, namun tentu saja tidak semua kejadian konyol yang mungkin jumlahnya tak terhitung itu, masih jelas diingat. Tetapi kadang saking konyolnya atau memang kejadiannya begitu meninggalkan kesan mendalam, maka ada saja kejadian aneh, konyol, dan mungkin sempat menjadi hiburan bagi orang lain (dengan menertawakan kita) itu masih teringat sampai saat ini. Betul atau betul? Hmm wajar kok, setidaknya hal seperti itu membuat hidup lebih berwarna. Setidaknya ada beberapa kekonyolan yang pernah Saya alami, dan memberikan suatu kesan, pelajaran, bahkan mungkin juga sedikit trauma. Tapi kali ini satu dulu saja ya, yang lain bisa diposting kapan-kapan. Sepertinya ini merupakan kejadian konyol pertama dalam hidup Saya, yang masih teringat sampai sekarang.

Kacang (jenis kacang tanah) goreng. Pasti semua orang tahu dan mayoritas pernah memakannya kan? Tapi mungkin juga banyak yang menghindarinya karena memiliki masalah jerawat. Saya sendiri sebenarnya sudah diperingatkan dokter untuk menghindari segala jenis kacang-kacangan, tapi tetap saja menghajar bumbu kacang kalau si somay tiba-tiba muncul di depan mata. Tapi kali ini bukan mau membahas jerawat ya, lain kali mungkin ada kesempatannya si Acne jadi bintang utama di salah satu postinganku.

Jadi begini kisahnya, suatu waktu di kala penulis masih berusia sekitar 5 - 7 tahun (enggak ingat pasti soalnya) menemukan ada toples berisi kacang goreng made by Sang Mama tercinta. Umur-umur segitu biasanya masih amat sangat terpengaruh dengan apa pun yang dilihatnya kan? Nah, itu juga yang terjadi padaku saat itu. Seketika ingat pernah melihat iklan ketika ada orang makan kacang dengan cara unik. Mungkin sebagian dari pembaca sudah menebak gaya apakah itu. Ya, gaya makan kacang yang dianggap keren (setidaknya oleh anak-anak), dengan cara melempar kacang ke atas, kemudian menengadahkan kepala, dan dengan sigap mulut menangkap kacang, lalu dikunyah deh. Tiba-tiba saja tercetus pikiran untuk mempraktekannya, meski tanpa latihan dan pengawasan dari sang ahli (apa sih).

Percobaan pertama, sebuah kacang goreng siap di tangan kemudian dilemparkan ke atas kepala. Meleset, dan sukses mendarat di lantai. Percobaan kedua masih gagal. Berkat kegigihan seorang bocah perempuan, akhirnya mencoba lagi dan lagi. Sampai akhirnya kacang goreng itu berhasil masuk.....hidung. Panik lah masa panik dong? Glek, seketika hening tidak mampu bersuara atau mengaduh memanggil orang dewasa yang ada di rumah. Mencoba sendiri menundukkan kepala dengan harapan kacangnya masih berada di pintu lubang hidung. Tapi naas, tidak ada sesuatu yang jatuh dari hidung. Bahkan ada sensasi rasa aneh di dalam hidung, hampir di bagian atasnya. Gawat, sepertinya memang menyangkut di situ. Ini harus dihirup atau dipaksa keluar seperti saat mengeluarkan ingus? Dilema, mau bilang orang rumah takut dimarahi karena memang itu kesalahan pribadi, tidak bilang tapi ketakutan sendiri. Akhirnya saat orang dewasa (lupa siapa yang dulu mengetahui kejadian ini) di rumah meihat gelagat aneh Saya, dan berusaha membantu setelah mendapat penjelasan ala anak kecil ini. Masih belum berhasil, sampai akhirnya Saya kelelahan mencoba berbagai cara untuk mengeluarkan kacang dari dalam hidung.

Saat itu hanya bisa duduk tegang sambil berdoa semoga tidak terjadi hal-hal yang membahayakan. Karena memang entah sugesti perasaan bersalah, atau memang tidak menimbulkan kesakitan, membuat Saya sama sekali tidak mengeluhkan rasa sakit. Makanya tidak ada tindakan lanjut dibawa periksa ke dokter. Beberapa jam kemudian, muncul sensasi menggelikan di hidung seperti orang yang akan bersin. Ternyata benar, dalam sekejap Saya langsung bersin dengan suara yang cukup menggelegar (emang petir?). Tampak seonggok benda kecil berwarna kuning kecokelatan di lantai setelah bersin yang cukup heboh itu. Yeay, kacang gorengnya berhasil keluar bersamaan dengan bersin tadi, masih dalam kondisi utuh tak berkurang. Atau memang bersin itu muncul karena bulu-bulu hidung sudah tidak tahan lagi berlama-lama membiarkan benda asing masuk daerah kekuasaannya? Ya, yang jelas Saya sangat senang saat itu, karena berhasil lolos dari bahaya yang bukan tidak mungkin mengancam nyawa (lebay ya, biarin memang sengaja mendramatisir).

Buat yang punya anak, adik, keponakan, atau mungkin cucu masih anak-anak sebaiknya diperhatikan lebih meski tidak perlu juga banyak melarang ini itu. Karena mereka memang masih pada usia yang senang meniru apa saja yang dilakukan oleh orang dewasa, terutama iklan memberikan pengaruh kuat juga. Dampingi mereka kalau sedang menonton TV, dan jelaskan bila ada hal-hal yang semestinya tidak perlu dipraktekkan di rumah. Cukup Saya saja ya yang mengalami kekonyolan ini, jangan diiikuti ya adik-adikku sayang (kali aja ada anak SD yang baca kisah ini). Tidak selamanya yang kalian lihat di TV itu, bisa dilakukan oleh siapa saja. Have a nice day!!!

read more »

Selasa, 04 Desember 2012

Cerpen: TIBA SAATNYA


 “Ngedengerin ceramah??? Pasti BT banget. Tiap peringatan Isra Mi’raj pasti ada acara ceramah.” Aku hanya bisa bersungut-sungut dalam hati. Ya, hari ini peringatan Isra Mi’raj diisi dengan ceramah yang disampaikan oleh seorang wanita yang disebut ustadzah. BT banget, apalagi acaranya dipisah cowok dan cewek. Nggak bisa lihat doi deh. Dengan berat kulangkahkan kaki menuju aula. Anak-anak ROHIS sudah berdiri di samping pintu menyambut seluruh siswi SMU PUSPA BANGSA.
“Fir, dateng juga lo, gue kira seorang Fira enggak bakalan mau ikut acara kayak gini.” “Sebenernya gue ogah, tapie nggak enak sama anak ROHIS. Waktu kita punya acara minggu lalu anak ROHIS udah mau dateng plus ngasih sambutan sebagai support mereka buat kegiatan KIR.” Lala hanya mengangkat kedua bahunya sembari berjalan di sisiku menuju deretan kursi di bagian tengah. Acara demi acara pun berlangsung meski aku mengikutinya dengan perasaan terpaksa.
**********
Perkataan ustadzah di aula kemarin telah membuatku sering merenung. “Fir, kenapa sih? Kayaknya gue perhatiin akhir-akhir ini jadi enggak fokus di kelas. Punya masalah?” “Enggak, lagi males aja.” “Oh, ya udah. Asal pelajaran jangan sampai keteteran gitu dong.” “Sip, makasih ya, La.”
Lala sahabat yang selalu setia mendengarkan uneg-unegku. Selain itu, di KIR aku menjabat sebagai ketua dan Lala adalah sekretaris. Jadi makin kompak deh. “Teeetttt…”. Bel berbunyi, tanda waktu pulang telah tiba. Seperti biasanya Aku pulang bareng Lala. “Fir, lo mau nemenin gue ke toko buku nggak? Bokap nitip something sama gue.” “Oke, gue mau nemenin kok”. Kuiyakan permintaan Lala karena memang Aku sedang malas buru-buru pulang ke rumah yang sepi.

Di  Knowledge Book Store.
Pandanganku tertuju pada buku bercover hijau dengan judul “WANITA dan JILBAB.” Ingatanku kembali pada saat acara Isra Mi’raj di sekolah. Ustadzah Aisyah berkata bahwa islam mewajibkan umatnya khususnya muslimah untuk menutup aurat. Caranya, dengan berjilbab. Kuambil buku itu dan kubaca sinopsisnya di cover bagian belakang. “Sering tidak kita sadari bahwa rambut dapat mengundang maksiat. Maka di buku ini dijelaskan perintah Allah dan Rasul-NYA untuk menutup aurat dengan berjilbab bagi wanita.”
“Fir, ngapain lo? Pulang yuk.” Ucapan  Lala mengagetkanku. Refleks kukembalikan buku itu ke tempatnya. Sepanjang perjalanan, Lala menceritakan kisah buku yang ia beli, namun aku hanya menganggapinya dengan kata-kata “Ya, bagus banget” dan mengangguk-angguk seolah memperhatikan ucapannya.
**********
“Bunda, kapankah seorang muslimah diwajibkan berjilbab ?” Bunda termenung sesaat kemudian tersenyum, “Fira, sebetulnya ketika perempuan sudah baligh, maka ia wajib menutup auratnya. Tapi kalau sudah berjilbab harus konsisten. Jangan memakai jilbab dengan niat setengah-setengah.”
Aku terdiam dan berpikir apakah aku sudah siap dengan segala hal yang akan kuhadapi nanti. “Apa kamu berniat berjilbab ?” Bunda seperti tahu apa yang ada di benakku. “Mungkin, tapi kayaknya nggak sekarang, soalnya Fira ingin menguatkan tekad terlebih dahulu.” Bunda tersenyum penuh harap putrinya akan mengikuti jejaknya yang berjilbab sejak tiga tahun lalu.
**********
Kegaduhan terjadi di depan kantor TU. Nilai UAN sudah diumumkan. Ada yang melonjak senang karena lulus, ada pula yang menangis karena tidak lulus dan harus mengikuti remedial saat yang lulus sudah libur nantinya. Ada pula yang tak berekspresi karena tak tahu melanjutkan kemana.
Aku lulus dengan rata-rata 9,00. akhirnya aku berhasil meraih PMDK di FMIPA UI. Sedangkan Lala mendapat PMDK di FKM UI, jadi kami masih akan tetap dekat dan mudah untuk bertemu. Saat inilah aku berani terus terang padanya perihal keinginanku untuk berhijrah.
Lala memelukku penuh haru. “Alhamdulillah, akhirnya hidayah telah datang. Kok kebetulan, aku juga ingin mengatakan hal yang sama.” Ketika pelukan lepas, kami berjanji akan bersama-sama berhijrah. Bersama-sama konsisten, sampai akhir hayat. Aamiin.


Ditulis di Kota Hujan, sekitar bulan Oktober atau November 2004

read more »

Jumat, 19 Oktober 2012

(MENDADAK) KREATIF

 Ada yang bilang kreatifitas (kreatifitas atau kreativitas, tulisan bakunya) itu terkadang muncul di saat-saat kepepet. Di saat terdesak oleh keadaan, apa pun itu. Mungkin itulah yang terjadi padaku semalam. Saat mencoba membujuk adik sepupu yang masih berusia 4 tahun, supaya lekas tidur. Bukan hal yang mudah tapi juga tidak sulit namun perlu berbagai cara dengan memaksakan orang dewasa di sekitarnya lebih kreatif. Apalagi dengan suasana hati anak sekecil itu yang sedang ditinggal orang tuanya menunaikan ibadah haji. Mudah berubah-ubah, dan sulit diprediksi. 

Tapi satu hal yang membuatku takjub adalah, kemampuan si kecil yang bisa menyembunyikan perasaannya. Terutama kalau sedang diungkap atau dibicarakan mengenai Abah, Ibu, kata "Haji", dan tanah suci. Saat ada liputan berita haji di TV pun, dengan santainya dia bisa tersenyum sambil melontarkan celoteh khas anak kecil yang membuat kami tertawa. Padahal saat ditelpon orang tuanya, meski sebelum-sebelumnya ada banyak hal yang ingin dibicarakan, seketika itu dia diam hanya mengangguk-anggukkan kepala. Mata berkaca-kaca, tapi air mata ditahan menetes, sama sekali tidak menangis sewajarnya anak kecil, kalau ingin menangis, ya menangis saja.

Kembali ke masalah kreatifitas dan membujuk anak kecil untuk segera tidur. Mungkin zaman dulu, zaman Saya masih kecil masih akrab kata "dongeng." Terlebih lagi dongeng Si Kancil dengan berbagai kisahnya bersama Pak Tani, Buaya, sampai tentang perlombaan larinya melawan Kura-kura. Atau pesan moral yang disampaikan dari kisah Bawang Merah dan Bawang Putih, yang nyaris semua orang tahu ceritanya. Meski sudah jarang melihat orang mendongeng, Saya pun memaksakan diri mencoba untuk menjadi pendongeng dadakan buat Si Sepupu kecil. Awalnya tentang Si Kancil yang memakan habis seluruh Timun siap panen milik Pak Tani, kemudian tentang Si Kancil yang berhasil mengelabuhi para Buaya dan menjadikan Buaya sebagai jembatan penyebrangan di sungai. 

Dan semalam Saya nyaris kehabisan ide, karena hanya dongeng serba Si Kancil yang nyaris masih Saya ingat betul. Malam sebelumnya sempat mengarang dongeng hasil aransemen (emang lagu ^_^) cerita yang mendunia "Si Kerudung Merah dan Serigala." Tapi diubah dengan nama Indonesia (kalau ini request Si Putri kecil yang menamakan tokoh utama pakai nama temannya), dengan konflik dan ending cerita versi Saya (kalau ini memang lupa ending di cerita aslinya *_*). Akhirnya semalam keingetan kalau adikku punya file koleksi cerita anak-anak, tapi berbahasa Inggris. Dan inti dari postingan kali ini pun dimulai.

Meski itu cerita untuk anak-anak, tapi tetap saja secara tata bahasa menggunakan grammar dan vocabularies yang tidak sesederhana inti kisahnya (sok tahu menebak inti ceritanya). Maka dengan kesotoy-an tingkat tinggi Saya mulai mendongeng dengan hanya mengikuti beberapa kata yang dimengerti maknanya, selebihnya ngarang se-ngarangnya dan berusaha supaya ceritanya tetap bisa dipahami oleh seorang gadis usia 4 tahun. Berusaha menggunakan bahasa tidak baku, meski saat membaca teks Inggris itu selalu nyaris keceplosan kayak lagi belajar translate tugas bahasa Inggris zaman sekolah dulu. Parahnya lagi berusaha tiba-tiba nyiptain atau lebih tepatnya menggubah lirik lagu supaya sesuai sama cerita salah satu tokoh yang senang bernyanyi.

Jangan tanya semalam saya cerita apa saja untuk menjadi pendongeng dadakan (tapi lumayan seru, sambil mikir sambil memperhatikan ekspresi si pendengar, paham atau ga ya?). Wong, Saya sendiri sekarang lupa sendiri alur cerita karangan sendiri. Bukan cuma karena jumlah dongengnya yang lebih dari satu sebelum adik sepupuku benar-benar terlelap, tapi juga karena faktor kreatifitas spontanitas yang begitu mudah terlupakan. Mungkin jika suatu saat sedang ada mood untuk menulis cerita anak-anak, Saya akan coba memasukkan beberapa kisah karangan dadakan itu menjadi salah satu postingan di sini.

Jadi kalau orang bilang kepepet bisa membuat seseorang kreatif mendadak, Saya setuju 100%, meskipun kreatifitas tanpa sesuatu yang kepepet atau dalam situasi terdesak mungkin akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dan sempurna (aduh, ngutip kata favoritnya salah satu Magician ^_*). Terima kasih sudah mampir dan sejenak membaca kisah unik ga unik yang penting ditulis.
read more »

Jumat, 05 Oktober 2012

Maka Aku Menulis

Karena tak semua kisah bisa dan mesti diceritakan.

Karena tak semua pendapat dan gagasan bisa langsung tersampaikan.

Karena ada hal yang cukup untuk disimpan sendiri, itulah rahasia.

Karena rahasia terkadang membuat sesak, bahkan sesekali ingin diungkap meski hanya di atas kertas.

Karena pesan tak harus diucapkan dalam bentuk lisan.

Karena kadang bibir terasa kaku untuk sekedar menyapa dan menyampaikan isi hati.

Karena tulisan kadang mampu meredakan emosi daripada sebuah nasehat panjang yang keluar dari mulut.

Karena kadang secarik kertas bersama sebuah pulpen bisa menjadi sahabat terbaik di setiap waktu.

Karena hidup ini harus tetap dijalani sampai kita mencapai batas waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Karena kita tidak tahu kisah siapa yang akan menjadi pelajaran berharga bagi manusia lain di masa depan.

Maka Aku Menulis....
read more »