Blog ini memang agak aneh, bagi mereka yang berpendapat bahwa suatu blog mestinya berfokus pada satu kategori tulisan tertentu. Wajar saja jika ada yang menilai seperti itu, saya sendiri masih belum menemukan satu jenis tulisan yang benar-benar akan dijadikan fokus utama. Memang niat membangun blog ini juga untuk menyalurkan hasrat menulis, apa pun bentuk tulisannya. Jadi, hasilnya campur aduk begini deh. Segala jenis tulisan, selama menarik bagi penulis, ya lanjutkan!
Sebelumnya saya pernah membuat satu artikel khusus, yang berisi daftar beberapa tulisan terkait Korean Trend. Kali ini akan saya sebutkan beberapa tulisan yang ada di dalam blog ini, terutama yang masuk dalam kategori fiksi (baru berhasil membuat puisi dan cerpen abal-abal). Berikut ini karya-karya fiksi saya:
Masih sedikit sih. Bagi yang ingin mengkritisi atau memberikan saran terkait tulisan-tulisan tersebut, dengan senang hati akan saya terima. Lain kali jika ada penambahan tulisan ber-genre fiksi di blog ini, maka akan saya update kembali daftar tersebut. Selamat makan siang ^_^.
Kuhisap lagi lintingan ketiga dari rokok favoritku, kuresapi baik-baik rasanya dan menghembuskan asapnya perlahan. Tepat di balkon sempit dari lantai lima sebuah rumah susun yang kusewa bersama tiga teman seperjuanganku di kota ini. Bersama-sama mencari selembar dua lembar uang untuk tetap bertahan hidup, tentu dengan caranya masing-masing. Seperti mereka yang belum pulang meski jam dinding telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ya, kebetulan hari ini ketiganya memang sedang mendapat shift malam di tempat kerjanya masing-masing. Dewi yang bekerja sebagai seorang cleaning service di sebuah rumah sakit pemerintah, Susi seorang pegawai restoran cepat saji yang buka 24 jam, juga si Aini teman satu sekolahku saat SD, yang menjadi seorang operator loket jalan tol.
Saat inilah Aku bebas mengepulkan asap rokok sepuasku tanpa ada yang merasa terganggu dan berkomentar macam-macam. Maklum belum genap enam bulan sejak Aku mengenal dan jatuh cinta pada sebuah benda bernama rokok. Sejak itu pula ketiga temanku secara bergantian selalu mengingatkanku akan kebiasaan baruku yang buruk itu. Terutama Dewi yang memang banyak menghabiskan waktu dengan para dokter, bidan, perawat atau apa lah itu sebutan untuk mereka yang bekerja di rumah sakit, sehingga pengetahuannya tentang kesehatan memang paling banyak di antara kami berempat.
Dalam seminggu Aku hanya datang ke kantorku selama 3 hari kerja, selebihnya bekerja di lapangan atau di rumah. Mengumpulkan berita dan kemudian mengetiknya dan selanjutnya ke kantor untuk menyerahkan hasil liputan atau artikel yang kutulis. Aku bekerja untuk sebuah majalah khusus yang memberitakan segala hal tentang kehidupan para selebritis. Tiga bulan lalu, semua rutinitasku itu berhenti. Tepatnya dipaksa berhenti karena majalah kami dan segala pemberitaan di berbagai media tentang kehidupan pribadi para selebriti (khususnya di TV) telah dilarang oleh sebuah lembaga keagamaan. Hal tersebut dikarenakan pemberitaan mengenai masalah pribadi orang lain, dianggap berdosa dan haram. Hasilnya terjadilah pemutusan hubungan kerja besar-besaran oleh para pelaku industri di bidang tersebut. Aku menjadi salah satu korbannya.
Sudah kucoba untuk mencari pekerjaan di beberapa perusahaan yang berada di bidang jurnalistik lainnya. Tetapi nihil, jumlah pelamar yang banyak (Jelas saja diakibatkan oleh terjadinya PHK besar-besaran), dan tingkat pendidikanku yang tidak bisa mengalahkan mereka membuatku semakin sulit untuk memenangkan persaingan tersebut. Memang Aku hanya lulusan SMA yang kebetulan beruntung bisa menjadi salah satu jurnalis di tempat bekerjaku sebelumnya. Itu pun tidak kuawali dengan langsung diterima sebagai jurnalis, melainkan awalnya Aku diterima sebagai pesuruh, tukang bersih-bersih, dan melakukan segala hal layaknya pembantu di sana.
Tetapi karena Aku cukup lama mengamati cara kerja para karyawan di sana, pada akhirnya Aku mencoba menulis. Saat pimpinan redaksi memberikan topik terbaru untuk edisi mendatang yang ditempel di papan pengumuman, maka Aku pun ikut mengerjakannya meski ditulis manual dengan tangan di atas lembaran kertas tak terpakai dari ruang fotocopy. Tentu saja tidak kuberikan pada Bapak Pimred, melainkan sekedar disimpan sendiri di pantry, ruangan yang seolah menjadi ruang kerja pribadiku. Suatu ketika kertas-kertas coretanku itu dibaca oleh Mbak Noni, sekretaris pimpinan redaksi, dan memberikannya pada Pak Bos tanpa sepengetahuanku. Dan akhirnya Pak Bos pun memberiku kesempatan untuk naik pangkat menjadi anak magang sebagai jurnalis, dan setahun kemudian resmilah diriku diangkat menjadi jurnalis tetap di sana. Tapi kini semua itu hancur begitu saja dalam sekejap.
Dua bulan lalu Aku masih bisa ikut serta membayar biaya hidupku yang selama ini memang selalu dihitung setiap bulannya dibagi empat orang sama rata. Tapi bulan lalu dan bulan ini, Aku tidak mampu memenuhi tanggung jawabku tersebut. Ketiga temanku memaklumi keadaanku, dan berusaha terus menyemangatiku untuk tetap berusaha bangkit. Tapi Aku malu, merasa hanya menjadi beban mereka, bagaimana jika bulan depan pun Aku masih belum bisa ikut menanggung beban hidup kami, beban diriku sendiri saja belum bisa kutuntaskan. Belum lagi jika kuingat kehancuran keluargaku, bapak dan ibu yang akhirnya berpisah 10 tahun lalu, karena seorang wanita yang lebih pantas menjadi kakakku, tapi mendadak menjadi ibu tiriku. Ibu yang kemudian sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkanku untuk selamanya. Aku yang saat itu baru berusia 17 tahun sangat merasa terpukul, dan tentu saja tidak bisa menahan amarah untuk berdamai tinggal di rumah Bapak. Maka kuputuskan kabur, menuju ibukota yang katanya memberikan sejuta harapan, saat itu bersama-sama dengan Aini yang tentu saja dia pergi atas restu keluarganya. Sejak saat itu kuputuskan hubungan dengan Bapak, kupikir dia pasti lebih bahagia tanpa adanya Aku di kehidupannya.
Sudah beberapa hari ini pikiran itu muncul dikepalaku. Menyerah, mati, pergi, dan mengakhiri ini semua. Ya, bunuh diri. Dan malam ini, saat Aku benar-benar sedang sendiri lagi-lagi pikiran itu muncul dan terasa semakin jelas keberadaannya. Sampai hadirlah dua sosok aneh, satu berwajah cerah dengan pakaian putih bersih, dan satunya lagi berwajah hitam legam dengan menggunakan pakaian berwarna merah api. Tapi kenapa keduanya memiliki wajah sangat mirip denganku? Ah, kurasa diri ini mulai berhalusinasi karena mengantuk atau memang Aku sudah tertidur dan ini hanya mimpi? Tapi sedetik kemudian Aku mulai yakin bahwa ini bukan sekedar mimpi saat keduanya mulai mengeluarkan suara dan mengajakku bicara.
(Makhluk berbaju putih): Salam, Saya adalah Jin Putih yang diutus oleh malaikat untuk mengunjungimu. Maaf karena kami menggunakan wajahmu, karena tidak ada seorang manusia pun yang kuat untuk melihat wujud asli kami.
(Makhluk berbaju merah api): Hai manusia yang sedang dirundung kemalangan, Aku adalah Jin Hitam yang diutus oleh bos setan untuk membantumu mengambil keputusan.
(Aku): Oh, Aku tidak perlu kalian semua. Toh sebentar lagi Aku akan mati dan meninggalkan dunia ini.
(Jin Putih/JePe): Dari mana kamu tahu kalau kamu akan mati, hanya Tuhan yang mengetahui waktu seseorang untuk menemui ajalnya.
(Jin Hitam/JeHa): Hahaha, menarik sekali. Tapi kedatanganku justru bisa membantumu untuk melancarkan hal tersebut (menyeringai lebar seolah mulutnya robek).
(Aku): Aku memang tidak tahu JePe, tapi Aku akan mencoba melakukannya. Tentunya tanpa bantuan siapapun, jadi sebaiknya kalian semua pergi.
(JePe): Wahai manusia, sesungguhnya masih banyak manusia lain yang memiliki masalah lebih berat darimu. Masih banyak mereka yang menginginkan kehidupan yang panjang tapi tidak bisa meraihnya karena ajalnya telah datang. Mengapa kamu berputus asa dan ingin menyerah, padahal Saya lihat tubuh dan jiwa belum mengalami kerusakan. Sebaiknya segera bertaubat dan segera bangkit berusaha menjalani hidup ini sebaik-baiknya.
(JeHa): Alah, enggak usah dibujuk-bujuk begitu. Biarkan saja dia melakukan keinginannya itu, memangnya kamu mendapat keuntungan kalau manusia di depan kita ini tidak jadi bunuh diri? Hei manusia, omong-omong sudah tahu akan bunuh diri dengan cara apa?
(Aku): Apa sih kalian ini, mengganggu perenunganku saja. Kalau ingin ribut sebaiknya jangan di sini. Jelas saja Aku sedang memikirkan hal tersebut.
(JePe): Baiklah, sembari kamu memikirkan caranya tidak ada salahnya jika kamu juga memikirkan untuk merubah keinginan bodohmu itu. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah, asal tahu saja seketika setelah mati kamu akan menjalani siksa kubur, dan saat hari pembangkitan kelak kamu akan menjalani siksaan lagi di neraka. Pikirkan baik-baik sebelum kamu menyesal untuk selamanya.
(JeHa): Sudah jangan dengarkan perkataan si JePe. Tahukah kamu tanpa bunuh diri pun setiap manusia akan mengalami siksaan karena tidak ada manusia yang tak berdosa, maka sebelum dosanya habis dia akan terus mendapat siksaan setelah mati. Jadi sama saja, justru jika kamu mengakhiri hidupmu sekarang, akan membebaskanmu dari penderitaanmu di dunia. Bagaimana?
Aku hanya terdiam, sambil sesekali melirik ke arah dua makhluk aneh itu. JePe sibuk merapalkan entah doa atau apa dengan tangan tidak henti menggerakkan benda mirip tasbih. Sedangkan si JeHa sibuk komat-kamit seperti membaca mantra dan sesekali tampak menyemburkan sesuatu dari mulutnya, layaknya seorang dukun yang ingin menyantet seseorang. Aku memikirkan cara apa yang paling cepat membuatku mati, dengan kemungkinan gagal paling kecil. Lompat dari balkon, sepertinya bukan cara yang tepat karena masih kurang tinggi. Kalau masih hidup, bukankah malah akan membebani ketiga temanku yang mungkin harus menanggung biaya pengobatanku nanti. Iris urat nadi, nanti akan mengotori rumah yang sudah sempit ini, dengan darah. Itu juga kalau Aku tepat mengarahkan benda tajam di pembuluh darah yang tepat, kalau salah meski sudah kesakitan dan kehilangan banyak darah tetap saja Aku masih mungkin terselamatkan. Minum cairan pembersih porselen? Kemarin sudah kucoba, tapi rasanya begitu aneh di mulut, asam dan memuakkan. Jelas saja sebelum masuk kerongkongan, cairan itu refleks kumuntahkan dan percobaan pertama kali bunuh diriku gagal total.
Sampai kuputuskan mencekik leherku sendiri. Bukan kematian yang kudapat malah sensasi rasa aneh yang muncul. Bayangkan kepalaku terasa seperti sebuah balon yang dipompa oleh gas. Rasanya memang sakit di leher, itu masih bisa kutahan. Tapi rasanya bagian kepala dan wajah seolah mekar serasa hampir meletus tapi tidak mampu kuteruskan. Kucoba sekali lagi, dua kali lagi. Hanya bertahan sedikit lebih lama dari percobaan pertama kali, dan tetap saja tanganku refleks melepaskan jeratan di leher yang sudah mulai memerah. Tampaknya memang Aku belum mahir untuk bunuh diri, atau memang benar kata si JePe, selama ajalku belum datang maka sekeras apa pun usahaku, ini tidak akan berhasil.
Baiklah kuputuskan untuk kembali bangkit dan segera setelah ini akan kuambil air wudhu serta bersimpuh memohon ampun kepada-Nya. Setidaknya jika nanti tidak ada pekerjaan apa pun yang dapat kukerjakan, bukankah masih bisa kutuliskan kisah ini dalam sebuah cerpen atau novel. Siapa tahu ada yang akan mengapresiasikannya dengan menerbitkan karyaku. Bukankah tema ini cocok di zaman seperti ini, yang katanya jumlah pelaku bunuh diri semakin meningkat? Bahkan diriku pun nyaris menjadi salah satu pelakunya. Seketika JeHa pun kesal dan tanpa pamit segera menghilang dari hadapanku, sedangkan JePe tersenyum dan kemudian segera berpamitan padaku dengan lambaian tangan dan ucapan salamnya,
"Alhamdulillah, tugas Saya selesai. Selamat karena kamu telah mengambil keputusan yang tepat, dan selamat menjalani kehidupanmu dengan baik sebelum Izrail menjemputmu pada waktu yang tepat. Assalamu'alaikum."
Seketika JePe juga menghilang sebelum Aku sempat menjawab salamnya dan mengucapkan terima kasih padanya. Tiba-tiba kulihat secercah cahaya menyilaukan mataku. Kudapati diriku sudah terbaring di kasurku, dengan tiga temanku duduk di sekeliling ranjang, dan tersenyum saat melihatku membuka mata.
"Nina, kamu enggak apa-apa kan? Tadi kita kaget banget karena ngelihat kamu tidur di balkon. Kirain kamu pingsan, badan kamu juga demam. Tapi syukurlah panas tubuhnya sudah turun setelah dikompres."
Aini sibuk berbicara dengan wajah khawatirnya, diikuti dengan anggukan kepala Dewi dan Susi membenarkan pernyataan Aini. Aku pun hanya bisa mengangguk dan sedikit tersenyum untuk memastikan pada mereka bahwa diriku baik-baik saja. Kurasa mereka pasti masih merasa lelah setelah bekerja semalaman, dan masih harus menungguiku sadar tanpa istirahat sejenak. Jadi kuputuskan untuk tidak menceritakan apa yang kualami semalam.
“Ngedengerin ceramah??? Pasti BT
banget. Tiap peringatan Isra Mi’raj pasti ada acara ceramah.” Aku hanya
bisa bersungut-sungut dalam hati. Ya, hari ini peringatan Isra Mi’raj diisi dengan
ceramah yang disampaikan oleh seorang wanita yang disebut ustadzah. BT banget, apalagi acaranya dipisah
cowok dan cewek. Nggak bisa lihat doi deh.
Dengan berat kulangkahkan kaki menuju aula. Anak-anak ROHIS sudah berdiri di
samping pintu menyambut seluruh siswi SMU PUSPA BANGSA.
“Fir, dateng juga lo, gue kira seorang
Fira enggak bakalan mau ikut acara kayak gini.” “Sebenernya gue ogah, tapie nggak enak sama anak ROHIS. Waktu kita punya
acara minggu lalu anak ROHIS udah mau dateng plus ngasih sambutan sebagai
support mereka buat kegiatan KIR.” Lala hanya mengangkat kedua bahunya
sembari berjalan di sisiku menuju deretan kursi di bagian tengah. Acara demi
acara pun berlangsung meski aku mengikutinya dengan perasaan terpaksa.
**********
Perkataan ustadzah di aula kemarin telah membuatku sering merenung. “Fir, kenapa sih? Kayaknya gue perhatiin
akhir-akhir ini jadi enggak fokus di kelas. Punya masalah?” “Enggak, lagi males
aja.” “Oh, ya udah. Asal pelajaran jangan sampai keteteran gitu dong.” “Sip,
makasih ya, La.”
Lala sahabat yang selalu setia mendengarkan uneg-unegku. Selain itu, di
KIR aku menjabat sebagai ketua dan Lala adalah sekretaris. Jadi makin kompak
deh. “Teeetttt…”. Bel berbunyi, tanda
waktu pulang telah tiba. Seperti biasanya Aku pulang bareng Lala. “Fir, lo mau
nemenin gue ke toko buku nggak? Bokap nitip something sama gue.” “Oke, gue mau
nemenin kok”. Kuiyakan permintaan Lala karena memang Aku sedang malas
buru-buru pulang ke rumah yang sepi.
Di Knowledge
Book Store.
Pandanganku tertuju pada buku bercover hijau dengan judul “WANITA dan
JILBAB.” Ingatanku kembali pada saat acara Isra Mi’raj di sekolah. Ustadzah
Aisyah berkata bahwa islam mewajibkan umatnya khususnya muslimah untuk menutup
aurat. Caranya, dengan berjilbab. Kuambil buku itu dan kubaca sinopsisnya di
cover bagian belakang. “Sering tidak kita
sadari bahwa rambut dapat mengundang maksiat. Maka di buku ini dijelaskan
perintah Allah dan Rasul-NYA untuk menutup aurat dengan berjilbab bagi wanita.”
“Fir, ngapain lo? Pulang yuk.”
UcapanLala mengagetkanku. Refleks
kukembalikan buku itu ke tempatnya. Sepanjang perjalanan, Lala menceritakan
kisah buku yang ia beli, namun aku hanya menganggapinya dengan kata-kata “Ya, bagus banget” dan mengangguk-angguk
seolah memperhatikan ucapannya.
**********
“Bunda, kapankah seorang muslimah diwajibkan
berjilbab ?” Bunda termenung sesaat kemudian tersenyum, “Fira, sebetulnya ketika perempuan sudah
baligh, maka ia wajib menutup auratnya. Tapi kalau sudah berjilbab harus
konsisten. Jangan memakai jilbab dengan niat setengah-setengah.”
Aku
terdiam dan berpikir apakah aku sudah siap dengan segala hal yang akan kuhadapi
nanti. “Apa kamu berniat berjilbab ?”
Bunda seperti tahu apa yang ada di benakku. “Mungkin,
tapi kayaknya nggak sekarang, soalnya Fira ingin menguatkan tekad terlebih
dahulu.” Bunda tersenyum penuh harap putrinya akan mengikuti jejaknya yang
berjilbab sejak tiga tahun lalu.
**********
Kegaduhan terjadi di depan kantor
TU. Nilai UAN sudah diumumkan. Ada yang melonjak senang karena lulus, ada pula
yang menangis karena tidak lulus dan harus mengikuti remedial saat yang lulus
sudah libur nantinya. Ada pula yang tak berekspresi karena tak tahu melanjutkan
kemana.
Aku lulus dengan rata-rata 9,00.
akhirnya aku berhasil meraih PMDK di FMIPA UI. Sedangkan Lala mendapat PMDK di
FKM UI, jadi kami masih akan tetap dekat dan mudah untuk bertemu. Saat inilah
aku berani terus terang padanya perihal keinginanku untuk berhijrah.
Lala memelukku penuh haru. “Alhamdulillah, akhirnya hidayah telah
datang. Kok kebetulan, aku juga ingin mengatakan hal yang sama.” Ketika pelukan
lepas, kami berjanji akan bersama-sama berhijrah. Bersama-sama konsisten,
sampai akhir hayat. Aamiin.
Ditulis di Kota Hujan, sekitar bulan Oktober atau November 2004
Mimpi aneh itu muncul lagi. Seketika kudapati diriku berada di sebuah ruangan gelap, dengan sebuah meja di sudut ruangan. Namun seberkas cahaya bulan memasuki ruangan melalui celah atap yang berlubang. Cahaya itu menyinari bagian atas meja, di sana terdapat kotak kayu yang menarik perhatianku. Tampak lusuh, berdebu karena Aku sempat menyentuhnya untuk memuaskan rasa penasaran akan isi kotak tersebut. Tetapi belum sempat kubuka kotak itu, tiba-tiba saja Aku sudah tersadar, terbangun dari tidur lelapku. Ternyata itu hanya mimpi, bukankah mimpi hanya sekedar bunganya tidur? Entah kenapa disebut sebagai bunga tidur, Aku pun tidak tahu.
Tidak akan kupikirkan jika mimpi hanya sebatas mimpi, dan hanya muncul dalam sekali. Tapi mimpi itu sudah kualami selama 3 kali berturut-turut dalam 3 malam. Entah apa sebenarnya isi dari kotak itu, atau siapakah pemiliknya? Kenapa mimpi itu begitu nyata, dan mengapa selalu terputus ketika Aku nyaris membukanya. Mungkin hanya sekedar misteri Tuhan yang kebetulan mampir pada diriku. Aku hanya berharap tidak ada hal-hal aneh yang akan terjadi.
*****
Satu minggu berlalu sampai pada suatu siang kudapati (mungkin arti dari mimpi-mimpi anehku belakangan ini) sebuah kenyataan rumit. Dhuarr!!! Bagaikan disambar petir di siang bolong. Dulu Aku begitu heran kenapa ada yang menciptakan perumpamaan demikian, bagaimana sebetulnya rasanya itu. Namun, mungkin saat ini ungkapan itu mungkin cocok menggambarkan apa yang kurasakan. Ketika kuketahui sebuah kenyataan pahit tentang keluarga ini, keluarga yang kuanggap cukup harmonis meski sesekali tetap ada sedikit perdebatan kecil antara ayah dan ibu, meski kami tidak begitu pandai mengekspresikan rasa sayang dalam bentuk pelukan atau ciuman antar anggota keluarga. Tapi kami rasa kami adalah keluarga harmonis yang tetap memiliki kasih sayang cukup, serta jauh dari kategori keluarga broken home.
Berawal ketika Aku mulai beranjak menjadi gadis dewasa muda. Saat tanpa sengaja kutemukan sebuah buku harian usang, yang kemudian kuketahui adalah milik Ibu. Awalnya kubuka dan hanya kutemukan beberapa catatan resep masakan dan catatan pengeluaran belanja harian di bagian depannya. Maka kupikir tidak ada hal yang sangat pribadi, sehingga kuteruskan membaca buku itu sampai halaman belakangnya. Sampai kuketahui sebuah kenyataan pahit bahwa tanpa sepengetahuan kami anak-anaknya, tanpa sepengetahuan siapa pun, Ibu memendam sebuah rahasia yang sungguh berat untuk dihadapi seorang diri. Beberapa tahun lalu, tepatnya sejak Aku masih duduk di bangku SMP, ternyata Ayah telah mengkhianati Ibu. Selingkuh. Begitulah istilah yang entah mengapa akhir-akhir ini juga begitu nge-tren di TV. Mungkin karena memang banyak para pelakunya.
Marah, kesal, kecewa, dan mungkin jijik membayangkan betapa sosok yang kukagumi bisa melakukan hal seperti itu. Dan tahukah siapa WIL itu? Ternyata orang yang juga masih memiliki suami, dan mungkin saja saat itu dia mengaku pada ayahku kalau dia single. Hal itu pun diketahui Ibu setelah mengajak om untuk menemaninya melabrak wanita itu. Di buku harian itu Ibu mencurahkan isi hatinya, tentang kebimbangannya untuk mempertahankan atau mengakhiri rumah tangganya dengan Ayah. Namun, Ibu memikirkan kami anak-anaknya, sehingga berjuang sekuat tenaga menyelesaikan tanpa harus menceritakan pada siapa pun, kecuali om-ku yang memang satu-satunya adik Ibu yang tinggal di kota ini.
"Tuhan, apa salahku sehingga masalah sebesar ini harus kualami. Dimulai dengan kabar perselingkuhan suamiku, dan ternyata itu benar adanya. Dengan entengnya dia meminta izin untuk menikah lagi dengan wanita itu, hanya karena alasan wanita itu mau kembali sembahyang setelah menjalin hubungan dengan suamiku. Betapa marahnya Aku, ketika dia tiba-tiba menolak menengok anak kami yang sedang menuntut ilmu di sebuah pesantren, dan ternyata dia menemui wanita itu. Semudah itu pula dia meminta maaf padaku setelah mengetahui bahwa ternyata wanita itu masih berstatus istri orang. Suamiku memohon maaf sambil mencium kakiku. Mengingat rasa sakit di hatiku, bukan hal mustahil jika saat itu Aku tidak memberikan kesempatan kedua untuknya, dan segera menggugat cerai. Namun, jika kuingat akan ketiga buah hatiku, rasanya Aku takut membayangkan masa depan mereka nanti. Sekecil itu harus menjadi korban perceraian orang tuanya. Maka dia kumaafkan setelah dia berjanji akan bertaubat dan tidak akan mengulangi atau pun menjalin komunikasi apa pun dengan wanita itu. Bahkan dia mau untuk pindah tempat kerja, karena di sanalah dia bertemu dengan wanita itu. Kumaafkan suamiku demi anak-anakku tercinta, kalian lah penyemangatku."
Itulah sedikit kisah yang ditulis Ibuku. Ternyata sekarang Aku paham mengapa sesekali Ibu kudapati begitu keras ketika sedikit ada perdebatan tentang sesuatu hal dengan Ayah. Mungkin hatinya kembali sakit bila mengingat apa yang pernah terjadi. Bahkan Aku yang dulu begitu dekat dengan Ayah saat masih kecil, menjadi berubah, sedikit malas untuk menatapnya. Apalagi bicara padanya. Aku tahu itu sudah terjadi sekian tahun lamanya, dan sudah berakhir. Tapi mengetahui kenyataan pahit ini membuatku marah, kesal. Pun ketika kebenaran hal ini kutanyakan pada Ibu, kenapa tidak mau sekedar berbagi kepadaku anak sulungnya? Beliau hanya menjawab, karena Ibu tidak mau kalian ikut merasakan sakit juga terutama tidak ingin membuatku tidak betah di pesantren.
Aku juga kesal pada diri sendiri yang tidak berada dekat Ibu. Dengan segala usaha beliau menutup rapat kesedihannya, ketika sesekali mengunjungiku di pesantren. Tidak nampak sedikit pun bahwa beliau memiliki masalah. Aku masih kesal pada Ayah, namun hanya bisa kupendam dalam hati. Selain masalah itu sudah basi, Ibu juga memintaku untuk tetap merahasiakan hal ini dari siapa pun. Beliau bicara "Bukankah sekarang Ayahmu sudah bertaubat dan menjalani hidup dengan lebih baik, nak? Cukup jadikan hal itu pelajaran terutama untukmu yang beberapa tahun nanti juga mungkin akan berumah tangga." Aku hanya bisa mengangguk lemah dan segera masuk ke kamar mandi dengan alasan ingin mandi. Padahal Aku ingin menumpahkan air mataku tanpa sepengetahuan Ibu.
Jujur, Aku merasa marah, kesal, dan tidak bisa terima jika Ibu tersakiti. Namun, tidak ada yang bisa kulakukan karena mantan pelaku "kekerasan" pada Ibu adalah sosok yang juga harus Aku hormati dalam keadaan apa pun. Nyaris kuikrarkan dalam hati, untuk tidak ingin menikah karena kenyataan ini begitu pahit. Untuk apa menikah jika harus ada pihak yang menyakiti dan tersakiti. Namun, nalarku kembali bekerja. Bukankah salah satu hal yang bisa membuat orang tua bahagia, adalah melihat anak-anaknya tumbuh dewasa, menemukan jodohnya yang baik di mata manusia dan Tuhan? Bukankah esensi menikah juga adalah ibadah? Maka meski berat untuk menerimanya, akan kucoba memaafkan Ayah, tanpa harus beliau meminta maaf padaku. Aku tahu beliau sudah berubah. Aku hanya harus mencoba lebih melapangkan hati untuk menerima kenyataan ini. Demi Ibu tercinta. Aku sayang Ibu.
Salam untuk semua pembaca blog ini (kayak banyak yang baca aja deh, padahal belum tentu juga ada yang mau baca ^_^). Mungkin salah satu hal yang ada di benak pengunjung blog ini adalah "Sebetulnya mau fokus nulis apa sih? Kok kadang promosi, kadang curhat berlebay ria, kadang bikin cerpen yang membosankan, kadang buat puisi yang melenceng dari aturan penulisan puisi, nulis opini yang ngambang, terus mau kasih informasi tapi terkesan enggak up to date banget."
Oke, jangan kira itu cuma ada di pikiran pembaca, penulisnya aja bingung mau memfokuskan blog ini khusus tulisan apa. Kenapa? Hal ini dikarenakan penulis bukan tipe yang sudah paham betul passionnulisnya tuh untuk tulisan tertentu. Intinya hanya ingin belajar menulis apa saja yang menurut Saya menarik dan membuat diri kita merasa enjoy waktu ngerjainnya. Tentunya di akhir juga belajar mengedit bagaimana menulis sesuai EYD. Walaupun seringnya tetap masih saja ada yang terlewatkan untuk diedit sesuai EYD.
Kalau diingat-ingat ke belakang, mungkin pertama kali keinginan membuat tulisan itu, pengenbanget bisa menulis cerpen atau apa pun yang masuk kategori fiksi. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masa SD, keluar masuk perpustakaan di sela-sela waktu istirahat sekolah. Apalagi kalau bukan cari buku menarik (terutama buku cerita atau novel yang zaman dulu tren seperti serial Lupus dan Lima Sekawan). Untuk dua buku tersebut, bahkan perlu antri kalau mau pinjam karena peminatnya banyak banget. Kalau ada buku baru selalu dipajang di lemari kaca khusus, beberapa hari sebelum buku tersebut boleh dipinjam. Alhasil, pagi hari ketika hari - H, pagi sebelum kelas dimulai sudah padangantri menunggu perpustakaan buka. Siapa pun yang berhasil menjadi peminjam pertama akan diteror oleh teman-teman lain.
"Eh, Kamu minjem Lima Sekawan yang baru itu ya? Habis Kamu siapa, kalau mau ngembaliin buku ajak Aku ya?"
Kira- kira seperti itu lah teror-an khas ala anak SD yang hobinya nongkrong di perpustakaan. Kalau ternyata sudah keduluan yang lain pun, sang peneror akan mengalihkan pencarian buku yang diinginkan pada target lainnya. Termasuk Saya juga sering menjadi pelaku teror atau pun yang diteror :). Malah keasyikan nostalgia zaman jadi pengunjung setia perpustakaan.
Intinya diawali kekaguman pada para penulis yang punya dunia khayal level tinggi. Bukan hanya sekedar kemampuan berimajinasi tentunya, ditambah kemampuan berbicara dan bercerita lewat tulisan. Meski ketika masuk pesantren (masa Mts/SMP dan MA/SMA) sudah enggak jadi anak perpustakaan lagi (ini terpaksa karena letak perpustakaan yang ada di kawasan putra), kebiasaan membaca kisah fiksi masih berlanjut. Kadang kalau uang jajan ada lebih, maka tanpa ragu pasti beli buku atau majalah islami (selalu nungguin majalah Annida nongol di koperasi pesantren). Perlu diketahui (hehe udah pada tahu kali ye...) di pesantren itu bacaan berupa komik dan novel non islami, itu terlarang. Kalau tetap nekat bawa dan ketahuan, bisa-bisa disita dan ngenesnya tidak akan dikembalikan walau waktu libur tiba.
Saat itulah awal-awal mengenal karyanya Mbak Asma Nadia, salah satu kumpulan cerpennya yang pertama Kumiliki berjudul "Rembulan di Mata Ibu". Walau di dalamnya banyak cerpen-cerpen islami, tapi khusus cerpen berjudul "Rembulan di Mata Ibu" cukup memberikan kesan mendalam. Kisah tersebut menyampaikan pesan bahwa, tidak selamanya seorang ibu kandung selalu berlemah lembut pada putrinya. Ada alasan mengapa ibu bersikap tegas, berkata dengan nada tinggi, dan sulit diajak kompromi dalam hal tertentu. Itu semua justru dilakukan seorang ibu, karena anaknya sangat spesial bagaikan rembulan, yang diharapkan menjadi pribadi kuat menghadapi hidup yang tak selalu menghadirkan kemudahan dan keindahan. Subhanallah, ada beragam cara untuk menunjukkan kasih sayang.
Kisah tersebut mampu membuat air mengalir dari mata ini. Tidak hanya sekedar terharu, tapi juga terpacu bagaimana mampu membuat tulisan berbeda tapi sama-sama mampu mengaduk emosi pembacanya, seolah tidak sekedar membaca tapi mendengar dan menonton kisahnya. Maaf jika deskripsi Saya tentang cerita tersebut agak melenceng, karena sampai tulisan ini diterbitkan di blog, Saya belum menemukan buku tersebut. Maklum itu lebih dari 9 tahun, mungkin terselip di antara buku lama atau memang hilang karena kebiasaan saling meminjam buku antar kawan semasa masih mondok dulu.
Mungkin harapan untuk menjadi seorang penulis profesional masih amat sangat jauh. Bahkan jika melihat kenyataan, akan sangat malu menyampaikan pada dunia salah satu mimpi itu. Tapi, seperti banyak jawaban para penulis terkenal saat ditanya resep rahasia menulis. Hanya satu jawaban yang nyaris semuanya pasti setuju, yaitu "Menulislah, menulis, dan menulislah!"
Maka blog ini memang tidak memiliki fokus terhadap suatu jenis tulisan, pembaca akan menemukan berbagai macam tulisan, yang masih jauh dari standar penulisan. Memang Saya masih dan terus perlu belajar menulis. Mungkin banyak tulisan Saya yang belum memberikan manfaat untuk pembaca, tapi selalu dan mencoba supaya apa yang ditulis dapat memberikan sesuatu hal positif pada pembacanya.
21 Mei 2010. ”Jangan!” Refleks Aku berteriak saat Mbak Sari mengambil sekantong darah yang baru saja tiba dari PMI. ”Kenapa La? Saya buru-buru ada korban kecelakaan yang butuh darah dengan golongan O, tapi hanya ada satu ini.” ”Enggak apa-apa Mbak, Saya takut darah itu belum di-screening, takut darahnya membahayakan pasien.” ”Tenang aja La, darah itu sudah di-screening di PMI.” ”Maaf Mbak, Saya kira di-screening-nya di rumah sakit ini.” ”Enggak apa-apa La, kan sekarang Kamu jadi tahu. Saya tinggal dulu ya.”
Kulanjutkan pekerjaanku mendata pasien yang mendapatkan transfusi darah di Rumah Sakit KELUARGA SEHAT. Ini hari pertamaku magang, jadi belum terbiasa. Aku juga masih sedikit trauma tentang penularan virus penyebab penyakit AIDS melalui transfusi darah. Ingatanku mundur ke masa empat tahun lalu.
SMU ANAK NEGERI. Kubaca papan besar di depan sebuah sekolah di Ciputat. ”Fit, masuk yuk. Kita cari kantor OSIS-nya.” Aku dan Fitri ingin menyerahkan karya tulis ilmiah kami dalam lomba yang diadakan oleh SMU ANAK NEGERI. ”La, kok sepi ya? Eh lihat deh kayaknya ane kenal orang itu.” Fitri menunjuk seseorang berseragam batik sekolah kami. Anak laki-laki itu pun menghampiri kami. ”Hai Fitri, mau ngapain? Eh, ada Lala juga, hai.” Ternyata dia Ardi, anak IPS-2. Setelah kubalas sapaannya, Fitri menjelaskan maksud kedatangan kami ke sini. ”Kebetulan, Ane juga mau ketemu sama anak ekskul pencak silat, bareng yuk.” Tinggal di pesantren yang mewajibkan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi harian, membuat kami mengganti kosakata ”elu-gue” menjadi ”ane-ente.”
Setelah semua urusan kami selesai, kami pulang bersama-sama. ”Ardi, makasih ya udah bantuin Kita.” Aku pun turut mengangguk mengiyakan pernyataan Fitri. ”Sama-sama, Ane juga jadi ada temen ngobrol. La, dari tadi diem aja, sakit?” Setengah terkejut aku menanggapi pertanyaan Ardi, ”Enggak, tadi di bis agak sedikit mual.” Aku berbohong menutupi kegugupanku, Fitri menahan senyum. Fitri memang tahu bahwa diam-diam aku menyukai Ardi sejak kelas satu SMU ketika kami sama-sama ikut les bahasa Inggris selama satu semester.
”Gimana kalau makan dulu sebelum pulang ke asrama? Mau enggak?” Sebenarnya sih lapar, tapi makan sama dia takut salting. Sebelum aku menolak, Fitri sudah mengiyakan ajakannya. ”Oke, lagian Ane udah lama enggak makan bakso. Sekarang baru jam dua siang, masih tiga jam lagi kan?” Seolah tahu keenggananku, Fitri membujukku dan aku pun setuju. Sekolah dan tinggal di pesantren membuat kami tidak semudah anak-anak SMU lain dalam bepergian. Kami berangkat jam sembilan pagi dan hanya diizinkan keluar sampai jam lima sore, itupun mendapat izin karena hari libur sekolah, yaitu hari Jum’at. ”Yuk jalan kaki aja, Ane tahu tempat makan bakso yang enak.” Ardi jalan di depanku dan Fitri, berperan sebagai penunjuk jalan.
Di perjalanan, aku menatap Fitri dengan mata melotot, alis terangkat dan bibir yang dimajukan beberapa senti sebagai tanda aku marah padanya. Fitri tertawa dan berbisik padaku supaya jangan grogi. Tawa Fitri membuat Ardi menghentikan langkah dan menengok ke belakang, ”Kenapa Fit’, ’La?” ”Enggak ada apa-apa, Di. Masih jauh nggak?” ”Oh, di samping warnet itu tempatnya.” Ardi menunjuk warnet di sebelah kiri kami.
Sambil menunggu bakso yang telah dipesan, kami pun melepas lelah dengan obrolan ringan. ”Di kelas IPA sepibanget ya kalo lagi belajar?” Aku dan Fitri memang sekelas di IPA-1. ”Enggak juga kok, rame-rame aja apalagi anak ceweknya. Emang kenapa sih nanya gitu?”, Fitri menyangkal pernyataan Ardi. ”Enggak ada apa-apa, tapi kalo dilihat-lihat, anak-anak IPA tampangnya serius. Enggak asik diajak becanda.” ”Jangan anggap anak IPA kayak gitu dong ’Di. Tampang serius bukan berarti enggak enak diajak becanda. Buktinya kita tetep sering becanda, ya nggak ’La?” ”Bener banget tuh, makanya jangan lihat orang dari luarnya aja” Aku membenarkan ucapan Fitri. ”Iya,iya sorry kalau Ane salah. Baksonya dah di depan mata nih, ayo makan!”
Aku duduk di hadapan Ardi, sedangkan Fitri di sebelah kananku. Alhasil, selama makan aku hanya mampu menunduk tanpa berani menatap wajah Ardi. Selesai makan, saat Ardi mengeluarkan dompet, ada foto seorang gadis jatuh ke meja. Dengan cuek dia memperlihatkan foto itu padaku dan Fitri. ”Cantik kan?” Aku dan Fitri menggangguk dan menjawab bersamaan ”Cantik, siapa dia?” ”Ini pacar Ane, anak SMU Anak Negeri. Dia masih kelas satu.”
Aku hanya menanggapi dengan ”Oo..” singkat dan berusaha bersikap cuek. Fitri pun segera mengajukan pertanyaan ”Jadi, tadi Ente bukan ketemu sama temen tapi ketemu dia?” “Enggak, tadi beneran temen, Ane nganter undangan tanding persahabatan buat pencak silat. Ane ketemu cuma sebentar waktu doi pulang sekolah.” Ardi menjelaskan maksud kedatangannya ke SMU Anak Negeri.
Usai membayar bakso, arloji di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 14:50 WIB. Kami memutuskan shalat ashar terlebih dahulu di masjid dekat halte. Kami menunggu bis yang menuju sekolah kami di daerah Bogor. Bis yang kami tunggu memang sedikit jumlahnya jadi harus ekstra sabar. Sebenarnya bisa naik mobil umum yang banyak jumlahnya, tapi harus tiga kali ganti mobil dan berjalan agak jauh. Dari kejauhan tampak bis yang kami tunggu, kami segera menaiki bis itu saat bis berhenti perlahan. Bis memang selalu penuh saat sore hari, Alhamdulillah masih ada dua bangku kosong untukku dan Fitri walau kami tidak sebangku. Aku duduk dekat jendela dibangku pertama dari belakang dan Fitri di dekat jendela di bangku panjang belakang. Sedangkan Ardi dan beberapa orang pria lainnya berdiri di ruang kosong pemisah bangku-bangku.
Jalan raya belum begitu macet tapi butuh waktu sekitar dua jam untuk menuju sekolah kami. Di depan sebuah pasar, seorang ibu disampingku turun dan Ardi pun duduk menggantikan ibu itu. Jantungku berdegup semakin kencang dan rasa kantukku yang mulai muncul, tiba-tiba hilang saat dia bertanya ”Boleh duduk di sini?” ”Eh, boleh lah. Duduk aja Ente pasti cape berdiri.” Agak gugup saat mempersilahkan dia duduk disampingku.
Ardi memang tipe cowok yang agak cerewet. Satu hal yang baru kuketahui. Selama perjalanan, dia mengajakku bicara tentang berbagai hal. Mulai dari cita-cita sampai pendapat kami berdua dalam menghadapi berbagai persoalan. Aku tahu dia memang mudah bergaul dengan siapa saja, sedangkan aku butuh banyak waktu untuk bisa beradaptasi dengan orang lain. Ditambah lagi faktor sekolah di dalam lingkungan pesantren sejak SMP membuatku terkesan sedikit kaku pada teman laki-laki.
Obrolanku dengan Ardi di bis lebih banyak tentang cita-cita. Ardi berkata bahwa dia ingin sekali menjadi seorang polisi dan apabila itu tidak tercapai dia akan memilih dunia bisnis. Sedangkan aku ingin menjadi seorang psikolog atau ahli gizi. Selebihnya obrolan kami hanya sekedar gurauan disela-sela pembicaraan tentang cita-cita. Tak terasa dua jam berlalu dan gerbang sekolah kami sudah tampak.
Di depan sekolah, Aku dan Fitri turun terlebih dahulu dari Ardi. Ardi sengaja turun sedikit jauh dari sekolah supaya satpam sekolah tak curiga pada kami. Aku pun meminta Fitri untuk merahasiakan pertemuan kami dengan Ardi. Ada beberapa teman perempuanku yang memang mengetahui perasaanku pada Ardi, tapi aku ingin hanya Fitri yang tahu karena dialah sahabatku sejak SMP di pesantren ini. Setelah kejadian itu hari-hariku kembali seperti biasa.
Sesekali aku berpapasan dengan Ardi di depan kelas. Dia tidak menyapaku, senyum saja tidak. Kupikir setelah perbincangan di bis itu dia dapat mengaggapku teman yang disapanya saat bertemu. Dia seperti pura-pura tidak mengenalku. Mana mungkin aku menyapanya duluan, aku tidak berani. Tidak seperti sikapnya pada teman-teman perempuan yang lain. Aneh, seperti bukan Ardi yang selama ini kutahu sifatnya yangramah pada semua orang.
Tapi kenapa aku mempermasalahkan hal itu? Aku bukan siapa-siapa baginya. Aku tidak boleh terlalu memikirkannya agar nilai-nilai akademisku tidak turun. Hari-hariku pun berjalan seperti biasanya. Lala yang selalu mengutamakan pelajaran meski tidak bisa dikategorikan pintar. Setelah itu juga Fitri tidak pernah menyinggung tentang Ardi padaku, segan barangkali.
Persiapan menjelang UN (Ujian Nasional) membuatku lupa akan sikap Ardi padaku beberapa waktu lalu. Pikiranku fokus pada ujian yang standarnya kelulusannya 4,50. Standar yang masih sulit dijangkau pelajar di indonesia. Aku pun tidak menyadari kira-kira dua minggu belakangan ini tidak tampak Ardi di sekolah. Aku memang tidak sekelas dengannya tapi biasanya dia selalu terlihat sedang memperhatikan adik-adik kelas bimbingannya berlatih silat sembari mengerjakan soal-soal latihan UN, di bawah pohon pinggir lapangan setiap Jum’at sore. Jum’at memang hari libur jadi digunakan untuk ekskul. Mungkin dia ingin fokus pada ujian dan meninggalkan aktivitas ekskul.
Tak terasa lusa adalah hari pertama UN. Ujian sekolah sebelumnya sudah dilaksanakan minggu lalu. Seluruh murid kelas tiga sore ini akan bersilaturrahim kepada para guru yang tinggal di lingkungan sekitar asrama. Kami akan meminta maaf atas segala kesalahan kami serta meminta didoakan agar ujian kami lancar dan lulus dengan hasil yang memuaskan. Selain pada guru kami juga meminta maaf kepada seluruh adik kelas dan mohon didoakan supaya sukses. Sebenarnya minta maaf bisa kapan saja namun dengan meminta maaf sebelum ujian, perasaan kami akan lebih tenang.
UN telah tiba. Setelah upacara selama 20 menit dan dibacakannya tata tertib ujian, siswa-siswi kelas tiga segera memasuki ruang ujian yang telah ditentukan . Sesaat sebelum masuk ruang ujian, aku melihat ambulan parkir di depan kantor Tata Usaha (TU). Mungkin untuk persiapan jika ada yang sakit saat ujian. Diawali dengan doa maka ujian pun dimulai.
Dua hari berikutnya ujian berlangsung lancar seperti kemarin. Ambulan yang kemarin kulihat lagi-lagi parkir di depan kantor TU. Namun syukurlah aku belum mendengar ada yang sakit. Ujian terakhir yaitu matematika untuk IPA dan ekonomi untuk IPS. Selesainya ujian diwarnai tangis haru murid perempuan. Kami berpelukan mengingat kami akan berpisah. Suasana seperti itu terhenti sesaat ketika Pak Rahmat, kepala sekolah kami mewakili segenap dewan guru menyampaikan nasehat dan doa untuk kami semua supaya menjadi orang yang sukses dan bisa mensukseskan bangsa juga agama. Selesai upacara ambulan yang biasa diparkir depan TU menuju gerbang keluar.
Ujian usai, tiga hari lagi akan diadakan perpisahan. Kami semua sibuk mempersiapkan acara itu. Jumlah murid kelas tiga yaitu 70 yang terdiri dari 44 siswa dan 26 siswi. Pada acara itu, orangtua ataupun wali murid kelas tiga akan diundang. Hasil UN memang belum diumumkan, namun dalam perpisahan ini, kami akan dinyatakan lulus atau tidaknya dari segi akhlak dan segala kegiatan yang kami ikuti sebagai sebagai syarat kelulusan dari pesantren.
Hari ini hari perpisahanku dengan teman-teman dan sahabat yang selama 3 tahun bahkan ada yang selama 6 tahun bersama. Saat perpisahan itu, aku melihat Ardi tampak dibangku barisan kedua. Dia seperti orang sakit. Badannya terlihat lebih kurus dan tampak berkeringat padahal ruangan ini ber-AC. Kalau tidak salah saat gladi resik kemarin dia tidak ada, aku tidak melihat saja barangkali.
Acara perpisahan ini dimulai pukul 09.00 WIB. Rangkaian acara berlangsung dengan khidmat dan sesuai harapan. Hingga tiba penampilan kami menyanyikan lagu untuk para guru. Guru-guru kami tak kuasa menahan tangis saat Riza dan Mutia membacakan puisi sebagai ungkapan rasa terimakasih kami pada mereka. Setelah itu kami bersalaman dengan para guru dan wali murid yang dibanjiri dengan air mata. Terlebih saat berpelukan dengan teman-teman, saling mendoakan dan berharap dapat bertemu kembali. Acara selesai pukul 11.00 WIB
Saat menuju kamar untuk mengemasi barang, Veri menghentikan langkahku. ”La, ada titipan buat Ente.” Veri memberikan sepucuk surat kepadaku, sebelum sempat bertanya dari siapa surat itu, Veri menjelaskan bahwa dia buru-buru, ”Sorry La, ane udah ditunggu ortu. Pokoknya itu titipan buat Ente. Duluan ya, Assalamu’alaikum.” ”Wa’alaikum salam.” Saat ingin membuka surat tersebut, tiba-tiba terdengar suara Ibu. ”Lala, ayo pulang. Bapak sudah menunggu di mobil.” Perkataan Ibu mengurungkan niatku membuka surat itu. ”Iya Bu, sebentar ya Lala ambil barang-barang yang masih ada di kamar.”
Barang-barangku selama tinggal di asrama sudah kumasukkan semua ke bagasi kijang sewaan Bapak. Hari ini khusus menjemputku dan membawa barang-barangku ke rumah Bapak menyisihkan sebagian tabungannya untuk menyewa mobil. Supaya tidak repot katanya. Setelah pamit pada guru-guru juga teman-teman yang belum pulang, aku pun pulang ke rumah dengan rasa lelah setelah acara perpisahan dan mengemasi barang-barang. Di gerbang keluar, aku melihat ambulan yang kulihat tempo hari baru tiba dan segera menuju asrama putra.
Sesampainya di rumah segera kubereskan buku-buku dan pakaianku setelah shalat dzuhur dan makan siang. Karena barang-barangku yang banyak, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.50 WIB saat aku selesaimembereskan semuanya. Dengan terburu-buru aku mandi lalu shalat ashar. Karena aku kurang istirahat, maka setelah shalat isya nanti Ibu memerintahkanku untuk segera tidur.
Menjelang tidur, aku teringat pada surat yang diberikan oleh Veri tadi siang. Kuambil surat itu dari tas ransel di atas meja belajar. Kubuka amplop surat itu dan kubaca perlahan tulisan yang sekilas terlihat agak berantakan. Tertulis tanggal di sudut kanan atas kertas adalah kemarin. Satu hari sebelum acara perpisahan.
20 Mei 2006
Untuk Nur Fadilla (Lala).....
Assalamu’alikum La, apa kabar ?
Mungkin waktu baca surat ini Lala udah ada di rumah. Mudah-mudahan cita-citamu jadi psikolog atau ahli gizi bisa tercapai dan selalu sukses didunia juga di akhirat nanti. Yang penting, moga lulus UN dulu, betul nggak ?.Maaf kalau selama ini nggak pernah negur Lala tiap ketemu. Itu sejak ane divonis menderita AIDS dua hari setelah kita ketemu di SMU Anak Negeri. Ane takut, biasanya orang akan ngejauhin penderita penyakit ini. Anak-anak cowok di kelas tahunya ane sakit demam berdarah. Lihat ambulan waktu lagi UN? Itu kendaraan yang dipake buat antar jemput dari rumah sakit ke sekolah buat ujian. Satu-satunya temen yang tahu keadaan yang sebenarnya cuma Veri. Makanya surat ini dititipkan ke Veri.
Alasan lain enggak pernah nyapa karena sebenarnya ane suka sama ente sejak kelas satu SMA (waktu les bahasa inggris). Ane suka ente karena semangat ngejalanin aktivitas apapun. Sikap seorang Lala yang terkesan tertutup membuat ane nggak berani bilang langsung apalagi dalam keadaan yang seperti ini. Foto cewek yang ane tunjukkin sama Lala dan Fitri itu sebenernya cuma adik tiriku. Maaf bohong, waktu itu cuma mau tahu reaksi Lala kalau ane bilang dia pacar ane. Ternyata waktu itu sepertinya Lala cuek-cuek aja, berarti enggak ada sesuatu yang spesial dari seorang Ardi di mata Lala, betul enggak?
Awalnya bingung juga kenapa bisa kena AIDS. Setelah riwayat kesehataan diperiksa, dokter bilang kemungkinan karena transfusi darah yang mengandung virus HIV. Ane kena lemparan besi saat ada tawuran di jalan raya dekat rumah waktu masih SD. Luka di kepalayang cukup dalam jadi penyebab kehilangan banyak darah, sedangkan persediaan darah yang terbatas dan keadaan darurat membuat akhirnya seperti ini.
Maaf kalau susah baca tulisan ini, tangan ane udah mulai kehilangan kemampuan bergerak. Besok malam atau malam saat Lala baca surat ini, ane memutuskan untuk disuntik mati karena udah nggak ada yang membiayai pengobatan yang mungkin akan sia-sia. Maaf atas pernyataan yang mungkin menyakitimu.
Salam maaf untukmu dan untuk semua teman-teman
Muhammad Ardianza
Pandanganku kabur dan air mengalir dari kedua mataku. Handphoneku berbunyi tanda sebuah pesan masuk, dari Fitri. ”Aslkum. Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Tmn Qta M. Ardianza meninggal dunia pkl 18.30 WIB di RS PMI sesaat sblm disuntik mati.” Aku tidak dapat membendung air mataku namun aku lega setidaknya dia memang pergi karena sudah waktunya, bukan karena disuntik mati. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu.
Sumber video: http://www.youtube.com/watch?v=hh4KKDbBT2s
Karya : Nila Amalia Husna
Dibuat tahun 2008 dan dikirim ke sebuah media tapi masih sangat jauh dari kriteria layak untuk dimuat. Kemudian diedit kembali 02 Juli 2012.