Rabu, 24 April 2013
Senin, 22 April 2013
Ini Museum Digitalku, Mana Museum Digitalmu?
Museum. Apa yang terlintas di pikiran kita saat kata tersebut kita baca atau dengar? Saya pribadi akan mengingat masa-masa sekolah dulu, saat mengikuti kegiatan study tour, yang seringkali mengunjungi berbagai museum, dan mengerjakan tugas terkait mata pelajaran tertentu di museum yang dikunjungi. Intinya museum secara sederhana menurut saya, adalah suatu tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, baik sejarah yang bersifat nasional, internasional, serta didirikan dan dikelola oleh pemerintah atau oleh pihak swasta yang memiliki dana untuk memamerkan koleksi pribadinya pada masyarakat.
Namun, tidak harus menjadi orang terkenal atau memiliki harta melimpah terlebih dahulu, untuk memiliki semacam museum pribadi. Ini menurut saya loh, karena setelah beberapa bulan belakangan aktif nge-blog, ternyata blog itu bisa dikatakan sebagai sebuah museum digital milik pribadi atau kelompok jika sebuah blog dibuat untuk suatu komunitas atau kelompok tertentu. Terutama sebuah blog pribadi, yang sedikit banyak menceritakan tentang kisah hidup Sang Blogger. Menceritakan berbagai pengalaman hidup yang mungkin saat ini belum tampak manfaatnya, tapi suatu saat jika diperlukan maka kisah itu bisa dijadikan rujukan untuk orang lain yang ingin mengetahuinya. Juga dokumentasi ingatan kalau suatu saat kita mengalami amnesia alias lupa ingatan (waduh, korban sinetron nih).
Contohnya, saat ini saya bukanlah siapa-siapa, dan belum bisa dikatakan menjadi orang yang hebat, atau berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Tapi siapa tahu di masa depan, saya bisa melakukan beberapa hal yang memancing banyak orang ingin mengetahui sekelumit kisah hidup atau karya apa saja yang pernah saya buat. Maka, tidak perlu susah-susah mencarinya dan tanpa memerlukan biaya banyak untuk transportasi dan pulsa telepon. Cukup bermodalkan internet, yang sudah semakin murah (katanya) atau bahkan gratis dengan beberapa ketentuan, kemudian berselancar di internet dan temukanlah blog ini. Maka orang-orang akan tahu sedikit gambaran tentang siapa saya di masa lalunya. Kalau pun belum ada hal bermanfaat yang bisa saya lakukan, setidaknya saat nanti saya sudah tiada mereka yang belum sempat mengenal lebih dekat dengan diri ini, bisa membaca beberapa tulisan sebagai warisan yang bisa ditinggalkan untuk mereka yang memerlukannya.
Jadi, untuk memiliki sebuah mueseum pribadi, tidak perlu memiliki modal banyak. Tidak harus menemukan lokasi tanah atau bangunan yang akan disulap menjadi museum. Tidak perlu bingung memutuskan berapa tarif yang akan dikenakan pada para pengunjungnya, karena proses pembuatan museum digital ini juga bisa gratis. Kalaupun ingin memiliki website pribadi yang berbayar pun, tidak memerlukan biaya sebanyak museum fisik.
Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kita buat museum pribadi kita, walaupun masih berbentuk digital dan gratisan. Walaupun tidak setiap hari bisa memperbarui tulisan atau berbagi hal menarik dari hidup kita, tapi setidaknya kalau dilakukan rutin terus menerus seumur hidup, salah satu manfaatnya adalah mengurangi risiko dari kepikunan. Karena proses menulis, akan membuat otak kita terus terasah mengingat suatu hal, memikirkannya, dan selanjutnya mengeluarkannya dalam sebuah tulisan.
Ini Museum Digitalku, Mana Museum Digitalmu?
Sabtu, 20 April 2013
Penulis Spesialis Kematian
Entah obsesi atau suatu refleks tertentu yang tidak disadari ketika melakukan setahap demi setahap dalam rangkaian aktivitas menulis, ada satu hal yang sering terjadi dan baru disadari. Yaitu memasukkan kata mati, kematian, meninggal, atau apapun terkait ajal atau maut. Di beberapa tulisan saya, baik fiksi atau non fiksi, mungkin ada lebih dari lima tulisan memuat unsur tersebut, segala hal yang berhubungan dengan kematian. Mau jadi penulis spesialis kematian ya? Ngaco, emang ada apa istilah kayak gitu.
Ada apa? Tanpa diniatkan sebelumnya, hanya saja setiap kali kata tersebut muncul di pikiran, ya otomatis saya masukkan dalam artikel terbaru di blog ini. Begitu juga dengan beberapa karya cerpen (meski mungkin belum bisa dianggap cerpen oleh para penulis fiksi yang sudah mumpuni di bidangnya) yang pernah saya buat beberapa tahun belakangan ini. Selalu saja ada tokoh yang meninggal, hampir meninggal, atau baru saja berniat untuk mengakhiri hidupnya, meski gagal karena belum waktunya Sang Pencabut Nyawa bertugas.
Bohong jika saya mengelak pernah memikirkan kematian diri sendiri, yang entah kapan datangnya. Sedikit banyak tentu sebuah tulisan fiksi pun, akan mencerminkan beberapa hal yang ada di kepala penulisnya. Kecuali untuk penulis yang benar-benar jenius menciptakan sebuah dunia khayal yang murni tidak terinspirasi dari pengalaman atau persepsi pribadi penulisnya. Begitu juga dengan diri ini yang sempat memikirkan (beruntung belum melakukan) hal bodoh nan konyol untuk mencapai sebuah kematian.
Padahal sudah diajarkan sejak dulu, bahwa kematian itu hanya Tuhan yang tahu waktunya, saat itu tiba maka Tuhan akan mengutus malaikat pencabut nyawa menjemput kita. Di mana pun, kapan pun, dan apa pun aktivitas yang saat itu sedang kita lakukan. Ya, ketika emosi menguasai diri ini untuk bertindak konyol, maka sisi lain dari diri kita yang disebut akal akan mengingatkan apa-apa saja yang pernah dipelajari. Salah satunya adalah bunuh diri dengan alasan apapun tidak akan membuat kita memiliki peluang masuk ke surga-Nya. Terima kasih Tuhan telah mencegahku melakukan hal bodoh itu.
Rabu, 17 April 2013
Rasa Rindu Atau Pertanda?
Seumur hidup, belum pernah mengalami hal-hal yang berulang selama kurun waktu dua minggu terakhir ini. Yaitu berkali-kali mata ini pas banget melihat penunjuk waktu (digital di laptop atau ponsel), yang orang sebut dengan jam kembar. Yaitu pengulangan angka yang sama pada angka penunjuk satuan jam dan menitnya. Kalau hanya sekali dua kali tentu tidak membuatku penasaran. Tapi ini sudah lebih dari lima kali dalam waktu kurang dari dua minggu. Firasat apa ya ini?
Kira-kira seperti ini urutannya dimulai sejak tanggal 3 April - 16 April 2013:
1. 08:08 WIB tanggal 3 April.
2. 00:00 WIB tanggal 7 April.
3. 10:10 WIB lupa tanggalnya.
4. 00:00 WIB lagi.
5. 02:02 dilihat dari laptop (maksudnya sih siang alias 14:02 WIB).
6. 07:07 WIB tanggal 16 April (sesaat sebelum blogwalking kemarin).
7. 20:20 WIB tanggal 16 April.
8. Lainnya meski tidak kembar tapi menunjukkan angka unik seperti; 01:23, 14:41; 20:06, dll.
Karena penasaran, goggling deh dan menemukan di blog tetangga (terima kasih infonya) yang mengulas sedikit tentang mitos mengenai makna dari jam kembar yang kita lihat. Ehm, ada yang cocok enggak ya? Kasih tahu enggak ya? Mau tahu aja atau mau tahu banget? Eh, malah ngaco. Intinya cukup sekedar tahu mitos yang beredar tentang hal ini, masalah benar atau tidaknya, kembali kepada Tuhan Yang Maha Tahu segalanya. Anggap saja kejadian dua minggu belakangan ini, hanya sekedar untuk lebih mewarnai hidup, supaya kisahnya tidak monoton. Terutama menambah cerita yang bisa dibagi di blog.
Just Telling...
Ada yang bilang kalau sebaiknya kita tidak perlu menceritakan sebuah mimpi yang tidak baik. Sebaliknya jika bermimpi hal-hal yang baik, tidak ada larangan untuk menceritakannya pada orang lain. Dengang pengecualian hanya orang-orang tertentu yang dianggap dipercaya untuk mengetahuinya.
Tapi kadang sebelum menceritakannya pada orang lain, kepikiran mana yang termasuk mimpi baik atau mimpi kurang baik. Soalnya sesekali jika bermimpi hal yang berkesan (senang atau sedih) tidak serta merta menceritakan pada orang lain. Jika ada kesempatan, goggling terlebih dulu dari internet. Ternyata kadang maksud mimpi itu kebanyakan berlawanan dengan mimpi yang dialami. Maksudnya saat kita bermimpi hal yang dianggap membahagiakan, justru dianggap sebagai tanda akan suatu kemalangan yang mengintai. Jadi maksudnya mimpi baik atau mimpi kurang baik, itu dinilai dari alur kejadian dalam mimpi atau dari artinya ya?
Ya memang tidak semua mimpi yang kita alami memiliki arti, bahkan sebagian besarnya mungkin hanya sekedar 'film pendek' yang diputar (oleh Tuhan atau makhluk lain) selama kita tertidur. Tapi sedikit banyak, tentu kita bisa merasakan mana mimpi yang hanya sebatas 'bunga tidur' dan mana yang setidaknya menyiratkan sebuah pesan untuk kehidupan kita.
Selama ini memang tidak terbiasa menceritakan mimpi yang dialami ke orang lain, kecuali jika suatu saat terbukti ada kejadian yang berhubungan dengan mimpi itu, terjadi di dunia nyata. Tapi lebih sering menyimpannya dalam hati, karena besar kemungkinan reaksi orang akan beranggapan negatif jika sering kuceritakan banyak hal yang terjadi berhubungan dengan mimpi-mimpi itu.
Tapi, kadang juga ada perasaan aneh saat suatu mimpi yang teramat sangat aneh tapi terasa begitu nyata dialami. Terlebih jika mayoritas penyampai informasi di internet sepakat mengenai arti mimpi tersebut yang mengarah kepada suatu hal yang disebut kematian. Memang tidak sepatutnya terlalu dipikirkan, tapi jika tidak ada yang bisa diajak bicara, bukankah menimbulkan resah selama beberapa waktu? Semoga tidak terjadi apa-apa dengan orang lain. Tidak masalah jika maut itu menghampiriku, asal bukan mereka. Aamiin.
Kamis, 11 April 2013
Feeling Comfortable With Blogspot
Tidak banyak akun media sosial yang saya punya, saat ini cukup Facebook dan Twitter. Keduanya pun sudah termasuk jarang digunakan, kecuali sesekali untuk mempublikasikan tulisan baru dari blog. Dulu sewaktu zaman tren Friendster juga pernah punya akunnya, tapi sejak kemunculan Facebook dengan tampilan yang lebih menarik, maka akun Friendster pun terlupakan begitu saja.
Tidak dapat dipungkiri Facebook sampai saat ini, amat sangat membantu dalam menjalin silaturrahim, khususnya antar teman atau saudara yang sudah lama tidak bertemu. Bahkan pernah ada kisah keluarga yang belasan atau puluhan tahun terpisah, akhirnya bertemu kembali berkat Facebook.
Kali ini bukan membahas salah satu dari media sosial tersebut. Tapi lebih kepada kecenderungan kecocokan diri saya, yang baru disadari belum lama ini. Apakah itu? Ternyata saya cenderung lebih cocok atau nyaman menjadi seorang blogger di Blogspot. Karena tidak ada batasan karakter yang akan saya publikasikan. Seperti saat awal membuat akun Twitter, dan masih lumayan aktif 'berkicau' tentang beberapa hal yang saya pikirkan. Ternyata seringkali saya harus kembali menghapus banyak huruf saking melebihi batasan yang telah ditetapkan Twitter. 140 karakter per 'kicauan.'
Facebook pun sebenarnya memungkinkan untuk kita update status dengan banyak karakter, atau menulisnya di kolom 'Note' jika ingin menulis sebanyak apa pun yang kita inginkan. Tapi rasanya mulai kurang nyaman ketika harus menulis panjang-panjang di Facebook. Karena mungkin saja ada orang yang merasa terganggu dengan update status kita yang super panjang, di halaman beranda Facebook-nya. Menulis di kolom 'catatan' Facebook pun, akan jarang yang membacanya terkecuali jika kita menandai nama seseorang di tulisan tersebut. Padahal, lagi-lagi belum tentu yang ditandai itu berkenan untuk membacanya atau beberapa mungkin tidak sempat sekedar meng-klik-nya karena terlalu banyak 'Notifications' di akunnya.
Maka, kesimpulan saya bagi kita yang suka berbagi kisah atau sekedar tulisan pendek (menurut kita, tapi menurut orang lain termasuk tulisan panjang), marilah beralih ke blog. Apapun domainnya, gratis atau pun berbayar. Tapi untuk yang masih pemula dan belum punya banyak waktu nge-blog seperti saya sih, mulai dulu dengan yang gratis. Apalagi belum bisa menjadikan blog sebagai sumber penghasilan.
Di blog, saya bisa berbagi hal apa pun, tanpa mengganggu orang lain. Syukur-syukur ada yang merasa senang dengan tulisan yang saya buat. Apalagi jika dapat membantu para pencari informasi di Google, mendapatkan jawaban dari segala macam pertanyaan mereka. Kemudian satu keuntungan lagi dari nge-blog, adalah kelak tulisan kita bisa abadi di dunia maya. Walaupun diri kita sudah tidak update tulisan lagi, atau bahkan jika masa hidup kita sudah habis sekalipun, orang lain dari berbagai penjuru dunia masih dapat membaca hasil buah pikiran kita. Keep blogging all ^_^.
Inikah Namanya Lucid Dream?
Apa iya, yang kualami beberapa tahun terakhir ini, bisa dikatakan sebagai Lucid Dream? Menurut berbagai sumber, kurang lebih definisinya yaitu kondisi saat kita menyadari bahwa peristiwa yang "seolah" nyata itu adalah mimpi, serta dapat kita atur alurnya. Begitulah kira-kira sejak pertama kalinya mimpi gigi ompong, setiap kali bermimpi terasa nyata walau dalam hati menyadari bahwa itu semua tidak terjadi di dunia nyata. Tapi memang tidak bisa sampai pada tahap berniat mimpi tentang suatu hal sebelum tidur, bahkan mengatur apa yang akan dilakukan oleh "lawan main". Hanya sebatas bisa memikirkan hal yang akan dikatakan atau dilakukan diri sendiri dalam alam mimpi.
Katanya juga, Lucid Dream dapat mengatasi mimpi buruk yang sering menghantui. Memang sih, sejak mulai menyadari beberapa kali mengalami mimpi yang seperti itu, jadi jarang bermimpi buruk. Selanjutnya mimpi yang mungkin berupa Lucid Dream itu, berkisar antara hubunganku dengan orang lain (baca: hampir semuanya sedang mengobrol santai atau mendiskusikan berbagai masalah). Walaupun lebih sering malah bertemu orang yang tidak dikenal atau sudah lama tidak dijumpai di kehidupan nyata. Kadang-kadang malah bertemu artis atau orang terkenal lainnya, dan di mimpi tersebut mereka seperti halnya orang yang sudah kukenal secara akrab tanpa menganggap mereka seorang public figure.
Lebih anehnya lagi, kadang jika terbangun di tengah mimpi, dan kembali melanjutkan tidur, sesekali kembali bermimpi seolah lanjutan mimpi yang terputus. Memang kadang lokasi atau para pelakunya tidak selalu sama dengan mimpi yang terputus sebelumnya, tapi setidaknya gambaran umumnya bisa menjawab minimal satu pertanyaan yang muncul saat mimpi tersebut terputus.
Tapi meski seolah hal nyata sekalipun, keesokan harinya tetap saja tidak bisa benar-benar mengingat detail alur kejadian demi kejadian yang dialami. Selalu saja ada poin yang terlupa. Walaupun untuk mimpi yang sangat berkesan, bisa saja kuingat detailnya dengan jelas. Meski kadang merasa sedikit meredakan stres, tapi kalau keseringan mengalami mimpi yang aneh tapi seolah nyata itu, lelah juga. Apalagi sekarang nyaris setiap hari bisa bermimpi. Memang seharusnya tidak usah dipikirkan, tapi kalau setiap hari memimpikan hal yang nyaris sama berulang kali, bukankah secara otomatis jadi pikiran juga.
Tapi, bisakah Lucid Dream dihentikan? Sepertinya lebih nyaman jika lebih sering tertidur dengan tenang tanpa mimpi. Yang ada hanya sunyi, gelap, dan lelap tidur sampai waktunya mata terbuka kembali.
Katanya juga, Lucid Dream dapat mengatasi mimpi buruk yang sering menghantui. Memang sih, sejak mulai menyadari beberapa kali mengalami mimpi yang seperti itu, jadi jarang bermimpi buruk. Selanjutnya mimpi yang mungkin berupa Lucid Dream itu, berkisar antara hubunganku dengan orang lain (baca: hampir semuanya sedang mengobrol santai atau mendiskusikan berbagai masalah). Walaupun lebih sering malah bertemu orang yang tidak dikenal atau sudah lama tidak dijumpai di kehidupan nyata. Kadang-kadang malah bertemu artis atau orang terkenal lainnya, dan di mimpi tersebut mereka seperti halnya orang yang sudah kukenal secara akrab tanpa menganggap mereka seorang public figure.
Lebih anehnya lagi, kadang jika terbangun di tengah mimpi, dan kembali melanjutkan tidur, sesekali kembali bermimpi seolah lanjutan mimpi yang terputus. Memang kadang lokasi atau para pelakunya tidak selalu sama dengan mimpi yang terputus sebelumnya, tapi setidaknya gambaran umumnya bisa menjawab minimal satu pertanyaan yang muncul saat mimpi tersebut terputus.
Tapi meski seolah hal nyata sekalipun, keesokan harinya tetap saja tidak bisa benar-benar mengingat detail alur kejadian demi kejadian yang dialami. Selalu saja ada poin yang terlupa. Walaupun untuk mimpi yang sangat berkesan, bisa saja kuingat detailnya dengan jelas. Meski kadang merasa sedikit meredakan stres, tapi kalau keseringan mengalami mimpi yang aneh tapi seolah nyata itu, lelah juga. Apalagi sekarang nyaris setiap hari bisa bermimpi. Memang seharusnya tidak usah dipikirkan, tapi kalau setiap hari memimpikan hal yang nyaris sama berulang kali, bukankah secara otomatis jadi pikiran juga.
Tapi, bisakah Lucid Dream dihentikan? Sepertinya lebih nyaman jika lebih sering tertidur dengan tenang tanpa mimpi. Yang ada hanya sunyi, gelap, dan lelap tidur sampai waktunya mata terbuka kembali.
Selasa, 09 April 2013
Ternyata Ngidam Bukan Mutlak Milik Bumil
Sejak dua hari yang lalu, entah mengapa tiba-tiba ingin cemilan serba cokelat. Ditambah lagi melihat iklan es krim merek Cornett* varian Black & White, yang benar-benar full of chocolate. Dua jenis pula, dark chocolate dan white chocolate, tanpa kacang, selai rasa buah, atau topping lainnya selain butiran choco chips. Intinya lagi 'ngidam' cokelat. Aneh, padahal nikah saja belum, apalagi hamil, kok bisa ngidam ya?
Pernahkah anda mengalami hal serupa, khususnya para perempuan yang sedang berada di masa PMS. Alias masa-masa menjelang si 'tamu bulanan' mau mengunjungi kita. Kadang tiba-tiba ingin makan bakso atau mi super pedas, menyantap buah-buah asam lengkap dengan bumbu rujaknya, ngemil cokelat batangan atau makanan manis lainnya, atau berbagai jenis makanan atau minuman yang tidak bisa kita santap setiap hari.
Akhirnya sore ini kesampean juga titip es krim Cornett*, ke adik sepulang kuliah. Tapi sudah malam, bisa jadi dimakan besok atau nanti akan dijadikan cemilan sebelum tidur. Waduh enggak takut gemuk nih? Justru sebaliknya, belakangan ini dikritik Mama kalau saya terlihat kurus-an. Memang timbangan juga berkata demikian. Sejak setelah bulan puasa tahun lalu, perlahan tapi pasti berat badan saya menyusut. Padahal sebelum Ramadhan tahun lalu sempat menggemuk, mencapai angka 47 kg setelah bertahun-tahun hanya bisa mencapai berat badan 41 kg. Setelah puasa tahun lalu hingga terakhir menimbang (2 hari lalu), jarum penunjuk berada di angka 42 kg. Pantesan pakaian sehari-hari terasa lebih longgar.
Padahal sama sekali tidak disengajakan untuk menurunkan berat badan, apalagi terobsesi jadi super kurus. Ngemil pun lancar-lancar saja, sama sekali tidak ditahan saat merasa lapar di luar jam makan pagi, siang, atau malam. So, my weight get down automatically Mom. I don't diet for eliminate my weight. Hehe, sempat disuruh makan yang banyak sama Mama, biar badanku agak berisi. Oke lah kalau begitu, malam ini kita hajar nasi goreng buatan sendiri, dan dilanjutkan sebelum tidur menyantap satu cone es krim full of chocolate. Yummy ^_*.
Langganan:
Postingan (Atom)
