Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2013

Bukan Untuk Dipahami, Tetapi Untuk Memahami.

Kadang saat akan atau telah selesai menulis, mungkin ada kekhawatiran apakah tulisan kita nantinya bisa dipahami oleh pembaca? Wajar, karena walau setitik pasti kita memiliki harapan, ada yang mau membaca hasil karya itu kan? Terkecuali jika kita menulis di buku harian atau jurnal pribadi, yang memang bersifat sangat rahasia. Justru segala usaha akan dilakukan supaya tulisan itu aman dari tangan orang lain.

Kembali lagi ke masalah paham atau tidaknya para pembaca ketika menikmati tulisan yang kita buat. Memang penting mencoba membuat tulisan yang mengena di logika dan perasaan pembaca. Tapi sebenarnya ada yang lebih penting. Yaitu, apakah kita sebagai penulisnya belajar tentang sesuatu hal baru (berkaitan isi tulisan), serta dapat memahami betul apa yang kita tulis? Jadi, tujuan utama menulis sebenarnya adalah untuk memahami, dapat dikatakan juga mempelajari dan menambah wawasan kita tentang menulis dan tentang segala hal berkaitan isi tulisan kita.

Setidaknya demikian kesimpulan yang dapat saya ambil dari sebuah pernyataan C. Day Lewis. Beliau adalah seorang penyair dan penulis novel detektif, berasal dari Inggris dengan nama samaran Nicholas Blake. Kutipan berikut terdapat dalam buku terjemahan "Daripada Bete, Nulis Aja!" (Caryn Mirriam-Goldberg, 2004),

"Kita menulis tidak untuk dipahami, tetapi untuk memahami" (C. Day Lewis).

Bagi yang ingin mengetahui seperti apa isi buku tersebut, kebetulan saya telah membuat sedikit rangkumannya di Kenapa Harus Menulis? Semoga bermanfaat.

Mulai sekarang saat ingin menulis, jangan dulu memikirkan apakah nantinya tulisan kita dapat dipahami oleh pembaca atau tidak. Melainkan nikmatilah prosesnya, dan dengan sendirinya melalui proses itu, kita akan mempelajari berbagai hal, yang akhirnya akan membuat kita memahami lebih banyak hal dari yang kita duga sebelumnya.

Mungkin ada yang kontra dengan pernyataan tersebut. Tapi sebagai penulis pemula seperti saya, kalimat tersebut amat sangat membantu. Setidaknya untuk pemicu semangat dalam memulai menulis. Karena bukan teori menulis yang paling berperan dalam terwujudnya impian kita menjadi seorang penulis produktif. Melainkan praktek, dan itu harus dimulai dengan menulis, menulis, dan menulis.

Jadi, semakin banyak kita menulis, semakin banyak kita memahami. Setelah kita rutin menulis, jangan tinggalkan pula kegiatan membaca. Karena seseorang yang gemar membaca belum tentu menjadi penulis yang baik, tetapi seorang penulis yang baik, biasanya adalah seseorang yang juga hobi membaca. Karena dengan membaca kita dapat merasakan berada di posisi seorang pembaca. Ini menjadi latihan tersendiri untuk mengetahui tulisan seperti apa yang dapat dipahami atau tidak, disukai atau tidak, dan menarik tidaknya, dari kacamata seorang pembaca. Perlahan tapi pasti, kelak kita dapat menyuguhkan sebuah tulisan yang tidak hanya menarik dari gaya bahasa, tetapi juga mudah dipahami orang lain yang menikmati tulisan-tulisan kita.

Selamat mempraktekkannya ^_^.
read more »

Senin, 22 April 2013

Ini Museum Digitalku, Mana Museum Digitalmu?

Museum. Apa yang terlintas di pikiran kita saat kata tersebut kita baca atau dengar? Saya pribadi akan mengingat masa-masa sekolah dulu, saat mengikuti kegiatan study tour, yang seringkali mengunjungi berbagai museum, dan mengerjakan tugas terkait mata pelajaran tertentu di museum yang dikunjungi. Intinya museum secara sederhana menurut  saya, adalah suatu tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, baik sejarah yang bersifat nasional, internasional, serta didirikan dan dikelola oleh pemerintah atau oleh pihak swasta yang memiliki dana untuk memamerkan koleksi pribadinya pada masyarakat.

Namun, tidak harus menjadi orang terkenal atau memiliki harta melimpah terlebih dahulu, untuk memiliki semacam museum pribadi. Ini menurut saya loh, karena setelah beberapa bulan belakangan aktif nge-blog, ternyata blog itu bisa dikatakan sebagai sebuah museum digital milik pribadi atau kelompok jika sebuah blog dibuat untuk suatu komunitas atau kelompok tertentu. Terutama sebuah blog pribadi, yang sedikit banyak menceritakan tentang kisah hidup Sang Blogger. Menceritakan berbagai pengalaman hidup yang mungkin saat ini belum tampak manfaatnya, tapi suatu saat jika diperlukan maka kisah itu bisa dijadikan rujukan untuk orang lain yang ingin mengetahuinya. Juga dokumentasi ingatan kalau suatu saat kita mengalami amnesia alias lupa ingatan (waduh, korban sinetron nih).

Contohnya, saat ini saya bukanlah siapa-siapa, dan belum bisa dikatakan menjadi orang yang hebat, atau berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Tapi siapa tahu di masa depan, saya bisa melakukan beberapa hal yang memancing banyak orang ingin mengetahui sekelumit kisah hidup atau karya apa saja yang pernah saya buat. Maka, tidak perlu susah-susah mencarinya dan tanpa memerlukan biaya banyak untuk transportasi dan pulsa telepon. Cukup bermodalkan internet, yang sudah semakin murah (katanya) atau bahkan gratis dengan beberapa ketentuan, kemudian berselancar di internet dan temukanlah blog ini. Maka orang-orang akan tahu sedikit gambaran tentang siapa saya di masa lalunya. Kalau pun belum ada hal bermanfaat yang bisa saya lakukan, setidaknya saat nanti saya sudah tiada mereka yang belum sempat mengenal lebih dekat dengan diri ini, bisa membaca beberapa tulisan sebagai warisan yang bisa ditinggalkan untuk mereka yang memerlukannya.

Jadi, untuk memiliki sebuah mueseum pribadi, tidak perlu memiliki modal banyak. Tidak harus menemukan lokasi tanah atau bangunan yang akan disulap menjadi museum. Tidak perlu bingung memutuskan berapa tarif yang akan dikenakan pada para pengunjungnya, karena proses pembuatan museum digital ini juga bisa gratis. Kalaupun ingin memiliki website pribadi yang berbayar pun, tidak memerlukan biaya sebanyak museum fisik.

Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kita buat museum pribadi kita, walaupun masih berbentuk digital dan gratisan. Walaupun tidak setiap hari bisa memperbarui tulisan atau berbagi hal menarik dari hidup kita, tapi setidaknya kalau dilakukan rutin terus menerus seumur hidup, salah satu manfaatnya adalah mengurangi risiko dari kepikunan. Karena proses menulis, akan membuat otak kita terus terasah mengingat suatu hal, memikirkannya, dan selanjutnya mengeluarkannya dalam sebuah tulisan.

Ini Museum Digitalku, Mana Museum Digitalmu?
read more »

Sabtu, 20 April 2013

Penulis Spesialis Kematian

Entah obsesi atau suatu refleks tertentu yang tidak disadari ketika melakukan setahap demi setahap dalam rangkaian aktivitas menulis, ada satu hal yang sering terjadi dan baru disadari. Yaitu memasukkan kata mati, kematian, meninggal, atau apapun terkait ajal atau maut. Di beberapa tulisan saya, baik fiksi atau non fiksi, mungkin ada lebih dari lima tulisan memuat unsur tersebut, segala hal yang berhubungan dengan kematian. Mau jadi penulis spesialis kematian ya? Ngaco, emang ada apa istilah kayak gitu.

Ada apa? Tanpa diniatkan sebelumnya, hanya saja setiap kali kata tersebut muncul di pikiran, ya otomatis saya masukkan dalam artikel terbaru di blog ini. Begitu juga dengan beberapa karya cerpen (meski mungkin belum bisa dianggap cerpen oleh para penulis fiksi yang sudah mumpuni di bidangnya) yang pernah saya buat beberapa tahun belakangan ini. Selalu saja ada tokoh yang meninggal, hampir meninggal, atau baru saja berniat untuk mengakhiri hidupnya, meski gagal karena belum waktunya Sang Pencabut Nyawa bertugas.

Bohong jika saya mengelak pernah memikirkan kematian diri sendiri, yang entah kapan datangnya. Sedikit banyak tentu sebuah tulisan fiksi pun, akan mencerminkan beberapa hal yang ada di kepala penulisnya. Kecuali untuk penulis yang benar-benar jenius menciptakan sebuah dunia khayal yang murni tidak terinspirasi dari pengalaman atau persepsi pribadi penulisnya. Begitu juga dengan diri ini yang sempat memikirkan (beruntung belum melakukan) hal bodoh nan konyol untuk mencapai sebuah kematian.

Padahal sudah diajarkan sejak dulu, bahwa kematian itu hanya Tuhan yang tahu waktunya, saat itu tiba maka Tuhan akan mengutus malaikat pencabut nyawa menjemput kita. Di mana pun, kapan pun, dan apa pun aktivitas yang saat itu sedang kita lakukan. Ya, ketika emosi menguasai diri ini untuk bertindak konyol, maka sisi lain dari diri kita yang disebut akal akan mengingatkan apa-apa saja yang pernah dipelajari. Salah satunya adalah bunuh diri dengan alasan apapun tidak akan membuat kita memiliki peluang masuk ke surga-Nya. Terima kasih Tuhan telah mencegahku melakukan hal bodoh itu.
read more »

Kamis, 11 April 2013

Feeling Comfortable With Blogspot

Tidak banyak akun media sosial yang saya punya, saat ini cukup Facebook dan Twitter. Keduanya pun sudah termasuk jarang digunakan, kecuali sesekali untuk mempublikasikan tulisan baru dari blog. Dulu sewaktu zaman tren Friendster juga pernah punya akunnya, tapi sejak kemunculan Facebook dengan tampilan yang lebih menarik, maka akun Friendster pun terlupakan begitu saja.

Tidak dapat dipungkiri Facebook sampai saat ini, amat sangat membantu dalam menjalin silaturrahim, khususnya antar teman atau saudara yang sudah lama tidak bertemu. Bahkan pernah ada kisah keluarga yang belasan atau puluhan tahun terpisah, akhirnya bertemu kembali berkat Facebook.

Kali ini bukan membahas salah satu dari media sosial tersebut. Tapi lebih kepada kecenderungan kecocokan diri saya, yang baru disadari belum lama ini. Apakah itu? Ternyata saya cenderung lebih cocok atau nyaman menjadi seorang blogger di Blogspot. Karena tidak ada batasan karakter yang akan saya publikasikan. Seperti saat awal membuat akun Twitter, dan masih lumayan aktif 'berkicau' tentang beberapa hal yang saya pikirkan. Ternyata seringkali saya harus kembali menghapus banyak huruf saking melebihi batasan yang telah ditetapkan Twitter. 140 karakter per 'kicauan.'

Facebook pun sebenarnya memungkinkan untuk kita update status dengan banyak karakter, atau menulisnya di kolom 'Note' jika ingin menulis sebanyak apa pun yang kita inginkan. Tapi rasanya mulai kurang nyaman ketika harus menulis panjang-panjang di Facebook. Karena mungkin saja ada orang yang merasa terganggu dengan update status kita yang super panjang, di halaman beranda Facebook-nya. Menulis di kolom 'catatan' Facebook pun, akan jarang yang membacanya terkecuali jika kita menandai nama seseorang di tulisan tersebut. Padahal, lagi-lagi belum tentu yang ditandai itu berkenan untuk membacanya atau beberapa mungkin tidak sempat sekedar meng-klik-nya karena terlalu banyak 'Notifications' di akunnya.

Maka, kesimpulan saya bagi kita yang suka berbagi kisah atau sekedar tulisan pendek (menurut kita, tapi menurut orang lain termasuk tulisan panjang), marilah beralih ke blog. Apapun domainnya, gratis atau pun berbayar. Tapi untuk yang masih pemula dan belum punya banyak waktu nge-blog seperti saya sih, mulai dulu dengan yang gratis. Apalagi belum bisa menjadikan blog sebagai sumber penghasilan.

Di blog, saya bisa berbagi hal apa pun, tanpa mengganggu orang lain. Syukur-syukur ada yang merasa senang dengan tulisan yang saya buat. Apalagi jika dapat membantu para pencari informasi di Google, mendapatkan jawaban dari segala macam pertanyaan mereka. Kemudian satu keuntungan lagi dari nge-blog, adalah kelak tulisan kita bisa abadi di dunia maya. Walaupun diri kita sudah tidak update tulisan lagi, atau bahkan jika masa hidup kita sudah habis sekalipun, orang lain dari berbagai penjuru dunia masih dapat membaca hasil buah pikiran kita. Keep blogging all ^_^.
read more »

Senin, 08 April 2013

Dipilih, Dipilih, Dipilih Tulisannya!

Punya halaman blog itu, layaknya para pedagang yang buka toko dengan berbagai jenis barang dagangan. Bedanya, di blog tidak semua hasil akhirnya selalu dinilai dengan uang. Tapi apapun jenis blognya, kepuasan seorang blogger adalah saat mengetahui tulisannya masih memiliki pembaca. Minimal setiap hari ada satu pengunjung blog. Syukur-syukur jika pengunjungnya mencapai jumlah puluhan, ratusan, bahkan ribuan per harinya.

Seperti blog ini, pada awalnya sama sekali tidak terbayangkan akan mendapat kunjungan setiap harinya, apalagi dengan jumlah yang fantastis. Karena niat awal memiliki blog pribadi, hanya untuk mengamankan tulisan-tulisan yang semula tersimpan di laptop, dari risiko terhapus atau terinfeksi virus. Tujuan lainnya untuk menuntaskan rasa penasaran apa itu blog, terutama setelah sekian lama berselancar di internet, dan menemukan bahwa banyak sekali penduduk bumi yang membuka "lapak" blog pribadinya.

Ternyata seiring berjalannya waktu, ditambah kekonsistenan untuk meng-update tulisan dan blogwalking ke "lapak" blogger lain (beberapa waktu terakhir memang jarang update dan blogwalking sih), sekitar 30 pengunjung sudah menjadi jumlah minimal per harinya. Sedangkan jumlah maksimalnya pernah mencapai angka 95. Ya, pasti tidak semuanya benar-benar membaca karena bisa saja hanya terpaksa meng-klik, dan segera pergi karena informasi yang disajikan tidak sesuai harapan. Beberapa di antaranya ada yang kembali lagi membaca tulisan lainnya, dan banyak juga yang memutuskan tidak pernah datang lagi mengunjungi blog ini karena merasa isinya tidak menarik.

Begitulah, seperti pembeli yang jumlahnya tidak menentu, baik sekedar mampir atau benar-benar membeli barang yang dijual. Ada yang merasa puas dengan barang yang dibeli, dan suatu saat kembali lagi ke toko tersebut, biasa disebut juga pelanggan. Ada pula yang kecewa dengan kualitas barangnya, dan tidak akan pernah lagi belanja di toko itu.

Bagaimana pun itu, kembali pada selera masing-masing individu. Ada pengunjung yang menyukai tulisan kita atau merasa terbantu mendapatkan informasi penting, ada juga yang merasa bosan dan muak pada tulisan kita karena berbagai alasan. Itu sah-sah saja, apalagi untuk ukuran blog pribadi yang sudah tentu empunya blog, bebas menuangkan segala pendapatnya di halaman "lapak"-nya sendiri. 

Jadi, sedikit atau banyak jumlah pengunjungnya, bukan hal terpenting meski memang menjadi salah satu nilai sebuah blog di dunia maya. Yang terpenting adalah kesungguhan kita sebagai blogger untuk melakukan aksi di berbagai bidang, dengan memulainya lewat tulisan, foto, video, atau apapun yang dapat dibagi melalui sebuah blog. Keep blogging ^_^!
read more »

Selasa, 02 April 2013

It's Me, alaNila.

Dear blogger, apa kabar? Kalau saya sejujurnya dalam keadaan kurang baik, karena sedang mengalami radang tenggorokan sejak kemarin sore. Walau perut lapar dan ingin mengonsumsi berbagai jenis makanan, tetap saja ujung-ujungnya hanya bisa makan sedikit. Itu pun disertai rasa sakit saat berusaha menelan makanan atau minuman. Semoga anda semua dalam keadaan sehat wal'afiat. Aamiin.

Sudah lama sepertinya tidak meng-update tulisan di sini. Karena ada beberapa hal yang cukup menyita tenaga dan pikiran saya sehingga mood nge-blog pun agak terganggu. Kali ini saya akan mencoba kembali berceloteh di blog, yang belum lama ini saya edit judulnya dengan penambahan kalimat yang dirangkai oleh seorang alaNila.

Siapa tuh alaNila? Bisa dikatakan itu adalah nama pena saya, setelah beberapa tahun memikirkan nama pena apa yang cocok, tapi belum ada yang sesuai. Sebenarnya sih, enggak terlalu spesial, karena hanya ditambahkan kata "ala", yang menunjukkan ke-khas-an milik seseorang. Tapi kata tersebut saya sambungkan dengan nama Nila, supaya agak terlihat seperti sebuah kata yang menunjukkan satu nama tertentu.

Kalau dipikir-pikir alaNila juga bisa dijadikan singkatan dari nama alamat email saya di Yahoo, "amalianila". Hehe bingung kah? Atau berpikir saya terlalu maksa? Enggak masalah, karena saya sendiri juga tidak mengalami proses yang ter-amat serius saat memikirkan nama tersebut. Tiba-tiba saja seperti ada bisikan dari nurani untuk mulai memakai nama tersebut dalam beberapa kalimat atau tulisan utuh yang saya buat. Setidaknya saat ini saya sudah punya satu nama pena, yaitu alaNila. Bukan tidak mungkin kedepannya akan ada nama pena lain yang saya gunakan.

Walaupun sudah beberapa lama saya gunakan nama pena tersebut, tapi hari ini, di blog ini, saya resmikan nama tersebut sebagai milik saya. Hehe semoga saja belum ada yang memakainya, kalau pun ada, ya tidak apa-apa. Toh, saya belum menjadi seorang penulis terkenal. Hanya seorang blogger yang berusaha menghasilkan tulisan orisinal di setiap artikel yang dipublikasikan di sini. Maka alaNila adalah saya, Nila Amalia Husna. Terima kasih :).
read more »

Senin, 11 Maret 2013

Diam Saja.

Mengapa mereka sok tahu? Menganggap diam sebagai wujud persetujuan? Tanpa memberikan jeda waktu untuk berpikir lebih lama. Menganggap diam sebagai ketiadaan perlawanan. Padahal diam mungkin saja memiliki berjuta makna.

Saat ragu masih ada, bukankah kita terdiam?
Saat memikirkan sesuatu, juga lebih bisa konsentrasi dalam kondisi diam kan?
Saat terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa dalam waktu singkat, diam seolah menjadi respon refleks yang ditunjukkan tubuh kita.
Saat merasa tahu diri, tidak ingin mengecewakan orang lain, atau merasa tiada daya lagi untuk melawan, juga hanya mampu diam. Bukankah demikian?

Mungkin benar jika kita sebut, kebahagiaan dari sepuluh, dua puluh, atau bahkan lima puluh orang lebih baik, daripada sekedar untuk mencapai kebahagiaan satu orang.
read more »

Minggu, 17 Februari 2013

Salah, Sadar, dan Perbaiki!

Setelah sekian lama menulis di blog tercinta ini, ada satu hal yang baru saya sadari. Tepatnya setelah dua hari ini tidak sempat meng-update tulisan, karena dilanda dismenore. Selain jungkir balik, duduk salah, berbaring salah, hibernasi setelah hari sebelumnya hanya tidur 3 jam, dan kemarin malam begadang menonton Perahu Kertas 2, kegiatan lainnya adalah kembali membaca buku-buku yang lama tak tersentuh.

Akhirnya, saya pun menemukan sebuah kesalahan yang selama ini dilakukan dalam setiap tulisan terdahulu. Yaitu menggunakan huruf kapital untuk penggunakan kata "saya" atau "aku", di tengah kalimat. Dari sekian buku yang saya baca, ternyata tidak perlu menggunakan huruf kapital ketika menyebut "saya" atau "aku" jika terletak di tengah kalimat. Rasanya tidak sempat untuk kembali mengedit setiap tulisan yang sudah terlanjur salah itu. Tapi untuk kali ini dan seterusnya, kesalahan tersebut harus diperbaiki. Dan biarlah kesalahan di tulisan terdahulu, menjadi sebuah pengingat dan pembanding antara setiap tulisanku dari masa ke masa.

Benar ternyata, saat saya pernah mengikuti pelatihan menulis dari FLP Ciputat, beberapa tahun silam. Kami diberitahu oleh para senior, bahwa kegiatan menulis tidak terlepas dari kegiatan membaca. Saat bingung mencari ide tulisan, maka kita bisa membaca buku-buku favorit, dan sesaat kemudian maka ide tulisan pun bisa datang bertubi-tubi. Selain membaca, kita juga bisa memperhatikan kejadian, atau segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Dari sanalah kita bisa memikirkan suatu ide untuk dikembangkan menjadi sebuah artikel, opini dari sudut pandang pribadi, puisi, cerpen, atau bahkan novel.

Saya sendiri, masih sebatas mencoba aktif di blog sebagai tempat melatih diri untuk terus produktif menulis. Dan jika ada yang membaca atau berkenan memberikan komentar, saya akan sangat berterima kasih. Karena dari komentar itulah, saya bisa mengukur apa saja yang perlu ditingkatkan dari setiap tulisan. Apa yang harus dikurangi atau diperbaiki, supaya bisa menghasilkan tulisan yang tidak hanya memuaskan batin sendiri akan hasrat menulis. Tetapi juga bisa memberi manfaat kepada siapa pun yang membacanya.

Terkadang tidak selalu harus menguasai suatu bidang terlebih dahulu, baru berani menuliskan tentang hal tersebut. Tetapi, karena sudah ada keberanian menulis itulah, kita bisa mempelajari banyak hal. Dan bukan mustahil jika suatu saat bisa menguasainya, dari setiap proses menulis yang kita lewati.

Bertahun-tahun mempelajari Bahasa Indonesia di bangku sekolah, tidak akan cukup membuat kita paham dan mengaplikasikan EYD dengan baik, tanpa adanya sebuah praktik menulis. Jika saya boleh jujur, rasanya ingin kembali mengulang belajar Bahasa Indonesia dari nol. Tapi, setelah dipikir-pikir justru kebalikannya. Saya menulis, menulis, dan menulis, kemudian dari proses itulah saya bisa sekaligus mempelajari materi Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Terutama bahasa tulisan, yang menjadi latihan awal untuk dapat berkomunikasi secara lisan dengan baik. Salam semangat untuk semua ^_^.
read more »

Senin, 04 Februari 2013

Ketik, Hapus, Ketik Lagi, Delete or Cancel?

"Saya tidak dapat menulis lima kata tanpa mengubah tujuh kata sebelumnya." (Dorothy Parker dalam Goldberg, 2004)

Tumben-tumbenan mengawali tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan tanpa alasan, karena setelah kemarin posting tulisan tentang buku Daripada Bete, Nulis Aja!, kutemukan (tepatnya kembali membaca) sebuah kutipan yang "Gue Banget", bahkan sesaat sebelum menulis artikel kali ini pun masih saja terjadi.

Sudah niat akan menceritakan kalau hari ini antri berdiri selama 2 jam di bank. Kalau diisi ngeblog atau blogwalking, lumayan banget kan? (Ealah, udah diceritain to ya?). Sudah dapat beberapa kalimat hampir satu paragraf, akhirnya dihapus lagi. Ganti akan bercerita tentang kuliner, akibat menonton Chef Billy, dan Chef Arnold berturut-turut di channel berbeda, enggak jadi lagi (nyesek ingat belum siap daftar audisi Master Chef akibat bingung belum punya signature dish -_-).

Sampai akhirnya berhenti sejenak menulis, dengan mengalihkan pandangan ke mentor pribadiku (buku tutorial menulis). Akhirnya, menemukan kutipan tersebut, yang sukses menusuk jantung (lebay *_*). Sekarang sih pakai laptop, jadi kalau edit, hapus, ketik lagi, hapus lagi, cuma berisiko bikin cape si laptop. Kalau dulu, zaman masih corat-coret di kertas, pasti banyak banget kertas tak berdosa, dibuang begitu saja akibat penulisnya terlalu sering mengedit (baca: mencoret) tulisannya. Makanya ada seorang penulis yang berkata seperti ini...

"Keranjang kertas buangan adalah teman baik penulis." (Isaac Bashevis Singer dalam Goldberg, 2004)

Hayoo, ngaku deh pasti sering kan mengalami hal seperti ini? Kadang diri ini juga sempat kesal padaku (maksudnya kesal sama diri sendiri), akibat dengan teganya menekan tombol delete pada tulisan yang sudah setengah jadi lebih dari 5 paragraf. Tapi, ya itu tadi kadang apa yang sudah di-delete itu suatu saat akan diketik lagi. Se-segera mungkin atau setelah jeda waktu sekian hari, minggu, bulan, atau tahunan.

Kesimpulannya memang benar apa kata para penulis yang sudah senior. Saat menulis, hindarilah mengedit tulisan sebelum tulisannya selesai. Memang godaan buat ngedit di tengah-tengah tulisan itu, sangatlah kuat. Dan parahnya kalau sampai tergoda, maka tulisan akan lebih lama selesai atau tidak akan menemui ending-nya. Alias akan menemui kebuntuan.

Sampai di sini dulu ya. Tampaknya "Malam Minggu Miko"-nya Bang Raditya Dika dkk. udah menggoda minta ditonton. Good night all :).



read more »

Minggu, 20 Januari 2013

My Top 10 Posts

Sekedar iseng melihat daftar peringkat postingan yang sering dikunjungi oleh para peselancar internet yang mampir kemari. Dan ada 10 tulisan yang paling sering dikunjungi, setidaknya sampai detik ini di hari Minggu, tanggal 20 Januari 2013. Bukan untuk pamer, tetapi penulis sebagai admin tunggal blog ini, hanya ingin melakukan brainstroming mencari ide untuk tulisan-tulisan selanjutnya. Mudah-mudahan saat ada yang membaca postingan kali ini, ada juga yang mendapatkan ide baru buat tulisannya (semoga). Walaupun mungkin banyak yang membaca kesepuluh tulisan tersebut merasa terjebak karena ternyata tulisan yang ada tidak sesuai harapan. Setidaknya sedikit banyak kuketahui tren atau kecenderungan kata kunci apa yang banyak diketik oleh semua peselancar dunia maya dari berbagai penjuru dunia. Nah, kalau sudah tahu kata kunci yang banyak dicari, kemungkinan besar kalau kita membuat tulisan menggunakan kata kunci tersebut, pengunjung blog akan meningkat. Alexa rank juga makin bagus (hehe masih newbie, jadi masih penasaran sama si Alexa yang kadang membengkak atau menyusut tanpa kita tahu sebab pastinya). Baiklah, berikut 10 peringkat teratas di http://nilaamalia14888.blogspot.com/. 

213 pageviews. Sesekali mencoba membuat review dari sebuah lagu, dan ternyata tidak semudah saat membaca hasil review dari blogger lain. Nyaris setiap hari ada saja yang mampir ke tulisan yang satu ini, berarti entah dramanya atau lagunya memang disukai banyak orang. Terutama saat demam Korea sedang mewabah seperti sekarang ini. Penulis tidak bisa dikategorikan seorang K-popers atau fanatik dengan musik dari negeri gingseng tersebut. Hanya menyukai K-drama (itu pun belum sampai tahap fanatik) yang ceritanya menarik dan mengajarkan banyak hal positif. Setelah menonton dramanya, barulah menyukai lagu temanya yang biasanya benar-benar mengandung arti cukup dalam sesuai jalan cerita drama. So, it's start from the story to the song.

147 pageviews. Berawal dari sikap heran dan penasaran bagaimana sebuah girlband (itu dulu, sebelum tahu kalau istilah untuk JKT48 bukan girlband tapi Idol Group) beranggotakan lebih dari 20 orang, dan punya begitu banyak fans yang didominasi kaum Adam. Ternyata lirik lagunya cukup membuatku tertarik, dan mengakui kualitas mereka dari segi lagu dan suara (not to their fashion style *_*). Seperti dugaanku, banyaknya jumlah pengunjung di tulisan ini, tidak terlepas dari banyaknya jumlah fans JKT48 yang selalu ingin mengetahui perkembangan idola mereka. Tapi apa mau dikata, Aku bukanlah seorang yang fanatik berlebihan jika menyukai sesuatu hal, jadi belum bisa menghasilkan tulisan lagi berkaitan dengan JKT48. Maybe next time. or maybe never write it again. Who knows?

94 pageviews. Diawali dari sebuah tema yang diberikan oleh panitia penyelenggara kompetisi blog. Pada masa kompetisi berlangsung, kemungkinan besar pengunjung adalah sesama peserta kompetisi yang ingin sekedar mengetahui tulisan peserta lainnya. Sama sepertiku yang selalu ingin tahu tulisan blogger lain yang menulis dengan tema sama, untuk mengetahui kekurangan dari tulisanku, dan belajar dari tulisan orang lain. Seiring dengan berakhirnya kompetisi tersebut, ternyata tidak membuat tulisan ini kehilangan pembaca. Karena kita ketahui bahwa batik merupakan salah satu aset budaya Indonesia, yang tidak akan lekang tergerus zaman. Selalu akan ada yang ingin mencari tahu dan mempelajari semua tentang batik, meski hanya lewat media internet. Jadi inilah sebabnya tulisan bertema batik ini menempati urutan ketiga dari seluruh total tulisan yang ada di blogku.

59 pageviews. Ini hanya sedikit coretan hati sekaligus opini yang terinspirasi dari sebuah drama Korea (lagi-lagi masih tentang Korea ^_^) berjudul New Heart. Begitu pentingnya sebuah organ tubuh bagi mereka yang membutuhkan, di saat organ tubuh kita dianggap sudah tidak berarti jika kita meninggal kelak. Tentang bagaimana sebuah organ bisa membuat seseorang mendapat kesempatan hidup dengan baik. Berdasarkan informasi dari traffic source di statistik blog, mereka yang mampir ke tulisan ini mencari informasi dengan kata kunci berkaitan dengan: donor organ, dunia kedokteran, dan drama korea.

45 pageviews. Sekedar ingin menulis sedikit tentang telepati, yang ternyata tidak jarang peselancar dunia maya yang juga tertarik dengan telepati. Mungkin sekedar penasaran, iseng, atau mereka yang benar-benar ingin mempelajarinya untuk berbagai kebutuhan. Kalau ada yang merasa itu sesuai yang Anda pikirkan, jangan khawatir. Daku tidak mampu melakukan telepati kok, cuma sotoy alias sok tahu :).

35 pageviews. Memang zaman sudah moderen, tetapi namanya orang Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang menjunjung tinggi kata orang tua atau nenek moyangku seorang pelaut (ngawur deh), berbagai mitos pun tidak benar-benar hilang sepenuhnya dari kehidupan saat ini. Hanya mencoba membahas keterkaitan mitos dengan apa-apa yang pernah kualami dalam hidup. Percaya tidak percaya. Believe it or not? It's up to you.

28 pageviews. Ternyata kreatifitas itu bukan mutlak dikatakan sebagai bakat bawaan lahir. Buktinya keadaan terdesak mampu membuatku mendadak (terpaksa) mengkreatifkan diri semaksimal mungkin. Terlebih saat itu jika menghadapi seorang balita (sedangkan diri belum berpengalaman menjadi seorang ibu) anak orang lain (bukan anak ibu sendiri alias adik kandungku).

18 pageviews. Menceritakan sedikit tentang salah satu hobiku, dan belajar menuliskan resep suatu hasil karya memasak. Ternyata tidak gampang menceritakan urutan proses memasak, karena salah sedikit bisa membuat orang salah paham dan akhirnya makanan atau minuman yang dihasilkan nanti tidak sesuai harapan. Biasanya sih (berdasarkan kebiasaanku juga), banyak orang yang searching resep masakan di akhir pekan atau masa-masa liburan. Jadi kalau di akhir pekan bingung mau update tulisan apa di blog, coba saja menuliskan tentang resep favorit Anda. Apalagi kalau resepnya punya sesuatu yang lain daripada yang lain, jangan ragu untuk berbagi lewat blog.

18 pageviews. Siapa sih yang tidak kenal dengan Mbak Asma Nadia? Buat yang suka dunia membaca dan menulis, pasti mengetahui dan menggemari karya-karya beliau. Bahkan beberapa cerpenya sudah diangkat ke layar lebar. Beliau adalah sosok penulis yang menginspirasiku untuk belajar menulis, menulis, dan menulis. Banyak amat kata menulis-nya? Bukan apa-apa, karena memang pada dasarnya kalau ingin menjadi seorang penulis, ya itu tadi langsung praktek menulis, menulis, dan menulis. Jadi kuawali dari sebuah blog inilah, media tempatku menulis, menulis, dan menulis (hehe ngeles nih, bilang aja udah bingung mau nulis apa lagi).

16 pageviews. Keberadaan tulisan ini di peringkat 10, sangat diluar dugaan. Karena ini hanya sebuah cerita aneh yang berefek traumatis padaku di masa lalu. Mungkin karena ada kata-kata lipstik ya, sebagai salah satu benda yang identik dengan kecantikan wanita. Dari zaman Cleopatra sampai zamannya Kate Middleton (apa hubungannya ya?), kecantikan fisik selalu dianggap penting oleh mayoritas wanita di seluruh dunia. Sekalipun ada seorang cewek tomboy nan cuek sama penampilannya, suatu saat bisa saja menjadi manusia yang paling khawatir sama penampilannya. Terutama kalau sudah terserang si virus merah jambu tapi jelas bukan jatuh hati kepada Marmut Merah Jambu (hehe peace ya Bang Raditya Dika...), tetap suka sesama manusia.

Itulah kesepuluh postingan paling sering dikunjungi (selama enam bulan umur si blog) di sini. Mau lanjut ke lokasi, ya silahkan... Tidak dipungut biaya kok. Mau langsung keluar dari blog ini karena udah mual baca tulisanku, jangan ragu-ragu muntahin aja sekarang (ga bakal ngotorin halaman "rumah blogku" kan?). Terima kasih sudah mau mampir dan membaca tulisan-tulisan aneh nan (memaksa) unik ini. Have a nice day ^_^.
read more »

Rabu, 16 Januari 2013

Am I Invisible?

Tanpa disengaja, playlist winamp sudah sampai di lagunya Taylor Swift yang berjudul Miss Invisible. Jadi merasa tertohok. Bukan apa-apa, kayaknya pernah dan memang sedikit mengakui bahwa nyaris menjadi manusia yang antara ada dan tiada di lingkungan bernama sekolah. Bukan karena sering bolos atau kabur di saat jam pelajaran, tetapi mungkin saking pasifnya di kelas atau di lingkungan asrama pas zaman mondok.

Mungkin kalau suatu saat ada reuni sama teman-teman dari lingkungan SD, hampir dipastikan Aku menjadi orang yang dapat rekor dilupakan wajahnya sama mereka. Apalagi dulu waktu SD belum pakai kacamata dan kerudung, jadi akan semakin mudah dilupakan. Alasan lainnya, waktu SD itu satu angkatan ada delapan kelas yang masing-masing kelasnya terdiri dari 36 murid (ini minimal loh). Banyak banget kan? Tapi banyaknya jumlah murid tidak akan serta merta membuat teman dan guru melupakan wajah atau namaku kalau memang diriku dulu adalah murid yang cukup eksis. Ya, tapi itu tidak membuatku menyesal. Memang kenyataannya demikian, dan cukup jadi sebuah cerita yang bisa dikenang.

Gara-gara saking pasifnya diriku di lingkungan sekolah, maka ini juga yang menjadi alasan utama Mama untuk menitipkanku di sebuah pondok pesantren. Beliau ingin supaya anaknya ini lebih bisa bersosialisasi dengan orang lain, bahasa gaulnya mungkin lebih eksis dan "tampak" benar-benar ada. Ada kemajuan meski sedikit, karena mau tidak mau 24 jam tinggal di suatu tempat asing dan bertemu orang banyak. Tapi, sekeras apapun kita berusaha berubah, tetap akan lebih tampak diri kita yang sebenarnya. Dan kenyataannya Aku masih seseorang yang pasif. Nyaris tidak pernah bersuara di kelas, jarang bisa menimpali obrolan teman-teman dengan asik. Setidaknya itulah respon yang pernah kutangkap, ketika sesekali kucoba menimpali gurauan mereka dengan candaan juga. Hasilnya sering menjadi hambar, garing nan jayus. Oke, dunia belum runtuh. Mungkin memang kita tidak perlu memaksakan diri untuk selalu bisa terlihat menyatu dengan lingkungan sosial. Walaupun tidak dipungkiri, masa remaja membuat seolah diri merasa tidak berguna, ketika tidak mendapat penerimaan secara nyata dari lingkungan teman sebaya.

Sesekali sensitif, melankolis, atau terlalu mendramatisir masalah. Wajar. Tetapi bukan tidak pernah juga diriku merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Hanya saja, lagi-lagi ternyata memang kita tidak perlu memaksa diri berubah, hanya perlu lebih mengerti tentang mereka, dan mencoba menerima keadaan jika sudah berusaha melakukan yang terbaik. Ke-invisible-an yang telah mendarah daging di tubuh ini, pada awalnya sempat membuatku takut ketika harus menjadi salah seorang pengurus kamar atau OPDM (OSIS kalau di sekolah umum). Benar-benar harus turun ke "lapangan", membimbing adik-adik kelas untuk bersama-sama menegakkan disiplin dalam berbagai hal. Ada ketakutan tidak mampu bicara dengan lantang di depan mereka, ketakutan tidak didengarkan, dan lebih takut tidak mampu menjalankan amanah. Tapi jika dijalani dengan kenekatan dan berusaha melakukan yang terbaik, semuanya bisa berakhir indah (meski di tengah-tengah kadang memang muncul beberapa masalah yang cukup membuat terpuruk sesaat).

Lagi-lagi masalah tentang nyaris menjadi "gaib"nya diriku selama sekitar enam tahun sekolah di pesantren. Di malam gladi resik acara perpisahan, Aku dan beberapa teman bertemu dengan kakak kelas (laki-laki) kami yang sudah menjadi seorang alumni. Memang beliau termasuk banyak mengenal adik kelas yang perempuan, karena keaktifannya membimbing kegiatan ekskul. Dan ketika beliau melihatku, maka dengan yakinnya menebak bahwa Aku adalah seorang murid baru, atau paling tidak hanya 3 tahun mondok. Jelas saja kusangkal, karena kenyataannya Aku sudah 6 tahun mondok, bahkan masuk sejak hari pertama penerimaan resmi murid baru tahun 2000 (saking terpaksanya mondok, jadi masih sangat ingat). Kemudian kakak kelas itu masih saja tidak percaya, dan mengatakan kalau tidak pernah sekalipun melihat wajahku sebagai murid lama di sini (wah, benar-benar kenal sama semua warga pesantren kali ya kakak kelas ini). Sampai akhirnya setelah 3 orang temanku membantu menyakinkannya, baru beliau berhenti mendebatku, yang akhirnya minta tolong padaku untuk memanggilkan temannya yang sudah jadi ustadzah (wah, kalau mau minta tolong kenapa harus debat dulu ya?). Di perjalanan menuju kamar ustadzah, aku berpikir sebegitu invisible-nya kah diri ini sejak dulu? Embeeeerrrrrrr........:)

Tapi tidak kusangkal akan hal itu, dan memang sifat selalu menjadi orang yang "antara ada dan tiada" sudah sulit dihilangkan 100% dari diriku. Makanya Aku mulai menulis, biarlah yang visible hanya tulisan-tulisanku yang kadang aneh tidak berkonsep. Di blog ini pula kunikmati menjadi seorang Miss Invisible. Orangnya tidak terlihat, meski ada sesuatu hal yang meyakinkan dunia bahwa Aku masih ada. Hey, here I am, behind my blog.
read more »

Minggu, 13 Januari 2013

(Nyaris) Menjadi Mediator Penular Virus

DAAI TV menyiarkan suatu acara yang membahas tentang penyakit cacar, yang mengingatkanku bahwa dulu si virus yang lumayan terkenal ini pernah menginap di tubuhku. Tepatnya cacar air, yang nyaris saja membuatku sebagai manusia penyebar virus cacar di pesantren. Lagi-lagi di pesantren, maklum kurang sekitar 6 tahun masa sekolah dihabiskan di sana jadi banyak sekali kisah yang terjadi. Bahkan kupikir jika disusun menjadi sebuah novel, mungkin akan tetap ada kejadian yang harus dilewati supaya ketebalan naskahnya sesuai dengan permintaan penerbit (aduh, ngayal aja) Siapa tahu suatu saat kesampean bisa menuliskan kisah memoar atau fiksi tentang suka, duka, dan konyolnya kehidupan santriwati dari sudut pandang yang tidak biasa.

Waktu itu masih kelas 2 Aliyah/SMA, dan memang beberapa hari sebelumnya sedang merasa sangat bosan dan ingin pulang (mungkin bawaan kekebalan tubuh yang menurun). Akhirnya dengan kenekatan tingkat tinggi, mendatangi kantor pengasuhan (kantor guru yang bertanggung jawab atas segala hal yang berhubungan dengan asrama terutama masalah perizinan) dan mencoba meminta izin pulang meski tidak ada keperluan apa-apa. Entah karena memang tidak bakat berbohong, atau pengaruh kekebalan tubuh yang menurun, membuat ustadzah sepertinya tahu bahwa Aku tidak benar-benar punya keperluan mendesak yang mengharuskan pulang ke rumah. Maka setelah semenit dua menit berusaha memohon, dan mendapat respon yang kurang menyenangkan, maka kuputuskan kembali ke kamar dengan rasa kesal yang siap meledak kapan pun.

Tapi akhirnya cuma bisa meluapkan kekesalan di atas sebuah kertas. Kira-kira begini isi coretannya (beneran coretan seperti cakar ayam tak berbentuk). Sekali lagi ini sungguh isi hati saat emosi sudah hampir meledak, jadi jangan ditiru untuk diungkapkan di depan orang banyak, kecuali lagi akting buat pementasan teater. Sekali lagi ini hanya diungkapkan di atas sebuah kertas, tanpa ada siapa pun yang tersakiti karena mendengarnya. Tapi kemudian kusadari ada seekor kucing yang dari jauh seolah mengamatiku dengan tatapan laparnya.Glek!!!

Kenapa sih yang lain kayaknya gampang banget kalau minta izin? Giliran gue, udah jarang izin keluar, pulang juga jarang, susaaaah banget dapet izin. Padahal gue ga pernah kabur atau melanggar pelanggaran berat,.Apa iya semakin bandel santri bakal semakin gampang izin soalnya ustad/zah takut kalau ga dikasih izin itu anak tetap berani kabur, yang mau ga mau nambah satu masalah lagi yang bikin pusing kepala para ustad/zah. Buset dah, kalau gitu kenapa dari dulu gue ga jadi anak bandel aja ya? Kalau sekarang baru mulai bandel sih telat, udah jadi pengurus dan kurang 2 tahun lagi juga lulus. Sabar aja deh demi ortu. *dalam sekejap kertas berisi coretan kemarahan ini, berubah menjadi puluhan bagian kecil, dan segera meluncur ke tong sampah depan asrama.

Masih ingat tatapan lapar si kucing, atau mungkin tatapan ketakutan melihat manusia sedang ber-emosi tinggi duduk di depan pintu kamar asrama saat hujan sedang mengguyur Bogor sore hari? Ternyata setelah kuamati si kucing memang sedang kelaparan plus kedinginan. Sempat meringkuk sebentar, kemudian bangun menuju tong sampah, yang tadi sudah kutambahkan isinya dengan kertas luapan emosiku. Dengan susah payah seekor kucing kecil memasukkan kepalanya, di mulut tong sampah yang tingginya sekitar 1 meter. Berusaha mencari seonggok tulang ayam, atau makanan jenis apa pun itu yang bisa mengobati rasa laparnya. Sungguh kucing saja mau berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya, walaupun risikonya dia bisa terkena tampias air hujan yang turun dari genting. Dan saat itu pula si kucig telah memberikanku sebuah inspirasi untuk menulis semacam artikel. Memang tidak pernah sampai dipublikasikan, tapi masih tersimpan di salah satu buku harian lamaku. Setidaknya saat itu, selain kemarahanku mulai mereda Aku bisa latihan menuliskan isi pikiranku ke dalam bentuk tulisan. Jadi lupakan masalah ustadzah yang tidak memberi izin pulang, dan terima kasih pada si kucing telah menjadi sumber inspirasiku. Terima kasih Allah, waktu itu Kau tidak membiarkanku melakukan hal-hal nekat.

Kemudian beberapa hari kemudian, Aku merasa ada yang aneh dengan badanku. Agak sedikit demam, dan lebih lemas dari hari biasanya. Tambah terkejut lagi sewaktu menyadari ada dua gelembung putih berisi air, di bagian perut dan belakang telinga. Sempat bingung sendiri, sampai akhirnya gelembung yang ada di belakang telinga pecah sendiri. Jadi ingat kalau adik bungsuku dulu pernah terkena cacar air waktu masih balita, dan kurang lebih gelembungnya mirip seperti itu. Hanya saja mungkin karena masih terlalu kecil, jadi jumlah gelembungnya sangat banyak di sebagian besar anggota tubuhnya. Maka setelah menceritakan hal ini ke salah seorang teman, dia segera menemaniku pergi ke klinik pesantren untuk periksa ke dokter umum yang jaga sore itu.

Setelah kuceritakan dan kutunjukkan gelembung berisi cairan tadi, dokternya dengan cepat memberi kesimpulan bahwa bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Sama sekali tidak mengungkit ini adalah cacar, dan hanya memberikan beberapa butir vitamin. Sebenarnya merasa tidak puas, masalahnya sempat ada beberapa teman yang mengatakan tidak cocok berobat dengan dokter itu (tapi sekarang kabar yang Saya dengar tenaga medis di klinik pesantren kami sudah benar-benar kompeten). Bukan masalah isu seperti itu, tapi yang Saya rasakan ini aneh bukan sekedar kurang vitamin atau penyakit kulit biasa. Masih merasa gemetar dan badan mulai menghangat, wajah memerah dan gelap (kalau gelap memang sudah sejak dulu kulitnya gelap). Karena khawatir jika ini benar-benar penyakit cacar yang bisa dengan mudah menulari teman-teman di asrama, akhirnya Aku ditemani kedua orang teman segera pulang ke rumah hari itu juga. Kali ini jelas mendapat izin, dan kebetulan bukan jadwalnya ustadzah yang waktu itu menolak permohonan izinku. Setelah melewati perasaan yang campur aduk di dalam angkot, akhirnya kami sampai di rumah, dan kedua temanku segera kembali ke pesantren. Terima kasih teman-teman.

Malamnya, Mama segera membawaku periksa ke rumah sakit. Setelah menjalani pemeriksaan, di mana dokter itu mengamati gelembung yang keduanya sudah pecah, serta mengeluarkan sensasi hangat itu, dengan bantuan cahaya lampu. Benar saja, dokter yang kali ini mengatakan bahwa gelembung air yang muncul di tubuhku adalah gejala awal dari cacar air. Akhirnya selain diberikan obat-obatan luar dan dalam, dokter juga memberikan surat keterangan dokter, supaya Aku bisa istirahat di rumah selama beberapa hari sebelum kembali ke pesantren.

Ternyata cacar air yang kualami ini tidak separah adikku dulu. Mungkin karena Aku mengalaminya saat kekebalan tubuh sudah mulai menguat, tidak seperti kekebalan tubuh anak balita. Jadi memang tidak terlalu banyak gelembung cacar air yang muncul selama beberapa hari istirahat di rumah. Selain itu juga dikarenakan pemberian obat sudah dilakukan di masa-masa awal perkembangan virus, jadi si virus juga mungkin belum begitu kuat menahan gempuran obat. Ada satu hal yang baru kuketahui tentang cacar air. kata orang-orang dulu, selama sakit cacar tidak boleh mandi. Tapi dokter yang memeriksaku mengatakan, malah harus mandi untuk menjaga kebersihan tubuh, cuma air yang dipakai mandi harus diberi sejenis obat khusus. Obat khusus itu berbentuk bubuk berwarna ungu agak berkilauan, sehingga kalau dicampur ke dalam air, warna air berubah menjadi ungu kebiruan. Jadi ingat blao yang kadang dipakai beberapa teman untuk mencuci pakaian. Ingat teman-teman, jadi ketakutan kalau-kalau saat ini atau nanti jika kukembali ke pesantren, menulari teman-teman menjadi penderita cacar. Semoga tidak terjadi, lagi pula sebagian besar mereka bilang kalau sudah terkena cacar saat masih kecil. Konon katanya cacar hanya bisa menjangkiti manusia sekali seumur hidup, benarkah demikian?

Beberapa hari sudah lewat, dan tubuh sudah merasa lebih fit. Hanya bekas-bekas gelembung cacarnya yang belum semuanya hilang dari tubuh. Saat kembali ke pesantren juga masih harus mandi dengan air berwarna ungu. Syukurlah tidak ada satu orang pun teman-teman yang tertular cacar dariku. Mereka sehat wal'afiat, hanya ada satu kejutan untukku. Kemarin ada pemeriksaan lemari dari pengasuhan. Lemariku yang memang sedang rusak kuncinya, otomatis juga menjadi sasaran pemeriksaan. Isinya jangan ditanya lagi, super berantakan. Awalnya santai karena tidak merasa menyembunyikan barang terlarang, tetapi setelah memeriksa lebih teliti ada yang disita. Ya, sebuah kaset nasyid. Please deh, bukankah setiap sore juga selalu diputar kaset nasyid dari pengeras suara? Berarti itu bukan sesuatu yang terlarang kan? Lagipula kaset itu baru kubeli saat ada bazar yang diadakan di dalam pesantren. Jelas-jelas dijual di dalam lingkungan pesantren, berarti siapa saja boleh membeli dan menyimpannya, termasuk seorang santri. Padahal belum pernah sekalipun di putar, niat membeli selain untuk koleksi pribadi juga bisa digunakan saat ada acara organisasi kelak. Masih ingat kalau itu kaset Justice Voice. Dan akhirnya suatu ketika Aku mendengar lagu nasyid dari kaset itu diputar di pengeras suara. Bukan sok ngakuin, tapi sebelumnya kaset itu belum ada di dalam kotak koleksi kaset milik bersama. Ya sudahlah, setidaknya Aku masih bisa mendengarkan lagunya. Loh, malah bahas kaset, piye to' nduk?

Akhirnya diriku berkenalan juga dengan yang namanya virus cacar air, bahkan si virus sempat menginap di tubuh selama berhari-hari. Akhirnya keinginan untuk pulang ke rumah, kesampean dan lebih dari satu hari malah. Akhirnya juga Aku senang karena tidak menjadi seorang mediator utama penyebar wabah cacar air di pesantren, karena lebih cepat diketahui sebelum terlambat. Dan akhirnya saat ada acara lomba nasyid antar santri, Aku bisa memegang kembali kasetku meski judulnya tetap meminjam kepada pihak pengasuhan, untuk dipakai selama lomba berlangsung ^_^. Akhirnya tulisanku ini selesai. Selamat petang menjelang malam pemirsa!!!


read more »

Kamis, 03 Januari 2013

5 Bulan 45 Posting 1001 Pageviews

Bagi para blogger profesional dan mereka yang sudah lama menjadi seorang blogger, bukan hal aneh untuk mencapai 1000 pageviews perbulannya. Bahkan untuk blog yang sudah terkenal di dunia maya, tidak mustahil jika ratusan atau ribuan kali halaman blognya dilihat orang lain hanya dalam waktu 24 jam alias sehari. Namun, bagi Saya angka 1001 pageviews dalam jangka waktu 5 bulan adalah suatu pencapaian yang cukup wah. Maaf bukan bermaksud narsis, hanya saja jika diingat masa lalu yang sempat dua kali memiliki akun blog tapi riwayatnya harus berakhir karena tidak pernah diurus, bahkan sudah tidak ingat lagi username dan passwordnya.

Sedangkan kali ini untuk pertama kalinya bisa tetap mempertahankan blog ini selama 5 bulan dengan jumlah posting yang lumayan banyak (Menurut Saya pribadi loh, mungkin menurut orang lain ini masih sangat sedikit.) meski dari segi kualitas tulisan memang masih abal-abal. Justru ke-abal-abal-an itu memang muncul karena niat diri yang ingin meminimalisir dan ingin suatu saat benar-benar mengeliminasi segala bentuk copy paste. Jadi sebisa mungkin hal-hal yang ingin diposting adalah hal yang benar-benar dialami sendiri, atau jika memerlukan referensi tertentu, ya wajib hukumnya untuk mencantumkan sumber referensi.

Terima kasih kepada para pengunjung blog ini, hehe maaf ya kalau ada yang merasa terjebak masuk ke sini dan kecewa jika informasi yang dicari tidak sesuai harapan. Tapi yang jelas terjebak atau tidak, Anda sekalian telah berkontribusi menaikkan jumlah statistik blog Saya. Terima kasih juga kepada http://dotsemarang.blogdetik.com/ yang telah mengadakan Liga Blogger Indonesia (LBI) di Bulan Oktober 2012 lalu. Dengan kegiatan tersebut memotivasi Saya untuk rutin menambah tulisan baik dengan tema yang ditentukan atau dengan tema yang Saya inginkan. Sedikit banyak membuat Saya belajar juga menemukan gagasan dan tema apa yang akan ditulis di posting selanjutnya. Mungkin peserta LBI lainnya juga merasakan hal yang sama dengan Saya, yaitu ada yang kurang ketika dalam satu minggu tidak memposting minimal 1 atau 2 tulisan. Soalnya selama LBI berlangsung, untuk mendapatkan poin minimal setiap minggunya saja kita jadi harus memposting satu tulisan dengan tema wajib, dan dua tulisan dengan tema bebas. Benar tidak ya? Kalau salah maaf ya, maklum sepertinya ingatan jangka panjangnya mulai melemah :). LBI juga secara tidak langsung membuat jumlah posting dan pengunjung blog kita meningkat.

Intinya, sekedar ingin berbagi dan mungkin ada blogger yang mengalami hal sama seperti Saya dulu, ketika mulai bingung mau posting tulisan apa lagi di blognya. Siapa tahu bisa menularkan semangat untuk tetap aktif mengurus dan menghidupkan blognya dengan tulisan-tulisan originalnya. Ada yang baca syukur, tidak ada yang baca juga tidak apa-apa. Tepatnya belum terbaca saja, karena menyimpan tulisan di blog, menurut Saya akan abadi selama belum ada kiamat internet. Meski pemilik akun blog-nya sudah meninggal, tulisannya memungkinkan dibaca oleh siapa pun dan kapan pun. Salam!
read more »

Jumat, 05 Oktober 2012

Maka Aku Menulis

Karena tak semua kisah bisa dan mesti diceritakan.

Karena tak semua pendapat dan gagasan bisa langsung tersampaikan.

Karena ada hal yang cukup untuk disimpan sendiri, itulah rahasia.

Karena rahasia terkadang membuat sesak, bahkan sesekali ingin diungkap meski hanya di atas kertas.

Karena pesan tak harus diucapkan dalam bentuk lisan.

Karena kadang bibir terasa kaku untuk sekedar menyapa dan menyampaikan isi hati.

Karena tulisan kadang mampu meredakan emosi daripada sebuah nasehat panjang yang keluar dari mulut.

Karena kadang secarik kertas bersama sebuah pulpen bisa menjadi sahabat terbaik di setiap waktu.

Karena hidup ini harus tetap dijalani sampai kita mencapai batas waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Karena kita tidak tahu kisah siapa yang akan menjadi pelajaran berharga bagi manusia lain di masa depan.

Maka Aku Menulis....
read more »

Jumat, 07 September 2012

Because of "Rembulan di Mata Ibu (a Book Written by Asma Nadia)"

Salam untuk semua pembaca blog ini (kayak banyak yang baca aja deh, padahal belum tentu juga ada yang mau baca ^_^). Mungkin salah satu hal yang ada di benak pengunjung blog ini adalah "Sebetulnya mau fokus nulis apa sih? Kok kadang promosi, kadang curhat berlebay ria, kadang bikin cerpen yang membosankan, kadang buat puisi yang melenceng dari aturan penulisan puisi, nulis opini yang ngambang, terus mau kasih informasi tapi terkesan enggak up to date banget."

Oke, jangan kira itu cuma ada di pikiran pembaca, penulisnya aja bingung mau memfokuskan blog ini khusus tulisan apa. Kenapa? Hal ini dikarenakan penulis bukan tipe yang sudah paham betul passion nulisnya tuh untuk tulisan tertentu. Intinya hanya ingin belajar menulis apa saja yang menurut Saya menarik dan membuat diri kita merasa enjoy waktu ngerjainnya. Tentunya di akhir juga belajar mengedit bagaimana menulis sesuai EYD. Walaupun seringnya tetap masih saja ada yang terlewatkan untuk diedit sesuai EYD.

Kalau diingat-ingat ke belakang, mungkin pertama kali keinginan membuat tulisan itu, pengen banget bisa menulis cerpen atau apa pun yang masuk kategori fiksi. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masa SD, keluar masuk perpustakaan di sela-sela waktu istirahat sekolah. Apalagi kalau bukan cari buku menarik (terutama buku cerita atau novel yang zaman dulu tren seperti serial Lupus dan Lima Sekawan). Untuk dua buku tersebut, bahkan perlu antri kalau mau pinjam karena peminatnya banyak banget. Kalau ada buku baru selalu dipajang di lemari kaca khusus, beberapa hari sebelum buku tersebut boleh dipinjam. Alhasil, pagi hari ketika hari - H, pagi sebelum kelas dimulai sudah pada ngantri menunggu perpustakaan buka. Siapa pun yang berhasil menjadi peminjam pertama akan diteror oleh teman-teman lain.  

"Eh, Kamu minjem Lima Sekawan yang baru itu ya? Habis Kamu siapa, kalau mau ngembaliin buku ajak Aku ya?" 

Kira- kira seperti itu lah teror-an khas ala anak SD yang hobinya nongkrong di perpustakaan. Kalau ternyata sudah keduluan yang lain pun, sang peneror akan mengalihkan pencarian buku yang diinginkan pada target lainnya. Termasuk Saya juga sering menjadi pelaku teror atau pun yang diteror :). Malah keasyikan nostalgia zaman jadi pengunjung setia perpustakaan.

Intinya diawali kekaguman pada para penulis yang punya dunia khayal level tinggi. Bukan hanya sekedar kemampuan berimajinasi tentunya, ditambah kemampuan berbicara dan bercerita lewat tulisan. Meski ketika masuk pesantren (masa Mts/SMP dan MA/SMA) sudah enggak jadi anak perpustakaan lagi (ini terpaksa karena letak perpustakaan yang ada di kawasan putra), kebiasaan membaca kisah fiksi masih berlanjut. Kadang kalau uang jajan ada lebih, maka tanpa ragu pasti beli buku atau majalah islami (selalu nungguin majalah Annida nongol di koperasi pesantren). Perlu diketahui (hehe udah pada tahu kali ye...) di pesantren itu bacaan berupa komik dan novel non islami, itu terlarang. Kalau tetap nekat bawa dan ketahuan, bisa-bisa disita dan ngenesnya tidak akan dikembalikan walau waktu libur tiba.

Saat itulah awal-awal mengenal karyanya Mbak Asma Nadia, salah satu kumpulan cerpennya yang pertama Kumiliki berjudul "Rembulan di Mata Ibu". Walau di dalamnya banyak cerpen-cerpen islami, tapi khusus cerpen berjudul "Rembulan di Mata Ibu" cukup memberikan kesan mendalam. Kisah tersebut menyampaikan pesan bahwa, tidak selamanya seorang ibu kandung selalu berlemah lembut pada putrinya. Ada alasan mengapa ibu bersikap tegas, berkata dengan nada tinggi, dan sulit diajak kompromi dalam hal tertentu. Itu semua justru dilakukan seorang ibu, karena anaknya sangat spesial bagaikan rembulan, yang diharapkan menjadi pribadi kuat menghadapi hidup yang tak selalu menghadirkan kemudahan dan keindahan. Subhanallah, ada beragam cara untuk menunjukkan kasih sayang.

 Ini cover bukunya :)

Kisah tersebut mampu membuat air mengalir dari mata ini. Tidak hanya sekedar terharu, tapi juga terpacu bagaimana mampu membuat tulisan berbeda tapi sama-sama mampu mengaduk emosi pembacanya, seolah tidak sekedar membaca tapi mendengar dan menonton kisahnya. Maaf jika deskripsi Saya tentang cerita tersebut agak melenceng, karena sampai tulisan ini diterbitkan di blog, Saya belum menemukan buku tersebut. Maklum itu lebih dari 9 tahun, mungkin terselip di antara buku lama atau memang hilang karena kebiasaan saling meminjam buku antar kawan semasa masih mondok dulu.

Mungkin harapan untuk menjadi seorang penulis profesional masih amat sangat jauh. Bahkan jika melihat kenyataan, akan sangat malu menyampaikan pada dunia salah satu mimpi itu. Tapi, seperti banyak jawaban para penulis terkenal saat ditanya resep rahasia menulis. Hanya satu jawaban yang nyaris semuanya pasti setuju, yaitu "Menulislah, menulis, dan menulislah!"

Maka blog ini memang tidak memiliki fokus terhadap suatu jenis tulisan, pembaca akan menemukan berbagai macam tulisan, yang masih jauh dari standar penulisan. Memang Saya masih dan terus perlu belajar menulis. Mungkin banyak tulisan Saya yang belum memberikan manfaat untuk pembaca, tapi selalu dan mencoba supaya apa yang ditulis dapat memberikan sesuatu hal positif pada pembacanya.

Selamat membaca ^_^,



read more »