Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Mei 2013

Hidup Tapi Mati

Hidup tapi tidak hidup
Belum mati tapi seakan telah mati

Ingin tapi tidak ingin
Ada mimpi tapi tak kuasa mewujudkan

Diam, kuterdiam
Terpaksa bicara meski tanpa makna

Lelah
Bosan
Padam
Gelap

Mayat hidup kah?
Atau sejenis zombie yang tak berwujud menyeramkan?

Selalu berharap tidak melihat mentari esok
Tapi masih saja terbangun setelah mati sementara di gelapnya malam

Hidup tapi mati
read more »

Selasa, 30 April 2013

Berharap Akhir Yang Baik

Kadang kita merasa sayang dan berpikir dua kali, saat harus memakai pakaian warna putih dalam beraktifitas sehari-hari. Padahal kelak saat meninggal nanti, khususnya bagi kaum muslim, akan dipakaikan kain berwarna putih yang disebut kain kafan. Menutupi ujung kepala sampai ujung kaki kita. Bahkan saat dikuburkan di dalam tanah merah, langsung terkena bagian dasar tanah yang sudah digali sebagai rumah abadi tempat jasad kita tinggal. Tanpa peti, tanpa tikar, atau kasur busa yang biasa dipakai saat tidur sehari-hari.

Sehari, seminggu, setahun, puluhan dan ratusan tahun kemudian, jasad kita pun musnah meninggalkan tulang belulang tengkorak. Kulit, otot, dan semua organ tubuh yang lunak sudah habis tergerus waktu, dan mungkin saja menjadi santapan lezat makhluk-makhluk Tuhan yang hidup di dalam tanah. 

Jadi buat apa lagi ragu memakai pakaian putih bersih saat melakukan kegiatan di luar ruangan? Setidaknya itu bisa mengingatkan kita akan datangnya maut kapan pun dan dimana pun kita berada. Jika ingat, maka ada upaya untuk memperbaiki diri supaya saat waktu itu tiba, kita sudah benar-benar siap kembali pada-NYA.

Satu persatu kenalan, kerabat, keluarga kita akan meninggalkan kita. Kita pun akan menyusul mereka, atau mungkin diri kita yang mendahului mereka. Tidak ada yang tahu pasti kecuali Dia Yang Maha Esa. Mungkin ada beberapa orang yang diberi kesempatan kedua, setelah beberapa saat mengalami kematian kemudian hidup lagi. Tapi lebih banyak yang tidak memiliki kesempatan kedua, tidak peduli dalam keadaan sudah bertaubat atau belum, malaikat pencabut nyawa tidak akan memajukan atau memundurkan jadwal yang telah ditetapkan. Jadi tugas kita sebagai manusia, hanya berusaha melakukan kebaikan supaya kelak tidak meninggal dalam penyesalan. Semoga kita bisa mencapai akhir yang baik.
read more »

Sabtu, 20 April 2013

Penulis Spesialis Kematian

Entah obsesi atau suatu refleks tertentu yang tidak disadari ketika melakukan setahap demi setahap dalam rangkaian aktivitas menulis, ada satu hal yang sering terjadi dan baru disadari. Yaitu memasukkan kata mati, kematian, meninggal, atau apapun terkait ajal atau maut. Di beberapa tulisan saya, baik fiksi atau non fiksi, mungkin ada lebih dari lima tulisan memuat unsur tersebut, segala hal yang berhubungan dengan kematian. Mau jadi penulis spesialis kematian ya? Ngaco, emang ada apa istilah kayak gitu.

Ada apa? Tanpa diniatkan sebelumnya, hanya saja setiap kali kata tersebut muncul di pikiran, ya otomatis saya masukkan dalam artikel terbaru di blog ini. Begitu juga dengan beberapa karya cerpen (meski mungkin belum bisa dianggap cerpen oleh para penulis fiksi yang sudah mumpuni di bidangnya) yang pernah saya buat beberapa tahun belakangan ini. Selalu saja ada tokoh yang meninggal, hampir meninggal, atau baru saja berniat untuk mengakhiri hidupnya, meski gagal karena belum waktunya Sang Pencabut Nyawa bertugas.

Bohong jika saya mengelak pernah memikirkan kematian diri sendiri, yang entah kapan datangnya. Sedikit banyak tentu sebuah tulisan fiksi pun, akan mencerminkan beberapa hal yang ada di kepala penulisnya. Kecuali untuk penulis yang benar-benar jenius menciptakan sebuah dunia khayal yang murni tidak terinspirasi dari pengalaman atau persepsi pribadi penulisnya. Begitu juga dengan diri ini yang sempat memikirkan (beruntung belum melakukan) hal bodoh nan konyol untuk mencapai sebuah kematian.

Padahal sudah diajarkan sejak dulu, bahwa kematian itu hanya Tuhan yang tahu waktunya, saat itu tiba maka Tuhan akan mengutus malaikat pencabut nyawa menjemput kita. Di mana pun, kapan pun, dan apa pun aktivitas yang saat itu sedang kita lakukan. Ya, ketika emosi menguasai diri ini untuk bertindak konyol, maka sisi lain dari diri kita yang disebut akal akan mengingatkan apa-apa saja yang pernah dipelajari. Salah satunya adalah bunuh diri dengan alasan apapun tidak akan membuat kita memiliki peluang masuk ke surga-Nya. Terima kasih Tuhan telah mencegahku melakukan hal bodoh itu.
read more »

Rabu, 17 April 2013

Just Telling...

Ada yang bilang kalau sebaiknya kita tidak perlu menceritakan sebuah mimpi yang tidak baik. Sebaliknya jika bermimpi hal-hal yang baik, tidak ada larangan untuk menceritakannya pada orang lain. Dengang pengecualian hanya orang-orang tertentu yang dianggap dipercaya untuk mengetahuinya.

Tapi kadang sebelum menceritakannya pada orang lain, kepikiran mana yang termasuk mimpi baik atau mimpi kurang baik. Soalnya sesekali jika bermimpi hal yang berkesan (senang atau sedih) tidak serta merta menceritakan pada orang lain. Jika ada kesempatan, goggling terlebih dulu dari internet. Ternyata kadang maksud mimpi itu kebanyakan berlawanan dengan mimpi yang dialami. Maksudnya saat kita bermimpi hal yang dianggap membahagiakan, justru dianggap sebagai tanda akan suatu kemalangan yang mengintai. Jadi maksudnya mimpi baik atau mimpi kurang baik, itu dinilai dari alur kejadian dalam mimpi atau dari artinya ya?

Ya memang tidak semua mimpi yang kita alami memiliki arti, bahkan sebagian besarnya mungkin hanya sekedar 'film pendek' yang diputar (oleh Tuhan atau makhluk lain) selama kita tertidur. Tapi sedikit banyak, tentu kita bisa merasakan mana mimpi yang hanya sebatas 'bunga tidur' dan mana yang setidaknya menyiratkan sebuah pesan untuk kehidupan kita.

Selama ini memang tidak terbiasa menceritakan mimpi yang dialami ke orang lain, kecuali jika suatu saat terbukti ada kejadian yang berhubungan dengan mimpi itu, terjadi di dunia nyata. Tapi lebih sering menyimpannya dalam hati, karena besar kemungkinan reaksi orang akan beranggapan negatif jika sering kuceritakan banyak hal yang terjadi berhubungan dengan mimpi-mimpi itu.

Tapi, kadang juga ada perasaan aneh saat suatu mimpi yang teramat sangat aneh tapi terasa begitu nyata dialami. Terlebih jika mayoritas penyampai informasi di internet sepakat mengenai arti mimpi tersebut yang mengarah kepada suatu hal yang disebut kematian. Memang tidak sepatutnya terlalu dipikirkan, tapi jika tidak ada yang bisa diajak bicara, bukankah menimbulkan resah selama beberapa waktu? Semoga tidak terjadi apa-apa dengan orang lain. Tidak masalah jika maut itu menghampiriku, asal bukan mereka. Aamiin.
read more »

Senin, 25 Maret 2013

Undangan Hitam

Silahkan datang, kalau sibuk tidak perlu memaksakan diri untuk hadir di hari tersebut. Mohon doanya saja ya.

Hari: Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, atau Minggu.
Tanggal: .... Bulan ............ Tahun 20....
Lokasi: Info menyusul.
Waktu: 24 jam non stop.
Pakaian: Apa saja boleh, yang penting nyaman dan sopan.

*Tidak usah repot-repot bawa amplop atau kado. Doa saja sudah lebih dari cukup.

Maaf jika ada pihak yang belum mendapat undangannya, karena semua sibuk mencari kaveling kosong untuk peristirahatan terakhir nanti. Terima kasih atas waktunya untuk datang/mendoakan saya.
read more »

Sabtu, 05 Januari 2013

Puisi: Bolehkah?

Tuhan.....
Mengapa ada manusia yang ingin hidup 50 tahun lagi, tapi dalam sekejap Kau hentikan hidupnya?
Mengapa pula ada sebagian di antaranya yang tidak ingin lagi hidup walau semenit, tapi Kau larang malaikat-Mu untuk menjemput mereka?

Tuhan.....
Aku tidak mengerti akan semua ini.
Walaupun kuyakin bahwa Kau memiliki alasan tersendiri untuk semua pertanyaan tersebut.
Karena Kau telah menjelaskan bahwa  yang dianggap baik oleh manusia, bisa jadi hal buruk di "mata"-Mu. Begitu pun sebaliknya.

Tuhan.....
Jika boleh kuusulkan suatu ide, walau kutahu diriku tidak lebih dari seorang hamba-Mu yang hina.
Izinkan mereka yang ingin hidup lebih lama, tetap tinggal di dunia ini.
Perintahkan juga malaikat pencabut nyawa untuk menjemput mereka yang benar-benar sudah menantikan kedatangan malaikat-Mu itu.

Tuhan.....
Maaf jika hamba lancang.
Tetapi selain Aku bisa mengajukan permintaan, bolehkah kusampaikan ide ini?
Walau kutahu itu mustahil, setidaknya Aku sudah mencoba berucap.
read more »

Rabu, 02 Januari 2013

Cerpen: Pertemuan Semalam

Kuhisap lagi lintingan ketiga dari rokok favoritku, kuresapi baik-baik rasanya dan menghembuskan asapnya perlahan. Tepat di balkon sempit dari lantai lima sebuah rumah susun yang kusewa bersama tiga teman seperjuanganku di kota ini. Bersama-sama mencari selembar dua lembar uang untuk tetap bertahan hidup, tentu dengan caranya masing-masing. Seperti mereka yang belum pulang meski jam dinding telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ya, kebetulan hari ini ketiganya memang sedang mendapat shift malam di tempat kerjanya masing-masing. Dewi yang bekerja sebagai seorang cleaning service di sebuah rumah sakit pemerintah, Susi seorang pegawai restoran cepat saji yang buka 24 jam, juga si Aini teman satu sekolahku saat SD, yang menjadi seorang operator loket jalan tol.

Saat inilah Aku bebas mengepulkan asap rokok sepuasku tanpa ada yang merasa terganggu dan berkomentar macam-macam. Maklum belum genap enam bulan sejak Aku mengenal dan jatuh cinta pada sebuah benda bernama rokok. Sejak itu pula ketiga temanku secara bergantian selalu mengingatkanku akan kebiasaan baruku yang buruk itu. Terutama Dewi yang memang banyak menghabiskan waktu dengan para dokter, bidan, perawat atau apa lah itu sebutan untuk mereka yang bekerja di rumah sakit, sehingga pengetahuannya tentang kesehatan memang paling banyak di antara kami berempat.

Dalam seminggu Aku hanya datang ke kantorku selama 3 hari kerja, selebihnya bekerja di lapangan atau di rumah. Mengumpulkan berita dan kemudian mengetiknya dan selanjutnya ke kantor untuk menyerahkan hasil liputan atau artikel yang kutulis. Aku bekerja untuk sebuah majalah khusus yang memberitakan segala hal tentang kehidupan para selebritis. Tiga bulan lalu, semua rutinitasku itu berhenti. Tepatnya dipaksa berhenti karena majalah kami dan segala pemberitaan di berbagai media tentang kehidupan pribadi para selebriti (khususnya di TV) telah dilarang oleh sebuah lembaga keagamaan. Hal tersebut dikarenakan pemberitaan mengenai masalah pribadi orang lain, dianggap berdosa dan haram. Hasilnya terjadilah pemutusan hubungan kerja besar-besaran oleh para pelaku industri di bidang tersebut. Aku menjadi salah satu korbannya.

Sudah kucoba untuk mencari pekerjaan di beberapa perusahaan yang berada di bidang jurnalistik lainnya. Tetapi nihil, jumlah pelamar yang banyak (Jelas saja diakibatkan oleh terjadinya PHK besar-besaran), dan tingkat pendidikanku yang tidak bisa mengalahkan mereka membuatku semakin sulit untuk memenangkan persaingan tersebut. Memang Aku hanya lulusan SMA yang kebetulan beruntung bisa menjadi salah satu jurnalis di tempat bekerjaku sebelumnya. Itu pun tidak kuawali dengan langsung diterima sebagai jurnalis, melainkan awalnya Aku diterima sebagai pesuruh, tukang bersih-bersih, dan melakukan segala hal layaknya pembantu di sana.

Tetapi karena Aku cukup lama mengamati cara kerja para karyawan di sana, pada akhirnya Aku mencoba menulis. Saat pimpinan redaksi memberikan topik terbaru untuk edisi mendatang yang ditempel di papan pengumuman, maka Aku pun ikut mengerjakannya meski ditulis manual dengan tangan di atas lembaran kertas tak terpakai dari ruang fotocopy. Tentu saja tidak kuberikan pada Bapak Pimred, melainkan sekedar disimpan sendiri di pantry, ruangan yang seolah menjadi ruang kerja pribadiku. Suatu ketika kertas-kertas coretanku itu dibaca oleh Mbak Noni, sekretaris pimpinan redaksi, dan memberikannya pada Pak Bos tanpa sepengetahuanku. Dan akhirnya Pak Bos pun memberiku kesempatan untuk naik pangkat menjadi anak magang sebagai jurnalis, dan setahun kemudian resmilah diriku diangkat menjadi jurnalis tetap di sana. Tapi kini semua itu hancur begitu saja dalam sekejap.

Dua bulan lalu Aku masih bisa ikut serta membayar biaya hidupku yang selama ini memang selalu dihitung setiap bulannya dibagi empat orang sama rata. Tapi bulan lalu dan bulan ini, Aku tidak mampu memenuhi tanggung jawabku tersebut. Ketiga temanku memaklumi keadaanku, dan berusaha terus menyemangatiku untuk tetap berusaha bangkit. Tapi Aku malu, merasa hanya menjadi beban mereka, bagaimana jika bulan depan pun Aku masih belum bisa ikut menanggung beban hidup kami, beban diriku sendiri saja belum bisa kutuntaskan. Belum lagi jika kuingat kehancuran keluargaku, bapak dan ibu yang akhirnya berpisah 10 tahun lalu, karena seorang wanita yang lebih pantas menjadi kakakku, tapi mendadak menjadi ibu tiriku. Ibu yang kemudian sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkanku untuk selamanya. Aku yang saat itu baru berusia 17 tahun sangat merasa terpukul, dan tentu saja tidak bisa menahan amarah untuk berdamai tinggal di rumah Bapak. Maka kuputuskan kabur, menuju ibukota yang katanya memberikan sejuta harapan, saat itu bersama-sama dengan Aini yang tentu saja dia pergi atas restu keluarganya. Sejak saat itu kuputuskan hubungan dengan Bapak, kupikir dia pasti lebih bahagia tanpa adanya Aku di kehidupannya.

Sudah beberapa hari ini pikiran itu muncul dikepalaku. Menyerah, mati, pergi, dan mengakhiri ini semua. Ya, bunuh diri. Dan malam ini, saat Aku benar-benar sedang sendiri lagi-lagi pikiran itu muncul dan terasa semakin jelas keberadaannya. Sampai hadirlah dua sosok aneh, satu berwajah cerah dengan pakaian putih bersih, dan satunya lagi berwajah hitam legam dengan menggunakan pakaian berwarna merah api. Tapi kenapa keduanya memiliki wajah sangat mirip denganku? Ah, kurasa diri ini mulai berhalusinasi karena mengantuk atau memang Aku sudah tertidur dan ini hanya mimpi? Tapi sedetik kemudian Aku mulai yakin bahwa ini bukan sekedar mimpi saat keduanya mulai mengeluarkan suara dan mengajakku bicara.

(Makhluk berbaju putih): Salam, Saya adalah Jin Putih yang diutus oleh malaikat untuk mengunjungimu. Maaf karena kami menggunakan wajahmu, karena tidak ada seorang manusia pun yang kuat untuk melihat wujud asli kami.

(Makhluk berbaju merah api): Hai manusia yang sedang dirundung kemalangan, Aku adalah Jin Hitam yang diutus oleh bos setan untuk membantumu mengambil keputusan.

(Aku): Oh, Aku tidak perlu kalian semua. Toh sebentar lagi Aku akan mati dan meninggalkan dunia ini.

(Jin Putih/JePe): Dari mana kamu tahu kalau kamu akan mati, hanya Tuhan yang mengetahui waktu seseorang untuk menemui ajalnya.

(Jin Hitam/JeHa): Hahaha, menarik sekali. Tapi kedatanganku justru bisa membantumu untuk melancarkan hal tersebut (menyeringai lebar seolah mulutnya robek).

(Aku): Aku memang tidak tahu JePe, tapi Aku akan mencoba melakukannya. Tentunya tanpa bantuan siapapun, jadi sebaiknya kalian semua pergi.

(JePe): Wahai manusia, sesungguhnya masih banyak manusia lain yang memiliki masalah lebih berat darimu. Masih banyak mereka yang menginginkan kehidupan yang panjang tapi tidak bisa meraihnya karena ajalnya telah datang. Mengapa kamu berputus asa dan ingin menyerah, padahal Saya lihat tubuh dan jiwa belum mengalami kerusakan. Sebaiknya segera bertaubat dan segera bangkit berusaha menjalani hidup ini sebaik-baiknya.

(JeHa): Alah, enggak usah dibujuk-bujuk begitu. Biarkan saja dia melakukan keinginannya itu, memangnya kamu mendapat keuntungan kalau manusia di depan kita ini tidak jadi bunuh diri? Hei manusia, omong-omong sudah tahu akan bunuh diri dengan cara apa?

(Aku): Apa sih kalian ini, mengganggu perenunganku saja. Kalau ingin ribut sebaiknya jangan di sini. Jelas saja Aku sedang memikirkan hal tersebut.

(JePe): Baiklah, sembari kamu memikirkan caranya tidak ada salahnya jika kamu juga memikirkan untuk merubah keinginan bodohmu itu. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah, asal tahu saja seketika setelah mati kamu akan menjalani siksa kubur, dan saat hari pembangkitan kelak kamu akan menjalani siksaan lagi di neraka. Pikirkan baik-baik sebelum kamu menyesal untuk selamanya.

(JeHa): Sudah jangan dengarkan perkataan si JePe. Tahukah kamu tanpa bunuh diri pun setiap manusia akan mengalami siksaan karena tidak ada manusia yang tak berdosa, maka sebelum dosanya habis dia akan terus mendapat siksaan setelah mati. Jadi sama saja, justru jika kamu mengakhiri hidupmu sekarang, akan membebaskanmu dari penderitaanmu di dunia. Bagaimana?

Aku hanya terdiam, sambil sesekali melirik ke arah dua makhluk aneh itu. JePe sibuk merapalkan entah doa atau apa dengan tangan tidak henti menggerakkan benda mirip tasbih. Sedangkan si JeHa sibuk komat-kamit seperti membaca mantra dan sesekali tampak menyemburkan sesuatu dari mulutnya, layaknya seorang dukun yang ingin menyantet seseorang. Aku memikirkan cara apa yang paling cepat membuatku mati, dengan kemungkinan gagal paling kecil. Lompat dari balkon, sepertinya bukan cara yang tepat karena masih kurang tinggi. Kalau masih hidup, bukankah malah akan membebani ketiga temanku yang mungkin harus menanggung biaya pengobatanku nanti. Iris urat nadi, nanti akan mengotori rumah yang sudah sempit ini, dengan darah. Itu juga kalau Aku tepat mengarahkan benda tajam di pembuluh darah yang tepat, kalau salah meski sudah kesakitan dan kehilangan banyak darah tetap saja Aku masih mungkin terselamatkan. Minum cairan pembersih porselen? Kemarin sudah kucoba, tapi rasanya begitu aneh di mulut, asam dan memuakkan. Jelas saja sebelum masuk kerongkongan, cairan itu refleks kumuntahkan dan percobaan pertama kali bunuh diriku gagal total.

Sampai kuputuskan mencekik leherku sendiri. Bukan kematian yang kudapat malah sensasi rasa aneh yang muncul. Bayangkan kepalaku terasa seperti sebuah balon yang dipompa oleh gas. Rasanya memang sakit di leher, itu masih bisa kutahan. Tapi rasanya bagian kepala dan wajah seolah mekar serasa hampir meletus tapi tidak mampu kuteruskan. Kucoba sekali lagi, dua kali lagi. Hanya bertahan sedikit lebih lama dari percobaan pertama kali, dan tetap saja tanganku refleks melepaskan jeratan di leher yang sudah mulai memerah. Tampaknya memang Aku belum mahir untuk bunuh diri, atau memang benar kata si JePe, selama ajalku belum datang maka sekeras apa pun usahaku, ini tidak akan berhasil.

Baiklah kuputuskan untuk kembali bangkit dan segera setelah ini akan kuambil air wudhu serta bersimpuh memohon ampun kepada-Nya. Setidaknya jika nanti tidak ada pekerjaan apa pun yang dapat kukerjakan, bukankah masih bisa kutuliskan kisah ini dalam sebuah cerpen atau novel. Siapa tahu ada yang akan mengapresiasikannya dengan menerbitkan karyaku. Bukankah tema ini cocok di zaman seperti ini, yang katanya jumlah pelaku bunuh diri semakin meningkat? Bahkan diriku pun nyaris menjadi salah satu pelakunya. Seketika JeHa pun kesal dan tanpa pamit segera menghilang dari hadapanku, sedangkan JePe tersenyum dan kemudian segera berpamitan padaku dengan lambaian tangan dan ucapan salamnya, 

"Alhamdulillah, tugas Saya selesai. Selamat karena kamu telah mengambil keputusan yang tepat, dan selamat menjalani kehidupanmu dengan baik sebelum Izrail menjemputmu pada waktu yang tepat. Assalamu'alaikum."

Seketika JePe juga menghilang sebelum Aku sempat menjawab salamnya dan mengucapkan terima kasih padanya. Tiba-tiba kulihat secercah cahaya menyilaukan mataku. Kudapati diriku sudah terbaring di kasurku, dengan tiga temanku duduk di sekeliling ranjang, dan tersenyum saat melihatku membuka mata.

"Nina, kamu enggak apa-apa kan? Tadi kita kaget banget karena ngelihat kamu tidur di balkon. Kirain kamu pingsan, badan kamu juga demam. Tapi syukurlah panas tubuhnya sudah turun setelah dikompres." 

Aini sibuk berbicara dengan wajah khawatirnya, diikuti dengan anggukan kepala Dewi dan Susi membenarkan pernyataan Aini. Aku pun hanya bisa mengangguk dan sedikit tersenyum untuk memastikan pada mereka bahwa diriku baik-baik saja. Kurasa mereka pasti masih merasa lelah setelah bekerja semalaman, dan masih harus menungguiku sadar tanpa istirahat sejenak. Jadi kuputuskan untuk tidak menceritakan apa yang kualami semalam.



read more »

Jumat, 09 November 2012

Ketika "Dia" Tidak Memandang Usia

 Innaalillahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Sesungguhnya kita semua adalah milik-Nya, dan kepada-Nya lah kita semua akan kembali. Bicara mengenai kehidupan, tentu tidak lepas dari kata kematian. Lebih tepatnya adalah suatu proses dimana kita akan meninggalkan dunia, dan memasuki alam yang lebih kekal, memasuki alam kubur, dan suatu saat akan dibangkitkan kembali menuju akhirat dengan tujuan antara surga atau neraka.

Bicara mengenai usia, kadang kita lupa dan menganggap bahwa ajal hanya menjemput mereka yang telah berusia lanjut atau sekedar mencapai usia dewasa. Namun, pada kenyataannya, dan memang telah ditetapkan oleh Sang Maha Penentu Ajal, bahwa ajal adalah salah satu misteri yang tidak dapat diprediksi oleh manusia. Teringat belasan tahun lalu saat almarhumah adik sepupuku meninggalkan kami, beberapa waktu menjelang masuk Taman Kanak-kanak (TK). Dek, kamu pasti sudah bahagia ya disana, dan telah menyediakan tempat khusus di surga untuk kedua orang tuamu kelak.

Kemudian beberapa hari ini dikejutkan oleh kecelakaan maut, yang menewaskan dua orang mahasiswi semester 3 FK UNDIP. Kemudian Rabu kemarin dikejutkan lagi dengan kabar duka, bahwa teman adikku, yang juga merupakan adik almamaterku meninggal dunia di usia yang juga masih begitu muda, baru merasakan beberapa bulan menjadi mahasiswa. Ketiganya baru berusia 18 - 19 tahun, namun Allah lebih menyayangi mereka dengan memanggilnya lebih dulu daripada orang-orang di sekelilingnya. Semoga ketiganya mendapat tempat terindah di sisi-Nya, serta keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan diberikan ketabahan untuk tetap melanjutkan kehidupan. Aamiin.

Satu persamaan di antara ketiganya, yaitu sama-sama seorang blogger, yang menulis hal-hal positif serta menginspirasi pembacanya untuk melakukan hal positif juga. Tentu mereka juga memiliki impian dan target jangka panjang yang ingin dicapai dalam hidup. Namun, Allah tetap memiliki hak mutlak untuk berkehendak, dan membuat impian itu harus terhenti. Namun, bukan benar-benar terhenti, tapi hanya pelakunya saja yang berbeda. Jika saudara, kerabat, kawan, atau sahabat kita kembali pada Allah lebih dahulu, maka kita sebagai manusia yang masih diberi kesempatan lebih lama untuk hidup lah yang meneruskan impian mereka. Meski impian tidak sama, namun semangatnya mesti tetap kita hidupkan dalam diri kita. Jadikan mereka sebagai pengingat, dan tetap ikhlaskan kepergiannya. Meski ketiganya tidak kukenal secara personal, tapi impian dan harapan yang mereka torehkan dalam blog pribadi masing-masing, membuatku termotivasi untuk meneruskan semangat mereka dalam bidang tulis menulis. Terima kasih telah menyadarkanku akan semangat hidup meski usiaku tak lagi muda belia. Hanya untaian doa yang dapat kukirimkan, Allahummagfirlahum wa'afihim wa'fuanhum. Aamiin.
read more »