Jumat, 07 September 2012

Because of "Rembulan di Mata Ibu (a Book Written by Asma Nadia)"

Salam untuk semua pembaca blog ini (kayak banyak yang baca aja deh, padahal belum tentu juga ada yang mau baca ^_^). Mungkin salah satu hal yang ada di benak pengunjung blog ini adalah "Sebetulnya mau fokus nulis apa sih? Kok kadang promosi, kadang curhat berlebay ria, kadang bikin cerpen yang membosankan, kadang buat puisi yang melenceng dari aturan penulisan puisi, nulis opini yang ngambang, terus mau kasih informasi tapi terkesan enggak up to date banget."

Oke, jangan kira itu cuma ada di pikiran pembaca, penulisnya aja bingung mau memfokuskan blog ini khusus tulisan apa. Kenapa? Hal ini dikarenakan penulis bukan tipe yang sudah paham betul passion nulisnya tuh untuk tulisan tertentu. Intinya hanya ingin belajar menulis apa saja yang menurut Saya menarik dan membuat diri kita merasa enjoy waktu ngerjainnya. Tentunya di akhir juga belajar mengedit bagaimana menulis sesuai EYD. Walaupun seringnya tetap masih saja ada yang terlewatkan untuk diedit sesuai EYD.

Kalau diingat-ingat ke belakang, mungkin pertama kali keinginan membuat tulisan itu, pengen banget bisa menulis cerpen atau apa pun yang masuk kategori fiksi. Hal ini tidak lepas dari kebiasaan masa SD, keluar masuk perpustakaan di sela-sela waktu istirahat sekolah. Apalagi kalau bukan cari buku menarik (terutama buku cerita atau novel yang zaman dulu tren seperti serial Lupus dan Lima Sekawan). Untuk dua buku tersebut, bahkan perlu antri kalau mau pinjam karena peminatnya banyak banget. Kalau ada buku baru selalu dipajang di lemari kaca khusus, beberapa hari sebelum buku tersebut boleh dipinjam. Alhasil, pagi hari ketika hari - H, pagi sebelum kelas dimulai sudah pada ngantri menunggu perpustakaan buka. Siapa pun yang berhasil menjadi peminjam pertama akan diteror oleh teman-teman lain.  

"Eh, Kamu minjem Lima Sekawan yang baru itu ya? Habis Kamu siapa, kalau mau ngembaliin buku ajak Aku ya?" 

Kira- kira seperti itu lah teror-an khas ala anak SD yang hobinya nongkrong di perpustakaan. Kalau ternyata sudah keduluan yang lain pun, sang peneror akan mengalihkan pencarian buku yang diinginkan pada target lainnya. Termasuk Saya juga sering menjadi pelaku teror atau pun yang diteror :). Malah keasyikan nostalgia zaman jadi pengunjung setia perpustakaan.

Intinya diawali kekaguman pada para penulis yang punya dunia khayal level tinggi. Bukan hanya sekedar kemampuan berimajinasi tentunya, ditambah kemampuan berbicara dan bercerita lewat tulisan. Meski ketika masuk pesantren (masa Mts/SMP dan MA/SMA) sudah enggak jadi anak perpustakaan lagi (ini terpaksa karena letak perpustakaan yang ada di kawasan putra), kebiasaan membaca kisah fiksi masih berlanjut. Kadang kalau uang jajan ada lebih, maka tanpa ragu pasti beli buku atau majalah islami (selalu nungguin majalah Annida nongol di koperasi pesantren). Perlu diketahui (hehe udah pada tahu kali ye...) di pesantren itu bacaan berupa komik dan novel non islami, itu terlarang. Kalau tetap nekat bawa dan ketahuan, bisa-bisa disita dan ngenesnya tidak akan dikembalikan walau waktu libur tiba.

Saat itulah awal-awal mengenal karyanya Mbak Asma Nadia, salah satu kumpulan cerpennya yang pertama Kumiliki berjudul "Rembulan di Mata Ibu". Walau di dalamnya banyak cerpen-cerpen islami, tapi khusus cerpen berjudul "Rembulan di Mata Ibu" cukup memberikan kesan mendalam. Kisah tersebut menyampaikan pesan bahwa, tidak selamanya seorang ibu kandung selalu berlemah lembut pada putrinya. Ada alasan mengapa ibu bersikap tegas, berkata dengan nada tinggi, dan sulit diajak kompromi dalam hal tertentu. Itu semua justru dilakukan seorang ibu, karena anaknya sangat spesial bagaikan rembulan, yang diharapkan menjadi pribadi kuat menghadapi hidup yang tak selalu menghadirkan kemudahan dan keindahan. Subhanallah, ada beragam cara untuk menunjukkan kasih sayang.

 Ini cover bukunya :)

Kisah tersebut mampu membuat air mengalir dari mata ini. Tidak hanya sekedar terharu, tapi juga terpacu bagaimana mampu membuat tulisan berbeda tapi sama-sama mampu mengaduk emosi pembacanya, seolah tidak sekedar membaca tapi mendengar dan menonton kisahnya. Maaf jika deskripsi Saya tentang cerita tersebut agak melenceng, karena sampai tulisan ini diterbitkan di blog, Saya belum menemukan buku tersebut. Maklum itu lebih dari 9 tahun, mungkin terselip di antara buku lama atau memang hilang karena kebiasaan saling meminjam buku antar kawan semasa masih mondok dulu.

Mungkin harapan untuk menjadi seorang penulis profesional masih amat sangat jauh. Bahkan jika melihat kenyataan, akan sangat malu menyampaikan pada dunia salah satu mimpi itu. Tapi, seperti banyak jawaban para penulis terkenal saat ditanya resep rahasia menulis. Hanya satu jawaban yang nyaris semuanya pasti setuju, yaitu "Menulislah, menulis, dan menulislah!"

Maka blog ini memang tidak memiliki fokus terhadap suatu jenis tulisan, pembaca akan menemukan berbagai macam tulisan, yang masih jauh dari standar penulisan. Memang Saya masih dan terus perlu belajar menulis. Mungkin banyak tulisan Saya yang belum memberikan manfaat untuk pembaca, tapi selalu dan mencoba supaya apa yang ditulis dapat memberikan sesuatu hal positif pada pembacanya.

Selamat membaca ^_^,



Tidak ada komentar:

Posting Komentar