Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Rabu, 29 Mei 2013

Apa Kata Orang? PREEETTTTTTT...

Hidup itu untuk apa dan siapa? Mengapa mereka memusingkan kata orang, mengkhawatirkan pandangan orang, dan malu jika saja jalan hidup anggota keluarganya berbeda dari orang lain?

Apakah hidup itu untuk terlihat 'wow' di mata sesama manusia? Apakah manusia yang dikatakan berkecukupan secara materi, harus selalu sekolah tinggi dan memiliki deretan gelar sebagai penambah panjang nama lengkapnya?

Padahal jelas-jelas mereka tahu bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Aku pernah mendiskusikan hal ini dengan seseorang. Ya, tentang berbagai jenis kecerdasan yang dimiliki setiap orang. Kami sepakat bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang yang lebih minat dan bakat dalam olahraga, untuk mendapat nilai akademis sehebat si jenius berhitung atau menghafal.

Tapi, kini kurasa itu semua tidak berarti. Saat orang-orang selalu menitikberatkan kesuksesan pada gelar akademis, dan status pekerjaan di sebuah lembaga atau kantor milik orang lain. Ya, harus keluar rumah dari pagi hingga petang menjelang. Seolah bekerja sebagai pegawai kantoran itu adalah hal terhebat dalam hidup. Kata 'bekerja' dan memiliki penghasilan, selalu diidentikkan dengan gaji, ya digaji oleh orang lain setiap bulan dengan jumlah tetap.

Padahal masih banyak hal yang bisa membuat seseorang bermanfaat. Tidak hanya sekedar menjadi pekerja yang masuk kantor pagi dan pulang di sore hari, lalu mendapat gaji di akhir bulan. Menulis (tanpa berangkat ke kantor) pun sebuah pekerjaan, walaupun belum semua orang menghargainya, dan kadang memandang sebelah mata.

Saat ada yang bertanya apa aktivitas seorang blogger pun, belum tentu semua blogger akan menyebutkan aktivitas nge-blog ini sebagai jawabannya. Termasuk saya, karena kadang diri kita tahu bahwa mereka yang bertanya, belum menerima status blogger sebagai salah satu profesi yang bermanfaat dan suatu saat dapat menghasilkan.

Lagi-lagi itu semua karena masalah 'apa kata orang?', 'nanti bagaimana kalau orang-orang tanya apa gelarmu?', 'kok enggak kerja di kantor?', 'menulis? kapan kaya-nya?', dan serentetan kalimat pertanyaan atau pernyataan yang seolah membuat kita harus sama seperti orang lain. Preeettttt..... Apa iya mereka yang usil bertanya atau menghakimi kita, selalu ada saat kita susah? Kebanyakan mereka hanya merapat saat kita sedang di atas, atau saat mereka merasa ada hal menguntungkan jika menjadi orang terdekat kita. Selebihnya, kadang cuma jadi manusia super kepo yang bangga kalau jadi penyebar berita ke orang lain, alias biang gosip.

Tidak bisakah mereka tidak menilai dari gelar akademis? Masih banyak profesi yang tidak selalu bergelar akademis tapi bisa bermanfaat, dan yang terpenting adalah seseorang tetap menjadi dirinya sendiri. Ya, ya, ya, sudah terlanjur memang dan sulit untuk diubah pandangan seperti itu. karena sejak SD sudah diarahkan bahwa yang terpenting adalah mata pelajaran terkait ilmu pasti. Sedangkan seni, olahraga, dan keterampilan lainnya, terkesan dinomorduakan. 

Padahal jelas-jelas orang-orang pintar yang duduk di pemerintahan itu, yang katanya sekolah sampai mendapat gelar master, doktor atau profesor, tahu kalau ada sekitar 7 jenis kecerdasan yang dimiliki seorang anak. Mengapa tidak menyusun kurikulum yang dapat menonjolkan potensi anak di bidangnya masing-masing. Tanpa memaksakan mereka harus bisa ilmu pasti, walau sebenarnya mereka berpotensi menjadi musisi terhebat sepanjang sejarah, tidak harus membuat anak stres dengan rumus fisika jika sebenarnya dia berbakat menjadi ahli memasak termuda di dunia, tidak harus membuat anak bingung dengan susunan kalimat yang terdiri dari subjek, prediket, dan objek, padahal dia adalah calon pemain sepak bola handal dari Indonesia.

Jangan heran jika masih ada yang kebingungan saat menentukan jurusan apa yang sesuai, saat masuk perguruan tinggi. Karena sejak dini mereka belum diperkenankan untuk menemukan apa bakat dan minat sebenarnya. Jangan heran jika banyak yang merasa bingung di usia dewasa, masih belum menemukan jati dirinya. Masih merasa hidupnya diatur, karena jenuh setiap kali mencoba mengemukakan pendapat atau melakukan hal yang disukai, terbentur dengan pendapat orang lain yang menjatuhkan. Menganggap apa yang dilakukannya itu adalah hal sia-sia, dan tidak memiliki masa depan. Hfffh.... Masa depan? Apakah masa depan harus memenuhi standar yang layak di mata mereka (sesama manusia loh)?

Padahal katanya hidupmu adalah kamu sendiri yang menentukan. Tapi sejatinya, selama kita masih memiliki kerabat dan keluarga, selama tidak hidup sebatang kara, maka harapan dan mimpi itu tidak benar-benar bisa bebas. Masih terbentur dengan kata 'asalkan...', 'tapi...', 'seharusnya...', dan kata lainnya yang menjadi pembatas antara area bebas dan tidak bebas.

Terlebih jika kita ada di posisi sebagai anak pertama atau anak tunggal. Beban itu pun semakin bertambah manakala mereka menyebutkan sepatutnya diri ini menjadi sempurna. Untuk contoh yang lebih muda lah, untuk peningkat harga diri keluarga di mata orang lain lah, atau hal terselubung sebagai bahan pamer? Memang itu semua adalah motivasi yang dapat menjadikan kita maju dan lebih baik. Tapi, adakalanya itu semua membuat muak dan jenuh, apalagi untuk mereka yang sudah terlalu lama menjadi pribadi perfeksionis demi mewujudkan harapan mereka. Demi tidak mengecewakan mereka. Dan bukan tidak mungkin sampai pada titik jenuh, sampai akhirnya bukan membanggakan malah mengecewakan.

Untuk masalah keramahtamahan, memang orang Indonesia bisa dibilang juara. Tapi ramah kadang jadi masalah saat berkembang menjadi sikap kepo dan menghakimi mana yang patut dan tidak patut. Mana yang membanggakan dan tidak membanggakan.

Saat mereka menjadikan ukuran pandangan orang lain sebagai jalan hidup yang harus dijalani, apakah kita dapat benar-benar hidup sebagai manusia? Makhluk yang katanya memiliki derajat tertinggi di antara semua makhluk Tuhan. Padahal diri ini tak ubahnya seperti mayat hidup, saat jiwanya terasa sudah mati. Saat passion itu hanya ada dalam angan, dan saat tidak ada lagi yang mampu dilakukan selain berusaha menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Bukan menjadi apa yang jiwa kita inginkan.

Kalau ada masalah dibicarakan dong! Mereka berkata seperti itu. Tapi masalahnya adalah, kita sudah tahu bahwa jika diungkapkan, maka mereka jelas akan menyalahkan kita. Masih terus membujuk supaya kita mengikuti harap mereka, dengan segudang petuah yang jelas-jelas tidak terbantahkan. Jadi, buat apa lagi dibicarakan? Mereka bilang itu yang terbaik, ikuti saja daripada ngotot tapi hanya menimbulkan pertengkaran.

Lelah, muak, dan jenuh hanya bisa dirasakan sendiri. Kadang selalu ingin memejamkan  mata dan tidak bertemu lagi dengan mentari. Tidak dapat membuka mata lagi untuk selamanya. Tapi Tuhan punya kehendak lain, ternyata lagi dan lagi hidup itu belum habis masa aktifnya. Dan aku tetap harus bangkit dan melakukannya, walau harus menjadi orang lain. Yang terpenting berusaha menyenangkan mereka sambil menantikan habisnya jatah hidupku.
read more »

Selasa, 28 Mei 2013

Cerbung: The Absurd Story of Santriwati VS Pesantren (1)

Akhir Mei 2000

42,50 lumayan tidak terlalu jauh dari nilai sempurna sebesar 50,00. Itulah yang tertulis dalam lembar hasil NEM (Nilai Ebtanas Murni), disertai nama lengkapku. Indigo Putri Amalia. Senangnya bukan main saat Pak Mahmud wali kelasku, memberikan sebuah amplop besar berisi segala surat-surat penting yang menandakan lulus tidaknya seorang murid sekolah dasar. Setelah mengucapkan selamat padaku yang saat itu ditemani oleh Ibu, Pak Mahmud kemudian bertanya kemana aku akan melanjutkan sekolah. Saat itu memang aku masih belum tahu pasti, tapi yang jelas aku ingin melanjutkan ke sebuah SMP negeri yang banyak difavoritkan oleh teman-teman seangkatan. Sebelum sempat aku menjawab, Ibu sudah mewakilinya terlebih dahulu.

“Rencananya Indi akan saya sekolahkan di sebuah pondok pesantren Pak, tapi masih dalam tahap survei ke beberapa tempat. Jadi setelah ini kami akan berangkat menuju salah satu pondok pesantren di Bogor. Buat melihat-lihat, karena kata beberapa kerabat kami, di sana lingkungannya bersih dan juga luas.”

Jelas saja aku terkejut, karena Ibu belum membicarakan masalah ini denganku. Wah, tampaknya Ibu ingin membuat kejutan, yang menurutku lebih tepat sebagai sebuah jebakan. Jebakan? Ya, karena beberapa hari lalu aku sudah membicarakan tentang keinginanku melanjutkan di SMP negeri atau yang swasta juga tidak apa-apa seandainya NEM-ku tidak mencukupi standar minimal. Aku juga tidak dapat membantah perkataan beliau, karena sekarang kami sedang berada di ruang guru.

“Wah, sayang sekali ya Bu, padahal NEM Indi memungkinkan untuk diterima di SMP negeri. Tapi ya sudah, tidak apa-apa. Sekolah pada dasarnya di mana saja sama asalkan anaknya bisa mengikuti pelajaran dengan baik.”

Setelah Ibu berpamitan, Pak Mahmud memberikan sebuah amplop Hijau berukuran sedang padaku. Sepertinya sebuah undangan, karena beberapa kali aku sempat melihat orang tuaku mendapatkannya saat diundang ke acara pernikahan atau khitanan saudara-saudara kami.

“Indi ini undangan untuk kedua orang tuamu pada hari pelepasan siswa yang akan dilaksanakan dua minggu lagi. Nanti gladi resiknya dua hari sebelum hari-H, jadi jangan lupa datang ke sekolah ya. Semoga kamu bisa sukses di mana pun kamu menuntut ilmu.” 

“Iya Pak, terima kasih juga selama ini sudah mengajarkan banyak hal pada kami semua, sampai akhirnya bisa lulus.”

Kubalas ucapan wali kelasku itu, sembari bersalaman dan berpamitan pulang, sebenarnya bukan pulang tapi terpaksa ikut pergi melihat lokasi calon sekolah baruku nanti.

Di perjalanan menuju pesantren yang dimaksud Ibuku tadi, aku hanya diam tidak bersemangat. Awalnya memang agak kesal karena ternyata saat acara pelepasan siswa nanti, ternyata waktunya bersamaan dengan acara pernikahan salah satu kerabat Ibu di luar kota. Dan seluruh keluarga akan menghadiri acara tersebut, menurut Ibu lebih baik kita tidak usah hadir di pelepasan siswa itu, karena itu hanya sekedar acara formalitas tapi tidak akan mempengaruhi kelulusanku. Jadi tidak apa-apa tidak ikut.

Bayangkan! Itu adalah hari terakhir saat aku bisa bertemu teman-teman dan para guru secara lengkap, tapi aku sendiri tidak bisa berpartisipasi di acara itu. Namun, aku lebih tidak bersemangat saat tahu kemana arah taksi ini melaju. Sepuluh menit, dua puluh menit, empat puluh lima menit, dan kurang lebih satu jam sampailah kami di lapangan parkir sebuah komplek dengan beberapa gedung yang tersebar di berbagai sudut. kubaca dalam hati tulisan di sebuah papan besar berwarna hijau, “Pondok Pesantren Al-Muttaqin Bogor.”

Halamannya memang luas, ditambah lagi banyaknya jumlah pohon besar membuat suasana lebih sejuk dibandingkan cuaca khas Jakarta. Sekilas dari kejauhan, teras di gedung kelas dan asrama pun tidak tampak ada sampah, tapi suasananya sangat sepi. Menurut seorang guru piket yang memandu kami berkeliling wilayah santri putri ini, sekarang sedang jam pelajaran di kelas. Nanti sekitar setengah jam menjelang waktu shalat Dzuhur barulah mereka pulang ke asrama untuk bersiap-siap shalat berjama’ah di masjid, lalu makan siang, dan kembali ke kelas untuk menerima pelajaran lagi.

Penjelasan guru itu tidak terlalu kuperhatikan, sebab masih terbawa suasana hati yang kurang baik. Guru itu pun menawari Ibu, jika kami ingin melihat-lihat keadaan asrama tempat santriwati (sebutan untuk santri/murid perempuan), sebaiknya menunggu sekitar 15 menit lagi karena itu adalah jam mereka pulang sekolah. Akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah ruang makan, kamar mandi, tempat menjemur pakaian, juga sempat duduk sebentar di koperasi pesantren meski saat itu tutup, dikarenakan masih waktu belajar.

Ketika bel berbunyi, lebih tepat jika kusebut lonceng raksasa. Karena lonceng yang berada di tengah bagian pemisah antara asrama putra dan putri itu memang berukuran sangat besar. Mungkin sesuai dengan fungsinya, yaitu supaya seluruh warga pesantren dapat mendengar suaranya, saat berada di mana pun selama masih di dalam wilayah pesantren.

Dari jauh terlihat mungkin ratusan murid perempuan berseragam putih abu-abu dan juga putih biru, serta tidak ketinggalan sebuah kain penutup rambut di kepala mereka, berjalan ramai-ramai dari arah gedung kelas menuju gedung asrama, tepatnya menuju kamar tinggal masing-masing.

Seketika itu pula sebagai penutup tur singkat siang itu, guru pemandu kami segera mengantar aku dan Ibu ke salah satu kamar di sebuah lorong asrama yang terdekat dengan koperasi. Ternyata satu kamar ditempati oleh sekitar sepuluh sampai empat belas orang, dengan lemari berjumlah sama dengan jumlah orangnya, dan ranjang tingkat sekitar lima sampai tujuh ranjang. Ibu juga sempat menanyakan beberapa hal kepada beberapa orang dari santriwati, yang ternyata ada beberapa orang yang juga berasal dari daerah sekitar tempat tinggal kami di Jakarta. Ada pula yang berasal dari luar kota dan luar pulau.

Pernyataan mereka yang menyatakan bahwa sekolah itu sangat menyenangkan, membuat Ibu semakin yakin untuk menyekolahkanku di sana. Itu terbukti saat Ibu sedikit menjelaskan bahwa daripada lokasi pesantren lain yang pernah Ibu lihat saat aku tidak ikut karena masih ujian beberapa bulan lalu, jelas ini jauh lebih bersih dan sejuk. Ayah yang baru saja pulang dari kantor dan menjemput kami di pesantren ini, juga mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum padaku, membenarkan pernyataan Ibu.

Di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah, Ibu dan Ayah terus berusaha membujukku yang masih tampak cemberut, dengan membandingkan bahwa sekarang pesantren sudah lebih moderen, berbeda dengan zaman Ayah dan Ibu yang masih sangat memprihatinkan. Memang keduanya juga pernah menimba ilmu di pesantren. Kalau dipikir-pikir mau di pesantren mana pun tetap itu bukan kemauanku, jadi daripada capek-capek pergi ke pesantren lain yang tetap saja terpaksa, maka kuanggukkan kepalaku dengan lemah, menyetujui dengan berat hati.

Pertengahan Juni 2000

Kemeriahan suasana hajatan yang diadakan kerabat dari Ibu, tidak mampu membuatku ceria. Hal ini karena badan dan pikiranku tidak berada di tempat yang sama. Meski jelas-jelas tubuh ini ada di dalam sebuah gedung mewah, dengan berbagai jenis makanan yang bisa dinikmati sepuasnya, tapi pikiranku terbang ke aula di sekolah. Acara gladi resik pelepasan siswa SD Bintang Kecil angkatan 2000, yang acaranya akan diadakan besok.

Aku sengaja tidak memberitahukan ketidakhadiranku pada guru-guru atau Rahmi, sahabatku sejak kelas 3 SD, karena jika mengabarkan terlebih dahulu pasti aku akan dibujuk untuk tetap mengikuti acara yang hanya akan dirasakan sekali setelah enam tahun belajar. Aku akan semakin sedih jika mengingatnya, apalagi mengingat kenyataan bahwa aku akan segera sekolah dan tinggal di pesantren, yang jelas tidak sebebas anak-anak SMP lainnya. Memang sejak dulu aku iri saat melihat kakak-kakak kelas yang sudah duduk di bangku SMP bisa main ke toko buku di mal sepulang sekolah. Memang toko buku adalah tempat favoritku saat pergi ke mal.

Belum lagi saat kuingat bahwa tiga hari lagi harus mengikuti ujian masuk calon santri baru di pesantren Al-Muttaqin. Walaupun sudah diberitahu bahwa yang diujikan adalah materi pelajaran umum dan pengetahuan baca tulis Al-qur’an, tidak ada niat sedikit pun untuk belajar, dengan harapan supaya tidak lolos seleksi dan batal masuk pesantren.

Doa Orang Tua Memang Top

Aku merasa tidak begitu antusias saat mengerjakan soal ujian masuk pesantren, dan ketika diminta membaca Al-qur’an pun sangat jauh dari kategori lancar. Namun, ketika harapan orang tua begitu besar, bukan hal mustahil untuk dikabulkan oleh Sang Maha Kuasa. Sekitar pukul empat sore, hasil ujian pun ditempel di papan pengumuman yang terletak di ruang tamu berukuran hampir sama dengan ruang kelasku saat SD. Kutelusuri deretan nama di selembar kertas itu, dan kutemukan namaku. Indigo Putri Amalia, tepat di atas nama seorang teman baru yang kukenal sebelum waktu ujian dimulai.

Ya, teman pertamaku di pesantren ini, Adinda Nur Utami. Berbeda denganku yang terpaksa masuk pesantren, dia memilki kemauan sendiri karena melihat saudara sepupunya yang mandiri dan pintar berpidato setelah belajar di Gontor, sebuah daerah di Jawa Timur yang terkenal dengan banyaknya jumlah pesantren.

Hari ini memang hanya sekitar sepuluh orang yang ikut tes, yang lainnya pun anak laki-laki jadi kami segan untuk berkenalan. Sebetulnya jumlah peminatnya lumayan banyak, sekitar 150 orang menurut informasi guru piket di sana, tetapi yang lain sudah terlebih dahulu ikut ujian di gelombang pertama. Gelombang kedua ini diadakan untuk memberi kesempatan mereka yang tidak dapat hadir di ujian gelombang pertama, namun masih ingin sekolah di pesantren ini. Karena jumlah peserta yang sedikit itulah pengumumannya juga sangat cepat, lain dengan gelombang pertama yang membutuhkan waktu seminggu untuk mengetahui hasilnya.

Tampak senyum bahagia di wajah kedua orang tuaku, tapi saat itu seolah ada monster yang siap memberontak di ruang rasaku. Tentu saja kutahan agar monster itu tidak benar-benar keluar dalam bentuk teriakan nyata. Tanganku mengepal semakin kencang untuk menahan emosi. Arrrrrrrgggggggggghhhhhh!!! (Bersambung ya…)


(Bagaimana kelanjutan hari-hari yang akan dilalui oleh Indi menjelang resmi disebut sebagai seorang santriwati? Nantikan kelanjutannya di blog yang sama, pada waktu yang belum dapat ditentukan. Hehe, maklum penulisnya baru mulai belajar menulis cerbung. Sampai jumpa ^_^.)
read more »

Thank You So Much

Several months ago, my Mom gave me this book. She said that I must read it, because so many important informations in it. Especially about islamic laws (fiqh) and healthiness for women. 



Thank you Mom for this book, for your love, and everything you gave  since when you pregnant me until now. I love you Mom ;). I just try and try to do everything to make you happy. I am sorry when you sad, sick, and crying because of me.
read more »

Senin, 27 Mei 2013

Bukan Untuk Dipahami, Tetapi Untuk Memahami.

Kadang saat akan atau telah selesai menulis, mungkin ada kekhawatiran apakah tulisan kita nantinya bisa dipahami oleh pembaca? Wajar, karena walau setitik pasti kita memiliki harapan, ada yang mau membaca hasil karya itu kan? Terkecuali jika kita menulis di buku harian atau jurnal pribadi, yang memang bersifat sangat rahasia. Justru segala usaha akan dilakukan supaya tulisan itu aman dari tangan orang lain.

Kembali lagi ke masalah paham atau tidaknya para pembaca ketika menikmati tulisan yang kita buat. Memang penting mencoba membuat tulisan yang mengena di logika dan perasaan pembaca. Tapi sebenarnya ada yang lebih penting. Yaitu, apakah kita sebagai penulisnya belajar tentang sesuatu hal baru (berkaitan isi tulisan), serta dapat memahami betul apa yang kita tulis? Jadi, tujuan utama menulis sebenarnya adalah untuk memahami, dapat dikatakan juga mempelajari dan menambah wawasan kita tentang menulis dan tentang segala hal berkaitan isi tulisan kita.

Setidaknya demikian kesimpulan yang dapat saya ambil dari sebuah pernyataan C. Day Lewis. Beliau adalah seorang penyair dan penulis novel detektif, berasal dari Inggris dengan nama samaran Nicholas Blake. Kutipan berikut terdapat dalam buku terjemahan "Daripada Bete, Nulis Aja!" (Caryn Mirriam-Goldberg, 2004),

"Kita menulis tidak untuk dipahami, tetapi untuk memahami" (C. Day Lewis).

Bagi yang ingin mengetahui seperti apa isi buku tersebut, kebetulan saya telah membuat sedikit rangkumannya di Kenapa Harus Menulis? Semoga bermanfaat.

Mulai sekarang saat ingin menulis, jangan dulu memikirkan apakah nantinya tulisan kita dapat dipahami oleh pembaca atau tidak. Melainkan nikmatilah prosesnya, dan dengan sendirinya melalui proses itu, kita akan mempelajari berbagai hal, yang akhirnya akan membuat kita memahami lebih banyak hal dari yang kita duga sebelumnya.

Mungkin ada yang kontra dengan pernyataan tersebut. Tapi sebagai penulis pemula seperti saya, kalimat tersebut amat sangat membantu. Setidaknya untuk pemicu semangat dalam memulai menulis. Karena bukan teori menulis yang paling berperan dalam terwujudnya impian kita menjadi seorang penulis produktif. Melainkan praktek, dan itu harus dimulai dengan menulis, menulis, dan menulis.

Jadi, semakin banyak kita menulis, semakin banyak kita memahami. Setelah kita rutin menulis, jangan tinggalkan pula kegiatan membaca. Karena seseorang yang gemar membaca belum tentu menjadi penulis yang baik, tetapi seorang penulis yang baik, biasanya adalah seseorang yang juga hobi membaca. Karena dengan membaca kita dapat merasakan berada di posisi seorang pembaca. Ini menjadi latihan tersendiri untuk mengetahui tulisan seperti apa yang dapat dipahami atau tidak, disukai atau tidak, dan menarik tidaknya, dari kacamata seorang pembaca. Perlahan tapi pasti, kelak kita dapat menyuguhkan sebuah tulisan yang tidak hanya menarik dari gaya bahasa, tetapi juga mudah dipahami orang lain yang menikmati tulisan-tulisan kita.

Selamat mempraktekkannya ^_^.
read more »

Jumat, 24 Mei 2013

Kota "Cukup Air"

Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan nama-nama daerah yang diawali dengan kata "Ci". Apalagi jika salah satu kota tersebut tidak jauh dari Bandung, yang sudah terkenal sebagai tujuan wisata favorit, baik wisatawan dari negeri sendiri atau pun dari luar negeri. Kota apa sih yang dimaksud? Ini dia petunjuknya:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan: Kecamatan Parongpong, Kecamatan Cisarua, dan Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan: Kecamatan Sukasari, Kecamatan Sukajadi, Kecamatan Cicendo, dan Kecamatan Andir, Kota Bandung.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan: Kecamatan Marga Asih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat dan Bandung Kulon, Kota Bandung.
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan: Kecamatan Padalarang, Kecamatan Batujajar, dan Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
  5. Jika diartikan secara bahasa, maka nama kota ini bermakna suatu daerah yang memiliki air yang cukup, tidak berlebihan dan tidak kurang.

Sudah tahu jawabannya? Pasti yang berasal atau pernah tinggal di Jawa Barat sudah mempunyai jawabannya. Jangan khawatir bagi yang belum tahu jawabannya, karena ini bukan kuis kok, jadi tidak masalah jika tidak menjawab. Kota yang akan kita bahas kali ini adalah Kota Cimahi yang terletak di provinsi Jawa Barat.

http://www.cimahikota.go.id/

Sejujurnya saya juga belum pernah menjejakkan kaki di Kota Cimahi. Padahal berwisata ke Kota Bandung sudah beberapa kali, tapi belum pernah mampir ke Kota Cimahi yang letaknya masih berbatasan dengan Bandung. Bukan karena tidak mau (beneran deh) tapi memang belum tahu mengenai pariwisata di Kota Cimahi. Nah, sekarang kan sudah sedikit (sedikit banget sih ya) tahu tentang kota yang sebentar lagi akan berulang tahun ke-12 ini, jadi jangan lupa luangkan waktu untuk mampir ke Kota Cimahi. Ada yang mau mengajak saya liburan? ^_^.

Ada apa saja sih di Kota Cimahi? Berikut ini beberapa tempat wisata yang terdapat di Kota Cimahi, yaitu: Curug atau air terjun, pemandian air panas, wisata kebun strawberry, wisata kuliner, dan berbagai taman hiburan yang cocok untuk seluruh keluarga. Tidak kalah menarik dengan berwisata ke kota-kota lain di Provinsi Jawa Barat kan?

Mungkin cukup perkenalan singkat kita dengan Kota Cimahi. Selanjutnya tinggal merencanakan waktu dan mempersiapkan dana untuk berkunjung ke Kota Cimahi, kemudian bisa mengenalnya secara langsung sembari berwisata. Selamat ulang tahun Kota Cimahi, semoga jaya selalu. Tunggu kedatangan kami ya ^_^.


Sumber:
read more »

Kamis, 23 Mei 2013

Kurus-an Tanpa Disengaja

Sekurus itu kah diri ini? Perasaan tidak menyengajakan diri ber-diet untuk menyusutkan berat badan. Bahkan setiap kali ingin ngemil, tidak pernah menahannya. Apa mungkin karena konsumsi air putih meningkat? Perasaan juga masih normal-normal saja, belum melebihi jumlah 2,5 liter per hari (dulu memang malas sekali minum air putih).

Sampai semalam menyadari bahwa kenyataan itu benar adanya. Setelah melihat dan memastikan lagi bahwa cincin yang semestinya dipakai di jari tengah atau jari manis, yang sudah berpindah tempat di telunjuk selama beberapa bulan ini, ternyata muat di jempol. Bahkan tidak mengalami kesulitan saat memakainya alias longgar. Sekurus itu kah diri ini?

Pernah membaca artikel, yang menyebutkan bahwa wanita selalu merasa gemuk meski berat badannya termasuk kategori ideal. Ya, meski saya tidak merasa gemuk, tapi sekarang juga tidak terlalu merasa lebih kurus, seandainya saja tidak melakukan penimbangan berat badan, atau disadarkan oleh kasus cincin dan pakaian yang terasa melebar (padahal badan yang menyusut). Ditambah lagi sejak lahir diberi karunia oleh Tuhan, berupa sepasang pipi yang tembem. So, setiap kali bercermin (jarang banget sih) dan melihat foto saat tersenyum dengan tampilan tubuh bagian atas saja, maka akan tampak biasa saja.

Tapi mungkin orang sekitar yang melihat kita yang ngeh dengan perubahan diri ini. Termasuk sosok ibu, yang setiap detik, dan dalam setiap hela napasnya selalu mendoakan putra-putrinya. Mengingatkan saya untuk tidak perlu melakukan diet apalagi dengan membatasi jumlah konsumsi makanan. Padahal memang tidak diet apa pun kok, bahkan beberapa waktu terakhir kalau boleh jujur saya sedikit memaksakan diri mengkonsumsi buah-buahan, yang memang awalnya malas. Walaupun memang lebih suka dalam bentuk jus, biar tidak terasa makan dan makan lagi.

Memang tidak diniatkan, tapi kalau boleh menganalisa semua ini karena perubahan porsi dan frekuensi makan saya. Memang secara frekuensi bisa dibilang sering, tapi porsinya yang agak menurun dari kebiasaan sebelumnya. Bukan sengaja diet, tapi entah mengapa merasa cepat sekali kenyang, dan kalau dipaksakan akan merasa mual setelahnya. Padahal bisa dibilang, kalau tidak sedang puasa, rasa lapar itu cepat datang. Dan tidak menunda untuk mengisi perut walau hanya dengan sebuah atau dua potong biskuit/cemilan lainnya.

Kalau dibilang tidak nafsu makan, enggak juga deh. Karena seseorang yang kehilangan nafsu makan, maka malas dan enggan untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan, terutama makanan lengkap atau biasa kita kenal dengan sebutan makanan berat (nasi, lauk, pauk, dll.). Tapi saya sama sekali tidak kehilangan nafsu makan, setiap kali waktu makan datang, maka saya segera makan seperti biasanya. Bahkan ketika sedang merasa sangat lapar, semangat sekali ingin makan ini-itu. Tapi setelah beberapa suap, rasa kenyang tiba-tiba saja muncul. Ajaran orang tua sejak kecil, untuk tidak membuang makanan sia-sia, membuat saya memaksakan diri menghabiskannya. Pernah satu kali setelah makan, langsung merasa mual, tapi tidak dapat dikeluarkan.

Sejak kejadian itulah, saya sengaja membatasi saat mengambil nasi atau makanan lainnya. Lebih baik nambah daripada menyisakan makanan kemudian dibuang kan? Tapi memang jarang sekali menambah makanan lagi, karena rasa kenyang itu segera muncul. Sesaat kemudian lapar lagi, tapi makan sedikit kenyang lagi. Duh, kalau kayak gini apa iya harus ngemil-in mayonaise biar cepat gemuk? Eh, tapi kalau begitu sih, enggak sehat ya karena nantinya malah menumpuk lemak jahat.

Ya sudahlah, mungkin ini hanya sesaat. Nanti juga kalau sudah waktunya badan akan menggemuk lagi alias lebih berisi. Gemuk, gemuk, gemuk!
read more »

Selasa, 21 Mei 2013

Silver 'Jomblo'. So, What's The Problem?

Beberapa tahun silam ada seorang kawan yang terkejut (padahal tidak ada niat untuk membuatnya kaget loh) karena satu fakta dari diri saya, yang menurutnya agak aneh. Kira-kira seperti ini kutipan pembicaraan kami di suatu pagi menjelang siang, di halaman sebuah instansi pendidikan milik pemerintah. Sudah lupa pembicaraan apa yang akhirnya mengarahkan kami ke masalah tersebut. Kalau tidak salah sih saat dia bicara cowoknya, yang waktu itu mengantarnya atau kalau tidak salah ingat, akan menjemput dia setelah urusan kami selesai.


"Masa sih? Beneran? Enggak mungkin ah, masa enggak pernah pacaran?"

"Kok enggak mungkin? Beneran lah, emang harus ya pacaran?"

"Oh, kamu dulu sekolah di pesantren sih ya. Kan memang enggak boleh pacaran."

"Ya, bukan karena itu juga alasan utamanya. Banyak kok yang pada punya status pacaran walau sekolah di pesantren. Cuma bedanya sama yang non pesantren, ya enggak bisa bebas ketemu. Sekedar status pun mesti hati-hati diumpetin, kalau ketahuan pasti dapet hukuman."

"Terus kenapa enggak ikutan yang lain? Enggak mungkin kan kalau enggak ada yang naksir atau ditaksir?"

"Kalau yang pernah disuka sih pasti ada, walaupun diam-diam aja. Tapi kalau yang suka sama saya sih enggak tahu ya, mungkin enggak ada soalnya dulu saya super duper kuper." (kalau kuper kayaknya masih deh sampai sekarang). "Lagian, dulu takut banget ngelanggar peraturan, takut dihukum apalagi kalau sampai orang tua dipanggil, kan dobel tuh hukuman dari pesantren plus dari ortu. Alhasil ketakutan itu bikin enggak akrab sama anak putra dan enggak memungkinkan pacaran."


Teman saya terdiam sesaat mungkin merasa sungkan dan enggak enak udah menyinggung hal ini. Padahal sih buat saya pribadi enggak masalah, tapi memang tren anak muda zaman sekarang ditambah gencarnya media massa memprovokasi budaya pacaran, membuat saya maklum saat teman takut membuat saya tersinggung. Mungkin juga beberapa anak muda yang konon mengaku gahool geelaa (eh ini sih alay), akan berkata seperti ini jika saat itu mendengar kisah saya. 'Hari gini umur udah hampir kepala dua masih jomblo? Hati-hati loh jadi jomblo perak.' *Perak diidentikkan dengan usia 25 tahun, semacam perumpamaan emas untuk usia setengah abad atau 50 tahun. Dan akhirnya teman saya pun berkata, entah bermaksud menghibur atau memang benar-benar tanpa ada maksud apa pun.


"Wah, berarti beruntung dong yang nanti jadi pacar kamu, soalnya dia jadi yang pertama."  

Saya cuma tersenyum menanggapinya (sambil membatin 'Wallahu'alam' bisa jadi juga enggak akan pernah pacaran sebelum melepas masa lajang, ups!).


*****Time has gone*****

Dan memang segala sesuatu sungguh adalah sebuah misteri ilahi, seperti itulah juga kisah seorang cewek yang sebentar lagi menyandang status jomblo perak. Yess!!! Kok senang sih, jangan-jangan cuma akting sekedar menghibur diri? Asli, ini bukan akting, tapi bersyukur karena masih dilindungi sama Allah swt, untuk terhindar dari status pacaran. Karena konon katanya, tidak ada istilah pacaran dalam Islam. Kalau pun ada yang bisa menyakinkan bahwa tidak selamanya pacaran itu negatif, saya sendiri tidak yakin bisa terlindungi dari hal-hal yang tidak diperbolehkan agama. Jadi kalau merasa benteng diri ini tidak kuat, bukankah terhindar dari hal seperti itu, adalah suatu hal yang patut disyukuri?

Enggak pernah pacaran aja kadang bisa drop atau stres karena masalah lainnya. Apalagi kalau ditambah hal seperti itu, entah apa jadinya dengan diri ini kalau sewaktu-waktu muncul hal buruk. Jadi kenapa harus risih dengan ledekan atau gurauan tentang status jomblo? Toh, tanpa ditambah dengan pacaran pun dosa saya sudah menggunung tinggi, masa iya harus ditambah lagi? So, menjelang beberapa bulan lagi (kalau masih ada umur) saat usiaku mencapai dua puluh lima, dengan itu pula aku berhasil mencapai status sebagai jomblo perak. And I'll say "Thanks God, because You never give me a chance to make an illegal relationship before marry." Alhamdulillahirabbil'aalamiin.

read more »

Entah Mengapa Pernah Menulis Seperti Ini

NYANYIAN HATI SEORANG PEMALANG
(Coretan Gundah Masa Labil Santriwati Eror, 2005)

Langit mulai menampakkan siluet senjanya. Tapi kelelawar ganas sudah terjaga di gua. Bersiap-siap mencari makanan saat rembulan menyapa. Ya, malam ini malam bulan purnama. Saatnya akan dimulai.

Entahlah aku bingung kenapa hidup harus kujalani. Kududuk di tepi danau. Melihat air yang tenang menandakan dalamnya danau itu. Sedalam hal yang menusuk hatiku. Menikam dadaku. Aku tak mengerti kenapa tidak kutemukan rasa itu? Kenapa juga aku jalani ini semua? Hidupku mengambang entah ke mana. Di atas kurasa salah, di bawah kurasa belum tepat. Di kanan kurasa sakit, di kiri kurasa perih. Ingin kumasuki dunia yang lain. Di mana tak ada seorang pun dapat menggangguku. Sunyi, sepi. Hanya alam yang menjadi sahabatku. Dapat menerima dan memberi. Menjadi simbiosis mutualisme.

Aku muak. Ingin memuntahkan semua kepedihan ini. Ingin kuterbang jauh. Melintasi segala kemalangan di bawahku. Berkata "good bye" pada mereka semua. Hingga takkan lagi kulihat dan kembali membuatku menangis. Aku sudah bosan pada kesedihan, kekalahan, kemalangan, keterpaksaan, dan segala ungkapan yang menunjukkan segala sesuatu berupa penindasan. Terkucil, terisolasi, tersudut, terpaksa, terpendam, tertutup jauh di dalam lubuk hatiku.

Hari ini seorang anak "pemalang" duduk di sini. "Pemalang" yang selalu menangis. Selalu menikmati hari-harinya bersama alam, sunyi, sepi, dan benci keramaian. Karena keramaian selalu membuatnya terkucil, tersudut, terpojok. Di saat senang dia bingung pada siapa membagikannya, karena tidak ada yang mau menerima. Apalagi kesedihan, mungkin mereka sudah muntah terlebih dahulu. Inilah suara hati seorang "pemalang".
read more »