Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Kamis, 03 Januari 2013

5 Bulan 45 Posting 1001 Pageviews

Bagi para blogger profesional dan mereka yang sudah lama menjadi seorang blogger, bukan hal aneh untuk mencapai 1000 pageviews perbulannya. Bahkan untuk blog yang sudah terkenal di dunia maya, tidak mustahil jika ratusan atau ribuan kali halaman blognya dilihat orang lain hanya dalam waktu 24 jam alias sehari. Namun, bagi Saya angka 1001 pageviews dalam jangka waktu 5 bulan adalah suatu pencapaian yang cukup wah. Maaf bukan bermaksud narsis, hanya saja jika diingat masa lalu yang sempat dua kali memiliki akun blog tapi riwayatnya harus berakhir karena tidak pernah diurus, bahkan sudah tidak ingat lagi username dan passwordnya.

Sedangkan kali ini untuk pertama kalinya bisa tetap mempertahankan blog ini selama 5 bulan dengan jumlah posting yang lumayan banyak (Menurut Saya pribadi loh, mungkin menurut orang lain ini masih sangat sedikit.) meski dari segi kualitas tulisan memang masih abal-abal. Justru ke-abal-abal-an itu memang muncul karena niat diri yang ingin meminimalisir dan ingin suatu saat benar-benar mengeliminasi segala bentuk copy paste. Jadi sebisa mungkin hal-hal yang ingin diposting adalah hal yang benar-benar dialami sendiri, atau jika memerlukan referensi tertentu, ya wajib hukumnya untuk mencantumkan sumber referensi.

Terima kasih kepada para pengunjung blog ini, hehe maaf ya kalau ada yang merasa terjebak masuk ke sini dan kecewa jika informasi yang dicari tidak sesuai harapan. Tapi yang jelas terjebak atau tidak, Anda sekalian telah berkontribusi menaikkan jumlah statistik blog Saya. Terima kasih juga kepada http://dotsemarang.blogdetik.com/ yang telah mengadakan Liga Blogger Indonesia (LBI) di Bulan Oktober 2012 lalu. Dengan kegiatan tersebut memotivasi Saya untuk rutin menambah tulisan baik dengan tema yang ditentukan atau dengan tema yang Saya inginkan. Sedikit banyak membuat Saya belajar juga menemukan gagasan dan tema apa yang akan ditulis di posting selanjutnya. Mungkin peserta LBI lainnya juga merasakan hal yang sama dengan Saya, yaitu ada yang kurang ketika dalam satu minggu tidak memposting minimal 1 atau 2 tulisan. Soalnya selama LBI berlangsung, untuk mendapatkan poin minimal setiap minggunya saja kita jadi harus memposting satu tulisan dengan tema wajib, dan dua tulisan dengan tema bebas. Benar tidak ya? Kalau salah maaf ya, maklum sepertinya ingatan jangka panjangnya mulai melemah :). LBI juga secara tidak langsung membuat jumlah posting dan pengunjung blog kita meningkat.

Intinya, sekedar ingin berbagi dan mungkin ada blogger yang mengalami hal sama seperti Saya dulu, ketika mulai bingung mau posting tulisan apa lagi di blognya. Siapa tahu bisa menularkan semangat untuk tetap aktif mengurus dan menghidupkan blognya dengan tulisan-tulisan originalnya. Ada yang baca syukur, tidak ada yang baca juga tidak apa-apa. Tepatnya belum terbaca saja, karena menyimpan tulisan di blog, menurut Saya akan abadi selama belum ada kiamat internet. Meski pemilik akun blog-nya sudah meninggal, tulisannya memungkinkan dibaca oleh siapa pun dan kapan pun. Salam!
read more »

Rabu, 02 Januari 2013

Cerpen: Pertemuan Semalam

Kuhisap lagi lintingan ketiga dari rokok favoritku, kuresapi baik-baik rasanya dan menghembuskan asapnya perlahan. Tepat di balkon sempit dari lantai lima sebuah rumah susun yang kusewa bersama tiga teman seperjuanganku di kota ini. Bersama-sama mencari selembar dua lembar uang untuk tetap bertahan hidup, tentu dengan caranya masing-masing. Seperti mereka yang belum pulang meski jam dinding telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Ya, kebetulan hari ini ketiganya memang sedang mendapat shift malam di tempat kerjanya masing-masing. Dewi yang bekerja sebagai seorang cleaning service di sebuah rumah sakit pemerintah, Susi seorang pegawai restoran cepat saji yang buka 24 jam, juga si Aini teman satu sekolahku saat SD, yang menjadi seorang operator loket jalan tol.

Saat inilah Aku bebas mengepulkan asap rokok sepuasku tanpa ada yang merasa terganggu dan berkomentar macam-macam. Maklum belum genap enam bulan sejak Aku mengenal dan jatuh cinta pada sebuah benda bernama rokok. Sejak itu pula ketiga temanku secara bergantian selalu mengingatkanku akan kebiasaan baruku yang buruk itu. Terutama Dewi yang memang banyak menghabiskan waktu dengan para dokter, bidan, perawat atau apa lah itu sebutan untuk mereka yang bekerja di rumah sakit, sehingga pengetahuannya tentang kesehatan memang paling banyak di antara kami berempat.

Dalam seminggu Aku hanya datang ke kantorku selama 3 hari kerja, selebihnya bekerja di lapangan atau di rumah. Mengumpulkan berita dan kemudian mengetiknya dan selanjutnya ke kantor untuk menyerahkan hasil liputan atau artikel yang kutulis. Aku bekerja untuk sebuah majalah khusus yang memberitakan segala hal tentang kehidupan para selebritis. Tiga bulan lalu, semua rutinitasku itu berhenti. Tepatnya dipaksa berhenti karena majalah kami dan segala pemberitaan di berbagai media tentang kehidupan pribadi para selebriti (khususnya di TV) telah dilarang oleh sebuah lembaga keagamaan. Hal tersebut dikarenakan pemberitaan mengenai masalah pribadi orang lain, dianggap berdosa dan haram. Hasilnya terjadilah pemutusan hubungan kerja besar-besaran oleh para pelaku industri di bidang tersebut. Aku menjadi salah satu korbannya.

Sudah kucoba untuk mencari pekerjaan di beberapa perusahaan yang berada di bidang jurnalistik lainnya. Tetapi nihil, jumlah pelamar yang banyak (Jelas saja diakibatkan oleh terjadinya PHK besar-besaran), dan tingkat pendidikanku yang tidak bisa mengalahkan mereka membuatku semakin sulit untuk memenangkan persaingan tersebut. Memang Aku hanya lulusan SMA yang kebetulan beruntung bisa menjadi salah satu jurnalis di tempat bekerjaku sebelumnya. Itu pun tidak kuawali dengan langsung diterima sebagai jurnalis, melainkan awalnya Aku diterima sebagai pesuruh, tukang bersih-bersih, dan melakukan segala hal layaknya pembantu di sana.

Tetapi karena Aku cukup lama mengamati cara kerja para karyawan di sana, pada akhirnya Aku mencoba menulis. Saat pimpinan redaksi memberikan topik terbaru untuk edisi mendatang yang ditempel di papan pengumuman, maka Aku pun ikut mengerjakannya meski ditulis manual dengan tangan di atas lembaran kertas tak terpakai dari ruang fotocopy. Tentu saja tidak kuberikan pada Bapak Pimred, melainkan sekedar disimpan sendiri di pantry, ruangan yang seolah menjadi ruang kerja pribadiku. Suatu ketika kertas-kertas coretanku itu dibaca oleh Mbak Noni, sekretaris pimpinan redaksi, dan memberikannya pada Pak Bos tanpa sepengetahuanku. Dan akhirnya Pak Bos pun memberiku kesempatan untuk naik pangkat menjadi anak magang sebagai jurnalis, dan setahun kemudian resmilah diriku diangkat menjadi jurnalis tetap di sana. Tapi kini semua itu hancur begitu saja dalam sekejap.

Dua bulan lalu Aku masih bisa ikut serta membayar biaya hidupku yang selama ini memang selalu dihitung setiap bulannya dibagi empat orang sama rata. Tapi bulan lalu dan bulan ini, Aku tidak mampu memenuhi tanggung jawabku tersebut. Ketiga temanku memaklumi keadaanku, dan berusaha terus menyemangatiku untuk tetap berusaha bangkit. Tapi Aku malu, merasa hanya menjadi beban mereka, bagaimana jika bulan depan pun Aku masih belum bisa ikut menanggung beban hidup kami, beban diriku sendiri saja belum bisa kutuntaskan. Belum lagi jika kuingat kehancuran keluargaku, bapak dan ibu yang akhirnya berpisah 10 tahun lalu, karena seorang wanita yang lebih pantas menjadi kakakku, tapi mendadak menjadi ibu tiriku. Ibu yang kemudian sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkanku untuk selamanya. Aku yang saat itu baru berusia 17 tahun sangat merasa terpukul, dan tentu saja tidak bisa menahan amarah untuk berdamai tinggal di rumah Bapak. Maka kuputuskan kabur, menuju ibukota yang katanya memberikan sejuta harapan, saat itu bersama-sama dengan Aini yang tentu saja dia pergi atas restu keluarganya. Sejak saat itu kuputuskan hubungan dengan Bapak, kupikir dia pasti lebih bahagia tanpa adanya Aku di kehidupannya.

Sudah beberapa hari ini pikiran itu muncul dikepalaku. Menyerah, mati, pergi, dan mengakhiri ini semua. Ya, bunuh diri. Dan malam ini, saat Aku benar-benar sedang sendiri lagi-lagi pikiran itu muncul dan terasa semakin jelas keberadaannya. Sampai hadirlah dua sosok aneh, satu berwajah cerah dengan pakaian putih bersih, dan satunya lagi berwajah hitam legam dengan menggunakan pakaian berwarna merah api. Tapi kenapa keduanya memiliki wajah sangat mirip denganku? Ah, kurasa diri ini mulai berhalusinasi karena mengantuk atau memang Aku sudah tertidur dan ini hanya mimpi? Tapi sedetik kemudian Aku mulai yakin bahwa ini bukan sekedar mimpi saat keduanya mulai mengeluarkan suara dan mengajakku bicara.

(Makhluk berbaju putih): Salam, Saya adalah Jin Putih yang diutus oleh malaikat untuk mengunjungimu. Maaf karena kami menggunakan wajahmu, karena tidak ada seorang manusia pun yang kuat untuk melihat wujud asli kami.

(Makhluk berbaju merah api): Hai manusia yang sedang dirundung kemalangan, Aku adalah Jin Hitam yang diutus oleh bos setan untuk membantumu mengambil keputusan.

(Aku): Oh, Aku tidak perlu kalian semua. Toh sebentar lagi Aku akan mati dan meninggalkan dunia ini.

(Jin Putih/JePe): Dari mana kamu tahu kalau kamu akan mati, hanya Tuhan yang mengetahui waktu seseorang untuk menemui ajalnya.

(Jin Hitam/JeHa): Hahaha, menarik sekali. Tapi kedatanganku justru bisa membantumu untuk melancarkan hal tersebut (menyeringai lebar seolah mulutnya robek).

(Aku): Aku memang tidak tahu JePe, tapi Aku akan mencoba melakukannya. Tentunya tanpa bantuan siapapun, jadi sebaiknya kalian semua pergi.

(JePe): Wahai manusia, sesungguhnya masih banyak manusia lain yang memiliki masalah lebih berat darimu. Masih banyak mereka yang menginginkan kehidupan yang panjang tapi tidak bisa meraihnya karena ajalnya telah datang. Mengapa kamu berputus asa dan ingin menyerah, padahal Saya lihat tubuh dan jiwa belum mengalami kerusakan. Sebaiknya segera bertaubat dan segera bangkit berusaha menjalani hidup ini sebaik-baiknya.

(JeHa): Alah, enggak usah dibujuk-bujuk begitu. Biarkan saja dia melakukan keinginannya itu, memangnya kamu mendapat keuntungan kalau manusia di depan kita ini tidak jadi bunuh diri? Hei manusia, omong-omong sudah tahu akan bunuh diri dengan cara apa?

(Aku): Apa sih kalian ini, mengganggu perenunganku saja. Kalau ingin ribut sebaiknya jangan di sini. Jelas saja Aku sedang memikirkan hal tersebut.

(JePe): Baiklah, sembari kamu memikirkan caranya tidak ada salahnya jika kamu juga memikirkan untuk merubah keinginan bodohmu itu. Bunuh diri tidak akan menyelesaikan masalah, asal tahu saja seketika setelah mati kamu akan menjalani siksa kubur, dan saat hari pembangkitan kelak kamu akan menjalani siksaan lagi di neraka. Pikirkan baik-baik sebelum kamu menyesal untuk selamanya.

(JeHa): Sudah jangan dengarkan perkataan si JePe. Tahukah kamu tanpa bunuh diri pun setiap manusia akan mengalami siksaan karena tidak ada manusia yang tak berdosa, maka sebelum dosanya habis dia akan terus mendapat siksaan setelah mati. Jadi sama saja, justru jika kamu mengakhiri hidupmu sekarang, akan membebaskanmu dari penderitaanmu di dunia. Bagaimana?

Aku hanya terdiam, sambil sesekali melirik ke arah dua makhluk aneh itu. JePe sibuk merapalkan entah doa atau apa dengan tangan tidak henti menggerakkan benda mirip tasbih. Sedangkan si JeHa sibuk komat-kamit seperti membaca mantra dan sesekali tampak menyemburkan sesuatu dari mulutnya, layaknya seorang dukun yang ingin menyantet seseorang. Aku memikirkan cara apa yang paling cepat membuatku mati, dengan kemungkinan gagal paling kecil. Lompat dari balkon, sepertinya bukan cara yang tepat karena masih kurang tinggi. Kalau masih hidup, bukankah malah akan membebani ketiga temanku yang mungkin harus menanggung biaya pengobatanku nanti. Iris urat nadi, nanti akan mengotori rumah yang sudah sempit ini, dengan darah. Itu juga kalau Aku tepat mengarahkan benda tajam di pembuluh darah yang tepat, kalau salah meski sudah kesakitan dan kehilangan banyak darah tetap saja Aku masih mungkin terselamatkan. Minum cairan pembersih porselen? Kemarin sudah kucoba, tapi rasanya begitu aneh di mulut, asam dan memuakkan. Jelas saja sebelum masuk kerongkongan, cairan itu refleks kumuntahkan dan percobaan pertama kali bunuh diriku gagal total.

Sampai kuputuskan mencekik leherku sendiri. Bukan kematian yang kudapat malah sensasi rasa aneh yang muncul. Bayangkan kepalaku terasa seperti sebuah balon yang dipompa oleh gas. Rasanya memang sakit di leher, itu masih bisa kutahan. Tapi rasanya bagian kepala dan wajah seolah mekar serasa hampir meletus tapi tidak mampu kuteruskan. Kucoba sekali lagi, dua kali lagi. Hanya bertahan sedikit lebih lama dari percobaan pertama kali, dan tetap saja tanganku refleks melepaskan jeratan di leher yang sudah mulai memerah. Tampaknya memang Aku belum mahir untuk bunuh diri, atau memang benar kata si JePe, selama ajalku belum datang maka sekeras apa pun usahaku, ini tidak akan berhasil.

Baiklah kuputuskan untuk kembali bangkit dan segera setelah ini akan kuambil air wudhu serta bersimpuh memohon ampun kepada-Nya. Setidaknya jika nanti tidak ada pekerjaan apa pun yang dapat kukerjakan, bukankah masih bisa kutuliskan kisah ini dalam sebuah cerpen atau novel. Siapa tahu ada yang akan mengapresiasikannya dengan menerbitkan karyaku. Bukankah tema ini cocok di zaman seperti ini, yang katanya jumlah pelaku bunuh diri semakin meningkat? Bahkan diriku pun nyaris menjadi salah satu pelakunya. Seketika JeHa pun kesal dan tanpa pamit segera menghilang dari hadapanku, sedangkan JePe tersenyum dan kemudian segera berpamitan padaku dengan lambaian tangan dan ucapan salamnya, 

"Alhamdulillah, tugas Saya selesai. Selamat karena kamu telah mengambil keputusan yang tepat, dan selamat menjalani kehidupanmu dengan baik sebelum Izrail menjemputmu pada waktu yang tepat. Assalamu'alaikum."

Seketika JePe juga menghilang sebelum Aku sempat menjawab salamnya dan mengucapkan terima kasih padanya. Tiba-tiba kulihat secercah cahaya menyilaukan mataku. Kudapati diriku sudah terbaring di kasurku, dengan tiga temanku duduk di sekeliling ranjang, dan tersenyum saat melihatku membuka mata.

"Nina, kamu enggak apa-apa kan? Tadi kita kaget banget karena ngelihat kamu tidur di balkon. Kirain kamu pingsan, badan kamu juga demam. Tapi syukurlah panas tubuhnya sudah turun setelah dikompres." 

Aini sibuk berbicara dengan wajah khawatirnya, diikuti dengan anggukan kepala Dewi dan Susi membenarkan pernyataan Aini. Aku pun hanya bisa mengangguk dan sedikit tersenyum untuk memastikan pada mereka bahwa diriku baik-baik saja. Kurasa mereka pasti masih merasa lelah setelah bekerja semalaman, dan masih harus menungguiku sadar tanpa istirahat sejenak. Jadi kuputuskan untuk tidak menceritakan apa yang kualami semalam.



read more »

Between The Fiction & The Fact

Beberapa tahun lalu, kisah Harry Potter sangat mendunia dan disukai oleh berbagai kalangan usia terutama anak-anak sampai remaja. Saat itu pula muncul kontroversi yang dipicu oleh berbagai alasan terkait kisah yang tokoh utamanya seorang anak laki-laki yatim piatu, yang tiba-tiba kehidupannya berubah sejak menjadi murid sebuah sekolah untuk calon penyihir. Salah satu alasan dari kelompok yang berada di pihak kontra, yaitu mengenai kisah yang dapat membuat pikiran seorang anak menjadi melenceng. Atau ada pula yang menyebutkan bahwa sang penulis, J.K. Rowling adalah benar-benar seorang penyihir yang mempunyai misi tertentu sehingga menuliskan segala macam ilmu yang dikuasai dalam bentuk novel.

Terlepas dari semua hal yang tersebut di paragraf pertama, Saya sendiri dulu (Bukan seorang penggemar fanatik sampai saat ini) pernah begitu mengagumi novel tersebut khususnya pada penulisnya. Seorang wanita yang memiliki daya khayal super, apalagi dalam hal menciptakan konflik, penggambaran settingnya, juga pada nama-nama tokoh dan mantra yang cukup unik. Bahkan sampai lebih dari 5 jilid novel, yang semakin lama semakin tebal saja halamannya (Otomatis harganya semakin mahal). Maka dari hanya seri "Batu Bertuah" dan "Piala Api" yang sempat menjadi koleksi pribadiku dan adik-adik. Setelah terputus membaca novelnya dan tidak lagi mengikuti film-nya sampai benar-benar kisah tuntas, maka berakhirlah masa-masa kekagumanku pada Harry Potter dkk.

Kembali ke masalah adanya kontroversi, kalau dilihat dari kacamata para fans Harry Potter (HP) dan J.K. Rowling, jelas mereka akan menolak mentah-mentah segala tuduhan negatif itu. Tapi kalau dilihat berdasarkan pengalaman pribadi, ada benarnya juga kekhawatiran kelompok kontra tersebut. Karena meski dalam level yang berbeda-beda, segala hal yang dilihat, didengar, dibaca, dan terlebih lagi jika hal tersebut diidolakan oleh anak atau remaja, bukan tidak mungkin hal yang dikaguminya itu akan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Memang dulu Saya tidak sampai benar-benar ingin mempelajari ilmu sihir, tapi kadang-kadang ada pikiran unik mengaitkan kehidupan nyata dengan kisah HP.

Contohnya, saat itu memang Saya tinggal di sebuah asrama yang disebut pesantren. Apa miripnya dengan kisah HP? Pertama, sama-sama sekolah dan tinggal di asrama (Pergi pulang sekolah antar kamar dan kelas, bukan rumah-sekolah.) juga sama-sama memiliki 6 tingkat walaupun di Hogwarts School tidak dibagi antara SMP dan SMA. Kedua, adanya senior khusus yang diangkat menjadi semacam pengurus asrama atau ketua OSIS, bagian keamanan, bagian kedisiplinan, dan lain-lain yang biasanya cukup disegani oleh junior-juniornya, berarti sedikit atau banyak senioritas memang tetap ada.

Ketiga, ada saja berbagai konflik antar siswa, siswa-guru, dan lain-lain karena berbagai kesalahpahaman atau perbedaan. Memang di sekolah luar asrama juga pasti ada, tetapi kadang masalahnya bisa merambat menjadi masalah semua anggota asrama, angkatan, atau satu sekolah. Soalnya di asrama itu, nyaris 24 jam selalu bertemu dalam lingkungan yang sama, maka ketika ada masalah sekecil apa pun bisa menjadi lebih dramatis karena emosinya bisa tidak hilang-hilang, karena sejauh mata memandang akan bertemu dengan orang yang sedang menjadi musuh atau lawan sementara.

Keempat, sebaik apa pun sikap kita di sekolah berasrama kadang ada saja hal yang membuat kita pernah dihukum. Karena hal yang tidak sengaja atau memang sengaja dilakukan untuk sekedar solidaritas antar teman atau memang untuk mendapat pengakuan dari lingkungan. Misalnya saat HP memiliki masalah, maka jika ada satu cara yang bisa dilakukan oleh Hermione dan Ron untuk membantunya, maka akan mereka lakukan walau mereka tahu itu melanggar peraturan sekolah. Di pesantren juga kadang ada kejadian unik, solidaritas membuat sekelas kompak melakukan kesalahan yang pada akhirnya membuat kami semua dijemur ramai-ramai di lapangan. Tapi karena memang saat itu merasa melakukan hal benar (setidaknya menurut remaja yang masih labil) dan membuktikan kekompakan maka tidak ada rasa sedih atau marah karena dihukum. Menjadi suatu kenangan tersendiri malah untuk sekedar diingat dan dibicarakan saat ajang reuni. Sama seperti Hermione (Dicap sebagai murid jenius nan kutu buku) yang suatu saat merasa bahagia ketika berhasil melakukan sebuah pelanggaran, Saya pun pernah merasakan hal tersebut, saat lelah menjadi murid yang selalu menghindari hukuman dan tidak menjadi diri sendiri.

Kelima, sama-sama ada beberapa ujian khusus yang tidak ada di sekolah lain pada umumnya, sebagai syarat untuk kenaikan tingkat dan kelulusan. Kalau di dunia HP ada mantra-mantra yang harus dikuasai setiap tahunnya, maka di pesantren ada ujian menghapalkan beberapa doa penting dan ayat-ayat pilihan dari kitab suci Al-qur'an. Meski semua anak medapatkan kewajiban tersebut, namun setiap individu punya gaya-nya masing-masing dalam menghadapi ujian tersebut. Termasuk tingkah lakunya saat masa-masa stres datang karena ujian tersebut semakin dekat, tetapi kemampuan diri belum mencapai target.

Kira-kira begitulah pikiran Saya saat dimana sedang terpengaruh dengan sebuah bacaan fenomal berupa kisah Harry Potter. Di lain hal saat itu juga Saya masih amat menggemari serial Detective Conan, meski sejak 9 tahun belakangan tidak mengikuti kisahnya lagi. Soalnya gregetan menantikan tamatnya alias kisah dimana Conan kembali lagi ke tubuh asalnya, yaitu menjadi Shinichi Kudo selamanya. Dulu sempat jika ada teman yang kehilangan suatu barang atau lupa meletakkannya di mana, maka mulailah insting detektifnya main. Menanyakan lokasi terakhir yang dikunjungi, sampai menanyakan kira-kira ada siapa saja orang yang terakhir kali dia lihat. Bahkan karena terpengaruh sebuah komik, saat SD Saya mengira detektif itu sebuah pekerjaan keren, terutama karena kecerdasannya. Jadi memang ada benarnya juga bahwa bacaan bisa amat sangat mempengaruhi perkembangan imajinasi dan perilaku anak-anak. Tapi karena setiap orang bebas berkreasi dan berkarya, maka sekarang yang menjadi poin penting adalah bagaimana mendidik anak sejak dini untuk menjadi konsumen yang dapat memilih dengan baik. Juga bisa membedakan mana yang benar-benar nyata atau hanya sekedar fiksi alias hasil kreatifitas dalam berimajinasi. Thanks for reading ^_^!
read more »

Selasa, 01 Januari 2013

Poem: SILENTLY LOVE

 SILENTLY LOVE

It is just four letters, but it can make my life changed.
It just a word, but it is not just had one meaning.
It came suddenly, and also can leave me even when I haven't the preparation for it.
Is it something they call "LOVE"?

Some people said that I am looking like another person.
Some people knew there are something happened in my life.
Some people guessed whom make me seem nervous in some situation.
Some people asked me, "Do you falling in love with him? Why?"
I still don't know the reason, but this feeling still stay alive here.

Can I kill this feeling?
Can I forget to all these memories?
I know it has been too long (some people said that is abnormal), but why it so difficult for me?
Should I tell you or just keep it silent?

First day on 2013
Nila Amalia
read more »

Sabtu, 29 Desember 2012

Balita Sekarang: Ekspresif, Kritis, dan Demokratis.

Sedikit-sedikit bertanya apa, siapa, kenapa, kok bisa? Dan orang dewasa di sekitarnya akan memutar otak dengan keras supaya bisa menjelaskan dengan tepat (Sesuai usia anak) dan memuaskan rasa ingin tahunya. Begitulah kira-kira gambaran kondisi anak-anak (dimulai saat bisa bicara) zaman sekarang yang cenderung lebih kritis dan terbuka dalam menyampaikan pendapat. Jika ada yang bertanya mungkinkah ada anak-anak yang memiliki level rasa penasaran sangat rendah? Maka penulis akan mengakui menjadi salah satu anak tersebut di masa lalu.

Kisah aneh ini tentang penasaran seorang anak yang dipendam dalam waktu lama, dan mendapatkan jawaban dengan sendirinya setelah bertahun-tahun kemudian. Jadi begini, sejak mulai bisa membaca wajar kan kalau seorang anak paling tertarik dengan deretan huruf yang membentuk sepatah dua patah kata pendek? Salah satu benda yang sering kulihat di rumah adalah koleksi kaset milik orang tua. Jangan heran selain lagu anak-anak (zaman dulu masih banyak lagu anak-anak yang sedang hits), beberapa lagu orang dewasa yang dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade dan Nike Ardilla cukup akrab di telingaku saat itu. Nah, kebiasaan Ayah adalah menuliskan kaset koleksinya dengan tulisan Abu Nila. Masih belum menemukan keanehan? Mari kita lanjutkan cerita ini di paragraf berikutnya.

Jadi sejak SD itu dalam hati sedikit bingung kenapa di kaset yang bukan milikku malah tertulis namaku. Lagi-lagi karena si anak itu memiliki level rasa penasaran yang rendah, jadilah ia mengambil kesimpulan sendiri. Apa kesimpulannya? Tulisan Abu Nila itu merujuk pada penggabungan nama Ayah dan namaku. Maksudnya? Memang itu merupakan salah satu kata dari nama Ayahku. Padahal saudara-saudara ternyata kesimpulan bertahun-tahunku itu benar-benar salah alias sotoy banget.

Kira-kira enam tahun kemudian sekolah di pesantren, yang pelajaran utama dan paling awal diajarkan adalah bahasa Arab. Ternyata kata Abu itu berasal dari bahasa Arab, yang artinya bapak, ayah, papa, papi, atau sebutan lainnya untuk pasangan kata ibu. Oh, itu to maksudnya jadi kata Abu Nila di kaset koleksi Ayah dulu itu maksudnya milik bapaknya Nila. Kenapa hanya namaku yang dipakai bukan nama kedua adikku? Mungkin saat membelinya dulu memang baru diriku yang lahir ke dunia ini. Jawaban yang baru kudapatkan setelah bertahun-tahun ini, juga diperkuat dengan kebiasaan para ustad (sebutan guru di pesantren) yang baru memiliki anak dan mendapat panggilan Abu...... (Nama anaknya) dari beberapa rekan ustad lainnya. Sampai saat ini pun cerita ini tidak pernah kubagi dengan siapa pun ^_*.

Kisah lainnya yang juga tak kalah memalukan adalah ketika diri ini sejak SD menganggap bahwa setiap orang yang menikah maka sudah pasti tidak lama kemudian perutnya membesar dan segera memiliki adik bayi. Namun, keganjilannya adalah ketika diri berpikir itu semua terjadi tanpa adanya proses apapun dan tidak pernah sekalipun bertanya mengenai sebab musababnya ada adik bayi lahir (Anak-anak sekarang mungkin sudah bertanya tentang dari mana datangnya adik bayi, yang membuat orang tuanya mungkin kebingungan menjelaskannya). Hal tersebut masih tetap kuyakini sampai SMP (Seiring kemajuan zaman anak SMP saat ini mungkin sudah mendapatkan edukasi seks yang dulu dianggap sebagai hal tabu). Apalagi zaman dulu belum banyak kejadian pernikahan dini akibat kecelakaan, dan juga mayoritas kerabat yang baru menikah memang langsung memiliki anak, jadi menurutku secara otomatis Allah akan memberikan adik bayi hanya kepada orang yang sudah menikah.

Kenyataan menunjukkanku bahwa anggapanku tidak sepenuhnya benar. Ketika mulai melihat fenomena di masyarakat, ternyata ada orang yang bertahun-tahun menikah tidak punya anak, dan ada pula yang belum menikah (masih sangat muda) tapi perutnya bisa membesar dan kemudian punya bayi. Selain itu juga diperkuat dengan pelajaran Biologi yang menunjukkan perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Maka di penghujung SMP (khususnya setelah akil baligh) baru menyadari ternyata memang ada "sesuatu" baik berupa proses atau apa pun itu namanya (yang meski saat itu belum mengerti jelas) yang membuat adanya janin bisa tumbuh di rahim dan kemudian lahir menjadi seorang manusia baru bernama bayi.

Itulah kira-kira gambaran anak-anak masa lalu yang mungkin berbeda jauh dari kondisi saat ini. Misalnya sekarang anak TK pun nyaris sudah bisa dengan lugasnya menyatakan siapa artis idolanya, siapa teman yang disukainya (beberapa terang-terangan menyebut itu pacar), bahkan bisa menjadi komentator untuk orang yang umurnya lebih tua. Jika belum mempunyai anak, mungkin saudara sepupu atau keponakan kita lah yang memiliki tingkah unik seperti itu, yang menjadi hiburan tersendiri bagi kita sekaligus juga kadang sampai kehabisan kata-kata untuk menanggapi celetukan mereka.

Misalnya beberapa waktu lalu, saat di rumah ada seorang sepupu yang baru berusia sekitar 4,5 tahun dan kami saat itu menonton acara TV. Tahu kan salah satu boyband yang anggotanya terdiri dari 4 ABG cowok yang saat ini menjadi idola hampir semua anak-anak perempuan terutama yang masih SD. Ya, Coboy Junior. Dengan wajah sumringah si sepupu ini pun berkata, "Eh, ada itu... (diam sebentar karena agak lupa siapa nama salah satu personilnya), siapa itu yang ganteng tu namanya?" Glek, jelas kaget campur pengen ketawa mendengar balita bisa ngomong begitu. Kulihat TV dan asal saja menyebut nama Iqbal (berdasarkan fans-nya yang sepertinya lebih banyak yang mengidolakan cowok imut yang satu itu). "Iya, bener Iqbal." Sepupu kecilku pun membenarkan jawabanku. Bahkan menyebutnya sebagai pacar, hehe kalau ini baru kupahami maksudnya beberapa hari ini setelah terkahir kali dia main ke rumah. Ternyata yang dimaksud oleh balita ini, sebagai pacar adalah seseorang yang dianggap idola, disukai atau disenangi untuk menjadi teman/sahabat. Karena menyusul pernyataannya, kalau dia punya 3 pacar, yaitu: Iqbal Coboy Junior dan Sherina (maksudnya idolanya), dan nama salah satu teman di TK (teman perempuan) alasannya karena suka bermain bersama.

Di kesempatan lainnya sepupuku ini malah bisa mengomentari bahwa Aku lebih cantik jika tidak menggunakan kacamata. Aduh, seumur-umur saja diri ini tidak pernah memikirkan hal itu, wajar saja memakai kaca mata sejak kelas 1 SMP, dan saat itu belum puber dan mikirin penampilan, jadi sampai saat ini merasa kalau tidak pakai kaca mata justru tidak menjadi diri sendiri. Si kecil pun menyarankanku untuk memakai lensa kontak, yang menurutnya seperti saudara sepupunya yang lain. Wah, kepikiran beli lensa kontak saja enggak, apalagi memakainya di mataku. Daripada tidak bisa merawatnya lebih baik pakai kaca mata saja. Begitu pula jika melihatku memakai pakaian yang baru dia lihat, pasti dikomentari paling tidak kalau yang bagus pasti akan dipujinya.

Kekritisan dan keterbukaan yang dimiliki anak-anak zaman sekarang inilah, yang sebenarnya baik untuk masa depan mereka. Mungkin kelak 10 atau 20 tahun lagi kita tidak akan lagi mendengar kisah orang yang menjalani kehidupannya dengan keterpaksaan, mengalami kisah cinta terpendam yang bertahun-tahun tak terungkap dan hanya menyisakan sebuah penyesalan, dan tidak ada lagi orang-orang yang dianggap penjilat karena tidak berani mengungkap kebenaran meski itu pahit. Jadi kalau kelak ada yang bingung dengan berbagai perkataan atau tingkah laku anak-anak yang kritis namun membuat pusing, jangan dianggap negatif. Sejatinya mereka sedang belajar untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
read more »

Rabu, 26 Desember 2012

Cinta (Sama Tapi Beda)

Cinta Tapi Beda. Merupakan salah satu judul film yang akan dirilis pada akhir tahun 2012. Kurang lebih pemahaman Saya setelah sekilas melihat trailer-nya di TV (karena belum menonton dan tidak benar-benar minat untuk menonton karena malas ke bioskop), film ini berkisah tentang kisah cinta yang pelakunya memiliki perbedaan. Sebuah perbedaan yang sangat memungkinkan untuk timbulnya sebuah konflik, bahkan dalam suatu keluarga yang amat menjunjung tinggi nilai keyakinan dalam beribadah. Ya, perbedaan agama yang bukan satu atau dua pasangan saja yang mengalaminya di setiap kota. Maka meski dengan konflik atau pun latar belakang yang berbeda, tidak salah jika film tersebut mencantumkan bahwa kisahnya dibuat berdasarkan kenyataan. Karena memang benar banyak yang mengalaminya, baik yang sukses memperjuangkan cintanya sampai pelaminan (dengan atau tanpa mengubah keyakinan beragamanya), atau bahkan terpaksa kandas karena berbagai alasan, terutama restu orang tua.

Saya tidak akan banyak menulis tentang kisah cinta beda agama, karena tidak memiliki pengalaman seperti itu, dan juga lingkungan sekitarnya cenderung homogen bila dilihat berdasarkan agamanya. Jadi khawatir akan terjadi banyak kesalahan persepsi, jika memaksakan diri menuliskan pandangan tentang cinta beda agama. Masalah perbedaan di mana pun dan kapan pun bisa saja menjadi sebuah konflik dan adanya pihak yang merasa menderita atau merasa hal tersebut menjadi aib. Tidak hanya kasus hubungan antar agama, mereka yang seagama pun tidak semuanya bisa menjalani kisah yang mulus, terutama terkait restu orang tua atau parahnya jika urusan tersebut menjadi urusan keluarga besar.

Pernah mendengar orang-orang (terutama generasi orang tua kita ke atas) yang menyarankan lebih baik mencari pacar atau calon pasangan hidup yang sesuku? Atau terang-terangan menyebutkan suku-suku tertentu yang sebisanya dihindari untuk dijadikan keluarga "baru"? Kasus lainnya mungkin karena perbedaan gelar akademik, status sosial atau kemapanan materinya? Dan ada satu hal lagi terkait perbedaan, yang mungkin sejak lama menjadi hal yang membuat penulis heran, perbedaan antar organisasi keagamaan (masih dalam satu agama).

Maaf jika ternyata tulisan ini bagi beberapa pihak termasuk menyinggung SARA. Tapi penulis hanya ingin mengutarakan pendapat dan sepertinya ada tanda tanya besar yang ada di hati sejak dahulu, sepertinya sejak SD. Bukankah kita sama-sama beragama Islam? Kenapa harus ada perbedaan di sana-sini? Kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah umat muslim terbanyak di dunia, namun mungkinkah karena jumlahnya yang banyak ini jadi terbagi begitu banyak organisasi keislaman (Pemakaian kata "kelompok" atau "aliran" khawatir seolah sudah menjadi agama yang berbeda). Penulis tidak tahu pasti ada berapa jumlah organisasi yang landasan dan seluruh kegiatannya didasari oleh nilai-nilai Islam. Namun, setidaknya ada dua organisasi besar yang paling banyak diberitakan di berbagai media.

Kalau penulis sendiri masuk yang mana? Jika ada yang bertanya demikian, maka Saya tidak ingin menjadi bagian dari yang mana pun. Saya hanya salah satu orang beragama Islam yang tercatat sebagai warga negara Indonesia, maka jika ada keputusan yang menyangkut hal beribadah, misalnya hari raya maka akan mengikuti keputusan pemerintah. Bukankah memang Allah memerintah pada kita untuk taat pada-Nya, pada Rasul-Nya, dan pada pemerintahan? Meski tidak dipungkiri keluarga besar dari orang tua Saya cenderung mayoritas merupakan warga NU (Ups, kesebut juga deh). Satu hal yang sejak kecil mengusik hati adalah kenapa hanya karena perbedaan ini, jadi suatu waktu bisa menimbulkan konflik, atau minimal sekedar saling menjelekkan di belakang. Tidak ingat apa detail permasalahannya, namun waktu Saya masih kecil terdengar pembicaraan para generasi di atasku, tentang perbedaan pandangan dan sikap mereka dengan kerabat lainnya yang berada di pihak organisasi keislaman lainnya. Tentang perbedaan persepsi mengenai doa qunut, tahlilan, dan lain-lain.

Saya masih ingat kalau tidak salah pertama kali belajar dan menghafalkan doa qunut sewaktu kelas 1 atau kelas 2 MI (setara dengan SD). Di buku memang ditulis bahwa hukum membaca doa qunut di waktu melaksanakan shalat subuh, adalah sunnah (dikerjakan berpahala, tidak dikerjakan tidak apa-apa). Karena masih kecil dan terkadang punya pemikiran nyeleneh, ya sudah kan masih kecil jadi tidak usah dibaca saja karena tidak wajib/menjadi rukun shalat (Alasan utamanya sih waktu itu malas menghafal lebih banyak doa hehe). Tapi pendapat anehku itu dibantah oleh Ibu, dan terang-terangan bicara "emangnya orang Muh*mm*diy*h, tidak pakai qunut?" Sepertinya saat itu Ibu agak kelepasan bicara, anak usia sekitar 6 - 7 tahun kan belum mengerti konsep perbedaan itu? Tapi emang dasarnya Saya bukan anak yang kritis, dan lebih takut jadi durhaka kalau tidak menuruti kata orang tua, ya ikuti saja. Namun, semakin besar terutama saat sekolah di pesantren jadi teringat lagi tentang masalah ini.

Salah satu guru di pesantren mengatakan, bahwa jika kita terbiasa membaca doa qunut tapi menjadi makmum dari imam yang tidak membaca qunut, shalatnya tetap sah dan tidak ada masalah jangan dijadikan bahan perdebatan. Begitu pula sebaliknya jika kita terbiasa tanpa membaca doa qunut, tetapi sedang ikut shalat berjamaah di tempat yang selalu membaca doa qunut, ya tidak apa-apa jika hanya diam saat imam membacanya. Atau sekedar mengamini juga tidak ada salahnya, jika memang tidak hafal. Hal ini mengingatkanku pada sebuah fenomena yang pernah kudengar saat ada orang dikira melenceng dari agama karena ikut berjamaah shalat di masjid yang katanya berbeda organisasi (mungkin madzhab ya maksudnya?). Lah, kalau memang jarak rumah atau lokasi tempat beraktivitasnya lebih dekat ke masjid itu, apa iya harus berjalan lebih jauh ke masjid lain? Atau dengan alasan tersebut menyia-nyiakan 27 derajat pahala lebih banyak, dengan shalat sendiri? Hal lebih miris lagi jika konflik karena perbedaan ini, juga diakibatkan karena mereka yang disegani di kelompok masing-masing, juga selalu mempermasalahkan perbedaan itu. Masing-masing saling menganggap dirinya yang benar. Apalagi jika masa menjelang penentuan kapan mulai puasa Ramadhan, hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan lain-lain. Apakah mungkin suatu saat nanti hal seperti itu bisa mencapai satu kesepakatan bersama? Sebagai masyarakat awam, mungkin inilah yang menjadi harapan kami.

Bagaimana jika ada kejadian seperti ini, seorang Ibu menyampaikan suatu harapan pada putrinya. Kelak jika Sang Ibu telah tiada ingin jika tetap ada yang mendoakannya dengan tetap mengadakan acara tahlilan. Maksud dari pembicaraan itu secara tidak langsung adalah kalau bisa calon menantunya kelak berasal dari kelompok yang membiasakan adanya tradisi tahlilan. Intinya tidak mengharapkan adanya perbedaan terkait hal yang satu itu. Padahal masalah jodoh dan kematian adalah misteri Illahi. Belum tentu juga yang akan meninggal dunia lebih dulu adalah Sang Ibu, bisa jadi anaknya duluan. Atau belum tentu juga jika anaknya mendapatkan pendamping dari yang sekelompok itu, lebih baik kehidupan dunia akhiratnya. Karena masa kini adalah masa sekarang, dan masa depan tidak ada yang tahu pasti. Padahal jika waktu dan orang yang tepat sudah datang, permasalahan apa pun sewajarnya bisa menjadi suatu hal yang bisa dimusyawarahkan. Bukan menjadi konflik keluarga.

Itu hanyalah sekedar contoh, dan bagaimana bila konsep dalam film Cinta Tapi Beda itu diadaptasi ke masalah di paragraf sebelumnya? Mungkin penulis akan mengubah sedikit judulnya Cinta (Sama Tapi Beda). Meski sudah memiliki keyakinan beragama sama pun, tetap akan ada hal-hal yang membuat cinta itu tidak mudah bersatu. Beda mulai puasa, beda lebaran, beda suku, beda madzhab, beda profesi, beda adat, dan lain-lain. Memang cinta itu sungguh rumit dan unik, bahkan bagi mereka yang sudah memiliki banyak persamaan sekali pun. Karena semua pasti memiliki cinta dengan kisahnya masing-masing, terutama terkait kisah bagaimana memperjuangkan cintanya itu. Maka cinta adalah sebuah tema yang tidak akan pernah usang dibahas dalam suatu diskusi, ditulis sebagai sebuah cerita, direkam dan kemudian  disaksikan dalam bentuk sebuah film. Karena cinta adalah C-I-N-T-A (Wah, ini sih ngutip kata-katanya D'Bagindas ^_^).

read more »

Selasa, 25 Desember 2012

Kecanduanku Pada Hal Itu

Sepertinya hal itu mulai menjadi candu untukku. Sungguh jangan berpikir yang macam-macam, apalagi ke arah sesuatu yang ilegal dan kriminal. Karena candu yang kurasa ini adalah pada makanan dengan rasa pedas. Sebuah cita rasa yang mayoritas orang sama sekali tidak mengidentikkannya dengan makanan khas dari suku orang tuaku. Bukan sekedar anggapan orang banyak tanpa bukti mendasar. Memang kenyataannya sampai lulus SD pun keluargaku seolah tanpa sadar menanamkan doktrin bahwa makanan pedas itu bukan untuk anak-anak, padahal orang dewasa di sekitarku kala itu, juga hampir tidak pernah menyantap makanan pedas level tinggi. Sekalinya ada pelengkap makanan berupa sambal uleg, itu juga masih ditambahkan gula pasir atau gula jawa sebagai pemanisnya.

Karena itu pula saat masih SD, Aku menjadi anak yang terkagum-kagum pada teman-teman yang berani atau bahkan sangat menyukai makanan pedas. Tapi semua itu berubah saat Aku keluar sementara dari rumah, tinggal dan sekolah di sebuah sekolah berasrama. Nyaris semua anak perwakilan dari Sabang sampai Merauke ada di sana. Walaupun mayoritas sepertinya tetap terbanyak mereka yang berasal dari tanah Sunda, karena sekolah kami memang berada di Provinsi Jawa Barat.

Sedikit demi sedikit Aku mulai terbiasa dengan menu makan sehari-hari yang sedikit ada rasa pedasnya. Apalagi suasana makan bersama memiliki sedikit banyak pengaruh, walaupun tetap saja masih pilih-pilih makanan dengan bahan utama sayuran atau ikan teri yang sebelumnya tidak pernah dimakan. Misalnya lauk makan siang berupa tumis teri cabai hijau dengan sayur asem. Kedua menu ini bagaikan harus memaksa diri makan nasi putih saja, tapi daripada makan tanpa rasa akhirnya kuputuskan untuk tidak meminta sayur asem pada Mpok pembagi makanan. Dengan meminggirkan ikan teri atau diberikan pada teman yang suka, Aku hanya makan dengan cabe hijau dan sedikit bumbu tumis teri tersebut. Maka mulailah lidah ini terbiasa dan nyaris kurang berselera makan tanpa ada sedikit rasa pedas di setiap makanan.

Kemudian level tingkat ketahanan terhadap rasa pedas mulai meningkat seiring berjalannya waktu, dan perubahan pola makan. Ketika sudah agak lama tinggal di asrama dan mulai akrab dengan teman-teman lainnya, ada satu kebiasaan yang dilakukan ketika tidak makan saat waktu makan tiba, bisa jadi kehabisan atau sengaja tidak makan karena lauk yang tidak sesuai harapan. Biasanya menjelang pukul 5 sore (soalnya biasanya jam segitu nasi untuk makan malam baru matang) beberapa orang akan sepakat patungan beli lauk di rumah makan luar asrama, bisa di warteg atau rumah makan Padang. Namun saat kondisi kantong sedang pas-pas-an dengan lauk sederhana tetapi yang wajib adalah sambal warteg yang dibeli dalam jumlah sebanyak mungkin. Lalu nasinya tidak perlu beli, tapi ambil saja di dapur asrama. Kebiasaan bergabung bersama teman-teman penyuka pedas inilah yang merubah kekebalan lidah ini pada rasa pedas.

Selanjutnya beberapa tahun belakangan ini, seolah makin tren segala jenis makanan atau sekedar cemilan yang menawarkan cita rasa pedas. Bahkan beberapa produk seolah menjadi simbol atau gaya hidup anak muda yang ingin disebut gaul. Meski tidak terlalu mengikuti semua tren yang ada, sesekali diri ini juga penasaran, apalagi kalau di sekitar kita yang menjual produk tersebut. Akhirnya setelah mencoba sekali, merasa kepedesan, tetapi saat di lain waktu membeli lagi entah kenapa kok tidak terlalu terasa pedas seperti waktu pertama kali mencoba. Kupikir ini karena strategi produsen yang terkena imbas harga cabai yang melambung lumayan drastis. Begitu juga saat sesekali iseng membuat mi instan dengan puluhan cabe rawit diuleg kasar. Pertama kali kepedesan, tapi kedua dan ketiga kalinya dengan takaran hampir sama tapi tidak mampu memuaskan diri yang saat itu sedang ingin makanan super pedas.

Beberapa waktu berselang, tanpa disengaja menemukan artikel yang menjelaskan bahwa (kurang lebih seperti ini kesimpulan yang kupahami) semakin sering seseorang mengkonsumsi makanan pedas, maka tingkat kepekaan indera pengecapnya juga mengalami penurunan. Atau kata lainnya, semakin kebal juga lidahnya, maka setiap kali makan pedas merasa masih kurang pedas. Oh, jadi ini yang terjadi pada diriku terutama pada bagian lidahku yang bertugas mengecap rasa pedas. Maka jangan kaget kalau saat kita menyantap makanan yang menurut lidah kita belum terlalu pedas, tetapi sudah bisa membuat lambung bereaksi dan terjadi hal yang tidak dikehendaki. Diare misalnya atau lebih parah lagi penyakit berat yang memerlukan penanganan serius dari tim medis.

Tapi nasi sudah jadi bubur, kebiasaan sudah terlanjur mengakar dan sulit diberhentikan. Beginilah jika seseorang sudah kecanduan pedas. Enggak pedas, enggak enak, berasa hambar. So, pintar-pintarnya saja mengatur supaya kebiasaan ini tidak jadi senjata makan tuan buat diri kita sendiri. I love chili, sambal, and everthing have hot and spicy taste.

Thank's for visiting, pemilihan theme blog ini meski awalnya iseng tapi boleh juga disebut karena kesukaanku pada rasa pedas. Cabai, banyak warna, banyak jenis, dengan tingkat rasa pedas yang berbeda-beda juga. Membuat makan lebih berasa (Loh kok mirip iklan saus sambal ya?).
read more »

Senin, 24 Desember 2012

Hello Kitty Pancake With Chocolate Meises

Salam blogger, semoga liburannya menyenangkan ya. Pancake adalah salah satu jenis makanan yang di berbagai negara memiliki versinya sendiri. Bahkan di Indonesia, beberapa jenis kue, meski memiliki cita rasa, warna, tekstur, dan penyajian yang berbeda, pada dasarnya mirip yaitu masih berupa penjelmaan dari versi pancake asli (tapi saya sendiri belum tahu pasti, pancake asal muasalnya dari mana dan jenis yang mana, yang benar-benar dikatakan sebagai pancake original).

Pan dalam bahasa Inggris artinya wajan, sedangkan Cake artinya kue. Maksudnya (kurang lebih menurut pemahaman saya) sejenis kue yang dimasak dengan atau tanpa minyak di atas sebuah wajan. Nah, berdasarkan pengamatan dan uji coba rasa beberapa jenis kue yang termasuk saudara-saudaranya si pancake atau panekuk ini, di antaranya yaitu: serabi, dadar gulung, crepe (ini sih versi moderen), dan lain-lain.

Sebenarnya pertama kali membuat pancake sudah lama banget, tepatnya setelah beberapa kali melihat liputan kuliner di TV tentang pancake yang lembut, empuk, dan kelihatannya sangat enak. Namun berhubung harga yang lumayan mahal dan jauhnya lokasi cafe yang direkomendasikan, maka nekatlah saya melakukan beberapa kali eksperimen, dengan resep yang berhasil didapat dari internet. Hasilnya, waktu pertama kali buat aromanya lebih mirip apem, mungkin kebanyakan baking powder-nya, dan bantet. Berkali-kali mencoba, sempat berhasil empuk tapi tidak bertahan lama. Bantet lagi dan lagi. Sampai akhirnya sempat menyerah dan merasa tidak bakat memasak si "kue wajan" itu.

 Still The Bantet Pancake (dengan stroberi + es krim sebagai penawar kekecewaan).

Nyaris ada satu tahun sejak masa menyerah, tiba-tiba saya menemukan blog yang memaparkan resep pancake empuk, yang empunya blog ternyata juga sempat mengalami kegagalan-kegagalan saat membuat pancake sebelumnya. Cerita klasik, yaitu bantet. Namun di postingannya, beliau mengakui akhirnya bisa membuat pancake empuk. Tapi karena ketersediaan bahan atau pun memang pada dasarnya memasak itu tidak seperti hitungan pasti matematika, tetap saja saya perlu melakukan modifikasi dan improvisasi (Waduh, mulai ngaco bahasanya.) dari resep aslinya. Bagi yang ingin melihat resep aslinya silahkan mampir ke http://vidyaipied.blogspot.com. Thank you sista Vidya yang sudah berbagi resep.

Sejak pertama kali menemukan resepnya sista Vidya, sudah sekitar 4 atau 5 kali saya mencoba membuat pancake, dan hasilnya empuk. Malahan pernah suatu kali karena membuatnya banyak, sampai akhirnya seharian belum habis juga itu kue. Tapi teksturnya tetap empuk, dan untuk mengubah sedikit cita rasanya, saya membuat kinca (kuah gula dan santan/susu yang biasanya untuk serabi). Rasanya jadi lebih enak (hehe narsis bin promosi).

Untuk resep yang kali ini saya posting, spesial pancake-nya dimasak di wajan mini berbentuk Hello Kitty. Ya, memang tidak terlalu jelas sih wajah si "kucing terkenal sedunia" ini, mungkin karena ukiran di wajannya yang kurang tebal (maklum belinya yang murah hehe). Tapi tetap lebih spesial daripada yang sebelumnya, apalagi yang ini juga ditambahkan meises coklat di dalam adonannya. Terinspirasi dari kue cubit yang dijual abang-abang di sekitar SD. Ini dia Hello Kitty Pancake With Chocolate Meises.


Bahan kering:
1 cangkir (muncung) tepung terigu serbaguna
2 sdm gula pasir (sesuai selera)
1 1/2 sdt baking powder
seujung sdt garam
meises coklat atau bisa diganti kismis/kurma

Bahan basah (kocok dengan whisk atau pengocok telur):
3/4 cangkir susu cair
1 btr telur ayam
2 sdm minyak kelapa sawit/minyak goreng biasa

Cara membuat:
1. Aduk rata semua bahan kering (kecuali meises) di dalam mangkuk yang terpisah dari bahan basah.
2. Kocok telur, susu, dan minyak, sampai semuanya bercampur menjadi satu dan warnanya lebih pucat.
3. Masukkan bahan kering ke dalam mangkuk berisi adonan bahan basah, aduk sampai tercampur rata. Jangan terlalu lama diaduk, cukup sampai semuanya tercampur rata saja.
4. Masukkan meises cokelat atau buah kering sesuai selera, tidak digunakan juga tidak apa-apa.
5. Panaskan wajan datar dengan api kecil, dan dioles dengan sedikit minyak (cukup sekali saja mengoleskan minyak karena adonan pancake sudah mengandung minyak).
6. Tuang adonan di atas wajan, diamkan beberapa saat sampai permukaan adonan muncul lubang-lubang kecil nyaris merata di semua bagian. Setelah lubang-lubang kecil itu merata, segera balik dan biarkan hanya beberapa detik, kemudian angkat pancake. Lakukan sampai adonan habis. Resep ini bisa menghasilkan 7 - 8 buah pancake.
7. Sajikan dengan topping sesuai selera, seperti es krim, madu, sirup maple, saus cokelat, buah, dan lain-lain.


Note:
Sebelumnya selain membuat versi original pancake, saya juga pernah mengaplikasikan resep ini menjadi pancake pandan, cuma karena ada penambahan pewarna makanan jadi takaran gulanya harus ditambah.
Sekedar info, memasak memang kadang tidak semudah yang terlihat. Apalagi karena memasak bukan seperti hitungan pasti matematika. Saya pernah mencoba membuat pancake dua kali lipat dari resep asli, dengan mengkalikan dua setiap takaran bahan-bahannya. Tapi hasilnya kurang memuaskan, jadi harus lebih mengutamakan feeling.
*sdm = sendok makan
*sdt = sendok teh
read more »