Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Sabtu, 19 Januari 2013

Saranghaeyo...

Memang sulit untuk menyatakan perasaan suka, sayang, atau cinta pada seseorang lawan jenis yang berhasil membuat hidup kita mengalami perubahan. Aku sendiri mengakui akan hal tersebut, dan masih berusaha untuk tetap merahasiakannya meski seringkali ada suatu keinginan untuk menyatakan. Supaya keadaan ini tidak berlarut-larut mengiringi langkahku, tapi kenyataan berkata lain. Aku masih tidak mampu untuk mengatakannya, walau hanya sekedar lewat pesan tertulis tanpa bertatap muka. Biarlah seperti ini dulu, entah kapan akan terungkap.

Sedikit pembuka yang mengarahkan kita pada bahasan utama. Bukan tentang perasaan cinta terpendam pada seseorang yang belum tentu sedetik pun pernah mengingatku. Tapi ini tentang cinta dan kasih sayang kepada Ibu. Banyak kisah mereka yang takut tidak mampu mengatakan dan menunjukkan kasih sayangnya pada seorang yang disebut gebetan, pacar, kekasih, atau pasangan pernikahan sah sekalipun. Tanpa disadari ada seseorang yang lebih pantas untuk kita takutkan, tidak ada lagi kesempatan mengatakan rasa sayang kita pada beliau. Ibu. Mungkin banyak mereka yang memiliki hubungan begitu dekat dengan orang tuanya, terutama dengan Ibu, Mama, Bunda, Emak, Ummi, Eomma, dan apa apun panggilan yang mereka sebut kepada orang yang melahirkan atau mengasuh mereka di dunia ini. Dengan santainya memeluk, mencium, dan mengatakan "Aku sayang Ibu, terima kasih atas segalanya." Sungguh bahagia mereka yang bisa melakukannya sesering mereka bisa.

Tapi tidak dipungkiri ada sebagian juga yang begitu sulit mengungkapkan dan menunjukkan perasaan sayang mereka pada Ibu. Padahal di hati mereka tersimpan rasa sayang dan cinta yang teramat sangat untuk Ibu. Tidak semua keluarga memiliki kebiasaan menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan. Pernah suatu ketika Aku merasa sangat berbeda dengan teman-teman, saat melihat keakraban mereka dengan sang Ibu. Berjalan beriringan saling mengandeng tangan, tanpa segan memeluk dan dengan terbuka menceritakan kisah cinta pertama mereka. Bukan Aku tidak ingin atau tidak mau mencoba lebih mendekatkan diri pada Mama, hanya saja sejak kecil Aku tidak terbiasa dengan keterbukaan sikap saling menunjukkan perasaan sayang antar anggota keluarga. Tidak ada masalah besar yang sampai menimbulkan konflik, kami saling menyayangi, hanya saja sepertinya satu sama lain sama-sama malu sekedar mengatakan sayang, cinta, memberikan pelukan atau ciuman sesering mungkin. Kami pun seperti sudah saling tahu isi hati masing-masing, bahwa inilah cara kami menyayangi keluarga.

Mungkin bukan hanya keluarga kami yang mengalami hal demikian. Mungkin juga masih banyak para anak yang masih sulit untuk sekedar mengatakan "Aku sayang Mama, terima kasih telah melakukan segalanya untukku, dan maaf jika belum mampu membuatmu bahagia", seperti diriku. Karena itu ada sebuah lagu berjudul "Dear Mom" yang dinyanyikan oleh SNSD, seolah mencoba mewakili isi hati seorang anak yang ingin mengutarakan rasa sayangnya pada Ibu mereka, meski merasa sulit, segan, takut, dan malu karena tidak terbiasa mengatakan "I love you, Mom"

Tapi biar bagaimanapun ingin kuungkapkan bahwa Aku sangat mencintaimu Mama, kusadari belum ada hal yang membuatmu bangga dari diriku. Kenanganku akan kebersamaan kita, tetap jauh lebih sedikit daripada yang kauingat sejak hari pertama gumpalan darahku ada di rahimmu, hingga saat ini kuberanjak dewasa. Bahkan meski anakmu tidak hanya diriku, engkau pun masih bisa mengingat saat pertama kali Aku bisa berjalan, bicara, terluka, dan menjadi nakal. Tapi tidak pernah kau ungkit semua kesalahanku di masa lalu, walau di saat Aku kembali melakukan hal yang membuatmu sedih. Kuakui bahwa diriku malu dan segan untuk mengatakannya, tapi Aku juga takut jika kesempatan itu hilang untuk selamanya. Aku sayang Mama melebihi siapapun di dunia ini. Meski kita tidak terlihat akrab dan begitu dekat, Aku sayang Mama, Aku sayang Mama, Aku sayang Mama. Mungkin saat ini hanya mampu kutuliskan kata-kata ini. Semoga Aku benar-benar mampu mengatakan langsung padamu Mama, terima kasih untuk segalanya.

"... Sujubeo jaju pyohyeon mothaejyo, Eomma jeongmallo saranghaeyo*" (SNSD - Dear Mom)
Aku malu dan tidak mampu untuk mengungkapkannya, bahwa Aku sangat mencintaimu Mama.

read more »

Jumat, 18 Januari 2013

Maaf

Adikku sayang.....

Maaf karena kakakmu tidak dapat memberikan contoh yang baik untukmu.

Maaf karena diriku tidak seperti kakak-kakak temanmu, yang bisa dibanggakan akan kecerdasannya, kecantikannya, kemodisannya dalam berpakaian, dan membuatmu bangga mengakui bahwa kau adalah adikku.

Maaf karena diriku tidak memiliki satu pun kebaikan, yang membuatmu ingin melakukan hal yang sama.

Maaf kalau terkadang, atau mungkin sering kubuat kau merasa jijik melihat segala tingkah lakuku.

Maaf karena aku tidak dapat membuatmu nyaman menceritakan isi hatimu, layaknya seorang sahabat perempuanmu, seperti temanmu dengan kakak perempuannya.

Maaf karena ku tak mampu mencegah Tuhan memilihku menjadi kakakmu.

Jika saja kudapat meminta sebelumnya pada Tuhan, akan kupinta pada-Nya untuk memberikanmu sosok kakak yang jauh lebih baik dari diriku.

Maaf jika Aku membuatmu malu mengenalkanku pada teman-temanmu.

Aku merasa pantas jika kau bicara denganku dengan nada tinggi, karena kau sudah cukup bersabar menerimaku sebagai kakak kandungmu.

Beribu kata maaf memang tidak dapat mengubah keadaan, dan mungkin Aku tidak layak mendapat maaf darimu.

Tetapi, sungguh kakak sayang padamu dik. Kakak pun ingin mendengar cerita tentang hari-harimu. Ingin dekat denganmu, sama seperti temanku sangat dekat adiknya seperti seorang sahabat.


Salam Sayang
Kakak kandungmu
read more »

What Do You Think When The Rain Fall?

Hujan seolah memberikan sejuta inspirasi untuk sebagian orang, terutama mereka yang aktif di media sosial internet. Banyak kicauan galau, status yang tiba-tiba romantis, atau curhatan puitis di blog pribadi (hehe ngaku, pernah juga sih). Mengapa dengan hujan yang sama bisa menimbulkan berbagai ekspresi? Buat mereka yang religius, mungkin akan lebih menilai hujan sebagai berkah dari Tuhan, dan konon sebagai salah satu waktu terbaik untuk berdoa.

Jauh sebelum kudengar kata-kata, "Aku selalu menyukai aroma tanah yang tersiram hujan" (entah di film atau sinetron), sejak kecil rasanya memang merasakan kesenangan tersendiri saat tiba-tiba hujan turun mengguyur tanah yang kering. Dan mungkin itu pula yang dirasakan milyaran manusia lainnya di dunia. Jadi hujan bagi diriku seolah mengingat kenangan masa kecil, di mana bisa menikmati hujan-hujanan tanpa rasa malu. Saat dewasa, mayoritas orang akan melihat aneh jika kita masih dengan gembira berlari-larian  di tengah derasnya hujan. Saat dewasa juga kita lebih berhati-hati dan memikirkan dampak buruknya dari bermain hujan, terutama saat kondisi tubuh tidak fit. Tapi anak-anak belum memikirkan hal-hal seperti itu, apa yang ingin dilakukannya akan dilakukan tanpa rasa ragu.

Lalu, kenapa juga orang bisa menjadi lebih mendramatisir keadaan saat hujan turun? Mungkin karena hujan bersifat cocok di segala suasana hati masing-masing manusia. Contoh, saat sedang gembira dan kemudian hujan turun, orang itu akan merasa hujan turun turut merayakan kebahagiaannya. Di saat sedih atau patah hati, orang akan merasa langit merasakan kesedihannya dan ikut menangis bersimpati padanya. Benar atau tidaknya, kuserahkan pada kalian :).

Media juga menurutku sedikit banyak berperan dalam fenomena ini (kusebut fenomena karena saat musim hujan seperti ini, seolah ramai orang-orang menuliskan isi hatinya di dunia maya). Lihat saja adegan film atau sinetron! Saat tokoh protagonis sedang merasa tersakiti, teraniaya, atau dikhianati cintanya, maka sering kan kemudian adegan menangis di bawah guyuran hujan? Begitu juga saat ada pasangan yang sedang jatuh cinta alias sedang berada di puncak kegembiraan. Di film India misalnya, lari-larian sambil menyanyi dan menari saat hujan deras (normalnya kan takut disambar petir hehe). Atau saat kedua sejoli ini berada di tempat terpisah, maka adegan akan bergantian memperlihatkan masing-masing dari mereka menatap hujan sambil mengingat orang yang dicintainya (ketahuan deh jadi pengamat sinetron). Hal-hal seperti inilah yang sedikit banyak mempengaruhi cara berpikir kita saat mengkaitkannya dengan hujan.

Kira-kira seperti itulah ulasan singkatku mengenai fenomena hujan dengan fenomena galau, melankolis, nostalgia masa lalu, dilematis, yang mungkin membuat kita terheran-heran atau tanpa sadar menjadi salah satu korbannya (peace ya ^_*). Kalau salah ya mohon dimaafkan, namanya juga pendapat abal-abal. Kalau benar, itu hanya kebetulan semata, beneran deh enggak bermaksud menyinggung siapa-siapa. Happy friday!!!
read more »

DBLOGGER, I Am Coming ^_^

Ketika sedang melakukan aktivitas blogwalking, tanpa sengaja Saya menemukan info tentang lomba menulis bertema "Aku dan dBlogger." Hmm, jadi penasaran syarat lombanya apa saja, tapi lebih penasaran lagi apa sih dBlogger itu? Ternyata dBlogger itu suatu komunitas para blogger, yang awalnya hanya blogger di blogdetik.com, tetapi kemudian berkembang dan anggota sudah banyak juga yang non anggota blogdetik.com. Wah, berarti respon para blogger terhadap komunitas ini, cukup baik. Salut buat dblogger.blogdetik.com.

Selama ini Saya pikir komunitas blogger hanya aktif di dunia maya, misalnya mengikuti kompetisi menulis di blog saja. Atau paling tidak mengadakan kopi darat secara periodik, tapi ya kegiatannya hanya sekedar berkumpul di suatu tempat alias hanya melakukan kegiatan dari blogger untuk blogger kembali. Ternyata pemikiran Saya salah, dBlogger punya beberapa kegiatan yang rutin dilakukan, bahkan bersifat sosial juga, seperti:

1. Mengadakan acara KOPDAR (Kopi Darat) secara rutin.
2. Mengadakan lomba nge-blog seperti yang saat ini sedang berlangsung.
3. Mengadakan gerakan berbagi kepada sesama yang membutuhkan.
4.  Dbloggeran (Arisan dblogger).
5. Penggalangan dana untuk korban bencana.
6. Melakukan kunjungan ke Panti Asuhan dan Rumah Singgah.
7. Pemilihan anggota DBLOGGER favorit (King & Queen).

Bahkan selain kegiatan tersebut, ada juga warung DBLOGGER yang menjual berbagai hasil karya dari tim kreatif bBlogger, berupa merchandise komunitas dBlogger yang sedang berulang tahun keempat di tahun ini. Ada sticker, pin, mug, jaket, tas laptop, jam dinding, pulpen, gantungan kunci, dan lain-lain. Sip, sambil bersosialisasi sambil berbisnis.

Ini merupakan perkenalan pertama Saya dengan dBlogger, sekaligus bertepatan dengan peringatan ulang tahun keempatnya. Selamat ulang tahun dblogger.blogdetik.com, semoga semakin jaya dan dapat menjadi komunitas blogger yang selalu dicintai anggotanya. Hari ini juga Saya baru mendaftar menjadi anggota, semoga bisa berkontribusi dalam setiap kegiatan yang diadakan dBlogger. Sukses untuk dBlogger! ^_^

Buat yang ingin berpartisipasi dengan lomba menulis ini silahkan mampir ke sini.
read more »

Kamis, 17 Januari 2013

Mereka Yang Tetap Ceria Kala Banjir

Tuhan, pagi ini kumohon semoga banjir yang sedang melanda sebagian besar wilayah Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, agar Kausurutkan airnya. Berikan kekuatan fisik dan rohani bagi para korban, dan jangan padamkan semangat hidup mereka. Aamiin.

Satu hal yang menjadi perhatianku dari tayangan berita TV tentang banjir, adalah anak-anak di lingkungan yang terkena banjir. Apalagi jika banjirnya masih di bawah 1 meter. Lihatlah wajah anak-anak, khususnya yang masih belajar di SD. Tampak rona wajah ceria, meski tempat tinggal mereka terendam banjir. Tetap ceria berenang di kolam air berwarna cokelat, tanpa memikirkan kebersihan airnya. Tanpa rasa takut nantinya gatal-gatal di sekujur badan, dan tidak khawatir terserang batuk pilek. Begitu juga tidak sempat memikirkan apakah masih ada pakaian kering dan bersih untuk dipakai nanti malam.

Jangan salahkan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya, yang tidak melarang mereka main air di kolam "dadakan" itu. Mereka hanya anak-anak, yang sejatinya memang masih anak-anak. Jika belajar dalam keadaan seperti itu sangat tidak memungkinkan, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain bermain? Air dan anak-anak merupakan perpaduan menarik untuk disebut sebagai sebuah permainan a.k.a bermain air. Mereka hanya berusaha tetap ceria di tengah keadaan yang mungkin bisa dikatakan musibah atau cobaan. Apalagi bagi mereka yang belum pernah merasakan berenang di kolam renang umum yang membutuhkan biaya yang tidak terjangkau bagi keluarga mereka. Maka banjir seolah menjadi hiburan tersendiri, wahana rekreasi gratis tanpa perlu menguras kantong orang tua mereka.

Bersyukur tidak pernah mengalami banjir, hanya bagian dalam rumah yang sempat banjir karena tetesan air hujan dari atap rumah, alias kebocoran. Tapi, waktu itu karena masih kecil, rasanya tidak pernah mengeluh walau saat hujan deras harus bergotong royong menyiapkan ember dan panci di lokasi kebocoran, yang memang tersebar di banyak tempat. Ketika masih anak-anak, kurasakan hal itu seperti sebuah permainan. Kesenangan dan semangat luar biasa saat menemukan lokasi bocor, dan dengan sigap meletakkan ember, baskom, bahkan panci. Kemudian genangan air di lantai yang belum sempat di lap, membuatku membayangkan berada di sebuah kolam renang super dangkal (karena kurang dari 1 cm ketinggian airnya). Sesekali saat hujan turun, dan Mama tidak berada di rumah (Aku dan adik ditinggal bersama si Mbak asisten rumah tangga) dengan gembira bermain hujan-hujanan di depan rumah. Kadang sedikit nakal berharap banjir supaya bisa seperti teman-teman (anak seusia kami yang terlihat di TV) yang bermain di tengah-tengah banjir. Memang begitulah anak-anak, dengan kepolosan dan keceriaannya selalu berbahagia dalam keadaan apa pun.

Saat duduk di bangku SD, Aku berpikir ingin cepat menjadi orang dewasa yang tidak perlu mengerjakan PR setiap hari. Tetapi saat ini, jika waktu bisa kembali ke masa itu, sungguh akan kuubah pernyataanku. "Jika bisa terjadi, sungguh kuingin hanya masa anak-anak yang kualami dalam hidup. Karena menjadi dewasa itu rumit, walaupun anak-anak selalu mengira orang dewasa itu hebat bisa melakukan banyak hal. Tetap saja masa anak-anak adalah masa terindah dalam hidup, meski tidak selalu bergelimang dengan materi." Dalam situasi apa pun, anak-anak selalu bisa menemukan keceriaan dengan caranya yang unik. Adik-adikku yang sedang berada di kawasan banjir, baik-baiklah kalian di sana, semoga tetap sehat dan bertubuh kuat, supaya berbagai jenis penyakit tidak menjangkiti kalian. Maaf kuhanya bisa membantu dengan seuntai doa dari tempatku yang agak jauh dari kalian. Surut, surut, surut ya air please :).
read more »

Tips Membuat Anak Mau Makan Sayur.

Masalah anak-anak tidak suka sayur adalah masalah umum nan klasik, karena nyaris sejak dulu sampai sekarang masih saja kita temukan. Bahkan beberapa anak-anak yang dulunya Antis (Anti Sayur ya, bukan Anti Smash ^_*) masih mempertahankan sikapnya sampai dewasa. Saya sendiri sekarang masih pilih-pilih, tergantung jenisnya atau pada cara pengolahan dan bumbu yang digunakan.

Kali ini saya tidak akan menceritakan masa lalu yang kelam itu (jelas kelam karena selain tidak suka makan sayur, dulu juga menolak makan buah-buahan). Tetapi untuk pertama kalinya di blog ini akan membuat artikel tips, meski hanya berdasarkan pendapat pribadi yang belum terjamin 100% keakuratannya. Semoga ada yang cocok dipraktekkan di rumah, atau kalau ada yang melenceng, silahkan dikomentari siapa tahu bermanfaat untuk para pembaca.

Jadi begini, setelah berpengalaman menjadi seorang anak yang bernafsu makan rendah, selalu pilih-pilih makanan, dan ANTISAH (Anti Sayur & buah), namun karena satu dan lain hal membuat saya perlahan tapi pasti bisa mulai kembali ke jalan yang lurus. Saya sadar bahwa kebiasaan buruk itu semakin parah bukan hanya karena faktor dari diri sendiri, tetapi juga semacam trauma akibat pemaksaan yang terlalu keras akan sesuatu hal yang sebenarnya positif.

Wajar sebenarnya ketika orang tua memaksa anak untuk makan, terutama makan sayur dan buah. Tetapi anak kecil akan merasa berada di bawah tekanan, atau kondisi tidak menyenangkan ketika dipaksa atau bahkan diancam. Mungkin beberapa hal di bawah ini dapat membantu mengatasi masalah anak yang sulit makan, pilih-pilih makanan, atau memilih mogok makan setiap bertemu sayur dan buah. Sekali lagi ini hanya berdasarkan pendapat pribadi penulis berdasarkan pengalaman masa lalu, didukung apa yang pernah saya pelajari di kelas, juga pengetahuan yang didapat dari berbagai media.

1. Stop memaksa. Jika buah hati tidak mau makan, sebaiknya berhenti sejenak membujuknya, apalagi jika dilakukan dengan paksaan atau mengancam tidak akan memenuhi keinginannya. Sebaiknya dialihkan perhatiannya ke hal lain. Misalnya bermain atau melakukan kegiatan yang disukai anak. Setelah bermain sebentar, bisa jadi anak sudah merasa lapar dan lebih bisa diajak kerja sama untuk mau melahap santapannya.

2. Melibatkan anak dalam penentuan menu dan proses pengolahan makanan. Jangan sungkan menanyakan pada anak ingin makan apa esok, khususnya jika akhir pekan atau masa liburan. Abaikan kekhawatiran bahwa mengajak si kecil ke dapur hanya membuat kita semakin repot. Justru dengan mengajaknya "memasak", selain memperkenalkan makanan sehat, juga meningkatkan rasa penasaran anak akan rasa dari bahan makanan yang digunakan. Jadi saat kita mau memasak sayur pun, kemungkinan anak mau memakannya akan lebih besar, karena merasa sudah bersusah payah memasak, dan tidak rela hasil kerjanya sia-sia terbuang.

3. Samarkan si sayur. Biasanya bentuk atau aroma sayur memang kurang disukai anak-anak. Maka ini merupakan tugas kita untuk bisa memanipulasi makanan dengan memasukkan sayuran di berbagai jenis hidangan favorit anak-anak. Kalau tidak sempat atau tidak bisa memasaknya sendiri, sekarang sudah banyak industri rumahan yang katanya menyediakan aneka olahan sayur, dengan bentuk dan rasa yang benar-benar seperti tidak ada sayurnya. Tetapi masakan rumah tetap nomor satu, jadi jika ada kesempatan, lebih baik mencoba membuatnya sendiri. Contoh manipulasi sayur di makanan: sayur dibalut tepung kemudian digoreng, nugget sayur, mie dengan ekstrak sayur, kue berbahan dasar wortel, jus sayur yang dicampur buah favorit kesukaan anak, dll.

Masih berbentuk sayur tapi dengan penyajian dan cita rasa berbeda dari biasanya.


4. Perbanyak memberikan contoh dengan tindakan, bukan selalu setiap saat menceramahi anak akan pentingnya memakan makanan sehat. Tidak perlu kita memaksa anak untuk menyukai sayur, tetapi setiap kali makan, berikan contoh nyata pada mereka bahwa kita juga mempraktekkan apa yang kita perintahkan pada anak. Misal, jika kita tidak pernah atau jarang terlihat oleh anak, kalau kita rutin mengonsumsi sayur, jangan harap anak akan dengan mudah mau makan sayur. Ketika anak melihat orang dewasa dengan lahapnya memakan sayur (yang awalnya dianggap makanan paling tidak enak di dunia), anak akan merasa penasaran dan tertarik mencobanya sendiri. Setelah dia mencoba sendiri tanpa dipaksa, jika merasa cocok dengan seleranya, bukan tidak mungkin setelah itu anak akan sangat menyukai sayur.

5. Ketika anak tidak mau makan karena merasa tidak menyukai hidangannya, jangan langsung memberikan makanan cemilan. Memang tidak tega rasanya jika anak dibiarkan lapar hanya karena menolak makanan. Maka tidak sedikit orang tua yang memberikan cemilan di jam makan makanan utama. Kebiasaan ini bisa membuat anak mengulang keadaan yang sama, karena dia sudah tahu jika menolak makan, akan mendapat cemilan yang menurutnya lebih enak daripada makan nasi dengan sayur dan lauknya. Sesekali masih tidak apa-apa, tapi jika terlalu sering, bisa jadi anak akan lebih memilih makan cemilan daripada makanan utama.

6. Apalagi ya? Sekian dulu deh, mungkin lain waktu ada tambahan bisa di-update lagi.
read more »

Rabu, 16 Januari 2013

Am I Invisible?

Tanpa disengaja, playlist winamp sudah sampai di lagunya Taylor Swift yang berjudul Miss Invisible. Jadi merasa tertohok. Bukan apa-apa, kayaknya pernah dan memang sedikit mengakui bahwa nyaris menjadi manusia yang antara ada dan tiada di lingkungan bernama sekolah. Bukan karena sering bolos atau kabur di saat jam pelajaran, tetapi mungkin saking pasifnya di kelas atau di lingkungan asrama pas zaman mondok.

Mungkin kalau suatu saat ada reuni sama teman-teman dari lingkungan SD, hampir dipastikan Aku menjadi orang yang dapat rekor dilupakan wajahnya sama mereka. Apalagi dulu waktu SD belum pakai kacamata dan kerudung, jadi akan semakin mudah dilupakan. Alasan lainnya, waktu SD itu satu angkatan ada delapan kelas yang masing-masing kelasnya terdiri dari 36 murid (ini minimal loh). Banyak banget kan? Tapi banyaknya jumlah murid tidak akan serta merta membuat teman dan guru melupakan wajah atau namaku kalau memang diriku dulu adalah murid yang cukup eksis. Ya, tapi itu tidak membuatku menyesal. Memang kenyataannya demikian, dan cukup jadi sebuah cerita yang bisa dikenang.

Gara-gara saking pasifnya diriku di lingkungan sekolah, maka ini juga yang menjadi alasan utama Mama untuk menitipkanku di sebuah pondok pesantren. Beliau ingin supaya anaknya ini lebih bisa bersosialisasi dengan orang lain, bahasa gaulnya mungkin lebih eksis dan "tampak" benar-benar ada. Ada kemajuan meski sedikit, karena mau tidak mau 24 jam tinggal di suatu tempat asing dan bertemu orang banyak. Tapi, sekeras apapun kita berusaha berubah, tetap akan lebih tampak diri kita yang sebenarnya. Dan kenyataannya Aku masih seseorang yang pasif. Nyaris tidak pernah bersuara di kelas, jarang bisa menimpali obrolan teman-teman dengan asik. Setidaknya itulah respon yang pernah kutangkap, ketika sesekali kucoba menimpali gurauan mereka dengan candaan juga. Hasilnya sering menjadi hambar, garing nan jayus. Oke, dunia belum runtuh. Mungkin memang kita tidak perlu memaksakan diri untuk selalu bisa terlihat menyatu dengan lingkungan sosial. Walaupun tidak dipungkiri, masa remaja membuat seolah diri merasa tidak berguna, ketika tidak mendapat penerimaan secara nyata dari lingkungan teman sebaya.

Sesekali sensitif, melankolis, atau terlalu mendramatisir masalah. Wajar. Tetapi bukan tidak pernah juga diriku merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka. Hanya saja, lagi-lagi ternyata memang kita tidak perlu memaksa diri berubah, hanya perlu lebih mengerti tentang mereka, dan mencoba menerima keadaan jika sudah berusaha melakukan yang terbaik. Ke-invisible-an yang telah mendarah daging di tubuh ini, pada awalnya sempat membuatku takut ketika harus menjadi salah seorang pengurus kamar atau OPDM (OSIS kalau di sekolah umum). Benar-benar harus turun ke "lapangan", membimbing adik-adik kelas untuk bersama-sama menegakkan disiplin dalam berbagai hal. Ada ketakutan tidak mampu bicara dengan lantang di depan mereka, ketakutan tidak didengarkan, dan lebih takut tidak mampu menjalankan amanah. Tapi jika dijalani dengan kenekatan dan berusaha melakukan yang terbaik, semuanya bisa berakhir indah (meski di tengah-tengah kadang memang muncul beberapa masalah yang cukup membuat terpuruk sesaat).

Lagi-lagi masalah tentang nyaris menjadi "gaib"nya diriku selama sekitar enam tahun sekolah di pesantren. Di malam gladi resik acara perpisahan, Aku dan beberapa teman bertemu dengan kakak kelas (laki-laki) kami yang sudah menjadi seorang alumni. Memang beliau termasuk banyak mengenal adik kelas yang perempuan, karena keaktifannya membimbing kegiatan ekskul. Dan ketika beliau melihatku, maka dengan yakinnya menebak bahwa Aku adalah seorang murid baru, atau paling tidak hanya 3 tahun mondok. Jelas saja kusangkal, karena kenyataannya Aku sudah 6 tahun mondok, bahkan masuk sejak hari pertama penerimaan resmi murid baru tahun 2000 (saking terpaksanya mondok, jadi masih sangat ingat). Kemudian kakak kelas itu masih saja tidak percaya, dan mengatakan kalau tidak pernah sekalipun melihat wajahku sebagai murid lama di sini (wah, benar-benar kenal sama semua warga pesantren kali ya kakak kelas ini). Sampai akhirnya setelah 3 orang temanku membantu menyakinkannya, baru beliau berhenti mendebatku, yang akhirnya minta tolong padaku untuk memanggilkan temannya yang sudah jadi ustadzah (wah, kalau mau minta tolong kenapa harus debat dulu ya?). Di perjalanan menuju kamar ustadzah, aku berpikir sebegitu invisible-nya kah diri ini sejak dulu? Embeeeerrrrrrr........:)

Tapi tidak kusangkal akan hal itu, dan memang sifat selalu menjadi orang yang "antara ada dan tiada" sudah sulit dihilangkan 100% dari diriku. Makanya Aku mulai menulis, biarlah yang visible hanya tulisan-tulisanku yang kadang aneh tidak berkonsep. Di blog ini pula kunikmati menjadi seorang Miss Invisible. Orangnya tidak terlihat, meski ada sesuatu hal yang meyakinkan dunia bahwa Aku masih ada. Hey, here I am, behind my blog.
read more »

Dismenore???

Aduh.... Ini kenapa ya tiba-tiba perut rasanya sakit banget? Padahal enggak punya masalah lambung, mana lagi "dapet" hari pertama, makin enggak nyaman. Dalam hati cuma bisa membatin sendirian, saat teman-teman sekelas sedang memperhatikan Bu Guru Biologi, yang menerangkan pelajaran kesukaanku ini. Rasa sakitnya mulai lagi, dan semakin nyeri saja padahal ini jam pelajaran terakhir dan pelajaran sudah setengah jalan, tanggung sekali kalau harus izin pulang ke kamar. Kucoba menekan bagian perut yang sakit dengan tangan, agak sedikit mengurangi nyeri walaupun keringat dingin mulai menetes dari dahi membasahi kerudung putih yang kupakai. Oh, tidak! Tampaknya guruku melihat ada yang tidak beres denganku, dan mulai bertanya. 

"Nila, kamu sakit? kok pucat?" (seketika teman-teman menoleh ke arahku).

"Emmm, enggak Bu, enggak apa-apa." 

Berusaha menguatkan diri, dan enggak ingin mengganggu konsentrasi teman-teman di menit-menit terakhir sebelum bel pulang berbunyi. Ibu guru pun kembali melanjutkan penjelasannya, yang sudah pasti tidak kupahami satu kalimat pun.Sepuluh menit terasa sangat lama bagiku, apalagi saat merasakan suatu sensasi rasa sakit yang baru pertama kali kualami. Akhirnya bel pulang berbunyi, dan sengaja Aku tidak langsung berdiri keluar kelas, karena jalanan masih ramai.

Menggunakan rok putih, di hari si "tamu" datang, memang agak riskan. Tapi masalahnya bukan hanya itu, tapi rasa sakit ini membuatku khawatir jatuh di tengah jalan. Makanya kutunggu hingga suasana gedung kelas mulai sepi baru nanti kupaksakan berjalan sampai asrama. Beberapa teman perempuanku menyadari keanehanku sejak tadi, dan mulai sibuk bertanya apa yang terjadi padaku. Kukatakan saja bahwa muncul nyeri yang sangat di bagian kiri perutku. Karena tinggal sekamar, maka temanku pun tahu kalau Aku sedang tidak bisa beribadah karena "tamu bulanan". Dan menyimpulkan bahwa itu nyeri atau kram perut yang khas dirasakan saat menstruasi. Oh begini ya rasanya, pantas saja dulu ada kakak kelas yang sampai pingsan, ternyata memang sakitnya bukan main. Cuma bisa membatin dalam hati, dan mengangguk lemah mengiyakan pernyataan temanku. Mereka pun mau menemaniku pulang belakangan sampai jalanan sepi, dan tidak ada lagi murid laki-laki yang berjalan di belakang kami. Untungnya tidak sampai membuat "pulau" di rok, tapi tetap saja berjalan setengah kilometer (kalau tidak salah ya, soalnya diriku agak lemah dalam memperhitungkan jarak) tanpa membawa beban berat, rasanya bagaikan berjalan 1 meter dengan membawa beban 10 kilogram (lebay). Berjalan pun tidak bisa cepat, karena menahan rasa sakit sekaligus memaksakan diri untuk kuat berjalan sampai kamar. Bertekad tidak boleh jatuh apalagi pingsan (Alhamdulillah, seumur hidup belum pernah pingsan, jangan sampe deh). Akhirnya bisa bertahan sampai kamar, Alhamdulillah. Berhasil :) tapi masih sakit :(.

*****
Itulah kisah saat Aku masih belajar di kelas tiga Aliyah/SMA. Pertama kalinya mengenal si dismenore, yang beberapa orang mengistilahkannya dengan sumilangen (eh, bahasa daerah mana ya?). Sejak saat itulah sampai hari ini masih mengalaminya di setiap hari pertama si "bulan" datang. Makanya buat melupakan sejenak rasa sakit yang kurasakan hari ini, lebih baik buat tulisan yang siapa tahu bisa bermanfaat buat orang lain. Terutama tentang nyeri haid atau bahasa medisnya dismenore.

Jadi dismenore itu merupakan nyeri atau sensasi kram perut (tepatnya sih berasal dari rahim, jadi bukan lambung ya) yang dirasakan pada saat seorang perempuan mengalami menstruasi. Nah, ternyata dismenore terbagi menjadi dua kategori, yaitu:

1. Dismenore primer.
    Tidak ada sebab yang mendasari, pokoknya tiba-tiba nyeri.
    Biasanya baru dialami sekitar 2 - 3 tahun sejak menstruasi pertama/menarche (masih di masa remaja).
    Sekitar 50% wanita akan mengalaminya, dan 15% diantaranya mengalami rasa nyeri yang cukup hebat.
2. Dismenore sekunder.
    Penyebabnya ada kelainan kandungan (mesti di cek ke dokter).
    Biasanya mulai timbul pada usia 20 tahun (sudah memasuki usia remaja akhir/dewasa muda)
    Angka kejadiannya lebih sedikit, yaitu sekitar 25% yang mengalami dismenore sekunder.


Kira-kira itulah sedikit penjelasan tentang dismenore, kalau mau lengkapnya bisa klik dari sumber yang kujadikan referensi di atas. Awalnya dulu sempat khawatir karena sudah beberapa tahun ini, dismenore tidak juga absen setiap bulannya mengunjungiku. Tapi setelah membaca penjelasan tentang tipe-tipe dismenore, jadi lebih lega. Karena ternyata yang kualami adalah dismenore tipe primer (memang mengalaminya sekitar 3 tahun dari menarche). Tapi ada juga kok teman-teman yang bebas dari dismenore, mungkin mereka lebih banyak olahraga, makan buah dan sayur, enggak seperti diriku yang masih picky eater kalau sudah ketemu sayur dan buah. Buat yang masih ragu-ragu atau khawatir berada di kategori yang mana, enggak ada salahnya juga memeriksakan diri ke bidan atau dokter. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Semoga semuanya sehat selalu ^_^.
 
 



read more »