Minggu, 06 Januari 2013

Puisi: A Cup Of Love Coffee

Tiba-tiba saja ingin kulakukan hal ini.
Menyobek sedikit bagian ujung kemasannya.
Tanpa ragu kutuang serbuk hitam itu ke dalam cangkir mungil favoritku.
Dalam sekejap asap pun mengepul ketika 150 ml air panas mengisi ruang kosong si cangkir.

Aku terkejut.
Aku juga menyukainya.
Ternyata rasanya tidak sepahit yang kuduga.
Ada sedikit letupan rasa manis di dalamnya.
Pas. Tidak kurang, juga tidak berlebihan.

Kuteguk sedikit demi sedikit cairan itu.
Seolah tidak ingin cangkirku kembali menjadi sebuah ruang kosong.
Namun perlahan tapi pasti temperaturnya akan turun.
Awalnya panas, kemudian hangat, dan menjadi dingin terutama saat hujan turun malam ini.

Tidak lama berselang, kurasakan sensasi aneh dari dalam lambungku.
Kusadari bahwa Aku belum mengisi lambungku dengan makanan sejak tadi sore.
Kuakui bahwa diriku belum siap untuk memulai kebiasaan baru ini, terutama tanpa persiapan sebelumnya.
Namun tidak kusesali, dan segera kuakhiri apa yang sudah kumulai.
Kuteguk sisa kopi sampai tetes terakhir, supaya tidak terbuang sia-sia.

Seperti seseorang yang tiba-tiba mengenal cinta.
Dia tidak pernah bisa menduga bagaimana, kapan, dan di mana itu bisa terjadi.
Kata orang hal itu indah, namun tidak sedikit pula yang akhirnya merasakan penderitaan.
Tidak perlu disesali. Bukan juga menjadi hal yang sia-sia.

Setidaknya itu bisa membuat kita lebih siap lagi kelak.
Karena pahitnya kopi bisa didampingi oleh manisnya gula.
Begitu pula kenangan pahit yang ditinggalkan oleh cinta, tidak menutup kemungkinan mengundang hadirnya cinta lain yang menjadi penawar rasa pahit itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar