Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers

Rabu, 26 Desember 2012

Cinta (Sama Tapi Beda)

Cinta Tapi Beda. Merupakan salah satu judul film yang akan dirilis pada akhir tahun 2012. Kurang lebih pemahaman Saya setelah sekilas melihat trailer-nya di TV (karena belum menonton dan tidak benar-benar minat untuk menonton karena malas ke bioskop), film ini berkisah tentang kisah cinta yang pelakunya memiliki perbedaan. Sebuah perbedaan yang sangat memungkinkan untuk timbulnya sebuah konflik, bahkan dalam suatu keluarga yang amat menjunjung tinggi nilai keyakinan dalam beribadah. Ya, perbedaan agama yang bukan satu atau dua pasangan saja yang mengalaminya di setiap kota. Maka meski dengan konflik atau pun latar belakang yang berbeda, tidak salah jika film tersebut mencantumkan bahwa kisahnya dibuat berdasarkan kenyataan. Karena memang benar banyak yang mengalaminya, baik yang sukses memperjuangkan cintanya sampai pelaminan (dengan atau tanpa mengubah keyakinan beragamanya), atau bahkan terpaksa kandas karena berbagai alasan, terutama restu orang tua.

Saya tidak akan banyak menulis tentang kisah cinta beda agama, karena tidak memiliki pengalaman seperti itu, dan juga lingkungan sekitarnya cenderung homogen bila dilihat berdasarkan agamanya. Jadi khawatir akan terjadi banyak kesalahan persepsi, jika memaksakan diri menuliskan pandangan tentang cinta beda agama. Masalah perbedaan di mana pun dan kapan pun bisa saja menjadi sebuah konflik dan adanya pihak yang merasa menderita atau merasa hal tersebut menjadi aib. Tidak hanya kasus hubungan antar agama, mereka yang seagama pun tidak semuanya bisa menjalani kisah yang mulus, terutama terkait restu orang tua atau parahnya jika urusan tersebut menjadi urusan keluarga besar.

Pernah mendengar orang-orang (terutama generasi orang tua kita ke atas) yang menyarankan lebih baik mencari pacar atau calon pasangan hidup yang sesuku? Atau terang-terangan menyebutkan suku-suku tertentu yang sebisanya dihindari untuk dijadikan keluarga "baru"? Kasus lainnya mungkin karena perbedaan gelar akademik, status sosial atau kemapanan materinya? Dan ada satu hal lagi terkait perbedaan, yang mungkin sejak lama menjadi hal yang membuat penulis heran, perbedaan antar organisasi keagamaan (masih dalam satu agama).

Maaf jika ternyata tulisan ini bagi beberapa pihak termasuk menyinggung SARA. Tapi penulis hanya ingin mengutarakan pendapat dan sepertinya ada tanda tanya besar yang ada di hati sejak dahulu, sepertinya sejak SD. Bukankah kita sama-sama beragama Islam? Kenapa harus ada perbedaan di sana-sini? Kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah umat muslim terbanyak di dunia, namun mungkinkah karena jumlahnya yang banyak ini jadi terbagi begitu banyak organisasi keislaman (Pemakaian kata "kelompok" atau "aliran" khawatir seolah sudah menjadi agama yang berbeda). Penulis tidak tahu pasti ada berapa jumlah organisasi yang landasan dan seluruh kegiatannya didasari oleh nilai-nilai Islam. Namun, setidaknya ada dua organisasi besar yang paling banyak diberitakan di berbagai media.

Kalau penulis sendiri masuk yang mana? Jika ada yang bertanya demikian, maka Saya tidak ingin menjadi bagian dari yang mana pun. Saya hanya salah satu orang beragama Islam yang tercatat sebagai warga negara Indonesia, maka jika ada keputusan yang menyangkut hal beribadah, misalnya hari raya maka akan mengikuti keputusan pemerintah. Bukankah memang Allah memerintah pada kita untuk taat pada-Nya, pada Rasul-Nya, dan pada pemerintahan? Meski tidak dipungkiri keluarga besar dari orang tua Saya cenderung mayoritas merupakan warga NU (Ups, kesebut juga deh). Satu hal yang sejak kecil mengusik hati adalah kenapa hanya karena perbedaan ini, jadi suatu waktu bisa menimbulkan konflik, atau minimal sekedar saling menjelekkan di belakang. Tidak ingat apa detail permasalahannya, namun waktu Saya masih kecil terdengar pembicaraan para generasi di atasku, tentang perbedaan pandangan dan sikap mereka dengan kerabat lainnya yang berada di pihak organisasi keislaman lainnya. Tentang perbedaan persepsi mengenai doa qunut, tahlilan, dan lain-lain.

Saya masih ingat kalau tidak salah pertama kali belajar dan menghafalkan doa qunut sewaktu kelas 1 atau kelas 2 MI (setara dengan SD). Di buku memang ditulis bahwa hukum membaca doa qunut di waktu melaksanakan shalat subuh, adalah sunnah (dikerjakan berpahala, tidak dikerjakan tidak apa-apa). Karena masih kecil dan terkadang punya pemikiran nyeleneh, ya sudah kan masih kecil jadi tidak usah dibaca saja karena tidak wajib/menjadi rukun shalat (Alasan utamanya sih waktu itu malas menghafal lebih banyak doa hehe). Tapi pendapat anehku itu dibantah oleh Ibu, dan terang-terangan bicara "emangnya orang Muh*mm*diy*h, tidak pakai qunut?" Sepertinya saat itu Ibu agak kelepasan bicara, anak usia sekitar 6 - 7 tahun kan belum mengerti konsep perbedaan itu? Tapi emang dasarnya Saya bukan anak yang kritis, dan lebih takut jadi durhaka kalau tidak menuruti kata orang tua, ya ikuti saja. Namun, semakin besar terutama saat sekolah di pesantren jadi teringat lagi tentang masalah ini.

Salah satu guru di pesantren mengatakan, bahwa jika kita terbiasa membaca doa qunut tapi menjadi makmum dari imam yang tidak membaca qunut, shalatnya tetap sah dan tidak ada masalah jangan dijadikan bahan perdebatan. Begitu pula sebaliknya jika kita terbiasa tanpa membaca doa qunut, tetapi sedang ikut shalat berjamaah di tempat yang selalu membaca doa qunut, ya tidak apa-apa jika hanya diam saat imam membacanya. Atau sekedar mengamini juga tidak ada salahnya, jika memang tidak hafal. Hal ini mengingatkanku pada sebuah fenomena yang pernah kudengar saat ada orang dikira melenceng dari agama karena ikut berjamaah shalat di masjid yang katanya berbeda organisasi (mungkin madzhab ya maksudnya?). Lah, kalau memang jarak rumah atau lokasi tempat beraktivitasnya lebih dekat ke masjid itu, apa iya harus berjalan lebih jauh ke masjid lain? Atau dengan alasan tersebut menyia-nyiakan 27 derajat pahala lebih banyak, dengan shalat sendiri? Hal lebih miris lagi jika konflik karena perbedaan ini, juga diakibatkan karena mereka yang disegani di kelompok masing-masing, juga selalu mempermasalahkan perbedaan itu. Masing-masing saling menganggap dirinya yang benar. Apalagi jika masa menjelang penentuan kapan mulai puasa Ramadhan, hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan lain-lain. Apakah mungkin suatu saat nanti hal seperti itu bisa mencapai satu kesepakatan bersama? Sebagai masyarakat awam, mungkin inilah yang menjadi harapan kami.

Bagaimana jika ada kejadian seperti ini, seorang Ibu menyampaikan suatu harapan pada putrinya. Kelak jika Sang Ibu telah tiada ingin jika tetap ada yang mendoakannya dengan tetap mengadakan acara tahlilan. Maksud dari pembicaraan itu secara tidak langsung adalah kalau bisa calon menantunya kelak berasal dari kelompok yang membiasakan adanya tradisi tahlilan. Intinya tidak mengharapkan adanya perbedaan terkait hal yang satu itu. Padahal masalah jodoh dan kematian adalah misteri Illahi. Belum tentu juga yang akan meninggal dunia lebih dulu adalah Sang Ibu, bisa jadi anaknya duluan. Atau belum tentu juga jika anaknya mendapatkan pendamping dari yang sekelompok itu, lebih baik kehidupan dunia akhiratnya. Karena masa kini adalah masa sekarang, dan masa depan tidak ada yang tahu pasti. Padahal jika waktu dan orang yang tepat sudah datang, permasalahan apa pun sewajarnya bisa menjadi suatu hal yang bisa dimusyawarahkan. Bukan menjadi konflik keluarga.

Itu hanyalah sekedar contoh, dan bagaimana bila konsep dalam film Cinta Tapi Beda itu diadaptasi ke masalah di paragraf sebelumnya? Mungkin penulis akan mengubah sedikit judulnya Cinta (Sama Tapi Beda). Meski sudah memiliki keyakinan beragama sama pun, tetap akan ada hal-hal yang membuat cinta itu tidak mudah bersatu. Beda mulai puasa, beda lebaran, beda suku, beda madzhab, beda profesi, beda adat, dan lain-lain. Memang cinta itu sungguh rumit dan unik, bahkan bagi mereka yang sudah memiliki banyak persamaan sekali pun. Karena semua pasti memiliki cinta dengan kisahnya masing-masing, terutama terkait kisah bagaimana memperjuangkan cintanya itu. Maka cinta adalah sebuah tema yang tidak akan pernah usang dibahas dalam suatu diskusi, ditulis sebagai sebuah cerita, direkam dan kemudian  disaksikan dalam bentuk sebuah film. Karena cinta adalah C-I-N-T-A (Wah, ini sih ngutip kata-katanya D'Bagindas ^_^).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar