Selasa, 25 Desember 2012

Kecanduanku Pada Hal Itu

Sepertinya hal itu mulai menjadi candu untukku. Sungguh jangan berpikir yang macam-macam, apalagi ke arah sesuatu yang ilegal dan kriminal. Karena candu yang kurasa ini adalah pada makanan dengan rasa pedas. Sebuah cita rasa yang mayoritas orang sama sekali tidak mengidentikkannya dengan makanan khas dari suku orang tuaku. Bukan sekedar anggapan orang banyak tanpa bukti mendasar. Memang kenyataannya sampai lulus SD pun keluargaku seolah tanpa sadar menanamkan doktrin bahwa makanan pedas itu bukan untuk anak-anak, padahal orang dewasa di sekitarku kala itu, juga hampir tidak pernah menyantap makanan pedas level tinggi. Sekalinya ada pelengkap makanan berupa sambal uleg, itu juga masih ditambahkan gula pasir atau gula jawa sebagai pemanisnya.

Karena itu pula saat masih SD, Aku menjadi anak yang terkagum-kagum pada teman-teman yang berani atau bahkan sangat menyukai makanan pedas. Tapi semua itu berubah saat Aku keluar sementara dari rumah, tinggal dan sekolah di sebuah sekolah berasrama. Nyaris semua anak perwakilan dari Sabang sampai Merauke ada di sana. Walaupun mayoritas sepertinya tetap terbanyak mereka yang berasal dari tanah Sunda, karena sekolah kami memang berada di Provinsi Jawa Barat.

Sedikit demi sedikit Aku mulai terbiasa dengan menu makan sehari-hari yang sedikit ada rasa pedasnya. Apalagi suasana makan bersama memiliki sedikit banyak pengaruh, walaupun tetap saja masih pilih-pilih makanan dengan bahan utama sayuran atau ikan teri yang sebelumnya tidak pernah dimakan. Misalnya lauk makan siang berupa tumis teri cabai hijau dengan sayur asem. Kedua menu ini bagaikan harus memaksa diri makan nasi putih saja, tapi daripada makan tanpa rasa akhirnya kuputuskan untuk tidak meminta sayur asem pada Mpok pembagi makanan. Dengan meminggirkan ikan teri atau diberikan pada teman yang suka, Aku hanya makan dengan cabe hijau dan sedikit bumbu tumis teri tersebut. Maka mulailah lidah ini terbiasa dan nyaris kurang berselera makan tanpa ada sedikit rasa pedas di setiap makanan.

Kemudian level tingkat ketahanan terhadap rasa pedas mulai meningkat seiring berjalannya waktu, dan perubahan pola makan. Ketika sudah agak lama tinggal di asrama dan mulai akrab dengan teman-teman lainnya, ada satu kebiasaan yang dilakukan ketika tidak makan saat waktu makan tiba, bisa jadi kehabisan atau sengaja tidak makan karena lauk yang tidak sesuai harapan. Biasanya menjelang pukul 5 sore (soalnya biasanya jam segitu nasi untuk makan malam baru matang) beberapa orang akan sepakat patungan beli lauk di rumah makan luar asrama, bisa di warteg atau rumah makan Padang. Namun saat kondisi kantong sedang pas-pas-an dengan lauk sederhana tetapi yang wajib adalah sambal warteg yang dibeli dalam jumlah sebanyak mungkin. Lalu nasinya tidak perlu beli, tapi ambil saja di dapur asrama. Kebiasaan bergabung bersama teman-teman penyuka pedas inilah yang merubah kekebalan lidah ini pada rasa pedas.

Selanjutnya beberapa tahun belakangan ini, seolah makin tren segala jenis makanan atau sekedar cemilan yang menawarkan cita rasa pedas. Bahkan beberapa produk seolah menjadi simbol atau gaya hidup anak muda yang ingin disebut gaul. Meski tidak terlalu mengikuti semua tren yang ada, sesekali diri ini juga penasaran, apalagi kalau di sekitar kita yang menjual produk tersebut. Akhirnya setelah mencoba sekali, merasa kepedesan, tetapi saat di lain waktu membeli lagi entah kenapa kok tidak terlalu terasa pedas seperti waktu pertama kali mencoba. Kupikir ini karena strategi produsen yang terkena imbas harga cabai yang melambung lumayan drastis. Begitu juga saat sesekali iseng membuat mi instan dengan puluhan cabe rawit diuleg kasar. Pertama kali kepedesan, tapi kedua dan ketiga kalinya dengan takaran hampir sama tapi tidak mampu memuaskan diri yang saat itu sedang ingin makanan super pedas.

Beberapa waktu berselang, tanpa disengaja menemukan artikel yang menjelaskan bahwa (kurang lebih seperti ini kesimpulan yang kupahami) semakin sering seseorang mengkonsumsi makanan pedas, maka tingkat kepekaan indera pengecapnya juga mengalami penurunan. Atau kata lainnya, semakin kebal juga lidahnya, maka setiap kali makan pedas merasa masih kurang pedas. Oh, jadi ini yang terjadi pada diriku terutama pada bagian lidahku yang bertugas mengecap rasa pedas. Maka jangan kaget kalau saat kita menyantap makanan yang menurut lidah kita belum terlalu pedas, tetapi sudah bisa membuat lambung bereaksi dan terjadi hal yang tidak dikehendaki. Diare misalnya atau lebih parah lagi penyakit berat yang memerlukan penanganan serius dari tim medis.

Tapi nasi sudah jadi bubur, kebiasaan sudah terlanjur mengakar dan sulit diberhentikan. Beginilah jika seseorang sudah kecanduan pedas. Enggak pedas, enggak enak, berasa hambar. So, pintar-pintarnya saja mengatur supaya kebiasaan ini tidak jadi senjata makan tuan buat diri kita sendiri. I love chili, sambal, and everthing have hot and spicy taste.

Thank's for visiting, pemilihan theme blog ini meski awalnya iseng tapi boleh juga disebut karena kesukaanku pada rasa pedas. Cabai, banyak warna, banyak jenis, dengan tingkat rasa pedas yang berbeda-beda juga. Membuat makan lebih berasa (Loh kok mirip iklan saus sambal ya?).

2 komentar:

  1. blognya keren nih mbak.. maaf oot.. hanya sekedarberkunjung saja menjalin silaturahmi

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah berkunjung, tapi masih jauh dari keren baru seumur jagung. salam silaturrahmi antar blogger juga, selamat anda jadi komentator pertama di blog ini :)

    BalasHapus