Rabu, 16 Januari 2013

Dismenore???

Aduh.... Ini kenapa ya tiba-tiba perut rasanya sakit banget? Padahal enggak punya masalah lambung, mana lagi "dapet" hari pertama, makin enggak nyaman. Dalam hati cuma bisa membatin sendirian, saat teman-teman sekelas sedang memperhatikan Bu Guru Biologi, yang menerangkan pelajaran kesukaanku ini. Rasa sakitnya mulai lagi, dan semakin nyeri saja padahal ini jam pelajaran terakhir dan pelajaran sudah setengah jalan, tanggung sekali kalau harus izin pulang ke kamar. Kucoba menekan bagian perut yang sakit dengan tangan, agak sedikit mengurangi nyeri walaupun keringat dingin mulai menetes dari dahi membasahi kerudung putih yang kupakai. Oh, tidak! Tampaknya guruku melihat ada yang tidak beres denganku, dan mulai bertanya. 

"Nila, kamu sakit? kok pucat?" (seketika teman-teman menoleh ke arahku).

"Emmm, enggak Bu, enggak apa-apa." 

Berusaha menguatkan diri, dan enggak ingin mengganggu konsentrasi teman-teman di menit-menit terakhir sebelum bel pulang berbunyi. Ibu guru pun kembali melanjutkan penjelasannya, yang sudah pasti tidak kupahami satu kalimat pun.Sepuluh menit terasa sangat lama bagiku, apalagi saat merasakan suatu sensasi rasa sakit yang baru pertama kali kualami. Akhirnya bel pulang berbunyi, dan sengaja Aku tidak langsung berdiri keluar kelas, karena jalanan masih ramai.

Menggunakan rok putih, di hari si "tamu" datang, memang agak riskan. Tapi masalahnya bukan hanya itu, tapi rasa sakit ini membuatku khawatir jatuh di tengah jalan. Makanya kutunggu hingga suasana gedung kelas mulai sepi baru nanti kupaksakan berjalan sampai asrama. Beberapa teman perempuanku menyadari keanehanku sejak tadi, dan mulai sibuk bertanya apa yang terjadi padaku. Kukatakan saja bahwa muncul nyeri yang sangat di bagian kiri perutku. Karena tinggal sekamar, maka temanku pun tahu kalau Aku sedang tidak bisa beribadah karena "tamu bulanan". Dan menyimpulkan bahwa itu nyeri atau kram perut yang khas dirasakan saat menstruasi. Oh begini ya rasanya, pantas saja dulu ada kakak kelas yang sampai pingsan, ternyata memang sakitnya bukan main. Cuma bisa membatin dalam hati, dan mengangguk lemah mengiyakan pernyataan temanku. Mereka pun mau menemaniku pulang belakangan sampai jalanan sepi, dan tidak ada lagi murid laki-laki yang berjalan di belakang kami. Untungnya tidak sampai membuat "pulau" di rok, tapi tetap saja berjalan setengah kilometer (kalau tidak salah ya, soalnya diriku agak lemah dalam memperhitungkan jarak) tanpa membawa beban berat, rasanya bagaikan berjalan 1 meter dengan membawa beban 10 kilogram (lebay). Berjalan pun tidak bisa cepat, karena menahan rasa sakit sekaligus memaksakan diri untuk kuat berjalan sampai kamar. Bertekad tidak boleh jatuh apalagi pingsan (Alhamdulillah, seumur hidup belum pernah pingsan, jangan sampe deh). Akhirnya bisa bertahan sampai kamar, Alhamdulillah. Berhasil :) tapi masih sakit :(.

*****
Itulah kisah saat Aku masih belajar di kelas tiga Aliyah/SMA. Pertama kalinya mengenal si dismenore, yang beberapa orang mengistilahkannya dengan sumilangen (eh, bahasa daerah mana ya?). Sejak saat itulah sampai hari ini masih mengalaminya di setiap hari pertama si "bulan" datang. Makanya buat melupakan sejenak rasa sakit yang kurasakan hari ini, lebih baik buat tulisan yang siapa tahu bisa bermanfaat buat orang lain. Terutama tentang nyeri haid atau bahasa medisnya dismenore.

Jadi dismenore itu merupakan nyeri atau sensasi kram perut (tepatnya sih berasal dari rahim, jadi bukan lambung ya) yang dirasakan pada saat seorang perempuan mengalami menstruasi. Nah, ternyata dismenore terbagi menjadi dua kategori, yaitu:

1. Dismenore primer.
    Tidak ada sebab yang mendasari, pokoknya tiba-tiba nyeri.
    Biasanya baru dialami sekitar 2 - 3 tahun sejak menstruasi pertama/menarche (masih di masa remaja).
    Sekitar 50% wanita akan mengalaminya, dan 15% diantaranya mengalami rasa nyeri yang cukup hebat.
2. Dismenore sekunder.
    Penyebabnya ada kelainan kandungan (mesti di cek ke dokter).
    Biasanya mulai timbul pada usia 20 tahun (sudah memasuki usia remaja akhir/dewasa muda)
    Angka kejadiannya lebih sedikit, yaitu sekitar 25% yang mengalami dismenore sekunder.


Kira-kira itulah sedikit penjelasan tentang dismenore, kalau mau lengkapnya bisa klik dari sumber yang kujadikan referensi di atas. Awalnya dulu sempat khawatir karena sudah beberapa tahun ini, dismenore tidak juga absen setiap bulannya mengunjungiku. Tapi setelah membaca penjelasan tentang tipe-tipe dismenore, jadi lebih lega. Karena ternyata yang kualami adalah dismenore tipe primer (memang mengalaminya sekitar 3 tahun dari menarche). Tapi ada juga kok teman-teman yang bebas dari dismenore, mungkin mereka lebih banyak olahraga, makan buah dan sayur, enggak seperti diriku yang masih picky eater kalau sudah ketemu sayur dan buah. Buat yang masih ragu-ragu atau khawatir berada di kategori yang mana, enggak ada salahnya juga memeriksakan diri ke bidan atau dokter. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Semoga semuanya sehat selalu ^_^.
 
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar