Kamis, 10 Januari 2013

Membaca Lalu Menonton, Atau Menonton Selanjutnya Membaca?

Semakin banyak judul film yang dibuat dengan mengadaptasi sebuah buku, baik berupa memoar atau novel fiksi. Dari yang made by "bule" atau pun karya anak bangsa sendiri. Fenomena tersebut juga menjadi seperti sebuah simbiosis mutualisme alias hubungan yang saling menguntungkan bagi pihak penulis, penerbit, dan pihak-pihak yang bekerja dalam pembuatan film. Berapa banyak orang yang belum pernah membaca kisah Laskar Pelangi, dan kemudian saat film-nya rilis kemudian menjadi penasaran dengan kisahnya. Baik menonton filmnya terlebih dahulu atau pun sibuk mencari (bisa beli, pinjam, atau cari e-book gratis *_^ ups) bukunya. Maka dipastikan selain filmnya ditonton banyak orang, novelnya juga mengalami peningkatan penjualan dan dicetak ulang.

Hal biasa yang muncul pada film yang diadaptasi dari sebuah buku, yaitu ungkapan kekecewaan penontonnya, khususnya mereka yang sebelumnya sudah membaca bukunya jauh sebelum filmnya dibuat. Banyak yang mengatakan filmnya tidak sesuai harapan, berbeda dengan di buku, atau mereka merasa jalan ceritanya melewati beberapa bagian penting dari isi buku. Padahal memang bukan hal yang mudah ketika mengadaptasi sebuah buku menjadi film. Terlebih jika penulis skenario berbeda dengan penulis bukunya. Karena pada dasarnya menulis sebuah tulisan narasi memang jauh berbeda dengan skenario. Belum lagi batasan waktu normal sebuah film, yang juga membuat film jelas beda dengan bukunya. Toh, persepsi setiap orang berbeda, kalaulah ada film yang dibuat tanpa ada perbedaan dengan isi buku, yakin deh pasti masih akan ada yang merasa kecewa setelah menontonnya. So, I think its relative.

Selanjutnya adakah perbedaan jika kita membaca bukunya terlebih dahulu atau menonton filmnya duluan? Jelas ada, tapi tidak bisa dikatakan mana yang benar mana yang salah, tergantung pribadi masing-masing. Mungkin kalau film fantasi semacam Harry Potter bakalan susah memahaminya jika belum pernah sekalipun membaca novel pertamanya, lalu tiba-tiba menonton film ketiganya. Jelas akan susah memahami karakter tokohnya. Tapi untuk buku atau novel Indonesia yang dijadikan film, mungkin tanpa membaca bukunya terlebih dulu, penonton masih akan memahami jalan ceritanya karena ceritanya biasanya yang banyak terjadi di masyarakat Indonesia.

Hal yang membuat berbeda adalah sensasinya. Misalnya saat membaca novel terlebih dahulu, maka ada kemungkinan selama menonton film, pikiran kita akan membayangkan kejadian selanjutnya berdasarkan apa yang dibaca. Kalau sesuai harapan kita merasa puas. Hal ini yang sering membuat penonton merasa kecewa setelah menonton film, karena harapan mereka tidak terwujud di film. Sedangkan kalau menonton filmnya terlebih dulu, maka saat membaca novelnya, akan sangat membantu pemahaman cerita. Khususnya untuk mereka yang tidak begitu sering membaca buku tanpa gambar, jadi bisa membantu imajinasi karena sudah tahu wujud tokohnya dalam film. Dibandingkan kecewa pada filmnya, orang yang melakukan hal ini biasanya lebih merasa kagum dengan kisahnya, jika dia merasa filmnya cukup bagus. Sedikit banyak memang efek sugesti, tidak apa-apa lah ya lumayan meningkatkan minat baca.

Mungkin ada yang tidak setuju dengan apa yang dipaparkan di atas. Bisa saja opini Saya ini salah, tapi memang itulah yang benar-benar dialami oleh diri sendiri. Misalnya untuk dua judul buku yang diadaptasi menjadi film belum lama ini. Perahu Kertas (Dee Lestari) dan Bidadari-Bidadari Surga (Tere Liye).

Perahu Kertas
Jujur belum pernah sekalipun membaca karya Mbak Dee Lestari, karena memang sudah beberapa tahun terakhir Saya berusaha mengerem kebiasaan ke toko buku, suka kalap soalnya. Jadi kadang list buku-buku yang ingin dibeli, keburu lupa dan tidak terealisasi karena sudah terlalu lama ditunda. Sampai suatu ketika ada tayangan trailer film Perahu Kertas, yang kelihatannya berbeda dari film lainnya. Maka setelah googling, jadi tahu kalau ternyata memang kisah itu sebelum berubah bentuk menjadi buku, sudah dipublikasikan di blog pribadinya Mbak Dee Lestari, yang kemudian ditulis ulang selama 55 hari menjadi sebuah novel yang sekarang ini laris manis di toko buku.

Kebetulan juga menemukan e-book-nya (ketahuan ga modalnya deh). Awalnya cuma iseng download (tidak diperbanyak apalagi dijualbelikan loh), kalau suka dibaca sampai selesai, kalau tidak paham ya tidak usah dipaksa. Begitu niat awalnya. Ternyata setelah membaca beberapa paragraf, selesailah satu bab pertama. Dan itu sukses membuatku penasaran bab-bab selanjutnya. Padahal biasanya Saya tidak kuat lama-lama membaca tulisan rapat dan panjang dari layar komputer. Tapi ini berbeda, setiap kali menargetkan cukup membaca dua bab sekali duduk, ternyata gagal. Akhirnya tuntas juga membaca "Perahu Kertas" sampai halaman terakhir.

Sensasi saat membacanya adalah Saya tidak sekedar membaca sebuah narasi. Tetapi juga sekaligus seperti membayangkan filmnya dalam versi Saya sendiri. Memang sih, belum sempat menonton filmnya. Namun bagi Saya melihat trailernya sudah cukup untuk mengetahui penggambaran tokoh utama, dan beberapa tokoh pembantu lainnya. Menurut Saya pemilihan Maudy Ayunda sebagai Kugy, dan Adipati Dolken sebagai Keenan, sudah pas sesuai deskripsi tokoh yang ditulis Mbak Dee Lestari di bukunya. Begitu pula saat beberapa hari lalu film ini diputar di TV, tidak ada yang mengecewakan menurut Saya. Kecuali untuk kisahnya yang masih bersambung, wajar karena memang membutuhkan waktu yang panjang untuk mengadaptasi sebuah novel. Dan memang Perahu Kertas terlalu sayang jika harus melewatkan banyak hal dari novelnya.

Bidadari-Bidadari Surga
Kalau ini jelas baca bukunya (buku beneran loh bukan e-book, meski punya si adik bungsuku)dulu daripada melihat trailernya (lagi-lagi sepertinya menunggu tayang di TV). Seperti membaca novel-novel sebelumnya, maka imajinasi yang dirasakan benar-benar berawal dari gelap. Tanpa ada bayangan seperti apa itu Lembah Lahambay, bagaimana kemiripan fisik Ikanuri dan Wibisana, juga bagaimana rupa berang-berang yang begitu ingin dilihat oleh Yashinta.

Satu hal yang menurut Saya kebodohan diri ini selama bertahun-tahun, sejak membaca karya Tere Liye yaitu Hafalan Shalat Delisa, adalah menganggap Tere Liye adalah seorang wanita. Karena dari judul dan cover novelnya yang menggambarkan tokoh utamanya perempuan. Selain itu juga karena nama Tere mengingatkan Saya pada salah satu penyanyi wanita yang kini aktif di dunia politik. Ketika membaca Bidadari-Bidadari Surga inilah, baru nyadar kalau seorang Tere Liye bernama asli Darwis, maaf ya Bang Darwis karena selama ini sudah salah paham. Sama seperti dulu saya juga sempat sesaat mengira nama Andrea Hirata adalah sebuah nama pena dari penulis wanita.

Kembali ke novelnya Bang Tere Liye, di sini (maksudnya saat membaca Bidadari-Bidadari Surga) Saya merasakan emosi yang lumayan ikut naik dan turun saat empat kakak beradik yang berada di 3 tempat berbeda benua, sama-sama berlomba dengan waktu untuk segera pulang ke Lembah Lahambay menemui kakak sulungnya (yang secara fisik sangat tidak mirip keempatnya), Kak Laisa. Seorang kakak yang puluhan tahun benar-benar berjuang untuk masa depan mereka. Kak Laisa yang rela putus sekolah, melakukan kerjaan apapun tanpa memikirkan kondisi fisiknya sendiri. Dan saat itu mungkin adalah saat terakhir mereka untuk sekedar saling berbalas pandangan dari dekat. Mungkin juga untuk mengucapkan selamat tinggal. Novel ini sungguh sukses melibatkan emosi Saya, sekaligus membayangkan fisik Laisa yang membuat beberapa pria (yang hanya menilai secara fisik) urung menikahinya. Walau ini sebuah novel fiksi, tetapi Saya yakin sosok serupa Laisa ada di dunia nyata, banyak bahkan hanya mereka terlalu tulus sehingga kisahnya tidak dipublikasikan.

Selanjutnya saat Saya melihat trailer film Bidadari-Bidadari Surga (BBS), Saya katakan dipilihnya Nirina Zubir sebagai pemeran Laisa, adalah pilihan yang tepat. Penggambaran Laisa memang cukup sesuai dengan apa yang ada dibayangan Saya sebelumnya. Bertubuh tidak tinggi, sangat pas diperankan oleh pemain yang bertubuh mungil ini. Terlepas dari fisiknya, seorang Nirina Zubir juga merupakan pemain yang bisa memerankan berbagai karakter dengan total. Termasuk menjadi seorang Laisa, dengan pencitraan tubuh jauh dari ideal, apalagi jika dibandingkan dengan Mamak dan keempat adiknya, yang memiliki penampilan fisik rupawan.

Pemeran Yashinta yaitu Nadine Chandrawinata juga pas dengan penggambaran karakter Yashinta, cinta alam dan energik. Apalagi di dunia nyata, aktris yang satu ini memang menyukai olahraga yang langsung bersentuhan dengan alam. Namun, untuk pemeran Dalimunte, agak sedikit diluar perkiraan. Agak terlalu bule, Kalau tidak salah Nino Fernandez kan? Nah, sempat ada adegan dia berdiri sama Rizky Hanggono kan? Awalnya kupikir dia yang memerankan Dalimunte, sedangkan Nino Fernandez jadi pacarnya Yashinta yang orang bule itu. ternyata salah, namanya juga sok tahu. Soalnya bayanganku sebelumnya meski Dalimunte dan tiga adiknya itu berkulit putih, jauh dibandingkan dengan Laisa, tapi yang masih berwajah Indonesia asli. Mungkin sengaja ya, memilih peran selain Laisa, dengan pemeran agak ke-bule-bule-an supaya lebih menonjolkan perbedaan yang cukup jauh dengan Laisa yang berkulit gelap, berbadan tambun, dan berambut keriting. Ya sudahlah toh, yang penting kan pesan moral yang disampaikan film dan novelnya.

Kira-kira demikian penggambaran antara membaca bukunya terlebih dulu, atau menonton trailer atau filmnya duluan. Mungkin Anda bisa menarik kesimpulan tersendiri. Kalau menurut Saya, kedua-duanya sama baiknya. Hanya saja ketika kita membaca bukunya duluan itu lebih mengasah kreatifitas berimajinasi dan berusaha memahami suatu narasi. Kalau sudah menyaksikan minimal trailernya saja, pasti imajinasi kita langsung membayangkan menurut apa yang ada di video tersebut. Tidak lagi murni imajinasi saat baru pertama kali membaca suatu karya tulis. Terima kasih sudah berkenan mampir dan membaca coretan ini ^_^.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar