Kamis, 04 Juli 2013

Mendadak Cerewet

Kalau ada kontes atau penghargaan rekor dunia untuk perempuan di atas usia 20 tahun yang paling jarang menjejakkan kaki di salon, maka saya dengan Pe-De akan mendaftarkan diri sebagai nominator. Seumur hidup baru merasakan facial kurang dari 7 kali (enggak dihitung tapi kayaknya jumlahnya di bawah angka tersebut), creambath satu kali, dan selebihnya cuma gunting rambut yang seringnya terpaksa karena larangan berambut panjang sejak kecil.

Nah, kemarin (tepatnya setelah sebelumnya beberapa kali diingatkan Mama buat facial tapi selalu berkilah nanti dan nanti) akhirnya pergi juga buat facial dan gunting rambut. Di dua tempat berbeda, memang awalnya hanya izin untuk facial (pertama kalinya tidak ditungguin ^_^) di sebuah klinik khusus kecantikan yang berlokasi di Karang Tengah, tapi setelah dipikir-pikir jerawat ini bisa juga disebabkan oleh minyak dari rambut, membuat saya memutuskan segera meluncur ke salon khusus muslimah di kawasan Ciputat, untuk mengurangi jumlah dan panjang rambut kepala saya.

Dari dua tempat tersebut saya menarik kesimpulan dan pelajaran baru mengenai tempat-tempat yang sering dikunjugi perempuan seusia saya pada umumnya. Yaitu, walaupun belum kenal sebelumnya, meski baru pertama kali bertemu dengan pegawai salon yang mem-permak salah satu atau beberapa bagian tubuh kita, mau tidak mau kita seolah menjadi teman akrab. Minimal sok akrab atau SKSD.

Bukan apa-apa, di sela-sela melakukan tugasnya, 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut" saya selalu bertanya duluan tentang hal-hal yang berhubungan dengan facial/gunting rambut, sampai melebar ke berbagai hal yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan yang kami lakukan saat itu. Otomatis, demi menjaga perasaan mereka dan demi tidak kacaunya pelayanan mereka kepada kita, sebagai klien juga harus bisa mencoba menanggapinya dengan baik. Itu pun berlaku untuk manusia yang susah beradaptasi dengan orang asing, seperti saya.

Maka siang dan sore kemarin, saya merasa menjelma menjadi seorang Nila yang cerewet. Menanggapi setiap pertanyaan 'algojo jerawat' dan 'eksekutor rambut", serta mencoba bertanya balik. Sekedar mencairkan suasana biar tidak terkesan wawancara, hanya karena obrolan yang bersifat satu arah. Tidak ada yang aneh, hanya saja mulai menyadari bahwa kadang di satu tempat dan tempat lainnya, kita bisa menjadi pribadi dengan karakteristik luar (tampak di mata orang lain) yang berbeda-beda.

Jujur saja, kalau saya pergi ke salon dengan Mama, saya tidak bisa seterbuka itu kepada orang-orang di salon. Terutama biasanya mereka fokus pada klien yang bayar hasil kerjanya kan? Maka saat bersama Mama, saya hanya dianggap sebagai anak kecil, bocah perempuan yang ngekor ibunya ke mana-mana. Dan kemarin terbukti, saat saya benar-benar melakukan proses facial dan gunting rambut tanpa ditemani siapa pun, mereka dengan ringannya mengajak saya ngobrol ngalor-ngidul, yang saya tanggapi juga dengan (pura-pura) cerewet.

Begitu juga saat saya beberapa kali berkenalan dengan teman baru di berbagai lingkungan. Sekilas dan mayoritas menyetujui saya adalah orang yang pendiam, tampak jutek, enggak asik diajak ngobrol, dan dingin (beuh, emangnya es). Tapi beberapa teman yang telah (setidaknya) akrab dan sedikit banyak sering berbagi cerita, mereka menemukan sisi lain yang belum diketahui sebelumnya. Rada banyak omong dan kadang eror juga, enggak se-serius apa yang mereka duga.

Ya, beginilah saya. Saya sendiri kadang tidak tahu termasuk orang pendiam atau kah cerewet, introvert atau ekstrovert, dan ramah atau kah jutek? Yang saya sadari adalah, saya memang memiliki kekurangan berupa rasa canggung luar biasa untuk menyapa duluan orang yang baru ditemui atau mereka yang tidak akrab. Tapi ketika orang lain sudah menyapa dan mengajak bicara meski sekedar basa-basi, maka saya pun akan menyesuaikan diri dengan mereka. 

Intinya tergantung lawan bicara saya, jika mereka tipe orang yang cerewet, bukan tidak mungkin saya terbawa banyak bercerita pada mereka. Sebaliknya jika yang saya temui cenderung pasif dan seolah tidak nyaman bicara dengan saya, maka saya pun segan untuk memulai pembicaraan. Bahkan kadang jika di lain kesempatan tanpa sengaja bertemu lagi dengannya (walau sudah lama tidak berjumpa), saya memilih tidak menyapanya duluan karena khawatir salah orang atau sepertinya dia tidak akan ingat lagi siapa saya.

Dan kemarin di dua tempat berbeda, saya sukses merasa jadi pribadi yang berbeda, meski tidak bisa dipungkiri saya merasakan hal positif dari kejadian tersebut. Sampai jumpa :).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar