Minggu, 30 Juni 2013

Kentuters #@$%?!

Berapa kali dalam sehari manusia normalnya membuang gas? Iya, kentut maksud saya. Ribet amat ya pakai bahasa baku, padahal intinya ya mengarah kepada kebiasaan yang enggak banget jika dilakukan di depan umum. Apalagi di depan kalangan ningrat, bangsawan yang berdarah biru (coba jarinya ditusuk jarum, biru kagak darahnye?)

Kentut itu spontan kan? Namun, kadang juga enggak habis pikir kok bisa-bisanya gas yang saya buang itu, lebih sering tahu diri alias bisa melihat keadaan sekitar. Saat di sekitar hanya ada orang-orang terdekat alias keluarga, maka si gas itu barulah PeDe keluar begitu saja. Dan anehnya (ups, kan udah bertekad ganti kata aneh jadi unik) lagi, kentut yang menimbulkan bau hanya terjadi saat saya benar-benar seorang diri di suatu ruangan, atau minimal tidak ada manusia lain yang sedang beraktivitas dengan jarak kurang dari 3 meter dari tempat saya berada. Apa benar karakteristik kentut sebanding dengan karakteristik manusianya? Memang cenderung introvert sih, jadilah kentutnya pun malu-malu begitu.

Makanya belum banyak yang tahu kalau saya itu tukang kentut. Bukan apa-apa, saya adalah orang yang bisa dibilang sensitif sama udara dingin, meski belum bisa dibilang alergi. Kena angin dari kipas angin besar atau suhu udara yang terlalu dingin, pasti deh perut mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengisyaratkan adanya gas yang siap keluar, baik berupa suara tanpa aroma atau aroma tanpa suara. #KenapaJarangBisaDua-duanyaBarengYa? -_-

Ada yang pernah bilang kalau orang kurus itu punya lemak yang lebih sedikit dari orang yang badannya lebih berisi. Makanya mereka lebih tahan terhadap terpaan (halah bahasanya) angin atau udara bertemperatur rendah. Apa iya begitu? Emang sih kadang saya suka heran dengan beberapa anggota keluarga lain, yang tahan banget ber-kipas angin-ria pada pagi atau malam hari, yang sebenarnya menurut saya enggak panas kok udaranya. Malah, kadang subuh-subuh waktu shalat jamaah pun masih kuat pakai kipas angin. Alhasil, saya pun memilih tempat shalat yang paling jauh dari jangkauan angin si kipas, dan berharap kentut tidak hadir di tengah-tengah shalat kami.

Pernah saya baca kisahnya Bang Raditya Dika di "Manusia Setengah Salmon", tentang olahraga senam kentut yang dilakukan bersama Sang Papa, setiap pagi hari di atas lantai. Beuh, kalau saya sih tanpa senam di atas lantai dingin pagi-pagi buta sekalipun, dalam sekejap tanpa usaha susah payah mungkin sudah kentut beberapa kali. #Jangan-janganSayaSudahMenjelmaJadiPakarBuangGas

Tapi kentut di pagi hari itu menurut saya ada manfaatnya. Minimal jadi bisa rutin membersihkan isi perut (baca: buang hajat besar) setiap pagi. Bukannya sehat kan? Daripada sembelit, ya walaupun kadang saya juga merasa heran dengan diri sendiri. Gampang banget mules, diare juga sudah sering sampai merasa biasa dan tidak apa-apa. Kalau kata adik beberapa tahun yang lalu sih, jangan-jangan usus saya berukuran lebih pendek dari orang kebanyakan. Makanya baru diisi dikit, langsung merosot keluar. Aduh, iya apa? Bodo amat dah, yang penting sekarang sih masih merasa sehat-sehat saja. Cuma ya itu tadi, hobi buang gas.

Ya inilah kisah cewek dodol, unik (apa lebih pantas disebut aneh?), cantik enggak, enggak tinggi, pintar kagak, diajak ngobrol sering enggak nyambung, kadang lupa bagaimana bersopan-santun, dan tukang kentut (Kentuters). Parah dah kagak ada bagus-bagusnya -_-.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar