Senin, 03 Juni 2013

Panggil Saya Nila, Bukan Nil.

Entah karena lagi mengalami masa PMS dan terlalu sensitif, atau memang benar-benar tidak suka akan hal itu. Baru beberapa hari ini si Teteh yang bantu-bantu di rumah seolah punya panggilan baru ke saya. Biasanya sih normal saja, nama pertama saya dengan tambahan kata sapa mbak, yaitu Mbak Nila. Enggak ada anehnya bukan?

Nah, apa karena dia sudah merasa tinggal agak lama (jelas belum ada setahun), atau berusaha lebih akrab, tiba-tiba merubah panggilan itu menjadi Mbak Nil. Sekali, dua kali pertama tidak merasa terganggu, anggap saja dia lagi malas-malasan ngomong. Tapi selanjutnya, jadi merasa aneh dan agak risih. Malah ngerasa dia lagi ngomong sama orang lain. Apa susahnya sih, menyebut nama saya seperti biasanya, Nila ya bukan Nil. Bukan apa-apa, kalau sekedar Nil (misalkan memanggil dari jauh) tanpa kata sapa mbak, sih enggak masalah. Yang aneh itu saat disapa 'Mbak Nil', apalagi saat nada kata Nil-nya disebut dengan panjang dua harakat itu benar-benar aneh. Nil dengan tambahan satu kata di depannya itu, mengingatkan pada nama sungai atau hewan. Masih mending kan kalau sungai Nil, tapi kalau Kuda Nil?@#$%&*

Oke, anggap saja saya emang terlalu berlebihan akan hal ini. Mungkin emang si Teteh lagi ingin mengakrabkan diri dengan menyapa saya berbeda dari orang lain. Mungkin juga saya saja yang masih asing dengan panggilan ini. Kita lihat saja nanti apakah panggilan itu terus dipakainya, atau hanya bersifat sementara. Saya juga tidak berhak memprotesnya kan? Memang benar juga itu bagian dari nama saya, hanya saja satu huruf dihilangkan. Toh, saya tidak dapat memilih nama karena apa pun itu pasti orang tua telah menyelipkan suatu doa yang baik saat memilih nama untuk putra-putrinya.

Jadi gimana? Mau protes enggak sama si Teteh? Baiklah akan saya beri jeda waktu beberapa saat, siapa tahu ini hanya sementara, dan saya akan berusaha untuk tidak menampakkan tampak cemberut di depannya. Huffh, padahal kemarin sempat kesel dalam hati juga dan langsung ingin menyudahi percakapan kami supaya emosi ini enggak keluar didepannya. Bukan maksud mengkambinghitamkan si PMS, tapi memang rasanya sebulan sekali, ada saja hal kecil yang bikin BeTe kalau sudah masanya.

Jika suatu saat saya sudah merasa amat sangat tidak nyaman dengan panggilan itu, maka saya akan berkata jujur. Toh, dia juga sejak awal memanggil nama saya tanpa menghilangkan huruf 'a'-nya kan? Saya akan katakan, "Panggil saya Nila, bukan Nil...."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar