Jumat, 28 Juni 2013

Kopi Kuganti dengan Permen

Mereka bilang hidup itu seperti roda. Selalu bergantian, bergiliran tukar posisi. Maka ada manis juga ada pahit, ada suka dan duka, ada berhasil setelah gagal, serta ada penerimaan setelah penolakan.

Seperti template blog ini yang belum lama sengaja saya ganti. Selain ingin berganti suasana, ada makna tersendiri yang saya pikirkan sembari memilih dari sekian banyak template yang tersedia, gratis tentu saja.

Sebelumnya, bagi anda yang pernah berkunjung kemari pasti sudah tahu bahwa latar belakang blog ini adalah kumpulan biji kopi. Saya memang bukan seorang maniak kopi, hanya saja saat memilih template tersebut tidak tahu mengapa tiba-tiba menyukai gambar tersebut. Kalem tapi tidak terlalu pucat, dan cocok dengan kulit saya yang memang cenderung gelap.

Setelah hampir satu tahun blog ini dibuat, saya berinisiatif untuk mengganti beberapa hal yang menjadi bagian penyusunnya. Salah satunya tentu saja template blog. Banyak pilihan dan banyak pula yang menurut saya mewakili kepribadian diri ini. Tapi saat melihat template yang akhirnya terpilih saat ini, saya menemukan satu hal penting yang sebelumnya saya abaikan dalam hidup. Yaitu tentang cara kita memandang segala hal yang terjadi dalam kehidupan.

Latar belakang blog yang saat ini kita lihat, berupa kumpulan permen beraneka warna. Tidak seperti latar belakang sebelumnya yang berbentuk biji kopi dengan warna dan bentuk yang nyaris tidak berbeda antar satu biji dengan biji yang lain. Menurut saya ini menunjukkan bahwa hidup ini tidak monoton, tidak terdiri dari manusia berkarakter sama, yang otomatis akan mempengaruhi kisah hidup kita menjadi lebih berwarna. Kadang sedih tapi bukan tidak mungkin suatu saat bisa berbahagia. Hari ini bertemu orang yang baik, besok bisa saja bertemu penjahat kelas kakap. Pagi bersemangat dan rajin bekerja, tiba-tiba siang menjadi galau tidak bersemangat karena masalah duniawi pun bukan hal mustahil.

Begitu pula dengan perbedaan rasa antara kopi dan permen. Memang kopi bisa menjadi manis jika diberi tambahan gula, tapi rasa sesungguhnya dari kopi tetaplah pahit. Bukankah saat kopi sudah melewati kerongkongan akan meninggalkan rasa pahit di lidah? Permen juga demikian, walaupun ada permen yang diberi sensasi pedas, asam, atau pahit dari kopi, tetap saja permen adalah produk pangan yang dibuat dengan bahan utama gula, yang tentu saja rasanya manis. Saya pernah mencoba permen yang diklaim sebagai permen dengan rasa paling asam. Tetap saja ada rasa manis yang saya rasakan setelah beberapa saat mengulum permen tersebut.

Maksudnya apa?

Jadi perbedaan rasa asli antara kopi dan permen, menurut saya menunjukkan bagaimana cara kita menanggapi segala hal, baik disebut anugerah atau musibah. Sebut saja segala hal yang katanya merupakan musibah, diidentikkan dengan rasa pahit. Sedangkan setiap hal membahagiakan diidentikkan dengan rasa manis.

Padahal pahit atau manisnya sebuah peristiwa yang kita alami bukan dinilai dari kejadiannya. Tetapi bagaimana dan dari sudut pandang mana kita melihat peristiwa tersebut. Misalkan kita menggunakan filosofi kopi, maka sebaik apa pun hal yang kita terima, akan menyisakan rasa pahit karena kita memandang selalu ada hal buruk di setiap kejadian. Jadi kita lebih fokus pada apa risikonya, bukan apa manfaat dari peristiwa yang dialami.

Sebaliknya ketika kita memandang suatu masalah atau musibah dengan filosofi permen, maka kita akan berusaha untuk mencari hikmah dan kebaikan yang tersembunyi di baliknya. Kita akan selalu mencari hal positif yang datang bersama musibah tersebut.

Bingung ya? 

Wajar kalau bingung, karena ini hanya sekedar pikiran asal saya, yang juga tidak dapat dipaparkan dengan bahasa tulisan yang baik dan benar. Saya hanya ingin minimal mencoba membuat diri sendiri untuk mengubah pandangan akan setiap peristiwa yang silih berganti menyapa. Tidak seperti dulu saat masih menggunakan template biji kopi, dan seringkali mengkhawatirkan setiap keburukan yang ada bahkan saat anugerah Tuhan mendekat. 

Saya berharap, jika tulisan ini belum bisa bermanfaat bagi orang banyak, setidaknya mampu menjadi pengingat diri sendiri. Ya, mengingatkan untuk selalu berpikir positif, selalu ada rasa manis di setiap kejadian dalam hidup. Sekalipun musibah, bukankah itu juga bisa memberikan banyak hal positif bagi diri kita? Setidaknya melatih diri menjadi pribadi yang lebih kuat, dan jika enggan menyerah bukan tidak mungkin ada hal mengejutkan serta membahagiakan setelahnya. Intinya seperti makan permen asam tadi, asam di awalnya tapi selama mengulum dan setelah menelan permennya akan meninggalkan rasa manis di lidah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar